PANDANGAN ISLAM TENTANG HEWAN

PANDANGAN ISLAM TENTANG HEWAN

Serial Quran dan Sains

Alquran memberi manusia kekuatan untuk memperlakukan hewan dengan baik, untuk tidak menyakiti dan merendahkannya. Hewan, bersama dengan semua ciptaan Allah, dipercaya menyembah Allah, walaupun tidak dengan cara seperti yang manusia lakukan. Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ۝

Tidakkah engkau (Muḥammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (Alquran, Surah an-Nūr/24:  41)

Secara eksplisit Alquran memperbolehkan manusia untuk mengonsumsi daging hewan. Walaupun banyak umat muslim yang memilih menjadi vegetarian, yang hanya makan produk tumbuhan, Alquran tidaklah mempersoalkan hal tersebut. Hewan jenis tertentu hanya dapat dimakan apabila disembelih dengan cara tertentu. Di sisi yang lain, beberapa binatang dan produknya dinyatakan oleh Alquran sebagai barang haram, misalnya saja daging babi, darah, dan daging yang disembelih bukan atas nama Allah. Binatang pemangsa di darat dan burung berparuh bengkok dan tajam juga diharamkan. Akan tetapi, hewan-hewan laut, meski bentuk tubuhnya menyerupai hewan darat yang haram, tetap saja dihalalkan.

Di antara hewan yang banyak disebutkan di dalam Alquran adalah jenis-jenis hewan mamalia, burung, serangga, reptil, dan amfibi. Di kelompok burung ada burung hupu atau hud-hud yang berperan sebagai peninjau yang membawa balik berita mengenai sebuah negeri bernama Saba’ dalam kisah Nabi Sulaiman. Ada juga burung gagak yang Allah kirim kepada putra Adam -dipercaya bernama Qabil- untuk mengajarinya cara menguburkan mayat saudara yang dibunuhnya. Ada pula burung puyuh (salwā) yang diturunkan Allah kepada umat Nabi Musa pada masa pelarian. Menu ini merupakan salah satu hidangan surgawi yang dianugerahkan kepada mereka-menu satunya lagi bernama mann. Alquran juga menyebut burung-burung yang Allah utus untuk meluluhlantakkan tentara bergajah yang hendak menyerbu Ka’bah.

Unta juga merupakan hewan yang luar biasa. Allah melalui Alquran meminta manusia untuk merenungkan bagaimana ia diciptakan. Cara minum unta menjadi permisalan para penghuni neraka yang meminum air mendidih dengan rakus. Alquran juga menyebut keledai dalam kisah Uzair yang diwafatkan Allah selama seratus tahun, dan dihidupkan kembali setelah itu. Kitab ini juga menyebut kuda tunggangan yang menjadi salah satu perhiasan duniawi yang paling diinginkan oleh manusia dalam hidupnya.

Sapi disebut dalam kisah tiga nabi, yaitu Ibrahim, Yūsuf, dan Musa. Disebutkan bahwa Ibrahim menghidangkan sapi muda panggang untuk menjamu malaikat yang menjumpainya. Sapi juga disebut dalam mimpi penguasa Mesir yang kemudian mampu ditakwilkan oleh Yūsuf. Musa juga meminta Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi ketika salah satu dari mereka terbunuh dan tidak diketahui pembunuhnya.

Adapun kambing disebut dalam kisah Nabi Daud yang diminta menjadi pengadil ketika dua orang bersaudara berselisih perihal kepemilikan hewan tersebut. Sementara itu, babi selalu digambarkan sebagai hewan yang haram dikonsumsi sekaligus dicela sifat-sifatnya. Dalam Alquran Allah melaknat orang-orang yang durhaka dengan merubah rupa mereka menjadi babi dan kera. Adapun anjing, binatang yang dibenci oleh sebagian orang, juga banyak disebut di sana, salah satunya adalah anjing bernama Qiṭmīr.

Ular disebut sebanyak lima kali di dalam Alquran; kesemuanya berkaitan dengan kisah penjelmaan tongkat Nabi Musa menjadi ular ketika dilempar. Adapun serangga, semut misalnya, dimasukkan dalam kisah Nabi Sulaiman. Sementara itu ikan dikisahkan dalam Alquran menelan Nabi Yunus yang sedang melarikan diri dari kaumnya. Semua ini menunjukkan bahwa hewan adalah makhluk Tuhan seperti halnya manusia. Bedanya, Allah menjadikan mereka tunduk kepada manusia dan dapat diambil manfaatnya sebagai wujud dari kebesaran dan keagungan Allah. Itu semua karena Allah telah menganugerahi manusia apa-apa yang berada di langit dan di bumi (al-Jāṡiyah/45: 13)

Meski ada lebih dari 200 ayat di dalam Alquran yang berbicara tentang hewan, baik secara umum maupun menunjuk secara spesifik jenis tertentu, namun kehidupan hewan tidak menjadi tema yang mendominasi Alquran. Uraian mengenai hewan juga tidak terlalu rinci, kendati penduduk asli Jazirah Arab pada pasa pra-Islam banyak menggunakan hewan sebagai permisalan, misalnya ayam jantan yang menggambarkan manusia yang ringan tangan kepada sesama, kadal yang merepresentasikan pengkhianat, burung puyuh yang mewakili orang dungu, dan singa yang menggambarkan pemberani.

Alquran juga menyebut jenis-jenis hewan dengan ungkapan dābbah, bentuk tunggal dari ad-dawāb yang berarti makhluk melata -terkadang dimaknai manusia dan hewan secara umum. Dalam Surah al-Ḥajj/22: 18, an-Nūr/24: 45 dan Fāṭir/35: 28, dijelaskan bahwa apa saja yang ada di langit dan bumi bersujud kepada Allah. Sebagian dari hewan-hewan itu berjalan di atas perutnya, sebagian lagi berjalan dengan dua kaki, dan sebagian lainnya dengan empat kaki. Allah menciptakan hewan-hewan itu beragam, baik jenis maupun warnanya. Ini semua membuktikan kekuasaan Allah yang tak terhingga. Dalam Surah Hūd/11: 6, Allah menegaskan bahwa betapapun hewan-hewan itu amat beragam, namun tidak satu pun dari mereka lepas dari pengawasan dan pemeliharaan-Nya.

Kesetaraan di antara makhluk -dalam artian setara dalam statusnya sebagai makhluk Allah- sangat ditekankan Tuhan. Meski pada kenyataannya manusia jauh lebih mulia daripada hewan, namun di akhirat nanti keduanya akan dikumpulkan bersama oleh Allah. Apakah dalam posisi sejajar atau tidak, kita tidak pernah tahu. Ayat berikut menunjukkan hal demikian.

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ۝

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan (Alquran, Surah al-Anām/6: 38)

 

Kesetaraan banyak dibicarakan dalam Alquran antara manusia di satu pihak dan hewan di pihak lain. Ayat di atas menjelaskan bahwa hewan juga makhluk Allah, sama dengan manusia. Walau mereka mempunyai ciri, kekhususan, dan sistem kehidupan yang berbeda-beda, pada hakikatnya mereka sama dengan manusia di mata Allah. Manusia diwajibkan untuk mengingat hal itu; bahwa mereka semua adalah ummah. Ayat ini sudah sangat jauh melihat ke depan dalam implikasi moral dan ekologi di dunia ini.

Meski setara (dalam perlakuan), akan tetapi hewan itu sendiri secara fisik bila dibandingkan manusia memang masih kalah mulia. Hewan yang hina secara fisik menjadi tamsil bagi orang kafir. Perhatikan firman Allah berikut!

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ۝

Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka (Alquran, Surah Muḥammad/47: 12)

 

Beberapa ayat Alquran lainnya juga menyinggung perihal hewan; tentang bagaimana manusia harus memperlakukan hewan, kegunaan hewan bagi manusia, perilaku hewan yang patut ditiru manusia, dan banyak lagi lainnya.

Membicarakan hubungan kesetaraan antara manusia dengan hewan, Muḥammad Fazlur Rahman Anshari menulis demikian, “Segala yang di muka bumi ini diciptakan untuk kita, maka sudah menjadi kewajiban alamiah kita untuk menjaga segala sesuatu dari kerusakan, memanfaatkannya dengan tetap menjaga martabatnya sebagai ciptaan Tuhan, dan melestarikannya sebisa mungkin. Dengan demikian kita mensyukuri nikmat Tuhan dalam bentuk perbuatan nyata.”

Dalam Alquran banyak disebutkan nama-nama hewan, baik sebagai tamsil maupun model untuk memberi pelajaran dan petunjuk kepada manusia. Peran hewan dalam kehidupan manusia sejajar dengan sumber daya alam lainnya, seperti air dan tumbuhan, dan semuanya merupakan tanda-tanda keesaan Allah. Allah berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 164) 

 

Ayat di atas menegaskan bahwa hewan merupakan salah satu tanda keesaan dan kebesaran Allah, dan yang memahami hal tersebut hanyalah manusia yang dapat memikirkannya. Ayat tersebut juga bisa menjadi motivasi bagi manusia untuk memanfaatkan hewan-hewan untuk kepentingannya, salah satunya melalui proses yang dinamakan domestikasi hewan, dan juga tumbuhan tentunya. Domestikasi adalah proses penjinakan hewan dan penyesuaian hidup tumbuhan untuk berbagai keperluan hidup manusia.

Surah an-Naḥl/16: 5 berikut menjelaskan beberapa manfaat hewan,  baik hewan secara umum maupun satwa peliharaan secara khusus, bagi manusia.

فَقَدْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنبَاءُ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ۝ أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّن لَّكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِم مِّدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُم بِذُنُوبِهِمْ وَأَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ۝ وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا سِحْرٌ مُّبِينٌ۝ وَقَالُوا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ ۖ وَلَوْ أَنزَلْنَا مَلَكًا لَّقُضِيَ الْأَمْرُ ثُمَّ لَا يُنظَرُونَ۝

Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya, untuk kamu padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya (ke tempat penggembalaan). Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui (Alquran, Surah an-Naḥl‎/6: 5-8)

 

Ayat ini menegaskan bahwa kulit dan bulu binatang ternak boleh dimanfaatkan. Melengkapi kandungan ayat ini, Rasulullah melarang penggunaan kulit binatang liar, baik sebagai pakaian, penutup lantai, maupun pelana. Dalam sebuah hadis disebutkan,

Rasulullah melarang kami memakai cincin emas, minum dari wadah yang terbuat dari perak, menggunakan alas pelana yang terbuat dari sutra, mengenakan pakaian bercampur sutra yang didatangkan dari Qas -sebuah wilayah di Mesir-, mengenakan pakaian dari sutra, sutra kasar dan tebal, serta sutra halus (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari al-Barrā’ bin ‘Āzib) 

Menurut sebagian ulama, al-mayāṡir adalah sejenis karpet berbahan sutra yang dahulu biasa diletakkan di atas pelana kuda. Sebagian yang lain memahaminya sebagai alas di atas pelana berbahan kulit binatang buas. Jika aturan atau himbauan yang dikemukakan Nabi ini ditaati oleh semua orang, maka pembunuhan sia-sia terhadap beberapa jenis binatang liar demi meraih keuntungan dari kulitnya semata niscaya tidak terjadi.

Umat Islam diperbolehkan mengonsumsi daging binatang yang dihalalkan. Akan tetapi Rasulullah juga mensyaratkan sesuatu dalam proses perolehannya, yakni dengan disembelih. Dalam hadis disebutkan,

Ada dua pesan yang aku ingat betul dari Rasulullah. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan kita untuk berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka lakukanlah dengan cara yang baik, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, hendaklah salah satu dari kalian mengasah mata pisaunya dan membuat nyaman hewan yang akan disembelihnya (Riwayat Muslim dari Syaddād bin Aus) 

 

Rasulullah juga melarang kita mengikat hewan yang akan disembelih. Hanya saja larangan ini tidak terkait halal-haramnya hewan yang disembelih, melainkan berkaitan dengan etika dalam menyembelih hewan tersebut. Dalam sebuah hadis disebutkan,

Rasulullah berpapasan dengan seorang lelaki yang menginjakkan kakinya ke atas punggung seekor kambing sambil mengasah mata pisaunya, sedangkan hewan itu melirik dengan matanya ke arah lelaki itu. Kemudian beliau bersabda, “Mengapa tidak kau asah saja pisaumu sebelum ini? Sengajakah engkau ingin membuat kambingmu mati dua kali?” (Riwayat aṭ-Ṭabrāni dan al-Baihaqi dari Ibnu ‘Abbās)  

 

Islam mengajarkan pemeluknya untuk menyayangi binatang dan melestarikan kehidupannya. Di dalam Alquran Allah menekankan bahwa Dia telah menundukkan bagi kepentingan manusia apa saja yang ada di dunia ini.

وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ۝

Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir (Alquran, Surah al-Jāṡiyah/45: 13)

 

Namun demikian, ayat ini tidak sama sekali meligitimasi manusia untuk berbuat semaunya dan sewenang-wenang kepada makhluk-makhluk tersebut. Manusia tidak pula memiliki hak tak terbatas untuk menggunakan alam sehingga merusak keseimbangan ekologisnya.

Islam tidak membenarkan manusia untuk menyalahgunakan binatang untuk tujuan olahraga maupun sebagai objek eksperimen sembarangan. Ayat ini mengingatkan umat manusia bahwa Sang Pencipta telah menjadikan semua yang ada di alam, termasuk satwa, sebagai amanat yang mesti dijaga. Konsep Islam dalam memenuhi hak-hak binatang sudah jelas, misalnya bagaimana seharusnya  manusia memperlakukan binatang yang telah membantu kehidupannya. Konsep itu salah satunya terkandung dalam hadits-hadits berikut.

Suatu hari Rasulullah memboncengkanku (menaiki unta) di belakangnya, kemudian beliau membisikkan suatu percakapan yang sampai kapan pun tidak akan aku sampaikan kepada orang lain. Rasulullah, ketika hendak membuang hajat, selalu saja berjalan ke arah gundukan tanah atau kebun kurma yang lebat (agar tidak terlihat orang lain). Ketika beliau memasuki dinding-dinding milik sahabat Ansar. Tiba-tiba saja seekor unta menghampiri beliau dengan gemetaran dan bercucuran air mata. Bahz dan ‘Affan -dua perawi hadits ini-berkata, “Melihat hal itu Rasulullah tersedu-sedu dan berlinang air mata. Kemudian beliau mengelus-elus punuk dan tengkuk unta itu hingga kembali tenang. Beliau bertanya, “Siapa pemilik unta ini?” Seorang pemuda Ansar pun datang, “Unta itu milikku, wahai Rasulullah!” jawabnya. Rasulullah pun bertanya, “Tidakkah engkau takut kepada Allah terkait hewan ini yang telah Allah berikan kepadamu? Hewan ini mengadu kepadaku bahwa engkau membiarkannya kelaparan dan memaksanya bekerja keras!” (Riwayat Aḥmad dari ‘Abdullāh bin Ja’far)

 

Sesungguhnya Rasulullah melihat seekor unta yang sedang terikat sambil menggendong muatan (milik majikannya), lalu beliau bertanya, “Siapakah pemilik hewan ini? Tidakkah engkau takut kepada Allah berkaitan dengan hewan ini? Seharusnya engkau memberinya makan atau melepaskannya agar ia mencari makan sendiri!” (Riwayat aṭ-Ṭabrāni dari Ibnu ‘Umar)

 

Suatu ketika kami tengah dalam perjalanan bersama Rasululah. Kami terus saja berjalan pada malam hari, sampai menjelang akhir malam kamipun rehat. Kami semua terlelap sangat nyenyak; tidak ada tidur yang lebih nyenyak bagi seorang musafir melebihi yang kami alami. Begitu lelapnya tidur kami hingga hanya terik matahari yang mempu membuat kami terbangun. Orang yang pertama kali bangun adalah si A, lalu si B, lalu si C -Abū Rajā’ (salah seorang perawi hadis ini) menyebut dengan jelas nama tiga orang ini, namun ‘Auf (perawi di bawahnya) lupa- dan Umar bin al-khaṭṭāb adalah orang keempat yang bangun. Adapun Rasulullah, bila tidur, tidak ada yang berani membangunkannya sampai beliau bangun sendiri. Hal itu karena kami tidak tahu apa yang terjadi pada beliau dalam tidurnya -apakah sedang menerima wahyu ataukah tidak. Ketika Umar -seorang pria yang sangat perkasa- bangun dan melihat apa yang menimpa kami (bangun kesiangan), ia bertakbir dengan suara lantang. Ia terus saja takbir dengan lantang hingga Rasululah terbangun karenanya. Begitu beliau bengun, orang-orang mengadukan apa yang mereka alami kepada beliau. Beliau pun bersabda, “Tidak ada masalah -atau tidak mengapa-, lanjutkan perjalanan kalian!” Beliau lalu meneruskan perjalanan. Tak begitu jauh, beliau kembali berhenti dan meminta air untuk wudu. Beliau lalu berwudu dan mengajak para sahabatnya untuk salat berjamaah. Usai salat, beliau mendapati seseorang yang memisahkan diri dan tidak ikut salat bersama yang lain. “Wahai Fulan, mengapa engkau tidak salat bersama yang lain?” tanya beliau. Ia menjawab, “aku sedang berjunub, dan tidak ada air (yang bisa aku pakai untuk mandi).” Lantas beliau menjelaskan, “Kalau begitu, gunakanlah debu (untuk bertayamum), dan itu sudah cukup (untuk menghilangkan janabahmu). Kemudian Rasulullah melanjutkan perjalanan hingga para pengikutnya mengeluh kehausan. Rasulullah pun berhenti. Beliau memanggil seseorang -Abū Rajā’ menyebut nama jelas pria tersebut, namun ‘Auf lupa- dan Ali. Kepada keduanya Rasulullah berpesan, “Pergilah kalian berdua untuk mencari air!” Mereka pun berangkat dan berjumpa seorang wanita yang menunggang unta dengan dua kantung air di kanan-kirinya. Keduanya bertanya kepadanya, “Dimana ada air?” Wanita itu menjawab, “ Terakhir kali aku lihat air di sana, satu hari perjalanan dari tempat ini. Kaum pria desa kami pun pergi untuk mencari air”. Lalu keduanya berkata, “Kalau begitu, pergilah!” “Kemana?” tanya wanita itu. Mereka menjawab, “menghadap Rasulullah”. Wanita itu balik bertanya, “Menghadap pria yang disebut-sebut sebagai murtad (ṣābi’)?” Mereka menjawab, “Ya, pria itu lah yang kau maksud, pergilah!” kemudian kedua sahabat Nabi itu bersama wanita tersebut menemui Rasulullah. Keduanya menceritakan peristiwa yang baru mereka alami. Para sahabat lalu meminta wanita itu turun dari untanya. Kemudian Rasulullah meminta bejana air; beliau lalu memenuhinya dengan air dari mulut-mulut kantong air (milik wanita itu). Beliau mengikat lubang atas kantong dan melepas ikatan di bagian bawahnya. “minumlah kalian, dan minumilah hewan tunggangan kalian!” seru Rasulullah. Beberapa dari mereka pun minum dan beberapa lainnya meminumi tunggangan mereka. Setelah semuanya selessai, barulah beliau memberi seember air kepada orang yang tadi terkena janabah. “Pergi dan mandilah!” perintah beliau. Sementara itu, wanita tadi sambil berdiri terus saja mengamati apa yang para sahabat lakukan terhadap air miliknya. Demi Allah, wanita itu terperanjat -kami juga demikian; kami saksikan jumlah air dalam wadah milik wanita tadi lebih banyak dibanding sebelum air di dalamnya dituang Rasulullah. Rasulullah lalu bersabda kepada para sahabatnya, “Kumpulkanlah (bahan makanan) untuknya -sebagai imbalan atas air yang kalian gunakan!” Mereka pun bergegas mengumpulkan makanan berupa kurma, tepung, sawiq (campuran antara susu dan tepung) untuk wanita tersebut, dan memasukkannya ke dalam selembar kain. Mereka lalu menaikkan wanita itu ke punggung untanya, dan menaruh kain berisi bahan makanan tadi di depannya. Rasulullah berkata kepadanya, “Kau tahu bahwa kami tidak mengurangi sedikitpun air milikmu, tapi Allah-lah yang telah memberi kami minum”. Pulanglah wanita itu menemui keluarganya -ia datang terlambat. Mereka bertanya, “Wahai Fulanah, mengapa engkau datang terlambat?” Ia menjawab, “Sebuah keajaiban, aku bertemu dua pria yang kemudian membawaku menemui seseorang yang disebut-sebut murtad -ṣābi’. Laki-laki itu melakukan ini dan itu -menceritakan apa yang terjadi dengan panjang lebar. Demi Allah, dia adalah orang yang paling menakjubkan (membuatku sangat terkesan) di antara ini (langit) dan ini (bumi)”. Ia berkata demikian sambil memberi isyarat dengan mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya ke arah langit -mungkin ia bermaksud memberi isyarat yang berarti ‘antara langit dan bumi’, atau ia hendak bersaksi bahwa pria yang ditemuinya adalah benar-benar utusan Allah. Sejak saat itu, kaum muslimin selalu melindungi wanita tersebut dari gangguan kaum musyrik di sekelilingnya. Mereka (kaum muslim) pun tidak pernah mengganggu kaum terpencil di mana wanita itu berasal. Suatu hari ia berkata kepada kaumnya, “aku tidak yakin mereka (kaum muslim) sengaja membiarkan (tidak mengganggu) kalian. Tidakkah kalian mau masuk Islam?” mereka pun kompak menaati seruan wanita tersebut, dan bersama-sama masuk Islam. (Riwayat al-Bukhāri dan ‘Imrān)

 

Ketika berhenti di tengah perjalanan untuk sekadar beristirahat atau menunaikan salat, Rasul menganjurkan para sahabatnya agar mengurangi muatan pada hewan pemuat dan memberinya makan. Beliau juga memperingatkan bahwa binatang-binatang itu harus dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Suatu ketika beliau melihat seseorang duduk di atas punggung unta di tengah-tengah pasar sambil mengobrol dengan sesamanya. Beliau lantas menegurnya,

“Janganlah kalian jadikan punggung-pungung binatang peliharaanmu sebagai mimbar (untuk bercakap-cakap), karena Allah membuat mereka tunduk kepadamu supaya mereka membawamu pergi dari satu tempat ke tempat lain yang tidak dapat kamu capai kecuali dengan badan yang letih. Allah telah menjadikan untuk kalian tanah, maka selesaikanlah segala urusan kalian di sana-bukan di atas punggung binatang” (Riwayat Abū Dāwūd dari Abū Hurairah)

 

Islam mengajari manusia untuk membalas pelayanan yang telah diberikan oleh binatang-binatang mereka dengan memperlakukan binatang itu sebaik mungkin. Manusia diharuskan membantu memenuhi kebutuhan binatang peliharaan mereka. Islam mewajibkan manusia berinteraksi dengan binatang menurut cara yang dibenarkan karena mereka adalah juga ciptaan Allah. Sudah jelas bahwa  hewan tidak punya kemampuan untuk menuntut haknya dari manusia. Namun demikian, menurut perspektif Islam, seseorang wajib berbuat baik dan memperhatikan apa yang menjadi hak hewan. Dalam kerangka inilah Rasulullah melarang manusia membunuh hewan apa pun tanpa tujuan yang dibenarkan.

Barang siapa membunuh burung pipit tanpa alasan yang dibenarkan maka burung tersebut akan melapor kepada Allah pada hari kiamat. la berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Fulan telah membunuhku dengan sia-sia. Ia tidak membunuhku untuk suatu manfaat” (Riwayat Aḥmad, an-Nasā’i dan Ibnu Ḥibbān dari asy-Syūrāid bin Suwaid)

 

Dalam rangka mengajak manusia untuk menjadi penyayang semua mahluk yang ada di muka bumi, Nabi mengkaitkannya dengan pahala dan siksa. Beliau bersabda dalam beberapa hadisnya,

Orang-orang yang penuh kasih sayang akan dikasihi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Berkasih sayanglah kalian kepada siapa (dan apa) pun yang di bumi, niscaya yang di langit akan mengasihi kalian. Hubungan kekeluargaan adalah rangkaian dari Allah; barang siapa menyambung tali silaturahmi niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barang siapa memutus tali silaturahmi maka Allah akan memutusnya (dari rahmat-Nya) (Riwayat at-Tirmiżi dari Ibnu ‘Amr)  

 

Selain itu, Nabi mengajarkan bahwa sikap dan tindakan manusia terhadap binatang akan menentukan nasib mereka di akhirat, sebagaimana diriwayatkan dalam dua kesempatan terpisah berikut.

Seorang wanita disiksa Allah (pada hari kiamat) lantaran mengurung seekor kucing sehingga kucing itu mati. Karena itu Allah memasukkannya ke neraka. Kucing itu dikurungnya tanpa diberi makan dan minum, dan tidak pula dilepaskannya supaya kucing itu makan serangga-serangga bumi (dengan sendirinya) (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari ‎‘Abdullāh bin ‘Umar)

 

Ada seorang pria yang sedang berjalan, lalu ia merasakan haus yang sangat. Kemudian ia mendapati sebuah sumur, lalu ia mendekatinya dan minum dari air sumur tersebut. Ia pun beranjak meninggalkan sumur, ketika tiba-tiba ia mendapati seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya dan menjilati tanah akibat kehausan. Pria itu berkata, “Anjing ini benar-benar kehausan seperti yang aku alami tadi.” Maka ia turun ke sumur tadi, dan diisinya sepatunya dengan air. Ia menggigit sepatu itu dengan mulutnya hingga hausnya hilang, lalu ia menuangkan air di dalamnya ke mulut anjing itu hingga merasa segar kembali. Anjing itu pun bersyukur kepada Allah atas bantuan pria tadi, dan karenanya Allah mengampuni pria itu. Usai mendengar kisah ini para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan berbuat baik kepada hewan?” Beliau menjawab, “(Perbuatan baik) kepada setiap makhluk yang bernyawa pasti diberi pahala.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)  

 

Rasulullah melarang manusia berlaku kejam terhadap binatang, salah satunya dengan mengadu satu dengan lainnya. Dengan demikian, adu domba dan sabung ayam, misalnya adalah hal yang diharamkan oleh agama. Lomba melukai hewan, misalnya pertarungan antara banteng dan matador, adalah sama kejinya dengan mengadu hewan, dan karenanya juga diharamkan. Demikian pula membunuh binatang untuk sekadar mencari kesenangan. Mari kita perhatikan hadis berikut.

Pada suatu hari Ibnu ‘Umar bertandang ke rumah Yaḥyā ibn Sa‘id. Di sana ia mendapati seorang bocah yang merupakan salah satu putra Yaḥyā sedang mengikat seekor ayam dan melemparinya dengan batu. Ibnu ‘Umar bergegas mendekati ayam itu dan melepaskan ikatannya. Beberapa saat kemudian ia menemui Yaḥyā sambil memegang ayam dan bocah tadi. Ia berkata, “Wahai Yaḥyā, laranglah anakmu mengikat hewan ini untuk dibunuhnya! Sungguh, aku mendengar bahwa Rasulullah melarang para sahabat mengikat binatang atau makhluk hidup lainnya untuk tujuan dibunuh.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Ibnu ‘Umar)

 

Bila etika menyembelih hewan sudah dijelaskan dengan cukup rinci dalam banyak hadis, tidak demikian adanya dengan pemanfaatan hewan sebagai objek percobaan/penelitian. Untuk mengetahui hukum hal tersebut kita memerlukan kaidah-kaidah yang  ada di dalam disiplin ilmu fikih. Fikih yang merupakan ilmu yang menuntun umat Islam dalam menentukan hukum suatu persoalan, apakah diperbolehkan atau dilarang. Berdasarkan kajian-kajian fikih diperoleh keputusan bahwa jika eksperimen pada hewan bertujuan memperoleh pengetahuan yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan manusia dan/atau makhluk lainnya, maka eksperimen tersebut dapat disetujui; tidak bila didasarkan pada alasan yang tidak demikian.

Terkait penggunaan hewan sebagai objek eksperimen, fikih memberi rambu-rambu sebagai berikut.

  1. Menjadikan hewan sebagai objek eksperimen yang bersifat menyakiti, dan tindakan-tindakan lain yang mengakibatkan kebutaan atau cacat semisalnya pada hewan, hukumnya haram;
  2. Pengujian obat-obatan kepada hewan, sebelum obat itu dinyatakan aman bagi manusia, hukumnya boleh;
  3. Menjadikan hewan sebagai objek eksperimen yang sembarangan dan tanpa tujuan yang jelas hukumnya haram.

 

Selain membicarakan hewan peliharaan yang jinak, Alquran juga menyebut binatang liar. Meski hanya disebut sebanyak satu kali, yaitu pada Surah at-Takwīr/81: 5, namun penyebutannya tergolong unik. Itu karena hewan liar disebut dalam rangkaian kejadian-kejadian yang digambarkan terjadi pada hari kiamat.

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ۝ وَإِذَا النُّجُومُ انكَدَرَتْ۝ وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ۝ وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ۝ وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ۝

Apabila matahari digulung, Dan apabila bintang-bintang berjatuhan. Dan apabila gunung-gunung dihancurkan. Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan). Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan (Alquran, Surah at-Takwīr‎/81: 1-5)  

 

Hewan liar dan binatang lainnya sering disebut dalam ayat-ayat Alquran sebagai “binatang melata” atau “binatang yang berjalan di perutnya”. Hal ini dapat kita lihat di antaranya dalam Surah Fāṭir/35: 28 berikut, di mana binatang melata disandingkan dengan binatang ternak:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ۝

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun (Alquran, Surah Fāṭir/35: 28) 

 

Beberapa jenis binatang disebutkan secara spesifik dalam Alquran, di antaranya sapi. Bahkan, hewan ini terkadang disebut lebih spesifik lagi, misalnya dengan sebutan anak sapi, sapi betina, atau sapi jantan. Anak lembu disebut dalam kisah Nabi Musa saat membawa Bani Israil keluar dari Mesir. Dikisahkan, dalam perjalanan keluar Mesir mereka mengalami pergeseran kepercayaan, dengan menyembah patung anak sapi. Inilah bukti kekufuran Bani Israel terhadap ajaran Allah.

وَلَقَدْ جَاءَكُم مُّوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ۝ وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ۝

Dan sungguh, Musa telah datang kepadamu dengan bukti-bukti kebenaran, kemudian kamu mengambil (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.” Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!”( Alquran, Surah al-Baqarah/2: 92-93)

 

Anak lembu juga muncul dalam Surah (aż-Żāriyat/51: 26) dalam kisah Ibrahim; dan mimpi raja pada Surah Yūsuf/12: 43 dalam kisah Yūsuf.

Sementara itu kambing (betina) muncul dalam Alquran dalam kisah Nabi Daud (Ṣād/38: 23-24). Hal yang ditekankan dalam kisah ini adalah kejujuran dalam bekerja sama antara dua belah pihak atau lebih, dengan ilustrasi kambing sebagai komoditasnya. Babi disebut dalam Surah al-Baqarah/2: 173 dan al-Mā’idah/5: 3, yang memastikan keharaman mengonsumsinya. Adapun rincian mengenai halal-haramnya daging, baik daging binatang liar (yang diburu) maupun binatang ternak (yang disembelih), serta status dan cara kematiannya, dibahas dalam Surah al-Mā’idah/5: 3.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ۝

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridlai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 3)

 

Keledai muncul dalam Alquran sebagai permisalan orang yang buruk suaranya (Luqmān/31: 19) dan panik karena dikejar singa (al-Muddaṡṡir/74: 50-51). Hewan ini juga disebut bersama bagal dan kuda pada ayat yang membahas tentang banyaknya ciptaan Allah yang tidak diketahui manusia (an-Naḥl‎/16: 8). Kuda muncul di banyak ayat, baik sebagai tamsil atas kekayaan (Āli ‘Imrān/3: 14), tunggangan yang tangguh (Ṣād/38: 31-32; al-‘Ādiyāt/100: 1-2), dan sebagai komoditas dalam hukum yang mengatur harta rampasan (al-Ḥasyr/59: 6).

Unta disebut di banyak ayat misalnya sebagai padanan orang yang rakus (al-Wāqi‘ah/56: 55); unta juga disebut dalam kisah Salih (asy-Syu‘arā’/ 26: 155; asy-Syams/91: 13-14), sebagai komoditas dalam hukum yang mengatur pengaturan harta rampasan (al-Ḥasyr/59: 6); sebagai permisalan api neraka yang menyerupai iringan unta kuning (al-Mursalāt/77: 33). Unta juga disebut berkaitan dengan perihal hari kiamat (at-Takwīr‎/81: 4) dan perihal penciptaan (al-Gāsyiyah/88: 17).

Burung adalah hewan yang juga banyak disebut dalam Alquran. la disebut dalam mukjizat Nabi Isa (Āli ‘Imrān/3: 49; al-Mā’idah/5: 110); dalam penyebutan komunitas dalam binatang (al-An‘ām/6: 38); pemujaan dan ketaatan terhadap Allah (an-Nūr/24: 41; Saba’/37: 10; Ṣād/38: 19; al-Mulk/67: 19); dalam kisah peperangan melawan gajah (al-Fīl/105: 3); dan perihal kehidupan di surga (al-Wāqi‘ah/56: 21). Beberapa ayat di antaranya bahkan sudah lebih rinci dengan menyebut jenis burung, seperti gagak dalam kisah Habil dan Qabil (al-Mā’idah/5: 31) dan puyuh dalam kisah pelarian Nabi Musa dari Mesir (al-Baqarah!2: 57; al-A‘rāf/7: 160; Tāhā/20: 80). Salah satu ayat yang menyebut burung bahkan bisa jadi memberi referensi mengenai salah satu perilakunya yang spektakuler, yaitu migrasi. Migrasi adalah perpindahan populasi jenis hewan dalam jumlah besar ke tempat lain, dan kembali lagi ke tempat semula, untuk berbagai maksud, di antaranya menghindari musim dingin, mencari ketersediaan pakan, melakukan perkawinan, mengasuh anak, dan masih banyak lagi. Allah berfirman,

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ۝

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha melihat segala sesuatu (Alquran, Surah al-Mulk/67: 19)

 

Penelitian menemukan bagaimana beberapa jenis burung memperagakan kesempurnaannya dalam perilaku pergerakannya, misalnya dalam bermigrasi. Program migrasi sudah ada dalam kode genetika burung, dan itu menjelaskan bagaimana burung muda yang tak berpengalaman pun dapat bermigrasi dengan benar dan kembali lagi pada waktu yang sepertinya sudah dijadwalkan sebelumnya.

Seperti hewan-hewan yang disebut sebelumnya, ikan juga disebut dalam Alquran. Ikan muncul dalam  kisah pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidir (al-Kahfi/18: 61, 63) dan dalam kisah Nabi Yunus (aṣ-Ṣāffāt/37: 142). Serangga juga tidak luput dari perhatian Alquran. Beberapa jenis serangga disebutkan di sana, seperti nyamuk (al-Baqarah/2: 26) dan lalat (al-Ḥajj/22: 73), dua hewan mungil namun tidak seorang pun dapat membuatnya; lebah dan perikehidupannya (an-Naḥl‎/16: 68-69); belalang yang menjadi perumpamaan kondisi makhluk pada Hari Kebangkitan (al-Qamar/54: 7). Belalang juga disebut bersama dengan bangkai, darah, kutu, dan katak sebagai mukjizat Nabi Musa untuk menghukum Fir‘aun dan penduduk Mesir (al-A‘rāf/7: 133). Rayap juga disebut dalam kisah wafatnya Nabi Sulaiman (Saba’/34: 14). Laba-laba juga demikian; ia dijadikan perumpamaan rumah yang mengkhawatirkan (al-Ankabūt/29: 41). Ular banyak muncul dalam kisah Nabi Musa saat berhadapan dengan Fir‘aun dan penyihir-penyihirnya (Tāhā/ 20: 20; an-Naml/27: 10; al-Qaṣaṣ/28: 31).

Pada dasarnya hewan diciptakan untuk memenuhi keperluan manusia, demikianlah pesan yang dapat disarikan dari berbagai ayat. Burung puyuh, misalnya, menjadi pasokan makanan bagi Bani Israil dalam pengembaraan mereka di Gurun Sinai pada masa Nabi Musa (al-Baqarah/2: 57). Binatang ternak pun diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan, papan, sandang, dan transportasi (al-An‘ām/6: 142; an-Naḥl‎/16: 5-8, 66-69, 80; al-Ḥajj/22: 36; Muḥammad/47: 21-22; Yāsīn/36: 71-73; Gāfir/40: 79-80).

Ayat yang membicarakan berbagai binatang dalam bentuk metafora banyak ditemui dalam Alquran. Orang kafir, misalnya, diumpamakan binatang yang mengabaikan panggilan penggembalanya. Allah befirman,

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً ۚ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ۝

Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak mengerti (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 171)

 

Hewan juga dijadikan tamsil bagi manusia dan jin yang lalai dan tidak mau membuka hatinya untuk menerima ayat-ayat Allah. Allah befirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ۝

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 179)

 

Allah telah berjanji akan memasukkan mereka yang mirip hewan ini ke dalam neraka.

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ۝

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka (Alquran, Surah Muḥammad/47: 12)

 

Allah mengutuk mereka yang mengabaikan firman-Nya menjadi babi dan kera (al-Baqarah/2: 65; al-Mā’idah/ 5: 60). Mereka yang menolak tanda-tanda yang diberikan Allah diumpamakan seperti anjing (al-A‘rāf/7: 176).

Demikianlah uraian mengenai pandangan Islam terhadap hewan, dan bagaimana Alquran tidak melewatkan begitu saja penyebutan beberapa jenis hewan di dalam ayat-ayatnya. Uraian singkat ini menjadi pembukaan untuk melihat pola hubungan antara Islam dan hewan, baik yang masih liar maupun yang sudah didomestikasi manusia; suatu pola hubungan yang diatur dalam Alquran dan hadits Rasulullah.

Dikutip dari tafsir ilmi

This Post Has One Comment

  1. What’ѕ սp, eah thiѕ post is genuinely fastiɗious and І have learned
    lߋt of thіngs from it on the topic of bloɡging.
    thanks.

Leave a Reply

Close Menu