PANDANGAN ISLAM TENTANG EVOLUSI

PANDANGAN ISLAM TENTANG EVOLUSI

Adam menjadi topik utama dalam wacana evolusi di kalangan Muslim, setidak-tidaknya dewasa ini. Menurut para ulama kontemporer, mustahil ada spesies pra-Adam dan mustahil juga ada banyak Adam dan keturunannya yang akhirnya punah (seperti, manusia Neanderthal, manusia Jawa, dan seterusnya), sehingga mereka menolak teori evolusi. Meski demikian, kalangan Muslim tidaklah selamanya menolak evolusi. Seperti yang akan kita bahas nanti, sejak dahulu hingga era modern (awal abad ke-20), semakin banyak kalangan Muslim yang kemudian menerima dan bahkan menyambut baik evolusi biologis sejauh ia dilepaskan dari bungkus materialisme dan ateisme, sekalipun mereka kerap gelisah dengan persoalan evolusi manusia. Akan tetapi, dewasa ini, penolakan terhadap Darwinisme (dalam segala bentuknya) hampir tersiar secara merata.

Sebagai contohnya, mari kita simak pandangan Mohammed S. R. AI-Bouti, salah seorang ulama terkemuka dalam 3 atau 4 dekade terakhir. Sekalipun ia adalah seorang tradisionalis konservatif, ia tetap berupaya sebisa mungkin mengedepankan pendekatan rasional dengan membeberkan argumentasi logis dan pembenaran ilmiah (sekalipun saya rasa, ia tidak berhasil karena argumentasinya jelas-jelas apologetis dan subjektif). Di antara buku-bukunya yang paling terkenal adalah Kubrā AI-Yaqiniyyāt AI-Kauniyyah (Keyakinan-Keyakinan Kosmik Terbesar) yang telah mengalami berbagai proses pengeditan dan cetakan berulang-ulang. Dalam bukunya tersebut, ia menyajikan sebuah pembelaan rasional atas dogma Islam ortodoks. Selain itu, ia mengulas persoalan evolusi dalam satu bab penuh, dan dalam beberapa bagian, ia bahkan mengutarakan kritik ‘ilmiah’ atas Darwinisme. Lebih menariknya lagi, ia mengawali pembahasannya dengan persoalan manusia. Berikut adalah bunyi baris pertama dari bab tersebut:

  1. Muslim harus mengenal kebenaran-kebenaran seputar manusia dan realitasnya berikut ini. Setelah itu, ia harus menerimanya tanpa keragu-raguan dan menjadikannya dasar pemaknaan imannya kepada Allah:
  2. Manusia adalah makhluk terbaik dan termulia dibandingkan makhluk lainnya;
  3. Manusia tercipta -dari segi fisiknya- dari tanah liat, dan ia turun-temurun berkembang dari sumber manusia pertama, Adam a.s.;

Sejak awal mula penciptaannya, manusia tercipta dalam rupa terbaik dan bentuk sempurna. Dalam sejarahnya, ia tidak berevolusi, dalam arti berubah secara berangsur-angsur dari satu spesies ke spesies yang lain.

Pada beberapa halaman berikutnya, ia mewanti-wanti pembaca (Muslim) seperti berikut: “Waspadalah untuk tidak terpengaruh dengan ucapan sejumlah sufi bahwa Adam a.s., yang penciptaannya telah disinggung dalam Alquran, didahului oleh Adam-Adam yang lain.”

Menurut sejumlah pengamat, gagasan evolusi manusia bisa dengan mudah dijumpai dalam berbagai episode kisah Adam dalam Alquran. Sebagian lagi mengatakan bahwa beberapa ayat bisa dengan mudah dipahami sebagai dukungan dan penguat bagi skenario umum evolusi biologis.

 

Evolusi dalam Alquran?

Ada beberapa ayat Alquran yang bisa (dan sudah) dianggap sebagai dukungan bagi teori evolusi, baik dari segi evolusi manusia maupun evolusi biologis yang umum. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  1. Evolusi Manusia
  • Padahal sesungguhnya Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS 71: 14)
  • Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukan ajal (kematianmu). (QS 6: 2)
  • Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, hendaklah kamu bersujud kepadanya. (QS 38: 71-72)
  1. Evolusi Biologis
  • Katakanlah (Wahai Muhamamd): Berjalanlah di (muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS 29: 20)
  • Dan Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Lalu mengapakah mereka tidak beriman? (QS 21: 30)
  • Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perut, sebagian lain berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS 24: 45)

Al-Bouti kemudian mengemukakan serangannya terhadap Darwinisme lewat sebuah kritik yang coba ia bangun di atas argumen-argumen ilmiah dan rasional. Pertama, ia mengatakan: “Realitas yang kita amati sangat bertolak belakang dengan apa yang Darwin sebut “hukum seleksi” dan “makhluk yang paling adaptif adalah yang paling bisa bertahan”‘. Ia juga menambahkan: “Mengapa alam menghasilkan spesies yang lemah jika pada nantinya akan musnah?”; “Mengapa kera-kera yang lebih maju tidak memiliki kecakapan otak seperti yang manusia miliki?”; dan “Dari studi-studi terhadap tanaman dan binatang Mesir yang telah diawetkan, terbukti bahwa tanaman dan binatang tersebut tidak berbeda dari bentuknya saat ini dan tidak pernah mengalami perubahan selama berabad-abad”. Dengan demikian jelas bahwa AI-Bouti keliru memahami teori Darwin dan pendekatannya cukup bias dan tendensius. Sayangnya, sosok seperti AI-Bouti begitu mewarnai wacana keislaman tentang evolusi dewasa ini.

Belakangan, muncul beberapa pandangan yang lebih logis dan cerdas tentang evolusi, meski masih sangat jarang ditemukan. Saya ingin menunjukkan bahwa sikap kalangan Muslim soal evolusi tidak selalu negatif dan kaku, baik dalam era klasik dan era yang lebih modern (dalam beberapa dekade setelah terbitnya teori Darwin). Pandangan Islam Era Klasik Pembaca Muslim maupun Barat barangkali akan terkejut mengetahui bahwa para cendekiawan dan pemikir (kebanyakan filsuf) era keemasan Islam sebenarnya telah panjang lebar membahas gagasan evolusi dan kemudian menerimanya secara mutlak. Akan tetapi, perlu juga diingat bahwa konsep dan istilah evolusi tidaklah benar-benar dipakai di masa-masa itu. Istilah yang justru sering dipakai adalah konsep-konsep semisal ‘perubahan’, ‘tahapan’ (dalam bahasa Arab, thaur/ j. athwar), dan ‘transformasi’. Bahkan, dalam studinya mengenai reaksi bangsa Arab terhadap gagasan Darwinian mulai dari 1860 hingga 1930, Adel A. Ziadat, sekalipun tidak begitu bergiat dengan era klasik, mengatakan: “Para pemikir Arab Abad Pertengahan yang menerima gagasan evolusi dari Yunani kuno benar-benar mempertimbangkan gagasan evolusi organik dan transformasionisme dalam kerajaan tanaman dan binatang. Tulisan-tulisan Arab dalam beberapa hal juga mendekati tulisan-tulisan Darwin”. Ia juga menambahkan: “Sejumlah pemikir Arab yang berpengaruh di zaman modern menolak fakta bahwa teori evolusi adalah temuan Darwin dan Wallace. Sebagian lain mengatakan bahwa penjelasan Darwin hanyalah sebuah bagian dari elaborasi bangsa Arab mengenai keseluruhan gagasan transmutasi.”

Demikian pula, Ayub Khan Ommaya mengungkapkan bahwa AI-Jahiz (776-868) dalam kitabnya yang terkenal, The Book of Animals (Buku tentang Dunia Hewan), memberi deskripsi tentang burung-burung yang jelas memperlihatkan tanda-tanda evolusi dan adaptasi selama migrasinya. Menurut Ommaya, AI-Jahiz memiliki andil dalam konsep-konsep evolusi. Ia juga menambahkan bahwa Ibn Miskawaih (dalam kitabnya, AI-Fauz AI-Asghar (Pencapaian Terkecil) “telah menetapkan konsep modern tentang asal-usul manusia sebagai bagian dari sebuah proses evolusi.”

Lalu, bagaimana sebenarnya pendapat para pemikir Muslim klasik mengenai evolusi? Apakah mereka benar-benar “mendekati” atau bahkan mendahului gagasan-gagasan Darwin?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu diingat gagasan Mata Rantai Besar Segala Wujud (the Great Chain of Being) yang sempat mengemuka di zaman kuno. Menurut gagasan ini, seluruh bagian kehidupan disusun ke dalam sebuah struktur hierarki vertikal, dimulai dari bebatuan di bagian paling bawah karena hanya memiliki “wujud”, kemudian tanaman yang memiliki “wujud dan kehidupan”, binatang yang juga memiliki “gerak dan selera”, manusia yang memiliki “jiwa” di samping sifat-sifat yang disebutkan tadi, malaikat, dan terakhir Tuhan. Klasifikasi ini juga memiliki berbagai sub-bagian, semisal bebatuan dan mineral yang diurutkan berdasarkan “kualitasnya”, seperti emas di tingkat teratas, perak satu tingkat di bawahnya, timah di bawahnya lagi, dan seterusnya. Persoalan utamanya kemudian adalah bahwa mata rantai besar ini bisa dilihat sebagai sebuah tangga, dalam arti kemungkinkan suatu wujud untuk mengalami transformasi dari satu spesies ke spesies lainnya. Yang pasti, para ahli kimia meyakini bahwa mineral bisa ditransmutasikan, sehingga mereka mencurahkan segala upaya selama berabad-abad untuk sampai ke tujuan ini. Mengenai transformasi semacam itu (yang sama dengan evolusi), belum jelas betul apakah para saintis dan filsuf meyakininya juga berlaku bagi spesies hidup. Dengan demikian, satu hal yang perlu diingat ketika membaca pandangan para pemikir Muslim klasik adalah pertanyaan: Apakah mereka sekadar mengungkapkan gagasan mata rantai besar segala wujud ataukah mereka benar-benar membayangkan kemungkinan adanya skema-skema evolusi?

Mahfuz A. Azzam menulis sebuah disertasi mengenai pandangan filsuf Muslim tentang evolusi yang kemudian diterbitkan dengan judul Mabda’ At-Tathawwur Al-Ḥayawiy Ladā Falāsifah Al-Islām (Prinsip-Prinsip Evolusi Biologi dalam Filosofi Muslim Klasik). Pandangan-pandangan terpenting yang ia sebut meliputi pandangan dari AI-Farābī, Ikhwan As-Safā’, dan Ibn Khaldūn.

Pandangan AI-Farabl bisa diringkas dalam nukilan di berikut: “Wujud bermula dari bentuk yang paling tidak sempurna, kemudian naik berangsur-angsur hingga sampai ke bentuknya yang paling sempurna. Klasifikasi semua wujud ini berawal dari yang terendah, lalu yang lebih baik, hingga bentuknya yang paling baik. Wujud terendah adalah materi, lalu mineral, lalu tanaman, lalu binatang yang tak bisa berbicara, dan yang terakhir (tak ada yang lebih baik lagi dibandingkan) binatang yang berbicara (manusia)”.

Pandangan Ikhwan As-Safā’ dalam hal ini bisa dikatakan lebih teperinci dan rumit. Dalam ensiklopedinya, Ar-Rasāil, kita menjumpai paragraf berikut: “Siapa pun boleh saja berkeyakinan bahwa semua makhluk diciptakan sekejap mata oleh Sang Pencipta atau membayangkan makhluk-makhluk tersebut tercipta secara berangsur-angsur, satu demi satu dan waktu demi waktu. Atau mungkin, ada juga yang mencampur keduanya; sebagian diciptakan sekaligus dan sebagian lain secara berangsur-angsur…. Hanya saja, tak pernah ada bukti observatif yang menyokong skenario penciptaan sekejap mata (sekalijadi), sementara bukti observatif bahwa segala hal tercipta secara berangsur-angsur sangatlah banyak; (2) Jenjang terakhir tanaman terikat dengan (atau kelanjutan dari) jenjang pertama binatang, dan jenjang terakhir manusia terikat dengan jenjang pertama malaikat; (3) Jika diamati dengan saksama, akan tampak bahwa alasan dan prinsip utama keberadaan makhluk adalah naluri bertahan hidup dan hilangnya kejahatan; (4) Tanaman bisa berubah wujud menjadi binatang; (5) Sebagian orang menentang peran alam sehingga menisbatkan seluruh kejadian di dalamnya, entah baik atau buruk, kepada Sang Pencipta, sementara sebagian lagi menisbatkan tindakan baik kepada Tuhan dan tindakan buruk kepada “alam” (kadang pada bintang-bintang) atau pada “kebiasaan” dan “iblis””.

Para pengarang ini kemudian bersikukuh bahwa Tuhan telah menciptakan ‘ruh-ruh semesta’ (global spirits) yang bertindak di alam semesta dan menjadikannya aktif serta kreatif. Terakhir, Ikhwan As-Safā’ melakukan observasi khusus terhadap evolusi spesies dan sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta pastilah memiliki batasan usia.

Ibn Khaldun, seorang filsuf, sejarahwan, dan polimatik (cendekiawan berbagai bidang pengetahuan-penerj.) Muslim Afrika Utara abad ke-14, juga dekat dengan paradigma evolusi, seperti yang tampak dalam tulisannya berikut: “Perhatikanlah alam ciptaan. la bermula dari mineral, lalu tanaman, dan kemudian binatang melalui jenjang dan pertalian yang begitu indah. Dengan cara yang ganjil, makna pertalian antara semua makhluk yang merupakan ujung horizon bagi masing-masing (makhluk tersebut) tepat berada di baris pertama sesuatu yang akan muncul sesudahnya. Misalnya saja, kerajaan binatang sangatlah luas dan berisi spesies yang sangat beragam, sehingga secara berangsur-angsur sampai pada wujud manusia yang memiliki keistimewaan akal dan penglihatan. Di kerajaan binatang inilah, wujud manusia berasal dari kera yang memiliki kesadaran tapi tidak memiliki penglihatan dan pikiran, dan dari situlah alam manusia bermula; demikianlah apa yang kami amati.

Perlu juga diingat bahwa kemiripan antara manusia dan kera, baik dari sisi fisiologis maupun gaya hidup, juga telah dipaparkan secara panjang lebar oleh beberapa pengarang era klasik, sebagaimana penjelasan Azzam dalam disertasinya.

Terakhir, Azzam menukil syair indah Jalaluddin Rumi, guru sufi kenamaan abad ke-13: “Manusia mulanya muncul di level materi yang tak hidup, Materi itu pun berpindah ke alam tetumbuhan, Hidup bertahun-tahun sebagai tumbuhan di antara tetumbuhan lain, Tak lagi mengingat jenjang sebelumnya yang tak hidup, Lalu ketika ia berpindah dari tumbuhan ke binatang, Ia tak lagi ingat apa pun di alam tetumbuhan, Yang tersisa hanyalah kerinduan akan tetumbuhan, Terutama saat-saat musim semi datang dan bunga-bunga indah bermekaran, Laksana anak-anak kecil yang merindukan ibu-ibu mereka, Tanpa tahu mengapa rindu itu hadir, Lalu Sang Pencipta mengangkat Manusia dari kondisi kebinatangannya, menuju kondisi kemanusiaannya, Demikianlah, Manusia beranjak dari satu ihwal ke ihwal alamiah lainnya, Sampai ia bijak, pintar, dan kuat seperti sekarang, Tapi, tetap saja ia tidak lagi mengingat ihwal kehidupan sebelumnya, Begitu juga, nanti, ia akan meninggalkan kondisi yang sekarang ini.

Leave a Reply

Close Menu