PERAN LAUT UNTUK KEHIDUPAN BUMI

PERAN LAUT UNTUK KEHIDUPAN BUMI

Tak dapat disangkal bahwa laut memberi manfaat luar biasa bagi kehidupan di bumi. Mekanisme pendinginan bumi, ketersediaan air bagi makhluk hidup, ketersediaan sumber protein, prasarana transportasi, siklus air hujan, berbagai sumber industri kosmetika dan estetikaa lainnya, merupakan ‘jasa’ laut dan samudra. Beberapa ayat yang dikutip di bawah ini menjelaskan bagaimana laut telah diciptakan Allah untuk kepentingan makhluk-makhluk yang ada di bumi, khususnya manusia.

Surah an-Naḥl/16: 14 berikut ini menjelaskan bagaimana laut berfungsi sebagai prasarana transportasi dan sumber protein dan berbagai keperluan lainnya.

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ۝

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur (Alquran, Surah al-Naḥl /16: 14)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 164)

 

AWAL KEHIDUPAN DIMULAI DARI LAUT

Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan segala yang hidup dari air (al-Anbiyā’/21: 30, an-Nūr/24: 45, al-Furqān/25: 54). Air memiliki peranan amat penting bagi kehidupan di muka bumi (al-Baqarah/2: 164, an-Naḥl/16: 10), tetapi tidak ada keterangan bagaimana dan kapan kehidupan itu bermula di muka bumi.

Fosil-fosil makhluk hidup tertua di permukaan bumi umumnya ditemukan dalam bentuk mikroorganisme bersel tunggal pada batuan yang terbentuk pada zaman Archaean (2,7-3,6 miliar tahun yang lalu). Sebelum itu, yaitu pada zaman Hadean (4,6-3,6 miliar tahun yang lalu), suhu yang sangat tinggi menyebabkan seluruh permukaan bumi ditutupi oleh lelehan batuan sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan. Setelah suhu mendingin dan batuan membeku, tepatnya pada zaman Archaean, barulah sejarah kehidupan bumi dimulai.

Fosil-fosil ini berupa fosil mikroorganisme bersel tunggal yang kemudian dikenal sebagai ganggang biru-hijau. Ganggang biru-hijau (blue-green algae) yang dikenal sebagai cyanobacteria merupakan mikroorganisme fotosintetik bersel tunggal yang hidup di laut. Berbeda dengan yang lainnya, ganggang biru-hijau memiliki dinding sel yang tebal sebagai pelindung. Di samping itu, ia sering membentuk lapisan berbentuk kubah yang dikenal dengan stromatolit atau bentuk bundar yang dikenal dengan oncolith. Stromatolit dan oncolith apabila terfosilkan dapat melindungi bagian dalam selnya sehingga dapat dibuat irisan penampang sel yangmenampakkan ciri-ciri sel bakteri.

Penelitian terbaru (2011) yang dilakukan oleh ilmuwan Australia dan Inggris berhasil menemukan fosil bakteri yang berumur 3,4 miliar tahun yang lalu dan hidup pada lingkungan tanpa oksigen. Mikrofosil tersebut terpelihara baik di antara butiran kuarsa dari pasir pantai tertua yang pernah ditemukan. Pada waktu itu bumi masih merupakan lingkungan yang panas dan ganas dengan aktivitas gunung api yang mendominasi permukaan bumi. Langit masih terutupi awan tebal kelabu yang berfungsi menahan radiasi panas di sekitar permukaan bumi. Suhu air laut diperkirakan setinggi 40-50°C dan aliran arusnya sangat kuat. Kandungan oksigen di dalamnya sedikit sekali sehingga tidak memungkinkan terjadinya fotosintesis. Bukti-bukti memperlihatkan bahwa kehidupan pada tahap awal lebih banyak berbasis pada metabolisme senyawa-senyawa belerang dibandingkan dengan metabolisme oksigen. Sampai saat ini bakteri-bakteri sulfur masih banyak dijumpai di saluran-saluran, tanah, sumbar air panas, dan kawah gunung api. Bakteri ini mungkin hidup tanpa cahaya matahari dan pada suhu yang tinggi, seperti halnya pada lingkungan disekitar gunung api bawah laut.

Penemuan di atas membuka wacana bahwa kehidupan dimulai di laut atau pada Iingkungan yang dipengaruhi laut karena pada waktu tersebut permukaan daratan baru berupa batuan telanjang yang baru membeku.

 

SUMBER UTAMA DAUR AIR

Peran utama laut adalah sebagai tempat utama penyimpanan air. Adapun keberadaan air di tempat-tempat lainnya di muka bumi disebabkan oleh adanya proses peredaran air di permukaan bumi, yang dikenal dengan istilah daur air. Alquran melukiskan proses daur air dengan rinci dan mudah dimengerti dalam beberapa ayat, misalnya firman Allah,

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الْأَرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنفُسُهُمْ ۖ أَفَلَا يُبْصِرُونَ۝

Dan tidakkah mereka memperhatikan, bahwa Kami mengarahkan (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan (dengan air hujan itu) tanam-tanaman sehingga hewan-hewan ternak mereka dan mereka sendiri dapat makan darinya. Maka mengapa mereka tidak memperhatikan? (Alquran, Surah as-Sajdah/32: 27)

 

Penggerak daur air adalah energi panas yang berasal dari penyinaran matahari. Daur air menjadikan air dapat dijumpai di berbagai tempat; di udara sebagai awan dan terkadang berubah menjadi hujan, dan di atas permukaan bumi dalam bentuk air sungai, danau, rawa, kolam, dan sebagainya. Sumbernya tetaplah satu, yakni laut. Laut dianggap tempat awal dan tempat akhir proses daur air. Anggapan ini cukup beralasan karena secara kuantitatif laut menyimpan sekitar 97% dari total air yang terdapat dan beredar di bumi, dan 3% sisanya adalah bentuk air lainnya).

Selain menjadi sarana pendistribusian air dari lautan ke daratan, proses daur air menjadi penyeimbang suhu permukaan bumi antara permukaan lautan dan permukaan daratan. Adanya proses pemisahan daratan menjadi beberapa lempeng yang bergerak saling menjauh satu dari yang lain, yang berlangsung sejak sekitar 250 juta tahun yang lalu hingga sebarannya seperti yang kita jumpai saat ini, menyebabkan daerah daratan yang dipengaruhi laut menjadi lebih luas, sehingga penyebaran kehidupan di muka bUlJli, termasuk manusia, semakin luas. Alquran menerangkan daur air sebagai suatu sistem yang memberi manfaat bagi segenap makhluk di bumi. Allah berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan didalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 164)

 

Ayat ini menggambarkan bagaimana hubungan antara laut, daur air, dan kehidupan di daratan. Dengan adanya proses daur air, air terdapat di permukaan bumi dan kemudian menunjang adanya kehidupan di muka bumi. Bukti-bukti geologis memperlihatkan bahwa kehidupan berawal dilaut. Kehidupan darat dimulai ketika batuan sudah cukup melapuk sehingga tanah di permukannya bisa ditumbuhi tanaman. Disamping itu, proses pergerakan air menjadi penyebab terpenting proses perubahan di muka bumi dalam bentuk erosi dan sedimentasi. Rupa daratan mengalami banyak perubahan oleh proses daur air, berupa terbentuknya lembah Iembah dalam yang tertoreh oleh gerusan air serta hamparan dataran rendah yang luas yang terbentuk oleh pengendapan bahan hasil erosi. Meski perubahan besar terjadi di daratan, laut sedikit sekali terpengaruh oleh adanya perubahan tersebut.

 

PENGATUR IKLlM GLOBAL

وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ۝

Dan apabila lautan dipanaskan. (Alquran, Surah at-Takwīr/81: 6)

 

Laut dan atmosfer merupakan sistem yang saling terkait. Laut berperan sebagai pengatur iklim global. interaksi antara laut dan atmosfer yang terjadi di ekuator Samudra Pasifik dikenal sebagai ENSO atau El Nino-Southhern Oscillation. Adapun interaksi yang terjadi di ekuator Samudra Hindia dikenal sebagai Indian Ocean Dipole (IOD). ENSO adalah mode variabilitas antartahun (interannual) dari sistem iklim global. ENSO berkaitan dengan gerakan kolam air hangat di ekuator Samudra Pasifik yang berdampak pada cuaca dan iklim secara lokal maupun global (Collins, 2000). Ada dua fenomena yang berkaitan dengan ENSO, yaitu EI Nino atau disebut juga sebagai ENSO hangat, dan La Nina atau ENSO dingin. EI Nino dan La Nina merupakan kondisi-kondisi ekstrem dari siklus ENSO. Periode ENSO bervariasi antara 2-7 tahun, dengan rata-rata 4 tahun.

  1. EI Nino

EI Nino merupakan fenomena meningkatnya suhu muka laut di sekitar Pasifik Tengah danTimur sepanjang ekuator. Scientific Committe on Oceanic Research (SCOR) mendefinisikan EI Nino sebagai “anomali positif suhu muka laut yang muncul di sepanjang pantai Ekuador dan Peru jauh ke selatan hingga mencapai Lima (120°LS)”. Rata-rata anomali suhu muka laut harus lebih besar daripada standar deviasinya untuk sekurang-kurangnya selama 4 bulan berurutan dan tercatat paling sedikit pada 3 dari 5 stasiun pengamat pantai Peru.”

Pada mulanya EI Nino merupakan sebutan yang diberikan oleh nelayan Peru terhadap arus lemah dan hangat yang bergerak ke selatan sepanjang pantai Peru dan Ekuador. EI Nino dalam bahasa Spanyol berarti Bayi Kristus. Karena gerakan arus hangat ini terjadi saat natal maka sebutan EI Nino ini kemudian dikaitkan dengan fenomena anomali pemanasan skala besar yang memengaruhi perubahan iklim dalam skala lokal dan regional. Anomali pemanasan laut yang terjadi di daerah ekuator Samudra Pasifik ini berkaitan dengan anomali pola iklim global. Komponen atmosfer yang berkaitan dengan EI Nino disebut Osilasi Selatan (Southern Oscillation), yaitu osilasi tekanan udara di antara Tahiti dan Darwin dan disebut ENSO. Sementara itu, bagi orang awam fenomena tersebut hanya dikenal sebagai EI Nino. Adapun La Nina adalah sebutan bagi fenomena mendinginnya perairan tropis Samudra Pasifik dan merupakan fenomena dengan fasa yang berbeda 1800 terhadap EI Nino.

Pada kondisi normal angin pasat mendorong air hangat di permukaan ke arah barat dan berkumpul di pantai barat Samudra Pasifik atau di perairan timur Papua. Pada kondisi tersebut pusat konveksi berada di Pasifik bagian barat. Sementara itu, muka laut lebih tinggi di Pasifik bagian barat daripada di Pasifik bagian timur. Pada saat EI Nino angin pasat melemah dan akibatnya air hangat yang semula berkumpul di pantai timur Papua bergerak sepanjang ekuator Samudra Pasifik ke arah timur menuju pantai barat Amerika Selatan, tepatnya sekitar Peru. Selama kejadian EI Nino temperatur permukaan laut (SST) di daerah ekuator bagian timur lebih hangat daripada kondisi normal. Pergerakan kolam air hangat ke arah timur di sepanjang ekuator Pasifik ini memiliki pengaruh penting terhadap cuaca di bumi. Bergeraknya kolam air hangat ke arah timur mengakibatkan bergesernya pola presipitasi di wilayah tropis sehingga memperlemah sistem sirkulasi monsun di Australia atau Asia Tenggara, Amerika Selatan atau Amerika Tengah, dan Afrika. Pada saat kejadian EI Nino pusat konveksi bergeser ke arah Pasifik ekuator bagian tengah dan timur sehingga Indonesia mengalami kekeringan panjang yang dapat berlangsung 9-12 bulan.

Saat kejadian EI Nino pergerakan kolam air hangat ke arah timur mengakibatkan kedalaman termoklin di Pasifik ekuator bagian barat berkurang, sementara kedalaman termoklin di bagian timur bertambah. EI Nino cenderung membuat lapisan termoklin menjadi datar. Pada saat EI Nino kuat termoklin menjadi datar (flat) di seluruh Pasifik tropis untuk beberapa bulan. Selain menimbulkan hujan di atas normal, El Nino berdampak negatif terhadap perikanan Peru karena mempengaruhi kekuatan upwelling di perairan Peru. Saat kejadian EI Nino upwelling yang berperan dalam menyuburkan perairan Peru melemah sehingga kesuburan perairan berkurang dan menyebabkan tangkapan ikan berkurang.

Pemanasan global berdampak pada periode ulang EI Nino. Philander (1990) dalam Yan et.al (2005) menyatakan bahwa secara umum EI-Nino terjadi sekitar 4-7 tahun sekali, dengan kejadian terkuat sekali dalam sepuluh tahunan. Kondisi ini tidak berlaku lagi saat ini di mana EI Nino terjadi semakin sering dan semakin kuat daripada biasanya. Tiga tahun setelah kondisi yang hangat dan normal pada tahun 1991-1994 berakhir, terjadilah El Nino kuat pada tahun 1997-1998 yang kekuatannya sama dengan El Nino tahun 1982-1983, dan merupakan salah satu El Nino terkuat yang pernah diketahui (Yan et.al, 2005)

Berdasarkan intensitasnya, El Nino dikategorikan sebagai berikut (Sumber: http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php).

  1. El Nino lemah (Weak El Nino), jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator +0,5°C s.d. +1,0°C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  2. El Nino sedang (Moderate El Nino), jika anomali suhu muka laut di Pasifik ekuator +1,1°C s.d. +1,5°C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  3. El Nino kuat (Strong El Nino), jika anomali suhu muka laut di Pasifik Ekuator > +1,5°C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.

 

  1. La Nina

Kondisi ekstem lain ENSO adalah La Nina. La Nina terjadi akibat penguatan angina pasat di atas kondisi rata-ratanya. Pada saat La Nina, angina pasat bertiup lebih kuat daripada biasanya, kolam panas terdorong jauh ke perairan Indonesia memasuki Laut Banda dan Laut Arafuru. Hal ini menyebabkan pusat konveksi yang berada di pantai barat Samudra Pasifik terdorong masuk ke wilayah Indonesia yang mengakibatkan curah hujan lebih banyak daripada biasanya.

Selama La Nina anomaly temperature permukaan laut rata-rata berada sekitar 1-3°C di bawah normal di sepanjang ekuator Pasifik Tengah dan Pasifik Timur.

Saat kondisi La Nina terjadi kenaikan lapisan termoklin di Pasifik ekuator bagian timur dan penurunan di bagian barat. Hal ini menyebabkan kedalaman termoklin meningkat di sepanjang basin Pasifik ke arah barat. Ketika La Nina sangat kuat, termoklin menjadi sangat dekat dengan permukaan laut di pantai timur Amerika Selatan. La Nina meningkatkan intensitas upwelling yang mengakibatkan bertambahnya tangkapan ikan di perairan Peru.

Seperti halnya EI Nino, periode La Nina juga cenderung tidak tetap. Selama rentang waktu 1952-2000, telah terjadi 15 kali EI Nino dan 11 kali La Nina dalam kategori sedang dan kuat.

Berdasarkan anomali temperature permukaan laut, La-Nina dapat dikategorikan menjadi 3 tipe, yaitu (Sumber: http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php):

  1. La Nina lemah (Weak La Nina), jika anomali SST bernilai < -0,5°C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  2. La Nina sedang (Moderate La Nina), jika anomali SST bernilai antara -0,5°Cd. -1°C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  3. La Nina kuat (Strong La Nina), jika anomali SST bernilai > -1°C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.

 

INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD)

Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena yang mirip dengan ENSO tetapi terjadi di Samudra Hindia. Peristiwa IOD ditandai adanya perbedaan anomali SST antara Samudra Hindia tropis bagian barat (50° BT-70° BT, 10° LS-10° LU, kotak A) dengan Samudra Hindia tropis bagian timur (90° BT-110° BT, 10° LS-ekuator, kotak B)

IOD merupakan interaksi yang kuat antara laut dan atmosfer di wilayah ekuator Samudra Hindia. IOD atau disebut Dipole Mode (DM) dibagi menjadi dua fase, yakni Dipole Mode Positif dan Dipole Mode Negatif. Ashok dkk. (2001) menjelaskan bahwa Dipole Mode Positif (DMP) terjadi pada saat tekanan udara permukaan di atas wilayah barat Sumatera relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah timur Afrika dan temperatur permukaan laut di wilayah timur Afrika lebih tinggi daripada di wilayah barat Sumatera. Kondisi ini menyebabkan udara mengalir dari bagian barat Sumatera kebagian timur Afrika sehingga terjadilah pembentukkan awan-awan konvektif di wilayah Afrika bagian timur. Akibatnya, terjadi peningkatan curah hujan di atas normal di pantai timur Afrika dan Samudra Hindia bagian barat, sedangkan di Benua Maritim Indonesia (BMI) mengalami penurunan curah hujan dari normalnya dan menyebabkan kekeringan. Fenomena Dipole Mode Negatif (DMN) merupakan kebalikan dari Dipole Mode Positif (DMP), temperatur permukaan laut di wilayah Sumatera bagian barat lebih tinggi daripada di Afrika bagian timur. Di BMI terjadi hujan di atas normal sementara di wilayah Afrika bagian timur kekeringan.

Tahapan Siklus IOD menurut Saji, et.al. (1999) adalah:

  1. Muncul anomali SST negatif di sekitar selat Lombok hingga selatan Jawa pada bulan Mei-Juni bersamaan dengan terjadinya anomali angin tenggara yang lemah di sekitar Jawa dan Sumatera.
  2. Anomali terus menguat (Juli-Agustus) dan meluas sampai ke ekuator di sepanjang pantai selatan Jawa hingga pantai barat Sumatera. Kondisi di atas dibarengi munculnya anomali positif SST di Samudra Hindia bagian barat. Adanya dua kutub anomali SST di Samudra Hindia ekuator ini semakin memperkuat anomali angin tenggara di sepanjang ekuator dan pantai barat Sumatera.
  3. Siklus mencapai puncaknya pada bulan Oktober dan selanjutnya menghilang dengan cepat pada bulan November-Desember.

 

Kejadian DM bisa bersamaan dengan kejadian ENSO atau terjadi sendiri-sendiri. Bila EI Nino bersamaan dengan DM positif maka Indonesia mengalami musim kering yang kuat. Sebaliknya, bila La Nina bersamaan dengan DM negative, maka Indonesia mengalami musim hujan di atas normal.

 

SIRKULASI THERMOHALIN-CONVENYOR BELT

Fenomena laut lainnya yang berperan dalam mengatur iklim global adalah sistem sirkulasi arus lapisan dalam. Di lapisan dalam di bawah permukaan lautterdapat suatu sirkulasi arus. Ia bergerak secara perlahan mengitari bumi yang di kenal dengan sebagai sirkulasi termohalin. Termohalin terbentuk karena adanya gradien densitas secara vertikal. Sirkulasi ini di awali di daerah kutub akibat proses pendinginan dan pembentukan es di permukaan. Prose pendinginan dan pembentukan es mengakibatkan densitas air laut di permukaan menjadi besar dan berat. Karena masa air di permukaan lebih berat draipada di lapisan bawah, maka massa air permukaan turun (sinking) dan menyebar ke lapisan dalam. Air yang turun (tenggelam) ini akan mencari level dimana densitasnya sama. Masa air dingin dan berat yang turun di daerah kutub ini kemudian bergerak ke arah ekuator. Karena adanya hukum kontinuitas atau hukum kekekalan massa air yang turun ke lapisan darat harus diangkat kembali ke permukaan melalui proses upwelling.

