PENCIPTAAN DALAM PANDANGAN ISLAM DAN KOSMOLOGI ‎MODERN

PENCIPTAAN DALAM PANDANGAN ISLAM DAN KOSMOLOGI ‎MODERN

Wacana: Mehdi Golshani

Masalah penciptaan selamanya telah menjadi salah satu masalah utama kepedulian manusia. Namun, sebelum abad ke-20, masalah ini umumnya dibahas oleh para teolog dan filosof. Beru selama perempat pertama abad ke-20-lah kosmologi saintifik dikembangkan dan masalah penciptaan juga menjadi kepedulian kalangan ilmuwan.

Dalam makalah ini, kita akan membahas penciptaan dari sudut pandang Al-Quran dan para teolog, filosof serta  serta sufi Muslim. Setelah itu, kita akan membahas masalah ini dari sudut pandang kosmologi modern dengan menggambarkan berbagai aliran pemikiran yang ada didalamnya. Dalam pembahasan ini, kita tidak akan berpanjang lebar sebab sudah ada beberapa tinjauan yang amat bagus mengenai hal ini. Akhirnya, kita akan melakukan kaji banding antara pandangan-pandangan para teolog, filosof, dan sufi Muslim dan aliran-aliran pemikiran yang dominan dalam kosmologi modern. Setelah itu, kita akan menarik beberapa kesimpulan dari kajian ini dan membahas situasi dan memberikan rambu-rambu yang mesti diperhatikan dalam kajian-kajian masa depan.

Penciptaan dalam Al-Quran dan Hadis

Menurut Al-Quran, segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan:

Allah adalah pencipta segala sesuatu; dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa (QS Al-Ra’d [13]: 16).

 

Tuhan bukan saja pencipta alam semesta, melainkan juga pemeliharannya:

Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia pemeliharaan segala sesuatu (QS Al-Zumar [39]: 62).

 

Al-Quran juga menegaskan bahwa segala sesuatu bergantung pada Tuhan:

Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji (QS Fathir [35]: 15).

 

Untuk menekankan kebergantungan ini, ayat selanjutnya menyebutkan bahwa jika Allah menghendaki, Dia bisa saja melenyapkan kita dan mendatangkan makhluk yang baru:

Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (QS Fathir [35]: 16).

 

Disebutkan juga dalam Al-Quran bahwa anugerah Tuhan tidak pernah ditahan dan nikmat-Nya tidak bisa dihitung:

Kepada tiap-tiap golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, kami berikan pemberian dari tuhanmu, dan pemberian Tuhanmu tidaklah pernah tertahan (QS Al-Isra [17]: 20).

 

….. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya amu tidak akan mampu menghitungnya (QS Ibrahim [14]: 34).

 

Dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang sebagian sarjana Muslim ditafsirkan sebagai menunjukkan bahwa penciptaan itu sifatnya berkelanjutan:

 

Semuanya ada di langit dan di Bumi meminta kepada-Nya, setiap waktu Dia berada dalam suatu kesibukan (QS Al-Rahman [55]: 29).

Maka apakah kami letih dengan penciptaan yang pertama? Bahkan mereka berada dalam kebingungan mengenai penciptaan yang baru (QS Qaf [50]: 15).

 

Dalam kenyataanya, ayat-ayat di atas digunakan oleh para sufi Muslim dan Mulla sadra untuk menyimpulkan doktrin penciptaan yang berkelanjutan. Dalam Al-Quran maupun Injil Yohanes, tindak penciptaan diidentikan dengan Firman Tuhan:

 

Allah pencipta langit dan Bumi, dan manakalah Dia menghendaki sesuatu, (cukuplah bahwa) Dia mengatakan kepadanya: “jadilah”, maka jadilah sesuatu ia (QS Al-Baqarah [2]: 117).

 

Hal penting lainnya adalah bahwa dalam Al-Quran sering disebutkan tentang banyaknya alam. Sebagai contoh:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (QS Al-Fatihah [1]: 2).

 

Sebagian otoritas keagamaan dan sarjana Islam telah menafsirkan ayat-ayat tentang ‘alam-alam” sebagai menunjukkan adanya alam-alam lain selain alam kita. Sebagai contoh, diriwayatkan dari lmam Muhammad Al-Baqir:

 

Mungkin kamu melihat bahwa tuhan hanya menciptakan alam yang satu ini dan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia-manusia lain selain kamu. Aku bersumpah demi Allah Dia betul-betul telah menciptakan jutaan alam dan jutaan manusia. Kalian hidup dialamnya yang terakhir dari alam-alam tersebut dan kalian adalah generasi terakhir manusia-manusi tersebut.

Dalam AL-Qurannya yang terkenal, Fakhr Al-Din Al-Razi, seorang teolog-filosof Muslim terkemuka, mengemukakan kemungkinan kejamakan alma:

 

Telah dibuktikan bahwa Allah Taala mampu mengaktualkan segala kemungkinan. Demikian, Dia Mahatinggi mampu menciptakan jutaan alam di luar alam ini, masing-masing lebih besar dan massif dari pada alam ini….dan argumen para filosof mengenai keunikan alam ini adalah lemah dan sangat tidak memadai karena didasarkan pada premis-premis yang tidak sahih.

 

Akhirnya, al-Quran menyarankan agar kita menyelidiki bagaimana Tuhan mengawali penciptaan:

Apakah mereka tidak memerhatikan bagaimana Allah mengawali penciptaan, dan kemudian mengulanginya? sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah: “Berjalanlah kamu di muka bumi dan lihatlah bagaimana Allah mengawali penciptaan”. Kemudia Allah akan menciptakan ciptaan yang lain; sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS Al-Ankabut [29]: 19-20).

 

Mengingat mungkinya ada alam-alam yang lain suatu kemungkinan yang bisa disimpulkan dari dua ayat terakhir di atas maupun ayat-ayat lainnya ayat di atas mengatakan agar kita berusaha mengetahui, melalui pengamatan dan penalaran, bagaimana alam kita sendiri bermula.

 

Teolog-teolog Muslim

Para teolog Muslim awal mengklaim bahwa alam semesta diciptakan di dalam waktu. Argumen utama mereka untuk mendukung keyakinan ini adalah bahwa jika alam ini tidak bermula di dalam waktu, berarti ia kekal bersama Tuhan. Dengan demikian, keberadaanya tidak bisa disebabkan oleh Tuhan. Mereka menyakini bahwa keadilan hanya milik Tuhan semata, bahwa segala sesuatu bersifat temporal, dan bahwa ke terciptaan menuntut temporalitas.

Keyakinan-keyakinan para teolog mengenai adanya permulaan yang mutlak bagi waktu menuntut bahwa waktu didahului oleh noneksistensi. Demikianlah, mereka berbicara tentang alam yang didahului oleh eksistensi imajiner.

Dalam bukunya yang terkenal, Tahafut Al-Falasifah (kerancuan para filosof), Al-Ghazali, seorang teolog aliran Asy ariyyah, menuduh para filosof sebagai kafir karena ketiga alasan, yang salah satunya karena mereka percaya pada kekelalan alam.

Mereka dapat kafir dalam tiga masalah. Salah satunya adalah masalah alam tak berawal dan pernyataan mereka bahwa segala sesuatu bersifat azali.

Ketiga ajaran ini tidak sesuai dengan Islam dalam hal apa pun. Orang yang mempercayainya berarti percaya bahwa para nabi telah berdusta dan bahwa mereka mengatakan seperti itu dengan tujuan [mementingkan kemaslahatan umum] untuk memberikan contoh-contoh dan penjelasan kepada sekumpulan besar manusia. Ini adalah kekafiran yang nyata, yang belum pernah diyakini oleh mazhab-mazhab Islam.

Iman Fakhr Al-Din Al-Razi, seorang teolog Asy’ariyyah yang lain, dalam hal ini berbeda pendapat dengan Al-Ghazali. Dalam pandangannya, tidak ada sesuatu pun dalam kitab-kitab suci yang menunjukkan bahwa alam ini memiliki permulaan, dan dia mengatakan bahwa hal ini disebabkan rumitnya permasalahan. Dia menulis “para nabi besar tidak mau mengali-gali masalah ini, dan ini menunjukkan bahwa masalah ini demikian sulitnya sehingga akal manusia tidak sanggup menembusnya”.

Akan tetapi, sebagian dari teolog Muslim yang belakangan telah mendukung pandangan para filosof Muslim yang menyakini bahwa alam ini tidak memiliki permulaan waktu. Dalam pandangan mereka, keterciptaan alam berarti secara ontologis ia bergantung pada Tuhan. Mengutip Lahiji:

 

Dalam penuturan-penuturan para imam kita yang maksum….. tidak disebutkan secara eksplisit salah satu dari dua pandangan ini [ temporalitas atau kekekalan alam], tetapi makna yang bisa disimpulkan adalah makna yang menyatakan kebergantungan alam kepada sang pencipta saja….para teolog yang terdahulu dan yang belakangan menyakini temporalitas alam. Terkadang mereka bahkan mengklaim bahwa ada pandangan anonim tentang keterciptaan temporal. Tetapi bukti kesepakatan bulat ini sulit dikemukakan dan jika ada kesepakatan bulat, kesepakatan tersebut adalah mengenai keterciptaan mutlak, tanpa kondisi temporalitas ataupun atemporalitas. Argumen-argumen rasional mereka dalam massalah ini sangat lemah, dan para filosof yang lebih belakangan telah bersikukuh menyatakan atemporalitas, dan keraguan mereka dalam hal ini bukannya tanpa alasan.

 

Filosof-filosof Muslim

Para filosof Muslim awal, dipimpin oleh Al-Farabi dan Ibn Sina, menyakini bahwa alam tidak memiliki permulaan di dalam waktu, yang arti ia kekal.

Dalam pandangan mereka, penciptaan di dalam waktu mempunyai implikasi-implikasi berikut:

  1. Hal itu akan berarti bahwa tuhan diperlukan bagi penciptaan alam, tetapi tidak diperlukan bagi pemeliharaannya.
  2. Hal itu akan mengharuskan adanya perubahan dalam sifat Tuhan, suatu hal yang tidak dibolehkan bagi Tuhan yang abadi dan tak pernah berubah.
  3. Hal itu akan memerlukan adanya interupsi dalam emanasi Tuhan, suatu hal yang tidak konsisten dengan kekekalan sifat-sifat Tuhan, semisal kreativitas-Nya.

Dalam masalah ini, kedua mazhab utama filsafat Islam, yakni mazhab peripatetik dan mazhab lluminasionis, berpendapat sama. Al-Thusi, seorang filosof peripatetik, mengatakan dalam komentarnya atas karya Ibn Sina, Al-Isyarat wa Al-Tanbihat, bahwa “karena prinsip pertama bagi mereka [yakni para filosof]adalah kekal dan sempurna dalam perbuatan-Nya, mereka menegaskan bahwa alam, yang adalah perbuatan-Nya, adalah kekal’. Sebagai seorang filosof lluminasionis, Suhrawadi mengatakan, “emanasi adalah kekal karena sebabnya abadi dan tak berubah-ubah. Jadi, alam berlanjut selama Dia masih ada’’.

Dalam pandangan mereka, penciptaan merupakan hubugan ontologis dan keterciptaan merupakan kebergantungan ontologis, yang memiliki akar-akarnya dalam sifat kontigensi (keserbamungkinan) segala wujud selain Tuhan. Jadi, kontigensi, bukan temporalitas, yang merupakan syarat nagi keterciptaan. Wujud yang niscaya (Tuhan) menganugerahkan eksistensi kepada wujud-wujud yang bersifat kontigen (mungkin). Proses seperti itu disebut penciptaan.

Para filosof ini menyakini bahwa waktu tidak memiliki permulaan ataupun akhir akan tetapi, para teolog menyakini adanya dua perbatasan waktu. Jika kedua perbatasan itu ada, demikian mereka mengatakan, hal itu akan mengahruskan bahwa waktu kekal bersama Tuhan. Dalam kata-kata Al-Thusi, “keterciptaan [temporal] alam menuntut keterciptaannya [yakni keterciptaan temporal waktu]”. Di sini AL-Thusi berbicara sebagai teolog.

Dalam menolak klaim-klaim para filosof, Al-Ghazali menunjukkan bahwa jika para filosof mengakui keterbatasan ruang, tidak ada alasan mengapa mereka tidak mengakui keterbatasan waktu. Sebagai tanggapan terhadap Al-Ghazali, filosof kontemporer Iran, Muthahhari, menunjuk pada perbedaan antara dimensi temporal dan dimensi spasial: unsur-unsur ruang bisa ada bersama (co-exist), tetapi unsur-unsur waktu saling meniadakan. Ada hubungan antara potensialitas dan aktualitas di antara unsur-unsur ruang. Eistein , yang teori Relativitas khususnya telah digunakan oleh sebagian orang untuk menafikan perbedaan apa pun antara koordinat ruang dan koordinat waktu, tidak menyepakati keindentikan dimensi waktu dan ruang. “waktu dan ruang berfusi menjadi satu kontinum, tetapi kontinum ini tidak bersifat isotropis. Unsur jarak spasial dan unsur durasi tetap berbeda di alam”.

Apa yang kami sebutkan diatas adalah keyakinan-keyakinan dalam aliran-aliran utama filsafat Islam. Namun, ada beberapa individu filosof di Dunia Islam yang gagasan-gagasan tentang masalah penciptaan alam berbeda. Sebagai contoh, Al-Kindi mengatakan bahwa alam diciptakan dalam waktu. Sama halnya, Maimonides mengklaim bahwa argumen-argumen Aristoteles untuk mendukung kekekalan alam bukanlah argumen-argumen yang konklusif dan bahwa penciptaan temporal merupakan alternatif yang lebih mungkin. Di lain pihak, Muhammad ibn Zakariyya Al-Razi menyakini adanya lima wujud yang kekal: Tuhan, jiwa universal, materi pertama, ruang mutlak, dan waktu mutlak. Namun, sebelum Mulla sadra, pandangan yang dominan adalah pandangan keterciptaan atemporal dan pandangan ini dimiliki oleh para filosof peripatetik maupun lluminasionis. Sekalipun demikian, kata kata penutup Ibn Sina mengenai masalah ini bernada sangat berhati-hati dan sangat instuktif. Dalam kitabnya, Al-Isyarat wa Al-Tanbihat, yang merupakan salah satu dari buku-buku terakhirnya, dia menggambarkan pandangan berbagai aliran pemikiran mengenai masalah penciptaan. Kemudian, dia menyerahkan kepada para pembaca untuk memilih sendiri mana pandangan yang benar, seraya memberikan tiga rekomendasi:

  1. Berkomitmen kukuh terhadap keesaan Tuhan;
  2. Menghindari prasangka;
  3. Menggunakan kemampuan intelektual mereka.

 

Dalam kata-katanya, “dengan demikian, aliran-aliran pemikiran mengenai masalah ini adalah seperti yang telah kami gambarkan. Anda harus memilih salah satunya, setelah anda menyakini keesaan Tuhan, dengan menggunakan kemampuan akal, dan menghindari prsangka-prasangka Anda sendiri”.

 

Kaum sufi

Kaum sufi memperkenalkan doktrin penciptaan-ulang (atau gerakan terus-menerus) alam pada setiap saaat. Menurut doktrin ini, alam semesta dilenyapkan da diciptakan-ulang pada setiap saat. Artinya, ada penciptaan yang berkelanjutan yang sedang terjadi. Salah seorang eksponen paling awal dari doktrin ini adalah sufi-filosof persia, ‘Ain Al-Qudhat Hamadani, yang hidup pada abad ke-12. Menurut pendapatnya, segala sesuatu yang mewujud akan dilenyapkan dengan seketika dan kemudian diciptakan dengan segera. Jadi, Tuhan bukan hanya pencipta awal alam semesta, melainkan juga pencipta yang terus-menerus berkreasi. Segala sesuatu memperoleh eksistensinya darinya. Namun, hubungan ontologis antara keduanya harus diperbarui pada setiap saat. Pembaruan ini disebabkan dua kenyataan:

  1. Kemungkinan (kontigensi) ontologis semua makluk
  2. Emanasi yang terus-menerus dari Tuhan

Dengan demikian, setiap wujud, disebabkan kemungkinan ontologisnya, melepaskan jubah eksistensinya begitu ia mengada. Namun, pada saat yang sama, emenasi Tuhan memberikan kepadanya jubah eksistensi yang  baru. Kita tidak melihat pembaruan ini karena ia terjadi secara seketika. Hamadani menawarkan sebuah analogi bagus:

Anak-anak kecil, yang mengamati sebuah lampu yang menyala terus, dengan sendirinya akan mengira bahwa apa yang mereka lihat adalah satu nyala yang tetap. Namun, orang-orang dewasa tahu dengan baik bahwa nyala lampu itu adalah serangkaian nyala yang muncul dan lenyap dari waktu ke waktu. Dan dari sudut pandang kaum sufi, ini adalah kasus yang sudah semestinya terjadi pada segala sesuatu di alam kecuali Tuhan.

Sufi-sufi yang belakangan, mengikuti jejak Hamadani dan sufi terkemuka Ibn Arabi, mengemukakan tesis penciptaan ulang. Di sini saya hanya mengutip dua sufi penyair persia yang terkenal, Syabistari dan Rumi. Dalam kata-kata Syabistari:

Alam adalah keseluruhan ini, dan dalam setiap kedipan mata, ia menjadi noneksisten dan tidak bertahan dalam dua saat. Ada alam lain yang dihasilkan lagi, setiap saat sebuah langit yang baru dan bumi yang baru. Makhluk-makhluk tidak bertahan dalam dua saat. Saat mereka binasa, mereka dilahirkan kembali.

Dalam kata-kata Rumi:

Jadi, setiap engkau mati dan hidup lagi, Mustafa [Nabi] menyatakan bahwa alam ini [hanyalah] satu saat. Setiap saat alam diperbarui dan kita tak menyadari pembaruannya. Sementara ia tetap [sama dalam penampakannya]. Kehidupan muncul secara baru, bagaikan anak sungai. Meskipun dalam jasad, ia seolah terus berlanjut.

 

Mulla Sadra

Kita telah memisahkan pembahasan mengenai pandangan Mulla Sadra tentang masalah ini dari filosof Muslim lainnya karena ia membangun sebuah aliran pemikiran yang mandiri yang diambil dari beberapa unusr dari berbagai aliran filsafat dari kaum sufi, Al-Quran, dan tradisi Islam dan mengabungkannya untuk mengembangkan aliran filsafatnya sendiri, yang disebut Al-Hikmah Al-Muta aliyah.

Pendekatan Mulla Sadra terhadap masalah penciptaan didasarkan pada ajarannya tentang gerak transubstansialm (harakah jauhariyah). Para filosof Muslim yang sebelumnya telah membatasi gerakan pada beberapa kategori aksiden (misalnya kuantitas dan kualitas), tetapi mereka telah menginkari kemungkinan gerakan dalam kategori substansi. Mulla Sadra barargumen bahwa perubahan-perubahan dalam substansi, termasuk didalamnya aksiden, karena aksiden tidak memilki eksistensi mandiri.

Menurut Mulla Sadra, esensi segala sesuatu terus-menerus diperbarui melalui proses gerak transubstansional. Dengan perkataan lain, setiap eksisten terus-menerus berada dalam penciptaan yang diperbarui setiap saat.

Secara mutlak tidak ada kedirian atau individu baik itu bersifat kelangitan atau keunsuran, sederhana ataupun gabungan, substansi ataupun aksiden kecuali bahwa noneksistensinya mendahului perwujudannya dalam waktu, dan wujudnya mendahului noneksistensinya dalam waktu. Secara umum, setiap jasad dan wujud yang berjasad yang keberadaannya terkait dengan materi, terus-menerus diperbarui dalam kedirian dan bersifat tak permanen dalam wujud dan individualitasnya.

Semua eksisten memiliki perbaruan secara terus-menerus ini dalam fitrah mereka. Dengan demikian, keadaaan setiap eksisten berbeda antara saat sekarang dan sebelumnya. Keadaanya yan sekarang tidaklah ada sebelumnya, jadi, diktrin creatio ex nihilo berlaku untuk tiap-tiap saat. Artinya, kita mendapatkan emanasi eksistensi yang terus-menerus dari sumber ultimat eksistensi.

Mulla Sadra mengukuhkan doktrin keterciptaan temporal dari para teolog Muslim. Namun, berbeda dengan mereka, dia tidak membatasi penciptaan temporal pada waktu yang spesifik pada masa lampau. Alih-alih, penciptaan tersebut adalah penciptaan yang bersifat kontinu, tanpa memiliki permulaan yang mutlak pada masa lampau. Dengan demikian, seperti yang telah ditekankan oleh para filosof Muslim awal, tidak ada sesuatu pun yang kekal, dan tidak ada pula pemulaan yang mutlak bagi waktu.

Jadi, keberlanjutan emanasi dari Yang Maha pemurah yang mutlak, dan kekekalan penciptaan sang pencipta sejati menjadi jelas dari apa yang telah kami katakan. Namun, keberlanjutan emanasi dari sang pencipta dan diptaannya tidak menuntut adanya kekekalan wujud-wujud yang bersifat mungkin (kontigen). Singkatnya, dalam pandangan Mulla Sadra, tak ada sesuatu pun yang mendahului waktu dan gerak kecuali Tuhan.

Menurut Mulla Sadra, semua agama yang diturunkan Tuhan menyakini keterciptaan alam semesta, dalam arti keterciptaan temporal. Penciptaan tidak terjadi di dalam waktu, tetapi terjadi bersama waktu. Dalam kenyataannya, waktu adalah ukuran gerak transubstansi universal. Alam semesta bisa dipandang sebagai serangkaian tak terbatas ciptaan-ciptaan yang berkelanjutan. Dalam pandangan Mulla Sadra, seluruh alam semesta tak lain adalah bagian-bagiannya, dan penciptaan [temporal] sebernarnya merujuk pada bagian-bagian tersebut, dan bukan pada keseluruhannya. “keseluruhan tidak memiliki eksistensi di samping eksistensi bagian-bagian. Bagian-bagian itu banyak sekali. Jadi, penciptaan [temporal] mereka adalah banyak”.

Perbedaan utama antara pandangan Mulla Sadra dan pandangan para sufi adalah bahwa lagi Mulla Sadra, keadaaan alam semesta pada saat kapan pun menjadi materi bagi bentuk-bentuk baru yang diberikan kepadanya oleh Tuhan, sedangkan bagi kaum sufi, alam semesta dimusnahkan dan diciptakan pada setiap saat. Yang pertama disebut “berbapakaian setelah berpakaian” dan yang kedua disebut “ berpakaian setelah melepaskan pakaian”.

 

Model-model Penciptaan Kosmologi Modern

Model Big Bang

Big Bang (Ledakan Besar)

Kosmologi saintifik bermula dengan makalah Eistein yang terkenal, “Cosmological Considenration on the General Theory of Relativity”. Dalam makalah itu, Eistein menerapkan teori relativitas umumnya pada alam semesta. Persamaan-persamaan Eistein mempunyai solusi-solusi yang berbeda, sesuai dengan distribusi-distribusi yang berbeda dari medan dan materi, tetapi teori itu sendiri tidak dapat memilih solusi yang tertentu. Di antara solusi-solusi tersebut, ada solusi yang memprediksikan sebuah alam semesta yang meluas dari kondisi yang ekstrem panas dan mampat pada t=0

Dari 1917 sampai dipresentasikannya hasil-hasil E. Hubble pada 1930-an, pandangan dominan adalah bahwa alam semesta kita ini adalah alam semesta yang statis. Ada dua model statis yyang kita miliki; alam semesta tertutupnya Eistein dan alam semestanya de Sitter yang terbuka tak terbatas dan kosong.

Pada 1929 Alexander Friedman, dan pada 1927 George Lemaitre, menyuguhkan solusi-solusi persamaan-persamaan eistein yang mengindikasikan perluasan alam semesta. Esitein mula-mula menolak solusi Friedman karena prediksi singularitasnya, tetapi pada 1923 dia menerima solusi tersebut.

Pada 1929, Hubble mencatat suatu pergeseran merah dalam spektrum-spektrum galaksi-galaksi, yang proporsional dengan jarak mereka dari galaksi kita. Ini ditafsirkan sebagai “efek Doppler”, yang berarti bahwa galaksi-galaksi sedang berada dalam keadaan menjauh dari galaksi kita dengan kecepatan yang sebanding dengan jarak mereka. Artinya, alam semesta ini meluas.

Pada 1940-an, sebagian orang termasuk Fred Hoyle, Herman Bondi, dan Thomas Gold, meyuguhkan versi-versi yang berbeda dari apa yang disebut “teori steady state” (teori keadaan tunak), yang mengasumsikan bahwa alam semesta adalah homogen secara spasial maupun temporal. Artinya, ia bersifat eksternal. Hoyle secara eksplisit menyebutkan bahwa penciptaan tidak bisa dijelaskan secara kausal dan bahwa ditetapkannya suatu pemulaan bagi alam semesta bertentangan dengan semangat penyelidikan ilmiah. “adalah bertentangan dengan semangat penyelidikan ilmiah untuk memandang efek-efek yang bisa diamati sebagai muncul dan sebab-sebab yang tak diketahui oleh sains dan ini pada prinsipnya secara tidak langsung menyatakan adanya penciptaan pada massa lampau.

Selama 1950-an, teori Big Bang dan teori steady state sangat populer. Ditemukannya radiasi latar belakang gelombang mikro pada 1965 memberi dukungan yang kukuh kepada teori Big Bang dan melemahkan teori steady state.

Pada akhir 1960-an, beberapa orang sarjana, terutama Hawking dan penrose, membuktikan bahwa dalam asumsi-asumsi yang sangat beralasan, model-model kosmologi yang diatur oleh Relativitas umum memperlihatkan suatu singularitas t=0, yang berarti bahwa alam semesta tentunya telah bermula dalam suatu singularitas ruang waktu. Dentuman besar bisa digabungkan dengan waktu yang tak terbatas, yang membawa kepada alam semesta yang beroslilasi, yakni serangkaian tak terbatas perluasan-perluasan yang diikuti oleh penyusutan-penyusutan. Alam semesta yang berosilasi populer dikalangan sebagian fisikawan dan kosmologi, tetapi ia menjadi kurang populer karena alasan-alasan fisika.

Reaksi-Reaksi terhadap Model Alam semesta Big Bang Standar

Ada enam reaksi utama terhadap model Big Bang dari alam semesta:

  1. Creation ec nihilo. Penafsiran teistik di atas kosmologi Big Bang standar adalah menurut W. L. Craig doktrin klasik creatio ex nihilo: bahwa pada suatu waktu di masa lalu, tuhan mewujudkan alam semesta dengan suatu sebab material dan membentuk kosmos menurut rancangannya. Argumen bagi adanya Tuhan bisa diungkapkan dalam bentuk-bentuk silogisme berikut; a) apa pun yang eksis, berarti memiliki sebab; b) alam semesta eksis; c) karena itu, alam semesta memiliki sebab. Penafsiran atas Big Bang ini disambut baik oleh Paus Pius xll pada 1951 dan sebagian saintis, filosof, dan teolog di seluruh dunia Muslim dan Kristen menerimanya dengan antusias. Sebagai conto, Ted Peters melihat doktrin creatio ex nihilo dalam teologi sebagai “cocok” dengan problem t=0 dalam kosmologi Big Bang. Dia mengatakan,: jika mengidentikan konsep penciptaan dari ketiadaaan dengan titik awal waktu atau barangkali dengan sumber singularitas, kita memiliki kecocokan yang mencukupi, yang dengan itu kita bisa melanjutkan diskusi lebih jauh. ”
  2. Singularitas dengan penyebab. Reaksi menonjol lainnya terhadap Big Bang dikemukakan oleh mereka yang melihat Big Bang sebagai pendukung paham teisme. Seperti dikatakan oleh paul Davies, “singularitas adalah temuan sains, yang paling dekat dengan supernatural. Orang-orang ini telah mencoba mengeleminasi singularitas pada t=0 dengan berbagai trik fisika dan matematika, termasuk berbagai teori gravitasi kuantum. Di sini terdapat model-model dengan ruang waktu latar belakang di mana alam semesta muncul sebagai fluktuasi kuantum vakum, dan model-model di mana ruang waktu muncul karena kebetulan murni dari sebuah ruang tanpa batas.
  3. Singularitas tanpa sebab. Beberapa orang sarjana menerima singularitas dan adanya permulaan waktu bagi alam semesta, tetapi mereka mengingkari bahwa penciptaan alam semesta memrlukan penyebab. Q. Smith, misalnya, meyakini bahwa alam semesta, termasuk singularitas awal, yang muncul dalam wujud ketiadaan, tanpa sebab: tidak ada alasan untuk menyakini bahwa ada argumen kuat, argumen posteriori ataupun argumen bagi penyebab big bang. Dengan demikian kita mencapai sebuah kesimpulan umum, tidak ada filsafat kosmologi big bang yang menjadikan beralasan untuk menolak tesis fundamental kosmologi big bang bahwa alam semesta eksis tanpa sebab.
  4. Kebergantungan ontologis kepada tuhan. Beberapa orang sarjana menyakini bahwa doktrin creatio ex nihilo tidak mengimplikasikan keterciptaan temporal; alih-alih, ia mengimplikasikan kebergantungan ontologis terhadap tuhan. Dengan demikian, singularitas pada t=0 hendaknya tidak diidentikan dengan doktri creatio ex nihilo. Dalam katakata Arthur Peacocke:

Penekanan utama dalam doktrin penciptaan Yahudi-Kristen terletak pada kebergantungan dan ke mungkinan semua entitas dan kejadian, selain Tuhan sendiri: ia menggambarkan hubungan abadai antara tuhan dan alam, dan bukan tentang permulaan Bumi ataupun seluruh  alam semesta pada satu titik waktu.

Ian Barbour memiliki pandangan yang sama. Dia menulis, “doktrin penciptaan sebenarnya bukan mengenai permulaan temporal, melainkan tentang hubungan dasar antara alam dan Tuhan”. K. Polkinghorne juga memiliki pandangan yang sama, “teologi mungkin saja bisa hidup dengan teori fisika yang mana pun sebab penegasan bahwa Tuhan adalah pencipta bukanlah pernyataan bahwa pada satu waktu tertentu. Dia melakukan sesuatu, melainkan bahwa pada semua waktu Dia menjaga alam dalam kewujudan. ”

 

  1. Creatio Continua. Dalam 40 tahun terakhir, gagasan lama tentang penciptaan berkelanjutan (creatio continua) telah dihidupkan kembali dalam berbagai pengertian. Creatio continua merujuk pada gagasan perubahan di dalam materi yang sudah ada. Dalam kata-kata lan G. Barbour, “penciptaan berkelanjutan mengungkapkan tema imanensi dan partisipasi dalam alam yang berlanjut. Tuhan membangun di atas apa yang sudah ada; tiap; tiap level wujud memerlukan struktur level-level yang lebih rendah”.

Creatio continua juga berarti berkelanjutan penciptaan orisinal dari ketiadaan. Seperti dikatakan oleh Wolfhart pannenberg:

Formula creatio continua mempraanggapkan konsepsi ketat creatio ex nihilo dalam hal sejauh ia mencirikan kegiatan pelestarian oleh Tuhan sebagai kelanjutan penciptaan dari ketiadaan. Karena alasan ini saja, gagasan penciptaan berkelanjutan tidak bisa diperlawankan dengan formula creatio ex nihilo.

Bagi Philip Hefner, penciptaan merujuk tidak hanya kepada penciptaan orisinal, tetapi juga mencakup pemeliharaan berkelanjutan oleh Tuhan atas alam:

Penciptaan bagi teologi Kristen sama sekali tidak terbatas pada protologi. Ia tidak terbatas pada apa yang terjadi di permulaan ketika waktu untuk pertama kalinya diciptakan. Penciptaan juga merujuk kepada pemeliharan terus-menerus oleh Tuhan atas alam. Setiap saat dari eksistensi alam bergantung pada rahmat tuhan yang tersu-menerus.

 

Kalimat terakhir mengingatkan kita kepada Sufi Mulla Sadara.

Creatio continua berarti bahwa pada setiap saat, alam semesta ini bergantung pada Tuhan, tak peduli apakah ada permulaan mutlak atau tidak. Dalam kata-kata Keith Ward:

 

Big Bang tidak memiliki signifikasi teologis sedikit pun. Tidak menjadi soal apakah alam berawal dengan sebuah dentuman ataukah ia mulai dengan cara lain sama sekali. Mungkin saja ia sudah ada selamanya. Para teolog selamanya sepakat bahwa hal itu tidak penting. Ketika mengatakan bahwa Tuhan “menciptakan” alam semesta, Anda hanya memaksudkan bahwa segala sesuatu betapapun lamanya ia telah ada selalu bergantung, pada setiap saat, kepada Tuhan. Hanya itulah yang Anda maksudnya. Sisayangkan bahwa sebagian fisikawan menggunakan kata “penciptaan “ ketika sebetulnya yang mereka maksud adalah “asal-usul alam” alam semesta. Penciptaan tidaklah di pemulaan. Ia terjadi sekarang dan selalu terjadi.

 

Dia juga mencatat, “tetapi gagasan yang lebih memuaskan tentang penciptaan adalah bahwa setiap saat memlihara alam semesta, sehingga setiap saat adalah saat penciptaan. ”

Creatio continua , merujuk pada creatio ex nihilo yang terus menerus. Ini dicontohkan, misalnya, oleh teori steady state-nya Hoyle dan rekan-rekannya, di mana terjadi penciptaan materi yang berkelanjutan, dari ketiadaan. Seperti dikatakan Bondi, “ Di mana-mana dan di sepanjang waktu terjadi penciptaan materi secara berkelanjutan, munculnya atom-atom hidrogen dan ketiadaan.

  1. Sebagian orang mengakui temporalitas alam semesta, tetapi mereka percaya pada kekekalan hukum-hukum fisika dan beranggapan bahwa hukum-hukum tersebut cukup memadai untuk menjelaskan terjadinya alam semesta. Paul Davies memerinci pendirian ini:

Kemungkinan bahwa dengan adanya hukum-hukum fisika, alam semesta bisa muncul secara spontan, bersandar pada eksistensi sebelumnya dari hukum-hukum fisiska ini. Dengan adanya hukum-hukum tersebut, alam semesta dapat memelihara dirinya sendiri. Tetapi dari mana datangnya hukum-hukum itu?

….hukum-hukum tersebut secara logis telah ada sebelum alam semesta. Seandainya tidak demikian, niscaya kita harus mengandaikan bahwa seluruh paket, yakni alam semesta plus hukum-hukumnya, muncul begitu saja ke dalam eksistensi, tanpa ada alasan apa pun. Jadi, saya berpendapat bahwa hukum-hukum tersebut memiliki semacam eksistensi, platonik yang transenden dan nirwaktu.

Spekulasi Kosmologis Kuantum

Sebagaimana telah kami sebutkan, torema-teorema singularitas mengindikasikan bahwa semua model alam semesta yang mengembangkan yang memuas asumsi-asumsi beralasan yang tertentu bermula dengan suatu singularitas, di mana kerapatan dan temperatur menjadi tak terbatas dan persamaan-persamaan Eistein tidak lagi sahih. Einstein sendiri memiliki tilikan berikut mengenai singularitas awal:

 

Dalam kerapatan-tinggi medan dan materi, persamaan-persamaan medan dan bahkan variabel-variabel medan yang masuk ke dalamnya tidak memiiliki singnifikasi yang nyata. Karena itu, kita tidak boleh mengasumsikan kesahihan persamaan-persamaan untuk kerapatan-tinggi medan dan materi, dan kita tidak boleh menyimpulkan bahwa “permulaan ekspansi” haruslah berarti suatu singularitas dalam pengertian matematis. Apa yang harus kita sadari adalah bahwa persamaan-persamaan tersebut mungkin tidak bisa dilanjutkan pada daerah-daerah seperti itu.

 

Untuk mengatasi rintangan ini, sebagian orang telah berargumen bahwa selagi kita mundur kepada singularitas, ketika kita melangkah melampaui waktu Planck, maka detik-detik 10-43 yang pertama dari alam semesta awal, alam semesta menjadi ultra-mikroskopik dan efek-efek mekanika kuantum menjadi penting. Dengan demikian, kita harus menggunakan teori gravitasi kuantum yang sepatutnya. Ada harapan bahwa teori ini tidak akan melibatkan singularitas-singularitas.

Selama tiga dasawarsa terakhir, model standar Big Bang telah digantikan oleh model-model di mana alam semesta muncul karena kebetulan  murni, dari sebuah kevakuman kuantuk atau dari sebuah ruang-waktu yang tanpa batas. Di sini kami hendak mengemukakan secara ringkas mengenai sebagian dari model-model ini.

  1. Pada 1973, Edward Tryon menyarankan bahwa alam semesta kita bermula sebagai fluktuasi kuantum vakum-kevakuman dari sebuah ruang yang besar di mana alam semesta kita berada.
  2. Pada 1980-an awal, Alexander Vilenkin dari Universitas Tufts memperkenalkan sebuah model di mana alam semesta diciptakan melalui sesuatu efek terowongan kuantum terowongan dari suatu keadaan tanpa ruang waktu klasik ke sebuah ruang de-sitter.
  3. Pada 1983, Hartle dan Hawking menyarankan sebuah model di mana singularitas awal dihindari dengan cara menjadikan waktu tidak begitu terdefinisikan dengan baik di alam smesta yang dini. Berangkat dari persamaan Wheele-Dewitt mereka mencoba menyusun fungsi gelombang alam semesta yang mereprentasikan amplitudo bagi penciptaan alam semesta dari efek baur kuantum yang terbatas. Dari model mereka, diagram ruang-waktu bermula bukan dari satu titik tunggal, tetapi dari sebuah permukaan yang melengkung yang tanpa batas. Artinya, alam semesta mereka memiliki masa lalu yang terbatas tetapi tanpa singularitas awal. Dalam model alam semesta tanpa batas ini, tidak ada permulaan bagi alam semesta, dan karenannya Hawking melihat bahwa tidak ada sisa perkerjaan yang mesti dilakukan oleh sang pencipta. Dalam kata-kata Hawking. “tidak akan ada singularitas-singularitas di mana hukum-hukum sains tidak berfungsi dan tidak ada pinggiran ruang-waktu di mana orang harus berpaling kepada tuhan atau suatu hukum yang baru untuk memassang kondisi-kondisi batas bagi urang waktu”. Ditemapat lain dia mengatakan, “Namun, jika alam semesta benar-benar mewadahi dirinya sendiri sepenuhnya, tanpa perbatasan ataupun pinggiran, ia tidak akan memiliki awal ataupun akhir, maka di mana tempat bagi sang pencipta? ”

Namun, seperti ditunjukkan oleh Don Page, keberatan Hawking tidak berlaku manakala kita beranggapan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan memeliharanya, sebagaimana diyakini oleh agama-agama monoteis, bukannya sekadar campur tangan di permulaan saja. Hawking mengakui bahwa adanya pinggiran bagi uruang-waktu berimplikasi adanya tuhan, yang merupakan hal yang di yakini oleh para teolog Muslim awal. Namun, dia memisahkan diri dari pendirian mereka dengan menginkari adanya pinggiran ini. Sekalipun demikian, seperti ditunjukkan oleh John Polkinghome, kondisi “tanpa batas”-nya Hawking sendiri adalah sebuah kondisi batas. Kosmolog-kosmolog lainnya (semisal Linde dan Penrose) telah menetapkan kondisi-kondisi perbatasan yang lain.

 

Doktrin Kosmologi Islam versus Model-Model Kosmologi Modern

Aliran-aliran pemikiran Islam menyangkut penciptaan bisa diringkas dalam kategori-kategori berikut:

  1. Kepercayaan para teolog pada keterciptaan temporal alam semesta.
  2. Kepercayaan para filosof pada kekekalan alam dan kebergantungan ontologisnya kepada Tuhan.
  3. Pandangan kaum Sufi dan Mulla Sadra mengenai penciptaan alam secara terus-menerus (continual recreation).

 

Semua pandangan ini terdapat dalam aliran-aliran pemikiran kosmologi yang ada sekarang ini di kalangan kosmolog, teolog, dan filosof. Sebagai, contoh, keterciptaan temporal alam semesta disambut dengan sukacita oleh E. Whitacker, fisikawan Inggris terkemuka, pada 1951; dewasa ini, ia dipertahankan dengan serius oleh fisikawan H. Ross dan filosof W. L. Craig. adalah hal yang menghibur bahwa bahkan orang-orang seperti Hawking, yang mengingkari keterciptaan temporal alam semesta, memiliki pemahaman yang sama dengan pemahaman para teolog Muslim mengenai alam semesta yang diciptakan. Demikian pula, pandangan para filosof Muslim tentang kebergantungan ontologis alam kepada Tuhan juga memiliki oleh beberapa saintis, teolog, dan filosof masa kini (misalnya P. Hodgson dan A. Peacocke). Sama halnya, doktrin penciptaan terus berkelanjutan dari para sufi dan Mulla Sadra digemakan dalam tesis penciptaan terus-menerus dari beberapa teolog Kristen masa kini meskipun dalam pengertian yang berbeda-beda. Pandangan yang paling dekat dengan pendangan Mulaa Sadra adalah pandangan K. Ward.

Akhirnya, gagasan tentang adanya alam jamak yang dikesankan oleh beberapa ayat Al-Quran dan tradisi Islam muncul dalam kerja beberapa kosmolog modern, yang tidak dengan sendirinya merupakan orang-orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi menyakini gagasan ini, entah karena alasan-alasan fisika ataupun untuk menghilangkan kebutuhan akan Tuhan. Gagasan alam jamak telah dimunculkan dalam kosmologi modern dalam beberapa konteks (reduksi fungsi-fungsi gelombang alam semesta, model alam semesta yang berosilasi, prinsip antrogi, dan sebagainya).

Salah satu dari konteks-konteks yang paling baru adalah skenario chaotic inflationary. Dalam skenario ini, alam semesta berawal dalam keadaan kacau (chaos). Kemudian, beberapa daerahnya mengalami inflasi dan jumlah inflasi tersebut berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lainnya. Tiap-tiap daerah yang terinflasi menyerupai sebuah gelembung dengan kondisi-kondisi yang mulus. Alam semesta tempat kita hidup adalah satu gelembung di antara delembung-gelembung yang lain, dengan serangkaian khusus konstanta-konstanta fundamental. Dalam versi chaotic inflationary-nya Andrei Linde, inflasi merupakan proses yang secara potensial berwareproduksi. Fluktuasi-fluktuasi yang dihasilkan oleh inflasi menyebabkan terjadinya inflasi-inflasi lebih jauh dalam sub-subdaerah yang kecil dari gelembung-gelembung yang sedang mengalami inflasi. Keseluruhan jaringan alam-alam semesta gelembung yang mengalami inflasi tidak perlu memiliki permulaan. Tentu saja, skenario inflasi yang tak terbatas ini tidak bisa dites dengan pengamatan, dan dalam skenario ini, alam semesta berbeda di luar ufuk pengamatan kita yang dimungkinkan. Dengan demikian, tidaklah mungkin untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal-usul seluruh alam semesta.

Ilustrasi Teori Big Bang

Kesimpulan

Menurut pendapat saya, terdapat banyak kebingugan dan kekeliruan menyangkut masalah penciptaan, terutama di kalangan kosmologi modern. Ini, dalam pandangan saya, adalah hasil kurang nya pemahaman filosofis mereka. Masalah penciptaan bukanlah perkara fisika semata-mata. Ia juga memerlukan perenungan teologis dna filosofis. Di sini saya ingin meringkaskan sebagian dari kesalahan-pemahaman-kesalahpahaman yang merata di kalangan praktisi kosmologi modern.

Pemakaian kosmologi Big Bang untuk mengukuhan ataupun mengingkari keterciptaan temporal adalah kesalahpahaman yang jelas mengenai kosmologi maupun penciptaan (seperti dipahami dalam teologi dan filsafat).

Kita masih belum mendapati penyatuan yang berhasil antara teori kuantum dan Relativitas umum, yakni teori gravitasi kuantum yang konheren. Semua kerja yang ada menyangkut kosmologi kuantum didasarkan pada asumsi-asumsi yang dianggap sahih ketika kita mendapatkan teori tersebut. Namun, seperti ditunjukkan oleh Isham, tidaklah jelas apakah:

Relativitas bisa dikuantifikasi dengan cara yang selama ini dilakukan. Penyatuan relativitas umum dengan teori kuantum bisa dicapai tanpa melakukan perubahan-perubahan konseptual yang radikal pada salah satunya. Konsep-konsep ruang, waktu, dan materi yang umum tetap utuh di daerah panjang Planck (planck length). Konsep probabilitas bida diperluas kepada kosmologi kuantum tanpa memasuki problem-problem konseptual.

Permulaan yang diimplikasikan oleh model-model Big Bang tidaklah dengan sendiriya merupakan permulaan yang mutlak, sebab: a) singularitas awal diprediksi oleh teori-teori yang ada sekarang, yang bagaimanapun tidak sahih pada Big Bang; dan b) bahkan seandainya ada permulaan mutlak bagi alam, sains tidak akan pernah bisa mengungkapkannya. Dalam kata-kata Saint Thomas Aquinas, “kita berpegang pada iman, dan tidaklah bisa dibuktikan dengan demonstrasi bahwa alam tidak selamanya ada dengan alasan bahwa kebaruan alam tidak bisa didemonstrasikan oleh alam sendiri. Dan dalam kata-kata J. M. Zycinski, “Tidak ada sarana fisika ataupun filosofis yang memungkikan kita untuk membuktikan pada saat sekarang ini bahwa alam semesta kita muncul dari ketiadaan  yang secara ontologis bisa dipahami. Alasanya adalah bahwa kita tidak bisa mengatakan apa yang terjadi sebelum waktu Planck (kira-kira 10-4 detik setelah terjadinya Big Bang), dan kita tidak pernah bisa sampai pada t=0. Jadi, indentifikasi singularitas awal dengan creatio ex nihilo adalah meragukan. Seperti dikatakan oleh Hawking dan Ellis, “Hasil-hasil yang kita peroleh mendukung gagasan bahwa alam semetas bermula di suatu waktu tertentu di masa lalu. Akan tetapi, titik aktual penciptaan, yakni singularitas, berada di luar lingkup hukum-hukum fisika yang diketahui sekarang ini”.

Semua model Big Bang mengasumsikan materi yang panas dan mampat secara tak terbatas plus hukum-hukum fisika tertentu. Jadi, seperti ditunjukkan oleh Isham, model-model tersebut menggambarkan “penciptaan alam semesta dari satu titik awal”, bukannya suatu “penciptaan dari ketiadaan”. Dengan demikian, Big Bang sebenarnya adalah suatu perubahan, bukannya penciptaan.

Vakum yang dibicarakan oleh para kosmolog kuantum adalah suatu keadaan khusus medan-medan kuantum yang tunduk pada banyak kendala (constrain), termasuk prinsip-prinsip mekanika kuantum dan prinsip-prinsip logika. Jadi, ia tak boleh dicampur-adukkan dengan ketiadaan metafisik yang diimplikasikan dalam creatio ex nihilo.

Big Bang yang disimpulkan dari perluasan alam semesta yang terjadi sekarang hanya bisa mengindikasikan permulaan satu alam-alam kita sendiri. Mungkin sekali telah ada alam-alam lain sebelum alam yang ada sekarang, atau bisa saja ada alam-alam lain di samping alam yang ada sekarang, sebagaimana diklaim oleh sebagian dari model-model inflasi. Muthahhari, filosof terkemuka Iran, mengemukakan masalah ini dengan anggun. Dia menulis, “para fisikawan mungkin benar dalam perkataan mereka bahwa alam semesta tidak eksis 10 miliar tahun yang lalu, alam tidak eksis dengan hukum-hukum yang ada sekarang. Namun, bagaimana kita tahu bahwa sebelum ini tidak ada alam lain dengan hukum-hukum yang berbeda. Dan, dalam kata-kata Peter Hodgson, fisikawan nuklir Inggris, “singularitas kosmik tampaknya menajadi batas akhir sains. Singularitas ini tidak dengan sendirinya merupakan awal alam semesta: mungkin saja sebelumnya telah terjadi kontraksi”.

Beberapa orang kosmolog kontemporer telah bersikap sangat arogan dalam mengemukakan klaim-klaim yang besar. Sebagai contoh, beberapa orang kosmolog mengklaim bahwa mereka bisa menjelaskan alam semesta secara lengkap hanya dengan sains, dan bahwa alam diciptakan oleh dirinya sendiri. Seandainya kita memiliki teori kuantum yang berhasil dan lengkap tentang gravitasi, klaim-klaim tersebut, dalam suatu pengertian, bida dibenarkan. Namun, kita tidak memiliki teori seperti itu; alih-alih, kita memiliki sketsa-sketsa yang sangat spekulatif tentang sifat-sifat umum yang didakwakan dari teori ini yang didasarkan pada pengetahuan fragmenter kita yang ada sekarang. Chris Isham telah menyatakan hal ini dengan anggun:

 

Masalah-masalah konseptual utama muncul ketika orang mencoba menerapkan teori kuantum pada alam semesta sebagai suatu keseluruhan. Masalah ini demikian berat sehingga banyak fisikawan teoretis yang sangat dihormati mengangap bahwa seluruh permasalahan kosmologi kuantum telah dipahami secara keliru.

Dengan sendirinya dapat dikatakan bahwa teori-teori kuantum tentang alam semesta sangat bersifat spekulatif dan tidak memiliki status keilmiahan seperti yang dimiliki oleh, katakanlah, bahkan cabang-cabang yang lebih eksotis dari fisika partikel elementer yang modern.

Ketika teori utama kita, semisal teori kuantum, memiliki problem-problem konseptual dan kita tidak mendapati perkawinan yang berhasil antara teori kuantum dan Relativitas umum, adalah tidak bijaksana untuk membuat kesimpulan-kesimpulan yang konklusif dari teori-teori tersebut. Astrofisikawan Amerika, J. Bahcall, telah mengemukkakan hal ini dengan jelas:

Secara pribadi, saya merasa bahwa adalah lancang untuk memercayai bahwa manusia  bisa menentukan seluruh struktur temporal alam semesta, evolusinya, perkembangan dan nasib akhirnya dari nano detik pertama penciptaan hingga 1010 tahun terakhir dengan basis tiga atau empat tahun yang tidak diketahui secara akurat dan diperselisihkan di kalangan ahli. Saya anggap hal itu sebagai hampir-hampir merupakan sikap yang tidak tahu diri.

Ilmuwan-ilmuwan besar fisika bersikap sangat rendah hati dan berhati-hati manakala berbicara tentang asal-usul alam semesta. Sebagai contoh, pada 1930, fisikawan terkemuka J. J. Thomson memberikan peringatan berikut:

Saya kira ini adalah peringatan agar orang tidak menggangap terlalu serius membuat spekulasi-spekulasi tentang apakah masa lampau yang terbatas atau masa depan yang terbatas dari alam semesta didasarkan pada fisika saat ini.

Peringatan ini diberikan pada saat teori-teori utama fisika, yakni Relativitas Umum dan mekanika kuantum, dianggap tak bisa diragukan lagi, dan akhir sains tampaknya telah terlihat, serta teorema ketidaklengkapan Godel belum tiba digelanggang. Menurut teorema Godel, dalam sistem aksiomatik yang mana pun mencakup arit matika, terdapat pernyatan-pernyataan yang kebenaran atau kekeliruaannya tidak bisa diputuskan di dalam sistem tersebut. Kosmologi saintifik adalah sistem yang demikian bersifat matematis. Jadi, kita tidak bisa mengharapkannya untuk menjawab semua pertanyaan kosmologi kita. Problem-problem konseptual serius dalam mekanika kuantum plus ketidak mampuan para fisikawan, sejauh ini, untuk memberikan perumusan yang koheren tentang gravitasi kuantum plus adanya teorema Godel membuat kita perlu menghindari klaim-klaim konklusif yang mana pun mengenai asal-usul alam semesta. Beberapa fisikawan (di antara mereka ada yang percaya kepada Tuhan dan ada yang tidak) menyakinii bahwa sains sendiri pada akhirnya akan menyelesaikan masalah ini. Dalam kata-kata Ian G. Barbour:

Juga tak mungkin membayangkan suatu permulaan waktu ataupun rentang waktu yang tak terbatas. Keduanya tidak sama dengan apa pun yang pernah kita alami. Saya akan setuju bahwa pilihan teori-teori bisa dilakukan atas dasar-dasar saintifik saja, dan bahwa perbedaan antara mereka hanya memiliki kepentingan yang bersifat sekunder dilihat dari kacamata agama.

 

Akan tetapi, saya tidak percaya bahwa sains saja akan bisa menyelesaikan masalah menyangkut permulaan mutlak alam semesta meskipun saya setuju dengan Barbour bahwa sala satu dari dua hal tersebut (temporalitas atau atemporalitas alam semesta) hanya memiliki kepentingan yang bersifat sekunder dilihta dari kacamata agama.

Secara pribadi, saya merekomendasikan strategi berikut: kita harus menjelajahi dalam semesta kita melalui sains sejauh yang bisa kita lakukan, tetapi kita harus menghindar dari mengemukakan klaim secara mutlak tentang asal-usul alam semesta atas dasar-dasar fisika. Filsafat dan teologi bisa menyelamatkan kita dari  tindakan mengemukakan klaim-klaim saintifik yang lemah dan berlebih-lebihan, dan bisa memberi kita kerangka metafisika yang layak bagi sains kita dan landasan bagi wujud kita. Dalam kerangka ini, deskripsi aspek-aspek fisik alam semesta diserahkan kepada penyelidikan ilmiah, tetapi penjelasan ultimata tentang alam semesta diberikan oleh Tuhan. Robert J. Russell meyatakan hal ini dengan anggun:

Apakah asal-usul alam semesta sebagaimana yang kita ketahui melibatkan suatu adiruang kuantum sebelumnya, atau apakah alam semesta memiliki permulaan yang mutlak 15 miliar tahun yang lalu, alam semesta tetaplah bersifat kontingen: tampaknya ia tidak memiliki dasar-dasar untuk mewujudkan dirinya-sendiri. Ia tidak menawarkan sebuah penjelasan yang ultimat tentang megapa pertama-tama sesuatu itu ada, dan karenanya ia juga tidak menunjuk pada sesuatu yang menjadi dasar keberadaan segala makhluk yaitu Tuhan.

Leave a Reply

Close Menu