PENCIPTAAN LANGIT

PENCIPTAAN LANGIT

Serial Quran dan Sains

Salah satu deklarasi dan penegasan yang penting dalam pandangan Islam adalah bahwa langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dan fenomena alam yang terdapat di dalamnya diciptakan Allah. Alam semesta tidak terjadi dengan sendirinya. Selain itu, langit dan bumi diciptakan Allah dengan pengetahuan yang benar (oleh yang Maha Mengetahui) dan untuk waktu yang ditentukan, bukan waktu yang tak terbatas.

Penciptaan langit dan bumi tidak main-main, tetapi sesuai dengan rencana besar dengan urutan proses dari awal hingga akhir. Allah befirman,

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ۝ قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ۖ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ۝

Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Namun orang-orang yang kafir, berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka. Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah (kepadaku) tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepadaku apa yang telah mereka ciptakan dari bumi atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (Alquran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu orang yang benar.” (Alquran, Surah al-Aqaf/46:3-4)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ۝

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada antara keduanya dengan bermain-main. (Alquran, Surah ad-Dukhān/44: 38)

Penciptaan langit dan bumi serta fenomena alam di dalamnya tidak sia-sia; pasti ada fungsi dan manfaat yang bisa diambil darinya. Allah bemrman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ۝ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ۝

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 190-191)

 

Kita jumpai di langit dan bumi tanda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang beriman. Allah berfirman

إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّلْمُؤْمِنِينَ۝

Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang mukmin. (Alquran, Surah al-Jāṡiyāh/45: 3)

وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ۝

Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir ((Alquran, Surah al-Jāṡiyāh/45: 13)

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ۝

Dan hanya bagi-Nya segala keagungan di langit dan di bumi, dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. ((Alquran, Surah al-Jāṡiyāh/45: 37)

 

Ayat-ayat inilah yang memicu kami untuk mencari pemahaman fungsi dan manfaat benda-benda langit, dan menuangkannya ke dalam sebuah seri Tafsir IImi dengan tema “Manfaat Benda-benda Langit dalam Perspektif Alquran dan Sains”.

 

BENDA-BENDA LANGIT MERUPAKAN CIPTAAN ALLAH

Semua yang ada di alam raya ini tidak terjadi dengan sendirinya. Apa saja yang terdapat di antara langit dan bumi, baik yang dapat diindera maupun yang tidak, semuanya merupakan ciptaan Allah. Allah menegaskan hal ini antara lain dalam Surah al-Aḥqaf/46: 3 sebagai berikut.

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنذِرُوا مُعْرِضُونَ۝

Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Namun orang-orang yang kafir, berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka. ((Alquran, Surah al-Aqaf/46: 3)

Kata as-samāwāt (السَّمَاوَات) merupakan bentuk jamak (plural) dari as-samā’, yang artinya langit, yang tampak dalam pandangan manusia berwarna biru. Ketika disebut dalam bentuk jamak, ini mengisyaratkan bahwa langit tidak hanya satu, tetapi banyak. Ada pula yang mengartikan langit sebagai lapisan atmosfer yang melingkupi bumi. Lapisan ini terdiri dari beberapa bagian yang masing-masing disebut dengan nama tertentu sesuai dengan ketinggian atau jaraknya dari bumi. Selain itu, ada pula yang memaknainya dengan benda yang ada di ruang angkasa, seperti bintang dan planet. Ketika disebut dengan bentuk jamak maka yang dimaksud adalah seluruh benda langit yang ada di ruang angkasa. Termasuk dalam kategori ini adalah semua planet, bintang-bintang, dan galaksi yang ada di alam raya. Jumlah benda-benda langit yang demikian banyak ini diisyaratkan dengan sebutan as-samāwāt, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas. Selanjutnya, karena langit mencakup benda-benda angkasa, maka antara yang satu dengan lainnya tidak menempel; masing-masing dipisahkan oleh jarak tertentu. Dalam Surah al-Mulk/67: 3, misalnya, Allah menyatakan bahwa satu langit berada di atas langit yang lain, dalam artian bahwa benda-benda langit itu berbeda-beda jaraknya.

Pada ayat tersebut Allah menegaskan bahwa Dia-Iah yang menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Di samping pernyataan tersebut, ayat tersebut juga memberikan dua informasi penting lainnya, yaitu: (1) bahwa penciptaan itu dilakukan dengan haq atau sebenarnya dan tujuan tertentu; dan (2) bahwa penciptaan itu ditetapkan batas akhirnya (ilā ajalin musammā).

Hal pertama yang dikemukakan pada ayat tersebut adalah informasi bahwa penciptaan langit dan bumi dilakukan dengan haq atau tujuan tertentu. Maksudnya, apa yang dilakukan Allah sejatinya untuk kebaikan semua makhluk. Hanya saja kadang kadang hikmah atau tujuan itu ada yang belum dapat dipahami. Oleh karena itu, Allah menganjurkan agar manusia mau menggunakan akalnya untuk menelaah apa sebenarnya tujuan penciptaan tersebut. Dengan pengetahuan tentang tujuan penciptaan, niscaya akan banyak manfaat yang dapat diraih oleh mereka yang mengetahuinya. Mereka akan menyadari bahwa tujuan atau hikmah dari penciptaan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya antara lain adalah untuk kesejahteraan manusia.

Wahbah az-Zuḥaili dalam At-Tafsīr al-Munīr menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan haq dalam penciptaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya adalah adanya tujuan yang diinginkan di balik penciptaannya, bukan diciptakan dengan sia-sia dan percuma. Pernyataan bahwa penciptaan langit, bumi, dan isinya dilakukan dengan haq dan atas tujuan tertentu banyak diungkapkan dalam ayat-ayat Alquran yang lain. Di antaranya firman-firman Allah,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ۝

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar)? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). (Alquran, Surah lbrāhīm/14: 19)

 وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ۝

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. (Alquran, Surah al-Jāṡiyāh/45: 22)

 

Pada Surah ad-Dukhān/44: 38 Allah mengemukakan secara lebih gamblang bahwa semua yang diciptakan pastiada manfaatdantujuannya, dan bukan untuk main-main yang tidak ada gunanya. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ۝

Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. (Alquran, Surah ad-Dukhān/44: 38)

 

Hal kedua yang disampaikan dalam ayat yang disebut pertama adalah informasi bahwa keberadaan langit, bumi, dan semua isinya telah ditentukan masanya. Hal ini disampaikan Allah dengan ungkapan ilā ajalin musammā. Dari ungkapan ini dapat dipahami bahwa keberadaan benda-benda ciptaan ada batas masanya dan bukan tanpa akhir. Secara logis dapat dipahami bahwa adanya penciptaan pasti akan diikuti oleh adanya akhir dari keberadaannya, yakni pada saat yang telah ditentukan sendiri oleh-Nya. Demikianlah penjelasan yang disampaikan oleh Ibnu ‘Āsyūr dalam tafsirnya, at-Tarīr wa at-Tanwīr.

Pernyataan bahwa penciptaan yang Allah wujudkan dibatasi dengan waktu tertentu mengandung tujuan agar manusia mengetahui bahwa segala sesuatu ada batas akhirnya, demikian juga dengan keberadaan manusia itu sendiri. Bila kenyataan ini dipahami, diharapkan mereka dapat mempersiapkan diri sebelum datang batas akhir tersebut. Pada masa-masa itu mereka memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Dengan persiapan semacam ini, kelak mereka akan mendapat balasan sesuai apa yang telah dilakukan. Bila mereka melakukan kebaikan-kebaikan, balasan yang akan diterima adalah kebaikan pula. Sebaliknya, bila mereka tetap melakukan keburukan, padahal mereka tahu bahwa hidup tidaklah abadi, maka pada kehidupan selanjutnya balasan yang akan mereka terima tidak lain adalah keburukan.

 

BENDA-BENDA LANGIT PASTI ADA FUNGSI DAN MANFAATNYA

Penciptaan langit, bumi, dan fenomena alam lainnya pasti ada fungsi dan manfaatnya. Hal itu ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ۝ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ۝

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, Iindungilah kami dari azab neraka”. (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 190-191)

 

Term ulul-albāb terdiri dari dua kata, yaitu ulu dan al-albāb. Kata yang pertama berarti “memiliki”, dan yang kedua merupakan bentuk jamak (plural) dari kata al-Iubb, yang berarti “inti”. Yang dimaksud dengan inti di sini adalah unsur terpenting yang ada dalam diri manusia, yaitu akal. Dengan demikian, istilah tersebut dapat di maknai dengan “orang-orang yang berakal”. Sebutan ini dikhususkan bagi manusia yang mau menggunakan anugerah Allah tersebut untuk berpikir dan meneliti semua yang ada agar ia mendapat manfaat dari Iingkungannya.Semua manusia memang dikaruniai akal, dan ini merupakan unsur rohani yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dengan akal seorang manusia dapat memikirkan segala sesuatu yang kemudian dapat ia manfaatkan untuk menemukan atau meraih kebaikan bagi dirinya.

Pada dasarnya akal bersifat baik, karena itulah organ ini akan selalu memberikan pertimbangan yang baik pula. Namun demikian, seringkali pertimbangan akal dikalahkan oleh nafsu yang juga merupakan salah satu kelengkapan yang diberikan Allah,seperti yang diinformasikan dalam Surah asy-Syams/91: 8. Oleh karena itu,akal tidak selamanya dapat berfungsi dengan baik bila selalu didominasi oleh nafsu buruk atau fujūr, yang juga disebut al-quwwah asy-syaiṭāniyyah (kekuatan setan). Agar akal dapat selalu berfungsi dengan baik sesuai tuntunan lIahi, manusia mesti membekali diri dengan takwa yang kokoh

Dalam kaitan ini Allah mengisyaratkan bahwa yang layak disebut ulul-albāb adalah mereka yang selalu berzikir atau mengingat Allah dan menggunakan akalnya untuk memikirkan dan meneliti ciptaan-ciptaan-Nya dialam raya ini. Pemberdayaan akal yang demikian akan menyampaikannya pada keyakinan bahwa semua ciptaan Allah itu didasari oleh tujuan yang baik untuk makhluk-Nya.

Surah Āli ‘Imrān/3: 190 di atas mengajak manusia untuk memikirkan betapa penciptaan langit dan bumi dilakukan Allah. Kejadiannya sungguh menakjubkan bagi mereka yang mau meneliti dan memperhatikannya. Allah juga menganjurkan manusia untuk memikirkan fenomena alam yang terpampang, yaitu pergantian malam dan siang, mencoba mencari manfaat macam apa yang dapat dipetik darinya dan bagaimana bersikap dalam menghadapi semua yang terjadi. Semua yang dihadapi itu sesungguhnya merupakan hukum alam dan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah.

Tanda-tanda kekuasaan Allah hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berakal, yaitu orang orang yang dalam Alquran disebut sebagai ulul-albāb. Mereka itu adalah orang-orang yang mau secara intensif memberdayakan anugerah Allah berupa akal yang secara khusus dikaruniakan kepada manusia. Ciri-ciri orang yang berakal ini diungkapkan dalam ayat berikutnya, 191. Orang berakal itu adalah mereka yang selalu ingat kepada Allah, baik ketika berdiri sambil melaksanakan aktivitasnya, ketika duduk beristirahat di rumah atau tempat lain, maupun ketika berbaring beristirahat dari aktivitas. Selain itu,mereka juga senantiasa memikirkan tujuan dan hikmah dari penciptaan alam semesta. Dengan cara inilah mereka akan menemukan manfaat dan mengetahui sifat-sifat dari semua yang ada. Mereka akan dapat mengambil keuntungan dan faedah dari alam di sekelilingnya dan tidak melakukan tindakan yang bersifat merusak. Mereka akan sampai pada keyakinan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah tentu mempunyai tujuan dan hikmah.

Kajian mendalam tentang fenomena alam dan pencipataannya akan bermuara pada kesimpulan bahwa semua yang ada diciptakan tidak tanpa manfaat. Semua terwujud dengan manfaat dan faedah bagi manusia. Pada akhirnya, manusia yang mengetahui dan menghayati semua ciptaan ini pasti akan terdorong untuk bersyukur kepada Allah dengan penuh ketulusan. Karena itu, tidaklah layak apabila manusia menduga bahwa Allah menciptakan sesuatu yang tidak bermanfaat dan berfaedah bagi makhluk-Nya, suatu dugaan yang seringkali memunculkan dalam diri manusia rasa kurang percaya dan prasangka buruk kepada Allah.

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu