NABI ADAM
ilustrasi kisah nabi adam

NABI ADAM

Serial Quran dan Sains

MANUSIA PERTAMA

Adam diyakini oleh tiga agama besar: Yahudi, Kristiani, dan Islam, sebagai manusia pertama di dunia ini. Riwayat Adam tertulis baik pada Kitab Perjanjian Lama (Kitab Kejadian) maupun dalam Alquran. Kitab-kitab tersebut umumnya meriwayatkan Adam, sejak penciptaannya, kehidupannya di Jannah (Taman Surga), hingga terjerumusnya Adam oleh godaan Iblis, serta keluarnya Adam dari Taman Surga. Meski Alquran tidak menyebutkan riwayat Adam setelah keluar dari Taman Surga, namun riwayat kedua putra Adam tertulis secara singkat dalam AIquran, Surah al-Mā’idah/5: 27-31.

NABI ADAM DALAM ALQURAN

Riwayat Adam tersebar dalam banyak surah di dalam Alquran. Di bawah ini adalah riwayat Adam yang dikisahkan dalam Surah al-Baqarah/2: 30-34 dan 35-37.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝ وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ۝ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ۝ قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنبَأَهُم بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ۝ وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ۝

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan namaMu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, “Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?” Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. la menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 30-34)

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ۝ فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ۝ فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ۝

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 35-37)

 

BEBERAPA CATATAN PENTING TENTANG RIWAYAT NABI ADAM

Respons Malaikat atas Penciptaan Khalifah di Bumi

Ketika Allah menyatakan kepada para malaikat kehendak-Nya menciptakan khalifah di muka bumi, para malaikat memberikan respons mereka, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam Surah al-Baqarah,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan namaMu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 30)

Pertanyaan-pertanyaan para malaikat didasarkan pada kekhawatiran bahwa makhluk manusia ini nantinya justru akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Allah lalu menjawabnya dengan berfirman,” Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Lalu, bagaimana bisa malaikat khawatir manusia yang diciptakan Allah itu akan membuat kerusakan di muka bumi dan senang menumpahkan darah (berperang)? Ada dua kemungkinan jawaban atas pertanyaan ini.

Pertama, malaikat diciptakan dari cahaya, gelombang elektromagnetik yang dapat menembus ruang dan waktu. Oleh karena itu, malaikat bisa mengetahui apa yang akan terjadi dimasa datang. Dengan begitu, tabiat manusia yang memang nantinya akan bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan serta senang berperang telah diketahui oleh para malaikat.

Kedua, sebelum Adam diciptakan, bumi telah dihuni oleh makhluk seperti manusia (manusia purba), yang belum tergolong Homo sapiens atau Homo sapiens sapiens, yang besar otaknya sudah sama dengan makhluk modern saat ini, Bani Adam. Otak manusia purba relatif lebih kecil dibanding otak Bani Adam dan cara berjalannya pun belum setegak Homo sapiens. Makhluk seperti manusia ini umumnya belum tergolong ke dalam jenis Homo (manusia), tetapi sudah menghuni bumi sebelum datangnya Adam. Malaikat dapat mengetahui bahwa dari riwayatnya, makhluk-makhluk manusia purba ini sering berperang satu sama lain dan membuat kerusakan di bumi. Secara singkat, makhluk-makhluk mirip manusia atau sering disebut manusia purba adalah:

  1. Jenis Sahelanthropus (7 juta tahun yang lalu), antara rain: Sahelanthropus tchadensis.
  2. Jenis Orrorin (6 juta tahun yang lalu), antara lain: Orrorin tugenensis.
  3. Jenis Ardipithecus (5,5 juta tahun yang lalu), antara lain: Ardipithecus kadabba.
  4. Jenis Australophitecus (4-2 juta tahun yang lalu), antara lain: Australophitecus Ananensis dan Australophitecus africanus.
  5. Jenis Parathropus (3-1,2 jutatahun yang lalu), antara lain: Parathropus Aethiopicus.
  6. Jenis Homo (2 juta tahun yang lalu-sekarang), antara lain:
  • Homo hobilis (2,4-1,4 juta tahun yang lalu),
  • Homo erectus (1,8 juta-ooo tahun yang lalu),
  • Homo neanderthalensis (250.000-000 tahun yang lalu),
  • Homo sapiens (250.000—sekarang).

Homo sapiens adalah satusatunya jenis dari marga Homo yang tidak punah. Banyak jenis Homo lainnya yang hidup di masa lalu punah dari muka bumi. Mungkin saja salah satu darinya merupakan moyang dari Homo sapiens. Akan tetapi, tentunya banyak yang lain yang berperan sebagai “sepupu” yang tidak dalam jalur yang dekat dengan manusia modern saat ini. Sampai saat ini, belum ada kesepakatan di antara para peneliti, kelompok mana yang merupakan jenis terpisah dan jenis mana yang merupakan kerabat dekat manusia modern. Tiadanya kesepakatan ini disebabkan oleh banyak hal, di antaranya masih minimnya bukti fosil yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan belum adanya kesepahaman dalam penggunaan karakter untuk mengidentifikasi marga Homo. Variasi-variasi fisik yang terjadi karena pola migrasi dan pola diet harus dimasukkan dalam studi yang lebih rinci. Tradisi (turā, folklore) Islam menyebutkan bahwa riwayat Adam terjadi sekitar 6.000-5.000 tahun yang lalu (Al-Maghluts, 2008). Maka, jelas tarikh Bani Adam jauh lebih muda dibanding awal munculnya manusia purba jenis Homo.

 

Adam Mampu Menjelaskan Nama-nama Benda

Masih dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan kehendak Allah menciptakan Adam (al-Baqarah/2: 31-33), disebutkan bahwa Adam diajari oleh Allah nama-nama benda. Ketika Adam diminta untuk menyebutkannya kembali, ia mampu melakukannya dengan baik, tetapi tidak demikian dengan malaikat. Kemudian timbul pertanyaan mengapa Adam mampu melakukan hal yang demikian, sedangkan malaikat tidak? Dalam beberapa surah, Allah menjelaskan bahwa manusia dibuat dari tanah. Mari kita perhatikan ayat-ayat berikut.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. (Alquran, Surah al-Mu‘minūn/23: 12)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 26)

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ۝

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (Alquran, Surah ar-Raḥmān/55: 14)

Sains menginformasikan bahwa tanah mengandung banyak atom-atom atau unsur-unsur metal (logam) maupun metalloid (seperti logam) yang sangat diperlukan sebagai katalis dalam proses reaksi kimia maupun biokimiawi untuk membentuk molekul-molekul organik yang lebih kompleks. Contoh-contoh unsur-unsur yang ada di tanah itu antara lain: besi (Fe), tembaga (Cu), kobalt (Co), mangan (Mn), dan lain-lain. Unsur-unsur inilah yang kemungkinan disebut sebagai “saripati tanah” dalam Surah al-Mu’minūn/23: 12 di atas.

Sementara itu, Surah al-Ḥijr/15: 26 mengisyaratkan adanya air (lumpur adalah tanah plus air). Air adalah media untuk terjadinya suatu proses reaksi antara unsur-unsur yang ada untuk membentuk suatu molekul. Dengan adanya pula unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N), fosfor (P) dan oksigen (O) maka unsur-unsur metal maupun metalloid di atas mampu menjadi katalis dalam proses reaksi biokimiawi untuk membentuk molekul yang lebih kompleks seperti ureum, asam amino atau bahkan nukleotida. Molekul-molekul ini dikenal sebagai molekul organik, pendukung suatu proses kehidupan.

Dalam Surah ar-Raḥmān/55: 14, Allah menyebut ”tanah kering seperti tembikar.” Tembikar atau porselain,dalam reaksi kimia biasa digunakan sebagai katalis untuk proses polimerisasi (perpanjangan rantai kimia). Ayat ini menyiratkan terjadinya polimerisasi dari molekul menjadi makromolekul. Molekul-molekul ini dikenal sebagai molekul organik, pendukung suatu proses kehidupan. Molekul-molekul ini kemudian membentuk makromolekul, supramakromolekul, dan jaringan selsel tubuh, dalam proses polimerisasi, termasuk terbentuknya jaringan otak. Jadi seluruh tubuh manusia, termasuk otak, paru, jantung, darah, dan sebagainya adalah berasal dari tanah.

Otak manusia yang merupakan organ penting untuk menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi, terbuat dari unsur-unsur kimiawi di atas, yang tersusun menjadi makromolekul dan jaringan otak. Instrumen penyimpan informasi lainnya yang dipunyai oleh manusia adalah senyawa kimia yang dikenal sebagai DNA (desoxyribonucleic acid, asam desoksiribonukleat). Baik jaringan otak manusia maupun molekul-molekul DNA terdiri dari unsur-unsur utama C, H, O, N, dan P.r

Prof. Carl Sagan dari Princeton University, AS, dalam bukunya The Dragons of Eden Speculations on the Evolution of Human Intellegence, memberi gambaran bahwa manusia memang unggul bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan. Sebagai salah satu keunggulannya, manusia dilengkapi dengan sistem penyimpan informasi (memori). Sistem penyimpan informasi pada manusia ada dua macam:

  1. Jaringan otak, yang menyimpan informasi apa pun yang dapat direkam olehnya. Otak manusia mempunyai kemampuan untuk menyimpan informasi sebanyak 1013 bit atau 107 Neuroscientists membedakan beberapa jenis kemampuan learning dan memory otak sebagai berikut: Working memory, yaitu kemampuan otak dalam menjaga/merawat informasi secara temporer tentang tugas; Episodic memory, yaitu kemampuan untuk mengingat rincian dari kejadian-kejadian yang spesifik; Semantic memory, yakni kemampuan untuk mempelajari fakta-fakta dan hubungannya (the ability to learn facts and relationships); Instrumental learning, yaitu kemampuan untuk memberikan rewards dan punishments dalam modifikasi sifat-sifat gangli; dan Motor learning, yakni kemampuan untuk menghaluskan pola-pola gerakan tubuh dengan praktik atau banyak pengulangan.
  2. DNA-Kromosomal, yaitu molekul DNA yang ada di kromosom, yang menyimpan informasi genetik manusia. Informasi ini akan dialihkan atau diturunkan kepada keturunannya. DNA-kromosomal manusia mampu menyimpan memori sebanyak 2×1010 bit atau sekitar 2×104 Kapasitas menyimpan informasi DNA-kromosomal manusia ini sebanding dengan buku setebal 2 juta halaman atau sebanding dengan 4.000 jilid buku dengan tebal masing-masing 500 halaman. Kedua penyimpan memori yang canggih ini terbuat dari unsur-unsur yang ada di tanah. Subḥānallāh.

Inilah jawaban mengapa Adam mampu menangkap dan mengerti semua yang diajarkan Allah, berupa nama-nama benda serta mengungkapkannya kembali dengan benar. Manusia Adam dilengkapi dengan instrumen penyimpan dan pengekspresi kembali memori: jaringan otak dan DNA yang terdiri dari unsur-unsur tanah itu. Di saat instrumen itu nihil dalam diri malaikat. Iblis menyombongkan diri karena kebodohannya dalam memahami ciptaan Allah dengan melecehkan unsur tanah. Karena makhluk manusia ini lebih cerdas dibanding malaikat, Allah memerintahkan semua malaikat untuk sujud (hormat) kepada Adam. Semua malaikat, kecuali Iblis, memberikan penghormatan kepada Adam, menaati perintah Allah itu.

 

Alasan Iblis Enggan Bersujud kepada Adam

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ۝

(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 12)

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ۝ قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ۝

Dia (Allah) berfirman, “Wahai Iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka?” la (Iblis) berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 32-33)

 وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا۝ قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا۝

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu semua kepada Adam,” lalu mereka sujud, kecuali Iblis. la (Iblis) berkata, “Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” la (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” (Alquran, Surah al-lsrā’/17: 61-62)

Demikianlah alasan Iblis enggan tunduk kepada Adam. Alasan ini ditunjukkannya kepada Allah dengan pongah dan sombong. Iblis sama sekali tidak tahu bahwa unsur tanah yang merupakan penopang struktur tubuh manusia, termasuk otak, akan memberi manusia daya pikir dan daya ingat yang kuat, melebihi malaikat maupun jin. Hal itu terbukti ketika para malikat tidak mampu menjawab perintah Allah untuk menyebut nama benda-benda yang disodorkan kepada mereka, sedangkan Adam mampu melakukannya dengan baik (lihat Surah al-Baqarah/2: 31-33). Alasan Iblis yang demikian itu jelas menunjukkan kebodohannya.

 

Manusia Diciptakan dari Unsur Tanah yang Diberi Roh

Manusia diciptakan Allah terdiri dari dua unsur: tanah dan roh dari Allah.

 فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ۝

Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)Ku ke dalamnya maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 29)

Allah menyempurnakan rupa dan bentuk Adam, lengkap dengan seluruh anggota badannya, lalu Dia meniupkan roh ciptaan-Nya yang menjadikan Adam sebagai seorang makhluk yang hidup. Ayat ini menjelaskan bahwa selain dari terdiri dari unsur tanah yang membentuk susunan anggota tubuhnya, manusia terdiri pula dari unsur roh. Bahwa Iblis beralasan manusia hanya diciptakan dari tanah dan karenanya dianggap lebih rendah daripada api yang menjadi asal penciptaanya. Sungguh itu merupakan kebodohan yang nyata.

Kutukan kepada Iblis

 قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ۝

Allah berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga) karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 13)

 قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ۝ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ۝

Dia (Allah) berfirman, “(Kalau begitu) keluarlah dari surga karena sesungguhnya kamu terkutuk dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” (Alquran, Surah al-Ḥijr/15: 34-35)

Allah menjawab keengganan Iblis untuk bersujud hormat kepada Adam dengan mengusirnya keluar dari surga, menurut satu tafsiran, atau keluar dari golongan malaikat, menurut tafsiran lainnya. Akibat keengganan itu, Iblis telah jauh dari rahmat Allah, dikenai hukuman, dan terus-menerus mendapat kutukan-Nya sampai hari pembalasan nanti. Setelah mendengar keputusan Allah tersebut, Iblis menyatakan menerima. Akan tetapi, ia memohon kepada Allah agar umurnya dipanjangkan sampai hari ketika manusia dibangkitkan dari kubur. Permohonan itu dikabulkan oleh Allah dan Iblis pun akan tetap hidup hingga tiupan sangkakala yang membangkitkan manusia dari kubur (Alquran dan Tafsirannya, 5/240)

Tantangan Iblis

Usai mendapat pengusiran oleh Allah karena keenggannannya bersujud kepada Adam, Iblis lantas meminta penangguhan waktu kepada Allah agar dapat teru hidup hingga hari kiamat, supaya dapat menyesatkan sebanyak mungkin keturunan Adam dari jalan Allah.

قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ۝ قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ۝ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ۝ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ۝ قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَّدْحُورًا ۖ لَّمَن تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمْ أَجْمَعِينَ۝

(Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu.” (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Allah) berfirman, “Keluarlah kamu dari sana (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan Aku isi neraka Jahanam dengan kamu semua.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 14-18)

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ۝ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ۝ قَالَ هَٰذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ۝ إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ۝ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِين۝

Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” Dia (Allah) berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus (menuju) kepada-Ku.” Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang yang sesat. Dan sungguh, Jahanam itu benar-benar (tempat) yang telah dijanjikan untuk mereka semuanya. (Alquran, Surah al-ijr/15:39-43)

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا۝ قَالَ اذْهَبْ فَمَن تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَّوْفُورًا۝ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا۝ إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا۝

la (Iblis) berkata, “Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari Kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” Dia (Allah) berfirman, “Pergilah, tetapi barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh, neraka Jahanamlah balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup. Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (Iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka.” Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka. “Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga.” (Alquran, Surah al-Isrā’/17: 62-65)

 

Adam dan Istrinya Tinggal di Jannah dan Tergoda Setan

Allah memerintahkan Adam dan istrinya untuk tinggal di Jannah. Allah juga memperingatkan mereka untuk menjauhi pohon terlarang (Surah al-Baqarah/2: 35-37), tetapi setan berhasil merayu mereka hingga melanggar larangan Allah tersebut yang mengakibatkan mereka terusir dari Jannah.

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ۝ فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ۝ فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ۝

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 35-37)

 فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ۝ وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ۝ فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ۝ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ۝

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka yang selama ini tertutup. Dan setan berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benarbenar termasuk para penasihatmu,” dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika   mereka mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Alquran, Surah al-A‘rāf: 20-23)

 وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا۝

Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya. (Alquran, Surah Tāhā/20: 115)

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَىٰ۝ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ۝ وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ۝ فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ ۝

Kemudian Kami berfirman, ”Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka. Sungguh ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Dan sungguh di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.” Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Alquran, Surah Tāhā/20: 117-120)

 فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ۝

Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia. (Alquran, Surah Tāhā/20: 121)

 

Larangan yang Dilanggar oleh Adam dan Istrinya

Dalam Surah al-Baqarah/2: 35 dan al-A‘rāf/7: 20 dinyatakan bahwa benda yang tidak boleh didekati oleh Adam dan istrinya adalah syajarah. Kata ini biasa ditafsirkan sebagai “pohon”,  “pohon terlarang”, atau “pohon keabadian” (syajaratul-khuld).

Mereka dilarang mendekati pohon itu. Allah berfirman dalam Surah al-Baqarah/2: 35, “WahaiAdam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!” Karena godaan setan (Iblis), mereka memakan buah dari  “pohon” itu dan melanggar perintah Allah. Usai memakan buah “pohon” itu, keduanya menjadi telanjang dan mulailah menutupi auratnya dengan dedaunan.

Pendapat agak berbeda dikemukakan Ali Raza Muhajir (1976) dalam Lessons from the Stories of The Qur’an (diterjemahkan oleh Jenie [2000], Pelajaran-Pelajaran dari Riwayat-Riwayat dalam Alquran). Setelah memberi tafsiran terhadap kata syajarah secara panjang lebar ia menyimpulkan yang dimaksud syajarah adalah tindakan seksual. Menurutnya, jika syajarah dimaksudkan “pohon” maka larangan mendekatinya akan berbunyi, “Jangan makan buah pohon ini!” bukan “Jangan kamu dekati pohon ini!” seperti yang terdapat dalam Surah al-Baqarah/2: 35.

Lebih jauh, Muhajir menyatakan bahwa terjemah atas Surah al-A‘rāf/7: 22, “…tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu (syajarah)…” tidak tepat. Ketidaktepatan itu tampak pada kata “merasai”, yang segera diikuti kalimat “…tampaklah bagi keduanya auratauratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.” Dengan demikian, lanjutnya, “merasai syajarah” lebih tepat diterjemahkan “merasai tindakan seksual.” Wallāhu alam.

 

Adam Turun ke Bumi, Bertobat dan Diangkat sebagai Nabi

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ۝ فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ۝ قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ۝ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ۝

Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 36-39)

ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ۝ قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ۝ وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ۝

Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Alquran, Surah Tāhā/20: 122-124)

Ajaran yang berkembang di kalangan umat Islam meriwayatkan bahwa Adam keluar dari Taman dan “turun” ke bumi. Dalam tradisi Islam, ada tiga pendapat berkenaan dengan tempat turunnya Adam dan istrinya, Hawa, di bumi.

Pendapat pertama, Adam turun di Dajna (Dahna), Semenanjung Arabia, sebuah tempat yang terletak di antara Mekah dan Ta’if. Pendapat ini diambil dari kitab ad-Durr al-Manūr fit-Tafsīr bil-Maūr karya as-Suyūṭi, mengutip keterangan dari Ibnu ‘Abbās (AI-Maghluts, 2008).

Pendapat kedua, Adam turun di bukit Safa, sedangkan Hawa di bukit Marwah. Pendapat ini dikemukakan oleh lbnu Abī Ḥātim, mengutip keterangan dari ibnu ‘Umar (AI-MaghIuts, 2008).

Pendapat ketiga, Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa turun di sekitar kota Jeddah sekarang ini. Dalam kitab Ḥilyatul-Auliyā’, dari aṭ-Ṭabrāni dan Abū Nu‘aim, diriwayatkan bahwa Abū Hurairah mengatakan, “Rasulullah bersabda, “Allah menurunkan Adam di India. Adam pun merasa kesepian, lalu Jibril turun mengumandangkan azan. Ketika Adam mendengar Jibril menyebut nama Muhammad, Adam bertanya, ‘Siapakah Muhammad?’ Jibril menjawab, ‘Dia adalah keturunan terakhirmu yang menjadi nabi.”‘ (Al-Maghluts, 2008).

Riwayat yang hampir sama dapat pula kita jumpai. lbnu ‘Abbās misalnya, meriwayatkan bahwa Allah menurunkan Adam di India dan menurunkan Hawa di Jeddah. Kemudian Adam mencari istrinya, Hawa, hingga ke daerah Jam‘an. Lalu Hawa menghampiri (izdalafat) Adam. Karena kejadian itulah daerah pertemuan keduanya dinamai Muzdalifah: tempat pertemuan Adam dan Hawa.

Tidak hanya dari lbnu ‘Abbās, berita tentang turunnya Adam di India dapat pula dijumpai dalam riwayat ibnu Abid-Dunyā, lbnu Munżir, dan ibnu ‘Asākir dari Jābir bin ‘Abdullāh ; serta aṭ-Ṭabrāni dari lbnu ‘Umar (Al-MaghIuts, 2008). Dari sisi riwayat, tampak bahwa pendapat yang menyatakan Adam diturunkan di India dan Hawa di Jeddah adalah pendapat yang paling kuat. Menurut Al-Maghluts (2008), kalimat ‘Gunung tempat turunnya Adam di India adalah yang mempunyai puncak tertinggi” menunjukkan bahwa Adam diturunkan di Puncak Everest di Pegunungan Himalaya.

Dr. Syauqi Abu Khalil (2005) mempunyai tafsiran tersendiri. Menurutnya, Adam diturunkan di Sri Lanka, tepatnya di atas Gunung Bauz. Di Sri Lanka terdapat Gunung Adam (Adam’s Peak). Di atasnya, dekat puncak gunung Adam, terdapat suatu “tapak kaki suci” pada suatu formasi bebatuan dengan panjang sekitar 1,8 meter. “Tapak kaki suci” ini oleh umat Islam setempat dipercaya sebagai tapak Adam saat turun ke bumi, oleh umat Buddha setempat dianggap sebagai tapak kaki Siddharta Gautama, oleh masyarakat Hindu Tamil disebut sebagai tapak kaki Shiwa, dan oleh masyarakat Kristen Sri Lanka disebut sebagai tapak kaki St. Thomas, d saat sebagian umat Kristen Sri Lanka lainnya mempercayainya sebagai tapak kaki Adam (Wikipedia, Adam’s Peak, 2011). Karena tradisi inilah kemungkinan kesimpulan Dr. Syauqi Abu Khalil didasarkan. Wallāhu alam.

Lebih lanjut, Al-Maghluts (2008) menjelaskan bahwa Adam, dipandu oleh Jibril, berangkat dari India menuju Arabia untuk mencari Hawa. Adam bertemu dan berkumpul kembali dengan Hawa di Muzdalifah, kemudian mereka saling bertemu dan mengenali di Arofah (Jabal Rahmah).

Tentang Penciptaan Manusia

Penciptaan manusia pertama, Adam, dan asal-usul manusia selalu menjadi topik diskusi yang penuh kontroversi, utamanya sejak terbitnya buku On the Origin of Species, dengan sub-judul Survival of the Fittest by Means of Natural Selection, karya Charles Darwin pada tahun 1859. Buku inilah yang memunculkan Filsafat Darwin tentang seleksi alam bagi kelangsungan makhluk hidup. Buku tersebut menjelaskan bahwa makhluk hidup selalu berkembang dari bentuk yang paling sederhana, yaitu makhluk bersel tunggal (uniseluler) menjadi makhluk yang bersel banyak (multiseluler) alias makhluk tingkat tinggi, melalui suatu perjuangan panjang melawan lingkungan. Mereka yang dapat beradaptasi dengan lingkungannya, itulah yang akan dapat melangsungkan kehidupannya dan berkembang ke arah kesempurnaan struktural.

Filsafat Darwin, yang kemudian diterima masuk dalam dunia ilmu biologi, terus berkembang sehingga lebih dikenal dengan Teori Evolusi atau Teori Darwin. Teori ini banyak mendapat tentangan dari para agamawan, utamanya dari agama-agama samawi: Yahudi, Kristiani, dan Islam, karena cenderung menegasikan Tuhan. Di sisi yang lain, teori ini diterima secara baik oleh dunia ilmu pengetahuan sekuler.

Alquran berbicara tentang penciptaan manusia atau Adam sebagai manusia pertama di dunia. Perhatikan beberapa ayat-ayat berikut!

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. (Alquran, Surah al-Mu’minūn/23: 12)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ۝

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Alquran, Surah al-ijr/15: 26)

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ۝

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Alquran, Surah al-ijr/15: 28)

قَالَ لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ۝

la (Iblis) berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Alquran, Surah al-ijr/15: 33)

 خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ۝

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (Alquran, Surah ar-Raḥmān/55: 14)

أَوَلَا يَذْكُرُ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْئًا۝

Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali? (Alquran, Surah Maryam/19: 67)

Kalimat “tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk” dalam terjemah atas ayat 26, 28, dan 33 dari Surah al-Ḥijr, merupakan terjemahan dari kalimat “alṣālin min ama‘in masnūn.” Adapun kalimat “saripati (berasal) dari tanah” dalam terjemah ayat 12 Surah al-Mu’minūn merupakan terjemahan dari kalimat “sulālatin min ṭīn.” Terakhir, kalimat  ‘tanah kering seperti tembikar” dalam terjemah ayat 14 Surah ar-Raḥmān merupakan terjemahan dari kata “alṣālin kal-fakhkhār.”

Telaah awal kejadian manusia dapat ditafsirkan sebagai berikut. ”Saripati (berasal) dari tanah” (al-Mu’minūn/23: 12) memberi pengertian bahwa tanah tersebut mengandung unsur-unsur yang diperlukan bagi proses kehidupan. Tanah mengandung banyak atom-atom atau unsur-unsur metal (logam) maupun metalloid (seperti-logam) yang sangat diperlukan sebagai katalis dalam proses reaksi kimia maupun biokimiawi untuk membentuk molekul-molekul organik yang lebih kompleks. Contoh unsur-unsur yang ada di tanah itu antara lain besi (Fe), tembaga (Cu), kobalt (Co), mangan (Mn), dan lain-lain. Dengan adanya pula unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N), dan oksigen (O), maka unsur-unsur metal maupun metalloid di atas mampu menjadi katalis dalam proses reaksi biokimiawi untuk membentuk molekul yang lebih kompleks seperti ureum, asam amino, bahkan nukleotida. Molekul-molekul ini dikenal sebagai molekul organik, pendukung suatu proses kehidupan.

“Tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk” (al-Ḥijr/15: 26). Kata “lumpur hitam” pada ayat di atas mengisyaratkan terlibatnya molekul air (H2O) dalam proses terbentuknya molekul-molekul pendukung proses kehidupan. Seperti diketahui, air adalah media bagi terjadinya suatu proses reaksi kimiawi maupun biokimiawi untuk membentuk suatu molekul baru. Sementara itu, kata  ‘yang diberi bentuk” mengisyaratkan bahwa reaksi biokimiawi yang terjadi dalam media berair itu telah menjadikan unsur-unsur yang semula hanya atom-atom menjadi suatu molekul organik, yang susunan dan bentuknya tertentu, seperti asam amino atau nukleotida.

“Tanah kering seperti tembikar” (ar-Raḥmān/55:14); tembikar adalah semacam porselain, yang dalam proses reaksi kimiawi dapat digunakan sebagai katalis untuk terjadinya proses polimerisasi. Kata ini mungkin mengisyaratkan terjadinya proses polimerisasi atau reaksi perpanjangan rantai molekul dari asam-asam amino menjadi protein, atau dari nukleotida menjadi polinukleotida, termasuk molekul Desoxyribonucleic Acid (DNA), suatu materi penyusun struktur gen makhluk hidup (Baiquni, 1997).

Dalam tahapan-tahapan berikutnya, molekul-molekul kehidupan yang paling awal ini dapat masuk ke dalam susunan sel yang paling sederhana, yang terbentuk dari tanah pula. Terjemah atas kalimat Surah Maryam/19: 67 yang berbunyi, “Padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali” kemungkinan mengisyaratkan bentuk-bentuk makhluk bersel tunggal (uniseluler) ini atau bahkan bentuk-bentuk pro-kehidupan yang lebih awal, seperti molekul-molekul protein atau DNA. Makhluk bersel tunggal inilah yang kemudian secara evolusioner (bertahap) akan berkembang menjadi makhluk multiseluler, termasuk manusia.

Proses pentahapan ini tentu terjadi dalam skala waktu yang panjang, mencapai jutaan bahkan miliaran tahun. Namun dalam pandangan Sang Pencipta, Allah, kejadian ini tampak sekejap saja. Tafsir di atas perlu lebih didalami lagi sehingga penciptaan Adam dari tanah lebih bisa didekati secara lebih rasional. Wallāhu alam.

 

Riwayat Dua Putra Adam

Alquran meriwayatkan perkelahian antara dua putra Adam. Meski dalam riwayat tersebut tidak disebutkan nama-nama mereka, tetapi secara tradisi kedua putra Adam tersebut bernama Qabil dan sang adik, Habil. Riwayat tersebut tertulis dalam Surah al-Mā’idah/5: 27-32,

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ۝ لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ۝ قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝ يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ۝ قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ۝ قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ۝

Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka. Dan itulah balasan bagi orang yang zalim.” Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal. Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi. (Alquran, Surah al-Mā’idah/5: 27-32)

Dalam tradisi Islam, dikisahkan bahwa kedua putra Adam yang tersebut dalam Surah al-Mā’idah/5: 27-32 di atas adalah Qabil dan Habil. Al-Hanafi (2005) menjelaskan bahwa Hawa selalu melahirkan kembar dampit (kembar putra-putri) dan Adam menurut riwayat mengawinkan di antara putra-putrinya secara silang. Qabil berkembaran dampit dengan lqlima, sedang Habil dengan Labuda. Dengan demikian, Adam akan mengawinkan Qabil dengan Labuda, sedang Habil dengan Iqlima. Qabil tidak menerima aturan itu. Dia ingin mengawini saudari kembarannya, Iqlima, karena jauh lebih cantik daripada Labuda. Untuk menghindarkan perselisihan, Nabi Adam meminta keduanya mempersembahkan kurban ke hadirat Allah untuk memohon keputusan. Kurban dari Habil, yang dipilihnya dari harta benda terbaik yang ia miliki, diterima oleh Allah, tidak demikian dengan Qabil. Dengan begitu, Habil berhak menikahi lqlima. Namun, Qabil menolak fakta tersebut dan membunuh saudaranya, Habil. Pembunuhan ini sama sekali tidak mempunyai dasar yang bisa dibenarkan karena keduanya sebelumnya telah sepakat untuk meminta keputusan Allah dengan mempersembahkan kurban kepada-Nya. Dengan demikian, Qabil telah berbuat zalim dan keji dengan melakukan pembunuhan tanpa alasan yang sah. Allah memperingatkan Bani Israil dan umat manusia semuanya melalui Surah al-Mā’idah/5: 32.

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ۝

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, ) atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia). Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi. (Alquran, surah al-Mā’idah/5: 32)

Ini merupakan peringatan bagi kita semuanya agar tidak mudah menumpahkan darah, apalagi sesama muslim, dengan cara emosional seperti yang dilakukan Qabil.

 

HIKMAH DARI KISAH NABI ADAM

Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. la diciptakan dari tanah liat sedemikian rupa menjadi bentuk manusia sempurna, lalu ditiupkan roh Allah kepadanya. Dengan demikian, Adam adalah asal atau bapak seluruh umat manusia sejak dahulu hingga sekarang. Tidak ada manusia sebelum Adam dan Adam bukanlah makhluk hasil evolusi dari jenis makhluk lainnya. Dari kisah Adam yang bersumber pada Alquran, wahyu Allah adalah yang mutlak benar, maka jelaslah bahwa Teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia merupakan bentuk terakhir dari suatu proses evolusi dari makhluk-makhluk sebelumnya tidaklah beralasan. Alquran tidak membatalkan Teori Darwin, karena Alquran telah ada 1200 tahun sebelum Teori Darwin dicetuskan. Teori Darwin juga tidak membatalkan teori Alquran karena sudah terbukti secara ilmiah Teori Darwin mengandung bukan saja banyak kelemahan, tetapi juga kemustahilan. Jikalau terdapat makhluk-makhluk purba yang mirip manusia, tidak berarti ia adalah nenek moyang Adam. Banyak makhluk yang saling mirip rupanya tetapi masing-masing tidak saling menurunkan karena spesiesnya memang berlainan. Homo habilis bukan moyang Homo erectus, Homo neanderthalensis bukan keturunan Homo erectus, dan Homo sapiens bukan pula anak cucu Homo-homo sebelumnya.

Tegas dinyatakan dalam beberapa ayat dan surah dalam Alquran bahwa Adam diciptakan dari tanah liat. Ketika ciptaan itu telah disempurnakan-Nya, lalu ditiupkanlah roh kepadanya, maka jadilah Adam manusia yang telah sempurna. Setelah Adam selesai diciptakan, Allah menginstruksikan kepada malaikat untuk bersujud tunduk kepada Adam. Jadi, ketika Allah memerintahkan malaikat agar bersujud kepada Adam, penciptaan Adam sudah selesai dan Adam sudah mempunyai rupa yang sempurna beserta segala sifat kemanusiaan yang menyertainya. Tidak ada bentuk maupun rupa lain sebelumnya.

Sujudnya para malaikat kepada Adam adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Malaikat yakin bahwa perintah Allah itu bukan tanpa alasan. Jika malaikat diperintah sujud kepada Adam, pasti ada kelebihan dalam diri Adam dalam pandangan Allah, suatu kelebihan yang tidak malaikat miliki. Karena itu, sujudnya malaikat itu juga bermakna pengakuan atas keutamaan manusia. Hanya saja, itu tidak berarti manusia boleh merasa unggul dan kemudian berlaku sombong. Apa yang tersirat dari ketaatan malaikat adalah pelajaran bagi manusia agar taat kepada Allah. Apa yang diperintahkan Allah harus ditaati dan apa yang dilarang-Nya harus ditinggalkan. Singkat kata, ketaatan kepada Allah adalah juga kewajiban mutlak bagi manusia, tidak hanya bagi malaikat. Allah berfirman dalam Surah al-Aḥzāb/33: 36,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا۝

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. (Alquran, Surah al-Aḥzāb/33: 36)

Telah disebutkan di muka bahwa Allah memerintahkan malaikat supaya bersujud kepada Adam, maka bersujudlah malaikat, sedangkan Iblis menolak dan sombong. Ketaatan para malaikat berlawanan langsung dengan kedurhakaan dan kesombongan Iblis. Keduanya adalah sifat-sifat khas Iblis. Kisah ini mengajari manusia agar meneladani sifat malaikat, yakni taat kepada Allah dan menjauhi sifat Iblis, yakni membangkang dan sombong. Iblis membangkang karena mempunyai sifat dengki dan takabur. Dengki karena Iblis ingin agar kenikmatan yang didapatkan oleh Adam lenyap, dan sombong karena ia merasa dirinya lebih unggul karena dibuat dari api, sedangkan Adam dari tanah. Hakikat kesombongan adalah menolak kebenaran (barul-aqq) dan merendahkan orang lain. Oleh karena itu, agama memerintahkan agar manusia menjauhi sifat sombong. Nabi bersabda,

Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya tersimpan rasa sombong seberat biji sawi sekalipun. (Riwayat Muslim dari lbnu Mas’üd)

Adam dan Hawa ditempatkan dalam surga yang penuh kenikmatan. Mereka dipersilakan menikmati semua kenikmatan di dalamnya, kecuali satu hal, yakni mendekati pohon terlarang. Namun, karena godaan Iblis, Adam dan Hawa terjebak memakan buah dari pohon terlarang itu. Kesalahan itu membuat Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga. Menyadari kesalahan yang telah diperbuat, mereka menyesal dan bertobat kepada Allah. Allah pun menerima tobat mereka dan menjadikan Adam sebagai nabi. Allah berfirman,

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ۝ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ۝

Dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 22-23)

Demikianlah, dengan segera Adam dan Hawa menyatakan penyesalan dan perasaan berdosa yang mendalam, seperti dalam ungkapan mereka, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri.” Kemudian mereka meminta ampun, bertaubat, dan berharap taubatnya diterima, seperti dalam ungkapan mereka selanjutnya, “Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Kisah itu menyadarkan manusia akan tiga hal. Pertama, betapa manusia memiliki kecenderungan berbuat salah. Kecenderungan ini adalah titik lemah manusia yang dapat dimanfaatkan Iblis untuk menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan melawan Allah. Jika manusia terjerumus ke lembah dosa, kewajiban manusia adalah bersegera memohon ampun, bertobat, berharap penuh dosa itu akan diampuni oleh Allah. Kedua, bahwa manusia mempunyai keinginan bertahan hidup panjang dan menjadi penguasa selamanya. Iblis menerangkan kepada Adam dan Hawa bahwa alasan Allah melarang mereka mendekati pohon terlarang adalah agar mereka tidak menjadi malaikat atau tidak kekal di surga. Terdorong oleh keinginan untuk kekal di surga, mereka pun tergoda menuruti bujukan Iblis.

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ۝

Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 20)

Itulah hawa nafsu, hasrat memenuhi permintaan nafsu yang tak terbatas. Nafsu tidak dapat dikendalikan kecuali dengan taat kepada ketentuan Allah. Ketiga, bahwa hubungan antara manusia dan Iblis bersifat antagonistik dan abadi. Iblis adalah musuh abadi manusia karena Iblis dulu menolak sujud kepada Adam. Allah mengutuknya, dan Iblis berjanji akan menggoda manusia sepanjang zaman. Allah berfirman,

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ۝ قَالَ أَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ۝ قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ۝ قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ۝ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ۝

(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga), karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu sampai hari mereka dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu.” (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7:13-17)

Jika hubungan permusuhan itu telah dinyatakan abadi maka perlawanan manusia terhadap godaan Iblis juga harus bersifat abadi. Konsekuensinya, dosa karena mengikuti bujukan Iblis juga bersifat abadi. Sampai kapan pun Iblis akan menggoda manusia dan barang siapa mengikutinya maka ia akan senantiasa berdosa sampai kapan pun. Ancaman penyesatan oleh Iblis kepada manusia tidak bersifat partikularistik, melainkan berlaku umum kepada semua manusia. Semua manusia akan tersesatkan, kecuali hamba-hamba Allah yang terpilih, sayangnya yang demikian itu tidaklah banyak. Allah berfirman,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ۝ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ۝

la (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (Alquran, Surah al-ijr/15: 39-40)

 

HIKMAH DARI KISAH DUA PUTRA ADAM

Inti dari kisah Qabil dan Habil adalah soal kedengkian (hasad). Hasad adalah kebencian terhadap nikmat yang didapat oleh orang lain dan berusaha melenyapkan kenikmatan itu. Hasad adalah sifat buruk yang telah lama bersemayam dalam diri manusia. Bahkan, hasad itu merupakan bagian dari penciptaan manusia., atau dengan kata lain telah menjadi tabiat manusia, seperti dapat kita lihat dari kisah Alquran tentang Qabil dan Habil. Hanya mereka yang beriman dengan benar yang dapat mengubur kedengkian.

Alquran dalam banyak ayatnya berulang kali memperingatkan manusia akan bahaya dengki. Hasad dapat menjerumuskan mausia dalam kesombongan dan sikap-sikap rendah lainnya, serta penolakan atas kebenaran. Ayat-ayat itu misalnya,

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ۝

Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 109)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ۝ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ۝ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ۝ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ۝ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ۝

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (Alquran, surah al-Falaq/113:1-5)

Beberapa hadis juga mengisyaratkan pentingnya orang tidak mendengki. Rasulullah bersabda,

Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah pula kalian saling memata-matai, mencari-cari kesalahan, mengunggulkan diri, mendengki, membenci, dan memalingkan mukasatu dengan lainnya. Jadialah kalian semua, wahai hamba-hamba Allah, bersaudara satu sama lain. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abū Hurairah)

Jauhilah sifat dengki, karena sesungguhnya kedengkian itu menghanguskan kebaikan-kebaikan seperti api menghanguskan kayu bakar. (Riwayat Abū  Dāwūd dari Abū Hurairah)

Orang yang memiliki sifat hasad akan tersiksa oleh hasadnya sendiri. la merasa dongkol, geram, dan ingin merusak, padahal tidak ada orang lain yang berbuat salah kepadanya. Hasad juga mendorong pengidapnya berbuat mungkar, seperti Qabil yang membunuh saudaranya, Habil. Di sisi yang lain, orang yang menjadi sasaran hasad juga terancam bahaya. Karena itulah, Allah mengajari manusia untuk berlindung kepada-Nya dari bahaya pendengki yang sedang menghasud (al-Falaq/113: 5)

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari kisah Habil dan Qabil adalah kesediaan berkurban. Berkurban adalah perbuatan yang diperintahkan Allah kepada manusia. Dalam berkurban tertanam nilai keikhlasan. Manusia diperintahkan berkurban sebagai ujian ketaatan dan keikhlasan menjalankan perintah Allah. Kurban yang tidak disertai keikhlasan dan ketakwaan pekurban kepada Allah tidak akan diterima oleh-Nya. Ketakwaan dan keikhlasanlah yang mengantarkan kurban sampai ke hadirat Allah. Berkurban dengan motif selain itu, misalnya berkurban untuk mencari pujian dari orang lain, hanya mengantar pekurban untuk mendapat pujian dari manusia semata, tidak dari Allah.

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu