MTS PUTRA PUTRI LAMONGAN

MTS PUTRA PUTRI LAMONGAN

VISIONER: M. Nurman, M.Pd. Kepala MTs Putra Putri Lamongan tahun 2016 hingga sekarang

MTs Putra-Putri Lamongan telah ada sejak 57 tahun, tepatnya sejak tahun 1960 silam. Sebagai salah satu sekolah berbasis agama yang berada dalam binaan Maarif NU, MTs Papi mampu eksis dan bersaing ditengah banyaknya sekolah menengah pertama unggulan berplat merah yang ada di kota Lamongan. Hal ini ditunjukkan dari konsistensinya jumlah siswa yang ada di madrasah ini setiap tahunnya pagu 4 rombongan belajar pada setiap kelas selalu terpenuhi.

Menurut sejarah, madrasah ini sejak berdiri telah mengalami lima kali perubahan nama. Pertama tahun 1960-1963 bernama Madrasah Muallimat NU Lamongan, lalu pada tahun 1963-1971 berubah menjadi Madrasah PGA NU Lamongan. Dalam perjalanannya pada tahun 1971-1973 berubah menjadi PGAA MTs Putra Putri Lamongan. Kemudian pada tahun 1973-1990 pengelolaan manajemen madrasah dibagi dua, satu bernama MTs Maarif Putri Lamongan dan kedua bernama MTs Maarif Putra Lamongan. Pada tahun tersebut secara fisik juga memiliki dua bangunan yang pola pembelajarannya terpisah antara laki-laki dan perempuan. Kemudian sejak tahun 1990-2004 pengelolaannya disatukan menjadi MTs Putra-Putri Lamongan.

Madrasah yang memiliki visi unggul, berprestasi, inovatif dan berakhlakul karimah ini selalu memperoleh akreditasi A. Hal ini pula yang menjadi salah satu indikator bahwa MTs Putra-Putri Lamongan memang madrasah yang unggul dan berkualitas. Walaupun berada di lingkungan perkotaan yang penuh dengan persaingan mutu, MTs papi bisa menjaga kepercayaan masyarakat untuk selalu menjadi pilihan utama. Pada tahun pelajaran 2017/2018 ini, peserta didik madrasah ini berjumlah 252 siswa dengan jumlah pendidik dan tenaga kependidikannya sebanyak 50 orang.

Menurut Nurman, Kepala MTs Papi bahwa madrasahnya menjadi dipercaya untuk menjadi koordinator sub rayon 54. Pada sub rayon ini mengkoordinir 18 jenjang Madrasah Tsanawiyah. Kedelapan belas madrasah tersebut, lanjutnya, berasal dari wilayah Kecamatan Tikung, Sarirejo, Kembangbahu, Sambeng, Turi dan Kalitengah. “kami sangat bangga karena diberikan kepercayaan banyak pihak, termasuk menjadi rujukan beberapa madrasah”, ujarnya.

PROBLEM SOLVING: Diskusi dijadikan sebagai salah satu strategi pembelajaran oleh guru dalam membelajarkan sains

Sejak berdiri, MTs Putra-Putri Lamongan telah mengalami tujuh kali pergantian kepemimpinan. Pada setiap masa kepemimpinan memiliki ragam kebijakan yang berbeda. Selama dua tahun ini, terhitung sejak tahun 2016, kepala madrasah dipegang oleh Nurman. Kebijakan yang bersangkutan lebih pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) semakin berkualitas. Hal ini yang menyebabkan pihaknya sering mengikutsertakan guru untuk aktif dalam kegiatan pelatihan, workshop dan sejenisnya. Sesekali secara rutin pada setiap semester, pihaknya melakukan supervisi terhadap perkembangan kualitas mengajar gurunya. Hasil supervisi tersebut digunakan sebagai bahan evaluasi akademik dalam rapat bersama dewan guru

MTs Putra-Putri Lamongan, sambung ayah dari dua anak ini, dikelola secara profesional atas dasar kekeluargaan yang berbasis keislaman. Pola komunikasi yang dibangun oleh pimpinan dengan guru maupun karyawan seperti keluarga. “misalnya saja setiap hari jum’at pagi dilakukan istighotsah yang dilanjutkan dengan makan bersama. Makanan tersebut disediakan secara bergiliran oleh guru satu dengan lainnya. Hal ini membuat suasana kerja menjadi akrab dan harmonis. Pola kekeluargaan seperti ini pula yang coba kami bangun antara pihak sekolah (baca: pimpinan, guru, karyawan) dengan seluruh siswa maupun orangtuanya,” urainya.

PRAKTIKUM: Guru memfasilitasi siswa dalam melakukan proses sains

Selain itu, madrasah juga secara rutin memfasilitasi orangtua untuk bisa saling mendukung aktivitas belajar anaknya masing-masing. Menurut pria yang juga berprofesi sebagai dosen tersebut, keberhasilan belajar anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Namun orangtua juga memiliki peran yang besar dalam membentuk pola belajar anak. “pola komunikasi kekeluargaan ini cukup efektif dalam mengelola dan melaksanakan aktivitas akademik. Sehingga banyak orangtua yang mempercayakan putra-putri mereka kepada kami,” terangnya.

Sebagai sekolah yang berbasis Islam, sambungnya, banyak aktivitas keagamaan yang yang dimasukkan dalam kurikulum. Diantaranya, siswa dan guru hadir jam 6 pagi untuk bersama-sama membaca Al-qur’an. Setelah 40 menit baru siswa masuk kelas untuk persiapan mengikuti pelajaran. Adapula ekstra pembelajaran kitab kuning, pembacaan dziba’, sholat jum’at berjamaah dan lainnya. “kami ingin siswa disini selain berprestasi dalam ilmu umum juga tak ketinggalan dalam bidang agama,” pintanya.

Selain beragam aktivitas keagamaan tersebut, siswa-siswi di madrasah ini juga diberikan ragam kegiatan e kstra kulikuler. Diantaranya pramuka, drumband, banjari, karate, pembinaan qori’, drill bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan bimbingan mata pelajaran UN. Selain itu juga, peserta didik di MTs Papi juga diberikan pembinaan baca tulis Al-Qur’an bekerjasama dengan UMMI Foundation.

Sarana dan prasarana pembelajaran yang ada di madrasah ini juga tergolong memadai. Seluruh ruang kelas telah terpasang LCD proyektor untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Selain itu dilengkapi dengan ruang perpustakaan, UKS, laboratorium komputer, dan laboratorium sains. “di area madrasah juga diberikan jaringan wifi untuk bisa digunakan mengakses internet dalam menunjang aktivitas pembelajara. kami juga terus berupaya meningkatkan kualitas, salah satunya bekerjasama dengan USAID Prioritas dalam hal pembelajaran dan manajemen kepemimpinan,” ujarnya.

Walaupun telah memiliki laboratorium sains, namun fasilitas tersebut belum sepenuhnya digunakan secara maksimal. Aktivitas pembelajaran sains lebih banyak dilakukan di dalam kelas. Menurut Novi Artika, guru sains MTs Papi, bahwa peralatan di laboratorium sains cukup lengkap, namun rungannya kurung cukup luas untuk digunakan dalam praktikum siswa dalam satu kelas. “pembelajaran sains di laboratorium dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu saja, dan tidak terjadwal secara rutin. Tergantung juga tema yang sedang dipelajari, apakah memang harus menggunakan laboratorium atau cukup di kelas,” terang guru alumni jurusan Fisika Universitas Brawijaya tersebut.

Walaupun jarang menggunakan laboratorium, beberapa kali guru membuat media sederhana untuk kebutuhan praktikum. Misalnya penggunaan barang-barang bekas sebagai media pembelajaran. “Pembuatan media pembelajaran sederhana disiapkan oleh siswa atas petunjuk guru. Misalnya, materi tentang zat kimia pada kain untuk mengetahui adanya kandungan bahan kimia atau tidak. Praktiknya, siswa bisa membawa sendiri kain perca, kemudian kita identifikasi bersama di kelas, mana yang serat alami, dan mana yang serat buatan. Identifikasi tersebut bisa dilakukan dengan pembakaran dengan pengawasan guru”, jelas perempuan berjilbab tersebut.

Sebagai sekolah berlatarbelakang Islam, sambungnya, pihaknya juga melakukan pengintegrasian nilai-nilai Islam dalam pembelajaran sains. Misalnya materi berkaitan dengan tata surya, itu sudah termaktub dalam Alqur’an surat ali imron ayat 190-191, itu menjelaskan terkait Allah menciptakan siang dan malam, langit dan bumi dengan segala isinya.

 

PARENTING: Dr. Abd. Ghofur memberikan motivasi kepada siswa dan orangtuanya yang secara rutin dilakukan untuk saling mendukung dalam perkembangan belajar anak

Sebagai madrasah yang telah lama mengabdi dalam mencerdaskan anak bangsa, banyak prestasi yang diraih oleh madrasah ini, baik dalam skala lokal, regional, hingga nasional. Diantaranya, peraih nilai UN diatas rata-rata 8,5, juara lomba pengelolaan perpustakaan, juara Aksioma tahun 2017, juara karate putri. “prestasi dibidang sains masih belum banyak, terakhir kami masuk kategori baik dalam lomba karya ilmiah remaja (KIR),” pungkas kepala MTs Papi. *Abdul Ghofur

Tinggalkan Balasan

Close Menu