PENCIPTAAN SAMUDERA

PENCIPTAAN SAMUDERA

Serial Quran dan Sains

AWAL KEJADIAN SAMUDRA

Karena laut merupakan bagian penting dari bumi maka terjadinya laut tidak akan lepas dari proses pembembentukan bumi. Sampai kini awal mula keberadaan air di bumi masih menjadi pertanyaan dan menjadi bahan perdebatan penting di kalangan ilmuwan. Para ahli ilmu pengetahuan sepakat bahwa terjadinya laut dimulai ketika ada sebagian permukaan bumi yang tertutup oleh genangan air, tetapi karena pembentukan bumi melalui sejumlah proses yang kompleks maka kejadian laut pun memiliki tahapan yang dinamis.

Secara umum, terdapat 3 teori yang  paling banyak penganutnya tentang asal mula air. Pertama, air terpisah dari batuan, sebagai fasa gas yang terpisah dari fasa padat pada proses pembekuan. Kedua, pada proses “pengumpulan” (accretion) material pembentuk bumi dari awan angkasa luar, air dan material gas lainnya tergabung belakangan terhadap gumpalan inti, yaitu bumi dan menempati bagian terluar dari planet yang terbentuk. Ketiga, air datang belakangan bersama komet, asteroid, dan benda angkasa lainnya dari angkasa luar setelah bumi terbentuk.

Air turun dari langit (dalam Bahasa Arab, as-samā’, yakni semua yang berada di atas manusia, jauh maupun dekat) dengan kadar tertentu telah dijelaskan dalam banyak ayat Alquran, antara lain dalam Surah al-Mu’minūn/23: 18,

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ۝

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya (Alquran, Surah al-Mu’minūn/23: 18)

Wahyu Ilahi menyatakan bahwa semua kehidupan bermula dari air atau benda cair (liquid). Hal ini menunjukkan bahwa air telah mendahului makhluk-makhluk biologis di bumi ini. Makhluk-makhluk biologis pun tak dapat dipisahkan dari air. Surah al-Anbiyā’/21: 30 menjelaskan bahwa semua makhluk hidup diciptakan dari air atau benda cair.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ۝

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Maka mengapa mereka tidak beriman? (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 30)

Ayat di atas menunjukkan keterkaitan erat antara proses kejadian bumi dan langit dengan penciptaan makhluk-makhluk hidup dari air. Bumi dan langit pada awalnya menyatu lalu terpisah setelah terjadinya ledakan besar, yang dalam teori ilmu pengetahuan dikenal dengan big bang. Sementara itu, air yang merupakan substansi makhluk hidup sampai saat ini tidak diketahui secara pasti asal muasalnya. Hanya Allah-Iah yang mengetahuinya.

Tidak seperti terhadap asal muasal air, terhadap awal terbentuknya laut para ilmuwan (Pinti, 2005) lebih mudah bersepakat. Air sebagai cairan (liquid) mulai terdapat di permukaan bumi kira kira 50 juta tahun setelah masa akhir proses penggumpalan (accretion) bahan padat bumi. Beberapa puluh juta tahun kemudian barulah samudra yang terbentuk memiliki Iingkungan (suhu,pH, dan salinitas) cukup stabil yang memungkinkan berlangsungnya kehidupan di dalamnya. Hasil penarikhan dengan radio isotop menunjukkan bahwa umur tertua pada sedimen adalah 3,7 miliar tahun, yaitu pada sedimen fosforit di Greenland. Umur ini merupakan suatu acuan untuk merekonstruksi proses terjadinya lautan.

Proses terjadinya laut terbagi menjadi beberapa tahap:

  1. Tahap Pertama, untuk penganut teori pembentukan air yang pertama. Pembentukan laut dimulai sejak periode penggumpalan bumi sampai degan akhir pelepasan gas-gas dari alam yang terjadi pada 4,45 sampai dengan 4,5 miliar tahun yang lalu. Penentuan masa awal ini didasarkan atas ditemukannya jejak molekul air pada kristal-kristal batuan (zirkon) yang terbentuk pada masa itu. Pada akhir masa ini bumi mendapat tumbukan-tumbukan meteorit. Salah satunya berukuran sangat besar (sebesar Planet Mars) yang terjadi ada 4,5 miliar tahun yang lalu. Tumbukan-tumbukan benda angkasa ini, menyebabkan permukaan bumi meleleh sampai pada temperatur yang mampu menguapkan silika. Dalam keadaan ini semua molekul air tentu terdapat sebagai uap yang bersama-sama dengan karbondioksida, mendominasi gas-gas lainnya memenuhi ruang angkasa. Masa-masa ini dikenal sebagai masa samudra atmosferik.
  2. Tahap Kedua, tahap rumah kaca. Tahapan ini bermula ketika atmosfer dipenuhi oleh air dan karbondioksida menahan panas suhu radiasi matahari di permukaan bumi sehingga permukaan tetap berada dalam keadaan meleleh. Secara berangsur suhu bumi menurun sehingga bagian terluar bumi membeku dan membentuk selapis tipis batuan di permukaan. Hamparan kerak atau kulit bumi ini kemudian menjadi pembatas yang lebih tegas antara atmosfer dan bagian dalam bumi. Bagian ini pun kemudian menjadi isolator sehingga penjalaran radiasi panas dari dalam bumi tertahan, tidak merambat ke atmosfer. Hal ini menyebabkan penurunan suhu atmosfer.
  3. Tahap Ketiga, tahap kondensasi. Pendinginan yang cepat di atmosfer memungkinkan terjadinya kondensasi air. Pada tahap ini hujan lebat terus-menerus mengguyur permukaan bumi sehingga menyebabkan banjir besar (grand deluge) di seluruh permukaan bumi. Diperkirakan hujan yang begitu deras waktu itu telah membentuk samudra hanya dalam waktu 1.000 tahun saja. Di lain pihak, tingkat penguapan tinggi terjadi pada daerah-daerah tergenang. Siklus hidrologi berjalan sangat cepat di permukaan bumi karena suhu atmosfer masih tinggi pada masa itu. Presipitasi terjadi pada suhu atmosfer 600°K atau 329°C. Kondensasi dicapai pada suhu setinggi itu karena tekanan udara juga masih tinggi, diperkirakan sebesar beberapa ratus bar. Samudra primitif ini masih terlalu panas untuk berkembangnya kehidupan.

Hujan yang terjadi menjadi salah satu mekanisme yang menunjang terjadinya kehidupan di bumi. Dalam Surah an-Naḥl/16: 65 dijelaskan bahwa air hujan menjadi salah satu penunjang kehidupan di bumi.

وَاللَّهُ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ۝

Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran) (Alquran, Surah an-Nal /16: 65).

Ungkapan ba’da mautihā pada ayat di atas dapat dimaknai dua kondisi. Pertama, kondisi tanah yang kering kerontang diakibatkan oleh musim kemarau sehingga tak dapat ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang memerlukan air. Setelah musim hujan datang, lambat laun tumbuh berbagai tanaman, menghijau dan tampak subur. Kedua, kondisi pada periodisasi kejadian bumi, di mana saat itu bumi masih sangat panas, kemudian turun hujan yang menyebabkan bumi berangsur-angsur dingin. Berikutnya, muncullah berbagai tumbuhan yang dipersiapkan untuk kehidupan manusia.

  1. Tahap Keempat: perkembangan makhluk hidup. Sepanjang pengetahuan tentang extremophilles (makhluk hidup pada kondisi exstrem), organisme hyperthermophilesl (organisme panas bergerak) dapat berrtahan hidup pada suhu 80°C sampai 110°C. Temperatur ini dicapai pada tekanan CO2 atmosfer antara 5-25 bar. Sementara itu, kondisi asal tekanan CO2 di atmosfer pada masa kondensasi adalah 210 bar. Berarti ada sejumlah CO2 yang diendapkan setara dengan pengurangan tekanan parsial CO2 antara 185-205 bar. Penurunan ini dicapai melalui daur CO2 antara bumi (batuan) untuk pembentukan karbonat. Terbentuknya endapan karbonat menyebabkan turunnya tekanan udara dan suhu bumi sampai memungkinkan kehidupan di dalam laut. Umur batuan-batuan karbonat tua dianggap sama dengan masa penurunan suhu permukaan bumi dan atmosfer sampai pada lingkungan yang memungkinkan kehidupan dicapai pada 4,26-3,9 miliar tahun yang lalu

Tinggalkan Balasan

Close Menu