ORIENTASI SEKSUAL

Serial Quran dan Sains

Seksualitas dalam arti luas menyangkut segala sesuatu yang bersifat seksual. Aspek utama seksualitas adalah seks, seks biologi, gender, identitas gender, peran gender, dan orientasi seksual, yaitu ketertarikan seseorang kepada orang lain. Gender adalah sejumlah ciri dan atribut yang membedakan laki-Iaki dan perempuan. Istilah gender pertama kali digunakan oleh John Money di tahun 1955 dan istilah itu mulai mencuat sejak kaum feminis menggunakannya tahun 1970-an untuk membedakan antara seks biologi dan seks dalam kerangka sosial. Sekarang gender juga dipakai untuk menyatakan seks biologi, bukan hanya seks dalam kerangka sosial.

Orientasi seksual seseorang dikelompokkan sesuai dengan ketertarikannya kepada orang dengan seks biologi tertentu. Seseorang umumnya tertarik kepada orang dengan seks lawan jenisnya, tetapi ada pula yang tertarik kepada orang dengan jenis kelamin yang sama yang disebut juga homoseksual untuk laki-Iaki atau lesbian untuk perempuan.

Orientasi seksual merupakan hal penting dalam penentuan kepribadian seseorang dan mempunyai spektrum yang luas dari eksklusif heteroseksual sampai eksklusif homoseksual. Di antaranya terdapat orang-orang yang biseksual. Orientasi seksual berbeda dari perilaku seksual, karena orientasi seksual adalah perihal perilaku, sedangkan perilaku seksual adalah perihal tindakan.

Dorongan seksual bersifat naluriah dan secara potensial dibawa sejak lahir. Sejalan dengan perkembangan usia kematangan seksual (sexual maturation) pada masa balig, manusia terdorong untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan seksual. la memiliki kecenderungan suka kepada lawan jenis (Āli ‘Imrān/3: 14) dan berupaya membuat daya tarik personal. Alquran sebagai pedoman hidup bagi manusia telah memberi rambu-rambu yang jelas terhadap apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait dengan kecenderungan instinktif itu. Salah satu tujuan syariat adalah menjaga keturunan agar anak-anak yang lahir dari sebuah pernikahan yang sah memiliki nasab yang jelas. Banyak sekali persoalan yang menghadang apabila sebuah hubungan suami istri tidak dilakukan berdasarkan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah demi kemaslahatan umat manusia itu sendiri. Sebut saja di antaranya, persoalan waris, wali nikah, dan sebagainya. Namun, apabila semua dilakukan atas dasar syariat maka semua persoalan itu akan terselesaikan dengan baik, dan kedamaian hidup masyarakat akan terjamin dengan sendirinya.

Hubungan seks merupakan sesuatu yang sakral (tabu), tetapi dianjurkan selama hal itu dilakukan dalam ikatan pernikahan. Ada yang mengatakan bahwa kenikmatan seksual merupakan hadiah yang berharga dari Tuhan. Untuk dapat melakukan hubungan seksual yang baik diperlukan beberapa hal:

  1. Suami istri memiliki pengetahuan yang cukup terkait seksualitas.
  2. Hubungan seksual dilakukan dalam koridor hubungan pernikahan yang sah dan dilandasi niat untuk beribadah.
  3. Hubungan seksual dilakukan dalam suasana pasangan suami istri nyaman dan di tempat/ruang yang tertutup dari pandangan orang lain.
  4. Keberanian untuk mengakui dan berupaya mencari pengobatan untuk gangguan seksual.
  5. Kemampuan untuk menikmati perilaku seksual selama hal itu dilakukan tanpa melanggar etika dan norma agama dan sosial.
  6. Bebas dari kekhawatiran karena ketakutan, rasa bersalah, kepercayaan yang keliru, dan etika pribadi.
  7. Bebas dari berbagai gangguan organik, penyakit, dan kelainan yang mengganggu fungsi seksual.

 

Pembahasan masalah seksual seringkali menimbulkan ketidaknyamanan. Dalam buku ini diusahakan suatu pembahasan dari segi agama dan segi  ilmu dengan cara yang insya Allah dapat memberi pencerahan tanpa menyebabkan ketidaknyamanan.

Buku ini akan menguraikan secara berturut-turut: Pertama, tentang jenis kelamin sebagai anugerah nyata dari Allah sejak seorang manusia dilahirkan ibunya. Perbedaan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, menjadi isyarat adanya kebutuhan saling memberi dan menerima dalam kehidupan. Hanya ada dua jenis kelamin (aż-Żāriyāt/51: 49, an-Najm/53: 45, dan al-Qiyāmah/75: 39)·

Kedua, tentang al-bulūg (kedewasaan), yang merupakan tahapan penting dalam masalah seksualitas. Pada saat ini manusia mengalami perkembangan hormonal yang memicu maturasi seksual untuk dapat bereproduksi secara normal sebagai salah satu ciri makhluk hidup.

Ketiga, tentang pernikahan, yang merupakan ikatan perjanjian sakral dan  kuat (mīṡāqan galīżā) agar dorongan nafsu seksual tidak liar dan menyimpang. Pernikahan menjadi benteng keutuhan keluarga yang menjamin keberlangsungan keturunan spesies manusia.

Keempat, tentang hubungan seksual, yang merupakan bagian utama pembahasan ini menyangkut daya tarik wanita, hubungan suami isteri yang normal dan sehat, serta etika yang diajarkan oleh agama.

Kelima, tentang berbagai penyimpangan seksual yang terjadi, dan bagaimana panduan Alquran dalam hal ini.

Bagian yang terakhir, bagian keenam, berbicara tentang keturunan sebagai salah satu tujuan pernikahan melahirkan keturunan yang baik serta beberapa hal berkaitan dengan fertilisasi, bayi tabung, dan sebagainya.

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu