PERADABAN MANUSIA

PERADABAN MANUSIA

Kalangan akademisi modern menemukan bahwa dalam perjalanan sejarah geologi, pernah terjadi beberapa kali peristiwa yang nyaris memusnahkan makhluk hidup. Banyak bukti sejarah yang memperlihatkan bekas bencana yang terjadi pada masa lampau, seperti banjir, gempa bumi, letusan gunung berapi, tabrakan benda angkasa, pergerakan lempeng bumi, perubahan cuaca secara ekstrem, dan sejenisnya, yang memutus rantai peradaban manusia. Salah satunya adalah letusan mahadahsyat sebuah gunung yang saat ini meninggalkan kawah besar, Danau Toba. Musibah Toba yang antara Iain memicu terjadinya musim dingin yang berkepanjangan, terjadi pada sekitar 70.000-75.000 tahun yang lalu. Kejadian ini sangat mempengaruhi laju peradaban dan persebaran manusia di muka bumi.

Rangkaian bencana yang menimpa kaum terdahulu memang multitafsir. la bisa menjadi azab, ujian, atau bahkan hanya fenomena alam belaka dan tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan Allah. Namun, Allah rupanya merasa perlu memasukkan dalam Alquran beberapa kisah bencana besar yang melanda dalam lintasan sejarah umat manusia. Tentu, tujuannya adalah sebagai peringatan bagi umat setelahnya. Tidak jadi soal apakah peristiwa-peristiwa itu nyata terjadi atau hanya sekadar cerita bijak yang patut disimak dan direnungkan.

Jika fenomena alam ini dipandang sebagai ujian, maka ia adalah sunnatullah yang Allah berlakukan kepada hamba-Nya di bumi ini. Gambaran yang diberikan Alquran dan hadis tentang cobaan dan ujian, antara Iain:

Cobaan adalah sarana menguji keimanan seseorang

الم۝ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ۝ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ۝

Alif Lám Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ”Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta. (Alquran, Surah al-‘Ankabūt/29: 1-3)

Cobaan adalah hakikat kehidupan di dunia

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ۝

Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Alquran, Surah al-Mulk/67: 1-2)

Cobaan adalah sarana introspeksi dan i’tibār

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ ۖ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ۝

Maka Kami siksa dia (Fir’aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim. (Alquran, Surah al-Qaṣaṣ/28:40)

Cobaan adalah sarana meningkatkan ketakwaan

Dari Sa’d, aku bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi, kemudian orang-orang yang seperti para nabi, kemudian orang-orang yang seperti mereka. Seorang hamba diuji Allah berdasarkan keimanannya. Jika keimanannya kokoh, maka semakin berat cobaannya. Jika keimanannya lemah, makai a akan diuji berdasarkan keimanannya itu. Cobaan tidak akan menjauh dari seorang hamba hingga nanti Ia membiarkannya berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikitpun. (Hadis Riwayat at-Turmużi)

Cobaan adalah salah satu manifestasi cinta Allah kepada hamba-Nya

Besarnya suatu pahala bergantung pada besarnya ujian. Sesungguhnya bila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa rela dengan ujian itu maka baginya keridaan Allah, dan barang siapa marah atas ujian itu maka baginya kemarahan Allah. (Hadis Riwayat at- Turmużi dari Anas)

Ketika Alah membinasakan satu kaum, di satu sisi hal itu adalah azab yang Dia timpakan karena kekufuran mereka kepadaNya. Namun di sisi lain, itu merupakan ujian bagi mereka yang beriman untuk meningkatkan kadar keimanannya.

Dari masa ke masa, Tuhan selalu menyampaikan pesan-pesan suci-Nya kepada manusia melalui para rasul. Mereka hanya menuntut kepatuhan kaumnya kepada Allah, mengajak mereka memeluk agama yang hak. Beberapa orang menerima pesan ini, dan itu sebagian kecil. Tak sedikit pula yang malah mengingkarinya. Tidak hanya mengabaikan pesan suci itu, golongan yang disebut terakhir ini juga berusaha melakukan perbuatan keji terhadap para pembawa pesan dan pengikutnya. Kisah pengingkaran itu dan akibat yang ditimbulkannya banyak kita temukan dalam Alquran, di antaranya:

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ ۚ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ۝

Apakah tidak sampai kepada mereka berita (tentang) orang-orang yang sebelum mereka, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Samud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata; Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri. (Alquran, Surah at-Taubah/9: 70)

Gambaran yang relatif sama tentang relasi antara nabi dan kaumnya dapat pula kita temukan dalam kisah antara Nabi Syu’aib dan kaum Madyan (Surah Hūd/11‎: 84-95). Kaum Madyan dikutuk dan dibinasakan oleh Allah, seperti dijelaskan dalam dua ayat ini. Mereka bukanlah satu-satunya contoh. Sebelum dan sesudah kaum Madyan, banyak kaum yang hancur oleh kemurkaan Allah. Selain berita penghancuran, kisah-kisah itu juga diselingi dengan informasi bahwa sebagian besar masyarakat yang dihancurkan itu telah memiliki tingkat peradaban serta penguasaan ilmu dan teknologi yang cukup tinggi.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّن قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُم بَطْشًا فَنَقَّبُوا فِي الْبِلَادِ هَلْ مِن مَّحِيصٍ۝

Dan betapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, (padahal) mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka (umat yang belakangan)  ini. Mereka pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah tempat pelarian (dari kebinasaan bagi mereka)? (Alquran, Surah Qāf/50: 36)

Dalam Alquran, hampir semua musibah dan bencana yang menimpa suatu kaum selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran mereka kepada Allah. Kaum Nabi Nuh, misalnya, ditenggelamkan dengan banjir mahadahsyat (Hūd/11‎: 42) yang hanya menyisakan mereka yang berada di atas kapal Nabi Nuh (asy-Syu’arā’/26: 117-119). Kaum Nabi Syua’ib, demikian pula, dihancurkan oleh gempa bumi hebat yang membuat seisi kota rata dengan tanah, membuatnya mirip kota tak pernah berpenghuni (al-A’rāf/7: 92). Kaum Nabi Lut hancur oleh hujan batu. Bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban saat itu rata dengan tanah (Hūd/11‎: 82). Sedangkan kaum Samud, kaum Nabi Saleh, juga hancur oleh gempa bumi dahsyat yang diekspresikan dengan suara menggelegar yang membuat mereka mati di kediaman masing-masing (Hūd/11‎: 67). Laut juga digunakan Allah untuk menghukum kaum yang mendustakan ayat-ayat-Nya, seperti Fir’aun (al-A’rāf/7: 136;  al-Qaṣaṣ/28:40). Karena keangkuhan pula, bumi membenamkan Karun dan seluruh hartanya ke dalam tanah (al-Qaṣaṣ/28:81). Alquran juga mengabarkan bencana dan musibah yang tidak terkait dengan satu kaum secara khusus. Namun penyebabnya sama, yaitu kemaksiatan, kekufuran, ingkar, dan pendustaan ayat-ayat Allah. Bencana yang paling tidak disadari, namun paling jelas terlihat saat ini, adalah kerusakan alam akibat ulah tangan jahil manusia (ar-Rūm/30: 41).

Sebagian peristiwa penghancuran yang dikisahkan Alquran telah dikonfirmasi kebenarannya oleh berbagai penelitian arkeologis yang dilakukan di zaman modern. Temuan-temuan ini secara jelas membuktikan kebenaran kisah-kisah Alquran itu. Benar, dan Allah telah mengingatkan akan pentingnya “bepergian di muka bumi” dan “melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka” (Yūsuf/12: 109-111). Beberapa peristiwa penting, baik yang berkaitan dengan pernyataan Alquran maupun tidak, akan kami paparkan dalam uraian berikut.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu