MUḤAMMAD  IQBAL

MUḤAMMAD  IQBAL

Muḥammad  Iqbal (1877 1938) adalah satu di antara sekian penyair dan filsuf kenamaan Islam modern di anak benua Indo-Pakistan dan berasal dari tradisi keagamaan yang humanis. Setelah mengenyam pendidikan keagamaan dan kesusatraan Islam di daerah kelahirannya, Punjab (kini Pakistan), ia mulai bersentuhan dengan pendidikan Barat di Lahore di bawah bimbingan Thomas Arnold yang kemudian mengajar di Government College. Tidak lama kemudian, Iqbal menyusul gurunya tersebut ke Inggris dan kuliah di Cambridge yang memiliki reputasi tinggi dalam studi filsafat Eropa serta tradisi-tradisi Arab dan Persia. Pada tahun-tahun awalnya, bakat kepenyairan Iqbal sudah menonjol, bahkan kumpulan tulisannya yang pertama, Asrār-e-Khudi (Rahasia-rahasia Diri), yang ditulis dan diterbitkan dalam bahasa Persia pada 1915, segera diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dipelajari di mana-mana. Belakangan, karya ini membuatnya dianugerahi gelar kebangsawanan.

Ia memeroleh gelar BA dan sertifikat pengacara dari Cambridge, kemudian berkelana ke Munich. Di sana, ia memperoleh gelar doktor dengan tesis berjudul The Development of Metaphysics In Persia yang kemudian diterbitkan pada 1908. Setelah minat dan dahaganya terhadap filsafat dan metafisik terpenuhi, ia kembali ke bidang yang la sukai sejak awal, yakni kesusastraan. Ia mulai menelaah berbagai tema besar seputar penderitaan manusia dan ekspresi-ekspresi keindahan: kepala dan hati (akal dan emosi), gerak dan diam (perubahan dan keajegan), pilihan dan paksaan (kebebasan dan determinisme), naik dan jatuh (kemajuan dan kemunduran), bumi dan bintang (tubuh dan jiwa), musim semi dan musim dingin (hidup dan mat’), dan sebagainya. Karena itulah, tidak heran jika banyak puisinya yang ditulis dalam bentuk dialog dan pergulatan.

Iqbal juga menunjukkan cita rasa spiritual yang sangat baik. Belakangan, ia malah mengisahkan pengalaman spiritual agungnya sewaktu berkeliling di seluruh London pada 1907, sekalipun ia baru memahami makna visinya dalam perjalanan tersebut bertahun-tahun kemudian. Idolanya yang nomor wahid dan merupakan sosok yang kerap muncul dalam syair-syairnya adalah guru sufi Jalaludin Rumi. Dalam banyak hal, Iqbal juga terpengaruh Ibn Arabi (seorang sufi tersohor). Namun, Iqbal tidak seharusnya digambarkan dari satu dimensi tunggal saja, sebab pengaruh filsafat Barat juga tampak jelas dalam dirinya. Bahkan, ia tidak sungkan mengakui utang budinya terutama kepada Kant, Nietzsche, Bergson, dan Goethe. Selain itu, beberapa syairnya juga memiliki kemiripan dengan Divine Comedy-nya Dante. Karya filsafatnya yang paling penting adalah rekaman kuliah yang ia sampaikan di Madras, Hyderabad, dan Aligarh pada 1930, kemudian diterbitkan pada 1943 dengan judul The Reconstruction of Religious Thought in Islam, beberapa tahun sebelum ia wafat. Saya beberapa kali merujuk karya tersebut dalam tulisan ini.

Terakhir untuk mengaitkannya dengan pembahasan kita mengenai Ibn Rusyd, patut disinggung di sini bahwa tak lama sebelum wafat, Iqbal (yang mulai digelari ‘Allāmah (Cendekiawan Ulung) mengunjungi Spanyol yang merupakan bekas dan reruntuhan kejayaan masa lalu: Cordoba dan Sevilla. Kunjungan tersebut mengilhaminya untuk menulis Bal-e-Jibril (Sayap-sayap Jibril) yang biasa dianggap sebagai koleksi syair Urdu terbaiknya.

 

Leave a Reply

Close Menu