MUNCULNYA KEMBALI ARGUMEN RANCANGAN

MUNCULNYA KEMBALI ARGUMEN RANCANGAN

Sebelum abad ke-20, sains dan para ilmuwan telah berupaya memaksakan pendekatan naturalistis terhadap konsepsi dunia kita dalam rangka menghapus gagasan-gagasan lama mengenai rancangan (design) dan tujuan (purpose) dari pandangan kita terhadap alam semesta. Dalam pendekatan ini, naturalisme biasanya dianggap dan dijadikan sebuah titik-tolak metodologis yang menegaskan bahwa segala penjelasan mengenai fenomena alam semesta haruslah benar-benar ‘natural’ (atau naturalistis) dan dibatasi pada hukum-hukum materi saja. Naturalisme terkadang disamakan dengan materialisme, khususnya ketika para pemikir melangkah lebih jauh dan sampai pada kesimpulan bahwa alam dan dunia tak lain hanyalah materi dan tidak membutuhkan prinsip-prinsip metafisika apa pun, bahkan istilah metafisika kerap dianggap tidak pernah ada.

Sejalan dengan tren ini, revolusi ala Copernicus berhasil menancapkan pengaruh yang kuat dan menyeluruh. Setelah mengganti posisi bumi dengan matahari sebagai pusat alam semesta, revolusi ini kemudian mengumandangkan tidak adanya titik pusat di alam semesta dan membangun prinsip mediokritas (principle of mediocrity) bahwa bumi -dan karenanya juga manusia- sama sekali tidak penting dalam skema segala sesuatu. Pandangan ini memang terkesan logis, mengingat ukuran alam semesta yang terus bertambah dan kemudian diketahui jauh lebih besar dibandingkan bumi, apalagi dibandingkan manusia. Jika demikian, mengapa noda debu sekecil bumi atau manusia harus dianggap memiliki nilai penting atau dijadikan tujuan dari sebuah rancangan yang besar? Ketika indahnya keragaman makhluk-makhluk yang besar hingga yang kecil mulai bisa dipahami dengan menggunakan skema-skema evolusi, seluruh gagasan rancangan pada akhirnya tampak kedaluwarsa. Inilah bagaimana para ilmuwan, filsuf, dan pendidik dari berbagai generasi yang berbeda meyakini bahwa sains telah menetapkan ‘fakta-fakta’ berikut:

  1. alam semesta hanyalah terdiri dari materi-materi;
  2. dunia tidak memiliki tujuan;
  3. metode ilmiah mengabaikan gagasan ihwal rancangan;
  4. manusia sama sekali tidak penting dalam gambaran umum ini.

 

Lebih dari satu abad berlalu, kerangka konseptual ini terus menjadi atmosfer ilmiah. Namun, setelah itu argumen-argumen rancangan mulai muncul kembali melalui serangkaian perkembangan yang luar biasa meski tidak selalu berterima. Awalnya, kita mendengar istilah ‘penalaan halus’ (fine-tuning) alam semesta, semisal batubata-batubata penopang alam semesta (parameter-parameter dan hukum-hukum) yang tersusun sealamiah mungkin dan kesadaran/akal yang muncul di suatu titik atau tempat tertentu di alam semesta. Sejak itulah, diskusi mengenai ‘prinsip antropik’ (yang memosisikan manusia sebagai pusat semua pertimbangan kosmologis murni atau setidak-tidaknya pertimbangan fisik) mulai muncul. Selanjutnya, argumen lama mengenai rancangan pun mulai menyeruak kembali. Anda pasti masih ingat bahwa argumen yang saya perkenalkan pada tulisan sebelumnya hanyalah satu dari sekian ‘bukti’ klasik utama tentang  keberadaan pencipta, tetapi sains dan filsafat modern mengiranya telah hilang bersama kemunculan Darwin dan Hume. Dalam perkembangan terakhirnya, teori rancangan justru berubah ekstrem menjadi teori Rancangan Cerdas (Intelligent Design) [ID] yang lebih merupakan hipotesis dan tidak terlalu ilmiah, seperti yang akan kita bahas nanti) dengan klaim bahwa teori ini mampu mengungkap perkara-perkara, baik mengenai konsepsi ilahiah secara langsung maupun tentang penciptaan. Ulasan dan kritik saya terhadap ‘teori’ ini akan disajikan pada bagian selanjutnya.

Saya tidak akan terlalu detail membahas tren rancangan baru tersebut dan sudut pandang ID. Namun, saya melihat fenomena kembali mencuatnya argumen rancangan sungguhlah luar biasa, sehingga saya rasa sangat penting bagi umat Muslim untuk menilik konsep ini dan mengetahui sejauh mana wacana Islam bisa menyesuaikan diri dengan pendekatan-pendekatan semacam itu. Singkatnya, kita harus memegang kuat semangat ilmiah ketika melihat dunia.

Saya harus menunda pembahasan mengenai prinsip antropik dan teori evoillsi yang jauh lebih penting. Saya akan membahas kedua tema tersebut dalam tulisan selanjutnya. Tulisan ini hanya akan membahas seputar rancangan, sedangkan ID akan diulas di akhir. Pembahasan seputar ID bukanlah karena ‘teori’ tersebut dianggap penting, melainkan karena pengaruhnya yang mulai merambah hingga pada sekelompok Muslim penganut paham penciptaan (creationists) dan keberadaannya yang memunculkan beberapa persoalan menarik seputar sifat sains dan metodenya.

 

Tinggalkan Balasan

Close Menu