PANDANGAN IBN RUSYD TENTANG RANCANGAN

PANDANGAN IBN RUSYD TENTANG RANCANGAN

Ibn Rusyd juga merujuk argumen teleologis dalam berbagai karyanya. Dalam risalahnya, Faṣl Al-Maqāl. Ia mengawali paparannya dengan membuktikan kebolehan (yang bagi sebagian orang dianggap kewajiban) mempelajari filsafat dalam Islam dengan memaknai filsafat sebagai ‘studi teleologis atas dunia’. Bahkan, paragraf kedua pendahuluan buku tersebut berbunyi demikian:

Kami harus mengatakan bahwa kegiatan ‘filsafat’ tidak lebih dari upaya mempelajari wujud-wujud yang ada, kemudian merenungkannya sebagai petunjuk bagi keberadaan Sang Seniman. Dengan kata lain, wujud-wujud tersebut adalah produk seni -karena menunjukkan keberadaan Sang Seniman melalui pengetahuan kita tentang seni di balik keberadaannya. Semakin sempurna pengetahuan kita tentang wujud-wujud tersebut, semakin sempurna pula pengetahuan kita tentang Sang Seniman.

Kutipan di atas jelas sekali menunjukkan bahwa Ibn Rusyd tidak hanya menganut argumen rancangan, tetapi juga menemukan raison d’être (alasan) dalam argumen tersebut, yakni mengenai perlunya penyelidikan terhadap ‘teologi alam’.

Filsuf hebat ini menjelaskan argumen rancangan sebagai bukti kuat bagi keberadaan Sang Pencipta dalam Al-Kasyf-nya, seperti yang saya kutipkan di awal tulisan ini.  Inilah indikasi kuat bahwa Ibnu Rusyd membenarkan argumen-argumen rancangan dan teleologis. Bahkan, pandangan yang ia kemukakan hampir sama dengan gagasan argumen versi Paley yang muncul lebih dari enam abad sebelumnya. Di berbagai tempat lain, Ibn Rusyd kerap menyebut argumen ini sebagai ‘argumen pertukangan’ (artisanship), atau kadang juga ‘argumen pelayanan’ (dalīl al-‘ināyah) bagi umat manusia.

Filsuf kenamaan kita tersebut bersikeras bahwa penerimaan terhadap pengertian rancangan seperti yang disebutkan sebelumnya, yakni ‘wujud benda-benda peninggalan [hasil pertukangan- penerj.] yang masing-masing bagian saling teratur’, bisa menjadi sarana yang lebih ampuh untuk mendapat pengetahuan tentang Tuhan dibandingkan keyakinan semata atas kemakhlukan benda-benda. Untuk menegaskan maksudnya ini, ia mengatakan bahwa para filsuf (atau bagi kita, para ilmuwan) mampu mengenal Tuhan lebih dalam tidak hanya dibandingkan orang awam, tetapi juga dibandingkan para teolog yang mengabaikan argumen ini.

Lebih lanjut, Ibn Rusyd mengemukakan bahwa rancangan kosmis lebih sejalan dengan kebijaksanaan Tuhan dibandingkan dengan konsepsi teologis Asy’ari tentang Tuhan sebagai pengatur (laksana seorang dalang) seluruh kejadian dan peristiwa di dunia. Menurutnya, konsepsi Asy’ari’ tersebut dalam praktiknya sama saja dengan mengingkari kebijaksanaan Tuhan. Bagi Ibn Rusyd, pencarian dan pengenalan terhadap rancangan/teleologi segala penciptaan di dunia merupakan tujuan utama filsuf (ilmuwan) yang terpanggil untuk menerima kebijaksanaan-kebijaksanaan Tuhan (atau yang oleh Stephen Hawking dibahasakan dengan, “mengetahui ‘akal Tuhan”‘). Dalam terjemahan bahasa Prancis yang berisi komentarnya terhadap karya Ibn Rusyd, Marc Geoffroy menekankan hubungan antara Kebijaksanaan Tuhan dan kebijaksanaan yang diterima filsuf sewaktu melakukan renungan dan pencarian semacam itu. Ia menulis, “Salah satu asmā al-usnā dalam Alquran adalah “Sang Mahabijak (Al-Hakīm)”. Tuhan yang telah menggagas keseluruhan tatanan kosmis berdasarkan kesatuan kosmis ini adalah Sang Mahabijak yang luar biasa. Kepada-Nya-Iah para filsuf bijak mendekat melalui berbagai cara tertentu untuk menyerap struktur alam semesta yang dapat dipahami sejauh kemampuan daya intelektual manusia.”

Ibn Rusyd menegaskan bahwa dua argumen di atas (rancangan dan penciptaan) menyimpang dari teologi Asy’ari tentang penciptaan dan pemeliharaan ilahiah atas dunia. Meski demikian, dua argumen tersebut sangatlah jelas sehingga berguna bagi khayalak ramai maupun kaum elite. Hanya saja, khayalak ramai dan kaum elite memiliki pemahaman berbeda-beda atas kedua argumen tersebut dalam hal-hal detail, sehingga dua kelompok tersebut akan menyerap argumen ini menurut pengetahuan dan kedalaman wawasan masing-masing, termasuk juga dalam melakukan pengamatan. Ia menyimpulkan bahwa metode yang didasarkan atas argumen-argumen di atas sejatinya selaras dengan pendekatan religius (syar’iyyah) dan pendekatan natural (saintifik). Singkatnya, Ibn Rusyd sebenarnya ingin mengatakan bahwa inilah metode yang dulu diajarkan oleh para nabi dan termaktub dalam kitab-kitab suci.

Leave a Reply

Close Menu