PENYIMPANGAN SEKSUAL

PENYIMPANGAN SEKSUAL

Serial Quran dan Sains

Hubungan badan atau hubungan seksual (sexual intercourse) merupakan anugerah dari Allah sepanjang dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah, dan dengan cara yang normal, sehat, dan bermartabat (beretika). Ungkapan AIquran pada Surah al-Baqarah/2: 222 yang menyatakan bahwa, “campurilah mereka (istrimu) sesuai (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu” mengandung makna bahwa hubungan badan harus dilakukan sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oIeh Allah. Dalam hal ini, hubungan badan hanya dilakukan dengan pasangan suami dan istri yang sah, dengan cara yang sehat (tidak sedang dalam keadaan haid atau nifas), dan normal atau di tempat yang telah ditentukan (saluran vagina yang terhubung dengan rahim atau uterus). Di luar yang diperintahkan Allah tersebut merupakan perbuatan melampaui batas (Alquran, Surah al-Mu’minūn/23: 5-7). Penyimpangan seksual, sejatinya dijumpai banyak sekali ragamnya, tetapi hanya beberapa di antaranya dijelaskan berikut ini.

  1. HOMOSEKSUAL DAN LESBIAN

Homoseksual diartikan sebagai kecenderungan atau perilaku yang menyenangi sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki) secara seksual. Ketertarikan seksual pada jenis yang sama jika laki-laki kepada laki-laki disebut homoseksual, sementara jika perempuan dengan perempuan dikenal dengan lesbian. Di sebagian negara Barat perkawinan antara sesama jenis ini dilegalkan (memperoleh pengakuan dari negara).

Akan tetapi di negara-negara Islam dan negara-negara lain pada umumnya, hal ini dianggap penyimpangan sehingga tidak dapat diakui sebagai pasangan suami istri. Homoseksual dan lesbian mengacu pada orang dewasa (sudah balig) yang mengikuti atau memilih orientasi seksualnya terhadap sesama jenis kelaminnya.

Dapat dipahami dengan mudah bahwa apabila homoseksualitas dan lesbianisme dibolehkan maka dapat dipastikan generasi manusia lambat laun akan punah. Alquran melarang keras perilaku homoseks dan lesbi karena tidak sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah, yaitu dengan pasangan suami istri (laki-laki dan perempuan) yang sah. Terdapat beberapa ayat yang berbicara tentang perilaku homoseks di zaman Nabi Lut seperti pada Surah al-A‘rāf/ 7: 80-82, an-NamI/27: 55, al-‘Ankabūt/29: 28-29. Surah al-A‘rāf/7: 80-82 menjelaskan,

 وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ۝ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ۝ وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَن قَالُوا أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ۝

Dan (Kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas”. Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Lut dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/ 7: 80-82)

 

  1. SADISME DAN MASOKHISME

Sadisme adalah istilah yang digunakan untuk menandai orang yang senang menyiksa pasangannya ketika berhubungan badan. Penyiksaan mulai dari kata-kata makian yang menyakitkan, umpatan, tendangan, tinju, atau berbagai jenis kekerasan fisik seperti mengikat dengan tali yang kencang, menyayat dengan silet, menutup kepala pasangannya dengan kantong plastik sehingga sulit bernapas. Semakin tersiksa dan meronta-ronta pasangannya semakin ia mendapatkan kepuasan. Tidak sedikit korban sadisme berakhir hidupnya karena penyiksaan yang ‘dinikmati’ oleh pelakunya.

Masokhisme, lawan dari sadisme, digunakan untuk memberi label seseorang yang senang disiksa oleh pasangannya saat bersebadan. Orang masokhis senantiasa meminta kepada pasangannya agar memaki-maki, mencubit, meninju atau berbagai siksaan Iainnya yang dirasakan menambah gairah seksualnya. Seperti halnya pada sadisme, para masokhis sangat menikmati siksaan yang diterima ketika mereka berhubungan suami istri. Semakin kuat siksaan itu semakin mendapatkan kepuasan.

Tentu saja kedua perilaku yang menjadi kebiasaan ini bertentangan dengan akal sehat manusia normal dan dilarang agama. Jangankan menyiksa orang Iain, menyiksa diri sendiri saja tidak dibenarkan oleh agama. Dalam Alquran, Surah al-Baqarah/2: 195, teIah dijelaskan larangan mencederai atau menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 195)

 

Segala bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikis, baik yang dilakukan terhadap diri sendiri maupun orang Iain, oleh suami ataupun istri, tidak diperkenankan dalam ajaran agama. Betapa Alquran memberikan perlindungan terhadap manusia dari segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Suami yang karena alasan yang dibenarkan agama terpaksa menceraikan istrinya pun harus dengan cara-cara yang baik.

 

  1. EKSHIBIONISME DAN VOYERISME

Ekshibionisme mengacu pada kebiasaan memamerkan bagian-bagian aurat, khususnya alat kelamin. Sementara voyerisme adalah kebiasaan mengintip bagian-bagian tubuh orang Iain yang tidak sewajarnya untuk dilihat. Kedua kebiasaan buruk ini, senang memamerkan aurat atau senang mengintip orang Iain, memberikan kenikmatan kepada pelakunya secara seksual. Orang yang mengidap ekshibionisme biasanya menunggu korbannya di gang sempit atau belokan jalan lalu memamerkan secara terbuka bagian-bagian kelaminnya dengan tiba-tiba yang dapat mengagetkan lawan jenisnya. Makin kaget dan lari terbirit-birit ‘korbannya’ makin ia menikmati secara erotis keadaan itu. Demikian pula bagi orang yang mengidap penyimpangan seksual voyerisme senang berjalan dari satu tempat ke tempat Iain yang memungkinkan adanya peluang untuk mengintip lawan jenisnya ketika misalnya berada di toilet, di tempat ganti pakaian, atau tempat-tempat lain yang kemungkinan orang melepas pakaiannya. Sebagian menyukai tinggal di rumah-rumah petak yang padat penduduk dan kumuh atau di pedesaan dekat kali tempat banyak orang mandi karena peluang mengintip dan memandang bagian-bagian yang dianggap erotis lebih besar. Secara lahiriah orang seperti ini tampak normal kecuali kebiasaan dan kesenangannya mengintip lawan jenisnya atau ketika orang lain melakukan aktivitas seksual. Mereka lebih senang menyaksikan adegan daripada melakukannya sendiri.

Di dalam Alquran kita mendapati ayat-ayat yang menyuruh manusia untuk membatasi pandangan, baik laki-laki terhadap perempuan atau pun sebaliknya, agar sikap dan perilaku yang dapat membangkitkan atau mengumbar syahwat bisa dieliminasi. Surah an-Nūr/24: 30-31,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ۝ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ۝

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 30-31)

Ungkapan ‘memelihara atau menjaga kelamin’ bukan hanya memelihara dari sentuhan orang yang tak berhak (selain suami atau istri sendiri) tetapi termasuk di dalamnya memelihara agar tidak diintip atau dilihat oleh orang lain. Dengan demikian perilaku penyimpangan seksual, ekshibionisme dan voyerisme, tentu bertentangan dengan ayat-ayat yang disebutkan di atas.

 

  1. PEDOFILIA

Pedofilia (pedophilia) berasal dari Bahasa Yunani, terdiri atas: pais yang diartikan anak-anak dan philia dengan cinta persahabatan. Sedangkan yang dimaksud menurut istilah adalah kecenderungan atau tindakan yang mengarah pada tindakan seksual terhadap anak-anak kecil yang belum balig (prapubertas). Sementara jika tindakan seksual itu dilakukan kepada orang yang sudah pubertas tidak dimasukkan sebagai pedofilia. Jadi, khas pada anak di bawah umur pubertas, sehingga dapat dikatakan kecenderungan ketertarikan secara seksual itu bersifat sepihak. Oleh sebab itu, anak kecil yang menjadi target mangsa biasanya diiming-imingi dengan sesuatu yang dapat menarik perhatiannya seperti diberi cokelat, permen, uang jajan, dan sebagainya.

Pedofilia adakalanya hanya sebatas fantasi semata, tetapi dalam banyak kasus dengan tindakan seksual atau pelecehan seksual terhadap effect bahwa jika suatu hal memberi kenikmatan atau kepuasan cenderung diulang dengan kadar yang lebih intens, maka meskipun pedofilia pasif (hanya dalam fantasi) maka tetap terbuka peluang untuk melakukannya jika kesempatan dan dirasa aman pada saat itu.

Penyimpangan seksual ini pada umumnya dilakukan oleh pria, meskipun juga ditemukan ada kasus dilakukan oleh perempuan.

 

  1. ZOOFILIA (BESTIALITY)

Manusia normal secara seksual tertarik kepada lawan jenisnya dari spesies yang sama. Anehnya, dan ini adalah penyimpangan bahwa ada manusia -baik laki-laki maupun perempuan- yang tidak tertarik secara seksual kepada sesama manusia, tetapi kepada hewan, misalnya kuda, kambing, sapi, anjing, kucing, atau hewan peliharaan lainnya. Penyimpangan seksual seperti ini dikenal dengan istilah zoofilia atau bestiality. Tindakan ini dilakukan dengan cara anal, vaginal, oral, atau dengan sentuhan-sentuhan erotis pada organ genital hewan; atau pun sebaliknya, hewan dilatih untuk melakukan sentuhan-sentuhan erotis seperti jilatan pada bagian badan tertentu dengan berbagai cara misalnya menggunakan keju, mentega, atau yang lainnya. Para penyayang binatang pada umumnya menganggap perbuatan semacam ini sebagai penyiksaan terhadap hewan.

