PENYELENGGARAAN PENGAJARAN: MENGAJAR BERSAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS/INKLUSI DALAM PELAJARAN SAINS

PENYELENGGARAAN PENGAJARAN: MENGAJAR BERSAMA GURU PENDIDIKAN KHUSUS/INKLUSI DALAM PELAJARAN SAINS

Serial Pembelajaran Sains: Susan Gleason, Melissa Fennemore, dan Kathryn Scantlebury

Sue guru kimia SMU yang sudah berpengalaman, sedang berdiri di depan kelas, mengajarkan ikatan kimia kepada murid-murid sophomore persiapan kuliah/inklusi. Pelajaran tidak berlangsung mulus. Topik pelajarannya sulit, perhatian siswa mudah teralihkan. Melissa, seorang guru sains inklusi kelas dua, mulai menangkap kebingungan siswa. Melissa pindah ke depan kelas, menerangkan sebuah analogi yang bersifat memperjelas topik, kemudian memimpin kembali pelajaran. Tanpa ribut-ribut, Sue mengambil alih peran Melissa bekerja dengan murid-murid secara perorangan. Kedua guru itu sedang mengajar bersama-sama.

Pada hari lain, rencana pelajaran mengharuskan Sue menyelesaikan pengajaran struktur atom. Dua siswa yang sebelumnya absen beberapa hari belum mengerti bahan pelajaran itu. Seorang siswa lain sudah mengacungkan tangan ke udara. Ketika Sue mulai mengajarkan struktur atom, Melissa mengajak kedua siswa yang baru saja masuk kembali itu ke belakang kelas untuk menerangkan kembali bahan pelajaran yang belum mereka mengerti. Sue dan Melissa sedang mengajar bersama-sama.

Dua adegan singkat tadi menggambarkan bagaimana guru-guru yang sudah berpengalaman menggunakan model pengajaran bersama (coteaching) untuk memperbaiki proses belajar sains siswa pada kelas inklusi. Siswa dan proses belajarnya merupakan titik fokus dalam pengajaran bersama. Wolff-Michael Roth dan Keneth Tobin (2002) menjelaskan, pengajaran bersama memberikan pengalaman mengajar bersama-sama yang kelak dapat direnungkan oleh guru kemudian dianalisis untuk memperbaiki mutu pengajaran mereka dan mutu belajar siswa. Ketika pengajaran bersama digunakan sebagai bentuk pengembangan profesional, guru menjadi peserta aktif. Seringnya, program pengembangan profesi di sekolah/di tempat aktivitas adalah pengalaman pasif bagi guru. Guru mungkin mengalami kesulitan dalam menerjemahkan gagasannya guna memperbaiki mutu praktik di kelas. Hubungan di antara gagasan-gagasan yang disajikan dalam seminar pengembangan profesi seringkali tidak berhubungan dengan situasi dan pengalaman guru di dalam kelas. Pengajaran bersama memberikan struktur agar guru dapat merenungkan pengajarannya, merencanakan pelajaran bersama-sama, dan bersama-sama pula meneliti strategi dan gagasan baru yang akan meningkatkan mutu belajar siswa.

Pengajaran bersama yang berhasil terdapat pada hubungan dialektis dengan menghormati, memikul tanggung jawab, membuat rencana, dan melakukan dialog kogeneratif yang semuanya dilakukan secara bersama-sama. “Bersama (co)” yang mendasar di sini ialah bersama-sama saling menghormati (co-respect). Guru harus saling memandang mitranya sebagai teman yang sederajat, masing-masing mampu memberikan wawasan dan pengetahuan yang akan memperbaiki mutu pengajaran dan mutu belajar siswanya. Setiap guru memiliki pengetahuan dan wawasan yang berbeda-beda. Dalam contoh-contoh di atas, Sue sudah berpengalaman delapan belas tahun mengajar sains. Melissa, rekan guru inklusinya, memasukkan pengetahuan tentang siswa dan strategi inklusi ke pelajaran Sue. Sue dan Melissa sering mengajar bersama menggunakan gaya percakapan dengan mengikutsertakan siswa-siswa ke dalam diskusi. Mereka juga saling merujuk sebagai narasumber dan memasukkan sumber-sumber lain, misalnya, pengetahuan yang dimiliki siswa tentang sains. Selama diskusi kelas, mereka berdua saling mengajukan pertanyaan dan memperlihatkan kepada siswa bahwa mereka mau saling belajar dari satu sama lain.

Selama mengajar bersama-sama, Sue dan Melissa sama-sama bertanggung jawab atas pelajaran semua siswa, dan keberhasilan pengajaran persama tergantung pada guru-guru yang memegang tanggung jawab. Jadi, ketika Melissa masuk untuk memperjelas suatu konsep atau memantau interaksi para siswa dengan Sue, sebenarnya Melissa sedang berbagi ruang mengajar secara aktif. Dalam mengajar bersama-sama, sementara seorang guru sedang mengajar langsung, guru yang satu lagi memindai raut wajah dan bahasa tubuh siswa untuk memastikan apakah siswa mengerti penjelasan itu. Guru-guru itu bertanggung jawab bersama-sama atas pembelajaran siswa. Pertanggungjawaban bersama (co-responsibility) terjadi ketika setiap guru yang terlibat mengemban tanggung jawab atas segenap aspek di dalam kelas: pengajaran, para siswa, serta hasil pengajaran dan belajar. Ketika mengajar sains bersama-sama, Sue dan Melissa harus tetap fokus kepada pelajaran yang sedang diajarkan dan kejadian-kejadiandi dalam kelas. Setiap saat, sewaktu-waktu, aktivitas mengajar bisa berubah. Kadang-kadang kedua guru itu “tag teaming– hanya seorang saja yang mengajarkan” pelajaran, yaitu yang satu mendukung yang lain dengan memberikan pengajaran tambahan atau menulis di papan tulis, atau bekerja secara terpisah dengan seorang siswa atau sekelompok siswa. Mengajar bersama-sama bukan sesuatu yang tidak terencana atau bersifat spontan, tetapi merupakan hasil dari perencanaan bersama-sama (coplanning).

Perencanaan bersama-sama (coplanning) membutuhkan patisipasi dan keterlibatan dari semua guru yang menjadi pesertanya. Pelaksanaannya membutuhkan kerja keras sebab setiap guru harus merenungkan pelajaran sebelumnya, tujuan-tujuan program, dan sasaran. Kedua guru juga harus menghubungkan pelajaran dengan standar dan menyediakan masukan untuk misalnya, lembar kerja, kuis, atau laboratorium. Selama perencanaan berlangsung, guru mulai menyelenggarakan pelajaran dan menentukan siapa guru yang akan memberikan pengajaran utama dan siapa yang akan memberikan pengajaran tambahan atau mengelola tugas administratif seperti menghitung jumlah kehadiran, memasukkan nilai, atau memberi angka pada makalah. Perencanaan bersama sangat baik sebagai aktivitas pengembangan profesi karena dalam masa itulah guru saling bertukar gagasan, memanfaatkan pengalaman masa lampu, menemukan aktivitas baru, dan mengembangkan pemahaman tentang kebutuhan-kebutuhan siswa. Tindak lanjut dari pelajaran yang direncanakan dan diajarkan bersama-sama itu ialah dialog kogeneratif, yang juga merupakan pengalaman pengembangan profesi bagi guru.

Dialog kogeneratif adalah diskusi terbuka yang menghargai opini semua peserta secara sama. Dialog kogeneratif bisa bermacam-macam, salah satunya ialah sesi pelaporan (debriefing session) yang terutama membahas pelaksanaan suatu aktivitas, suatu pelajaran, atau penilaian. Dialog kogeneratif memberi kesempatan untuk merenungkan praktik mengajar. Bagaimana caranya guru-guru peserta berpindah dari pelajaran yang direncanakan ke pelaksanaannya? Strategi apa yang berhasil dengan baik? Siswa mana yang butuh pendampingan lanjutan? Bagaimana cara mengembangkan kurikulum dalam pelajaran-pelajaran yang akan datang? Dialog kogeneratif bukan forum untuk mencari-cari kesalahan atas kegagalan suatu pelajaran melainkan kesempatan untuk meninjau kembali dengan kritis praktik mengajar serta menentukan strategi untuk memperbaiki pengajaran semua guru peserta. Dialog kogeneratif adalah kelompok dukungan yang terdiri dari para rekan. Melissa merenung, “Kami mulai membahas masalah dan mulai mengutarakan hal-hal yang cukup bermanfaat untuk itu. Lalu, setelah kami mulai mengkaji, kami berkata, ’wah, itu benar-benar payah. Apa yang bisa Anda lakukan untuk memperbaikinya?’ lalu, kami pelajari masalah itu, ” tidak seperti Lesson Study ketika para guru mengamati seorang rekan dan memberikan kritik, pengajaran bersama memberikan perspektif dari orang dalam sendiri tentang pengajaran dan pembelajaran (Fernandez, Cannon, dan Choksi, 2003). Dengan berpatisipasi di dalam pelajaran, guru mengembangkan suatu pemahaman dan apresiasi terhadap perbedaan-perbedaan kecil di dalam mengajarkan suatu topik, misalnya, struktur atom. Sepanjang perencanaan, pengajaran, dan dialog kogenetif, guru pengajar bersama bertanggung jawab secara kolektif atas pelajaran itu bersama rekannya. Meskipun sudah direncanakan bersama dan diajar bersama-sama pun, pelajaran tidak selalu berhasil. Guru pengajar bersama masih bisa menjadi sumberdaya yang mendukung, memberikan penjelasan alternatif, memperjelas pengajaran aktivitas, atau menyediakan pengajaran perorangan bagi siswa (-siswa) yang membutuhkan banyak perhatian. Kami menemukan bahwa sumber-sumber daya pengajaran bersama mirip dengan memiliki satu satuan penyelamat pribadi di pihak Anda. Dengan berkumpulnya pengetahuan, berkumpulnya pengalaman, ditambah tangan-tangan ekstra, pelajaran pun terselamatkan, cepat disusun ulang guna memenuhi kebutuhan siswa atau dimodifikasi untuk situasi belajar yang berbeda-beda.

Ketika kami mulai menggunakan pengajaran bersama pada kelas-kelas inklusi, Sue mencatat, Saya sangat bersemangat mengenai penerapan [pengajaran bersama] pada kelas-kelas inklusi. Melissa, rekan saya dari pendidikan khusus, mengajarkan saya banyak hal tentang pengajaran siswa pendidikan khusus, sesuatu yang belum pernah saya pelajari dan menimbulkan rasa khawatir bagi saya. Dengan pengalaman mengajar yang saya miliki, saya mampu memperlihatkan jenis aktivitas yang belum kerap dijumpai Melissa. Bersama-sama kami mengambil satu pendekatan bersama untuk situasi yang terjadi, baik dengan kelas sebagai satu keseluruhan maupun dengan siswa perorangan. Kami gunakan kekuatan kami sebagai individu dan kekuatan gabungan kami untuk menangani kebutuhan siswa dengan lebih baik lagi. Kami belajar dari satu sama lain dan juga dari siswa.

Melissa juga bekerja sama dengan tiga guru sains lain. Sebagai guru pemula, -pengalaman pengembangan profesinya datang dari kerja samanya dengan rekan-rekannya. Pengalamannya mengajar bersama memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan keterampilan mengajarnya sendiri mengikuti guru-guru lain. Akhimya mereka dapat bekerja sama dengan orang-orang yang memahami siswa dan lingkungan mengajar.

National Science Education Standards (National Research Council, 1996) mendorong guru-guru agar kolaboratif dan reflektif. Pengajaran bersama kolaboratif karena dua orang guru’ atau lebih bekerja sama mendidik para siswa mereka. Agar berhasil dengan baik, guru pengajar bersama wajib melakukan perencanaan bersama-sama dan bertanggung-jawab secara bersama-sama pula. Pengajaran bersama membangun struktur bagi guru untuk lebih memikirkan praktiknya, ikut serta dalam dialog kogeneratif, dan memiliki rekan yang ikut serta dalam praktik mengajar mereka. Ketika dua orang atau lebih membahas suatu pelajaran, tiap-tiap guru harus paham hubungan pelajaran itu dengan standar, penilaian dan evaluasi yang akan digunakan, serta kerja sama dan kolborasi yang bisa membangun rasa hormat bersama di antara rekan-rekan sekerja. Pengajaran bersama memberikan para guru ruang untuk menyampaikan dengan jelas pengetahuan pengajaran yang dimiliki dan membaginya dengan sesama rekan kerja untuk berbagai pengalaman itu. Secara keseluruhan, melalui pengajaran bersama, pembuatan rencana bersama-bersama, menerima tanggung jawab bersama, dan menunjukkan rasa hormat bersama, para guru berhasil memperbaiki kualitas pengajran melalui praktik yang refletif.

Leave a Reply

Close Menu