NABI NUH

NABI NUH

Serial Quran dan Sains

FAJAR PERADABAN

Nabi Nuh merupakan nabi keempat setelah Adam, Syis, dan Idris, atau rasul ketiga setelah Adam dan Idris. Dalam Bibel, Kitab Perjanjian Lama, Nabi Nuh dikenal dengan nama Noah. Nama-nama yang disebut di atas dipercaya hidup pada awal lahirnya peradaban manusia dan oleh karenanya tidaklah aneh bila Alquran menyebut mereka “nenek moyang yang terdahulu” (aṣ-Ṣāffāt/37: 126). Perjanjian Lama (Kitab Kejadian) juga menyebut mereka sebagai Patriarch, yang mempunyai arti sama, “bapa-bapa yang terdahulu”.

Namun, tidaklah mudah bila tidak dapat dikatakan mustahil untuk mengetahui secara ilmiah sejarah keluarga Nabi Nuh, karena sampai sekarang belum ada data-data arkeologis yang meyakinkan tentangnya. Mempelajari riwayat sejarah Nabi Nuh dan keluarganya sangatlah penting jika kita ingin mengetahui sejarah fajar peradaban umat manusia. Alhamdulillah, banyak pustaka yang dapat dijadikan referensi dalam menguak tabir sejarah Nabi Nuh, antara lain wahyu Alquran, hadis Rasulullah, tradisi (turā) Islam, tradisi masyarakat Semitik -termasuk Kitab Perjanjian Lama dalam Bibel dan juga data-data penelitian arkeologis dan antropologis, yang walaupun belum cukup kuat, dapat sedikit memberi pencerahan tentang riwayat Nuh.

Banyak ahli sejarah menyatakan bahwa awal peradaban yang nyata dari kebudayaan manusia dimulai sekitar tahun 8500 SM, yaitu akhir Era Mesolitik atau awal dari Era Neolitik. Data arkeologis (McEvedy, 1983) menginformasikan bahwa pada milenium kesembilan SM ( – 9000 SM), masyarakat Irak di Lembah Tigris Atas (Upper Tigris Valley) dan pada sekitar milenium kedelapan SM ( – 8000 SM), masyarakat Palestina dari Budaya Natufia telah memberikan sumbangan mereka dalam teknologi pertanian gandum-ganduman. Sangat mungkin mereka ini adalah masyarakat purba pertama kali yang berbudaya di dunia.

TEMPAT DAN WAKTU MULAINYA

Alquran tidak secara spesifik menjelaskan letak permukiman kaum Nabi Nuh, tetapi beberapa ulama meyakini mereka hidup di kawasan yang saat ini dikenal sebagai Kufah, Irak. Alquran hanya menyebut lokasi mendaratnya bahtera Nabi Nuh, yaitu di Gunung Judi.

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ۝

Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang zalim.” (Alquran, Surah Hūd/11: 44)

Maulana Yūsuf Ali dalam Tafsir Alquran menyatakan bahwa Gunung atau Bukit Judi berada di suatu wilayah yang meliputi Distrik Bohtan di Turki, dekat perbatasan negara-negara Turki, Irak, dan Suriah sekarang ini. Dataran tinggi dari rangkaian Pegunungan Ararat yang besar mendominasi wilayah ini (Ali, 1993).

Alquran tidak menyebut waktu yang pasti dari sejarah Nabi Nuh, tetapi berbasiskan pada tradisi Islam yang lain, seperti dari imam Abul Fidā’ At-Tadmūri (Matthews, 1949), dapatlah dirunut bahwa sejarah Nabi Nuh bermula sekitar 6000 tahun yang lalu atau sekitar 4000 SM. Al-Maghluts (2008) juga menyebut tarikh Nabi Nuh sekitar 4000 SM. Oleh karena itu, berdasarkan Surah Hūd/11: 44 di atas, ditambah dengan tradisi-tradisi Islam, dapat diduga bahwa kaum Nabi Nuh adalah masyarakat Lembah Tigris Atas atau keturunan mereka.

NASAB NABI NUH

Nasab Nabi Nuh, menurut al-MaghIuts (2008) adalah Nuh bin Lamak bin Mutawasylah (Methuselah) bin Idris  bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Syis bin Adam.

 

NABI NUH DALAM ALQURAN

Kisah Nabi Nuh secara runtut dapat dicermati dalam Surah Hūd/11: 25-49 berikut.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ۝ أَن لَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ ۖ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ۝ فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ۝ قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِن كُنتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّي وَآتَانِي رَحْمَةً مِّنْ عِندِهِ فَعُمِّيَتْ عَلَيْكُمْ أَنُلْزِمُكُمُوهَا وَأَنتُمْ لَهَا كَارِهُونَ۝ وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۚ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ إِنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَٰكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ۝ وَيَا قَوْمِ مَن يَنصُرُنِي مِنَ اللَّهِ إِن طَرَدتُّهُمْ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ۝ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَن يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا فِي أَنفُسِهِمْ ۖ إِنِّي إِذًا لَّمِنَ الظَّالِمِينَ۝ قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ۝ قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُم بِهِ اللَّهُ إِن شَاءَ وَمَا أَنتُم بِمُعْجِزِينَ۝ وَلَا يَنفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدتُّ أَنْ أَنصَحَ لَكُمْ إِن كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَن يُغْوِيَكُمْ ۚ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ۝ أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ إِنِ افْتَرَيْتُهُ فَعَلَيَّ إِجْرَامِي وَأَنَا بَرِيءٌ مِّمَّا تُجْرِمُونَ۝ وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَن يُؤْمِنَ مِن قَوْمِكَ إِلَّا مَن قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ۝ وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ۝ وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ ۚ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ۝ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيمٌ۝ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ۝ وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ۝ وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ۝ قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ۝ وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ۝ وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ۝ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ۝ قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ۝ قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِّنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ ۚ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ۝ تِلْكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلَا قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ۝

Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), “Sungguh, aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih.” Maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.” Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Apa pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku diberi rahmat dari sisi-Nya, sedangkan (rahmat itu) disamarkan bagimu. Apa kami akan memaksa kamu untuk menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya? Dan wahai kaumku! Aku tidak meminta harta kepada kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang yang telah beriman. Sungguh, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu sebagai kaum yang bodoh. Dan wahai kaumku! Siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Tidakkah kamu mengambil pelajaran? Dan aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat, dan aku tidak (juga) mengatakan kepada orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu, “Bahwa Allah tidak akan memberikan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sungguh, jika demikian aku benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap karni, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar.” Dia (Nuh) menjawab, “Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepadamu jika Dia menghendaki dan kamu tidak akan dapat melepaskan diri. Dan nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu sekalipun aku ingin memberi nasihat kepadamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Bahkan mereka (orang kafir) berkata, “Dia cuma mengada-ada saja.” Katakanlah (Muhammad), “Jika aku mengada-ada, akulah yang akan memikul dosanya, dan aku bebas dari dosa yang kamu perbuat.” Dan diwahyukan kepada Nuh, “Ketahuilah tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat. Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, “Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan (siapa) yang akan ditimpa azab yang kekal.” Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Ternyata orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit. Dan dia berkata, “Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami  dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.”  Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itupun berlabuh di atas gunung Judi. Dan dikatakan, ‘Binasalah orang-orang zalim. ” Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.” Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.” ltulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Tidak pernah engkau mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sungguh, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa. (Alquran, Surah Hūd/11: 25-49)

 

CATATAN-CATATAN PENTING TENTANG RIWAYAT NABI NUH

Bahtera Nuh dan Banjir Besar

Alquran tidak menceritakan secara detail bahtera Nabi Nuh, baik bentuk, ukuran, maupun lama pembuatan bahtera itu. Dalam Surah Hūd/11: 37 di atas, disebutkan, “Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”  Ayat ini menjelaskan bahwa pembuatan bahtera itu dilakukan di bawah pengawasan dan pertunjuk Allah. Meski ukuran dan bentuk bahtera itu tidak disebutkan, tetapi dapat dimengerti bahwa bahtera itu ukurannya pasti cukup besar sehingga dapat memuat Nabi Nuh, keluarga dan kaumnya yang beriman, serta sepasang binatang dari berbagai jenis.

Bahtera juga harus cukup kuat untuk menentang badai dan banjir besar yang menggunung. Surah Hūd/11: 40 menyatakan, “Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Ternyata orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit.

Banjir besar dalam riwayat Nabi Nuh ini tentu bukanlah banjir biasa. Alquran menyatakan, gelombang banjir besar itu menggunung dan mampu mengangkat bahtera itu sampai ke puncak Gunung Judi yang tingginya sekitar 2000 meter di atas permukaan laut. Lihatlah surah Hūd/11: 42, “Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung…” Dengan demikian, jelaslah bahwa bahtera Nuh haruslah cukup besar untuk dapat menampung muatan yang begitu banyak, baik manusia, hewan, maupun perlengkapan lainnya, dan cukup kuat untuk dapat menahan gelombang badai dan banjir besar yang menggunung itu.

Lebih lanjut, dalam Surah al-Qamar/54: 13 dinyatakan bahwa bahtera itu terbuat dari papan kayu dan pasak.

وَحَمَلْنَاهُ عَلَىٰ ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ۝

Dan Kami angkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan pasak. (Alquran, Surah al-Qamar/54: 13)

Ukuran detail bahtera Nuh dapat kita temukan dalam Kitab Torah (Kitab Kejadian/Genesis dalam Perjanjian Lama) (Cit Balsiger and Sellier, 1976). Di sana disebutkan, “Buatlah olehmu sebuah bahtera dari gopher wood (kayu gofer). Jadikan beberapa ruangan di dalamnya dan tutuplah di dalam dan di luar dengan pitc. Demikianlah, kamu  harus membuatnya; panjang bahtera itu harus 300 cubits, lebarnya 50 cubits, dan tingginya 30 cubits. Buatlah jendela untuk (masuknya) cahaya siang dalam bahtera itu dan selesaikan bahtera itu dengan satu cubits di atasnya. Buatlah pintu masuk ke dalam bahtera, dan buatlah pula dek bawah, dek kedua, dan dek ketiga. Aku, pada giliran-Ku, akan membawa banjir ke bumi itu untuk memusnahkan / menghancurkan makhluk bernafas di mana pun juga. Setiap yang ada di muka bumi akan musnah.”

di duga kapal Nabi Nuh berlabuh di bukit Judi

Balsiger dan Sellier (1976) memperkirakan 1 cubits sama dengan sekitar 1,5 feet (kaki). Jadi ukuran bahtera Nabi Nuh menurut Perjanjian Lama di atas adalah: panjang 450 kaki (150 meter), lebar 75 kaki (25 meter), dan tinggi 45 kaki (15 meter). Suatu replika bahtera Nabi Nuh dengan ukuran skala yang lebih kecil telah dibuat dan dilakukan pengetesan dalam Laboratorium Hidraulik Internasional di California. Ternyata replika Bahtera Nabi Nuh tersebut lulus dalam ujicoba badai banjir buatan yang dilakukan di dalam laboratorium tersebut (Balsiger & Sellier, 1976). Lebih jauh, mereka memberikan keterangan bahwa kapal perang AS, USS Oregon, ukurannya didesain sama persis dengan Bahtera Nabi Nuh yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Nyatanya, USS Oregon menjadi salah satu kapal perang yang paling stabil dalam menghadapi terpaan gelombang yang menggunung. USS Oregon merupakan flagship (unggulan) dalam Armada Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) (Balsiger & Sellier, 1976). Besarnya Bahtera Nabi Nuh, dalam ukuran yang digambarkan Perjanjian Lama, sekitar 75% dari besar Kapal Induk USS Kittyhawk dari armada Angkatan Laut AS. Bayangkan betapa besarnya!

 

Asal Air Banjir Besar Nabi Nuh

Dari mana air banjir besar itu berasal adalah pertanyaan yang patut dijawab. Dengan muatan bahtera yang begitu banyak dan berat, ditambah ukurannya yang besar, tentu butuh air banjir yang amat besar untuk dapat mengangkat bahtera tersebut hingga puncak Gunung Judi. Merujuk kembali ke Surah Hūd/11: 42, “Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gununggunung…” dapat dikatakän bahwa banjir yang terjadi memanglah sangat besar dan dahsyat.

Asal air banjir besar Nabi Nuh dapat kita cermati dalam dua firman Allah berikut.

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ۝

Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air. (Alquran, Surah Hūd/11: 40)

 فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُّنْهَمِرٍ۝ وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ۝

Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan. (Alquran, Surah al-Qamar/54: 11-12)

Gabungan ayat-ayat ini menjelaskan bahwa air bah itu berasal baik dari langit, yaitu hujan yang sangat lebat dan deras, maupun memancar dari bumi. Menarik untuk mencermati interpretasi yang dikemukakan oleh Muhajir (1976) terhadap Surah Hūd/11: 40 maupun Surah al-Qamar/54: 11-12 di atas. Menurutnya, banyak terjadi salah interpretasi dalam memahami firman Allah, “dan tanur (dapur) telah memancarkan air” dan “dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air.” Muhajir (1976) dalam bukunya, Lesson from the Stories of The Qur’an, punya pandangan lain. Dia menyatakan bahwa kata bahasa Arab fāra bila dikaitkan dengan air berarti memancar keras dari bumi, dan kata at-tannūr tidak selalu berarti kompor. Ia bisa juga berarti cadangan air atau tempat di mana air dari lembah berkumpul. Dengan demikian, terjemahan yang betul dari kedua ayat di atas menurutnya adalah “air memancar keras dari lembahnya.” Dengan demikian, banjir besar terjadi sebagai akibat hujan yang sangat luar biasa deras dan lebatnya, akibat  “pintu-pintu langit dibuka” oleh Allah. Air hujan itu masuk ke lembah tempat kaum Nabi Nuh tinggal dan menimbulkan ulakan topan yang dahsyat sehingga air memancar keras dari lembahnya. Dengan demikian, air banjir besar itu, menurut Muhajir, tetap saja berasal dari langit. Tampaknya lembah tempat tinggal Kaum Nuh berupa cekungan.

Pada Surah al-Qamar/54: 12 disebutkan bahwa air itu berasal dari pintu-pintu langit yang dibuka oleh Allah. Apa yang dimaksud dengan pintu-pintu langit, tidak ada penjelasan tentangnya. Balsieger dan Sallier (1976), mengutip pendapat Donald Patten dalam bukunya, Cataclysm from Space, menyatakan bahwa kemungkinan besar sebelum tarikh banjir besar, bumi diselimuti oleh lapisan kanopi air dalam jumlah yang besar. Hujan yang menyebabkan banjir besar diperkirakan sebagai akibat dari hancurnya lapisan kanopi air itu. Mungkinkah yang dimaksud dengan firman Allah, “Kami bukakan pintu-pintu langit” adalah dihancurkannya lapisan kanopi air itu? Wallāhu alam

 

Penumpang Bahtera Nabi Nuh

Dalam Surah Hūd/11: 40 Allah berfirman,

 حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ۝

Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Ternyata orang-orang beriman yang bersama dengan Nuh hanya sedikit. (Alquran, Surah Hūd/11: 40)

Jelas bahwa yang ikut diselamatkan oleh Allah dengan masuk dalam bahtera adalah Nabi Nuh, keluarga beliau “kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu”, serta segelintir pengikut Nabi Nuh. Bahtera itu juga memuat masing-masing satu pasang dari jenis-jenis hewan. Lalu, siapakah anggota keluarga Nabi Nuh yang tidak ikut naik bahtera, atau dalam bahasa Alquran, “orang yang telah terkena ketetapan terdahulu”, itu? Ada dua orang dari keluarga Nuh yang diinformasikan Alquran tidak ikut masuk bahtera. Pertama, adalah putranya yang ingkar terhadap ajakan Nabi Nuh. Allah berfirman,

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ۝ قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ۝

Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan. (Alquran, Surah Hūd/11: 42-43)

Kedua, adalah istri beliau. Allah menyebut istri Nabi Nuh bersama-sama dengan istri Nabi Lut sebagai istri-istri yang kafir terhadap ajakan iman yang disampaikan oleh suami mereka.

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ۝

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang salih di antara hamba-hamba Kami. Lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (Alquran, Surah at-Tarīm/66: 10)

Informasi yang disampaikan Alquran ini berbeda dari apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Lama menyebut kalau semua anggota keluarga Nabi Nuh ikut dalam bahtera. Inilah perbedaan yang signifikan antara narasi yang ada dalam dua kitab tersebut.

 

Putra Nuh yang Ditenggelamkan

Ketika bahtera mulai mengarungi banjir besar yang menggunung itu, Nabi Nuh menyeru salah satu putranya yang tidak mau ikut naik ke dalam bahtera. Dalam Surah Hūd/11: 41-43 dijelaskan,

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ۝ وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ۝ قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ۝

Dan dia berkata, “Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami  dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.”  Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan. (Alquran, Surah Hūd/11: 41-43)

Alquran tidak menyebut nama putra Nabi Nuh yang kafir terhadap dakwah Nabi Nuh dan termasuk mereka yang ditenggelamkan. Tradisi Islam menyebut namanya adalah Kan‘aan. Riwayat putra Nuh yang ikut ditenggelamkan ini sama sekali tidak disinggung dalam kitab Perjanjian Lama. Realitas ini jelas membantah tuduhan para orientalis bahwa narasi riwayat para nabi terdahulu yang ada dalam Alquran mengutip mentah-mentah Kitab Perjanjian Lama dalam Bibel. Sementara itu, masih menurut tradisi Islam, putra-putra Nuh yang ikut dalam bahtera ada tiga orang: Sam, Ham, dan Yafis.

Ketika bahteranya telah berlabuh di Gunung Judi, Nabi Nuh mengeluh kepada Allah tentang putranya yang tenggelam, Kan‘aan. Allah memberikan jawaban sebagai-mana tertulis pada ayat-ayat berikut.

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ۝ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ۝ قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ۝

Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak tahu (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.” (Alquran, Surah Hūd/11: 45-47)

Jelas di sini bahwa putra Nuh itu tidak termasuk orang-orang yang dijanjikan untuk diselamatkan oleh Allah dari banjir besar karena keingkarannya terhadap dakwah ayahnya.

 

Tempat Berlabuh Bahtera Nuh

Sangat penting untuk mengetahui di mana bahtera Nabi Nuh berlabuh, karena Allah menyatakan bahtera Nabi Nuh telah dijadikan-Nya sebagai tanda (ayat), sebagaimana dapat dibaca pada ayat berikut.

وَلَقَد تَّرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ۝

Dan sungguh kapal itu telah Kami jadikan sebagai tanda (pelajaran). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Alquran, Surah al-Qamar/54: 15)

Alquran menjelaskan bahwa Bahtera Nuh berlabuh di Gunung Judi, sebagaimana firman Allah,

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ۝

Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi dan dikatakan, ”Binasalah orang-orang zhalim.” (Alquran, Surah Hūd/11: 44)

Majalah terbitan Inggris, Observer, menulis laporan tentang temuan arkeologis tempat pendaratan atau berlabuhnya bahtera Nabi Nuh yang masih diperdebatkan (Wroe, 1994; Daniken, 1997; lihat pula Laporan Surya Kusuma, 1997). Menariknya, laporan tentang temuan arkeologis dari ekspedisi pimpinan Dr. David Fasold dan Prof. Dr. Salih Bayraktutan ini mengonfirmasi bahwa Gunung Judi memang benar tempat bahtera Nabi Nuh itu berlabuh/mendarat. Hal ini sesuai dengan risalah dalam Alquran Surah Hūd/11: 44 (Al-Maghluts, 2008; Wroe, 1994; Daniken, 1997).

Bila Alquran menginformasikan yang demikian, Kitab Perjanjian Lama menyajikan hal yang tampak sedikit berlainan. Dalam Perjanjian Lama disebutkan, “Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada Pegunungan Ararat.” (Bible, Kitab Kejadian, 8: 4). Informasi ini diyakini benar oleh kalangan Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani.

Pegunungan Ararat atau dalam bahasa Turki lebih dikenal sebagai AgriDagh, terletak dekat perbatasan Turki-lran-Armenia. Pegunungan ini mempunyai dua puncak, yaitu Gunung Ararat Besar (GAB) yang tingginya mencapai 5.137 meter dan di sebelah barat dayanya tegak berdiri Gunung Ararat Kecil (GAK) yang tingginya 3.896 meter. Kedua gunung itu saling berangkai dan kedua puncaknya ditutupi salju. Sementara itu, Gunung Judi terletak di perbatasan Iran-Turki, berada di sebelah barat daya rangkaian GAB dan GAK dan berjarak sekitar 200 mil (320 km) dari rangkaian Pegunungan Ararat tersebut. Namun demikian, Gunung Judi ini masih merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Ararat yang panjang itu.

Ekspedisi pencarian bahtera Nabi Nuh secara intensif dilakukan oleh beberapa tim ekspedisi Barat sejak awal abad XX. Pada tahun 1988, misalnya, Dr. Charles Willis melacak keberadaan bahtera Nabi Nuh di antara kedua puncak GAB dan GAK dengan menggunakan radar dan pengebor es. Sayang, tim ekspedisi itu gagal menemukan hasil yang konklusif tentang keberadaan bahtera Nabi Nuh. Setahun kemudian, seorang warga Italia bernama Angelo Palego mengklaim telah menemukan bahtera Nabi Nuh di antara Dataran Tinggi Barat dan Glasier Parrot di Pegunungan Ararat. Namun klaim Palego ini belum dapat dibuktikan lebih lanjut oleh para tim ekspedisi setelahnya.

Pada tahun 1988, sebuah tim ekspedisi bergerak mencari jejak bahtera Nabi Nuh di sekitar Gunung Judi. Tim ekspedisi tersebut diketuai Dr. David Fasold, seorang ahli geofisika dari AS, dan Prof. Dr. Salih Bayraktutan, direktur Institut Geologi Universitas Ataturk, Turki. Tim ekspedisi ini menggunakan instrumen canggih, yaitu ground radar yang dapat memotret benda di jauh kedalaman tanah dengan hasil yang sangat baik (Wroe, 1994). Setelah ekspedisi berjalan enam tahun, pada tahun 1994 tim ekspedisi itu berhasil mengambil foto sebuah objek berbentuk bahtera yang terkubur di kedalaman 2.300 meter. Panjang objek itu diperkirakan 170 meter dan lebar 45 meter. Alquran tidak memberikan rincian tentang ukuran bahtera Nabi Nuh. Dalam Surah Hūd/11: 37 hanya disebutkan bahwa Allah berfirman kepada Nuh, “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami..”.

Ukuran objek bahtera yang didapat tim ekspedisi pimpinan Fasold Bayraktutan itu tampak mendekati ukuran bahtera yang digambarkan di dalam Bibel. Salih Bayraktutan memperkirakan umur bahtera tersebut lebih dari 100.000 tahun. Beliau mengatakan, “Ini adalah struktur buatan manusia, dan inilah bahtera Nabi Nuh itu.” Sedangkan David Fasold yang sangat gembira melihat hasil foto yang cemerlang itu mengatakan, “Perbandingan yang diperoleh ground radar pada 25 meter dari buritan begitu jelas sehingga Anda bisa menghitung papan-papan lantai (dek) di antara dinding bahtera.” (Observer, 1994).

Fasold yakin timnya telah menemukan sisa-sisa kabin bagian atas yang telah menjadi fosil. Lebih dari itu, di sekitar temuan di Gunung Judi tersebut, para ilmuwan Amerika Serikat dan Turki itu telah menemukan pula sebuah batu besar dengan lubang yang dipahat di ujungnya. Batu itu diyakini sebagai batu kendali. Pada kapal-kapal kuno, benda itu biasa dikaitkan di belakang kapal sebagai alat penyeimbang.

