PERAN DAN MANFAAT AIR

PERAN DAN MANFAAT AIR

Serial Quran dan Sains

Air telah menjadi zat yang amat penting dalam kehidupan makhluk hidup, bahkan untuk mekanisme kosmos secara keseluruhan. Tidak mengherankan jika di dalam Alquran ditemukan banyak sekali ayat yang berbicara tentang air, mulai dari keberadaannya sebagai tanda kebesaran Allah, mekanisme dan siklus air di bumi, manfaatnya bagi kehidupan makhluk, prasarana transportasi, instrumen untuk bersuci, hingga pencemaran yang mungkin terjadi akibat ulah manusia yang tak menghargai dan mensyukuri anugerah Allah. Di antara ayat-ayat yang berbicara tentang peran dan manfaat air dapat dibaca misalnya dalam Surah Qāf/50: 9-11.

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ۝ وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ۝ رِّزْقًا لِّلْعِبَادِ ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ۝

Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur) (Alquran, Surah Qāf/50: 9-11) 

Manfaat utama air di muka bumi ini adalah sebagai sumber dan pemelihara kehidupan, termasuk kehidupan manusia. Banyak sekali ayat dalam Alquran yang menyatakan bahwa kehidupan (tumbuhan, hewan, dan segala kehidupan) di muka bumi terjadi dengan adanya air. Kelebihan lainnya bagi umat manusia, air bermanfaat pula untuk kesejahteraannya melalui berbagai jenis penggunaan. Terlalu banyak kalimat yang dibutuhkan untuk menguraikan manfaat air satu per satu dalam tulisan ini. Karenanya, hanya beberapa dari peran dan manfaat penting air bagi kehidupan di muka bumi serta untuk kesejahteraan manusia yang dapat dibahas dalam buku ini.

 

Stabilisator Suhu Bumi

Seperti diuraikan sebelumnya, bumi dapat dihuni manusia dan makhluk hidup lain pada umumnya dikarenakan bumi memiliki jarak tertentu dari matahari dan matahari pun memiliki ukuran tertentu pula sehingga permukaan bumi memiliki suhu yang memungkinkan adanya air dan kehidupan berlangsung. Meskipun demikian, tidak semua tempat di permukaan bumi ada kehidupan. Di kutub, karena suhu terlalu dingin maka hanya sedikit makhluk yang dapat hidup. Sebaliknya di gurun, karena terlalu panas dan karena ketiadaan air maka sangat jarang pula makhluk hidup yang dapat bertahan. Tanpa adanya air, bumi akan terlalu panas untuk dihuni. Menurut perkiraan neraca energi radiasi panas tahunan yang dipancarkan dari dalam bumi memang tidak banyak, hanya 0,09 watt/m2, tetapi aliran radiasi panas harian rata-rata yang diterima dari penyinaran matahari sebesar 342 watt/m2. Sebagai gambaran, untuk menguapkan air setebal 3 mm perhari dari setiap m2 permukaan bumi diperlukan energi sebanyak 90 watt. Agar proses daur air bisa berlangsung, radiasi panas ini harus sampai ke permukaan bumi. Tetapi kenyataanya, rata-rata hanya sekitar 240 watt saja yang bisa sampai, sisanya  yang sekitar 102 watt dipantulkan lagi oleh udara di atmosfer ke ruang angkasa. Energi yang sampai ke atmosfer dan permukaan bumi diserap dalam bentuk panas yang  menyebabkan terjadinya penguapan air laut dan air permukaan lainnya, proses fotosintesis dan evapotranspirasi pada proses pertumbuhan tanaman, serta menghangatkan suhu permukaan bumi, suhu air di laut dan di daratan, serta suhu udara. Tidak hanya itu, dengan terjadinya embusan angin dan aliran air, baik aliran sungai maupun arus laut, terjadi pula pemerataan panas di permukaan bumi. Pada rangkaian proses di atas, peran air sangat penting karena  air memiliki sifat termal yang menguntungkan. Air mempunyai kapasitas panas yang besar, yakni panas yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1°C sebanyak 1 gram air. Air memiliki kapasitas panas yang lebih besar dibandingkan dengan cairan maupun jenis bahan lainnya.

Tingginya kapasitas panas jenis air amat penting dalam menjaga bumi karena berpengaruh pada cuaca. Air di lautan dan danau akan menyerap atau melepas panas dalam jumlah besar dengan hanya sedikit mengalami perubahan suhu yang itu berarti menjaga suhu atmosfer. Dapat kita bayangkan apabila tidak ada air maka pada siang hari kita akan kepanasan oleh sengatan radiasi matahari, sedangkan pada malam hari kita akan kedinginan karena bumi sangat sedikit memancarkan panas. Dalam tubuh manusia, besarnya panas jenis di atas menjadikan air sebagai termostat bagi protein dan asam nukleat, di mana struktur dan fungsinya amat bergantung pada suhu sekeliling. Ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan air dengan sifat-sifat yang memang terukur dan bermanfaat bagi bumi dan kehidupan di atasnya. Firman Allah dalam Surah al-Mu’minūn/23: 18 menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ۝

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya (Alquran, Surah al-Mu’minūn/23: 18).

 

Ungkapan biqadar (sesuai ukuran) menunjukkan makna keseimbangan. Dengan begitu, air yang diciptakan Allah menurut kadar (ukuran) yang diperlukan berfungsi memenuhi kebutuhan seluruh makhluk hidup dan juga menjaga keseimbangan suhu di bumi.

 

Asal dan Penyangga Kehidupan

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ۝

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air maka mengapa mereka tidak beriman? (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 30)  

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya. bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 164).

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِّن مَّاءٍ ۖ فَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝

Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan  dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (Alquran, Surah an-Nūr/24: 45).  

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا۝

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan muṣaharah dan Tuhanmu adalah Mahakuasa (Alquran, Surah al-Furqān/25: 54).  

 

Ayat-ayat Alquran di atas menyatakan bahwa Allah menciptakan kehidupan dari air atau dapat pula berarti bahwa segala makhluk hidup berasal dari air. Ayat-ayat di atas mengisyaratkan pula bahwa air adalah sumber kehidupan, baik untuk keterdapatannya maupun untuk menjaga kelangsungannya. Sementara, kenyataan yang kita dapati saat ini menunjukkan pula bahwa kehidupan hanya bisa berjalan dengan adanya air, baik pada binatang, tumbuhan, jasad renik, maupun manusia. Tampaknya sulit dimungkiri bahwa adanya kehidupan sangat tergantung pada keterdapatan air, tetapi mekanismenya seperti apa belum seluruhnya diketahui, terutama dalam hal asal mula kehidupan di muka bumi.

Kebanyakan teori asal kehidupan merupakan pengembangan dari konsep lama. Pertama, Abiogenesis yang diartikan sebagai penurunan kehidupan dari benda mati. Sejak lama Abiogenesis dianggap sebagai konsep yang paling dapat diterima untuk teori asal kehidupan sampai kemudian hukum Biogenesis (omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo = asal kehidupan dari kehidupan yang lain) lebih populer seiring dengan perkembangan ilmu mikrobiologi modern. Pendalaman konsep Abiogenesis umumnya mengkaji proses awal mula terbentuknya senyawa-senyawa kimia penting penyusun makhluk hidup (asam amino, protein, dan sebagainya, sampai DNA) secara alami tanpa ada kehidupan sebelumnya. Keberhasilan yang paling terkenal adalah teori sup primitif (Soup Theory) ketika percobaan Urey dan Miller (1953) berhasil mensintesis molekul-molekul organik dari gas anorganik (metan, amonia dan hidrogen) pada kondisi yang disimulasikan, seperti keadaan awal bumi terbentuk, yang kemudian diberi muatan listrik. Hasil ini dikembangkan oleh Joan Oro (1961) yang berhasil mensintesis protein dari larutan sianida. Dari beberapa teori Abiogenesis yang berkembang InI, paling tidak dua di antaranya membicarakan  kemungkinan asal kehidupan dari tanah (dan batuan).

Kedua, Deep Hot Biosphere. Konsep ini dikembangkan oleh Thomas Gold pada tahun 1990-an. la menyatakan bahwa kehidupan tidak berasal dari permukaan bumi, tetapi beberapa kilometer di bawah permukaannya. Kini telah diketahui bahwa kehidupan mikroba cukup banyak ditemukan sampai dengan kedalaman lima kilometer di bawah permukaan bumi dalam bentuk Archaea yang umumnya berasal dari umur yang sama atau bahkan lebih awal dari waktu mula terbentuknya bakteri. Dikemukakan bahwa andaikata ditemukan asal kehidupan di bawah permukaan planet lain pada sistem tata surya kita maka hal itu akan meningkatkan kredibilitas konsep ini.

Ketiga, Primitive Extraterrestrial atau Exogenesis yang membahas kemungkinan kehidupan berasal dari luar bumi. Perkembangan terakhir, dengan berkembangnya studi tentang DNA, makin banyak ilmuwan (creationist) yang meyakini bahwa kehidupan hanya bisa terjadi dengan adanya desain yang pintar (intelligent design) dari seorang creator (al-Khaliq).

Keempat, Clay theory. Teori ini merupakan teori yang paling  mendekati ayat-ayat tentang penciptaan manusia yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah.

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُّسَمًّى عِندَهُ ۖ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya (Alquran, Surah al-Anām/6: 2).

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 26).  

 

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah (Alquran, Surah al-Mu’minūn/23: 12)  

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ۝

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar (Alquran, Surah ar-Raḥmān/55: 14) 

 

Meski demikian, unsur air tidak terlepas dari tanah tersebut, karena pada salah satu ayat dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari lumpur, yaitu campuran antara tanah dan air. Mineral liat (clay minerals) akan bersifat Iiat, yaitu plastis dan mudah dibentuk, apabila tercampur air. Clay Theory dikembangkan oleh Graham Cairns-Smith (1985) semenjak tahun 1960-an. Clay (tanah liat, lempung) adalah mineral pembentuk partikel tanah dan batuan yang paling halus, terbentuk sebagai hasil pelapukan batuan, yang bisa pula terbentuk dari silikat terlarut. Mineral, liat, sebagaimana mineral lainnya, tetap mempertahankan struktur awal pembentukannya selama pertumbuhan. Massa mineral liat tertentu dapat mempengaruhi lingkungannya sedemikian rupa sehingga mempunyai kecenderungan untuk memungkinkan replikasi pada proses pembentukan selanjutnya. Mineral liat juga memiliki daya tukar kation yang dapat mengikat berbagai jenis unsur dan molekul, baik di permukaannya maupun di dalam kisi-kisi kristalnya. Keadaan ini memungkinkan terjadinya suatu proses seleksi alam di mana terjadi penangkapan molekul-molekul tertentu. Suatu molekul protoorganik yang cukup kompleks dapat terkatalisasi oleh sifat-sifat permukaan mineral Iiat. Tahap terakhir dari proses ini adalah terbentuknya senyawa baru (organik) yang juga mampu mereproduksi dirinya sendiri.

Kenyataannya, dari bakteri hingga pohon yang tinggi, kutu sampai ikan paus, semua kehidupan selalu berkembang di sekitar air. Meskipun air merupakan medium penting bagi kehidupan, tetapi air bukanlah kehidupan itu sendiri. Pada semua makhluk hidup, besar maupun kecil, tanda-tanda mendasar bagi adanya kehidupan adalah didapatinya proses-proses metabolisme dan reproduksi. Proses-proses ini berlangsung dan tergantung pada molekul-molekul yang kompleks yang memungkinkan terjadinya penyimpanan dan pengaliran energi dan informasi genetik. Meski molekul-molekul ini mengandung unsur-unsur penyusun air: hidrogen dan oksigen, mereka juga selalu mengandung karbon dan nitrogen. Susunan atom-atom hidrogen, oksigen, karbon, dan nitrogen pada berbagai proporsi dan struktur menghasilkan berbagai molekul yang sangat stabil, yang dikenal dengan molekul organik. Molekul organik paling sederhana disebut monomer (misalnya ethylene atau C2H4). Monomer-monomer ini kemudian bergabung membentuk berbagai struktur molekul yang lebih besar (polymer), yang bisa terdiri dari dua, tiga sampai ratusan monomer. Di samping keempat unsur utama: H, O, C, dan N, pada  molekul-molekul organik sering tersisip unsur-unsur lain. Dari 92 unsur kimia yang dijumpai di alam, kira-kira setengahnya biasa dijumpai pada molekul organik. Pada saat ini, molekul organik kerap kali dibuat secara sintetik di laboratorium (atau di pabrik obat) tanpa melibatkan makhluk hidup pada prosesnya.

Susunan kimia atau struktur molekul suatu benda bisa diketahui melalui spektroskop berdasarkan perilaku absorpsi dan emisi berbagai panjang gelombang pada berbagai lingkungan. Apabila spektroskop digabungkan dengan teleskop, struktur molekul atau komposisi kimia benda-benda di angkasa luar dapat pula terdeteksi. Para ahli radio astronomi telah mendeteksi dan mengidentifikasi sekitar seratus jenis molekul organik, yang terdapat di dalam awan padat antarbintang yang sangat dingin. Molekul yang terdeteksi di antaranya termasuk beberapa jenis asam amino yang merupakan bahan dasar protein. Kemungkinan asam amino ini terbentuk melalui mekanisme pada teori sup (soup theory), yaitu adanya muatan (sengatan) listrik terhadap larutan pekat yang mengandung C, H, N, dan O, seperti yang pernah dicoba di laboratorium oleh Urey dan Miller. Unsur-unsur C, H, N, dan O banyak terdapat pada awan pekat yang dingin di ruang antarbintang dan sengatan Iistrik bisa terjadi dari kilat yang kerap kali terjadi di dalam awan sehingga molekul-molekul organik cukup banyak tersintesis di dalam awan. Meski demikian, untuk menjadikan molekul-molekul ini sesuatu yang hidup, dalam arti bisa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya serta dapat berbiak (reproduksi), diperlukan suatu susunan dan pengorganisasian molekul-molekul ini menjadi suatu sistem kompleks yang menunjang terjadinya proses-proses metabolisme yang rumit pula yang tidak mungkin tersusun dengan sendirinya.

 

Air Hujan yang Menghidupkan

وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti (ar-Rūm/30: 24).

 

Dalam dunia makhluk hidup, tumbuhan umumnya merupakan produsen karena mereka membuat sendiri bahan organik sebagai bahan penyusun tubuhnya dari bahan bahan anorganik (berasal dari benda mati) langsung di alam seperti CO2, nitrogen, fosfor, dan air. Proses paling sederhana dalam pembentukan zat organik adalah pembentukan gula dari CO2 dan air, yang berlangsung dengan adanya klorofil dan energi dari penyinaran matahari yang dikenal dengan proses fotosintesis.

Tumbuhan paling primitif adalah tumbuhan bersel tunggal, misalnya bakteri, terdapat di bumi semenjak kira-kira 3,2 miliar tahun yang lalu. Jenis tumbuhan lebih kompleks yang kemudian berkembang adalah jenis ganggang. Jejak-jejak kehidupan primitif dimasa purbakala dijumpai pada batuan sedimen yang terendapkan pada Iingkungan perairan, menunjukkan bahwa perkembangan kehidupan dimulai pada perairan.

Pada tumbuhan yang kita jumpai saat ini, siklus kehidupan bermula pada perkecambahan yang tumbuh baik pada biji maupun pada spora. Biji atau benih yang terletak di dalam tanah akan mulai tumbuh apabila di sekitarnya terdapat air. Melalui proses osmosis, sel-sel kering biji tersebut menyerap air melalui dindingnya yang bertindak sebagai membran semipermeabel. Dengan adanya enzim-enzim di dalam biji tersebut, air yang terserap mengaktifkan reaksi-reaksi yang menumbuhkan lembaga menjadi kecambah dengan memanfaatkan zat-zat tersimpan di dalamnya sebagai makanan awal bagi pertumbuhan. Dapat kita amati bahwa dimusim kemarau di mana tanah kering kerontang, hanya sedikit atau bahkan tidak ada tanaman yang tumbuh. Apabila hujan tiba, segera tumbuh berbagai tanaman dan rumput yang menghijau. Bahkan padang rumput (savana) yang terbakar akan segera menghijau kembali setelah hujan tiba. Penelitian menunjukkan bahwa batang rumput amat tahan terhadap kebakaran dan akan hidup kembali mengeluarkan akar dan daun setelah mendapat air.

Siklus-siklus kehidupan kita jumpai dalam pengalaman sehari-hari. Dari yang tampak benda mati bisa muncul tunas dan berkembang sebagai makhluk biologi. Pada umumnya memerlukan air, di kolam yang kering kerontang di musim kemarau tiba-tiba muncul ikan tidak lama setelah diguyur hujan lebat. Pengalaman seperti ini boleh jadi yang dimaksudkan oleh ayat berikut.

يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ وَكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ۝

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi setelah mati (kering). Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur) (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 19) 

 

Hal ini disebabkan oleh beberapa keajaiban peranan air:

  1. Air adalah media cairan di mana biji-bijian dari tanaman akan, mengalami perubahan enzimatik sehingga biji-biji itu tumbuh menjadi tanaman.
  2. Air adalah media cairan di mana akar tanaman dapat menyerap unsur-unsur hara melalui penukaran ion. Proses penukaran ion tak akan terjadi tanpa adanya media air.
  3. Air hujan mengandung banyak nutrisi seperti nitrat dan amonia di angkasa yang terlarut dalam air hujan.

Tanaman seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian merupakan sumber makanan bagi binatang maupun manusia. Jadi secara tidak langsung kehidupan manusia dan binatang juga bergantung kepada tumbuh-tumbuhan, di mana tumbuh-tumbuhan bergantung pada air atau hujan. Namun, secara langsung kehidupan manusia dan binatang juga amat bergantung pada air.

Kebutuhan setiap jenis tumbuhan akan air berbeda. Oleh karena itu, jenis-jenis tumbuhan yang berada di suatu tempat berbeda dengan tempat lainnya, dipengaruhi oleh situasi geografis yang menyangkut pula ketinggian tempat dan suhu, musim yang mempengaruhinya serta ketersediaan air. Suatu kesatuan Bio-geofisik suatu wilayah biasa dikenal dengan istilah ekosistem.  Terdapat berbagai jenis ekosistem di permukaan bumi, mulai dari gurun yang kering, savana, hutan tropis yang lebat dan basah di daerah panas, sampai dengan tundra atau padang lumut di daerah beriklim dingin. Perbedaan komposisi jenis tumbuhan ini mempengaruhi pula keberadaan jenis-jenis hewan yang ada di dalamnya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti (Alquran, Surah al-Baqarah/ 2: 164).

 

Dalam dunia hewan di alam bebas, dapat kita Iihat betapa banyak binatang mati kehausan air bila musim kemarau berlangsung terlalu panjang. Mereka berkumpul di kubangan untuk berebut air, bahkan saling membunuh dan memangsa. Bila air hujan tidak turun maka terlihat bangkai-bangkai binatang berserakan, kecuali yang dapat berlindung. Maka ketika Allah mencurahkan hujan dengan kemurahan-Nya, binatang-binatang itu muncul dan bergembira, bersama menghijaunya padang rumput yang sebelumnya mengering. Yang lebih menakjubkan lagi adalah adanya jenis ikan yang ternyata ketika tidak ada air, ia masuk ke dalam bumi dan diam. Segera setelah hujan tiba, ikan-ikan tersebut keluar dari lubang persembunyiannya. Demikian pula jenis buaya kecil yang dapat berlindung pada lubang-lubang tanah, mereka kembali pada  kehidupan normal sedangkan buaya raksasa yang tak menemukan lubang tempat persembunyian menjadi tulang-belulang sebelum hujan tiba. Fenomena di atas menunjukkan betapa Allah telah mengatur kehidupan binatang dengan mengatur keberadaan air atau turunnya hujan.

Dibandingkan dengan daratan, laut merupakan ruang luas yang sampai saat ini baru sebagian kecil diketahui manusia. Di samping terdapat perbedaan lateral yang diakibatkan perbedaan iklim dan suhu di permukaan bumi, ekosistem di laut terbagi pula  secara vertikal berdasarkan kedalaman laut dan tingginya kemasinan (salinitas). Salah satu sifat air yang menentukan bagi berlangsungnya kehidupan hewan air di laut beriklim dingin adalah berat jenisnya. Seperti telah diuraikan terdahulu, berat jenis air mempunyai keanehan (anomali), yakni mempunyai berat jenis maksimum pada suhu 4°C yakni 1,000 g/ml. Ini berarti bahwa di atas atau di bawah suhu tersebut berat jenis air semakin mengecil, sedangkan berat jenis es atau air padat lebih ringan daripada air yakni 0,924 g/ml (0°C/atm). Hal ini memang merupakan keanehan, karena biasanya berat jenis padat, seperti amonia, metanol, alkohol, besi atau seng selalu lebih besar daripada berat jenis bentuk cairan. Anomali tersebut ternyata mempunyai makna bagi kehidupan laut, di mana di daerah kutub, air membeku menjadi es yang tidak tenggelam tetapi mengambang. Karena bongkahan-bongkahan itu mengambang maka di bawah es tersebut, ikan dan organisme lain tetap hidup pada suhu  +4° C. Selain itu, es yang menutup laut menjadi isolator bagi udara dingin di atasnya (di bawah 0°C) sehingga air di bawah es tidak membeku. Seandainya berat jenis es lebih berat daripada air maka es akan tenggelam dan suhu dingin di atas air akan menyebabkan air terus membeku. Hal ini akan menyebabkan laut membeku seluruhnya dan musnahlah kehidupan ikan dan binatang air lainnya. Alhamdulillah, hal ini tidak terjadi.

Di daratan, sebaran ekosistem sangat dipengaruhi oleh besarnya curah hujan. Kesuburan tanah sebagai akibat adanya air atau air hujan dapat kita lihat pada efek pembangunan waduk. Tanah tandus sebelum ada waduk akan menjadi subur dan produktif setelah waduk dibangun dan menjadi sumber air irigasi. Fenomena di atas sebagai ayat kauni banyak difirmankan Allah dalam Alquran, antara lain:

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُل لَّا أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ۝

Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 99)  

Dan dalam Surah al-Baqarah/2: 22 dijelaskan:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ۝

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 22) 

 

Secara umum air merupakan faktor utama yang menentukan tingkat keberhasilan usaha pertanian di samping faktor lain yang perlu pula diperhatikan. Banyak ayat Alquran mempertegas ketergantungan tanaman atau tumbuhan terhadap air, antara lain ayat berikut.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ۝

Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya (Alquran, Surah az-Zumar/39:21). 

أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا۝ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا۝ فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبًّا۝ وَعِنَبًا وَقَضْبًا۝ وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا۝ وَحَدَائِقَ غُلْبًا۝  وَفَاكِهَةً وَأَبًّا۝ مَّتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ۝

Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu (Alquran, Surah ‘Abasa/80: 25-32).

أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَّا كَانَ لَكُمْ أَن تُنبِتُوا شَجَرَهَا ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ۝

Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) (Alquran, Surah an-Naml/27: 60)  

 

Juga pada surah az-Zukhruf/43:11, al-Jāṡiyah/45:5, dan an-Naba’/78:14-16.

Dalam kenyataan sehari-hari, tanaman atau tumbuhan, bahkan seluruh makhluk hidup tidak dapat bertahan hidup tanpa air. Hubungan antara hujan, kesuburan tanah, dan pertumbuhan tanaman telah diamati dan dipelajari manusia sejak zaman awal peradaban yang melahirkan teknologi pertanian dan irigasi. Pada saat ini, diperkirakan sekitar 69% dari persediaan air tawar yang ada di pemukaan bumi ini digunakan untuk mengairi tanaman.

Dengan pengaruh gaya gravitasi bumi, sifat fisik air berbentuk cairan fluida memudahkannya diatur untuk dialirkan dari tempat yang tinggi ke tempat lebih rendah sesuai keperluan. Selaku pelarut yang baik, dengan mudah air membawa unsur-unsur hara bersama alirannya untuk kemudian diserap oleh akar-akar tumbuhan yang dilalui. Usaha pertanian dengan menggunakan sistem irigasi sudah lama dikenal sejak zaman nenek moyang kita. Irigasi tertua dijumpai berumur setua peradaban manusia sendiri, misalnya di Kerajaan Mesir Kuno yang memanfaatkan Sungai Nil dan di daerah Mesopotamia yang memanfaatkan Sungai Eufrat dan Tigris. Di Indonesia, semenjak dahulu masyarakat tradisional membendung kali atau sungai untuk kemudian airnya dialirkan ke sawah-sawah. Jika saluran harus melewati tebing atau jurang maka air dialirkan melalui batang bambu yang disambung-sambung sebagai pipa. Itulah cara-cara yang ditempuh manusia untuk menyirami lahan pangan. Cara-cara ini terus berkembang menjadi suatu sistem pengairan atau irigasi.

Di beberapa belahan dunia, irigasi dilakukan untuk membantu proses penumbuhan tanaman pangan, sedangkan di beberapa tempat lain dimanfaatkan untuk menumbuhkan jenis tanaman lain, misalnya tanaman untuk bahan baku industri. Berbagai macam sistem irigasi telah dikembangkan manusia untuk mencari solusi yang tepat dan efisien dalam upaya meningkatkan produksi hasil pertanian. Pertambahan jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya permintaan pangan di dunia, sedangkan pasokan air tetap maka upaya-upaya harus dilakukan untuk menghasilkan lebih banyak makanan dengan air yang sedikit. Perbaikan sistem pertanian saat ini dilakukan antara lain melalui efisiensi pengairan di samping pencarian dan penggunaan bibit unggul yang hemat air melalui rekayasa genetik.

 

Manfaat Langsung Air bagi Kehidupan Manusia

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ۝

Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi  minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu (Alquran, Surah an-Naḥl/16: 10) 

 

Meski pemakaian terbesar air oleh manusia bukan untuk proses metabolisme tubuhnya, tapi sebagaimana makhluk hidup lainnya, hidup dan kesehatan manusia sangat tergantung pada air. Ketergantungan hidup manusia pada air tercermin pada besarnya kandungan air dalam tubuh manusia. Bagi laki-laki dewasa, kandungan air adalah sekitar 50-70% berat badan sedang bagi perempuan adalah antara 45-65%. Semuanya bergantung pada kurus dan gemuknya seseorang. Semakin gemuk seseorang (yang berarti lemaknya semakin banyak) berarti kadar air semakin kecil, dan sebaliknya. Besarnya kadar air dalam tubuh menunjukkan pentingnya air dalam metabolisme dalam tubuh. Seseorang lebih dapat bertahan tidak makan daripada tidak minum. Dengan kata lain, orang dapat bertahan hidup tanpa makan beberapa hari, tetapi tidak demikian bila tidak minum. Seseorang yang kehilangan air tubuh akibat diare dan muntah-muntah atau dehidrasi harus segera minum banyak air dan elektrolit atau diinfus untuk menyelamatkan jiwanya. Bila tidak, dalam beberapa jam ia akan meninggal.

Pentingnya air bagi tubuh dapat dimengerti karena gizi makanan, vitamin, mineral, dan oksigen yang dibawa oleh darah hanya bisa ditransfer ke dalam jaringan tubuh apabila media air mencukupi. Darah sendiri sebagai sarana transportasi gizi dan energi terdiri hampir seluruhnya dari air. Reaksi kimia, fisika, dan biologi dalam metabolisme tubuh hanya akan terjadi dalam media air. Namun demikian, terlalu banyak minum air juga akan berbahaya. Dalam hal ini, tubuh dengan proses yang terjadi pada ginjal akan mengatur agar tidak keracunan air (water intoxication). Sebuah contoh, apabila seseorang minum air garam terlalu banyak, proses osmosis akan terjadi dan air akan masuk ke dalam darah yang menyebabkan tekanan darah tinggi dan ginjal akan bekerja keras untuk mengalirkan air berupa urin lebih banyak untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuh. Kegagalan dalam menjaga keseimbangan akan berbahaya bagi kesehatan, karena keseimbangan air, mineral, dan keasaman/kebasaan (pH) amat menentukan kesehatan tubuh. Untungnya, sistem pengaturan yang rumit tersebut telah ditata secara rapi dalam metabolisme tubuh yang amat kompleks oleh  pencipta manusia, yaitu Allah. Hanya saja manusia harus mampu menjaga asupan makanan dan minumannya agar tidak berlebihan atau kekurangan supaya sistem kesetimbangan tadi dapat terjaga dengan baik.

 

Air dalam Metabolisme Tubuh Manusia

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ۝

Dan (juga) pada dirimu sendiri (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah). Maka, apakah kamu tidak memperhatikan? (Alquran, Surah aż-Żāriyāt/51: 21) 

 

Dari struktur molekul air, adanya kutub negatif pada O dan kutub positif pada H menyebabkan molekul air bersifat polar. Hal ini amat berbeda dengan molekul cairan lainnya, misalnya benzena (C6H6) atau heksana (C6H14), yang tidak terpolarisasi, atau disebut senyawa nonpolar. Senyawa polar dari air tersebut menyebabkan air amat menguntungkan bagi kehidupan manusia, karena dengan demikian air bisa melarutkan semua senyawa mineral yang bersifat polar. Senyawa garam dapur (NaCl), gula (C6H1206), dan berbagai mineral setra gizi amat mudah larut dalam air:

NaCI       ↔        Na+ + Cl

Gula (padat)             Gula (larutan air)

Gula + air       →       Larutan gula 

 

Sifat air yang polar tersebut tidak hanya mendukung penyerapan mineral, vitamin, dan gula dalam tubuh manusia, tetapi juga perubahan mineral di alam. Proses absorpsi atau disorpsi mineral di alam melalui proses penukaran ion hanya terjadi karena adanya air yang bersifat polar.

Metabolisme atau reaksi-reaksi biofisika kimia dalam tubuh hanya dapat terjadi karena adanya media air. Proses penyerapan gizi dalam permukaan usus, penyerapan O2 oleh elveoli paru-paru, serta distribusi nutrisi dan oksigen tak dapat dipisahkan dari air. Darah sebagai cairan pengangkut nutrisi dan oksigen hampir seluruhnya adalah air. Tapi anehnya air dalam darah atau sel-sel tubuh dapat melarutkan lemak atau protein yang akan teroksidasi dalam metabolisme tubuh. Bukankah lemak, minyak, dan protein adalah senyawa yang cenderung non polar, sedang air adalah polar? Meski ilmu pengetahuan belum dapat melihat struktur air secara nyata walaupun dengan elektron mikroskop, namun data termodinamika menunjukkan  bahwa struktur air adalah kunci penting. Khusus interaksi biokimia dengan senyawa nonpolar di atas, klaster (cluster) molekul air amat penting keberadaannya selain daripada air dalam bentuk monomer (H2O).

Klaster-klaster air itulah yang dapat mendekat pada molekul non-polar seperti protein, minyak, dan lemak. Adanya klaster air itu pula yang menyebabkan air dalam darah dapat mengangkut molekul-molekul nonpolar. Demikian pula, sperma yang merupakan protein terdispersi dalam air secara sempurna dalam bentuk air mani. Namun, keberadaan klaster-klaster hanya dapat dideteksi dari sifat termodinamikanya, yakni entropi yang cenderung rendah yang berarti tingkat keteraturan yang tinggi, yakni dalam bentuk klaster. Anehnya, kondisi terbentuknya klaster tersebut hanya optimum pada suhu antara 35-41°C yang tak lain adalah suhu tubuh kita. Ini adalah ayat kauniyah yang menunjukkan bagaimana kebesaran Allah sebagai Maha Pencipta.

Air, selain untuk dikonsumsi, juga menjadi media atau alat untuk bersuci (membersihkan diri dari berbagai kotoran/najis dan hadas). Sifat air yang melarutkan dapat menarik kotoran yang menempel pada tubuh atau benda lain. Dalam Islam, membersihkan diri dan bersuci merupakan hal yang diutamakan. Oleh sebab itu, air memiliki peranan sentral dalam peribadatan Islam karena air diperlukan untuk bersuci sebagai prasyarat untuk melaksanakan ibadah terpenting, yaitu salat. Tetap dalam keadaan suci (dan bersih) sangat dianjurkan pula dalam melakukan ibadah-ibadah lainnya yang pada dasarnya meliputi seluruh aspek kehidupan. Diutamakannya kebersihan ini menunjukkan bahwa ajaran Islam bukanlah budaya Arab-sebagaimana dituduhkan banyak orientalis. Air menjadi unsur penting dalam peribadatan, karena diperlukan untuk berwudu dan mandi janabah yang merupakan cara bersuci yang baku sebelum melakukan ibadah. Meski demikian, apabila air tidak ada, bersuci bisa dilakukan dengan cara tayamum menggunakan tanah atau debu. Seandainya ajaran Islam itu budaya Arab maka dapat dipastikan air tidak menjadi media atau alat utama untuk bersuci, karena di wilayah Jazirah Arab, air merupakan barang langka yang sangat berharga. Bahkan untuk dikonsumsi manusia saja, ketersediaan air sangat terbatas dan diperlukan usaha ekstra keras untuk memperolehnya.

Ketersediaan air di bumi dalam jumlah besar memang multiguna. Keseimbangan alam sangat ditentukan oleh faktor air karena hampir semua makhluk hidup bergantung pada keberadaan air. Manusia termasuk makhluk yang paling banyak memanfaatkan air, mulai dari kebutuhan untuk minum, mandi, mencuci, menyirami tanaman pangan, meminumi  ternak, sampai pada yang paling penting adalah untuk bersuci dalam melakukan ibadah-ibadah tertentu. Karenanya, menjaga kelestarian air menjadi hal yang mutlak dilakukan. Umat beragama, terutama kaum Muslimin, menjadi komunitas paling berkepentingan terhadap keberadaan air bersih di bumi.

Kebutuhan terhadap air bersih dengan kategori suci dan menyucikan (bersih dan dapat digunakan untuk membersihkan sesuai standar syariat) dapat diklasifikasi menurut peruntukannya. Pertama, untuk menghilangkan najis (izālatun- najāsah), yaitu membersihkan semua bentuk najis dari badan dan atau pakaian. Kedua, untuk menghilangkan hadas kecil (sederhana) dengan cara berwudu. Ketiga, untuk menghilangkan hadas besar (kompleks) dengan cara mandi, membasahi sekujur badan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ۝

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan maka jika kamu tidak memperoleh air maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci), usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 6). 

 

  • Untuk kesejahteraan Manusia

Sarana Transportasi

رَّبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا۝

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu (Alquran, Surah al-Isrā’/17: 66)  

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ۝

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu (Alquran, Surah Ibrāhīm/14: 32). 

 

Selain untuk kebutuhan hidup, air memiliki manfaat yang sangat banyak bagi kepentingan hidup manusia. Salah satunya adalah prasarana pengangkutan. Kapal merupakan alat angkutan air yang digunakan oleh manusia untuk bepergian. Alat angkutan air yang lebih kedl dikenal sebagai perahu atau sampan. Allah dengan tegas menjelaskan tentang manfaat air (laut, sungai) untuk menjadi prasarana angkutan air yang dapat digunakan untuk memindahkan atau membawa apa yang berguna bagi manusia dari satu tempat ke tempat lainnya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal  yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 164). 

 

Selain itu, dengan adanya kapal di atas air, mereka yang berprofesi sebagai nelayan dapat dengan mudah mendapatkan rezeki yang dikaruniakan oleh-Nya, sebagaimana dijelaskan ayat-ayat berikut.

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ۝

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur (Alquran, Surah an-Naḥl /16:14). 

 

Sesungguhnya alat angkutan air ini sudah dikenalkan kepada manusia sejak era kehidupan Nabi Nuh. Atas bimbingan petunjuk dan hidayah  Allah, Nabi Nuh merancang bangun sebuah perahu besar yang dipersiapkan untuk penyelamatan kaum Nuh yang beriman dari banjir. Perhatikan firman Allah berkenaan dengan peristiwa tersebut!

إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ حَمَلْنَاكُمْ فِي الْجَارِيَةِ۝ لِنَجْعَلَهَا لَكُمْ تَذْكِرَةً وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ۝

Sesungguhnya ketika air naik (sampai ke gunung), Kami membawa (nenek moyang) kamu ke dalam kapal, agar Kami jadikan (peristiwa itu) sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar (Alquran, Surah al-Ḥāqqah/69: 11-12).

 

Tapi dalam ayat terakhir ini penekanan isinya lebih mengarah pada perkara akidah dan keimanan bagi manusia pada umumnya dan umat Rasulullah pada khususnya. Sesungguhnya fenomena kapal yang terbuat dari besi baja (bahan yang berat jenisnya lebih besar daripada air) dapat mengapung di atas air merupakan sunnatullah, suatu ketentuan hukum (fisika) yang berlaku bagi semua benda yang berada di jagat raya ini. Dalam ilmu fisika, hukum ini dikenal sebagai Hukum Archimedes. Berdasarkan hukum ini, apabila sebuah benda tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam suatu zat cair maka benda tersebut akan mengalami gaya angkat ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya dan besarnya  gaya angkat tersebut berbanding  lurus dengan volume benda yang  tercelup, massa jenis zat cair, dan  percepatan gravitasi.

Mengapa kapal baja bisa mengapung di air, padahal berat jenis baja mencapai 7,85 ton/m3,  sementara berat jenis air hanya 1  ton/m3? Hal ini terjadi karena berat  baja per luasannya (yang tersentuh air) masih lebih kecil daripada  berat air (yang dipindahkan). Kapal selaku kendaraan pengangkutan, penumpang ataupun barang, di atas air, sudah berabad digunakan oleh manusia untuk mengarungi laut dan sungai. Perkembangan teknologi perahu menjadi teknologi perkapalan disebabkan oleh makin besarnya kebutuhan manusia akan daya muat.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kapal pada masa lampau umumnya bahan yang ringan seperti kayu, bambu, atau batang-batang papirus yang digunakan oleh bangsa Mesir Kuno. Namun, pada masa yang lebih kini digunakanlah bahan dari logam seperti besi/baja karena manusia membutuhkan kapal yang kuat. Penggeraknya mula-mula berupa tenaga manusia, yakni dengan menggunakan dayung, kemudian berkembang menggunakan tenaga angin dengan bantuan layar.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ۝

Allah-lah yang tetah menciptakan langit dan bumi, dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu (Alquran, Surah Ibrāhīm/14: 32). 

رَّبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا۝

Tuhanmulah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari karunia-Nya. Sungguh Dia Maha Penyayang terhadapmu (Alquran, Surah al-lsra’/17: 66). 

 

Pada tahun 1800-an, kapal-kapal uap mulai dikembangkan menggunakan mesin uap sebagai tenaga penggerak kincir atau baling-baling untuk mendorongnya. Uap ini dihasilkan dari teknologi ketel yang berbahan bakar kayu atau batu bara. Pada masa sekarang, kapal menggunakan mesin berbahan bakar minyak yang disebut bahan bakar bunker. Bahkan beberapa jenis kapal seperti kapal selam, kapal perang, dan kapal induk telah menggunakan tenaga nuklir untuk menghasilkan uap. Beberapa hasil riset kemudian telah pula melahirkan kapal-kapal bermesin yang mampu berjalan mengapung di atas air, seperti jenis Hovercraft dan Eakroplane.

Meskipun lambat, transportasi  air modern merupakan cara yang sangat efektif untuk mengangkut barang dengan volume besar dan bobot yang berat. Pengangkutan melalui laut secara signifikan lebih murah dibandingkan pengangkutan melalui udara untuk pengiriman antarbenua, sementara feri mempunyai peranan penting dalam sistem pengangkutan bagi banyak kota pesisir pantai, membuat transit langsung antara kedua tujuan dengan biaya yang lebih kecil dibandingkan jembatan atau terowongan.

 

Pembangkit Energi

Tenaga air (hydropower, hydraulic power) adalah tenaga yang dimiliki oleh aliran air, sering dimanfaatkan untuk sumber energi. Semenjak awal peradaban manusia, tenaga arus air disadap secara mekanik melalui toda atau kincir yang dipasang pada aliran air. Putaran roda ini diteruskan dengan sistem gigi (gear) dan poros, dipakai untuk menggerakkan mesin-mesin penumbuk gandum, pemintal, penggergajian kayu, bahkan pompa untuk menaikkan air itu sendiri.

Dengan berkembangnya teknik pembuatan bendungan dan pintu air, tenaga air sering pula dipakai untuk mengangkat kapal-kapal sungai ketika akan melintasi jeram. Prinsip yang sama dipakai untuk membuat mesin-mesin pengangkat. Pada era Revolusi Industri di Eropa, mesin-mesin yang lebih kompleks dibuat dengan memakai tenaga uap sebagai sumber penggerak. Meski pada mesin uap ini sumber utama energinya umumnya batu bara, tetapi pembangkitannya menggunakan prinsip hubungan antara tekanan (tenaga) yang dihasilkan uap air dengan panas.

Pada zaman modern ini, pemanfaatan tenaga air secara mekanik masih banyak dilakukan. Namun, pemakaian tenaga air terbesar dilakukan melalui konversi terlebih dahulu dari energi air menjadi energi listrik. Tenaga yang diperoleh dari aliran atau terjunan air umumnya dipakai untuk memutarkan turbin dan listrik dihasilkan dari putaran turbin itu. Dalam pengoperasian energi nuklir untuk pembangkit Iistrik, air memegang peranan penting pula, baik sebagai pendingin reaktor maupun sebagai bahan yang diuapkan untuk mengangkut panas yang dihasilkan. Di samping itu, perilaku air di daerah pesisir dan laut menyediakan pula berbagai alternatif bagi pengembangan sumber energi nonkonvensional. Sumber energi yang kini sudah banyak dicoba dan masih sedang dikembangkan di antaranya adalah: pasang-surut air laut, gelombang, energi kinetik arus laut, dan tenaga osmotik antara air laut dan air sungai pada saluran yang dipisah oleh membran semipermeabel.

Salah satu perkembangan paling mutakhir dalam pemanfaatan (unsur pembentuk) air dalam upaya membangkitkan energi adalah teknologi fuel cell, yaitu pembangkit listrik berbahan bakar hidrogen. Sel bahan bakar (Inggris: fuel cell) adalah sebuah alat elektrokimia yang mirip baterai, tetapi berbeda karena dia dirancang untuk dapat diisi terus reaktannya yang terkonsumsi; yaitu dia memproduksi listrik dari penyediaan bahan bakar hidrogen dan oksigen dari luar. Reaktan yang biasanya digunakan dalam sebuah sel bahan bakar adalah hidrogen di sisi anoda dan oksigen di sisi katoda (sebuah sel hidrogen). Biasanya aliran reaktan mengalir masuk dan produk dari reaktan berupa air mengalir keluar sehingga operasi jangka panjang dapat terus-menerus dilakukan selama aliran tersebut dapat dijaga keberlangsungannya. Sel bahan bakar dianggap sangat menarik dalam aplikasi modern, misalnya untuk sarana transportasi dan industri karena tingkat efisiensinya yang tinggi dan bebas emisi. Hambatannya adalah tidak tersedianya hidrogen murni di alam dan untuk memproduksinya memerlukan energi lain serta biaya yang saat ini masih mahal.

 

Air dalam Proses Industri

Kegunaan air dalam proses industri sangat banyak sekali. Selain sebagai air baku pada industri air minum dan pemutar turbin pada pembangkit tenaga Iistrik, air juga berfungsi sebagai alat bantu utama dalam kerja pada proses-proses industri. Dari data diketahui bahwa hampir 22% dari jumlah keseluruhan air tawar (fresh water) yang tersedia di bumi digunakan oleh industri. Penggunaan utama dalam industri meliputi pendinginan, kilang pemurnian (misalnya bijih besi dan minyak) yang menggunakan air dalam proses kimia, atau bahkan pabrik-pabrik lainnya yang menggunakan air sebagai pelarut. Namun, pada industri-industri yang lebih maju teknologi pemanfaatan air dapat memberikan hasil yang jauh lebih memuaskan daripada teknologi konvensional, misalnya air bertekanan digunakan sebagai alat pemotong dengan jet air yang dapat dipergunakan untuk  memotong logam atau kaca dengan tepat dan teliti.

Kebutuhan penggunaan air di sektor industri memang sangat bervariasi, tetapi secara keseluruhan jumlah air yang dipergunakan tetap lebih rendah daripada yang digunakan dalam kegiatan pertanian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memacu meningkatnya tuntutan kebutuhan akan air, khususnya pada kegiatan perindustrian. Hal ini sejalan dengan tantangan yang hadir dalam kehidupan manusia yang harus ditemukan solusinya. Dalam firman-Nya, Allah mengisyaratkan kepada  makhluknya untuk memikirkan, memahami, dan mengambil pelajaran dari apa yang telah Dia ciptakan. Perhatikan Surah an-Naḥl /16: 13!

وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ۝

Dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran (Alquran, Surah an-Naḥl/16: 13) 

 

Kebutuhan hidup di bumi sudah Allah sediakan. Selaku khalifah di muka bumi ini, manusia tidak hanya bertindak sebagai manajer, tapi juga harus mampu memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan bijaksana. Lebih dari itu, manusia harus berupaya mewariskan kesejahteraan yang menjanjikan kehidupan lebih baik bagi generasi berikutnya. Dengan melakukan penghematan penggunaan air, mencegah pencemaran sumber-sumber air, melakukan konservasi air, dan menghindari eksplorasi air dengan tujuan komersialisasi, berarti kita telah berupaya mewariskan kesejahteraan bagi generasi mendatang.

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Tinggalkan Balasan

Close Menu