PENGGUNAAN SAINS UNTUK MENJEMBATANI GAP BELAJAR DI ‎ANTARA RUMAH DAN SEKOLAH

PENGGUNAAN SAINS UNTUK MENJEMBATANI GAP BELAJAR DI ‎ANTARA RUMAH DAN SEKOLAH

Pembelajaran Sains: Dale McCreedy dan Jessica J. Luke

Mendidik anak muda tanpa bantuan dan dukungan dari rumah ibarat menggaru daun di tengah angin kencang. -Wolfendale (1992)

Parent Partners in School Science (PPSS) yang dibentuk oleh Franklin Institute Science Museum, Philadelphia, dirancang untuk menggunakan pengajaran dan belajar sains untuk menjembatani gap di antara orang tua dan guru di sebuah distrik sekolah urban. Dengan dukungan dari National Science Foundation, program tersebut menyasar siswa sekolah dasar, guru, dan keluarga di tiga komunitas sekolah. Para pendidik museum bekerja sama dengan guru dan orang tua mengembangkan dan mengoordinasikan kegiatan dan acara sains berbasis inquiry di kelas, rumah, dan komunitas. Melalui bab ini, kami akan membahas pelajaran-pelajaran penting yang dipetik dari program PPSS untuk berbagi, baik dengan orang tua maupun guru, strategi pengunaan sains untuk mendukung dan memadukan pelajaran anak-anak di antara rumah dan sekolah.

MASALAH

Bukti dan intuisi menunjukkan bahwa pengalaman edukasi terbaik bagi anak-anak ialah pengalaman ketika beraneka ragam pengaruh dalam kehidupan seorang anak-rumah, sekolah, dan komunitas-bersatu secara kohesif memajukan pencapaian di sebuah lingkungan belajar yang mendukung. Anne Henderson dan Nancy Berla (1994) melaporkan bahwa pencapaian akademis seorang anak terkait langsung dengan tingkat keterlibatan keluarga dalam pendidikannya, terutama sejauh mana keluarga si anak mampu menciptakan lingkungan rumah yang mendukung proses belajar, menyatakan dengan realistis ekspektasi yang tinggi akan pencapaian dan karier di masa datang, serta terlibat pendidikan anak mereka dalam konteks sekolah dan konteks komunitas. Jadi, orang-orang dewasa yang penting dalam kehidupan anak-anak memang memainkan peranan-peranan yang kritis, tidak hanya dalam memperkaya kehidupan anak sehari-hari tetapi juga dalam menentukan masa depan yang mencakup pencapaian potensi seseorang sepenuh-penuhnya.

Meskipun semakih banyak bukti bahwa kolaborasi dan komunikasi di antara orang tua dan guru meningkatkan pencapaian anak, masih relatif jarang bagi guru dan orang tua untuk menjembatani gap komunikasi di antara dua pengaruh utama dalam kehidupan seorang anak itu. Situasi di area urban tempat terdapatnya beraneka ragam bahasa, etnisitas, tingkat sosio-ekonomi dan pendidikan, serta pengalaman-hanya semakin memperumit upaya-upaya perbaikan komunikasi. Biasanya orang tua memberikan beberapa alasan untuk kurangnya keterlibatan aktif, mulai dari keterbatasan ekonomi dan waktu hingga perbedaan bahasa dan budaya. Mereka sering berkata merasa tidak disambut dengan hangat di sekolah. Bahkan, banyak studi telah menunjukkan bahwa berlawanan dengan retorika yang mempromosikan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, banyak sekolah masih-baik dengan sengaja maupun tidak sengaja merendahkan orang tua dan kelompok orang tua ke peran-peran marginal seperti menjualkan kue, menandatangani formulir dan kartu rapor. Dan mungkin karena sedikitnya pelatihan strategi yang diberikan untuk mendorong keikutsertaan orang tua. Kalaupun ada, banyak guru dan penyelenggara sekolah yang bersikeras percaya, kebanyakan orang tua tidak mampu atan tidak ingin memegang peranan aktif dalam pendidikan anak-anak mereka. Dikotomi yang jelas sekali ialah bahwa

“kebanyakan orang tua merasa urusan mereka kurang diperhatikan oleh para pendidik, padahal tentu banyak guru yang menginginkan lebih banyak orang tua terlibat pendidikan anak-anak mereka”

(American Association for the Advancement of Science, 1996: 13).

MEMIKIRKAN KEMBAU KETERUBATAN ORANG TUA

Kongres AS pada 1994 mengamendemen tujuan-tujuan pendidikan nasional dan mengeluarkan tantangan yang banyak dibutuhkan kepada sekolah-sekolah di seluruh negeri dengan menuntut agar sekolah “memajukan kemitraan yang akan meningkatkan keterlibatan dan partisipasi orang tua dalam memajukan pertumbuhan sosial, emosional, dan akademis anak-anak”. Sebagian sekolah sudah merespons dengan mulai melakukan upaya terpusat untuk menarik keterlibatan orang tua. Bahkan, National Parent Teacher Association mengeluarkan National Standards for Parent/Family Involvement pada 1997 (National PTA, 1997) yang menyediakan pedoman suka rela bagi sekolah dan orang tua untuk bekerja sama meningkatkan pencapaian siswa secara efektif. Standar-standar tersebut mengidentifikasi komunikasi, advokasi, kolaborasi, dan pengakuan akan peranan orang tua yang tidak terpisahkan dalam pendidikan anak-anak mereka sebagai landasan bagi program-program yang meningkatkan keterlibatan orang tua.

Tetapi, apa sesungguhnya arti dari istilah keterlibatan orang tua (parent involvement) Itu? Menjadikan sekolah lebih ramah bagi orang tua dan mengajak orang tua menyumbangkan waktu di kelas sebagai sukarelawan, jelas merupakan strategi yang sudah mulai digunakan oleh banyak sekolah dalam mendorong orang tua untuk menjadi bagian dari komunitas sekolah. Namun, akhir-akhir ini para peneliti dari Columbia University’s Teachers’ College dan kolega-kolega mereka telah mengungkapkan beberapa pertanyaan penting tentang definisi sekarang untuk keterlibatan orang tua itu. Secara khusus, para peneliti menggunakan pengalaman-pengalaman di lingkungan urban untuk menantang pandangan-pandangan lama terhadap keterlibatan orang tua. Pandangan-pandangan itu berfokus kepada aktivitas yang melibatkan orang tua, dan kesesuaian atau ketidaksesuaian aktivitas itu dengan agenda sekolah. Alih-alih, para peneliti merekomendasikan untuk meninggalkan fokus yang semata-mata tertuju kepada apa yang harus dilakukan orang tua untuk terlibat dengan sekolah anak mereka, ke fokus tentang bagaimana dan mengapa orang tua harus terlibat, serta hal-hal rumit yang menyertai pelibatan mereka. Dalam laporan sebuah studi pada 2004 oleh Angela Calabrese Barton, Corey Drake, Gustavo Perez, Kathleen St. Louis, dan Magnia George, pendekatan baru itu disebut pelibatan orang tua (parent engagement).

Perbedaannya mungkin hanya tampak samar-samar, namun cara baru dalam mengonsepkan pelibatan orang tua di sekolah itu memungkinkan kita mengenali hal-hal nontradisional ketika orang tua bertindak dan berpikir menyangkut proses belajar anak mereka. Pendekatan yang baru mengutamakan dua aspek penting dalam pelibatan orang tua-modal dan ruang. Modal menggambarkan semua sumber daya beraneka ragam yang dibawa orang tua ke suatu situasi. Tidak hanya meliputi pengetahuan dan pengalaman, aneka sumber daya itu juga meliputi kepercayaan dan tindakan. Ruang mengakui banyaknya ruang fisik dan konseptual berbeda-beda tempat terjadinya pelibatan orang tua, meliputi ruang akademis berbasis sekolah juga ruang berbasis rumah atau ruang berbasis komunitas.

Dalam upaya memahami keberhasilan dan tantangan di dalam PPSS, kami menggunakan kerangka pelibatan orang tua untuk mendokumentasikan hal-hal yang dapat menyatukan guru dan orang tua dalam program dukungan bagi pelajaran sains anak-anak. Kerangka tersebut sangat menarik karena membantu kami memahami bahwa pelibatan orang tua merupakan suatu fenamenon dinamis relasional, bahwa seharusnya kami tidak hanya berusaha melibatkan orang tua di sekolah tetapi juga mengajak orang tua dan guru untuk saling terlibat melintas rumah dan sekolah.

MODEL PENGGUNAAN SAINS UNTUK MENDORONG PELIBATAN ORANG TUA

Dalam bekerja dengan tiga sekolah dasar urban di Philadelphia, PPSS dirancang untuk mengembangkan hubungan rumah-sekolah sebagai dukungan untuk pelajaran sains siswa-siswa K-4 (kelas satu sampai kelas empat). Guru, orang tua, dan anak-anak disediakan banyak kesempatan untuk terlibat aktivitas dan acara sains di sekolah, rumah, dan komunitas. Terutama, program itu dimaksudkan untuk mencapai tiga tujuan umum:

  • Meningkatkan pengajaran sains di tingkat sekolah dasar.
  • Menanamkan kolaborasi rumah-sekolah untuk mendukung pelajaran sains siswa.
  • Mendokumentasikan peranan yang dapat dimainkan sebuah pusat sains dalam menjembatani gap di antara rumah dan sekolah di distrik pendidikan urban.

Upaya pemrograman khusus mengalami banyak penyesuaian selama proyek berlangsung, karena staf museum harus menyesuaikan aktivitas dan acara dengan realitas dan kebutuhan tiap-tiap sekolah. Pada tingkat umum, PPSS terdiri dari dua unsur program utama yang dirancang untuk mengembangkan hubungan rumah-sekolah. Unsur pertama menyasar guru, yaitu mendorong dukungan aktif (buy-in) dan rasa memiliki (ownership) terhadap proyek di dalam sekolah dan membekali guru dengan sumber daya dan strategi untuk meningkatkan mutu pengajaran sains. Komponen-komponen proyek utama meliputi Site Team Retreats (rapat perencanaan tahunan bagi guru-guru, penyelenggara sekolah, dan orang tua yang menjadi anggota tim tempat) dan Professional Development Workshops (lokakarya tahunan yang memfasilitasi pemahaman guru akan strategi pengajaran dan muatan sains yang sesuai menurut perkembangan).

Unsur kedua dalam pemrograman PPSS menyasar keluarga dengan mendorong pelibatan orang tua di sekolah pada umumnya dan dengan pelajaran sains anak-anak pada khususnya. Komponen-komponen proyek utama meliputi Museum Adventure Days-Hari Berpetualang di Museum (waktu eksplorasi yang tidak terbatas “bagi keluarga-keluarga di museum), Discovery Days (lokakarya berbasis tema yang diselenggarakan di sekolah dan dirancang untuk melibatkan orang tua dan anak-anak pada eksplorasi kolaboratif sains), dan Exploration Cards (aktivitas berbasis di rumah yang dirancang untuk menawarkan kesempatan-kesempatan yang penuh kasih sayang bagi keluarga untuk terlibat sains bersama-sama).

Kembali ke pengonsepan pelibatan orang tua yang tadi dibahas, kami memusatkan upaya untuk membuat komponen-komponen program yang akan meningkatkan baik modal maupun ruang. Dalam hal modal, kami ingin menyampaikan pesan-pesan baru kepada guru dan orang tua tentang apa itu sains, siapa yang bisa melakukannya. Ternyata, Exploration Cards menjadi cara ideal untuk itu. Dalam hal ruang, kami ingin menyediakan banyak kesempatan bagi orang tua dan guru untuk berkumpul bersama, membina hubungan baru, dan terutama, bagi orang tua, dengan halus menata kembali posisinya sendiri di sekolah anak mereka. Baik Legacy Projects maupun Discovery Days berhasil mencapai tujuan itu.

MEMBANGUN MODAL SAINS ORANG TUA DAN GURU

Inti proyek PPSS ialah upaya-upaya peningkatan mutu strategi pengajaran sains guru dan tingkat kenyamanan guru dalam mengajarkan sains. Seminar-seminar pengembangan profesi berhasil mencapai tujuan itu lebih cepat daripada yang diharapkan, tetapi yang benar-benar membantu mencontohkan strategi pengajaran ialah pengembangan Legacy Project di dalam tiap-tiap sekolah. Legacy Projects-ruang (space) atau upaya yang dapat menyediakan kesempatan atau konteks bagi orang tua, guru, dan siswa untuk terlibat secara kolaboratif dalam pelajaran sains -mula-mula dikonsepkan sebagai cara mempromosikan pengembangan komitmen berbasis sekolah terhadap pelajaran sains yang tengah berlangsung. Berikut ini tiga ruang yang dihasilkan:

  • Science Discovery Room pada sebuah ruang kelas kosong, yang dibersihkan dan dicat oleh orang tua dan guru. Ruang itu berisi kotak-kotak aktivitas yang telah dikembangkan guru-guru dan Franklin Institute, diuji coba bersama orang tua siswa pada hari-hari kunjungan sekolah, dan ditawarkan kepada keluarga siswa pada akhir minggu Discovery Days dan sebagai salah satu sumber daya bagi kelas pada hari sekolah.
  • Science Garden, dahulu berupa sepetak kecil tanah berumput yang kini menjadi tempat hidupnya berkotak-kotak tanaman sayur-sayuran dan sebuah kebun kupu-kupu. Ruang itu juga menjadi tempat penanaman beberapa pohon dan tempat berlangsungnya Discovery Days. Selama Discovery Days, keluarga siswa dan guru menanam umbi tanaman, menggali lubang untuk menanam pohon; melakukan aktivitas-aktivitas sains terkait, dan belajar tentang tumbuh-tumbuhan dari mitra komunitas tambahan, Pennsylvania Horticultural Society.
  • Kantor salah satu sudut pada Taman Fairmount Philadelphia yang menyediakan sumber daya dan hubungan fisik bersama untuk sekolah dasar itu terletak di tiga tempat. Dalam kemitraan dengan sekolah dasar tersebut, Komisi Taman Fairmount juga Franklin Institute bekerja sama dengan erat mengembangkan pemrograman sains bagi ruang alam itu; baik untuk akhir pekan maupun hari-hari biasa.

Guru-guru pada tiga sekolah semua melaporkan, kini mereka lebih sering mengajarkan sains dan merasa lebih nyaman mengajarkannya setelah berpartisipasi dalam PPSS. Menurut seorang guru,

Saya benar-benar merasakan PPSS (memengaruhi cara saya mengajar] tetapi [bagaimana pengaruhnya] sullt diterangkan dengan kata-kata. PPSS memberi saya kesempatan untuk menggali sains lebih dalam, mendorang saya melihat hubungan dengan sains dalam kehidupan setiap hari, yang pada gilirannya telah membantu saya membangkitkan semangat anak-anak untuk menemukan hubungan setiap harinya itu. Kini saya merasa lebih nyaman. Dahulu, saya merasa terintimidasi oleh sains karena sangat kompleks. Kini, saya dapat merasakan kesederhanaan sains, dan membantu anak-anak memahami kesederhanaan itu pula.

Sebagai salah satu hasil PPSS, orang tua siswa juga melaporkan merasa lebih nyaman dengan sains dengan mengklaim bahwa PPSS telah membantu mereka lebih memahami minat anak mereka kepada sains dan memberikan strategi untuk mengikutsertakan anak mereka dalam sains di rumah. Orang tua siswa juga merasakan bahwa Legacy Project telah meningkatkan minat anak mereka kepada sains dan persepsi-persepsi tentang sains, tetapi kebanyakan orang tua siswa menyebutkan Exploration Cards sebagai sumber utama peningkatan modal sains mereka. Exploration Cards yang mula-mula diciptakan untuk mendorong hubungan terbuka yang ramah-tamah di antara belajar sains di sekolah dan pengalaman-pengalaman yang berbasis di rumah, mengharuskan orang tua dan anak saling berkolaborasi. Ada kartu-kartu yang sudah disertai bahan-bahan, tetapi ada pula kartu-kartu yang hanya berdasarkan kertas saja. Setelah selesai, kartu-kartu itu dikembalikan ke dalam ruang kelas untuk kemudian dibagikan dan muatan di dalamnya dikuatkan kembali. Berikut ini kutipan-kutipan yang menunjukkan respons positif orang tua siswa tentang PPSS.

Biasanya, ketika berurusan dengan tugas sekolah, saya sering merasa bagaikan komandan pasukan yang selalu memerintah, “Cepat selesaikan!”, tetapi dengan adanya Exploration Cards, anak-anak banyak tersenyum saat kami bekerja bersama-sama. Anak saya yang masih kecil bahkan mau ikut serta dalam aktivitas. Memang, Exploration Cards adalah pekerjaan rumah, tetapi rasanya tidak seperti pekerjaan rumah. Rasanya seperti mengerjakan tugas sehari-hari saja.

[Anak-anak saya] tertarik pada hal-hal yang saya sendiri malah tidak tahu merupakan minat mereka. Saya tidak tahu anak perempuan saya tertarik kepada serangga. Di atas kertas mereka baik-baik saja, tetapi ternyata anak saya itu menyukai semua hal yang berbau penemuan. Anak laki-Iaki saya ingin menjadi pemadam kebakaran. [Proyek] ini semakin menambah keinginannya untuk berada di tengah-tengah alam, membantu orang-orang. Melihat segala sesuatunya bekerja membantu orang lain, bagaimana tindakan kita telah memengaruhi hasil. Dan memperteguh untuk mengejar cita-citanya itu. [Melalui PPSS] saya menjadi tahu akan kecerdasan anak-anak saya. Bukannya saya anggap mereka bodoh, tetapi PPSS telah menunjukkan betapa cerdasnya anak-anak saya. Mereka pulang dan bercerita kepada saya hal-hal yang menjadi tugas mereka.

Saya berani berkata bahwa kini kami lebih sering mengobrol (tentang sains). Selalu ada aktivitas di rurnah yang dapat kami lakukan bersama, atau anak-anak ingin pergi ke museum dan kami bicara tentang sains di sana. Anak-anak kini lebih banyak membaca dan lebih banyak berminat dengan sains, berkat bebetapa buku gratis yang mereka dapatkan.

MENCIPTAKAN RUANG INTERAKSI BAGI ORANG TUA DAN GURU

PPSS juga berhasil mengubah dinamika di antara orang tua siswa dan guru dengan membantu meruntuhkan sebagian hambatan fisik dan psikologis terhadap hubungan rumah-sekolah. Sebagai hasil partisipasi di dalam PPSS, guru menyatakan hasrat yang lebih kuat untuk bekerja sama dengan orang tua siswa, dengan melaporkan bahwa kini mereka lebih sering berkomunikasi dengan orang tua siswa, difasilitasi oleh bahasa yang sama yang ditawarkan melalui PPSS, dan basis pengalaman yang dapat menjadi rujukan. Selain itu, para guru merasa lebih bersemangat mengundang orang tua siswa ke ruang kelasnya. Acara-acara berbasis sekolah yang diselenggarakan di sepanjang tahun ajaran dan seringkali dilaksanakan di dalam Ruang-Ruang Legacy, sangat penting untuk mencapai hasil-hasil tersebut. Acara-acara itu menyediakan kesempatan bagi orang tua siswa dan guru untuk berkumpul di luar ruang kelas anak dan saling berhubungan dengan cara-cara baru:

PPSS membantu saya membina hubungan yang lebih baik dengan orang tua siswa dari kelas saya sehingga ketika saya perlu menemui mereka tentang hal-hal lain, apa saja, entah itu berhubungan dengan perilaku anak di dalam kelas ataukah akademis anak, orang tua tidak merasa terintimidasi oleh saya. Sebab saya adalah guru anak dan kadang-kadang orang tua mengalami kesulitan karena memandang guru sebagai figur otoritas. Kadang-kadang orang tua siswa enggan menghadapi situasi demikian tetapi menurut saya, PPSS berhasil mengubah keadaan itu.

Saya bisa menggunakan PPSS untuk memulai percakapan dengan beberapa orang tua siswa yang tidak merasa nyaman berbicara dengan guru. Lalu, saya bisa mengarahkan fokus diskusi ke bidang-bidang lain, seperti akademik atau perilaku. Kini saya lebih sering berinteraksi dengan orang tua siswa karena filsafat PPSS mulai digeneralkan ke aspek-aspek lain dalam kehidupan sekolah dan kami sebagai sebuah sekolah berupaya lebih keras untuk meningkatkan keterlibatan siswa di ruang kelas dan aktivitas sekolah.

Demikian pula, sebagai salah satu hasil PPSS, orang tua siswa merasa disambut dengan lebih hangat di sekolah anak mereka. Orang tua siswa merasakan lebih banyak perasaan positif tentang sekolah anak mereka, lebih memahami hal-hal yang benar-benar dipelajari anak di sekolah, dan mungkin yang terpenting, berubahnya hubungan dengan guru anak. Melalui PPSS, orang tua siswa mulai melihat guru anak mereka dengan pandangan baru, memandang guru anak sebagai “orang biasa” yang bisa diajak bercakap-cakap, lain dengan figur otoritas yang hanya dapat diajak bicara pada konferensi orang tua-guru. Berikut ini kutipan-kutipan yang menggambarkan tren-tren tersebut:

Kami disambut dengan baik di sekolah. Kami datang ke sekolah dan melihat-lihat sekolah dan ruang-ruang kelas lain sambil melakukan aktivitas. Untuk pertama kalinya, saya berbicara dengan guru sains anak perempuan saya dan melihat ruang kelas sains anak saya untuk pertama kalinya juga. Saya menjadi kenaI aspek-aspek lain dari sekolah anak saya.

Saya jadi tahu lebih banyak tentang jenis sains yang sedang dipelajari anak-anak. Tahu sendiri, bukan, banyak sekali yang dipelajari anakanak sekarang di sekolah. Sulit diketahui dengan tepat apa yang sebenarnya mereka kerjakan. Namun, kini saya merasa paham topik sains yang sedang mereka pelajari berkat kartu-kartu dan acara-acara mereka.

Saya melihat guru-guru anak saya di berbagai acara; saya jadi kenaI mereka lebih dari sekadar guru saja. Saya mulai sering bertemu mereka tidak hanya di pertemuan orang tua-guru saja, yang sebenarnya sangat bermanfaat karena menjadikan interaksi terasa lebih santai. Kini para guru tampak lebih mirip dengan orang biasa di mata saya.

PENUTUP

Pengalaman-pengalaman kami dengan PPSS, tantangan-tantangan juga keberhasilan-keberhasilannya, telah memberikan pengaruh khas bagi tiap-tiap tahun ajaran. Kami belajar banyak tentang hal-hal yang membedakan budaya-budaya sekolah, serta berupaya menyelaraskan dan memadukan upaya-upaya program menjadi budaya sekolah dan struktur yang ada sekarang secara bermakna dan efektif. Tidak mengejutkan, proyek berbasis komunitas seperti PPSS membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun dan upaya berulang-ulang, baru menunjukkan dampaknya. Dengan evolusi pada tiap-tiap acara dan komponen proyek tersebut, kami mulai lebih memahami cara-cara yang efektif untuk melibatkan orang tua siswa, menggiatkan belajar sains di dalam kelas dan di rumah, serta membina hubungan di antara berbagai peserta PPSS, yaitu siswa, guru, orang tua siswa, dan komunitas, termasuk museum.

Selain itu, kami mengidentifikasi model konsepsual yang merangkum pemikiran kami tentang bagaimana sebuah program komunitas seperti PPSS dapat menjembatani gap di antara orang tua siswa dan guru pada sebuah distrik sekolah urban. Dengan menawarkan program-program sama yang dapat diikuti oleh semua pihak orang tua, anak-anak, dan guru-serta dengan menawarkan cara-cara ramah dan menyenangkan selagi orang tua dan anak-anak untuk ikut serta dalam tugas sekolah bersama-sama, kami telah menyiapkan pengantar ke dalam pelajaran sains dan menanamkan cara-cara berpikir yang baru tentang orang tua siswa dan sekolah. Artinya, kami berhasil menciptakan ruang dan modal bagi orang tua siswa-banyak dari mereka memiliki minat dan tingkat keterampilan berbeda-beda untuk mulai aktif melibatkan diri ke dalam pendidikan formal anak-anak mereka. Selain itu, dalam menanamkan cara-cara baru pelibatan orang tua siswa, kami mulai meluaskan gagasan-gagasan guru tentang upaya-upaya untuk melibatkan orang tua siswa. MelaIui PPSS, sains telah mulai menjembatani gap belajar di antara rumah dan sekolah.

Leave a Reply

Close Menu