Ada beberapa faktor yang mendorong orang melakukan tindakan zoofilia, antara lain:

  1. Adanya perasaan rendah diri (minder) dihadapan orang lain yang dilatari oleh berbagai faktor, misalnya faktor sosial, ekonomi, bentuk tubuh, dan sebagainya.
  2. Pernah gagal dan disakiti dalam menjalin hubungan asmara yang sangat mendalam, lalu berpandangan bahwa semua manusia sama.
  3. Tidak ingin menerima berbagai resiko seperti penolakan, teriakan, cacian, atau kemungkinan diceritakan dimasa akan datang
  4. Hasrat seksual yang sangat tinggi sementara penyalurannya tidak ada dan tidak mampu mengalihkan hasrat itu dengan subtitusi pada hal-hal positif.
  5. Penyakit-penyakit tertentu yang disebabkan oleh faktor ketidakmampuan menggunakan logika secara tepat.

 

Ada peluang untuk bereksplorasi, kemudian merasakan kenikmatan sehingga cenderung diulang pada kesempatan lain dengan intensita yang lebih tinggi. anak-anak.

Pada umumnya penyimpangan seksual ini terjadi di wilayah-wilayah pedesaan yang sangat tertutup dan memiliki tingkat pendidikan rendah. Ditemukan juga kasus-kasus di perkotaan pada orang yang sangat kesepian atau teralienasi dari lingkungannya, dan tak mampu membangun kembali komunikasi positif dengan orang lain.

 

  1. NEKROFILIA

Nekrofilia (necrophilia), dikenal juga dengan thanatophilia atau necrolagnia, adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan sifat orang yang senang secara seksual terhadap mayat. Istilah nekrofilia berasal dari Bahasa Yunani: necros yang berarti mati atau mayat dan philia yang berarti persahabatan atau cinta persahabatan. Pada kasus yang akut biasanya akan membunuh korban sebelum digagahi. la lebihmenikmati berhubungan seksual dengan orang yang sudah mati daripada yang hidup. Boleh jadi orang inimenganggap bahwa dengan bercinta bersama orang mati ia tidak akan ditolak, dilaporkan, dikhianati cintanya, dan yang pasti tak mungkin hamil

 

  1. WIFESWAP (SWING)

Perilaku seksual yang dibenarkan oleh syariat adalah hubungan suami istri yang telah menikah secara sah melalui alat kelamin. Ada perilaku menyimpang pada pasangan-pasangan suami istri yang tidak bermoral yang menganggap pasangannya sebagai peralatan yang bisa ditukarpinjamkan. Para swinger biasanya bersepakat saling menukar pakai istri masing-masing untuk waktu tertentu. Sebagian pelakunya mengenal pasangan masing-masing dan sebagian lagi dengan tidak saling mengenal sebelumnya. Cara yang umum dilakukan bagi pasangan yang belum saling mengenal adalah dengan bertukar kunci kamar tidur, baik dengan random atau diatur oleh pihak ketiga.

Apa yang dikemukakan di atas sebagai penyimpangan seksual tentu belum mewakili berbagai penyimpangan lain yang tidak dapat diulas dalam buku ini. Akan tetapi, cukup memberi gambaran bahwa mengapa Alquran memberi rambu yang sangat jelas tentang perilaku seksual yang sehat dan bermartabat, karena memang nafsu manusia jika tidak dikendalikan cenderung melakukan hal apa saja yang diinginkan meskipun sulit atau tidak bisa diterima oleh akal sehat. Semua perilaku penyimpangan seksual tentu harus diluruskan kembali dengan berbagai upaya baik dari yang bersangkutan maupun bantuan dari pihak-pihak yang memiliki pengetahuan tentang hal itu.

Alquran telah memberi label kepada mereka yang memiliki kecenderungan dan perilaku seksual menyimpang dengan istilah ‘al-ādūn’ (orang-orang yang melampaui batas). Bahwa Allah telah menghalalkan hubungan seksual yang dapat dinikmati oleh pasangan yang sah adalah karunia Allah. Namun, ada orang yang masih menginginkan lebih daripada itu meskipun tidak bermoral dan juga tak masuk akal sehat sehingga Alquran menjulukinya dengan melampaui batas manusia normal. Cermati rangkaian ayat-ayat firman Allah berikut.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ۝ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ۝

Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orangorang yang melampaui batas. (Alquran, Surah al-Mu’minūn‎/23: 5-6)

Lingkungan keluarga sangat berperan untuk membantu memulihkan atau menyembuhkan orang dengan penyimpangan seksual sebagaimana disebutkan di atas. Pendampingan dan stimulan kegairahan hidup normal merupakan kunci utama dalam pemulihannya. Psikoterapi dan nasihat nasihat keagamaan sangat penting terus dilakukan. Pengucilan dari keluarga atau masyarakat hanya akan makin memperparah kondisinya, karena ia akan tetap mengintip kesempatan di mana dan kapan saja.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu