PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN SAINS MELALUI KEBUN BINATANG, AKUARIUM DAN KEBUN BOTANIKAL

PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN SAINS MELALUI KEBUN BINATANG, AKUARIUM DAN KEBUN BOTANIKAL

Semakin banyak kebun binatang, akuarium, kebun raya botanikal, arboretum, pusat-pusat sains, planetarium, museum, pusat-pusat alam, dan lembaga kaya-sains lainnya yang menawarkan program dan sumberdaya untuk guru, siswa, pengurus, guru pengabdian, pendidik guru, dan orang tua. Segenap lembaga ini, yang kadang disebut lembaga pendidikan sains informal, tidak hanya untuk perjalanan lapangan atau wisatawan. Mereka menawarkan beragam materi dan ide inovatif untuk siswa, keluarga, orang dewasa, dan pendidik. Tulisan ini menilik bagaimana pendidik bisa menggali dan memaksimalkan manfaat yang mereka peroleh dari sumber kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal. Banyak informasi dalam tulisan ini berlaku untuk keluarga dan individu di luar sistem sekolah, meskipun fokusnya adalah pada bagaimana guru dan sekolah bisa dengan paling baik menggunakan sumber ini.

Untuk memahami peluang unik yang tersedia, saya mengawali dengan penjajakan sifat pembelajaran di lembaga-lembaga ini. Selanjutnya, saya akan membahas pendekatan tradisional dan penggunaan kelembagaan untuk menunjang sekolah. Perkembangan terbaru di bidang pemrograman pendidikan, meskipun bersifat perkecualian, akan dicermati. Di bagian akhir, saya menyarankan cara-cara untuk mengambil manfaat dari segenap sumber ini dengan menawarkan sampel rencana pelajaran.

 

PENDIDIKAN SAINS DI LEMBAGA SAINS INFORMAL

Apa itu pendidikan sains informal? Banyak penulis telah menulis artikel yang membahas tentang istilah informal dan formal sebagaimana yang berlaku pada pendidikan dan lembaga pendidikan. Pada 1970-an, museum, kebun binatang, dan lembaga serupa hendak mengidentifikasi diri sebagai tempat belajar sembari membedakan diri dari sekolah dan jenis pembelajaran yang berlangsung di sekolah. Jika sekolah adalah lembaga formal tempat pembelajaran mengikuti struktur formal, maka lembaga sains bisa menyebut diri mereka sebagai lembaga pendidikan sains informal tempat berlangsungnya pembelajaran informal. Semua istilah ini tetap bertahan dewasa ini dalam literatur pendidikan sains. Menjelajahi mereka membantu kita untuk lebih memahami peran semua lembaga ini dalam pendidikan sains seiring kita melihat apa yang membuat setiap latar ini unik dalam hal kesempatan belajar.

 

PEMBELAJARAN DALAM LINGKUNGAN INFORMAL

Istilah informal paling kerap didefinisikan sebagai “apa yang tidak formal”. Dengan nendefinisikan sesuatu sebagai apa yang sebaliknya, kita menyisakan kategori demikian terbuka lebar. Apakah pembelajaran informal mencakup semua pembelajaran di luar sekolah, bahkan menonton Discovery Channel dari sofa saya? Kebanyakan penulis yang menggunakan pendidikan sains informal atau pembelajaran informal merujuk kepada pembelajaran yang terjadi di luar sekolah, seperti di kebun binatang, program seusai-sekolah, dan perpustakaan. Pembelajaran seperti itu berlangsung di sepanjang hidup seseorang; mandiri, sukarela, dan bukan bagian dari kurikulum sekolah; dan sering terjadi di dalam konteks sosial.

Banyak orang yang tertarik untuk belajar di kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal telah memperhatikan adanya kemiripan karakteristik pembelajaran di sana dan di sekolah. Kita bisa mendengar ceramah formal di kebun binatang atau terlibat dalam penelitian mandiri informal di ruang kelas sekolah. Bersama dengan sejumlah pihak, saya berpendapat bahwa kita tidak semestinya menggunakan istilah informal dan formal untuk menyebut pembelajaran. John Falk dan Lynn Dierking menyarankan istilah pembelajaran pilihan bebas sebagai alternatifnya, yang mereka definisikan sebagai bersifat “pilihan-bebas, tidak-berurutan, berlaju-mandiri, dan sukarela” dan terutama didorong oleh kebutuhan intrinsik dan minat unik pelajar” (Falk 2001, 7). Sebagian staf pendidikan di kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal mengakui bahwa program mereka sendiri yang disusun untuk mendukung kurikulum sekolah tidak memenuhi definisi pembelajaran pilihan-bebas, dan dengan masih mencari-cari bentuk.

Terlepas dari peristilahan strategi pengajaran yang lazimnya berlangsung di dalam kelas berbeda dari yang digunakan oleh pengunjung keluarga ke akuarium atau lembaga serupa. Dalam lokakarya bersama para guru tetap dan pengabdian tentang pemanfaatan sumber daya lembaga St. Louis, saya meminta mereka untuk meluangkan waktu satu jam untuk mengamati sebuah kelompok keluarga dan kelompok sekolah di sebuah area pameran, mencatat strategi yang digunakan oleh masing-masing kelompok. Kebanyakan guru mencatat perbedaan dalam interaksi orang dewasa-anak, termasuk siapa yang memutuskan ke mana akan pergi dan apa yang hendak didatangi. Mereka memperhatikan sifat pilihan-bebas pada kelompok keluarga sementara mereka mengikuti minat mereka sendiri dan menghabiskan waktut untuk membahas dan mencoba-coba pajangan pameran. Mereka mencatat sifat terstruktur pada kelompok sekolah, yang sering sekali melibatkan “perburuan pemulung” di mana anak-anak berpindah-pindah dengan cepat dari satu pajangan ke yang lain. Apa strategi pengajaran yang efektif untuk memaksimalkan sumber daya pada lembaga-lembaga ini? Kita akan melihatnya di bawah.

 

CIRI KHAS KEBUN BINATANG, AKUARIUM DAN KEBUN BOTANIKAL

Kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal tergolong khas diantara lingkungan pembelajaran sains informal lantaran hewan dan tumbuhan hidupnya dan penelitian biologi dan pelestariannya. Yang paling bagus dari lembaga-lembaga Ini, para ilmuwan praktik dan para pendidik bekerja berdampingan mempelajari dan melestarikan keanekaragaman hayati dan mengkomunikasikan pentingnya merawat bumi kita.

Kebanyakan kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal memiliki hewan dan tumbuhan hidup yang bisa disentuh atau dipegang anak-anak. Untuk memahami “adaptasi” seoranganak bisa membaca tentang hal itu di dalam buku, membuat contoh adaptasi tanaman dan hewan melalui kegiatan pendidikan, melihat tanaman dan hewan hidup di lembaga sains informal dan mengamati karakteristik terhadap mereka atau belajar tentang adaptasi langsung dalam lingkunag alamiah. pemanfaatan semua strategi ini dalam sebuah unit pembelajaran bisa membuat pembelajarannya lebih kaya dan mungkin bertahan lebih lama. Ketika bertatap muka dengan tikus besar di kebun binatang anak-anak memahami adaptasinya untuk hidup di bawah permukaan tanah liat yang keras dan kering, melihat giginya yang besar, otot rahangnya yang kuat, dan perilaku menggalinya secara langsung menciptakan ingatan yang langgeng tentang adaptasi hewan. Selanjutnya, membaca tentang tikus besar di majalah anak-anak atau membaca tentang adaptasi hewan lain di perpustakaan dan menciptakan hipotetis tanaman atau binatang yang berlaku untuk memperluas dan menciptakan hipotesis tanaman atau binatang yang beradapsi dengan lingkungan, berpadu dengan kunjungan kebun binatang berlaku untuk memperluas dan memperdalam pembelajaran.

Bagaimana kita bisa memaksimalkan pembelajaran dalam latar sekolah dengan sumber daya unik kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal? Kita perlu beralih melampaui pemahaman tradisional tentang kunjungan lapangan tetapi kita bisa mengawalinya dari sana dan mempeluasnya.

 

PENDEKATAN TRADISIONAL TERHADAP PROGRAM PENDIDIKAN

Lembaga pendidikan sains informal telah menjadi situs kunjungan lapangan untuk rombongan sekolah sejak abad kesembilan belas. Namun, melihat daftar tawaran pendidikan dari lembaga-lembaga itu mengungkapkan banyak peluang dan lebih beragam. Guru bisa memesan program terstruktur yang dipimpin oleh staf atau sukarelawan dalam hubungannya dengan kunjungan lapangan mereka, memesan program penjangkauan dimana staf lembaga mendatangi sekolah mereka, atau meminjam sumberdaya yang tersedia melalui program peminjaman. Banyak guru mengatakan mereka tidak tahu sumber daya apa yang tersedia di daerah mereka. Dalam bagian ini, saya akan menyajikan contoh dari beberapa peluang yang lebih tradisional.

 

Kunjungan Lapangan dan Program Terstruktur

Mungkin Anda ingat karyawisata ke kebun binatang ketika menjadi pelajar. Apakah kunjungan wisata itu bagian dari tugas sekolah Anda atau sebagai hadiah atas kerja baik kelas Anda? Apakah Anda ingat hewan apa yang Anda lihat atau apa yang Anda pelajari? Mungkin Anda mengingat karya wisata itu sebagai seorang guru atau orang tua pendamping. Apakah Anda harus membuat semua koneksi dengan kurikulum oleh Anda sendiri, atau adakah program kebun binatang untuk memperkaya kurikulum Anda? Apakah tersedia staf kebun binatang untuk memberikan informasi tentang logistik atau konten sainsnya?

Kebanyakan kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal telah beralih keluar dari praktek membuka pintu kepada rombongan sekolah, sambil hanya mengatakan, “Silakan datang Anda semua”. Untuk membantu guru memanfaatkan sebesar-besarnya kunjungan mereka di dalam karyawisata, kebanyakan institusi menawarkan rencana karyawisata secara online, melalui telepon atau melalui surat. Beberapa lembaga menawarkan kegiatan berpangkal-kurikulum untuk digunakan di dalam kelas sebelum dan sesudah kunjungan. Selama karyawisata, banyak lembaga memungkinkan rombongan sekolah untuk berkunjung sebagaimana halnya rombongan keluarga, dengan kebebasan untuk memilih ke mana dan kapan mereka menghabiskan waktu mereka. Banyak juga yang menyediakan wisata berpemandu untuk rombongan, memberikan kepada siswa kesempatan untuk melihat tumbuhan dan hewan bersama seseorang yang akan menjawab pertanyaan dan menggugah minat mereka. Dengan mendaftarkan diri di kelas dengan program terstruktur yang dirancang untuk memenuhi standar negara bagian atau nasional, bahkan ada lebih banyak lagi kesempatan untuk mengarahkan perhatian siswa kepada tujuan belajar spesifik.

Penelitian atas kunjungan kelompok yang berhasil ke museum, kebun binatang, dan lembaga pendidikan sains informal lainnya menyiratkan adanya beberapa strategi yang efektif (dirangkum oleh Janette Grifin, lihat Grifin 20014) perencanaan yang seksama di pihak pendidik amatlah penting. Keterkaitan dengan kurikulum pengetahuan personal atas lembaga (misalnya mengetahui apa yang dibuka dan apa yang tersedia pada hari kunjungan), dan keterkaitan dengan kehidupan siswa dalam kegiatan prakunjungan, kunjungan dan pasca-kunjungan meningkatkan potensi minat dan pembelajaran jangka-panjang, meragamkan kegiatan selama kunjungan, menambah pengalaman bersentuhan langsung dengan tanaman dan hewan hidup, dan mengurangi penggunaan lembar kerja juga bisa menambah efektivitas kunjungan. Siswa yang telah diarahkan dan tahu apa yang diharapkan selama kunjungan lebih mampu untuk berfokus pada pembelajaran. Sebagai contoh, South Carolina Aquarium menawarkan video pengarahan bagi siswa.

 

Program Penjangkauan

Seiring menurunnya dana untuk bus dalam anggaran sekolah, lembaga mencari cara untuk terus memenuhi kebutuhan sekolah. Banyak yang meluangkan waktu untuk mengambil program, tumbuhan, dan hewan mereka dalam perjalanan. Staf di dalam van biasanya bisa bepergian ke mana saja dalam perjalanan satu hari. Sebagai contoh, Audubon Nature Instittlte di New Orleans memberikan program untuk siswa dalam radius 50 mil melalui BugMobile, AquaVan, atau ZooMobile mereka. Sejumlah program di beberapa lembaga membawa bahan pendidikan dan artefak sungguhan (tulang, kulit hewan, kerang, dll) ke ruang kelas tanpa tumbuhan atau hewan hidup. Seperti pada karya wisata, untuk memaksimalkan potensi pembelajaran pada program penjangkauan, diperlukan penghubungan dengan kurikulum kelas yang berkelanjutan melalui kegiatan pra-dan pasca-program, yang kerap disediakan oleh lembaga.

 

Paket Lengkap

Pendidik yang lebih suka menggunakan sumber mereka sendiri bisa meminjam paket lengkap dari lembaga. Sebagai contoh, Indianapolis Zoo menawarkan Project Elephant Kit; Feathers, Fins and Furry Tales Trunk; Suitcase Survival; and Snake Kit, masing-masing dengan kurikulum dan materi. Sumber demikian menyediakan potensi besar bagi keterkaitan kurikulum eksplisit. Di St. Louis Zoo, kita seringkali dikembangkan menurut topik tertentu mengikuti permintaan spesifik guru.

 

PENDEKATAN INOVATIF TERHADAP PROGRAM PENDIDIKAN

Lembaga pendidikan sains informal telah mulai melakukan lebih banyak untuk mendukung sekolah kurikulum sains selama lebih dari dua puluh lima tahun terakhir ini. Kebanyakan dimulai dengan karya wisata dan program terstruktur di fasilitas mereka. Seiring diperolehnya pengalaman, banyak yang menawarkan beragam jenis program kepada sekolah dan kelompok masyrakat di sekolah atau situs lain (Inverness Research Associates 1996). Dengan peningkatan pengalaman dan staf pendidikan yang lebih banyak, banyak lembaga mulai menawarkan program yang lebih berkesinambungan atau program yang telah canggih secara tekonologi.

 

Program Malam

beberapa kebun binatang menyediakan program malam agar anak-anak dan dewasa bisa melihat binatang malam melakukan perilaku alamiah mereka. Kegiatan pendidikan, permainan dan karya tangan sering menopang perjalanan malam. Bahkan dengan jenis pengalaman tak terlupakan ini, perencanaan seksama yang menghubungkan kegiatan dengan kurikulum dan orientasi (pengarahan) siswa bisa meningkatkan pengalaman belajar.

 

Pembelajaran Jarak Jauh

Di Indianapolis Zoo, guru bisa mendaftarkan kelasnya di program pembelajaran jarak jauh berjadwal atau bahkan menyusun program khusus bersama kebun binatang. Selama siaran, seorang anggota staf kebun binatang menyajikan tayangan langsung hewan di habitat berpangkal-pameran naturalistik dengan kesempatan bagi siswa untuk bertanya kepada staf kebun binatang secara seketika (real time). Klip video, artefak, slide, dan beragam kegiatan digunakan untuk menciptakan pengalaman interaktif lengkap. Dengan kesempatan pembelajaran jarak jauh yang berkembang popularitasnya, siswa yang tidak memiliki akses mudah menuju lembaga kaya-sains masih bisa memanfaatkan sumber mereka.

 

Webcam, Video Streaming, dan Sumber Online lainnya

Dengan akses Internet, Anda bisa menjelajahi berbagai webcam yang sedang berfokus pada hewan-hewan di kebun binatang dan akuarium di berbagai penjuru dunia. Kamera ini menjepret hewan di area pajang naturalistik mereka berbarengan dengan mereka melakukan kegiatan sehari-hari mereka. Gajah, kutub, panda, dan kera muncul di website San Diego Zoo; beluga di Vancouver Aquarium; dan penguin di Montreal Biodome, di antara daftar dan website yang semakin bertambah. Tidak semua hewan terliput oleh pandangan kamera di sepanjang waktu, tidak semua hewan tengah terjaga atau giat ketika siswa menonton, dan tidak semua webcam berfungsi seharian , tetapi menonton hewan di kebun binatang setempat atau di akuarium di sekeliling dunia bisa memicu minat siswa ketika Anda melalui sebuah satuan pelajaran tentang hewan tertentu, habitat tertentu, atau konsep biologi umum.

Jika webcam tidak memenuhi kebutuhan Anda, beberapa situs web menyediakan klip video tayang pendek. Di situs web Honolulu Zoo, anda bisa menonton beraneka macam binatang di dalam kandang mereka atau di vet. Format video yang lebih tradisional juga bisa dibeli dari lembaga, seperti pada Missouri Botanical Garden yang berpusat pada beragam bioma dunia dan berbagai aspek kehidupan tanaman, dan video dari Brookfield Zoo tentang hewan-hewan di berbagai habitat.

Banyak situs web yang memiliki informasi, foto dan informasi tentang tanaman dan hewan. Dan website Missouri Botanical Garden, Anda bisa mengakses informasi tentang tanaman dari berbagai pangkalan data. Untuk website yang lebih ramah-anak, website anak-anak American Zoo and Aquarium Association (AZA), Web Aza, menyediakan informasi mengena “Makhluk-makhluk Menarik” disertai sejumlah fakta dan cerita. Website Houston Zoo memberikan panduan bagi siswa yang lebih besar tentang bagaimana cara meneliti binatang, dengan sejumlah tautan ke sumber lain. Untuk guru banyak situs web-menyodorkan rencana pelajaran dan kurikulum. National Aviary di kurikulum web unik Pittsburgh bisa diakses oleh siswa di seluruh dunia, dengan kegiatan siswa online dan pedoman guru terkait yang sarat dengan informasi latar belakang yang terperinci.

 

PROGRAM GURU PENGABDIAN DAN PENGEMBANGAN PROFESI

Pada 2002 Houston Zoo menerima significant Achievement Award dari American Zoo and Aquarium Association untuk pencapaiannya “Project U.S.A.: Urban Scientists in Action”. Para guru pengabdian di Texas Southern University bekerja sama dengan staf kebun binatang dalam mengembangkan unit kurikulum enam-minggu untuk melengkapi kebun binatang anak-anak mereka. Enam guru dari Houston Independent School District merintis dengan bantuan dari pemagang sekolah menengah atas setempat. Internship bagi guru pengabdian dan tetap sering melibatkan pengembangan kurikulum sebagai komponen pembelajaran, berikut pelaksanaan program.

St. Louis-Zoo mengundang para pengajar dan kelas metode sains mereka ke kebun binatang untuk belajar lebih lanjut tentang sumber komunitas ini. Banyak kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal yang menawarkan pengembangan profesi bagi para guru, seringkali untuk kredit pasca-sarjana peluang berkisar dari lokakarya singkat (dua-jam) sampai ke program panjang selama setahun atau lebih. Beberapa program, seperti -Natural Science Institute di Missouri Botanical Garden, menawarkan pengembangan profesi setahun untuk guru dengan dukungan dan sumber yang kaya dan hidup dalam menggunakan sumber tersebut di dalam kelas.

Banyak lembaga membuat newsletter khusus untuk guru dan menawarkan pratinjau gratis untuk pameran dan program baru. Beberapa memiliki dewan penasihat guru untuk membantu memandu departemen pendidikan mereka. Pusat sumber daya guru tersedia di sejumlah lembaga pendidikan, menyediakan sumber daya yang memberikan kepada pendidik kesempatan untuk meminjam, menyalin, atau membuat materi kelas mereka sendiri, seperti klip video tentang hewan yang dipilih.

 

PROGRAM UNTUK REMAJA

Sejumlah kecil tapi tengah bertumbuh kebun binatang, akuariumdan kebun botanikal bergabung bersama dengan rekan museum mereka dalam menawarkan program untuk remaja, sebuah tren yang diawali dengan program Youth ALIVE! melalui Association of Science-Technology Centers. Dalam program ini, para pemuda terlibat dalam pembelajaran, menjadi sukarelawan, dan kesempatan kerja. Sebagai contoh, di Audubon Zoo di New Orleans, para pemuda bekerja sebagai sukarelawan dalam program Junior Keeper (kelas ketujuh dan kedelapan) dan Zoo Corp (SMA). Di National Aquarium di Baltimore, remaja SMA berpartisipasi dalam Aquarium on Wheels untuk mempelajari sains kelautan dan mengembangkan keterampilan kerja danpresentasi.

Dalam program bagi para pemuda yang akan menjadi orang pertama yang berkuliah di keluarganya, pendaftaran dan persiapan perguruan tinggi menjadi elemen kunci program. Chicago Botanic Garden menawarkan mentoring dan magang bergaji untuk remaja SMA dalam programnya College First dan pengalaman berpangkal-Iapangan untuk siswa sekolah dasar pertengahan untuk memperoleh rasa nyaman, minat, dan pemahaman tentang sains di dalam programnya Science First dan Primero la Ciencia, dengan yang kedua merupakan program untuk pemuda Latino.

 

MENCIPTAKAN PENGALAMAN BELAJAR ANDA SENDIRI

Sesudah kita tahu apa sumber yang ada di Iuar sana, dari mana kita hendak memulai perencanaan untuk sekolah kita? Bagaimana kita bisa mengintegrasikan sumber ini ke dalam kurikulum kita? Dalam bagian ini, saya akan menjelaskan rencana unit, menjelaskan langkah-Iangkah untuk mendesain unit dan menghimpun sumber.

Contoh unit SMP berikut ini didasarkan atas unit kurikulum terpadu yang dikembangkan melalui kolaborasi Schools for Thought (SFT), yang didanai oleh James S. McDonnell Foundation pada 1990-an. Beberapa unit SFT masih diterapkan di Compton-Drew Investigative Learning Center Middle School di St. Louis Science Center (Klein 1998), meskipun versi unit kebun binatang ini digagas para guru dalam fase rintisan dan sekarang tidak digunakan. Rencana di bawah ini tidak mengasumsikan adanya usaha tim, meskipun pendekatan tim merupakan hal yang diidamkan.

 

Merencanakan Unit

Kami memulai perencanaan dengan sejumlah konsep kunci yang harus dipertimbangkan, dengan mengacu kepada standar negara bagian. Dalam sains kami berencana untuk membahas kesatuan dasar yang mendasari keragaman semua makhluk hidup; saling ketergantungan segala yang hidup, dan interaksi makhluk hidup dengan lingkungan mereka. Jika mencakup matematika, kami akan menambahkan pengukuran dan geometri; jika IPS, geografi; dan jika seni komunikasi, keterampilan menulis dan penelitian persuasif.

Setelah melakukan curah gagasan cara-cara untuk memotivasi belajar dan berpikir siswa melalui ide-ide proyek, kami memutuskan untuk meminta siswa mendesain sebuah kebun binatang sebagai proyek akhir mereka. Dengan perencanaan kilas balik dari hasil evaluasi terakhir, kami menggariskan kriteria untuk proyek sebagai landasan bagi rubrik untuk menilai pemahaman siswa atas sejumlah konsep.

  • Enam area pameran menampilkan enam bioma yang berbeda.
  • Masing-masing area pameran memiliki hewan dan tanaman dari satu wilayah geografis tertentu.
  • Setiap kelompok mengajukan gambar berskala kebun binatang mereka dengan label untuk setiap area pameran yang menandakan bioma dan wilayah geografis.
  • Setiap kelompok mengajukan laporan yang mengidentifikasi tanaman dan hewan di setiap area pameran disertai alasan mengapa tanaman dan hewan tersebut yang dipilih.

 

Mencari Sumber Daya

Kami tahu anggaran kami bisa mencukupi untuk karya wisata tetapi kurang untuk yang lainnya. Persinggahan pertama kami dalam mencari sumber adalah Internet. Kami menemukan sejumlah situs yang bermanfaat bagi siswa dan menyusun daftar tautan untuk dibagikan. Di setiap situs web kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal, kami mengusahakan sumber guru dan peta lembaga. Kami tahu kami ingin agar siswa melihat beragam peta. Kami mendapati bahwa beberapa kebun binatang menata pajangannya sesuai habitat seperti Audubon Zoo di New Orleans dengan rawa, pelosok Australia, dan hutan. Yang lain mengatur pajangan menurut jenis hewan seperti area San Diego Zoo untuk rusa dan menjangan, kucing, dan beruang. Kami mencari-cari video dan foto-foto kebun binatang. Tidak satu pun dari video itu yang tampaknya tepat. Kami memerlukan pemikat minat untuk memulai unit dan sesuatu untuk mengarahkan siswa menuju karyawisata. Kami memutuskan untuk membuat video sendiri tentang kebun binatang kami sendiri. Dengan menggunakan kamera video pinjaman dari seorang rekan, kami membuat film bisu tentang beragam pajangan, dengan seksama menyeleksi dari bioma yang berbeda-beda. Untuk membuatnya menarik, kami membuat film tentang kami yang saling bertatapan ke beberapa pajangan untuk melihat apakah siswa memperhatikannya. Sementara di kebun binatang, kami memotret cukup banyak peta untuk setiap kelompok siswa.

 

Alur Waktu

Alur waktu di bawah ini memberikan ringkasan unit dan pada pokoknya bergantung kepada jumlah waktu kelas sains dalam satu minggu tertentu.

 

Minggu 1

  • Video pengantar, diskusi kelas
  • Melontarkan tantangan dan memancing pertanyaan
  • Kelompok bioma diidentifikasi

 

Minggu 2

  • Kelompok bioma melakukan penelitian
  • Kegiatan seluruh kelas:. Penelitian internet
  • Kelompok bioma melaporkan kepada seluruh kelas

 

Minggu3

  • Kegiatan peta kebun binatang
  • Diskusi desain kebun binatang, kelompok kebun binatang diidentifikasi
  • Orientasi karya wisata
  • Kelompok kebun binatang mendesain lembar data

 

Minggu 4

  • Karya wisata kebun binatang
  • Memberikan pembekalan perjalanan wisata bersama seisi kelas
  • Kelompok desain melakukan penelitian

 

Minggu 5

  • Kelompok desain memberikan pemutakhiran kepada seisi kelas
  • Kelompok desain meneruskan penelitian

 

Minggu 6

  • Desain diselesaikan
  • Presentasi oleh kelompok desain
  • Penilaian proyek (penilaian mandiri dan oleh teman)

 

Bercerita

Langkah favorit saya dalam pengembangan kurikulum adalah “bercerita”, sebuah proses yang saya susun di Compton-Drew. Jika kita menuturkan sebuah cerita tentang unit ini setelah ia berakhir, apa yang akan dikatakannya tentang pengalaman siswa? Membayangkan cerita seperti itu sebelum unit dilaksanakan membantu mengidentifikasi rincian yang mungkin tanpannya akan terabaikan. lni terutama berguna ketika bekerja bersama tim guru, memungkinkan setiap orang untuk mengajukan pertanyaan tentang cerita dimaksud untuk memeriksa pemahaman mereka sendiri tentang urutan dan hasil unit yang dikehendaki. Meski bercerita muncul sudah sejak dini dalam proses perencanaan, kiranya pas untuk mengakhiri tulisan ini dengan cerita unit ini.

Ketika siswa tiba di kelas sains, mereka melihat VCR ditata di depan, poster poster tentang beragam area alam memenuhi satu dinding, dan tulisan “Selamat Datang Para Desainer!” terpampang di papan tulis. Nn. Ingals memulai video, tayangan singkat tentang sejumlah adegan dari kebun binatang setempat. Beberapa siswa mengenali kebun binatang itu. Kemudian para siswa melihat Nn. Ingals melambaikan tangan dari balik sebuah pajangan untuk hewan padang rumput. Semua siswa menjadi tambah memperhatikan, bertanya-tanya di mana lagi ia mungkin akan muncul.

Setelah video bisu singkat, Nn. Ingals memimpin diskusi yang membimbing siswa untuk mencatat jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang berada di berbagai pajangan. “Hewan apa yang Anda lihat?” dan “Menurut Anda mengapa mereka mengumpulkan bersama kedua binatang itu?” ia bertanya dengan mengacu kepada pengamatan siswa. “Mengapa tumbuhan itu ada di sana?” “Mengapa ada parit di area pajangan itu?”

Hari berikutnya Nn. Ingals melontarkan tantangan. Mendesain kebun binatang dengan enam area pajang, masing-masing dari kawasan geografis yang berbeda, mewakili bioma yang berbeda. Dia mengulas rubrik untuk menilai proyek siswa, kemudian membimbing siswa untuk memunculkan pertanyaan. “Pertanyaan apakah yang perlu kita jawab sebelum kita mendesain kebun binatang kita?” Semua siswa memiliki kesempatan untuk berbicara, dan Nn. inglas memandu siswa untuk mengelompokkan pertanyaan. Beberapa berfokus pada bioma: “Tanaman dan hewan apa yang ada pada masing-masing bioma?” Beberapa pertanyaan berfokus pada kebun binatang: “Bagaimana kebun binatang didesain?” dan “Apa saja bagian-bagian dari kebun binatang?”

Nn. Ingals menjelaskan bagaimana kelompok akan mengerjakan proyek dengan teknik jigsaw. Untuk bagian pertama unit, kelas akan dibagi menjadi enam kelompok bioma (hutan berdaun gugur, gurun, hutan hujan, padang rumput, tundra, dan taiga). Setiap siswa di dalam kelompok bioma perlu menjadi ahli mengenai biomanya karena pada paruh kedua unit, masing-masing siswa akan menampilkan satu bioma dalam kelompok desain yang baru. Oleh karena di setiap kelompok desain akan memiliki satu (atau dua) siswa dengan keahlian di masing-masing dari enam bioma dan akan benar-benar mendesain kebun binatang.

Setelah pelajaran singkat tentang bioma dan ulasan tentang pertanyaan lontaran-siswa yang berhubungan dengan bioma, Nn. Ingals membimbing siswa untuk mengenali bahwa mereka perlu mengidentifikasi beragam hewan dan tanaman untuk setiap bioma berikut makanan masing-masing hewan, sumber air dan rumahnya. Mereka menyepakati kriteria untuk kelompok bioma yang akan membantu mereka merancang kebun binatang nantinya.

Kelompok memulai penelitian mereka dan mengembangkan pemahaman akan yang mereka hadapi. Nn. Ingals melakukan ulasan seluruh-kelas tentang penelitian Internet, memperkenalkan daftar situs web yang membantu. Selanjutnya, Nn. Ingals meluangkan waktu bersama setiap kelompok untuk memantau kemajuan mereka. Ketika kelompok mendekati akhir penelitian, mereka menyajikan informasi mereka ke seisi kelas untuk mendapatkan tanggapan. Kemudian mereka menyelesaikan pekerjaan mereka, dengan menyertakan tanggapan dari rekan-rekan.

Dengan keahlian tentang bioma, siswa siap untuk mendesain kebun binatang. Pertama, Nn. Ingals menyajikan peta tentang sejumlah kebun binatang untuk kegiatan seisi kelas untuk mengidentifikasi ciri-ciri penting dari kebun binatang, mencermati beragam cara penataan kebun binatang, dan mendiskusikan gambar berskala yang diperlukan untuk proyek mereka.

Terakhir, siswa ditetapkan untuk masuk ke kelompok desain dengan perwakilan dari masing-masing bioma, dan mereka memulai desain mereka. Kemudian pada minggu yang sama, siswa diorientasikan ke kebun binatang setempat, menggunakan peta dan video kebun binatang buatan-guru. Kelompok membuat lembar pengumpulan data mereka sendiri untuk perjalanan ke kebun binatang. Mereka memetakan tahapan dan rencana mereka untuk mengumpulkan informasi. Nn. Ingals mendampingi kelompok secara sendiri-sendiri untuk memastikan agar siswa merencanakan pengumpulan informasi yang tepat.

Pada hari karya wisata, siswa merasa senang dan bersemangat untuk mengumpulkan informasi. Nn. Ingals memiliki salinan lembar data setiap kelompok dan peta untuk dirinya sendiri dan orang tua pendamping. Dengan satu pengawal per kelompok, kelompok diperbolehkan untuk mengikuti tahapan dan rencana yang telah mereka kembangkan. Nn. Ingals tidak masuk ke dalam satu kelompok, melainkan ia menengok masing-masing kelompok pada gugusan pajangan yang mereka kunjungi. Ia memperhatikan kelompok menghimpun informasi yang baik dan meluangkan waktu untuk menonton hewan-hewan. Para kelompok lalu tiba di tempat pertemuan yang telah ditentukan sekitar empat puluh menit sebelum bus tiba. Ini memberikan Nn. Ingals waktu untuk duduk bersama siswa guna mengulas informasi dan pengamatan mereka sebelum meninggalkan lingkungan kebun binatang. Ia memimpin diskusi dengan bertanya, “Bioma apakah yang Anda lihat?” dan “Bagaimana Anda akan menggunakan informasi yang Anda kumpulkan untuk mendesain kebun binatang Anda sendiri?”

Besok harinya di sekolah, kelompok desain mengerjakan proyek mereka. Nn. lngals menghabiskan waktu bersama setiap kelompok, mengarahkan kembali atau menganjurkan sumber tertentu. Ia mencatat bahwa banyak binatang yang sama muncul dalam semua desain kebun binatang, tetapi setiap desain adalah unik. Sementara memantau kemajuan, sesekali ia menyarankan kepada siswa untuk menengok kembali situs web kebun binatang, akuarium dan kebun botanikal dan buku referensi perpustakaan untuk memeriksa rincian. Ketika kelompok mendekati akhir perancangan, mereka menyajikan desain mereka ke seisi kelas. Teman-teman menyumbangkan tanggapan, menanyakan informasi yang kurang atau membingungkan.

Pada minggu terakhir, setiap group merampungkan kebun binatangnya. Kelompok menggunakan rubrik untuk menilai proyek mereka dan proyek kawan mereka. Nn. Ingals juga menilai proyek. Pada hari Jumat, orang tua, siswa dari kelas yang lebih rendah, dan staf kebun binatang yang diundang tiba untuk presentasi mereka. Nn. Ingals memberi kejutan kepada siswa kelas dengan “pidato sambutan”-nya kepada para pengunjung. Sementara kelompok mempresentasikan kebun binatang mereka kepada para tamu yang berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain, para tamu mengajukan pertanyaan dan terkesan oleh jawaban siswa yang terperinci. Unit ini terbukti sukses. Presentasi para siswa menunjukkan kepada Nn. Ingals dan para tamu bahwa siswa memahami kesatuan fundamental yang mendasari keragaman semua makhluk hidup, kesalingtergantungan dari segala benda, dan interaksi makhluk hidup dengan lingkungan mereka.

 

UCAPAN TERIMA KASlH

Sharon Kassing di St. Louis Zoo memberikan tanggapan dari perspektif kebun binatang, sementara Jennifer McLelland, asisten kepala sekolah, dan para guru di Tahoka Elementary School memberikan tanggapan dari perspektlf pedesaan. Terima kasih saya untuk semuanya.

 

Christine Klein

Leave a Reply

Close Menu