Di ekuator, pemanasan yang tinggi menyebabkan densitas menjadi rendah, sehingga muka air di ekuator lebih tinggi di banding di daerah kutub. Perbedaan tinggi muka air antara ekuator dan kutub ini akan menggerakkan arus di lapisan permukaan ekuator ke daerah kutub. Hal ini menyebabkan tertutupnya siklus gerakan massa air dari kutub menuju ekuator di lapisan dalam. Sirkulasi inilah yang disebut sebagai sirkulasi termohalin. Kombinasi proses pendinginan, pembentukan es di daerah kutub, dan pemanasan di ekuator berperan dalam pembentukan sirkulasi termohalin.

Sirkulasi termohalin yang merupakan sirkulasi lapisan dalam (deep circulation) membawa masa air dingin dari lintang tinggi pada musim dingin ke lintang rendah seluruh dunia. Sirkulasi ini mempunyai pengaruh yang sangat penting, antara lain:

  1. Perbedaan yang kontras antara air lapisan dalam yang dingin dan air lapisan permukaan yang hangat menjadi penentu stratifikasi laut. Hal ini sangat mempengaruhi dinamika laut.
  2. Walaupun arus lapisan dalam ini sangat lema, transport massa yang dilakukan sebanding dengan transport massa di lapisan permukaan yang timbul akibat pengaruh angina, karena volume air lapisan dalam jauh lebih besar daripada volume air lapisan permukaan.
  3. Sirkulasi lapisan dalam memengaruhi neraca panas dan iklim dunia. Sirkulasi ini cukup bervariasi, dari puluhan tahun, abad, hingga milenium. Variabilitas ini diperkirakan memodulasi iklim dalam rentang periode tersebut. Laut mungkin penyebab utama dari variabilitas iklim dalam rentang waktu dari tahunan ke puluhan tahun dan dapat membantu dalam memodulasi iklim pada zaman es.

 

Sirkulasi termohalin merupakan bagian dari sistem transpor panas yang dilakukan oleh laut. Untuk mempertahankan temperatur bumi, laut mentranspor setengah jumlah panas dari daerah tropis ke Iintang tinggi. Panas yang dibawa oleh arus di Teluk Meksiko yang dikenal sebagai Gulf Stream dan North Atlantic Drift berperan dalam menghangatkan Eropa. Gulf Stream dan North Atlantic Drift membawa panas dari daerah tropis jauh ke Atlantik Utara dan di sana panas dan uap air dilepas ke atmosfer. Pelepasan panas ini membuat massa air yang dibawa Gulf Stream dan North Atlantic Drift ini menjadi dingin dan berat sehingga ia turun ke dasar laut Norwegia dan Greenland serta menyebar ke arah ekuator. Massa air yang turun dan menyebar dari Laut Norwegia dan Greenland ini kemudian diangkat ke permukaan melalui proses upwelling di laut-Iaut yang lain dan akhirnya kembali ke Gulf Stream dan Atlantik Utara. Broker (1982) dalam Steward (2002) menyebut komponen laut dari sistem transpor panas ini sebagai Global Conveyor Belt. Conveyor Belt merupakan kombinasi sistem arus permukaan yang dibangkitkan oleh angin dan sirkulasi termohalin. Sirkulasi arus permukaan merupakan sirkulasi arus hangat, sementara sirkulasi arus bawah permukaan merupakan sirkulasi arus dingin.

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Tinggalkan Balasan

Close Menu