NABI SALIH

NABI SALIH

Serial Quran dan Sains

SALIH DAN KAUM TSAMUD
Tarikh nabi Salih sekitar 2.100 SM (Al-Maghluts, 2008). Seperti tarikh nabi Hud, tarikh Nabi Salih juga tidak tercantum dalam Perjanjian Lama. Nabi Salih berasal dari kaum Samud yang masih serumpun dengan kaum ‘Ad. Kedua puak suku ini masih keturunan Nabi Nuh melalui jalur Sam. Ayat berikut  menjelaskan kaum Samud adalah pengganti kaum ‘Ad.

 وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ۝

Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 74)

Menurut Al-Maghluts (2008), nasab Nabi Salih adalah: Salih bin Ubaid bin Asif bin Masah bin Ubaid bin Hadzir bin Samud bin Amir bin Iram bin Sam bin Nuh. Kaum Nabi Salih, Samud, juga dikenal sebagai ahli bangunan. Mereka membuat rumah-rumah dengan memahat/melubangi gunung-gunung. Perhatikan ayat berikut!

وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ۝

Dan (terhadap) kaum Samud yang memotong batu-batu besar di lembah. (Alquran, Surah al-Fajr/89: 9)

Lembah hunian kaum Samud ini terletak di bagian utara Jazirah Arab, antara kota Medinah dan Syam (Suriah-Lebanon-Yordania), yang dikenal sebagai Madain Salih. Mereka memotong-motong batu gunung untuk membangun gedung-gedung tempat tinggal mereka. Ada pula yang melubangi gunung-gunung untuk tempat tinggal mereka dan tempat berlindung.

NABI SALIH DALAM ALQURAN: PERINTAH UNTUK BERTAUHID
Kisah Nabi Salih dapat dicermati dalam Surah Hūd/11: 61-68 di bawah ini.

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ۝ قَالُوا يَا صَالِحُ قَدْ كُنتَ فِينَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هَٰذَا ۖ أَتَنْهَانَا أَن نَّعْبُدَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِي شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ۝ قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَآتَانِي مِنْهُ رَحْمَةً فَمَن يَنصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِنْ عَصَيْتُهُ ۖ فَمَا تَزِيدُونَنِي غَيْرَ تَخْسِيرٍ۝ وَيَا قَوْمِ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ۝ فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ ۝ فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ۝ وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ۝ كَأَن لَّمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِّثَمُودَ۝

Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Salih. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” Mereka (kaum Samud) berkata, “Wahai Salih! Sungguh, engkau sebelum ini berada di tengah-tengah kami merupakan orang yang di harapkan, mengapa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.” Dia (Salih) berkata, “Wahai kaumku! Terangkanlah kepadaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapa yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya? Maka kamu hanya akan menambah kerugian kepadaku. Dan wahai kaumku! lnilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa (azab).” Maka mereka menyembelih unta itu, kemudian dia (Salih) berkata, “Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Salih dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan pada hari itu. Sungguh, Tuhanmu, Dia Mahakuat, Mahaperkasa. Kemudian suara yang mengguntur menimpa orang-orang zalim itu sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, kaum Samud mengingkari Tuhan mereka.Ingatlah, binasalah kaum Samud. (Alquran, Surah Hūd/11: 61-68)

 
CATATAN-CATATAN PENTING DARI RIWAYAT NABI SALIH
Unta Nabi Salih
Dalam Alquran dijelaskan bahwa Nabi Salih diberi mukjizat berupa seekor unta betina. Air susu unta itu boleh diminum oleh penduduk Samud, dengan syarat ia harus diberi waktu merumput dan minum air dari sumur di Samud secara bergiliran dengan penduduk: sehari untuk unta dan sehari berikutnya untuk penduduk, demikian seterusnya. Beberapa ayat di bawah ini menjelaskan tentang unta betina tersebut.

 إنَّا مُرْسِلُو النَّاقَةِ فِتْنَةً لَّهُمْ فَارْتَقِبْهُمْ وَاصْطَبِرْ۝ وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ ۖ كُلُّ شِرْبٍ مُّحْتَضَرٌ۝ فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَ۝ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ۝ إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَكَانُوا كَهَشِيمِ الْمُحْتَظِرِ۝

Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka, maka tunggulah mereka dan bersabarlah (Salih). Dan beritahukanlah kepada mereka bahwa air itu dibagi di antara mereka (dengan unta betina itu); setiap orang berhak mendapat giliran minum. Maka mereka memanggil kawannya, lalu dia menangkap (unta itu) dan memotongnya. Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku! Kami kirimkan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti batang-batang kering yang lapuk. (Alquran, Surah al-Qamar/54: 27-31)

 وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ۝

Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Salih. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. İni (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 73)

 وَيَا قَوْمِ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ۝

Dan wahai kaumku! Inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat untukmu. Sebab itu, biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa (azab). (Alquran, Surah Hūd/11: 64)

قَالَ هَٰذِهِ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ۝ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيمٍ۝

Dia (Salih) menjawab, “İni seekor unta betina, yang berhak mendapatkan (giliran) minum, dan kamu juga berhak mendapatkan minum pada hari  yang ditentukan. Dan jangan kamu menyentuhnya (unta itu) dengan sesuatu kejahatan, nanti kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat.” (Alquran, Surah asySyuarā’/26: 155-156)

Unta betina Nabi Salih yang  dapat dimanfaatkan oleh kaum Samud, merupakan mukjizat kerasulan beliau dan tentulah merupakan unta betina yang sehat dan kuat. Semua penduduk Samud diperbolehkan memerah susu unta mukjizat itu dengan cuma-cuma. Sebagai gantinya, unta betina ini harus diberi hak untuk merumput di padang rumput yang luas serta minum seharian penuh di sumber air yang ada di kota kaum Samud itu, dan penduduk baru bisa menggunakannya keesokan harinya.
Pada saat ini pengetahuan biologis tentang unta telah berkembang sedemikian pesat. Penelitian tentang pemetaan genom unta pun telah berhasil dilakukan oleh suatu tim riset gabungan dari para ilmuwan Saudi Arabia yang dipimpin Dr. Abdul Azis Al Swailem dari King Abdul Aziz City for Science and Technology (KACST) dengan para ilmuwan dari Cina yang dipimpin Dr. Jian Wang dari Beijing Genomic Institute (BGI). Penelitian terhadap unta Arab (Dromedarius camelus) selama lebih dari empat tahun dengan melibatkan lebih dari 20 ilmuwan dari kedua negara itu menyimpulkan bahwa peta genom unta 57 persen sama dengan genom manusia. Uraian gen unta tersebut telah memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kemampuan unta untuk bertahan hidup di lingkungan padang pasir yang keras. Dr. Abdul Azis Al Swailem juga menjelaskan bahwa di dalam tubuh unta terdapat sistem untuk mendaur ulang air (water recycling). Unta mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu sepuluh menit. Ini berarti unta minum sebanyak 130 liter air dalam sekali tenggak dan kemudian disimpan di dalam punuknya. (tribunnews.com, 22 Agustus 2010).
Dr. Fatima Abdul Rahman, ahli mikrobiologi makanan dari Dubai Central Laboratory, Uni Emirat Arab, menyatakan bahwa susu unta lebih bergizi dibanding susu sapi. Hal ini disebabkan kadar lemak dan kolesterol dalam susu unta lebih rendah daripada apa yang terdapat dalam susu sapi. Selain itu, susu unta lebih kaya zat besi dan mineral, seperti kalium, natrium, dan magnesium (Antaranews.com, 26 Februari 2010). Unta betina Nabi Salih tentulah mempunyai semua kriteria kelebihan itu dibanding unta biasa, yang mempunyai banyak kelebihan seperti tersebut di atas.
 
Pembunuhan terhadap Unta Nabi Salih

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ۝ قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ ۖ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ۝ قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِندَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ۝ وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ۝ قَالُوا تَقَاسَمُوا بِاللَّهِ لَنُبَيِّتَنَّهُ وَأَهْلَهُ ثُمَّ لَنَقُولَنَّ لِوَلِيِّهِ مَا شَهِدْنَا مَهْلِكَ أَهْلِهِ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ۝ وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ۝ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ۝ فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ۝ وَأَنجَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ۝

Dan sungguh, Kami telah mengutus kepada (kaum) Samud saudara mereka yaitu Saleh (yang menyeru), “Sembahlah Allah!” Tetapi tiba-tiba mereka (menjadi) dua golongan yang bermusuhan. Dia (Salih) berkata, “Wahai kaumku! Mengapa kamu meminta disegerakan keburukan sebelum (kamu meminta) kebaikan? Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?” Mereka menjawab, “Kami mendapat nasib yang malang disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu.” Dia (Salih) berkata, “Nasibmu ada pada Allah (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji.” Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan perbaikan. Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu dengan (nama) Allah, bahwa kita pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksjkan kebinasaan keluarganya itu, dan sungguh, kita orang yang benar.” Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami pun menyusun tipu daya, sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat dari tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman ) dan mereka selalu bertakwa. (Alquran, Surah an-Naml/27: 45-53)

Selain enggan menerima ajakan untuk bertauhid, kaum Samud tampaknya juga senang melakukan monopoli dalam perniagaan. Ketika Nabi Salih mendatangkan mukjizat berupa unta betina yang dapat dimanfaatkan air susunya untuk seluruh penduduk Samud secara cuma-cuma, para peternak unta perah yang umumnya memonopoli peternakan unta perah atau monopoli sumber air sangat gerah dengan dakwah Nabi Salih serta kehadiran unta betina itu. Surah an-NamI/27: 47 yang menyatakan, “Kami mendapat nasib yang malang disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu,” dan ayat 48 yang menyatakan, “ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi,” tampaknya merujuk pada para monopolis yang merasa dirugikan. Mereka kemudian bersekongkol untuk membunuh unta betina itu (Sudibyo, 1999). Strategi pembunuhan dirancang sedemikian rupa oleh sembilan orang untuk membunuh secara bersama-sama.
Menurut Muhajir (1976), ayat di atas memberi isyarat kepada Nabi Muhammad bahwa beliau akan mengalami percobaan pembunuhan dari para musyrikin Mekah dengan cara selicik kaum Samud ketika merencanakan pembunuhan terhadap unta betina Nabi Salih. Allah memberi Rasulullah isyarat bahwa ada sembilan tokoh paling berpengaruh yang berencana melakukan pembunuhan secara bersama-sama terhadapnya. Mereka berasal dari klan-klan yang berlainan dari suku Quraisy Mekah. Dengan membunuh bersama-sama maka tidak akan ada tuduhan pembunuhan yang dialamatkan ke satu klan saja. Kesembilan orang itu adalah: (1) Abū Jahl, (2) Muṭ‘im bin ‘Adiy, (3) Syaibah bin Rabī‘ah, (4) ‘Utbah bin Rabī‘ah, (5) al-Walīd bin ‘Utbah, (6) Umayyah bin Khalaf, (7) an-Naḍr bin al-Ḥāriṡ, (8) ‘Aqabah bin Mu‘aiṭ, dan (9) Abu Lahab.
 
Bukti Ilmiah Eksistensi Kaum Samud
Eksistensi Kaum Samud dapat dibaca dalam Prasasti Sargon II, yang berhuruf Hymarite, dan terbaca sebagai Ta-mu-di (Bermants, C., & M. Weitzman, 1979) (lihat Sub-bab Nabi Hud di atas).
Prasasti Sargon II berumur sekitar 800 SM, ditemukan di wilayah Suriah Utara. Dalam Prasasti Ebla yang lebih tua umurnya dibanding Prasasti Sargon II, yaitu sekitar 2500 SM atau 4500 tahun yang lalu. Eksistensi Kaum Samud tertulis dalam huruf Eblaite dan terbaca sebagai Shamutu (Bermants and Weitzman, 1979; La Fay, 1978; dan Pettinato and Dahood, 1981) (lihat pula Sub-bab Nabi Hud di atas).
 
Madain Salih: Kaum Samud, Al-Hijr, Nabatean, dan Petra
Madain Salih, kota purba yang terletak ± 225 km barat laut Medinah, diperkirakan sebagai peninggalan sisa-sisa kaum Samud. Para arkeolog masih meneliti umur kota purba itu dan meneliti prasasti-prasasti yang ada di sana. Secara tradisional masyarakat di sekitar Madain, Salih menganggap kota purba itu sebagai tempat yang dahulu menjadi permukiman kaum Samud.
Alquran dan hadis Rasulullah menceritakan kisah kaum Samud yang bermukim di wilayah Madain Salih sekitar 3000 tahun SM itu. Dalam ekspedisi ke Tabuk, Rasulullah dan para sahabat melewati wilayah Madain Salih. Beliau berpesan kepada mereka untuk tidak mengomsumsi dan mengambil bekal air dari sumber air di wilayah Madain Salih, karena dahulunya adalah tempat unta Nabi Salih minum; serta tidak memasuki puing-puingnya agar tak terkena kutukan seperti kaum Samud (Mahlawi, 2009).

Ketika singgah di daerah al-Hijr pada Perang Tabuk, Rasulullah mewanti-wanti para sahabatnya untuk tidak minum dari sumur daerah itu dan tidak pula mengambil bekal air darinya. Mereka berkata, “Kami sudah telanjur membuat adonan dan mengambil bekal air dari sumur itu.” Mendengar itu, Rasulullah pun meminta mereka membuang adonan itu dan mengalirkan air yang sudah telanjur diambil. (Riwayat al-Bukhāri  dari Ibnu ‘Umar)

Hadis Rasulullah di atas jelas menguatkan eksistensi Madain Salih, tempat Nabi Salih tinggal bersama kaumnya untuk mendakwahkan ajaran tauhid kepada mereka dan mengajak meninggalkan kekufuran dan kemusyrikan.
Kaum Samud dihancurkan oleh Allah karena enggan mengikuti dakwah rasul yang diutus kepada mereka, yaitu Nabi Salih. Beberapa ribu tahun kemudian, keturunan kaum Samud yang selamat mendirikan Kerajaan Nabatea di wilayah utara Madain Salih, dengan ibukota bernama Petra. Sekarang ini tempat tersebut masuk dalam wilayah negara Yordania. Petra terletak sekitar 570 km sebelah utara Madain Salih. Kerajaan Nabatea ini memperluas wilayahnya ke selatan sampai ke Madain Salih pada 300an tahun SM hingga 100-an tahun Masehi, sebelum akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Kerajaan Romawi.
Madain Salih dahulu dikenal dengan nama al-Hijr, yang berarti “bukit batu”. Orang-orang Romawi menyebutnya Hegra. Adapun ibukota Kerajaan Nabatea, Petra, juga mempunyai arti yang kurang lebih sama, yakni “batu karang”. Kesamaan ini tidaklah mengherankan karena orang-orang Nabatea merupakan keturunan Samud.
Alquran menyinggung pula orang-orang al-Hijr dalam Surah al-Ḥijr/15: 80-84.

وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ۝ وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ۝ وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ۝ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ۝ فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ۝

Dan sesungguhnya penduduk negeri Hijr benar-benar telah mendustakan para rasul (mereka), dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya, dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung batu, (yang didiami) dengan rasa aman. Kemudian mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur pada pagi hari sehingga tidak berguna bagi mereka, apa yang telah mereka usahakan. (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 80-84)

Maulana Yūsuf Ali (1983) menafsirkan “al-Hijr” dalam ayat ini sebagai Madain Salih semasa Nabi Salih, yaitu semasa masih bermukimnya kaum Samud.
Situs Wikipedia (2011) menerangkan Madain Salih sebagai berikut, “Mada’in Salih dikenal pula dengan nama al-Hijr atau Hegra (menurut bahasa Yunani dan Latin, misal oleh Pliny), merupakan situs arkeologi pra-lslam yang terdapat di wilayah Sektor al-Ula, Provinsi Madinah, Saudi Arabia.”
Mayoritas prasasti yang ada menunjukan bahwa situs tersebut berasal dari masa Kerajaan Nabatea (1 abad setelah Masehi). Situs tersebut merupakan bagian paling selatan dari Kerajaan Nabatea dan merupakan area permukiman yang paling besar setelah ibukota Nabatea, Petra. Jejak-jejak koloni bangsa Lihyanite dan Romawi, berturut-turut sebelum dan sesudah pemerintahan Nabatea, dapat ditemukan di situs ini. Pada tahun 2008 yang lalu, UNESCO telah menetapkan situs Madain Salih sebagai salah satu world heritage yang dilindungi keberadaannya.
 
HIKMAH DARI KISAH NABI SALIH
Seperti para rasul Iainnya, Nabi Salih juga mengajak kaum Samud untuk bertauhid, mengakui bahwa tiada Tuhan yang patut dan berhak disembah seIain Allah.

 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ۝

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Alquran, Surah an-Nal/16: 36)

Setiap rasul yang diutus tidak mendakwahi umatnya kecuali untuk menghamba hanya kepada Allah, meninggalkan sembahan selain Dia. Tidak ada satu rasul pun yang ajarannya menyalahi prinsip tauhid ini. Demikian juga Nabi Salih yang diutus Allah untuk berdakwah kepada kaum Samud. Kepada kaum Samud, Allah mengutus saudara mereka sendiri  Salih, supaya dakwahnya mudah mereka terima. Tetapi ketika Salih memulai dakwahnya, kaum Samud menolaknya, bahkan menuduh Salih sebagai penyihir dan pendusta. Mereka meminta Salih membuktikan kebenaran dakwahnya dengan mengeluarkan seekor unta betina dari dalam batu besar yang mereka tunjuk. Nabi Salih setuju, dan dibuatlah perjanjian antara kaum Samud dengan Nabi Salih yang isinya apabila permintaan kaum Samud mampu dilaksanakan oleh Nabi Salih maka mereka harus beriman kepada Allah. Nabi Salih berdoa kepada Allah, dan doa itu dikabulkan. Terbelahlah batu besar itu dan dari dalamnya keluar unta betina seperti yang mereka minta. Nabi Salih lalu berkata seperti yang terekam dalam firman Allah,

 وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُم بَيِّنَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ۝

Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka Salih. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 73)

Setelah datang kepada mereka bukti nyata atas kebenaran Nabi Salih, hanya segelintir dari kaum Samud yang mau beriman. Kebanyakan mereka mengingkari perjanjian yang telah mereka buat dengan Nabi Salih. Sementara itu, unta betina tersebut hidup bersama masyarakat Samud. Di kawasan tempat tinggal masyarakat Samud terdapat suatu mata air yang memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Unta itu juga minum dari air tersebut, bergiliran dengan penduduk. Penduduk Samud meminum air susu unta itu secara bebas. Berimannya beberapa penduduk Samud setelah melihat mukjizat Nabi Salih membuat pembesar Samud merasa terancam kekuasaannya. Muncullah dalam diri mereka perasaan dengki, hingga sembilan orang dari mereka bersekongkol membunuh unta itu. Usai membunuh unta itu mereka mengejek Nabi Salih  seperti dikisahkan dalam firman Allah,

 فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ۝

Kemudian mereka sembelih unta betina itu dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. Mereka berkata, “Wahai Shalih! Buktikanlah ancaman kamu kepada kami, jika benar engkau salah seorang rasul.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 77)

Menjawab tantangan kaumnya, Nabi Salih menegaskan bahwa azab Allah pasti akan datang dalam tiga hari mendatang. Allah berfirman,

فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ۖ ذَٰلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ۝

Maka mereka menyembelih unta itu, kemudian dia (Salih) berkata, “Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Alquran, Surah Hūd/11: 65)

Aṭ-Ṭabari dalam Tafsir-nya, mengutip riwayat dari Qatādah, menjelaskan bahwa pada hari pertama usai membunuh unta itu, kulit kaum Nabi Salih mulai menguning, lalu memerah pada hari kedua, dan menghitam pada hari berikutnya. Berdasarkan riwayat ini, ada yang memahami bahwa mereka terserang penyakit sampar yang sangat ganas, yang dikenal dengan nama Pestis haemorrhagica. Mereka mulai menyesali apa yang telah mereka lakukan, tetapi semua sudah terlambat. Tepat pada hari ketiga, datanglah azab yang dinyatakan dalam firman Allah,

 فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ۝ فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ۝

Lalu datanglah gempa menimpa mereka dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka. Kemudian dia (Saleh) pergi meninggalkan mereka sambil berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu, tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasihat.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 78-79)

Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa pengingkaran kaum Samud kepada nabinya disebabkan oleh rasa dengki. Beberapa pemimpin Samud dengki melihat beberapa penduduk berpaling dan beralih mengikuti Salih. Mereka berusaha melenyapkan kecenderungan itu dengan membunuh unta betina yang sesungguhnya merupakan permintaan mereka sendiri. Kufur atas nikmat, dengki dan sombong, telah mengundang azab Allah yang memusnahkan mereka. Wallāhu a’lam.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu