PENCIPTAAN ALAM SEMESTA DALAM ALQURAN

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA DALAM ALQURAN

Dewasa ini umat Islam dan para ulamanya, terutama para penafsir Alquran, menerima begitu saja pandangan yang mengatakan bahwa Alquran menyebut penciptaan alam semesta sebagai tindakan ex-nihilo (oleh Allah) -atau penciptaan dari ketiadaan (Ed.). Itu artinya, mereka menggunakan temuan ilmiah terbaru untuk merekonstruksi kisah penciptaan dari ayat-ayat Alquran seputar topik ini, tidak seperti dalam Kitab Kejadian (AI-Kitab) yang memuat semua ayat tentang penciptaan di satu bagian khusus. Kisah penciptaan dalam Alquran dapat diringkas dalam ayat-ayat berikut (perhatikan bahwa di dalam Alquran, letak ayat-ayat berikut ini tersebar di banyak tempat):

 

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutup malam dengan siang yang mengikutinya (malam) dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintangbintang (yang masing-masing) tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah, (hak) menciptakan dan mengatur hanyalah milik Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 54)

 

Katakanlah: “Patutkah kamu kafir kepada Yang Menciptakan bumi dalam dua masa? Lalu (patutkah) kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? Dialah Tuhan semesta alam. Dia menciptakan gunung-gunung yang kokoh di atas bumi. Dia memberkahinya dan menentukan kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa yang berlaku sama bagi siapa saja yang meminta. Kemudian Dia beralih ke langit yang ketika langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Turutilah perintah-Ku dengan sukarela atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami menuruti perintah-Mu dengan sukarela”. Maka Dia menjadikan tujuh langit dalam dua masa dan mewahyukan perintah serta urusannya pada tiap-tiap langit. Dan Kami hiasi langit dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami pelihara dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. (Alquran, Surah Fuṣṣilāt/41: 9-12)

 

Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, kemudian Dia menuju langit, lalu dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Alquran, Surah aI-Baqarah/2: 29)

 

Tidakkah orang-orang kafir mengetahui bahwa langit dan bumi dulunya menyatu, tetapi kemudian Kami pisahkan keduanya? (Alquran, Surah aI-Anbiyā’/21: 30)

 

Fakta yang disebutkan Alquran bahwa alam semesta diciptakan dalam enam ‘hari’ tampak menyiratkan awal mula terjadinya alam semesta. Namun, sebagaimana yang ditunjukkan para cendekiawan Muslim besar Abad Pertengahan (Ibn Rusyd, Ibn Sīna, dan beberapa yang lain), di bawah pengaruh besar pemikiran Yunani, seseorang yang memiliki pandangan kosmologi Islami pastilah berlandaskan asumsi bahwa peristiwa penciptaan alam semesta terjadi pada waktu yang sangat lampau.

Dengan melakukan pembacaan singkat terhadap beberapa ayat ‘kosmologi’ di atas, tidak sulit memahami bahwa persoalan intinya adalah bagaimana menafsirkan ayat-ayat tersebut. Salah satu sebab mengapa menafsirkan ayat-ayat tersebut sangat sulit adalah karena dalam kurun waktu yang sangat lama, para cendekiawan Muslim telah memperdebatkan apakah Alquran menyatakan bahwa bumi diciptakan sebelum atau setelah terciptanya lapisan-Iapisan langit. Ada dua ayat yang tampaknya bertentangan tentang hal ini, yakni AI-Baqarah (2): 29 (sebagaimana dikutip di atas) dan ayat Yang manakahyang lebih sulit antara penciptaanmu (manusia) dengan penciptaan langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempumakannya, dan Dia menjadikan malam gelap gulita, dan menjadikan siang terang benderang. Dan setelah itu, barulah Ia menghamparkan bumi (Alquran, Surah an-Nāzi’āt/79: 27-30).

(Sebagaimana yang telah kita tahu, An-Najjar dan At-Taftanazi masih bersikeras bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu.)

Alquran juga memuat informasi mengenai subtopik kosmologi lain, yaitu eskatologi. Menyelidiki dan mempelajari ayat ayat Alquran tentang akhir zaman merupakan hal yang cukup menarik meskipun upaya ini akan menggiring kepada pandangan bahwa ayat-ayat tersebut sangatlah metafisik. Beberapa ayat yang sering dibahas dalam konteks ini di antaranya adalah sebagai berikut:

 

Pada hari ketika Kami gulung langit-langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Seperti halnya ketika memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 104)

 

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Alquran, Surah al-Ḥajj/22: 1)

 

Pertama, ada banyak keberatan ilmiah terhadap wacana tentang kemunculan gempa ‘global’ yang bisa menghancurkan bumi dan manusia dalam waktu yang sangat singkat. Bukankah kita membutuhkan penyebab astronomis yang bersifat katastropik, seperti komet besar atau benda-benda angkasa lain yang lebih besar untuk menerjang bumi? Bukankah manusia saat ini juga telah memiliki pengetahuan dan peralatan untuk mendeteksi benda-benda seperti itu sehingga dapat memprediksi peristiwa yang akan terjadi bertahun-tahun yang akan datang dan memungkinkan sekelompok kecil manusia untuk melarikan diri (dan mengungsi sementara waktu atau secara permanen setelah membangun koloni yang mapan di bulan atau planet lain)? Mengenai argumen ini, Alquran tampaknya akan mengesampingkan skenario bencana astronomi (misalnya, dalam Surah al-A‘rāf/7: 187)

Kedua, dapatkah dibayangkan hari kiamat yang akan menghancurkan bumi dan manusia kemudian meninggalkan alam semesta sisanya (selain bumi) dalam keadaan utuh? Apakah akan ada hari kiamat khusus untuk spesies-spesies berbeda yang ada di alam semesta (dengan asumsi bahwa kita ternyata tidak sendirian)?

Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, para cendekiawan Islam dan penafsir Alquran sering terpengaruh oleh pengetahuan pada zaman mereka, sehingga saat ini kita menemukan referensi mengenai Big Crunch (alam semesta akan runtuh untuk kembali seperti keadaannya semula yang bersifat singular dengan asumsi bahwa kepadatan massa-energi lebih besar dibandingkan bilangan tertentu yang dihitung berdasarkan teori kosmologi) dalam kaitannya dengan ayat Alquran al-Anbiyā’ (21): 104 (sebagaimana yag telah disebutkan di atas). Perhatikan bahwa penafsiran ini juga akan dikritik dengan argumen tandingan sejenis mengenai Hari Kiamat yang tidak akan terjadi sebelum puluhan miliar tahun mendatang (ketika Alquran menjanjikan Hari Penghakiman yang datang secara tiba-tiba).

Beberapa contoh ini menunjukkan alasan mengapa seseorang tidak bisa menyimpulkan sebuah pandangan kosmologi secara jelas dari Alquran (saja) dan mengapa sebagian besar cendekiawan (pada Abad Pertengahan) menggunakan perspektif Yunani (dalam perkembangan terakhir) dalam teori-teori sains.

Leave a Reply

Close Menu