PENCETUS TEORI EVOLUSI: ANTARA DARWIN DAN WALLACE

PENCETUS TEORI EVOLUSI: ANTARA DARWIN DAN WALLACE

Charles Robert Darwin (1809-1882), ilmuwan besar asal Inggris, selama ini dikenal sebagai satu-satunya pencetus teori evolusi. Namun akhir-akhir ini, kedudukannya sebagai pencetus tunggal teori kontroversial ini mulai goyah. Banyak bukti tertulis yang muncul kemudian  menunjukkan bahwa Darwin bukanlah yang pertama. Dalam proses pemunculan teori ini, Darwin dituduh melakukan aksi plagiarisme. Beberapa gagasan dari teori yang ditulis dalam On the Origin of Speciesnya konon diilhami oleh ide orang lain. Ironisnya, bukan Darwin semata yang dituduh terlibat dalam hal ini, tapi juga beberapa ilmuwan ternama yang kebetulan adalah teman-teman baiknya. Benarkah demikian?

Darwin mengawali karir ilmiahnya dalam usia yang masih sangat belia. Dia baru berusia 22 tahun ketika ikut berlayar pada 1831 di atas kapal Beagle, sebuah kapal penelitian yang melakukan eksplorasi ilmiah ke wilayah lautan Atlantik, Pasifik, dan perairan Australia selama 4 tahun. Rasa ingin tahu yang besar telah mendorongnya untuk melakukan penelitian atas berbagai fenomena alam yang ditemuinya. Minat yang kuat ini membentuknya menjadi seorang ilmuwan yang disegani.

Rupanya, fosil adalah objek pertama yang membuatnya jatuh hati. Pilihannya terhadap objek ini kemungkinan terjadi karena sepanjang pelayarannya dia membaca buku baru karya Charles Lyell, Principles of Geology. Lyell, kala itu, adalah ilmuwan terkemuka. Teori-teori liar yang dikemukakannya dalam buku itu memesona Darwin. Menurut Lyell, benua, daratan, dan pegunungan tidak dibentuk oleh air bah pada zaman Nuh, tapi oleh hujan, angin, gempa bumi, serta kekuatan alam lainnya. Lyell kemudian menjadi orang yang paling berpengaruh dalam mewarnai karir ilmiah Darwin.

Sekembalinya dari ekspedisi, di tengah kesibukannya menyusun laporan serta meneliti spesimen-spesimen yang dikoleksinya, Darwin mulai mengembangkan ide tentang evolusi, antara lain tentang asal muasal jenis. Dalam proses pencariannya, dia menulis beberapa esai, di antaranya On Transmutation of Species (1837). Dia meyakini beberapa hal yang waktu itu masih tergolong baru dan kontroversial, seperti keanekaragaman hayati tidak muncul melalui sekali penciptaan, dan bahwa fosil adalah petunjuk terjadinya perkembangan dan pergantian penghunian jenis-jenis kehidupan dari waktu ke waktu.

Pada Oktober 1838, ketika secara tidak sengaja membaca karya Thomas Malthus yang ditulis tahun 1803 bertitel An Essay on the Principle of Population, Darwin merasa menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang tengah memusingkannya. Dalam buku itu, Malthus menulis bahwa seandainya tak ada perang, kelaparan, dan penyakit, maka dunia akan penuh sesak oleh manusia. Namun kenyataannya tidaklah begitu. Ada suatu mekanisme yang bekerja di sini. Dia menduga bahwa hal tersebut terjadi karena adanya peran seleksi. Jika dugaan ini diterapkan di alam, maka alam akan menyeleksi varian-varian sehingga hanya varian yang dapat menyesuaikan diri dengan alam saja yang dapat bertahan, sedangkan sisanya akan musnah. Pemikiran macam ini membawa Darwin pada pencerahan tentang apa yang tengah dipikirkannya. Dia pun menulis, “Akhirnya aku menemukan pijakan teori untuk mulai bekerja.”

Tapi mungkin karena terlalu berhati-hati, atau juga karena gangguan kesehatan yang sering dialaminya, penulisan teori itu berjalan lambat. Selama empat tahun pertama, Darwin hanya menulis sebuah ringkasan setebal 35 halaman (1842), menyusul dua tahun kemudian sebuah esai setebal 230 halaman (1844). Yang terakhir ini sempat ia tunjukkan kepada beberapa temannya. Tapi dua karya itu bukan hasil akhir. Darwin yang hati-hati ilu masih tetap merasa bahwa teorinya harus dilengkapi dengan bukti-bukti yang lebih banyak sebelum dipublikasikan. Sementara itu, dia juga sibuk menelaah koleksi-koleksi yang diperolehnya dari perjalanannya bersama “Beagle”. Lebih dari sepuluh tahun kemudian, tepatnya 1855, dia mengaku hendak mulai menulis teorinya.

Tapi kenyataan bicara lain. Jauh di seberang lautan, di Kepulauan Indonesia yang terpisah oleh jarak lebih dari setengah keliling bumi, kenalan dan juniornya yang bernama Alfred Russel Wallace (1823-1913) ternyata sedang memikirkan hal yang sama. Wallace adalah seorang naturalis. Tidak seperti Darwin yang dibiayai orang tuanya ketika ikut ekspedisi di atas Beagle, Wallace membiayai perjalanannya dari hasil menjual spesimen. Dia pernah melakukan studi di Amazon (1848-1852), tapi kemudian menghabiskan waktunya di Indonesia yang membuatnya merasa menemukan garis imajinatif yang memisahkan binatang-binatang Indonesia Barat dan Timur. Garis yang memotong sepanjang Selat Lombok sampai ke Selat Makassar tersebut akhirnya dinamai sesuai namanya, Garis Wallace.

Jika Darwin merenungkan teori-teorinya di atas kapal ilmiah, di lingkungan kampus, atau di rumahnya yang tenang di Kent, Inggris, Wallace melakukannya di tempat-tempat terpencil, penuh risiko, jauh dari lingkungan akademis, dan di sela-sela kesibukannya menangkap, menguliti, dan mengeringkan hasil buruan. Hanya sumber inspirasi mereka yang sama, yaitu Principles of Geology dan An Essay on the Principle of Population. Buku yang disebut pertama ia bawa sepanjang perjalanannya, sedangkan yang kedua konon dibacanya di sebuah perpustakaan umurn di Inggris.

Dan inilah yang terjadi. Ketika sedang melewati hari-harinya di sebuah gubuk kecil di kaki bukit berhutan lebat, tidak jauh dari Kuching, Sarawak, ilham itu datang dan Wallace mulai menulis. Kali ini agak berbeda, karena yang dia tulis bersifat teoritis. Dia menguraikan sepuluh fakta yang sangat dikenal dalam bidang geografi dan geologi, antara lain bahwa lingkungan yang mirip akan menghasilkan jenis yang mirip, dan tidak ada jenis atau kelompok jenis yang muncul dua kali. Pada kesimpulan, disebutkan bahwa evolusi harus berlangsung sepanjang waktu agar dapat dihasilkan jenis-jenis yang berbeda.

Wallace memberi judul esainya ilu “On the Law which has Regulated the Introduction of New Species” dan mengirimkannya ke sebuah majalah ilmiah yang kemudian menerbitkannya pada September 1855. Lantaran ditulis di Sarawak, esai itu dikenal juga dengan nama The Sarawak Law.

Ketika membaca esai ini, Darwin berkomentar, “Aku bisa melihat bahwa kita memiliki pemikiran yang sama, dan dalam batas tertentu telah sampai pada kesimpulan yang sama.” Namun demikian, Darwin juga mengingatkan suatu hal, “Musim panas ini adalah tahun ke-20 sejak aku membuat catatan pertama tentang bagaimana dan dengan cara apa jenis dan varietas bisa berbeda satu sama lain. Sekarang, aku sedang menyiapkan publikasinya walaupun aku tahu subjeknya sangat luas.”

Tapi Wallace tak tinggal diam. The Sarawak Law menuntunnya pada pemikiran berikutnya. Pikirnya, jenis-jenis berubah menjadi jenis baru karena perubahan atau suksesi alam. Jika perubahan itu berlangsung terus-menerus maka dunia akan penuh dengan berbagai makhluk hidup. Tapi kenyataannya tidak demikian. Salah satunya karena ternyata jenis juga dapat punah dan menjadi fosil sebagaimana kata teori dalam buku Principles of Geology. Artinya, di alam ada pula proses yang mengatur kepunahan jenis. Tapi bagaimana proses itu terjadi, ia masih mempelajarinya.

Jawabannya datang pada Februari 1858 sewaktu Wallace berada di Maluku. Waktu itu dia tengah terbaring sakit akibat serangan malaria, dan kemudian teringat akan buku Malthus, Principles of Population, yang pernah dibacanya sekitar 12 tahun lalu. Inspirasi dari buku itu menuntunnya untuk menulis sebuah esai berjudul “On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” Esai ini berbicara tentang adanya kecenderungan terjadinya varietas-varietas yang berkembang menjauhi bentuk aslinya. Karena dibuat di Ternate, esai ini kemudian dikenal dengan nama Letter from Ternate. Ada versi dari penelitian lain yang menyatakan bahwa esai itu sebetulnya bukan ditulis di Ternate, melainkan di Dodinga, sebuah desa kecil di Halmahera.

Darwin menjadi orang pertama yang membaca esai itu karena Wallace mengirim kepadanya disertai permintaan agar diteruskan ke Lyell apabila layak untuk diterbitkan. Betapa terkejutnya Darwin; apa yang digelutinya selama lebih dari 20 tahun, sekarang sudah diringkas oleh Wallace menjadi sebuah esai yang tebalnya hanya beberapa halaman. Tak pelak, Darwin pun frustasi. Kepada Lyell dia menulis dengan nada kecewa, “Tak pernah aku jumpai kebetulan yang begitu mengejutkan. Dengan begitu, seluruh keaslian gagasanku, apapun nilainya, akan terpukul.” Sebelumnya, Darwin pernah mengaku bahwa dia sudah menyusun teorinya dalam bentuk buku yang terdiri dari 11 bab. “Lebih baik aku bakar buku itu daripada aku dianggap berjiwa rendah oleh Wallace atau siapa pun,” lanjutnya.

Lyell menyadari potensi munculnya suatu krisis. Atas nama ilmu pengetahuan, Darwin tak boleh dikorbankan, pikirnya. Lyell lalu menghubungi temannya, Sir Joseph Dalton Hooker, Direktur Kebun Raya Kew. Berdua mereka lalu menyusun rencana. Darwin akan dibujuk supaya mau mempublikasikan beberapa karya sebelumnya. Sementara itu, Linnean Society, suatu perkumpulan ilmiah bergengsi yang secara berkala mengadakan pertemuan untuk membahas karya-karya ilmiah para ilmuwan dan peneliti, juga akan diintervensi supaya baik karya Darwin maupun esai Wallace dapat dibacakan bersama dalam pertemuan itu.

Skenario ini berhasil. Pada 1 Juli 1858, sebanyak 28 anggota Linnean Society beserta 2 undangan lain berkumpul untuk, salah satunya, mendengar dan membahas karya Darwin dan Wallace. Sayangnya, orang yang paling berkompeten untuk itu tidak hadir. Darwin sedang menghadiri pemakaman anaknya, sementara Wallace yang kurang dikenal sedang berkutat dengan buruannya di Manokwari.

Untungnya, semua berjalan sesuai rencana. Darwin akhirnya luput dari kemungkinan “dipermalukan” oleh Wallace yang lebih muda dan tidak lebih dari seorang pengumpul spesimen. Tindak lanjut dari pertemuan tersebut telah memberi Darwin legitimasi yang kuat bahwa teori evolusi berdasarkan seleksi alam telah lahir dari Darwin dan Wallace secara bersamaan. Kini, Darwin bisa bekerja dengan tenang. Dia merampungkan edisi pertama dari On the Origin of Species by Means of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life, dan menerbitkannya pada tahun berikutnya. Badai kritikan dan bahkan kutukan langsung berkecamuk. Dia dituduh menyangkal Tuhan. Tapi, meskipun begitu, dia memperoleh gelar pencetus teori evolusi, sementara Wallace dilupakan orang.

Sekarang, 150 tahun sudah berlalu. Tapi cerita di balik pertemuan Linnean Society pada 1 Juli 1858 ternyata masih menyisakan perdebatan. Bagaimana tidak; Darwin mengaku menerima Letter from Ternate pada 18 Juni 1858, padahal esai itu ditandatangani Wallace pada Februari 1858. Artinya, butuh waktu empat bulan bagi makalah itu untuk sampai ke Inggris dari Ternate. Ini sedikit janggal. Dengan kondisi pos waktu itu, Letter from Ternate seharusnya sudah sampai di tangan Darwin paling lambat satu minggu sebelum 18 Juni. Buktinya, sebuah surat lain yang kebetulan dikirim Wallace ke Leicester pada waktu yang sama tiba di Leicester tanggal 3 Juni.

Mengapa makalah yang dikirim untuk Darwin ke Kent harus terlambat dua minggu? Sayang, jawabannya akan tetap menjadi misteri karena surat serta amplop  yang menyertai Letter from Ternate itu telah hilang. Hilangnya surat beserta amplopnya ini agaknya disengaja karena Darwin biasanya sangat rapi dalam menyimpan korespondensinya. Lalu, mengapa dokumen-dokumen itu harus dihilangkan?

Darwin telah menggumuli teori evolusi lebih dari 20 tahun. Meski begitu, tetap saja ada beberapa hal yang belum terjawab, dan ternyata Letter from Ternate yang dikirim Wallace menjawab hal itu. Pada 8 Juni 1858, Darwin tiba-tiba menulis surat kepada Sir Joseph Dalton Hooker, Direktur Kebun Raya Kew, dan mengatakan bahwa kunci teori itu sudah ditemukan. Tentu saja dia tidak mengatakan kalau jawaban itu diperoleh dari makalah Wallace. Jadi yang mungkin dia lakukan adalah menyembunyikan hal itu dengan mengarang cerita bahwa makalah Wallace baru diterimanya setelah 18 Juni. Dan untuk menyempurnakannya, surat berserta amplop yang bercap pos ia lenyapkan.

Lyell dan Hooker, seperti dikemukakan di atas, kemungkinan besar memang turut campur tangan dalam memuluskan langkah Darwin untuk memenangkan persaingan ini. Seperti diketahui, Wallace telah meminta Darwin agar menunjukkan makalahnya kepada Lyell untuk diterbitkan. Darwin memang memenuhinya, tapi dia juga ingin mengingatkan Lyell bahwa jika paper itu diterbitkan, maka usahanya selama ini akan sia-sia. Untuk itu Darwin berbicara kepada Lyell dengan nada sedikit mengancam, bahwa dia akan membakar bukunya. Lyell langsung terpengaruh meski belum melihat buku yang dimaksud Darwin itu. Selain itu, Lyell juga sadar akan potensi kekalahan Darwin seandainya makalah Wallace langsung dipublikasikan. Jadi bersama Hooker, dia berusaha menghalangi terbitnya makalah Wallace. Kemudian dilakukan suatu cara yang santun, yaitu membacakan kedua makalah secara bersama-sama pada pertemuan Linnean Society.

Akan tetapi, tampaknya Darwin sendiri tidak siap. Tulisan yang dibacakan dalam pertemuan Linnean Society saat itu adalah daur ulang dari karya-karya lamanya, yakni ringkasan dari manuskrip tentang jenis yang ditulisnya pada 1839 dan disalinnya pada 1844, serta ringkasan dari surat yang dikirim ke Prof. Asa Gray di Boston, Amerika, pada Oktober 1857. Lalu dimana buku setebal 11 bab yang hendak dibakar itu? Mengapa Darwin tak membuat saja ringkasannya; bukankah isinya lebih baru? Ada dua kemungkinan dalam hal ini. Pertama, Darwin tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan bukunya sehingga manuskrip tentang jenis dianggap sudah cukup untuk mewakili buku yang sedang dibuatnya. Kedua, buku setebal 11 bab yang hendak dibakarnya itu memang tidak ada, belum ada, atau masih dalam angan-angan Darwin.

Pertemuan Linnean Society sendiri diwarnai manipulasi. Lyell dan Hooker baru memberitahu perihal makalah Darwin dan Wallace sehari sebelum pertemuan berlangsung. Nadanya agak mendesak, dengan tujuan agar sekretaris perkumpulan menyelipkan agenda tambahan untuk itu. Karena naskah Darwin dan Wallace baru diserahkan bersama surat itu maka isinya baru diketahui peserta pada saat pertemuan berlangsung. Jelas ini mempengaruhi jalannya diskusi. Banyak peserta bertanyatanya, sebagian bahkan terdiam karena topiknya terlalu baru untuk ukuran waktu itu. Ditambah lagi, ketika pertemuan berlangsung, karya “daur ulang” Darwin-lah yang lebih dulu dibacakan, mengakhirkan makalah Wallace. Karena itu dapat dikatakan bahwa orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah Lyell dan Hooker.

Mengapa Wallace harus mengirimkan Letter from Ternate ke Darwin; mengapa pula Wallace tidak langsung mengirimkannya ke redaksi jurnal atau ke penerbit? Bukankah hal yang demikian ini sudah pernah dilakukannya saat mengirim naskah Sarawak Law? Mungkin saja jawabannya adalah karena Wallace hendak menunjukkan rasa hormatnya kepada Darwin yang merupakan seniornya. Dari tanggapan Darwin atas Sarawak Law sebelumnya, Wallace tahu kalau Darwin tertarik dengan topik yang dibahasnya itu. Mungkin karena itulah, saat Letter from Ternate selesai ditulis, Wallace merasa perlu mengirimkannya ke Darwin terlebih dahulu. Terlihat di sini betapa sejarah ilmu pengetahuan akan berkata lain seandainya Wallace tidak mengirim Letter from Ternate kepada Darwin.

Leave a Reply

Close Menu