PANDANGAN ISLAM KONTEMPORER

PANDANGAN ISLAM KONTEMPORER

Dunia Arab akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dikenal sebagai Nahdah (Kebangkitan-Renaissance). Sayangnya, era ini tidak sampai berujung atau mengantarkan lahirnya suatu gerakan kemajuan yang permanen bagi masyarakat Arab, baik dari sisi ekonomi maupun budaya. Meski demikian, periode ini menandai kekayaan intelektual yang sungguh luar biasa karena ketika itu banyak bermunculan gagasan menakjubkan, pertukaran pandangan, dan tokoh-tokoh yang mengagumkan. Karena itulah, tidak mengherankan jika kita menjumpai para cendekiawan Muslim yang menerima sebagian besar teori Darwin, bahkan menyambutnya dengan baik dan memadukannya dengan pandangan hidup Arab.

Sebaliknya, Dunia Muslim akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 ditandai dengan menguatnya sikap keagamaan yang sangat fundamentalis dan literalis. Inilah alasan mengapa mayoritas Muslim dewasa ini, termasuk para elite, baik yang pemah mengenyam pendidikan di universitas-universitas modern maupun keagamaan, sepenuhnya menolak teori evolusi. Bahkan, intelektual Arab/Muslim sangat jarang menyuarakan pandangan-pandangan pro-evolusi.

Namun, ada beberapa nama yang masuk dalam pengecualian meskipun jumlahnya sangat minim, dan Muḥammad  Syahrūr adalah satu di antaranya. Ia adalah seorang intelektual Syria yang membahas masalah evolusi manusia dari pendekatan Qurani yang sangat menarik. Awalnya, ia menganjurkan pembedaan antara dua istilah Arab/Qurani, yaitu insan, yang biasanya diartikan sebagai ‘insan’, dan basyar, yang biasanya diartikan sebagai ‘manusia’. Baginya, dua kata tersebut mengacu pada dua tahap evolusi manusia yang berbeda. Bahkan, dalam tinjauannya atas kisah Adam dalam Alquran, ia menunjukkan bahwa setiap pemakaian kata insan pasti selalu disertai dengan konotasi yang jelas berupa ‘pemahaman’ (kecakapan mental), ‘konsepsi abstrak’ (terutama mengenai wujud metafisik), dan ‘kecerdasan’. Sebaliknya, kata basyar dipakai hanya dalam komeks penciptaan, jauh sebelum evolusinya menjadi insan yang memiliki kecakapan mental. Dari sini cukup jelas bahwa Syahrūr hendak menyamakan tahap basyar dengan hominid (atau bahkan Homo) dan insan dengan tahap manusia modern. Ia menguatkan argumennya ini dengan informasi Alquran mengenai ‘peniupan Ruh Tuhan’ dalam hominid/homo (kutipan Surah Ṣad/38:71-72 dalam kolom sebelumnya). Perhatikan bahwa Syahrūr memandang ayat ini mengandung sebuah isyarat penting di balik pemakaian kata ja’il (menjadikan) ketimbang khaliq (menciptakan). Ia kemudian menyusun sebuah kisah evolusi manusia dari ayat-ayat Alquran yang sangat selaras dengan teori modern seperti berikut:

  • Posisi tegak (dua kaki) Hominid: Hai manusia, apa yang telah mendorongmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah, Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. Dia akan menyusun tubuhmu dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki (Alquran, Surah Al-Infiṭār/82:6-8).
  • Perkembangan bahasa: Dia menciptakan “insan”/(insan) dan Dia mengajarnya pandai berbicara (Alquran, Surah Ar-Raḥmān ‎/55:3-4).
  • Mengajarkan cara penguburan: Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata: “Aduhai celakalah aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku?” Karena itu, ia menjadi salah satu di antara golongan orang yang menyesal (Alquran, Surah Al-Mā’idah/5:31).
  • Kurban/persembahan: Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putera Adam (Habil dan Qabil) seperti adanya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kurban dari salah satu (Habil) diterima, sedang kurban dari yang lain (Qabil) tidak (Alquran, Surah Al-Mā’idah/5:27).
  • Perkembangan ruhani: Habil berkata: Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa (Alquran, Surah Al-Mā’idah/5:28).
  • Pakaian/menutup aurat: Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutup auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan (Alquran, Surah Al-A’raf/7:26).
  • Penemuan api: Yaitu Tuhan yang menjadikan api dari kayu yang hijau untukmu, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu (Alquran, Surah Yāsīn/36:80).
  • Terakhir, Wahyu, kejadian manusia, khalifah Allah di muka bumi, dan jatuhnya’ Adam dan Hawa dari ‘surga’. Harus saya katakan di sini bahwa makna surga dalam kisah Adam kerap memicu perdebatan di kalangan cendekiawan. Syahrūr (dan lainnya) pernah menawarkan argumen yang meyakinkan bahwa surga yang dimaksud dalam cerita tersebut bersifat fana. Misalnya saja, tindakan Adam dan Hawa yang memakan buah dari pohon terlarang karena ingin abadi menunjukkan bahwa keduanya kala itu adalah makhluk fana yang menjadi ciri keberadaan duniawi, bukan ukhrawi.

Syahrūr meringkas keseluruhan cerita tersebut dengan menekankan dua hal: (1) Ada banyak makhluk hominid/homo sebelum Adam; (2) Tuhan kemudian ‘memilih’ Adam dan meniupkan Ruh-Nya kepadanya. Tindakan kedua tersebut merupakan tindakan yang bentuknya berubah-ubah dan menghasilkan lompatan dari alam binatang ke alam manusia. Francisco Ayala menyebut perubahan dari kera ke manusia sebagai “rahasia bagaimana garis keturunan kera tertentu berubah menjadi garis keturunan hominid yang, dari sanalah, setelah beberapa juta tahun berlalu, muncul manusia yang mampu berpikir dan mencintai, mengembangkan masyarakat yang kompleks, dan memegang teguh etika, estetika, dan nilai-nilai keagamaan.”

Leave a Reply

Close Menu