MUKJIZAT DAN SAINS

MUKJIZAT DAN SAINS

Salah satu pertanyaan yang saya ajukan kepada para profesor dan mahasiswa dalam survei seputar isu-isu sains dan agama adalah “Percayakah Anda pada mukjizat?” Saya akan segera menyajikan jawaban atas pertanyaan tersebut, tetapi saya ingin terlebih dahulu menekankan bahwa banyak profesor non-Muslim yang menulis “Definisikan!” di samping kata mukjizat atau menggarisbawahi dan menaruh tanda tanya atas kata tersebut. Sebaliknya, para responden Muslim, baik profesor atau mahasiswa, tidak melakukan hal serupa.

Definisi mukjizat memang sangat penting dalam pembahasan ini. Kita pun harus mengetahui bahwa berbagai perdebatan -dan sikap-sikap yang ditunjukkan oleh beberapa teolog, pemikir, dan saintis- sudah bermunculan untuk membahas bagaimana konsep ini didefinisikan. Sebagai pengantar, marilah kita definisikan mukjizat sebagai ‘fenomena yang tampak bertentangan dengan hukum atau cara kerja alam’ (pengertian yang mengisyaratkan adanya tindakan atau intervensi Ilahi), bukan fenomena yang tidak bisa dijelaskan sains dewasa ini. Misalnya saja, jika Anda membiarkan sebuah objek terlepas dari tangan, bukan dengan cara menjatuhkannya ke tanah, tetapi secara tiba-tiba objek tersebut tidak jatuh dan malah melayang-layang di udara atau bahkan bergerak ke atas, hukum alam (dalam konteks ini yakni gerak jatuh ke bawah karena gravitasi) berarti telah ‘dilanggar’. David Hume mengartikan mukjizat sebagai ‘pelanggaran terhadap  hukum alam’, sehingga ia menganggapnya sebuah kemustahilan. Sudah pasti, penalaran ini kemudian dikritik oleh banyak sekali pemikir dewasa ini karena dianggap sebagai pandangan yang berputar-putar.

Akan tetapi, mukjizat tidaklah sesederhana fenomena alam yang bertentangan dengan cara kerja alam. Bagaimana dengan susut serta lenyapnya kanker tumor ganas, apakah itu semua bertentangan dengan hukum alam dan merupakan mukjizat? Barangkali tidak, karena semua itu masih bisa dijelaskan sebagai sebuah proses (alamiah) fisik yang mungkin belum kita ketahui. Lalu, bagaimana dengan Yesus yang menyembuhkan pria buta dengan hanya melumuri kedua mata si pria dengan lumpur dan menyuruhnya agar dibersihkan di sebuah mata air; apakah itu bertentangan dengan hukum alam dan merupakan mukjizat (seperti yang selalu diklaim sejak lama)? Lalu, bagaimana sebuah peristiwa bisa dikatakan mukjizat? Wacana berikut juga termasuk wilayah abu-abu. Gereja Katolik membentuk beberapa komite; salah satunya adalah komite yang secara hirarkis menempati posisi tinggi dan bertugas menyeleksi klaim-klaim mukjizat. Misalnya, dari sekitar 7,000 usulan yang ditujukan kepada komite tersebut di Lourdes (kota tersohor di Prancis yang dikunjungi sekitar 6 juta peziarah setiap tahunnya karena mukjizat konon bisa ditemukan di sana), hanya 67 saja yang ditetapkan sebagai mukjizat selama kurun 150 tahun terakhir (20 pada 100 tahun pertama, dan 46 pada 50 tahun terakhir).

Dewasa ini, persoalan mukjizat barangkali menjadi pangkal perselisihan antara sains dan agama. Situasinya akan tetap demikian sebelum para saintis berhasil mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai kejadian-kejadian seperti itu (terutama dalam bidang kedokteran) dan para teolog berhasil mengembangkan cara pandang yang masuk akal mengenai konsep ini. Pada September 2002, Zygon (Jurnal akademik pertama tentang isu-isu agama dan sains) secara khusus membahas mukjizat dalam satu edisi penuh. Selain itu, pada Desember 2004, sebuah jajak pendapat di kalangan 1.100 dokter di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa 74 persen di antara mereka meyakini mukjizat. Selanjutnya, pada September 2006, majalah sains popular Prancis, Science et Vie (terkenal karena pendekatannya yang rasionalis) juga menerbitkan sebuah edisi khusus yang membahas soal mukjizat. Hal yang cukup mengejutkan dari majalah Sceince et Vie tersebut adalah pengakuan akan keberadaan peristiwa-peristiwa yang belum bisa dijelaskan (sekalipun bukan berarti tak bisa dijelaskan) dan peran akal yang demikian penting (meskipun tak jarang ia juga diremehkan). Akan tetapi, majalah ini dengan hati-hati sekali menawarkan beberapa pintu masuk atau jalur-jalur investigasi bila belum ada penjelasan-terhadap penyembuhan ‘ajaib’ yang jumlahnya banyak sekali melebihi yang diketahui dan diakui oleh para dokter: (1) daya sistem kekebalan tubuh; (b) induksi kematian (apoptosis) sel-sel tumor; dan (c) peran pikiran.

Peran akal begitu ditekankan oleh Profesor Edouard Zarifiani yang menegaskan bahwa pengobatan pertama dan utama selalu bergantung pada hubungan antara pasien dan dokter (atau tabib atau dukun). Lebih lanjut ia mengatakan bahwa hanya baru-baru ini sajalah pengobatan berubah menjadi aktivitas mekanik dalam masyarakat yang semakin materialistis. Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa di Prancis, sekitar 4,8 persen obat ditulis sebagai resep untuk seorang pasien, sedangkan angka serupa di Eropa Utara hanyalah 0,8 persen. Baginya, perwujudan peran pikiran yang paling penting dalam proses penyembuhan adalah efek plasebo yang terkenal ketika seorang pasien diberi pil lunak (non-aktif) kemudian mengalami tingkat kesembuhan yang sungguh mengagumkan: sekitar 30 persen dari patologi fungsi tubuh, 20-50 persen dari migren, sekitar 50 persen dari nyeri tulang metastatik, dan 45-75 persen dari berbagai jenis sakit kepala. Perrine Vennetier, salah seorang penulis Science et Vie, menyatakan bahwa mukjizat penyembuhan Yesus bisa saja dijelaskan dengan efek plasebo ini utamanya karena melibatkan iman yang sangat tinggi, sehingga efek pikiran dipastikan juga sangat kuat. Ia berkata: “Kita harus memiliki pengetahuan dan sekaligus iman. Dalam penyembuhan magis semacam itu, ‘iman’ pada ‘obat-manusia’ sangatlah berperan penting.”

Dengan demikian, sains tampaknya mengakui adanya aspek-aspek pikiran nonmekanis dalam proses penyembuhan dan menawarkan jalan menuju pemahaman dan penjelasan yang lebih sempurna. Namun, semua ini tidak bisa menyentuh keseluruhan spektrum mukjizat yang diwartakan oleh agama-agama tradisional (Kristen, Islam, dan seterusnya) dan wajib diterima oleh orang-orang beriman. Mukjizat dalam agama-agama tradisional merentang mulai dari Musa yang menyeberangi Laut Merah, Yesus yang menyembuhkan penderita kusta dan orang buta serta kebangkitannya dari mati (Kebangkitan Yesus) tiga hari setelah disalib, hingga Nabi Muḥammad  yang melakukan perjalanan dari Makkah ke Yerussalem, naik ke langit dan kembali lagi ke Makkah dalam satu malam. Beberapa ‘mukjizat’ tersebut bisa ditafsirkan secara alegoris, setidak-tidaknya oleh para penafsir keagamaan nonharfiah. Salah satu contohnya adalah penafsiran kiasan terhadap penggandaan makanan oleh Yesus sehingga kerumunan orang bisa makan dari sebuah keranjang yang berisi roti dan ikan (sebuah kisah yang memiliki kesamaan dengan cerita Muḥammad ). Demikian pula Isra’ Mi’raj Nabi Muḥammad . Dalam hal ini, pendekatan pembacaan multilevel terhadap Alquran seperti yang saya usulkan tampaknya memudahkan seseorang untuk mengetahui berbagai pandangan berbeda terhadap ayat-ayat yang sama. Beberapa mukjizat tertentu sangat tampak melanggar hukum alam, seperti Yesus yang berjalan di atas air, mengubah air menjadi anggur, dan juga kebangkitannya.

Para teolog Kristen (semisal Terrence Nichols dan Keith Ward) sudah pernah menyuarakan gagasan-gagasan yang menarik terkait persoalan mukjizat. Pada awal paparannya, Nichols bersikeras bahwa “bukti mukjizat, baik di masa lalu maupun masa modern, cukup kuat dan layak memeroleh perhatian”. Ia melihat mukjizat sebagai peristiwa yang “sejalan dengan -tetapi melampaui- proses-proses alamiah”. Teolog ini menawarkan dua pendekatan dalam hubungannya dengan mukjizat: (a) fenomena tersebut bisa jadi merupakan kasus yang sangat ganjil/jarang terjadi dalam proses-proses alamiah, mirip dengan lubang hitam (dalam kasus gravitasi) dan superkonduktivitas (dalam kasus listrik); (b) peristiwa tersebut hanya bisa dijelaskan melalui intervensi Ilahi, dan mengenai hal ini Nichols menggunakan keserbamungkinan Mekanika Kuantum atau teori chaos. Menurut spekulasinya, “Dalam keadaan-keadaan ekstrem, semisal ketika iman sudah demikian kukuh, maka sekalipun hukum alam tak berubah, ia akan terasa berbeda dari biasanya.”

Keith Ward mengambil sikap yang sama. Ia mengatakan: “Hukum alam paling tepat dipahami bukan sebagai aturan-aturan tanpa pengecualian, melainkan sebagai perwujudan kekuatan alam yang terikat pada konteks”. Namun, ia tetap menerima kemungkinan bahwa mukjizat tidak “mengikuti rumusan hukum ilmiah”. Ia menambahkan: “Ada alasan mengapa orang yang beriman meyakini adanya prinsip-prinsip yang lebih tinggi daripada hukum-hukum alam.”

Dalam Islam, wujud dan sifat mukjizat adalah pertanyaan dengan jawaban yang berbeda-beda di antara berbagai mazhab pemikiran. Menurut pendapat yang paling umum, mukjizat hanya terdapat dalam Alquran dan barangkali beberapa peristiwa dalam kehidupan Nabi Muḥammad  (misalnya, Isra’ Mi’raj dan ‘bulan terbelah’), sekalipun peristiwa yang terakhir bisa dijelaskan secara spiritual, kiasan, maupun alamiah. Pendapat lain yang cukup popular adalah bahwa melalui ilham dan kekuatan Tuhan, hanya Nabi sajalah yang bisa menunjukkan mukjizat, dan ini tidak berlaku bagi manusia biasa. Sementara itu, pendapat ketiga yang lazim dijumpai di kalangan mereka yang menyukai tasawuf adalah bahwa meski mukjizat hanya berlaku bagi para Nabi, ‘orang-orang suci’ (auliyā’) juga memeroleh ‘karunia’ Tuhan (karāmah), yaitu kelebihan yang memungkinkannya bisa memberikan kelebihan lain kepada orang lain. Akan tetapi, perlu ditekankan di sini bahwa ada pandangan lain yang bahkan menganggap bahwa hanya kisah-kisah orang suci yang penuh dengan peristiwa dan perbuatan mengejutkan itulah yang sebenarnya merupakan mukjizat.

Dalam survei yang saya lakukan, pertanyaan “percayakah Anda pada mukjizat?” memeroleh respon dari profesor dan mahasiswa Muslim (hasilnya tidak jauh beda di antara kedua kelompok tersebut) sebagai berikut:

  • Ya, saya percaya: 66 persen.
  • Hanya para Nabi saja yang memiliki mukjizat, dan hal tersebut tak akan mungkin terjadi lagi dewasa ini: 35 persen.
  • Ya, tapi saya masih perlu mencari penjelasannya: 20 persen.
  • Tidak, sains bertentangan dengan mukjizat: 4 persen. (Total hasilnya lebih dari 100 persen, karena beberapa responden menjawab lebih dari satu.)

Dalam survei tersebut, 44 persen profesor non-Muslim memilih jawaban yang terakhir; sisanya berada di tengah-tengah antara pilihan pertama dan pilihan kedua.

Absar Ahmad, seorang filsuf kontemporer Pakistan, pernah melakukan tinjauan mengenai sikap Muslim terhadap mukjizat dan juga menyuarakan pandangan pribadinya. Mula-mula, ia menolak keberatan Sir Syed Ahmad‎ Khan atas mukjizat. Pembaharu Muslim abad ke-19 dari keluarga bangsawan India tersebut bahkan beralasan bahwa hukum alam adalah “janji nyata Tuhan bahwa segala sesuatu akan terjadi, sehingga apabila kita mengatakan akan terjadi sesuatu yang berlawanan dengan janji-Nya, itu artinya kita telah menuduh-Nya ingkar janji, dan ini sungguh tidak masuk akal”. Khan menegaskan bahwa penolakannya atas mukjizat bukanlah lantaran sifat mukjizat yang tak rasional, tetapi karena firman Tuhan (dalam Alquran) yang menunjukkan sebaliknya. Absar Ahmed menolak pandangan ini karena menurutnya, Tuhan. tidak seharusnya dibatasi, sebab Tuhan pastilah bisa melampaui segala bentuk hukum alam.

Filsuf Pakistan tersebut kemudian membedakan antara ‘mukjizat alamiah’ yang menurutnya adalah isyarat atau tanda (ayat) dalam Alquran dengan ‘mukjizat gaib’, yakni peristiwa-peristiwa historis (di kalangan para nabi) dan wahyu itu sendiri (proses dan Kitab) yang disebut ayat bayyinat dalam Alquran. Sejatinya, Alquran, seperti juga AI-Kitab, tidak pernah menggunakan istilah mukjizat, melainkan ayat (tanda) yang merupakan ‘cara’ Tuhan menarik perhatian orang atau menegaskan suatu hal. Kategori pertama, yang ia golongkan sebagai mukjizat makro, bisa dipahami sebagai tindakan Tuhan di dunia, yakni dalam urusan kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa mukjizat ini mirip dengan tindakan-tindakan normal, karena Tuhan hadir sepanjang waktu melalui hubungan pikiran tubuh. Baginya, penafsiran naturalis tidak bisa digunakan pada mukjizat makro karena bukan merupakan “persoal kognisi, melainkan soal keterbatasan rasionalis indrawi.”

Yang terakhir, Mehdi Golshani yang mengikuti pandangan cendekiawan Syiah terkemuka, Murtada Mutahhari (1919-1979), menganggap bahwa ‘pola-pola’ (hukum) Ilahi di alam tidaklah berubah-ubah. Akan tetapi, mukjizat bisa saja terjadi dan tidak harus dilihat sebagai pengecualian, melainkan sebagai bagian dari pola lebih luas yang keseluruhannya masih belum bisa kita ungkap.

Persoalan mukjizat benar-benar menjadi arena dialog antara sains dan teologi. Harapannya, semoga penelitian dan pandangan yang lebih serius segera muncul dari Muslim dan tersaji ke dunia sehingga bisa bergabung dengan para pemikir Kristen yang akhir-akhir ini sudah mulai berjibaku dengan topik ini.

Leave a Reply

Close Menu