Penciptaan makhluk dari tanah liat

Penciptaan makhluk dari tanah liat

Dalam penciptaan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia, beberapa ayat Alquran menyatakan pentingnya peranan tanah liat. Hal ini dikemukakan dalam beberapa ayat berikut:

 هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن طِينٍ ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُّسَمًّى عِندَهُ ۖ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ۝

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 2)

 وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. (Alquran, Surah al-Muminūn/23: 12)

 وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Alquran, Surah al-ijr/15: 26)

 خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ۝

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (Alquran, Surah ar-Ramān/55: 14)

 أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا۝

Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali?

(Alquran, Surah Maryam/19: 67)

 

Telaah awal dari kejadian manusia adalah sebagai berikut. “Saripati (berasal) dari tanah” (al-Mu’minūn‎/23: 12), mengindikasikan bahwa tanah tersebut mengandung unsur-unsur yang diperlukan bagi proses kehidupan. Tanah mengandung banyak atom atau unsur metal (logam) maupun metalloid (seperti-logam) yang sangat diperlukan sebagai katalis dalam proses reaksi kimia maupun biokimia untuk membentuk molekul-molekul organik yang lebih kompleks. Contoh unsur-unsur itu antara lain, besi (Fe), tembaga (Cu), kobalt (Co), mangan (Mn), dan sebagainya. Dengan tambahan unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N), dan oksigen (O), maka unsur-unsur metal maupun metalloid di atas mampu menjadi katalis dalam proses reaksi biokimiawi untuk membentuk molekul yang lebih kompleks seperti ureum, asam amino, atau bahkan nukleotida. Molekul-molekul ini dikenal sebagai molekul organik, pendukung sebuah proses kehidupan.

Tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk” (al-Ḥijr‎/15: 26). Kata ‘lumpur hitam’ pada ayat di atas mengisyaratkan keterlibatan molekul air (H2O) dalam proses terbentuknya molekul-molekul pendukung proses kehidupan. Seperti diketahui, air adalah media bagi terjadinya suatu proses reaksi kimiawi dan biokimiawi untuk membentuk suatu molekul baru. Kata ‘yang diberi bentuk’ mengisyaratkan bahwa reaksi biokimiawi yang terjadi dalam  media berair itu telah menjadikan unsur-unsur yang semula ‘hanya atom’ menjadi “molekul organik dengan susunan dan bentuk tertentu”, seperti asam amino atau nukleotida.

Tanah kering seperti tembikar” (ar-Raḥmān‎/55: 14). Tembikar adalah semacam porselain, yang dalam proses reaksi kimiawi dapat digunakan sebagai katalis bagi terjadinya proses polimerisasi. Kalimat “tanah kering seperti tembikar” mungkin mengisyaratkan terjadinya proses polimerasasi atau reaksi perpanjangan rantai molekul dari asam-asam amino menjadi protein atau dari nukleotida menjadi polinukleotida, termasuk molekul Ribonucleic Acid (RNA) dan Desoxyribonucleic Acid (DNA), suatu materi penyusun struktur gen makhluk hidup. DNA dan RNA ini dikenal sebagai materi genetik yang ada hampir pada semua makhluk hidup. Demikian penjelasan Baiquni dalam halaman 185-202 bukunya.

Pada beberapa tahapan berikutnya, molekul-molekul kehidupan yang paling awal ini masuk ke dalam susunan sel paling sederhana yang terbentuk dari tanah pula. Kalimat ‘padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali?’ (Maryam/19: 67) kemungkinan mengisyaratkan bentuk-bentuk makhluk monosel ini atau bahkan bentuk-bentuk prakehidupan yang lebih awal, seperti molekul-molekul protein atau DNA. Makhluk monosel inilah yang kemudian secara evolusioner (bertahap) berkembang menjadi makhluk multiseluler, termasuk manusia.

Proses pentahapan ini tentu terjadi dalam kurun waktu yang panjang, mencapai jutaan bahkan miliaran tahun. Namun dalam pandangan Sang Pencipta, Allah subḥanahū wa ta‘ālā ‎, kejadian ini tampak sekejap saja. Asal-usul atau genesis dari material genetika, yaitu DNA dan RNA, serta munculnya struktur sel merupakan dua area yang banyak diperdebatkan para peneliti. Akan tetapi, sampai kini, keduanya belum sepenuhnya dapat dihubungkan. Kelahiran material genetika jelas sangat penting bagi kehidupan karena dengannya, kehidupan mempunyai kemampuan untuk menurunkan sifat, melakukan pembelahan sel, dan juga berevolusi. Jika material genetika sebegitu penting, maka membran adalah kunci terjadinya proses fisiologi dari suatu sel karena membran ini akan melindungi isi sel yang berupa material kimia yang mendorong terjadinya reaksi kimia dan memisahkan material genetika yang baik dari yang buruk. Kedua material ini: material genetika dan struktur sel, mutlak harus ada agar pengembangan makhluk hidup dapat berjalan.

Dari uraian di atas, jelas bahwa dua komponen penting yang harus ada dalam permulaan terjadinya kehidupan adalah material genetika dan membran atau dinding sel. Kedua material ini saling bekerjasama mendukung kehidupan. Fakta yang ada menyatakan bahwa di dalam kedua materi tersebut ditemukan banyak materi yang sama dengan kandungan tanah liat.

Temuan di atas dibuktikan dengan penelitian terhadap lempung montmorillonite clay. Dari penelitian disimpulkan bahwa lempung jenis ini dapat dengan cepat merangsang pembentukan kantong membran yang berisi cairan (membranous fluid-filled sac). Penelitian juga menemukan bahwa cairan yang terkandung dalam kantong membran tersimpan pula dalam tanah liat. Kantong ini nyatanya dapat tumbuh melalui pembelahan sederhana. Pembelahan ini merupakan gambaran dari apa yang terjadi pada sel primitif. Penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa tanah liat dapat membentuk material genetika RNA dari bahan-bahan kimia sederhana. Dengan demikian, kedua struktur yang ada dalam sel “lempung” sederhana itu, yaitu kantong membran dan cairan yang mengisi kantong membran, mengandung material yang sama dengan kandungan tanah liat. RNA terkandung baik di dalam kantong membran maupun cairannya itu. Kisah mengenai terjadinya material genetika dan munculnya struktur sel selalu menjadi topik yang menarik bagi para peneliti. Akan tetapi, selama ini hingga saat ini tidak seorang pun peneliti yang mencoba menghubungkan kedua hal tersebut.

Terbentuknya RNA, menurut sebuah teori populer, berkisar pada kandungan yang tidak normal dari lempung montmorillonite. Lapisan yang bermuatan listrik negatif dari bentukan kristal lumpur ini membentuk lapisan bermuatan positif. Posisi lapisan positif ini berada di antara dua lapisan negatif. Kondisi demikian ini sangat kondusif bagi konsentrasi subunit RNA dan menyatukannya dalam rantai kimia yang panjang.

Dari penelitian terbukti bahwa lempung montmorillonite dapat merangsang dengan cepat pernbentukan kantong membran yang berisi cairan. Kandungan tanah liat juga terdapat pada cairan yang terdapat di dalam kantong membran. Penelitian Iain juga membuktikan bahwa tanah liat dapat membentuk material genetika RNA dari bahan-bahan kimia yang sederhana (lihat Surah ar-Raḥmān/55: 14 di atas). Dengan demikian, semua material yang berkaitan dengan dimulainya kehidupan selalu dikaitkan dengan tanah liat.

‘Kelahiran’ material genetika merupakan langkah penting untuk memastikan adanya kemampuan kehidupan untuk mewarisi sifat, memecah sel, dan berevolusi. Kehadiran membran jelas merupakan kunci keberhasilan proses fisiologi di dalam sel, karena berbagai perannya, seperti: (1) menjadi pelindung cairan sel; (2) mengonsentrasikan bahan-bahan kimia, yang pada gilirannya akan mengadakan reaksi kimia; dan (3) mengisolasi bahan genetik yang baik dari yang buruk.

Penelitian yang dilakukan di luar angkasa, suatu kondisi yang diduga mendekati kondisi bumi masa lalu, memperlihatkan bahwa suatu reaksi kimia dapat memicu terjadinya molekul yang mirip RNA dan terjadinya membran secara spontan. Akan tetapi, bagaimana kedua unsur ini menyatu, sampai saat ini masih menjadi pertanyaan.

Dari telaah di atas, dapat dimengerti bahwa tampaknya Alquran memberikan isyarat bahwa proses penciptaan manusia melalui tahapan-tahapan tertentu, mulai dari tanah, sari pati (berasal dari) tanah, tanah liat kering dari lumpur yang diberi bentuk, dan tanah kering seperti tembikar. Dalam bahasa sains, rangkaian ini mirip rangkaian pada evolusi biokimia yang mengawali evolusi biologis, yaitu evolusi dari unsur-unsur kimia esensial yang kemudian membentuk molekul-molekul sederhana, kemudian terbentuk molekul yang kompleks karena adanya polimerisasi, dan terus bergabung dengan tanah liat jenis montmorillonite menjadi makhluk uniseluler yang paling sederhana. Evolusi berjalan terus sampai terbentuknya organisme multiseluler yang kompleks, termasuk spesies manusia.

 

Tinggalkan Balasan

Close Menu