KIAMAT DALAM PERSPEKTIF SAINS

KIAMAT DALAM PERSPEKTIF SAINS

Serial Quran dan Sains

Salah satu pilar dasar Islam adalah keyakinan adanya kiamat, yang dalam Alquran dan hadis sering disebut dengan Hari Akhir. Penyebutan ini mengisyaratkan bahwa kiamat terkait erat dengan saat-saat terakhir alam semesta dan kehidupan makhluk. Kiamat adalah sebuah fenomena logis dari keberadaan semua yang ada di jagat raya. Dalam Alquran dan hadis, penjelasan tentang kiamat atau hari akhir sering dikaitkan dengan keimanan kepada Yang Mahakuasa.

Allah berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ۝

Dan diantara manusia ada yang berkata,Kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 8)

Rasulullah bersabda,

Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia memuliakan tamunya. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap Hari Akhir merupakan hal fundamental dalam Islam. Allah adalah asal dan sumber dari semua yang ada. Keyakinan terhadap keberadaan-Nya merupakan ajaran pokok. Mengaitkan keduanya mengisyaratkan betapa pentingnya keyakinan akan hari kiamat dalam kerangka memperteguh keimanan dan keislaman.

PENGERTIAN KIAMAT

Etimologi kiamat terserap dari kosakata bahasa Arab, qāma yaqūmu – qiyāman, yang berarti berdiri, berhenti, atau berada di tengah. Kiamat (al-qiyāmah) diartikan sebagai kebangkitan dari kematian, yaitu dihidupkannya manusia pascakematian. Hari kiamat (yaumul qiyāmah) berarti hari atau saat terjadinya kebangkitan (manusia) dari kubur.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kiamat diartikan sebagai: (1) hari kebangkitan setelah mati (orang yang telah meninggal dihidupkan kembali untuk diadili perbuatannya); (2) hari akhir zaman (dunia seisinya rusak binasa dan lenyap); (3) celaka sekali , bencana besar, rusak binasa; (4) berakhir dan tidak muncul lagi. Sedang dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan (Save M. Dagun, 1977), kiamat diartikan keadaan makhluk dan alam semesta ketika berakhirnya kehidupan mereka di dunia.

Dari pengertian ini, ada dua hal pokok terkait makna kiamat, yaitu: Pertama, kiamat merupakan kebangkitan manusia dari kematian atau dari kuburnya. Maknanya, pada hari itu semua manusia dibangkitkan dari kubur, tempat peristirahatan setelah kematiannya. Selanjutnya, mereka diadili dan diminta pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di dunia. Yang banyak kebaikannya akan mendapat ganjaran kenikmatan, dan yang sebaliknya akan mendapat hukuman. Allah berfirman,

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ۝

Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (Alquran, Surah AI-Qāri‘ah /101: 6-9)

Kedua, kiamat adalah keadaan akhir zaman. Kiamat merupakan akhir dari alam semesta dan kehidupan semua makhluk. Artinya saat kiamat tiba, seluruh jagat raya beserta isinya, seperti planet, bintang, langit, bumi, manusia, dan semua yang ada, hancur binasa. Kehidupan makhluk pun tidak ada lagi. Ini merupakan bencana besar bagi alam raya dan yang ada di dalamnya. Seluruh kehidupan yang ada menjadi musnah karena hancurnya dunia dan isinya. Allah berfirman,

إِذَا السَّمَاءُ انفَطَرَتْ۝ وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انتَثَرَتْ۝ وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ۝ وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ۝

Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar. (Alquran, Surah aI-lnfiṭār/82: 1-4)

Dari dua pengertian ini, bisa disusun Pengenalan Umum tentang Kiamat 9 penjelasan kronologis sebagai berikut.

Kiamat merupakan akhir kehidupan dunia. Saat itu semua yang ada di alam raya ini mati, hancur, rusak, dan binasa. Segala isi jagat raya musnah hingga tidak ada kehidupan lagi. Manusia yang merupakan makhluk utama di bumi juga mati dan musnah. Sebuah bencana besar yang menimpa alam raya. Setelah itu, manusia akan dibangkitkan dari kematian. Mereka dihidupkan kembali untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya ketika di dunia.

Terminologi kiamat terdefinisikan dalam berbagai rumusan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan kiamat adalah hari akhir atau saat penghabisan dari hari-hari di dunia. Hari tersebut ditandai dengan tiupan sangkakala (terompet) oleh Malaikat Israfil, kemudian bumi bergoyang mengeluarkan segala isinya, lalu lenyap dan diganti dengan bumi yang lain.

Sayyid Sābiq dalam al-‘Aqā’id al-Islāmiyyah menjelaskan, “Hari kiamat adalah suatu keadaan yang didahului dengan musnahnya alam semesta. Saat itu, seluruh makhluk yang masih hidup akan mati. Bumi pun akan berganti, bukannya bumi dan langit yang ada sekarang.”

Quraish Shihab dalam Perjalanan Menuju Keabadian menulis, “Para ulama menjelaskan bahwa ada dua macam kiamat: kecil dan besar. Kiamat kecil adalah saat kematian orang per orang, sedang kiamat besar adalah yang bermula dari kehancuran alam raya.” Sementara itu Didin Hafidhuddin menyatakan bahwa kiamat diawali dengan tiupan terompet sebagai tanda kehancuran alam.

Dari beberapa rumusan tersebut dapat disimpulkan beberapa hal berikut: (1) hari kiamat merupakan akhir kehidupan dunia; (2) kiamat diawali tiupan sangkakala sebagai tanda permulaan hancurnya alam semesta; (3) kiamat merupakan kehancuran jagat raya yang diawali dengan berguncangnya bumi, hancurnya semua benda angkasa, dan kematian seluruh makhluk hidup yang masih ada, sehingga semua yang ada di dunia musnah; (4) setelah semuanya hancur dan musnah, bumi, langit, dan a. lainnya akan diganti dengan yang baru; dan (5) kiamat merupakan awal kehidupan akhirat yang menggantikan kehidupan dunia.

NAMA-NAMA LAIN KIAMAT

Kiamat merupakan istilah yang populer dalam kosakata bahasa Indonesia dipahami sebagai kehancuran dunia dan isinya. Selain kata ini, ditemukan tidak kurang dari 32 nama yang mengisyaratkan tentang kiamat dalam Alquran. Sebagian nama terkait dengan proses kehancuran alam (kiamat), sebagian lainnya mengisyaratkan pada keadaan manusia sesudah terjadinya kiamat, seperti yaumul-masyar (hari tempat berkumpul), yaumul-jām‘i (hari pengumpulan seluruh makhluk), yaumul-isāb (hari perhitungan), dan yaumul-jazā’ (hari pembalasan).

Secara umum, istilah Alquran yang menunjuk pada makna kiamat dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu: (1) nama yang menggambarkan karakteristiknya; (2) julukan yang menggambarkan keadaan hari dan manusia pada saat itu; dan (3) julukan yang menggambarkan sifat-sifatnya.

Nama yang Menggambarkan Karakteristik Kiamat

Yaumul-Qiyāmah (hari kiamat). AI-Qiyāmah terambil dari qāma yaqūmu – qiyāman, yang berarti berdiri, berhenti, atau bangkit. Kata ini mendapat imbuhan al (alif lam litta‘rif) di awalnya yang berfungsi menjadikannya sesuatu yang definit, dan ta’ marbūṭah pada bagian akhirnya yang berfungsi mengisyaratkan betapa hebat dan sempurnanya peristiwa itu. Kata al-qiyāmah diartikan sebagai peristiwa kebangkitan yang terkait dengan makhluk sesudah kematiannya. Kata ini disebut sebagai marifah (definit, yang sudah diketahui) untuk mengisyaratkan bahwa kebangkitan itu pasti akan terjadi. Istilah ini paling banyak disebut dalam Alquran, sekitar 71 kali. Di antara ayat yang menyebutnya adalah:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ۝

Dan orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu (pegangan)”, dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan)”, padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orangorang yang tidak berilmu, berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 113)

Ayat-ayat yang menyebut yaum al-qiyāmah pada umumnya menjelaskan: (1) kepastian datangnya kiamat; (2) ketetapan akan dilangsungkannya pengadilan bagi setiap manusia; (3) penetapan hukum atas persoalan yang diperselisihkan Yahudi dan Nasrani tentang berita dalam Taurat.

AI-Yaum al-Ākhir (hari terakhir). Istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa hari itu merupakan saat terakhir bagi semua makhluk, terutama manusia, sebelum mereka menuju akhirat yang merupakan alam keabadian. Hari itu merupakan akhir dari segala kehidupan dan akhir dari keberadaan semua makhluk. Dalam Alquran, istilah ini disebut 26 kali yang tersebar di berbagai surah dan terdapat pada beragam ayatnya. Di antara ayat yang menyebutnya adalah:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ۝

Dan di antara manusia ada yang berkata, Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. (AIquran, Surah al-Baqarah/ 2: 8)

Iman kepada Hari Akhir pada ayat ini disebut sesudah iman kepada Allah Yang Maha Esa. Penyebutan seperti ini banyak ditemukan dalam Alquran dan sunah. Ini mengisyaratkan bahwa keyakinan pada Hari Akhir merupakan salah satu akidah pokok dalam Islam karena saat itulah semua janji Allah kepada manusia akan dipenuhi.

As-Sāah (waktu/saat berakhirnya alam semesta). Kata ini bermakna waktu, saat yang akan datang, saat datangnya kehancuran alam semesta. Dalam Alquran, kata ini disebut dalam dua bentuk, nakirah (indefinit/umum) dan marifah (definit/tertentu). Di antara keduanya, yang berarti hari kiamat adalah yang berbentuk ma Penyebutannya yang demikian mengisyaratkan bahwa saat kehancuran alam pasti akan datang dan terjadi. Dalam bentuknya yang marifah, AIquran menyebutnya sebanyak 41 kali, misalnya:

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ ظُهُورِهِمْ ۚ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ۝

Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah sehingga apabila kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu. (AIquran, Surah aI-An‘ām/6: 31)

Ayat tersebut mengisyaratkan adanya orang-orang yang mengingkari datangnya kiamat (as-sāah). Ketika hari itu tiba, mereka ternyata tidak siap sehingga yang muncul adalah penyesalan karena banyak melakukan keburukan dan kemaksiatan. Dengan datangnya kiamat, semua dosa yang telah mereka perbuat harus dipertanggungjawabkan.

AI-Qāriah (suara ketukan yang keras). Kata ini terambil dari qara’a yaqra’u qar’an, yang berarti mengetuk. AI-Qāri‘ah juga bermakna suara keras yang mengetuk dan memekakkan telinga. Hal ini terjadi pada awal kiamat. Saat itu terdengar suara keras yang menggelegar akibat kehancuran yang mahadahsyat. Suara keras yang memekakkan telinga (al-Qāri‘ah ) ini merupakan tanda awal kehancuran alam. AI-Qāri‘ah  menjadi nama salah satu surah dan dalam Alquran disebut sebanyak 4 kali; 3 kali dalam Surah al-Qāri‘ah  dan sekali dalam Surah al-Ḥā Dalam bentuk nakirah, kata ini disebut 1 kali dalam Surah ar-Ra‘d/13: 31.

Allah berfirman,

الْقَارِعَةُ۝ مَا الْقَارِعَةُ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ۝

Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? (Alquran, Surah aIQāri‘ah / 101: 1-3)

Ayat-ayat tersebut mempertanyakan tentang hari kiamat. Ungkapan yang dikemukakan dalam ayat ketiga mengisyaratkan bahwa hari itu merupakan suatu peristiwa besar yang mesti diperhatikan oleh semua manusia. Hal yang sedemikian ini karena pada saat itu seluruh manusia mulai dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya.

AI-Ḥāqqah (yang pasti terjadi).  Kata ini terambil dari aqqa-yauqqu/yaiqquaqqan, yang benar atau pasti. Hari kiamat disebut al-ḥāqqah karena pasti terjadi, atau benar akan datang. Meski pasti dan benar akan terjadi, tidak ada satu manusia pun yang tahu kapan dan bagaimana kejadiannya. Itu karena kiamat merupakan hal gaib yang hanya diketahui oleh Allah saja. Dalam Alquran, kata al-ḥāqqah disebut sebanyak 3 kali, pada Surah al-Ḥāqqah/691-3.

الْحَاقَّةُ۝ مَا الْحَاقَّةُ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ۝

Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? (Alquran, Surah al-Ḥāqqah/69: 1-3)

Ayat di atas berbicara tentang hari kiamat yang diingkari dan didustakan oleh kaum Samud dan ‘Ad. Karenanya, pesan pertanyaan ayat ketiga mengisyaratkan betapa hari itu merupakan peristiwa besar yang harus diperhatikan oleh manusia. Peristiwa ketika mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukannya.

AI-Wāqi‘ah (peristiwa hebat). Kata ini terambil dari wāqi‘ (ism fāil) yang berasal dari waqaa-yaqau, yang terjadi. Kata ini kemudian diberi awalan al (littarif) untuk menjadikannya definit (sesuatu yang diketahui) dan akhiran ta’ marbūṭah sebagai isyarat tentang kehebatan dan kesempurnaan peristiwa tersebut. Karenanya, al-wāqi‘ah mesti diartikan peristiwa mahahebat yang tidak tertandingi keadaannya. Kata ini berbentuk ma’rifah, meski disebut di awal surah dan belum diungkap sebelumnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa kiamat merupakan sebuah peristiwa yang pasti terjadi. Dalam Alquran, kata al-wāqi‘ah disebut sebanyak 2 kali, yaitu dalam Surah al-Wāqi‘ah/56: 1 dan al-Ḥāqqah/69: 15.

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ۝لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ۝

Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal). (Alquran, Surah al-Wāqi‘ah/56: 1-2)

Ayat ini menjelaskan bahwa terjadinya kiamat tidak dapat didustakan atau diingkari siapa pun. Pesannya ditujukan bagi siapa pun yang ingkar dan berharap tidak mendapat balasan atas hal buruk yang dikerjakan di dunia.

AI-Gāsyiyah (malapetaka yang menyelimuti perasaan manusia). Kiamat disebut dengan istilah ini karena kekacauan yang melanda manusia saat itu hingga mereka tidak dapat memikirkan hal lainnya. AI-Gāsyiyah terambil dari gasyiya (ism fā‘il) yang berasal dari gasyiya yagsyā, yang menutupi atau me Diberi awalan al dan akhiran ta’ marbūṭah  untuk menunjuk makna sebagaimana dijelaskan pada kata al- wāqi‘ah. Karenanya, al-gāsyiyah mesti diartikan malapetaka hebat yang menyelimuti perasaan manusia sehingga mereka sangat ketakutan. Kata ini berbentuk marifah, meski disebut di awal surah dan belum diungkap sebelumnya. Hal ini mengisyaratkan sebuah peristiwa yang pasti terjadi.  Dalam Alquran, kata ini, baik dalam bentuk kata kerja atau kata jadiannya yang lain disebut sebanyak 26 kali. Namun, kata al-gāsyiyah sendiri hanya disebut 2 kali, yaitu dalam Surah al-Gāsyiyah/88: 1 dan Surah Yūsuf/12: 108.

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ۝وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ۝

Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari kiamat)? Pada saat itu banyak wajah yang tertunduk terhina. (Alquran, Surah aI-Gāsyiyah/ 88: 1-2)

Ayat ini menerangkan bahwa kiamat diawali dengan kehancuran alam semesta. Fenomena itu merupakan malapetaka besar bagi siapa pun, sehingga wajah manusia tertunduk karena takut dan merasa hina. Itulah balasan bagi orang-orang yang mengingkari ajaran-ajaran Allah.

AṢākhkhah (bunyi gelegar yang keras sekali). Kiamat disebut juga dengan nama ini karena teriakan dan gelegar suara yang timbul saat itu sangat memekakkan telinga hingga hampir-hampir membuat tuli. Kata ini berasal dari akhkhayaukhkhuakhkhan, bunyi benturan besi dengan besi yang keras sekali, bencana atau malapetaka yang sangat besar, juga berarti kiamat. Kata aṢākhkhah hanya disebut satu kali dalam Alquran, yaitu dalam Surah ‘Abasa/80: 33-37.

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ۝ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ۝

Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (Alquran, Surah ‘Abasa/80: 33-37)

Ayat ini menjelaskan bahwa suara sangat keras dari tiupan sangkakala malaikat Israfil yang kedua merupakan tanda datangnya hari kiamat (hancurnya alam semesta). Saat suara itu terdengar, semua orang akan sibuk dengan diri mereka sendiri, melupakan yang lain: anak, istri, orang tua, dan lainnya. Mereka hanya memperhatikan nasib atau keadaan masing-masing yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sejalan dengan datangnya hari kiamat.

Yaumul-Ba (hari kebangkitan manusia dari kubur). Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ۝

Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu Iihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. (AIquran, Surah al-ajj/22: 5)

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَىٰ يَوْمِ الْبَعْثِ ۖ فَهَٰذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَٰكِنَّكُمْ كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ۝

 Dan orang-orang yang diberi ilmu dan keimanan berkata (kepada orang-orang kafir), “Sungguh kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari kebangkitan. Maka inilah hari kebangkitan itu, tetapi (dahulu) kamu tidak meyakini(nya).” (AIquran, Surah Ar-Rūm/30: 56)

Yaumul-Khurūj: hari dikeluarkannya manusia dari kubur menuju tempat berkumpul (al-Masyar) ketika sangkakala kedua ditiup Malaikat Israfil. Allah berfirman,

يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ۝

 (Yaitu) pada hari (ketika) mereka mendengar suara dahsyat dengan sebenarnya. Itulah hari keluar (dari kubur). (Alquran, Surah Qāf/50: 42)

Yaumul-Fal: hari ketika Allah memutuskan seluruh persoalan yang telah dilakukan dan dipertentangkan manusia.

هَٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنتُم بِهِ تُكَذِّبُونَ۝

 Inilah hari keputusan yang dahulu kamu dustakan. (Alquran, Surah Aaffāt/37: 21)

هَٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ ۖ جَمَعْنَاكُمْ وَالْأَوَّلِينَ۝

Inilah hari keputusan; (pada hari ini) Kami kumpulkan kamu dan orang-orang terdahu/u. (Alquran, Surah al-Mursalāt/77: 38)

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا ۝

 Sungguh, hari keputusan adalah suatu waktu yangtelah ditetapkan (Alquran, Surah an-Nabā’/78: 17)

AṬāmmah al-Kubrā: hari yang merupakan malapetaka sangat besar bagi orang kafir dan pendosa.

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَىٰ۝

Maka apabila malapetaka besar (hari kiamat) telah datang. (Alquran, Surah an-Nāziāt/79: 34)

Yaumul-asrah (hari penyesalan). Pada hari itu manusia yang bersalah merasakan penyesalan yang amat dalam.

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ۝

Dan berilah mereka peringatan (Muhammad) tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman. (Alquran, Surah Maryam/19: 39)

Yaumulisāb (hari perhitungan). Pada hari itu semua amal manusia akan dihisab dengan teliti dan diadili dengan seadil-adilnya.

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ ۝

 (Allah berfirman), “Wahai Daud! sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Alquran, Surah Ṣād/38: 26)

وَقَالَ مُوسَىٰ إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَّا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ ۝

Dan (Musa) berkata, Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan.” (Alquran, Surah Gafir/40: 27)

Yaumu-Wa‘īd (hari ancaman). Pada hari itu, Allah mengancam mereka yang kafir dengan siksa.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ ۝

Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan. (Alquran, Surah Qāf/50: 20)

YaumulĀzifah (hari yang dekat). Hari kiamat telah dekat. Sesuatu yang bakal terjadi di masa yang akan datang bisa dibilang dekat karena kepastian tentang keterjadiannya.

وَأَنذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ۝

Dan berilah mereka peringatan akan hari yang semakin dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan karena menahan kesedihan. Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolong yang diterima (pertolongannya). (Alquran, Surah Gafir/40: 18)

Yaumul-Jam‘ (hari berkumpul). Pada hari itu, semua manusia akan dikumpulkan di padang Mahsyar untuk ditimbang amalnya dan ditentukan nasibnya, masuk surga atau neraka.

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ۝

Dan demikianlah Kami wahyukan Alquran kepadamu dalam bahasa Arab, agar engkau memberi peringatan kepada penduduk ibukota (Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak diragukan adanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. (Alquran, Surah asy-Syūrā/42 : 7)

Yaumut-Talāq (hari pertemuan). Pada hari itu, semua manusia, kafir dan mukmin, yang zalim dan dizalimi akan bertemu untuk diadili di hadapan Yang Mahaadil.

رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ ۝

(Dialah) Yang Mahatinggi derajat-Nya, yang memiliki ‘Arsy, yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat). (Alquran, Surah Gafir/40 : 15)

Yaumut-Tanād (hari saling memanggil). Pada hari itu sebagian manusia memanggil yang lain untuk meminta pertolongan karena dahsyatnya kejadian saat itu.

وَيَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ۝

Dan wahai kaumku, sesungguhnya aku benar-benar khawatir terhadapmu akan (siksaan) hari saling memanggil. (Alquran, Surah Gafir/40: 32)

Yaumut-Tagābun (hari kerugian). Pada hari itu ditampakkan kepada orang kafir kesalahan mereka, kesalahan karena menjual (melepaskan) kebenaran yang telah sampai kepadanya dengan kekafiran. Mereka pun akhirnya merasa rugi.

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ۝

(Ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan kamu pada hari berhimpun, itulah hari pengungkapan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan niscaya Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (Alquran, Surah At-Tagābun /64: 9)

 

Julukan yang Menggambarkan Keadaan Hari dan Manusia pada saat Kiamat

Yaum ‘Asīr (hari yang serba sulit). Saat itu manusia menghadapi kesulitan yang sangat.

فَذَٰلِكَ يَوْمَئِذٍ يَوْمٌ عَسِيرٌ۝

Maka itulah hari yang serba sulit. (Alquran, Surah aIMuddaṡṡir/ 74: 9)

Yaum ‘Aẓīm (hari yang agung). Peristiwa yang terjadi pada hari itu benar-benar dahsyat hingga semua mata terbelalak dan hati bergejolak. Semua takut akan nasibnya, kecuali yang bertakwa kepada Allah.

أَلَا يَظُنُّ أُولَٰئِكَ أَنَّهُم مَّبْعُوثُونَ۝لِيَوْمٍ عَظِيمٍ۝ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ۝

Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam. (Alquran, Surah aI-Muaffifin/ 83: 4-6)

Yaum Masyhūd (hari yang dipersaksikan). Saat itu merupakan hari yang sangat istimewa, berbeda dengan lainnya. Hari itu manusia akan dikumpulkan dan semuanya akan menjadi saksi akan apa yang telah dilakukan di dunia. Allah berfirman,

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ۝

Sesungguhnya pada yang demikian pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. Itulah ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab) dan itulah hari yang disaksi (oleh semua makhluk). (Alquran, Surah Hūd/11: 103)

Yaum Abūs Qamarī Pada hari itu orang kafir bermuka masam dan penuh kesulitan. Allah berfirman:

إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ۝

Sungguh kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwaja masam penuh kesulitan. (Alquran, Surah aI-lnsan/76: 10)

Yaum Aqim (hari yang mandu ). Kiamat disebut aqim karena tidak ada lagi hari yang mengiringinya, berbeda dengan kondisi di dunia; ada masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Hari selalu berganti sesuai perjalanan waktu, berbeda dengan kiama Sejak itu, tidak ada lagi hari baru. Itulah hari terakhir di dunia. Allah berfirman:

وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ۝

Dan orang-orang kafir itu senantiasa ragu mengenai hal itu (Alquran), hingga saat (kematiannya) datang kepada mereka dengan tiba-tiba atau azab hari kiamat yang datang kepada mereka. (Alquran, Surah aI-ajj/22: 55)

 

Yaumuadr (hari bertolak). Dikatakan demikian karena manusia pada saat itu keluar dari tempat penimbangan amal mereka untuk mengetahui hasil akhirnya atau mereka keluar dari kubur masing-masing dalam kondisi yang beragam, berpencar kesana-kemari.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ۝

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompokkelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. (Alquran, Surah az-Zalzalah/99: 6)

YaumulJidiil (hari berbantah). Saat itu semua manusia akan membela diri dengan membantah semua dakwaan yang ditujukan kepadanya.

يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ تُجَادِلُ عَن نَّفْسِهَا وَتُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ۝

(ingatlah) pada hari (ketika) setiap orang datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi setiap orang diberi (balasan) penuh sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan). (Alquran, Surah An-NaI/16: 111)

Yaumul-Ma‘āb (hari kembali). Saat itu semua manusia dikembalikan kepada Allah, Sang Pencipta.

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ۝

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (Alquran, Surah ar-Rad/13: 29)

Yaumul-Ar, hari ketika amal manusia diperlihatkan kepada mereka.

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ۝

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah). (Alquran, Surah al-Ḥāqqah/69: 18)

Yaumul-Khāfiah ar-Rafī‘ah, hari ketika manusia ada yang rendah martabatnya (tidak taat kepada Allah, seperti orang kafir dan pelaku dosa besar) dan yang tinggi martabatnya (taat kepada Allah). Allah berfirman,

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ۝ لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ۝ خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ۝

Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (Alquran, Surah aI-Wāqiah/56: 1-3)

Yaumul-Qia hari ketika manusia dan bahkan binatang akan dituntut balik oleh mereka yang dianiaya dan dizalimi.

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ۝

Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat maka tidak seorang pun dirugikan walaupun sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah kami yang membuat perhitungan. (Alquran, Surah aI-Anbiyā’/21: 47)

Yaumul-Jazā’ (hari pembalasan). Allah berfirman,

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ۝

Dan takutlah kamu pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima, bantuan tidak berguna baginya, dan mereka tidak akan ditolong. (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 123)

لِّيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا۝

Agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima tobat mereka. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Alquran, Surah aI-Azāb/33: 24)

Yaumun-nafkhah, hari ditiupnya sangkakala.

يَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا۝

(yaitu) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong bondong. (Alquran, Surah An-Nabā’/78: 18)

Yaumuz-Zalzalah, hari berguncangnya bumi.

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا۝ وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا۝

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. (Alquran, Surah Az-Zalzalah/99: 1-2)

Yaumur-Rājifah, hari yang mengguncangkan alam semesta. Allah berfirman

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ۝

(Sungguh kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam. (Alquran, Surah An-Nāzi’āt/79: 6)

Yaumun-Niiqur, hari di tiupnya sangkakala.

فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ۝

Maka apabila sangkakala ditiup (Alquran, Surah al-Mudaṡṡir/74: 8)

Yaumut-Tafarruq, hari perpecahan

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَتَفَرَّقُونَ۝

Dan pada hari (ketika) terjadi Kiamat, pada hari itu manusia terpecah-pecah (dalam kelompok). (Alquran, Surah Ar-Rūm/30: 14).

Yaumuad, hari perpisahan.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ الْقَيِّمِ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ ۖ يَوْمَئِذٍ يَصَّدَّعُونَ۝

Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (kiamat) yang tidak dapat ditolak. Pada hari itu mereka terpisah-pisah. (Alquran, Surah Ar-Rūm/30: 43)

Yaumul-Baarah, hari ketika manusia berserakan kesana-kemari karena kedahsyatan peristiwa tersebut.

أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ۝

Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan. (Alquran, Surah AI-‘Adiyat/100: 9)

Yaumun-Nadāmah, hari penyesalan. Pada hari itu semua orang menyesali perbuatan buruk yang telah mereka lakukan.

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الْأَرْضِ لَافْتَدَتْ بِهِ ۗ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ۝

Dan kalau setiap orang yang zalim itu (mempunyai) segala yang ada di bumi, tentu dia menebus dirinya dengan itu dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak dizalimi. (Alquran, Surah Yūnus/10: 54)

Yaumul-Firār, hari ketika manusia lari tunggang langgang karena ketakutan yang sangat.

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ۝ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ۝

Pada hari itu manusia lari dari saudaranya dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (Alquran, Surah ‘Abasa/80: 34-37)

 

Julukan yang menggambarkan sifat-sifat kiamat

Hari ketika semua rahasia akan diperlihatkan di hadapan manusia.

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ۝

Pada hari ditampakkan segala rahasia. (Alquran, Surah aṬāriq/86: 9)

Hari ketika setiap jiwa tidak bisa mengatasnamakan dan apalagi menolong jiwa lainnya dari dosa-dosanya.

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ۝

(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (Alquran, Surah aI-Infiṭār/82: 19)

Hari ketika orang-orang kafir diseret ke neraka.

يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا۝

Pada hari (ketika) itu mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya (Alquran, Surah aṬūr/52: 13)

Hari ketika semua mata manusia terbelalak

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ۝

Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (Alquran, Surah lbrāhīm/14: 42)

Hari ketika pelaku kezaliman tidak akan diterima permintaan maafnya.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ ۖ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ۝

(Yaitu) hari ketika permintaan maat tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk (Alquran, Surah Gāfir/40: 52)

Hari ketika manusia tidak bisa berbicara karena ketakutannya.

هَٰذَا يَوْمُ لَا يَنطِقُونَ۝ وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ۝

Inilah hari, saat mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaatkan. (Alquran, Surah aI-Mursalāt/77: 35-36)

Hari ketika harta benda dan anak tidak bermanfaat untuk menebus dosa.

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ۝ يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ۝

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Alquran, Surah asy-Syu‘arā’/ 26: 87-89)

Hari ketika manusia tidak bisa menyembunyikan diri dari Allah tentang kejadian apa pun.

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا۝

Pada hari itu, orang yang kafir dan orang yang mendurhakai Rasul (Muhammad) berharap sekiranya mereka diratakan dengan tanah (dikubur atau hancur luluh menjadi tanah), padahal mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian apa pun dari Allah. (Alquran, Surah an-Nisā’/4: 42)

Hari ketika tidak ada tempat kembali kecuali kepada Allah, ketika manusia terpecah-belah.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ الْقَيِّمِ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ ۖ يَوْمَئِذٍ يَصَّدَّعُونَ۝

Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (kiamat) yang tidak dapat ditolak. Pada hari itu mereka terpisahpisah. (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 43)

Hari ketika tidak ada lagi jual beli, teman-teman dekat, dan pertolongan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ۝

Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Orang-orang kafir itulah orang yang zalim. (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 254)

Hari yang tidak ada lagi keraguan tentangnya.

فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ۝

Bagaimana jika (nanti) mereka Kami kumpulkan pada hari (kiamat) yang tidak diragukan terjadinya dan kepada setiap jiwa diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan mereka tidak dizalimi (dirugikan)? (Alquran, Surah Aii ‘Imrān/3: 25)

MACAM-MACAM KIAMAT

Kiamat merupakan peristiwa yang berkaitan dengan kehancuran. Kiamat identik dengan hancurnya alam raya secara total. Lantas bagaimana dengan fenomena kerusakan yang berskala lokal seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang, dan sejenisnya? Apakah yang demikian juga bisa dipahami sebagai kiamat?

Tidak hanya alam dan benda, fenomena kehancuran dalam kiamat juga menimpa manusia. Saat kiamat tiba, semua manusia akan menemui kematiannya. Tidak satu pun dari makhluk ini yang masih tersisa. Lantas, bagaimana dengan fenomena kematian individual, baik karena sakit, kecelakaan, terbunuh dalam perang atau perkelahian, atau yang lainnya? Apakah yang demikian juga bisa dipahami sebagai kiamat?

Sebagian ulama membagi kiamat menjadi dua, yaitu kiamat besar (al-qiyāmah al-kubrā) dan kiamat kecil (al-qiyāmah aṣ-ṣugrā). Menurut Quraish Shihab, kiamat kecil adalah matinya orang per orang, sedang kiamat besar adalah yang bermula dari kehancuran alam raya. Semua benda yang ada di jagat raya ini rusak dan binasa. Tidak ada satu pun, baik di darat, laut, maupun ruang angkasa, yang masih utuh dan terhindar dari kehancuran. Saat itu manusia tidak ada yang selamat. Semua mati, tidak ada yang tertinggal. Tidak ada yang kekal, kecuali Allah semata. Allah berfirman,

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ۝

Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (Alquran, Surah al-Qaa/28: 88)

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ۝

Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. (Alquran, Surah Ar-Ramān/55: 26-27)

Dalam pengertiannya sebagai kiamat besar, kedatangan kiamat adalah niscaya. Saatnya pasti akan tiba dan tidak ada keraguan tentang kedatangannya. Allah berfirman,

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ۝

Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (AIquran, Surah alajj/22: 7)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kiamat (as-sāah) pasti akan terjadi. Saat itu semua yang ada di alam raya akan hancur, rusak, dan binasa. Tidak ada satu pun yang tetap utuh. Manusia juga punah, kematiannya tak terhindarkan. Semua yang hidup dimatikan.

Setelah mati, semua manusia dibangkitkan. Mereka dihidupkan lagi untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya di dunia. Yang berbuat kebaikan akan menerima ganjaran baik dan yang jahat akan menerima hukuman. Sayang, kebanyakan di antara manusia ingkar dan tidak percaya. Allah berfirman,

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ۝

Sesungguhnya hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (AIquran, Surah Gāfir/40: 59)

Para mufassir menjelaskan bahwa keingkaran manusia karena beberapa hal. Sebagian berpendapat bahwa kebangkitan manusia yang telah mati dan hancur setelah kiamat adalah mustahil. Sebagian lainnya ingkar karena takut terhadap balasan yang akan diterima setelah hari kebangkitan. Menurut mereka, kiamat tidak ada sehingga kebangkitan manusia dari kematian juga tidak ada. Jika kebangkitan tidak ada, maka pertanggungjawaban terhadap semua amal di dunia juga tidak ada. Kehidupan dunia berakhir pada kematian dan tidak ada kehidupan lagi setelahnya, demikian keyakinan mereka.

Kiamat kecil (al-qiyāmah augrā) adalah peristiwa kematian manusia secara individual, demikian pendapat para ulama. Ketika seseorang meninggal, saat itu dapat dikatakan bahwa dia telah mengalami kiamat kecil dan semua makhluk hidup pasti akan mengalami kematian. Allah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِۗ۝

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 185)

Sebagian pakar berpendapat bahwa kiamat kecil tidak hanya menimpa manusia, tetapi juga benda-benda di alam raya. Kehancuran yang berskala kecil, seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, dan lainnya, juga termasuk kiamat kecil. Yang demikian itu karena peristiwa itu menimbulkan kerusakan di lokasi kejadian. Kiamat kecil seperti ini adakalanya terjadi karena faktor alamiah yang tidak dapat dihindarkan. Bisa juga terjadi karena perbuatan manusia yang merusak Iingkungan, seperti penggundulan hutan yang berakibat banjir dan longsor. Alquran menjelaskan bahwa sebagian kerusakan alam disebabkan oleh perilaku manusia. Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ۝

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Alquran, Surah ar-Rūm/ 30: 41)

Demikian Alquran menjelaskan kepastian datangnya kiamat, kehancuran alam, baik dalam skala kecil maupun besar. Termasuk tentang kematian manusia, baik individual, masal, bahkan secara keseluruhan tanpa terkecuali. Kematian menyeluruh akibat kehancuran alam raya dalam peristiwa kiamat besar.

KENISCAYAAN KIAMAT

Kehancuran dunia dan alam raya adalah niscaya dan semua orang mempercayainya. Itu memang mesti terjadi, tidak bertentangan dengan logika atau hukum alam yang ada. Semua benda berasal dari tidak ada menjadi ada melalui proses alamiah dan kelak yang ada pasti akan rusak, hancur, punah, dan menjadi tidak ada. Tidak ada yang abadi atau terhindar dari kerusakan.

Dalam Alquran dijelaskan bahwa akhir kehidupan dunia (kiamat) ditandai dengan bunyi sangkakala pertama yang ditiup Malaikat Israfil. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tiupan sangkakala terjadi dua kali: pertama, pertanda hancurnya semua makhluk dan kedua, pertanda dibangkitkannya manusia dari kematian. Alam raya hancur setelah tiupan pertama sangkakala. Allah berfirman,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ۝ وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَ دَكَّةً وَاحِدَةً۝ فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ۝ وَانشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ۝

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh. (Alquran, Surah al-Ḥāqqah/69: 13-16)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kiamat ditandai dengan tiupan terompet yang pertama. Setelah tiupan ini, terjadilah kehancuran alam semesta yang diawali benturan dahsyat gunung-gunung dan bumi. Langit pun terbelah seiring bertubrukannya benda-benda ruang angkasa. Semua hancur hingga tidak ada satu pun yang masih utuh. Mengenai kehancuran benda-benda di alam raya, Allah berfirman,

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ۝ وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ۝ وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ۝ وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ۝ وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ۝ وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ۝

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan (Alquran, Surah at-Takwīr/81: 1-6)

Ayat di atas menjelaskan bahwa semua yang ada di alam mengalami kehancuran. Benda-benda yang ada hancur berantakan, termasuk sistem kerjanya. Tidak ada satu pun yang bertahan hidup, semua rusak dan binasa. Allah berfirman,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ۝

Dan sangkakala pun ditiup maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. (Alquran, Surah Az-Zumar/ 39: 68)

 

Demikian gambaran kiamat atau kehancuran alam semesta. AIquran banyak memberikan ilustrasi, baik dengan ungkapan yang bersifat global maupun rinci. Penjelasan yang panjang, mendalam, dan rinci diperlukan karena sejak awal diwahyukan, bahkan hingga sekarang, masih banyak manusia yang ingkar akan keniscayaan hari kiamat.

Dilain pihak, banyak juga manusia yang percaya akan datangnya kiamat, tetapi mereka lalai. Waktu terjadinya kiamat yang tidak bisa dipastikan menjadikan mereka abai. Perilaku mereka seperti orang yang menganggap kiamat tidak akan terjadi. Dengan penjelasan yang rinci dan mendalam, Alquran hadir sebagai petunjuk dan bagi pengingat mereka yang lalai.

Ketidak percayaan kepada keniscyaan kiamat tidak terlepas dari ketidakpercayaan akan hari kebangkitan dan pertanggungjawaban amal perbuatan. Kebangkitan manusia dari kematian yang telah sekian lama, menurut sebagian orang adalah mustahil. Anggapan ini bermuara pada kesimpulan bahwa kebangkitan itu tidak ada. Dalam Alquran dijelaskan,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ۝ لِّيَجْزِيَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ۝ وَالَّذِينَ سَعَوْا فِي آيَاتِنَا مُعَاجِزِينَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مِّن رِّجْزٍ أَلِيمٌ۝

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari kiamat itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah, baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas (Lau Mafūẓ),” agar Dia (Allah) memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga). Dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu akan memperoleh azab, yaitu azab yang sangat pedih. (Alquran, Surah Saba/34: 3-5)

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang kafir menganggap kiamat tidak ada. Asumsi ini mengemuka disebabkan kekhawatiran terhadap hukuman atas keingkaran dan perbuatan buruk yang selama ini dikerjakan. Untuk itu, ada penegasan bahwa kiamat dan hari kebangkitan itu ada. Semua akan terjadi dalam rangka menegakkan keadilan, yang baik diberi ganjaran dan yang jahat diberi hukuman.

Keyakinan akan kiamat dan hari kebangkitan merupakan ajaran pokok rukun Iman. Alquran dan Sunah menjelaskan bahwa iman kepada Allah merupakan dasar syariat Islam dan itu sering digandengkan dengan keimanan pada hari akhir. Allah berfirman,

يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ۝

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebaikan. Mereka termasuk orang-orang saleh. (Alquran, Surah Āli Imran/3: 114)

 

Ayat ini menempatkan iman kepada hari akhir setelah iman kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan pada hari akhir merupakan hal yang krusial. Penggandengan keduanya adalah logis karena iman kepada Allah menuntut kesiapan melaksanakan perintahNya dan menjauhi larangan-Nya. Pelaksanaan inilah yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhir.

Tidak cukup dengan beriman kepada Allah dan hari akhir, manusia harus mengiringinya dengan perbuatan baik, di antaranya dengan apa yang disabdakan Rasulullah,

Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia selalu berbicara yang baik atau agar ia diam. (Riwayat al-Bukhāri  dan Muslim dari Abū Hurairah)

 

Hadis ini menjelaskan adanya kebaikan yang mesti dilakukan oleh orang yang beriman pada Allah dan hari akhir. Kebaikan yang dimaksud adalah selalu berkata baik, menyenangkan mitra bicara (bukan menyakitkan), serta lembut, tidak kasar dan menjengkelkan. Jika itu tidak dapat dilakukan, sebaiknya diam saja, daripada membuat orang lain marah. Pesan ini dimaksudkan agar pada hari akhir, ketika dibangkitkan setelah dimatikan, manusia mendapat balasan baik sesuai dengan perbuatannya di dunia.

Kiamat memang sebuah keniscayaan. Banyak dalil yang menegaskan, baik yang terkait berakhimya kehidupan dunia karena kehancuran alam semesta, maupun tentang kehidupan kedua setelah manusia dibangkitkan dari kematiannya, termasuk juga penegasan tentang penegakan keadilan. Dalil-dalil itu menunjukkan bahwa semua orang pasti akan mendapatkan keadilan di hari akhir kelak sesuai dengan perbuatannya di dunia. Lalu, kapan kiamat akan terjadi? Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي أَنزَلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَالْمِيزَانَ ۗ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ قَرِيبٌ۝

Allah yang menurunkan Kitab (Alquran) dengan (membawa) kebenaran dan neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat? (Alquran, Surah asy-Syūrā/42: 17).

 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah-Iah yang menurunkan Kitab. Allah Maha benar dan semua yang berasal dari-Nya pasti benar, termasuk pesan Alquran. Ayat di atas menegaskan bahwa keadilan pasti ditegakkan. Bila ini tidak terjadi di dunia maka pasti ada saat lain untuk mewujudkannya. Saat lain itu adalah kehidupan lain setelah dunia, yaitu setelah kiamat. Lalu, kapan kiamat akan datang? Allah hanya menegaskan bahwa kiamat sudah dekat. Dia tidak menjelaskan kapan tepatnya kiamat tiba. Hanya Dia yang tahu. Kepastian terjadinya kiamat sengaja dirahasiakan agar manusia selalu bersiap setiap saat. Pada ayat lain dijelaskan,

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا۝

Manusia bertanya kepadamu (Muammad) tentang hari kiamat. Katakanlah, Ilmu tentang hari kiamat itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah engkau, boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya. (AIquran, Surah al-Azāb/33: 63)

Ayat ini menjelaskan keingintahuan manusia tentang waktu terjadinya kiamat. Dijelaskan bahwa hanya Allah yangtahu kepastiannya, bukan tidak mungkin kiamat sudah dekat. Karenanya, manusia harus bersiap untuk menyambut kedatangannya dengan selalu berbuat baik.

Demikian informasi Alquran tentang keniscayaan kiamat dan kapan datangnya. Sebuah penjelasan, penegasan, sekaligus pengingat bagi mereka yang lalai dan abai. Harapannya, manusia segera menyadari perbuatannya dan mau memperbaiki kualitasnya, karena hari kebangkitan pasti akan tiba. Berikut beberapa ayat yang mengindikasikan keniscayaan hari kebangkitan.

أَفَمَن كَانَ مُؤْمِنًا كَمَن كَانَ فَاسِقًا ۚ لَّا يَسْتَوُونَ۝

Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama. (Alquran, Surah as-Sajdah/32: 18)

أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ۝

Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat? (Alquran, Surah ad/38: 28)

أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ كَمَن زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُم۝

Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang dijadikan terasa indah baginya perbuatan buruknya itu dan mengikuti keinginannya? (Alquran, Surah Muammad/47: 14)

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ۝

Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Alquran, Surah aI-Mu’minūn/23: 115)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ۝ مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ۝

Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Alquran, Surah adDukhān/ 44: 38-39)

Kelima ayat tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut. Jika semua orang yang hidup di dunia pada akhirnya sama, kafir maupun mukmin, baik maupun jahat, tidak ada perhitungan sama sekali, berarti kehidupan ini tidak ada artinya. Sang Pencipta manusia tidak punya tujuan dan target dengan ciptaanNya. Ajaran agama yang intinya berupa perintah kepada yang baik dan benar, serta larangan kepada yang buruk dan batil, juga tidak ada gunanya sama sekali. Kalau begitu, di manakah letak keadilan? Bukankah Allah Mahabijak dengan semua tindakan-Nya, Mahaadil dengan segala hukum ciptaan-Nya. Mustahil jika Allah membiarkan manusia begitu saja tanpa aturan. Allah tidak membiarkan mereka membuat aturan sendiri untuk kehidupannya. Jika itu yang terjadi maka manusia akan menghadapi kehancurannya.

Pengetahuan manusia bersifat nisbi, sangat terbatas. Manusia tidak akan mampu membuat pedoman kehidupan yang menjangkau seluruh aspek kehidupan, baik rohani maupun jasmani, dunia maupun akhirat, fisik maupun metafisik. Atas sifat ramān dan Raḥīm-Nya, Allah mengutus para rasul guna mengajarkan wahyu dan kitab suci-Nya agar menjadi pedoman kehidupan manusia. Ar-Rāzī dalam tafsirnya mengutip sebuah syair,

Jika setelah mati kita dibiarkan begitu saja maka kematian itu adalah istirahat panjang bagi setiap makhluk. Tetapi setelah mati kita akan dibangkitkan kembali dan kita akan ditanya akan segala sesuatu (yang telah kita perbuat).

Jika tidak ada pembalasan di hari akhir, untuk apa para rasul diutus dan kitab suci diturunkan? Jika tidak ada tujuan, penciptaan alam semesta ini adalah sebuah kesiasiaan. Semua itu jelas tidak benar. Semesta dicipta karena visi dan misi yang jelas agar jin dan manusia taat pada Allah dengan beribadah kepada-Nya. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ۝

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Alquran, Surah ażŻāriyāt/51: 56)

Mereka yang tunduk beribadah kepada Allah akan mendapatkan pahala surga. Sebaliknya, yang tidak mau tunduk akan mendapat siksa neraka.

Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi agar bisa mengatur kehidupan sesuai dengan titah-Nya. Aturan permainan memang perlu diterapkan. Mereka yang salah harus dihukum layaknya yang baik diberi penghargaan. Aturan ini tidak hanya berlaku di dunia saja, yang demikian juga berlaku di akhirat. Manusia bisa terlepas jerat hukum pengadilan dunia, tapi tidak di akhirat kelak. Di sinilah kehidupan manusia di dunia menjadi sarat arti.

DALIL HARI KEBANGKITAN DALAM FENOMENA ALAM

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ۝ ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّهُ يُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَأَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝ وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ۝

Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu, dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun) sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu Iihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah. Yang demikian itu karena sungguh Allah, Dialah yang hak dan sungguh Dialah yang menghidupkan segala yang telah mati, dan sungguh Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dan sungguh (hari) kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (Alquran, Surah aIajj/22: 5-7)

 

Ayat di atas mengajak kita berpikir tentang fenomena alam, tumbuh-tumbuhan. Saat kemarau, tanah kering kerontang, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Begitu hujan turun, muncullah tanda-tanda kehidupan itu. Dari tanah yang tadinya tampak mati perlahan muncul kehidupan, tumbuhan menghampar hijau di muka bumi. Kuasa Allah menjadikannya tumbuh, sebagaimana kuasa-Nya jugalah yang menghidupkan kembali manusia yang telah mati. Allah berfirman,

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ ۖ قَالَ مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ۝ قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ۝ الَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ۝ أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُم ۚ بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ۝ إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ۝ فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ۝

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya. Dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulangbelulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah (Muhammad), Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” Dan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, mampu menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)? Benar, dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui. Sesungguhnya urusanNya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan. (Alquran, Surah Yāsīn/36: 78-83)

Ayat di atas mengajak kita berpikir tentang kekuasaan Allah yang tak berbatas. Tidak hanya menghidupkan tulang-tulang yang sudah remuk dan hancur, Allah juga kuasa menjadikan pohon yang masih hijau bisa mengeluarkan api, padahal keduanya bertentangan. Pohon yang hijau mengandung air dan itu bertentangan dengan sifat api, tetapi keduanya bisa terjadi. Nyatanya, di padang pasir Jazirah Arab memang ada pohon yang bisa memercikkan api, yaitu al-Markh dan al-Afar. Jika digesek-gesek keduanya bisa mengeluarkan api. Boleh jadi itu karena kedua pohon itu mempunyai daya serap sinar matahari yang besar dibanding lainnya. Namun boleh jadi juga keduanya mempunyai kandungan minyak, seperti pohon jarak di Indonesia.

 

DALIL HARI KEBANGKITAN DALAM KEBANGKITAN MAKHLUK YANG TELAH MATI

Berikut ini beberapa kisah tentang makhluk yang dihidupkan kembali setelah mati yang dijelaskan dalam Alquran.

Pertama, kisah seorang Isra’il (Nabi ‘Uzair) yang hidup lagi setelah diwafatkan Allah selama seratus tahun. Makanan yang dibawanya pun segar kembali. Peristiwa ini menjelaskan kekuasaan Allah menghidupkan kembali manusia, hewan, dan makanan seperti semula setelah mati dan rusak sekian lama (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 259).

Kedua, kisah empat burung yang dipotong-potong oleh Nabi Ibrahim. Masing-masing bagian kemudian diletakkan di atas bukit. Ketika Nabi Ibrahim memanggil, potongan burung-burung itu kembali bertaut, lalu terbang menghampirinya (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 260).

Ketiga, kisah Nabi Isa yang membuat replika burung dari tanah lalu hidup. Allah berfirman,

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ۝

Dan sebagai Rasul kepada Bani Isra’il (dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman. (Alquran, Surah Āli Imran/3: 49).

 

Ayat di atas menjelaskan kekuasaan Allah melalui Nabi Isa yang membuat replika burung dari tanah liat. Atas izin-Nya burung itu bisa hidup dan terbang. Ini diperlihatkan pada Bani Isra’il untuk menunjukkan bahwa Allah lah Pencipta hukum kausalitas (sebab-akibat). Karenanya, Dia pun berkuasa mencipta sesuatu tanpa harus terikat pada kausalitas yang ada.

Keempat, kisah ikan dalam perjalanan nabi Musa dan muridnya (Yusya’ bin Nun) ketika mencari Hidir. Ikan tersebut sudah dimasak dan dimasukkan ke dalam wadah sebagai bekal makanan dalam perjalanan. Saat beristirahat di suatu tempat, keduanya tertidur. Tidak disangka ikan yang sudah dimasak itu hidup kembali dan mencari jalan menuju laut. Selepas beristirahat keduanya meneruskan perjalanan mencari Hidir. Di tengah perjalanan, Nabi Musa merasa lapar dan meminta muridnya mengeluarkan bekal makanan. Ternyata, ikan yang sudah dimasak itu sudah tidak ada di tempatnya. Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا۝ فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا۝

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.” Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. (Alquran, Surah aI-Kahf/18: 60-61)

 

Kisah di atas termaktub dalam Surah al-Kahf, surah yang tergolong Makiyah, yang diturunkan sebelum hijrah. Surah yang demikian ini umumnya berkonsentrasi pada tiga hal: keimanan kepada Allah, Nabi Muhammad, dan hari akhir. Itu karena kaum Quraisy Mekah sangat menentang ajaran tauhid, kenabian Muhammad, dan adanya hari akhir. Cerita tentang hidupnya kembali ikan yang mati dan telah dimasak menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk menghidupkan hewan yang telah mati.

 

DALIL HARI KEBANGKITAN DALAM KEJADIAN MANUSIA SENDIRI

Alquran menjelaskan beberapa hal tentang manusia yang hidup lagi setelah mati sebagai berikut.

Pertama, kisah seorang lelaki dari Bani Isra’il (disinyalir sebagai Nabi Uzair) bersama keledainya yang dimatikan Allah selama 100 tahun, lalu dihidupkan kembali (kisah ini sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya)

Kedua, kisah seorang Bani Isra’il yang hidup kembali setelah dipukul dengan salah satu bagian tubuh seekor sapi (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 67-73). Alkisah, seorang lelaki Bani Isra’il mati terbunuh, tidak jelas siapa pembunuhnya. Masyarakat pun bertanya kepada Nabi Musa, siapa pembunuhnya. Nabi Musa memerintahkan mereka untuk mencari seekor sapi untuk disembelih. Karban kemudian dipukul dengan salah satu bagian tubuh sapi. Alhasil, orang itu hidup kembali dan menjelaskan siapa yang telah membunuhnya. Allah mengabadikan kisah tersebut dalam firman-Nya,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ۝ قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ۝ قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ۝ قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ۝ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ۝ وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ۝ فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ۝

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandang(nya).” Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami, dan jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.” Lalu mereka menyembelihnya, dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu. Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang, lalu kamu tuduh-menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, “Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!” Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tandatanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti. (AIquran, Surah al-Baqarah/2: 67-73)

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa kebangkitan manusia yang telah mati pernah terjadi di dunia ini. Peristiwa tersebut disaksikan oleh masyarakat Bani Isra’il dalam sebuah kasus pembunuhan yang pelik. Dari cerita itu tergambar bagaimana dua benda yang sama-sama mati: seorang manusia dan seekor sapi, atas izin Allah, yang satu (sapi) bisa menghidupkan lainnya (orang). Kisah ini menunjukkan bahwa membangkitkan manusia pada hari kiamat adalah perkara mudah bagi Allah. Semoga manusia mau mengambil pelajaran dari hal ini.

Ketiga, kisah Nabi Isa yang bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati. Allah berfirman,

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ۝

Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu jika kamu orang beriman. (Alquran, Surah Āli Imrān/3: 49)

Kemukjizatan-kemukjizatan tersebut menggambarkan tidak berlakunya hukum kausalitas. Imam Abu Zahrah dalam kitabnya, al-Mu’jizah al-Kubrā mengemukakan, “Alquran menjelaskan bahwa hukum kausalitas diyakini betul oleh kaum Yahudi. Mereka mengadopsinya dari filsafat Yunani. Allah ingin menjelaskan bahwa hukum kausalitas adalah perbuatan-Nya sehingga la mampu menghentikan hukum kausalitas tersebut untuk sementara. Kemukjizatan Nabi Isa lainnya, seperti dapat berbicara pada waktu bayi, juga bisa dipahami dalam kerangka yang sama.”

Keempat, kisah Bani Isra’il pada masa nabi Musa yang disambar petir, mati atau pingsan, kemudian dibangkitkan kembali. Allah berfirman,

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ۝ ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّن بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ۝

Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan. Kemudian, Kami membangkitkan kamu setelah kamu mati, agar kamu bersyukur. (AIquran, Surah al-Baqarah/2: 55-56)

 

Kelima, kisah Aṣḥābul Kahf (penghuni goa) yang ditidurkan Allah selama 300 tahun Syamsiyah atau 309 tahun Qamariyah, lalu dibangkitkan kembali. Alkisah, 7 orang pemuda beserta anjing mereka lari dari seorang raja yang zalim. Mereka masuk ke dalam goa. Mereka ditidurkan oleh Allah sekian lama. Setelah itu mereka dibangkitkan lagi. Mereka merasa hanya tidur selama satu atau setengah hari saja. Tidur adalah setengah kematian. Dalam tidur Allah mengambil roh seseorang. Jika Allah menghendaki, roh tersebut akan dikembalikan lagi ke raganya sehingga orang tersebut bisa bangun kembali. Namun jika tidak, roh tersebut akan tercabut dari raganya untuk kembali ke tempatnya semula, di sisi-Nya. Kisah mereka diabadikan dalam Surah al-Kahf/ 18: 9-26. Salah satu potongan ayatnya menegaskan dalil tentang keniscayaan hari akhir,

وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا ۖ رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا۝

Dan demikian (pula) Kami perlihatkan(manusia) dengan mereka agar mereka tahu bahwa janji Allah benar dan bahwa (kedatangan) hari kiamat tidak ada keraguan padanya. (AIquran, Surah al-Kahf/ 18: 21).

 

Surah al-Kahf termasuk Surah Makiyah, yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Medinah. Salah satu ciri khas surah Makiyah adalah kandungannya yang umumnya terkait persoalan akidah, antara lain tentang kebangkitan manusia di hari kiamat.

Keenam, kisah tentang kematian Bani Isra’il dan penghidupannya kembali. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ۝

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (AIquran, Surah aI-Baqarah/2: 243)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan sebuah riwayat tafsir atas ayat tersebut. Intinya, sekelompok Bani Isra’il ada yang mengatakan 4.000, 8.000, 30.000, 40.000 orang, bahkan lebih eksodus dari desa mereka untuk menghindari kematian akibat wabah penyakit yang melanda mereka. Lalu mereka diminta memasuki satu kawasan dan pada saat itulah Allah memerintahkan malaikat-Nya untuk mematikan mereka. Selang berapa lama, lewatlah seseorang yang diriwayatkan sebagai Nabi Hizqial. Melihat tulang-tulang yang berserakan, ia berdoa agar Allah menghidupkan mereka kembali. Mereka pun hidup lagi.

Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bukti kekuasaan Allah untuk menghidupkan manusia yang telah mati terjadi pada masa lalu dan dalam kehidupan dunia ini. Masih ragukah kita akan kekuasaan-Nya untuk menghidupkan manusia yang telah mati di akhirat?

 

DALIL RASIONAL (AQLIYAH) ADANYA HARI KEBANGKITAN

Berikut beberapa penjelasan Alquran betapa keberadaan hari kebangkitan bisa dipahami oleh nalar.

Pertama, mengembalikan sesuatu yang pernah ada lebih mudah daripada menciptakannya untuk pertama kali. Hukum ini tentu berlaku bagi manusia, bukan untuk Allah. Dalam pandangan manusia, jika suatu ciptaan manusia, seperti mobil atau motor rusak maka penciptanya tentu merasa lebih mudah untuk membuat yang kedua. Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ۝

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 27)

Kedua, Alquran menjelaskan bahwa bagi Allah menciptakan sesuatu dan membangkitkannya kembali adalah persoalan yang sama. Tidak ada beda di antara keduanya. Allah berfirman,

مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ۝

Menciptakan dan membangkitkan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja (mudah). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (Alquran, Surah Luqmān/31: 28)

Ketiga, penciptaan langit dengan miliaran benda langit yang jauh lebih besar daripada bumi yang dihuni manusia dan juga penciptaan bumi seisinya, seperti gunung, sungai, flora, dan fauna, jauh lebih besar dan lebih berat daripada penciptaan manusia dalam pandangan manusia (bukan dalam pandangan Allah). Jika Allah mampu mencipta semua itu maka mencipta manusia dan mengembalikannya lagi dalam keadaan semula adalah tindakan yang sangat ringan. Allah berfirman,

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ۝

Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Alquran, Surah Gafir/40: 57)

أَأَنتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ۚ بَنَاهَا۝ رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا۝ وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا۝ وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا۝ أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا۝ وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا۝ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ۝

Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya (gelap guiita), dan menjadikan siangnya (terang benderang). Dan setelah itu bumi Dia hamparkan. Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuhtumbuhannya. Dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan teguh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu. (Alquran, Surah an-Nāzi’āt/79: 27-33)

Ayat di atas mengimbau mereka yang tidak percaya kepada hari kebangkitan untuk berpikir kritis tentang kejadian alam semesta yang demikian dahsyat. Langit demikian besar dan kokoh dengan planet dan tata suryanya. Perjalanan tata surya membentuk pola pergantian malam dan siang. Bumi menghampar luas seakan tak bertepi. Flora dan faunanya hidup karena adanya air yang menumbuhkan pepohonan dan tanaman. Gunung berdiri kekar, menjadikan bumi tahan goncangan. Semua itu jelas mahakarya Sang Pencipta. Manusia diajak berpikir mana yang lebih hebat, penciptaan-penciptaan tersebut atau kembalinya manusia dari alam kubur. Akal yang sehat tentu akan menjawab bahwa membangkitkan manusia dari alam kubur jelas lebih mudah dan lebih ringan daripada menciptakan alam semesta beserta isinya yang demikian pelik dan beragam.

 

TINJAUAN SAINS

Sains menyakini bahwa massa dan energi di alam ini bersifat tetap, tidak berkurang maupun bertambah. Hukum kekekalan massa dan energi menyatakan bahwa massa dan energi hanya bisa berubah wujud, tidak akan muncul dengan sendirinya atau menghilang dengan sendirinya. Perubahan wujud berarti setiap ada kelahiran di satu sisi, pasti diimbangi dengan kematian pada sisi yang lain. Makhluk hidup berproses dari munculnya bentuk kehidupan baru, lalu lahir dan berkembang, dan akhirnya mati. Batu, gunung, sungai, dan lautan juga terus berubah bentuk, cepat atau lambat, tidak ada yang kekal.

Skala hidup makhluk bervariasi. Jasad renik hanya berumur pendek, tetapi mampu berkembang biak secara cepat. Manusia, hewan, dan tumbuhan bisa bertahan hidup berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan beratus tahun. Semuanya diakhiri dengan kematian. Kematian bermakna fungsi-fungsi organ kehidupan semakin melemah dan akhirnya berhenti. Bangkainya lalu berubah wujud menjadi massa dan energi dalam bentuk yang lain. Di jagat raya, galaksi, bintang, planet, komet, asteroid, dan batuan serta debu di antarplanet juga tidak kekal, tetapi skala waktunya jauh lebih panjang daripada skala waktu makhluk hidup.

Bintang-bintang yang dikira tetap sesungguhnya berproses seperti makhluk hidup. Ada proses kelahiran di awan antarbintang (yang disebut dukhān di dalam Alquran), lalu muncul sebagai bintang bercahaya, berkembang menghabiskan bahan bakar reaksi nuklir di dalamnya, dan akhirnya mati. Bintang bermassa kecil (seperti matahari) prosesnya lambat sehingga bisa bertahan selama puluhan miliar tahun lalu mati secara perlahan menjadi bintang kerdil yang dingin. Adapun bintang-bintang bermassa besar akan menghabiskan cadangan energinya secara boros sehingga hanya bertahan beberapa juta tahun dan mengakhiri hidupnya dengan ledakan supernova.

Matahari dan bintang-bintang dalam hidupnya menjalani nasib menelusuri jejak evolusi bintang. Pada waktu melalui jejak evolusi, bintang dan matahari akan mengalami perubahan daya dan suhu permukaannya. Waktu yang dibutuhkan untuk menjalaninya mencapai berjuta hingga bermiliar tahun, tergantung pada besarnya massa bintang. Semakin besar massanya, semakin cepat ia menjalani jejak evolusinya. Matahari kita perlu waktu kira-kira 5 miliar tahun lagi untuk menjalani jejak dari yang sekarang di deret utama menuju masa bintang raksasa merah di mana temperatur permukaannya menurun hingga sekitar 3.500 K. Daya matahari menjelang kematiannya bisa mencapai 1.000 kali lebih kuat daripada sekarang yang berarti radiusnya kira-kira 30 kali radius matahari sekarang. Diameter sudut penampakan bundaran matahari di langit menjadi 16° atau luas bundaran matahari luasnya menjadi 900 kali bundaran matahari yang sekarang. Jika umur matahari saat ini sekitar 5 miliar tahun dan diperkirakan butuh sekitar 5 miliar tahun lagi bagi matahari untuk menuju masa bintang raksasa merah maka umur rata-rata bintang sekecil matahari kurang lebih 10 miliar tahun.

Bagaimana kita melihat bintang berevolusi padahal kala hidupnya jutaan bahkan miliaran tahun? Pada prinsipnya daya dan suhu permukaan bintang bisa ditentukan bila diameter sudut, jarak, dan distribusi energinya diketahui. Dengan cara ini dapat direkontruksi diagram Hertzsprung-Russell (gabungan dua nama astronom Denmark dan AS), atau disingkat diagram H-R, yaitu plot antara daya dengan temperatur permukaan. Dalam diagram ini, kita melihat bagaimana bintang-bintang bertebaran pada diagram tersebut yang menggambarkan keragaman umur bintang. Letak bintang dalam diagram ini mencerminkan fase evolusi bintang. Diagram H-R diperoleh dari pengamatan yang didukung dengan hasil perhitungan fisis-teoritis mengenai evolusi bintang. Dari hasil pengamatan berbagai jenis dan umur bintang yang digambarkan pada diagram H-R serta dukungan perhitungan teoritis, para astronom dapat menentukan umur bintang dan evolusinya sejak kelahiran hingga kematiannya ketika energinya sudah habis. Semua itu menunjukkan bahwa bintang dan segala isi alam semesta ada akhirnya. Semuanya akan berakhir dengan kematian. Alam semesta pun secara keseluruhan akan hancur binasa. Kiamat adalah suatu keniscayaan yang mekanisme fisisnya akan dibahas di bab-bab selanjutnya bersama dengan tafsir ayat-ayat Alquran yang terkait.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Leave a Reply

Close Menu