PANDANGAN ISLAM MODERN

PANDANGAN ISLAM MODERN

Barangkali pembaca akan kaget mengetahui bahwa debat sengit seputar teori evolusi di kalangan kaum intelektual Arab sebenarnya sudah bermula pada 1876. (Sekadar mengingatkan bahwa Origins of Species-nya Darwin terbit pada 1859, dan Desccent of Man-nya muncul pada 1871.) Sebagaimana dipaparkan oleh Ziadat dalam tinjauannya yang sangat bagus sekali, debat tersebut berlangsung melalui buku-buku dan artikel-artikel majalah budaya yang lebih fokus pada persoalan implikasi filosofis, keagamaan, dan sosial dibandingkan aspek-aspek ilmiah dalam teori. Namun, tetap penting ditekankan di sini bahwa pandangan-pandangan dalam debat semacam itu mencakup spektrum yang luas, mulai dari penolakan simplistis hingga penerimaan penuh. Bahkan, beberapa pemikir sekular Arab melihat Darwinisme sebagai pengejawantahan semangat ilmiah modern saat itu dan sekaligus pintu keluar bagi dunia Arab dari pola pikirnya yang kuno dan irasional.

Respons pertama terhadap Darwinisime muncul dari seorang Muslim non-Arab, Jamaluddin AI-Afghānī, pemimpin gerakan reformis pan-Islam. ketika AI-Afghānī yang ketika itu tinggal di India menerbitkan Refutation of the Materialists-nya dalam bahasa Persia, buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab lalu ke bahasa-bahasa lainnya. Buku tersebut utamanya berisi reaksi atas gerakan kebangkitan (baca: perubahan) Islam modernis versi Sir Syed Abū Al-Walīd Khan yang pemikirannya diolok-olok dengan sebutan naycheri (kecurangan naturalis), yakni keyakinan bahwa penjelasan mengenai alam semesta hanya boleh berasal dari asumsi-asumsi alamiah atau material (sehingga keyakinan ini menolak segala bentuk mukjizat, baik yang besar maupun yang kecil). Beberapa pengarang pernah mengatakan bahwa dari buku tersebut, AI-Afghānī tampaknya tidak benar-benar membaca karya-karya Darwin. Penjelasannya tentang teori evolusi kerap dianggap keliru dan membingungkan, seperti dalam tulisan berikut: Dalam buku yang ditulisnya, ia [Darwin] mengatakan bahwa manusia berasal dari kera, kemudian selama abad-abad berikutnya, berkat dorongan-dorongan eksternal, ia kemudian berubah hingga sampai pada tahap orang utan. Dari bentuk itu, ia lalu naik ke derajat manusia yang paling awal, yaitu ras kanibal dan orang Negro lainnya. Sejumlah manusia kemudian naik dan sampai pada posisi yang tarafnya lebih tinggi daripada orang Negro, yaitu taraf manusia Kaukasia.

(Pandangan tentang Darwinisme yang sungguh keliru!) Dalam satu bagian, ia menyindir penerimaan Darwin terhadap teori Lamarck tentang ‘warisan sifat-sifat yang diperoleh’: “Sudah tulikah ia sehingga tidak mendengar fakta bahwa orang Arab dan Yahudi beberapa ratus tahun lamanya telah mempraktikkan khitan, dan sampai sekarang tak seorang pun dari mereka yang terlahir dalam keadaan sudah dikhitan?”

Namun, dalam kariernya belakangan, AI-Afghānī tampaknya telah memoderasi pandangan-pandangannya. Bahkan, menurut Ziadat, ketika pemimpin Muslim tersebut diminta mengomentari sebuah syair Abū Al-‘Alā AI-Ma’arrī (abad ke-ll) yang mengatakan bahwa konon, binatang berasal dari materi anorganik, AI-Afghānī menjawab bahwa maksud AI-Ma’arrī sama saja dengan maksud para filsuf Arab lain ketika mengatakan bahwa lumpur dapat berubah menjadi tumbuhan dan tumbuhan bisa menjadi binatang. Ia juga menambahkan: “Bila doktrin evolusi didasarkan atas premis-premis tersebut, itu berarti para saintis Arab telah mendahului Darwin”. Sejak saat itu, ia tidak lagi menyuarakan kritik apa pun terhadap para filsuf Arab maupun Darwin, justru kini ia terkesan menerima makroevolusi umum yang juga termasuk dalam gagasan Darwin.

Menarik untuk diperhatikan bahwa setelah dilakukan pembacaan dan diskusi yang lebih saksama terhadap Darwinisme, reaksi yang muncul temyata jauh lebih bersahabat, bahkan dari para ulama sekalipun.

Abū AI-Majīd M. R. AI-Isfaḥānī, seorang cendekiawan Syiah, menulis sebuah buku pada 1914 yang judulnya memberi kesan penolakan atas Darwinisme: Naqd Falsafah Darwin (Kritik atas Filosofi Darwin). Akan tetapi, cendekiawan Irak tersebut tidak kemudian menentang teori evolusi sepenuhnya, melainkan hanya menyorotinya dari sisi yang berkaitan dengan status manusia. Ia menyadari dan bersikukuh bahwa teks-teks keagamaan hanya memuat metafora kisah penciptaan, namun ia tetap Iantang menyuarakan penentangan dan penolakan atas asal-usul manusia dari binatang. Prinsipnya yang paling pokok adalah bahwa para materialis hanya mengira-ngira soal penciptaan dan asal-usul manusia, sementara kaum beriman hanya bisa mengandalkan kebenaran mutlak yang ditemui dalam teks-teks keagamaan.

Selain itu, ada juga Husain Al-Jisr, seorang cendekiawan Sunni Lebanon yang pada 1887 menerbitkan sebuah buku dan belakangan memperoleh penghargaan dari Sultan Oman. Dalam bukunya tersebut, ia menyajikan sebuah pembahasan teliti dan jelas seputar Darwinisme dari sudut pandang Islam yang positif dan penuh percaya diri. Ia sangat yakin bahwa Islam selalu mendukung kebenaran dalam segala hal dan mengedepankan pemikiran progresif, termasuk naturalisme, selama tidak bertentangan dengan prinsip pokok keberadaan pencipta. Inilah yang kemudian membuat ia menerima seluruh proses evolusi dan bahkan apa yang dewasa ini dikenal dengan ‘materialisme metodologis’. Bahkan, ia menukil beberapa ayat Alquran untuk membuktikan kesesuaiannya dengan evolusi dan bersikukuh bahwa penciptaan kehidupan dari benda mati sesungguhnya telah disinggung dalam Alquran.

Al-Jisr juga menganut prinsip ganda Ibn Rusyd tentang (1) keselarasan antara filsafat/sains dan wahyu; dan (2) perlunya dilakukan ta’wīl ‎ (hermeneutika) atas teks-teks keagamaan (Alquran) ketika hasil pembacaan harfiah justru malah berseberangan dengan kebenaran yang tak terbantahkan tentang alam semesta. Ia juga mengemukakan bahwa beberapa aspek alam semesta (dalam pandangannya) tidak bisa diuraikan melalui materialisme, semisal ciri-ciri yang melekat dalam sejumlah hukum atau fenomena fisika -katakanlah pertanyaan tentang mengapa gaya gravitasi atau elektromagnetik mengikuti hukum kuadrat terbalik (yang menjadi bahan diskusi saat ini) atau mengapa energi mengalami perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain (misalnya, panas ke cahaya). Yang terakhir dan dianggap benar pada masanya, ia melukiskan alam semesta sebagai sebuah arloji atau mesin uap, dan layaknya Paley, menarik kesimpulan adanya Pembuat arloji atau mesin itu.

Selain beberapa nama di atas, Mushthafā H. Al-Manshūrī, seorang cendekiawan Muslim Mesir, juga terpikat oleh teori Darwin. Menurutnya, teori ini merupakan sebuah paradigma ilmiah dan filosofis baru yang menegaskan kemampuan hukum alam untuk menjelaskan fenomena terkait kehidupan, spesies, evolusi, dan manusia. Dalam tulisan-tulisannya (kira-kira pada 1914), ia dengan tegas mengatakan bahwa revolusi pengetahuan yang digagas Darwin tidak bisa dinilai dengan upah berapa pun jumlahnya. Al-Manshūrī juga ingin membuktikan keselarasan antara sains dan agama dengan menegaskan bahwa teori Darwin tidak bisa disamakan dengan materialisme ateistik.

Dalam istilah sekarang, Al-Manshūrī dan para intelektual Muslim lainnya kala itu bisa digolongkan sebagai evolusionis teistik.

Terakhir, Ismā’īl Mazhar, seorang penulis Muslim Mesir, adalah cendekiawan pertama yang menerjemahkan Origins of Species secara bertahap: lima bab pertama pada 1918, empat bab selanjutnya pada 1928, dan terjemahan utuhnya dalam bahasa Arab akhirnya muncul pada 1964. Ia mengungkapkan dukungannya yang kuat terhadap evolusi dalam pendahuluan karya terjemaharmya dan dalam sebuah buku tentang topik serupa yang ia terbitkan pada 1924. Mazhar sejatinya adalah seorang positivistis, tetapi ia enggan melakukan penafsiran materialistis terhadap evolusi dan menganggap agama sebagai ‘tahap kedua’ yang bermanfaat (dalam taksonomi Auguste Comte) dalam evolusi masyarakat, seraya menggarisbawahi dukungan Islam bagi pengetahuan dan penghapusan kebodohan.

‘Abdul Majid baru-baru ini memuat respons-respons Muslim modern lain terhadap wacana ini dalam artikelnya, “The Muslim Responses to Evolution”. Dilihat dari pendapat-pendapat tersebut, ia mengelompokkan cendekiawan Muslim modern ke dalam tiga golongan: (1) kelompok literalis yang melihat evolusi sepenuhnya bertentangan dan tidak sejalan dengan ajaran Islam; (2) kaum modernis yang menyerukan penerimaan total terhadap evolusi; (3) kelompok ‘moderat’ yang melihat sebagian-tidak keseluruhan-aspek teori evolusi bisa diterima oleh Islam.

Di daftar kelompok pertama, ‘Abdul Majid memasukkan nama-nama seperti Syihābuddin Nadvi, Waḥīduddin Khan, dan Hārūn Yaḥyā. Untuk kategori ini, kita bisa juga memasukkan para filsuf pearenial, yaitu Seyyed Hossein Nasr, Martin Lings, dan Frithjof Shuon. Di kelompok kedua, ‘Abdul Majid menyebut nama Ghulam Abū Al-Walīd ‎ Perves dan muridnya, ‘Abdul Wadud, yang menulis buku berjudul The Phenomena of Nature in the Quran and Sunnah, berisi tahapan evolusi yang “diambil” dari Kitab Suci. Di kelompok ketiga, ‘Abdul Majid memasukkan beberapa pemikir seperti Muḥammad  Iqbal, Husain AI-Jisr, AI-Isfahani, Inayatullah Masyriqi, Aiman Afzhal, Israr Ahmed, dan Abshar Abū Al-Walīd ‎. Menarik untuk dicermati bahwa beberapa pengarang ini berupaya membuat perbedaan antara bagian-bagian faktual teori evolusi -yaitu bagian-bagian yang mereka terima dan akomodasi dalam pandangan Islam- dengan aspek-aspek yang sifatnya lebih hipotetik atau bergantung pada model (model-dependent) -dan mereka buang. Secara lebih khusus, sebagian dari mereka membedakan antara evolusi Darwinian dan evolusi non-Darwinian.

Seperti yang telah kita lihat, ada spektrum yang luas dalam sikap vis-a-vis Darwin di kalangan intelektual Muslim selama periode awal (akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20) meskipun Ziadat memandang semua reaksi itu secara umum menerima teori Darwin sebagai “kebijaksanaan dan kehendak Tuhan”. Menurutnya, “Para penulis Muslim telah memberi dukungan keagamaan bagi sains Darwin.” Ziadat kemudian menyimpulkan: ‘Jika istilahnya diganti menjadi ‘evolusi terjadi karena kendali Tuhan’, ‘alam semesta tercipta untuk suatu tujuan’, dan ‘materialisme adalah pikiran yang netra!’, tampaknya akan ada dukungan penuh di kalangan para pemikir keagamaan Arab, baik Muslim maupun Kristiani, terhadap teori Darwin”. Ia juga berkomentar, “Dalam hal apakah pemikir keagamaan Muslim dan Kristiani berbeda pandangan soal teori evolusi Darwin? Jawabannya mudah saja. Sekalipun mereka sama-sama terbuka pada Darwinisme, studi ini mengungkap bahwa Muslim lebih siap menerima evolusi Darwin dibandingkan Arab Kristiani.”

Leave a Reply

Close Menu