MTS Maslakul Huda Lamongan

MTS Maslakul Huda Lamongan

MTs Maslakul Huda merupakan salah satu sekolah menengah pertama berbasis Islam yang berlokasi di Pantai Utara (Pantura) Paciran Kabupaten Lamongan. Sekolah yang familiar dengan sebutan MTs Masda itu merupakan satuan pendidikan yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Maslakul Huda. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1984 tersebut oleh KH. Nur Salim dan tokoh-tokoh masyarakat Nahdlatul Ulama’ setempat. Berdirinya madrasah ini lantaran banyaknya lulusan Madrasah Ibtidaiyah Maslakul Huda yang tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Di awal berdirinya, siswa madrasah ini berjumlah 25 siswa saja, namun seiring perkembangan waktu terus mengalami peningkatan, pada tahun pelajaran 2016/2017 ini siswanya berjumlah 256 siswa. Selain itu, seiring perkembangan waktu pula, madrasah ini terus mengalami peningkatan mutu. Hal ini dibuktikan dari tercapainya status akreditasi terdaftar pada tahun 1984. Lalu pada tahun 1997 beralih status menjadi diakui, pada tahun 2002 berstatus Disamakan dan sejak tahun 2007 hingga kini berstatus terakriditasi A.

Mayoritas siswa yang belajar di madrasah ini berasal dari desa setempat, selebihnya berasal dari kecamatan sekitar, ada pula dari luar kabupaten dan propinsi. “Madrasah ini merupakan bentuk jariyah dari masyarakat NU sekitar, sehingga bagaimanapun masyarakat berkewajiban ikut serta mengembangkannya. Salah satunya dengan mempercayakan putra-putri mereka untuk belajar di madrasah ini,” ungkap Ahmad Sholihan, Kepala MTs Maslakul Huda.

PROSES SAINS: Salah satu praktikum dampak limbah rumah tanggal terhadap keberlangsungan ekosistem laut menggunakan media sederhana di Laboratorium Sains
TAHSIN: Tradisi belajar membaca Al-Qur’an dilakukan setiap pagi sebelum jam pelajaran di mulai

 

Sebagai sekolah yang berada di kompleks pesantren, MTs Masda memberikan porsi yang lebih untuk pelajaran agama dibanding dengan pelajaran umum. Hal ini ditunjukkan dari adanya budaya tahsin setiap harinya sebelum pelajaran di mulai. “sejak awal berdiri, madrasah ini ingin mendidik anak agar berkarakter Islami. Salah satu strateginya dengan memberikan program belajar membaca Al-qur’an selama 40 menit sebelum pelajaran di mulai. Setiap kelas dibagi menjadi kategori sesuai dengan kemampuan membaca Al-qur’an siswa tersebut,” ungkap pria yang menjabat kepala sekolah sejak tahun 2009 tersebut.

Madrasah yang telah berdiri lebih dari dua dasawarsa tersebut memiliki sarana dan prasarana yang cukup representatif. Bahkan bangunan berlantai tiga MTs Masda berada di lokasi yang tergolong unik, yakni berada di sebelah bibir laut. Sehingga, pemandangan laut lepas bisa dilihat secara langsung dari madrasah ini. “fasilitas pembelajaran juga tergolong cukup lengkap, walaupun belum seluruh kelas di lengkapi dengan LCD proyektor, namun penggunaan peralatan ini lumayan familiar. Bahkan untuk memaksimalkan peran ICT dalam aktivitas pembelajaran, kami memiliki ruang multimedia. Selain fasilitas tersebut, untuk memaksimalkan proses pembelajaran kami lengkapi dengan perpustakaan, laboratorium komputer dan laboratorium sains”, urai Ainul Hadziq, Waka sarpras MTs Masda.

Walaupun memiliki laboratorium sains, namun karena kurangnya peralatan praktikum, aktivitas pembelajaran lebih sering dilakukan di kelas. Menurut Khazib selaku koordinator Laboratorium mengungkapkan bahwa sebenarnya ruang laboratorium sains sangat luas. Namun, peralatan, alat peraga dan sejenisnya masih tergolong terbatas dan butuh pembaharuan. Penggunaan laboratorium tersebut juga dilakukan bergantian dengan siswa MA Maslakul Huda, sehingga harus dilakukan penjadwalan. “kami terus berupaya untuk bisa menjadikan laboratorium sains bisa berfungsi dengan lebih baik lagi,” ungkap pria yang juga sebagai guru sains tersebut.

Sesekali, untuk memahami proses sains, siswa diajak melakukan observasi di luar kelas. Hal ini dilakukan oleh guru agar siswa bisa belajar berbasis pengalaman dan tidak hanya monoton di kelas. Misalnya observasi di pantai sekitar sekolah untuk melakukan klasifikasi jenis limbah yang ada di laut dan menjelaskan bagaimana kondisi air laut tersebut. Secara umum siswa sangat antusias mengikuti aktivitas pembelajaran yang dilakukan di luar kelas tersebut. Hasil observasi tersebut kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama di depan kelas.

Secara khusus tidak ada penentuan standar maupun kebijakan dari kepala sekolah dalam penggunaan startegi pembelajaran sains. Aktivitas pembelajaran diberlakukan sama dengan pelajaran umum lainnya. Kepala sekolah hanya berpesan kepada guru untuk selalu melakukan update pembelajaran sains mengikuti perkembangan zaman. “saya secara rutin melakukan supervisi di kelas, dan hasilnya sebagai bahan evaluasi saat rapat dengan seluruh dewan guru,” ujar kepala sekolah.

Pihak sekolah juga aktif memberikan arahan kepada guru untuk terus meningkatkan kompetensinya. Baik dengan aktif mengikuti pelatihan, terlibat dalam forum MGMP, maupun sharing pengetahuan dengan sesama guru. Menurut kepala sekolah hal tersebut akan sangat membantu guru untuk mengingkatkan kualitas mengajar mereka.

 

 

TEKUN: Siswa memanfaatkan perpustakaan untuk menambah referensi belajar

Untuk menyeragamkan pemahaman guru dan siswa, pihak sekolah memberikan fasilitas buku yang menjadi rujukan. Buku paket tersebut mengacu pada Kurikulum 2013 dan menjadi rujukan guru dalam mengajar sains, baik di dalam maupun di luar kelas. Guru juga masih menggunakan lembar kerja siswa untuk mengukur sejauh mana tingkat pemahaman siswa dalam mengikuti pembelajaran sains. “untuk menambah referensi dan menambah pemahaman siswa, saya juga sering menyuruh siswa untuk mengakses internet. Kebetulan di madrasah ini juga ada jaringan wifi yang bisa dimanfaatkan oleh guru maupun siswa,” ungkap Zuliyatin, guru sains MTs Masda.

Metode pembelajaran, lanjut Zuliyatin, yang sering digunakan dalam pembelajaran sains adalah ceramah, diskusi, demontrasi dan penugasan. sebagai sekolah yang berbasis pesantren, pihaknya juga sesekali menyisipkan nilai-nilai Islam yang sesuai dengan materi sains. Misalnya saja saat materi kelestarian alam yang ditandai dengan terjadinya bencana tanah longsor, banjir dan lainnya. Hal tersebut di sebabkan hutan gundul yang pohonnya banyak ditebang dan dibakar oleh orang yang tidak bertanggung jawab. “saya mengaitkan beragam bencana yang terjadi tersebut karena juga ulah tangan jahil manusia, seperti yang tersebut dalam Surah Ar Ruum 41. Sebagaimana artinya bahwa telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” terang guru berjilbab tersebut.

Walaupun demikian, sambung Zuliyatin, tidak semua materi sains dapat disisipkan nilai Islam olehnya. Hal ini tergantung tingkat pemahaman guru terhadap materi-materi agama yang secara spesifik berkaitan dengan materi sains tersebut.

Banyak prestasi yang telah dicapai oleh MTs Maslakul Huda, baik dalam skala lokal maupun regional. Diantaranya juara I lomba lari, juara I lomba drum band, juara I lomba basket, juara I bidang pendidikan agama Islam, dan banyak lagi yang lainnya. Namun, dari sekian banyak prestasi tersebut, masih belum ada yang berprestasi di bidang sains. Sementara ini mereka masih aktif berpartisipasi dalam kompetisi sains dan matematika, namun masih belum masuk kategori juara. “kami akan terus berusaha agar juga bisa berprestasi di bidang sains,” pungkas kepala sekolah mengakhiri pembicaraan.

Share on facebook
Share on google
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Reply

Close Menu