Kesimpulan sementara dari temuan itu mempertegas apa yang tertulis dalam Alquran, (Surah Hūd/11: 44) tentang tempat berlabuhnya Bahtera Nabi Nuh, yaitu di Gunung Judi. Namun jika dicermati, sebenarnya Gunung Judi itu masih menjadi bagian dari Pegunungan Ararat, tempat yang disebut Bibel sebagai tempat kandasnya bahtera Nabi Nuh. Bibel tidak spesifik menyebut bahwa Bahtera Nuh terdampar di puncak-puncak Pegunungan Ararat: GAB maupun GAK, tempat yang menjadi objek ekspedisi-ekspedisi sebelumnya. Dengan demikian, temuan Ekspedisi Fasold Bayraktutan ini juga mencocoki apa yang ada di dalam Bibel.

Namun demikian, harus disadari bahwa ekspedisi yang membutuhkan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, utamanya dalam bidang arkeo-kimia, arkeo-fisika, dan arkeologi molekuler, masih memerlukan tindak lanjutnya, yaitu ekskavasi bahtera itu secara utuh serta pembacaan manuskripnya yang kemungkinan ada di peninggalan arkeologi itu. Pemerintah Turki berencana mendedikasikan lokasi penemuan khusus itu untuk kepentingan studi arkeologis.

 

Usia Nabi Nuh

Alquran pada Surah al-‘Ankabūt/29: 14-15 menyebutkan bahwa Nabi Nuh tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ۝ فَأَنجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِّلْعَالَمِينَ۝

Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Alquran, Surah al-‘Ankabūt/29: 14-15)

Kitab Perjanjian Lama juga menyebut angka yang sama, 950 tahun. Menurut Muhajir, angka umur 950 tahun tersebut mempunyai arti bahwa hukum yang didakwahkan oleh Nabi Nuh berlaku selama 950 tahun, kemudian sesudah itu digantikan oleh hukum Nabi Ibrahim. Menurut beberapa catatan yang terdapat dalam Bibel, suatu kurun 952 tahun telah memisahkan antara kedatangan Nuh dan kedatangan Ibrahim. Rujukan ini mungkin menunjukan lama rentang waktu 950 tahun (Muhajir, 1976).

Berbeda dari Muhajir, Balsiger dan Sellier (1976) menyimpulkan umur Nabi Nuh bisa mencapai 950 tahun karena sebelum banjir besar kemungkinan bumi diselimuti oleh lapisan kanopi air di atmosfer, yang lebih tebal dibanding yang ada sekarang ini. Lapisan ini melindungi makhluk bumi dari paparan radiasi ultraviolet (UV) pada panjang gelombang tertentu yang dapat membahayakan otak manusia dan mengakibatkan memendeknya umur. Nyatanya, setelah banjir besar ketika kanopi air pecah dan turun ke bumi, lapisan atmosfer menjadi lebih tipis, dan manusia mempunyai umur yang lebih pendek daripada sebelumnya. Nabi Ibrahim, misalnya, hanya berusia sekitar 100 tahun. Wallāhu a’lam.

 

Keluarga Nabi Nuh

Keluarga Nabi Nuh dalam Tradisi Islam dan Yahudi

Menurut tradisi Islam yang diriwayatkan oleh At-Tadmuri (Mathews, 1949), Nabi Nuh mempunyai tiga orang putra. Mereka adalah Sam, Ham, dan Yafis. Pandangan ini sama dengan tradisi dalam agama Yahudi yang menyatakan bahwa Noah mempunyai tiga orang putra, yaitu Shem, Ham, dan Japhet (Kitab Kejadian: 10).  Namun, tradisi Islam yang lainnya menyinggung eksistensi putra keempat Nabi Nuh, dia adalah Kan‘aan (Canaan) (Sattar, 1979; Bey, 1978).  Kan‘aan adalah satu-satunya putra Nuh yang mengingkari kerasulan ayahnya dan karenanya ia ikut ditenggelamkan Allah ke dalam Banjir Besar (Hūd/11: 42-43). Karena kekafirannya itu pula Allah menegaskan kepada Nuh bahwa Kan‘aan tidak patut dianggap sebagai keluarga Nuh yang benar atau yang diselamatkan (Hūd/11: 45-46). Dalam Bibel (Perjanjian Lama, Kitab Kejadian) maupun pustaka-pustaka Yahudi yang lain, Kan‘aan disebut sebagai putra Ham dan dengan demikian ia adalah cucu Nabi Nuh (Landman, 1948).

Dalam bukunya, Muṡīrul-Garām fī Faḍl Ziyāratil-Khalīl (Matthews, 1949), At-Tadmuri mengutip keterangan Aṡ-Ṡa‘labi yang berasal dari Rasulullah, bahwa Sam adalah leluhur bangsa-bangsa Arab, Persia, dan Yunani dan Ham adalah leluhur dari bangsa-bangsa Kulit Hitam, sedang Yafis adalah leluhur bangsa-bangsa Turki, Saqalibah, dan Ya’juj-Ma’juj.

Putra Nuh ada 3 orang: Sam, Ham, dan Yafis. Keturunan Sam adalah bangsa Arab, Persia, dan Rum -bangsa-bangsa yang baik. Keturunan Yafis adalah bangsa Ya’juj-Ma’juj, Turki, dan Saqalibah -bangsa-bangsa yang tidak punya kebaikan. Dan keturunan Ham adalah bangsa Barbar, Kopti, dan Sudan. (Riwayat Ibnu ‘Asākir dari Abū Hurairah)

Hadis yang senada juga diriwayatkan oleh al-Ḥākim dalam al-Mustadrak dari Sa’id bin al-Musayyab secara mauqūf (berhenti sanadnya pada tataran sahabat).

Maulana Yūsuf Ali (1983) berpendapat bahwa Ya’juj-Ma’juj adalah suku-suku primitif di Asia Tengah, yang dalam pengembaraannya mereka membuat banyak kerajaan maupun imperium. Suku-suku ini, dalam pengembaraannya, bergerak ke arah barat sehingga oleh orang-orang Yunani maupun Romawi suku-suku ini disebut sebagai ras Scythians, leluhur dari ras Rusia. Suku-suku lainnya dikenal sebagai ras Sakasun (Saxons). Kedua ras ini, Scythians dan Saxons, merupakan leluhur dari bangsa Eropa. Suku-suku primitif Asia Tengah ada pula yang mengembara ke arah timur dan oleh orang-orang Cina disebut sebagai Mongol. Berbasiskan pada tradisi di atas, dapat diduga bahwa Sam adalah leluhur bangsa-bangsa Timur Tengah (Middle East) dan Timur Dekat (Near East), Ham adalah leluhur bangsa-bangsa Afrika, sedang Yafis adalah leluhur bangsa-bangsa Eropa dan Asia Timur Laut.

Para pujangga (scholars) Yahudi (Landman, 1948) percaya bahwa Shem adalah leluhur dari sekelompok ras purba yang umumnya bermukim di suatu wilayah yang sekarang dikenal sebagai Timur Tengah, utamanya Jazirah Arabia dan Sabit Subur (Fertile Crescent, wilayah yang membentang dari pantai utara Afrika, pantai barat Palestina-Suriah, hingga pantai selatan Turki dan Yunani). Masyarakat yang hidup di wilayah tersebut dikenal sebagai orang-orang Arab, Assyria, Arramea (Arrameans), dan Elamit (Elamites). Para pujangga Yahudi juga berpendapat bahwa Ham adalah leluhur dari suku-suku yang hidup di pantai utara Afrika, seperti Cushites (Ethiopia=Abisinia), Mizraim (Mesir), Put (Lybia), sedangkan Japhet adalah leluhur dari suku-suku yang bermukim di sebelah utara dan barat wilayah Palestina, yaitu suku-suku Media, Ionia, Citrium, Tarshish, Meshech, dan Tubal. Sebagai tambahan, suku-suku keturunan Japhet di atas kemungkinan besar juga merupakan leluhur bagi ras Arya (Jenie, 1995). Kata Japhet dalam bahasa Yahudi berarti “indah” (to be beautiful), hampir serupa dengan arti kata yang sama dalam bahasa Arya, “mulia” (noble).

Tradisi (folklore) dalam bangsa Yahudi juga menambahkan bahwa Kan‘aan merupakan leluhur bangsa Canaanites, Hittites, Amorites, Jebusites, Hivites, Girgashites, dan Perrizites. Perkawinan antarmereka melahirkan suku-suku Funisia, Kartagena, dan Heth. Pada saat suku-suku Israel muncul, suku Canaanites punah karena pembantaian (semacam genosida) atau diserap ke dalam suku-suku Israel (Landman, 1948).

Walaupun masih terdapat beberapa perbedaan antara tradisi Islam dengan tradisi Yahudi tentang keluarga Nuh, tetapi pada prinsipnya kedua tradisi tersebut sepakat bahwa hampir semua ras manusia di dunia ini leluhurnya adalah ketiga putra Nuh di atas.

 

Ras Sam, Ham, dan Arya dalam Khazanah Ilmu Pengetahuan

Wilayah Eropa-Asia Dekat (Europe Near East Region) pada masa 8500-4500 SM dikenal sebagai ekosfer dari Ras Putih (McEvedy, 1983). Tiap ras dan ekosfer yang besar dapat dibagi lagi menjadi beberapa sub-ras dengan ekosfernya yang lebih kecil. Sub-divisi yang penting dari Ras Putih, menurut McEvedy, adalah ras Sam (Semitic race) yang mendiami Jazirah Arabia, ras Ham (Hamitic race) yang mendiami wilayah Afrika Utara dan timur Sahara, dan ras Indo-Eropa (Indo-Europeans race, yang berasal dari Arya) yang mendiami benua Eropa.

Bila diperhatikan, utamanya dari sisi linguistik, ras Sam dan ras Ham mempunyai hubungan kekerabatan satu sama lain. Namun, ketika bahasa-bahasa ras Sam merupakan kelompok yang jelas, tidak demikian halnya dengan bahasa-bahasa ras Ham. Bahasa-bahasa ras Ham ternyata sebagian hanya merupakan konsep geografis saja, dalam arti bahwa bahasa-bahasa ras Ham mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat dengan bahasa-bahasa ras Sam, sebagaimana kedekatannya antar bahasa-bahasa ras Ham itu sendiri (McEvedy, 1983). Bukti linguistik ini tampaknya sesuai dengan tradisi Semitik (baik Islam maupun Yahudi) yang menyatakan bahwa ras Sam dan ras Ham berasal dari stok yang sama (Jenie, 1995).

Data historis (McEvedy, 1983; Sousse, 1977) juga menegaskan bahwa orang-orang Kan‘aan adalah bagian dari ras Sam atau dengan kata lain, Kan‘aan merupakan sub-ras dari ras Sam. Kembali data ini menguatkan lagi kesesuaiannya dengan tradisi Semitik, bahwa mereka berasal dari stok yang sama.

Bagaimana dengan ras Arya? Dari mana ras ini berasal? Beberapa antropolog mengatakan bahwa ras Arya dikelompokkan sebagai spesies putih dan termasuk kelompok yang sama dengan ras Sam maupun Ham (McEvedy, 1983). Lebih dari itu, secara geografik ekosfer ras Arya begitu dekat tempat/wilayahnya dengan ras Sam dan sebagaimana telah disebutkan, kata Arya mempunyai arti yang sama atau sekurang-kurangnya mirip dengan arti kata Japhet. Oleh karenanya, cukup masuk akal bila dinyana bangsa Arya mempunyai leluhur yang sama dengan bangsa-bangsa ras Sam dan Ham. Dengan kata lain, Yafis adalah leluhur dari ras Arya (Jenie, 1995).

Pendapat para ahli antropologi molekuler tentang ras manusia perlu pula diperhatikan. Pada tahun 1919, suami-istri Ludwik dan Hanna Hirszfeld melakukan penelitian golongan darah ABO dari 500-1000 kelompok individu yang mewakili 16 bangsa dan melaporkannya dalam bentuk biochemical race index (indeks ras biokimiawi) (Goodman and Tashian, 1976). Laporan tersebut menyatakan bahwa biochemical race index, yaitu rasio golongan darah: [A+B]/[B+AB] telah membagi bangsa-bangsa menjadi tiga kelompok besar. Ketiga kelompok tersebut adalah: Kelompok Eropa (Inggris, Perancis, Italia, dan Yunani) dengan nilai indeks ras biokimiawi 2,5 atau lebih, kelompok Antara atau Intermediate Group (Arab, Turki, Rusia, dan Yahudi) dengan nilai indeks ras biokimiawi di atas 1 hingga 2,5, dan Kelompok Asia-Afrika (Madagaskar, Negro, Indocina, dan India) dengan indeks ras biokimiawi 1 atau kurang (Goodman and Tashian, 1976).

Berdasarkan semua keterangan/ pertimbangan di atas, baik dari tradisi maupun data ilmiah, dapatlah dibuat konklusi yang cukup rasional bahwa keluarga Nabi Nuh mencakup hampir seluruh bangsa yang ada di dunia ini: Ras Sam (Arab dan Israel), ras Ham (Ethiopia, Somalia, dan bangsa-bangsa Afrika), dan ras Arya (Eropa, Persia, India, dan kemungkinan Cina).

 

Kaum ‘Ad, Kaum Samud, dan Bani Israel: Keturunan Keluarga Nuh

Dalam Surah al-A‘rāf/7: 69 disebutkan bahwa kaum ‘Ad adalah khalifah (pengganti) dari kaum Nuh. Begitu pula dalam Surah al-A‘rāf/7: 74 disebutkan bahwa kaum Samud adalah khalifah (pengganti) dari kaum ‘Ad.

أَوَعَجِبْتُمْ أَن جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنكُمْ لِيُنذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ۝

Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri untuk memberi peringatan kepadamu? Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh dan Dia lebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah akan nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 69)

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ ۝

Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 74)

Al-Maghluts (2008) menyatakan bahwa baik kaum ‘Ad maupun Samud merupakan keturunan keluarga Nuh melalui jalur Sam. Kaum ‘Ad diawali dari ‘Ad yang mempunyai nasab: ‘Ad bin ‘Aush bin Iram bin Sam bin Nuh. Sementara itu, kaum Samud berasal dari Samud, dengan nasab: Samud bin Amir bin Iram bin Sam bin Nuh. Seperti halnya kaum ‘Ad dan Samud, Bani Israil atau Israel, yang dikenal sebagai keturunan Ibrahim melalui jalur Nabi Ishaq dan Ya’qub, juga merupakan keturunan Nabi Nuh. Dalam Surah al-Isrā’/17: 3, Allah menyatakan bahwa Bani Israil merupakan keturunan dari orang-orang yang ikut dalam bahtera Nabi Nuh.

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا۝

(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Alquran, Surah al-lsrā’/17: 3)

Israil adalah nama lain dari Ya’qub putra Ishaq. Nasab Nabi Ya’qub juga kembali ke leluhurnya, Ibrahim, dan terus ke Nabi Nuh melalui jalur Sam. Menurut Al-Maghluts (2008), nasab Nabi Ya’qub adalah: Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim bin Azar bin Nahur bin Saruj bin Ra’u bin Falij bin Abir bin Syalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.

 

Dari Keluarga Nuh dan Ibrahim akan Muncul Para Nabi

Allah berfirman bahwa kepada setiap bangsa diutus seorang rasul/nabi yang mengajak umatnya menuju ajaran tauhid. Para nabi/rasul yang dikirim itu tidak semuanya diceritakan kepada Rasulullah Muhammad. Allah berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ۝

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Alquran, Surah an-Nal/16: 36)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ۝

Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (Alquran, Surah Gāfir/40: 78)

Menjelaskan dari keturunan mana para rasul itu berasal, dalam Surah al-Ḥādid/57: 26 Alah berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ ۖ فَمِنْهُم مُّهْتَدٍ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ۝

Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami berikan kenabian dan kitab (wahyu) kepada keturunan keduanya. Di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik. (Alquran, Surah al- Ḥādid/57: 26)

Firman Allah di atas menjelaskan bahwa dari keturunan Nuh dan Ibrahim akan diangkat para rasul/nabi. Umumnya rasul/nabi yang dikenal dalam tradisi Islam adalah mereka yang berasal dari keluarga Ibrahim, yang beliau sendiri berasal dari keluarga Nabi Nuh melalui jalur Sam. Para nabi yang bukan keturunan Ibrahim, tetapi berasal dari keluarga Nuh melalui jalur Sam adalah Nabi Hud, Salih, dan Lut, keponakan Ibrahim. Adapun para nabi dari keluarga Ibrahim melalui jalur Ishaq dan Ya’qub (Israil) adalah Ishaq, Ya’qub, Yūsuf, Musa, Syamwil (Samuel), Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Ayyub, Yunus, Zulkifli, ‘Uzair, Zakariya, Yahya, dan Isa. Sementara itu, rasul/nabi keturunan Ibrahim melalui jalur Ismail (Arab-lsmailis) hanya dua: Ismail dan Muhammad, sedangkan Nabi Syu’aib adalah keturunan Ibrahim melalui jalur Madyan bin Ibrahim.

Dengan demikian, para rasul atau nabi pascaera Nabi Nuh yang dikenal dalam tradisi Islam adalah mereka yang berleluhurkan Nabi Ibrahim, yang merupakan keturunan Nabi Nuh melalui jalur Sam atau mereka yang langsung berleluhurkan Nabi Nuh melalui jalur Sam tanpa melalui jalur Nabi Ibrahim.

Dari jalur Sam muncul para nabi/rasul, baik dari keluarga Ibrahim nabi/ rasul yang berleluhurkan Nabi Nuh melalui jalur Ham atau Yafis. Apakah Socrates, Zarathustra, Krishna, Siddharta Gautama, Lao Tze, dan Kong Fu Tse yang berasal dari ras Arya atau ras Mongoloid (yang diduga berasal dari Yafis bin Nuh) juga berstatus nabi atau rasul, mengingat firman Allah pada Surah an-Naḥl/16: 36 di atas? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tentu kita memerlukan penelitian lebih lanjut.

 

Hikmah dari Kisah Nabi Nuh

Allah mengutus Nuh agar menyeru kaumnya untuk beribadah hanya kepada Allah, meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, seperti menyembah berhala dan sebangsanya. Nuh mengingatkan kaumnya bahwa azab Allah akan menimpa siapa saja yang lalai dari ketentuan yang demikian itu. Sayangnya, selama 950 tahun Nabi Nuh berada di tengah kaumnya, hanya sedikit dari kaumnya yang beriman, bahkan mereka ini memang sudah beriman sejak lama. Usai menerima wahyu yang mengabarinya bahwa tidak akan ada Iagi dari kaumnya yang akan beriman kepada Nuh (Hūd/ 11: 36), ia berdoa agar mereka yang ingkar dibinasakan oleh Allah. Allah mengabulkan doa Nuh, dan bersamaan dengan itu menyuruhnya membuat bahtera. Ketika waktu yang Allah tentukan tiba, terjadilah banjir yang sangat besar. Nabi Nuh naik bahtera bersama pengikutnya yang beriman menuju Bukit Judi dan berlabuh di sana. Kaumnya yang tetap kafir, termasuk istri dan seorang anaknya sendiri, tenggelam dalam air bah yang sangat besar, dan binasalah mereka.

Mengajak umat menuju ajaran tauhid, meninggalkan syirik, adalah inti dakwah seluruh nabi, tidak terkecuali nabi terakhir, Muhammad. Inilah sesungguhnya inti ajaran agama. Bertauhid dalam ibadah adalah cinta yang hakiki kepada Allah dan manusia selaku ciptaan-Nya sudah semestinya menghamba dan merendahkan diri di hadapan Sang Penciptanya. Allah berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ۝

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat). (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 59)

 قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ۝ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ۝

Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku. (Alquran, Surah Nūḥ /71: 23)

Nabi Nuh menyampaikan pesan-pesan iman kepada kaumnya dengan cara yang bijak, lemah lembut, dan mengajak berdiskusi, tetapi mereka tetap enggan beriman. Ketika Nuh memperingatkan mereka akan datangnya azab Allah, mereka malah menantang Nuh untuk segera menimpakannya kepada mereka. Allah berfirman, menceritakan tentangan kaum Nuh.

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ۝

Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar.” (Alquran, Surah Hūd/11: 32)

Ayat ini menginformasikan betapa Nabi Nuh sudah berusaha keras menyampaikan hujah yang kuat mengenai ajaran tauhid yang disampaikannya, tetapi kaumnya tetap saja tidak mau mengikuti dakwah Nuh. Untuk membuktikan kebenaran dakwah yang disampaikannya, Nabi Nuh ditantang oleh kaumnya untuk mendatangkan hukuman dan azab. Sadar kalau mendatangkan azab adalah bukanlah urusannya, Nabi Nuh dengan rendah hati menjawab, seperti diabadikan dalam firman Allah,

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُم بِهِ اللَّهُ إِن شَاءَ وَمَا أَنتُم بِمُعْجِزِينَ۝

Dia (Nuh) menjawab, “Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu tidak akan dapat melepaskan diri.” (Alquran, Surah Hūd/11: 33)

Tantangan kaumnya kepada Nabi Nuh untuk mendatangkan azab jelas menunjukkan kesombongan dan penentangan mereka kepada

وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَن يُؤْمِنَ مِن قَوْمِكَ إِلَّا مَن قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ۝

Dan diwahyukan kepada Nuh, “Ketahuilah tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat.” (Alquran, Surah Hūd/11: 36)

Melalui ayat ini Allah mengingatkan Nuh untuk tidak bersedih dan gelisah atas minimnya umat beliau yang mengikuti dakwahnya. Di sisi Iain, jumlah mereka yang ingkar sangat besar. Mendengar wahyu ini hati Nabi Nuh merasa tenteram. la lalu berdoa memohon kepada Allah agar membinasakan kaumnya yang kafir.

وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا۝

Dan Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Alquran, Surah Nū /71: 26)

Maka datanglah banjir bah dahsyat yang membinasakan mereka. Kisah ini mengajari kita bahwa kebinasaan suatu umat disebabkan kezaliman mereka sendiri. Allah berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ۝

Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Alquran, Surah al-‘Ankabūt/29: 14)

Kebinasaan suatu kaum yang disebabkan oleh kezaliman, kesyirikan, kekafiran, dan dosa yang mereka buat juga disebutkan dalam beberapa ayat yang lain. Dengan demikian, boleh disimpulkan bahwa kebinasaan merupakan konsekuensi dari kezaliman dan dosa. Sebaliknya, Allah tidak akan membinasakan suatu kaum apabila mereka beriman dan berbuat baik. Allah berfirman,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ۝

Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (Alquran, Surah Hūd/11: 117)

Kisah Nabi Nuh juga memperlihatkan betapa status nasab atau keturunan dari orang salih, bahkan nabi sekalipun, tidak menjamin keselamatan seseorang dari azab Allah. Nabi Nuh memanggil anaknya supaya naik ke bahtera agar selamat dari banjir, tetapi ia menolak. Nuh pun mendoakan keselamatan anaknya, tetapi Allah memberitahunya bahwa anaknya itu karena kekafirannya tidak termasuk dalam keluarga Nuh, keluarga yang Allah janjikan untuk selamat dari azab. Allah berfirman,

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ۝ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ۝

Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh. ” (Alquran, Surah Hūd/11: 45-46)

Jadi, jelaslah bahwa nasab tidak berpengaruh apa pun terhadap keselamatan seseorang dari ancaman azab Allah. Status sebagai keturunan orang salih tidak menjamin kesalihan seseorang dan keselamatannya dari azab, yang menjamin adalah keimanan dan amal salihnya sendiri.

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari kisah Nuh adalah bahwa seseorang yang mengajak kepada keimanan dan jalan Allah tidak pantas meminta upah atas dakwahnya itu. Kepada umatnya Nuh menegaskan bahwa dirinya tidak minta balasan berupa harta benda atas ajakannya untuk beriman, karena ia hanya mengharapkan balasan dari  Allah. Allah berfirman, mengisahkan perkataan Nuh,

يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ۝

Wahai kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti?” (Alquran, Surah Hūd/11: 51)

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu