METABOLISME MAKANAN DALAM TUBUH

METABOLISME MAKANAN DALAM TUBUH

Serial Quran dan Sains

Ayat-Ayat Allah dalam Diri Manusia

Dari penjelasan sebelumnya, kita mendapatkan pengetahuan untuk memilih makanan yang bergizi sebagai persyaratan makanan baik (ṭayyib). Namun demikian, kemanfaatan makanan tidak hanya bergantung pada nilai gizi, tetapi juga bagaimana efisiensi tubuh mencerna makanan dan mengambil unsur atau senyawa yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan kebutuhan energi. Selain itu, efisiensi pembakaran makanan menjadi energi oleh oksigen amat bergantung pada kemampuan paru-paru dalam menyerap udara dalam alveoli. Sebagaimana proses pencernaan, pembakaran makanan dalam tubuh manusia juga amat kompleks. Memahami proses-proses tersebut tidak hanya bermanfaat untuk menghindari hal-hal yang mengganggu sistem metabolisme tubuh, tetapi juga sekaligus memahami kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia. Hal ini sesuai firman Allah dalam Surah Fuṣṣilat/41: 53,

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ۝

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tandatanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar, Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Alquran, Surah Fuṣṣilat/41: 53)

Dengan demikian, mempelajari atau memahami proses metabolisme makanan, baik dari aspek biologi, kimia, maupun kesehatan akan dapat mendorong seseorang untuk menyukuri karunia Allah. Tiap kali makan atau minum, ia akan merasakan kehadiran Allah dan selalu ingat kepada-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Surah Āli ‘Imrān/3: 191,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ۝

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, Iindungilah kami dari azab neraka.” (Alquran, Surah Āli ‘Imrān/3: 191)

IImu pengetahuan, kendati baru amat sedikit, telah mampu mengungkap betapa rumitnya sistem metabolisme yang diciptakan oleh Allah dan semuanya berjalan secara otomatis, tanpa campur tangan manusia. Manusia tinggal menerima dan menjaganya.

Sistem Pencernaan Makanan

Terdapat 3 tahap utama dalam sistem peneernaan makanan daJam tubuh, di antaranya:

  1. Mengunyah makanan. Dalam mulut makanan dipotong-potong dengan gigi menjadi ukuran-ukuran yang lebih kecil, kemudian dikunyah atau dilumatkan agar komponen gizi daJam makanan keluar dari matriks makanan.
  2. Penyerapan zat gizi oleh dinding usus yang kemudian diangkut ke seluruh jaringan sel oleh darah.
  3. Di dalam sel tubuh, zat gizi diproses (metabolisme) untuk dimanfaatkan langsung atau disimpan untuk nanti dimanfaatkan di saat diperlukan.

 

  • Gigi dan Mulut

Dua deret gigi atas bawah dalam mulut yang saling berpasangan dan hampir simetris adalah sarana untuk mencabik dan memotong makanan. Dengan bentuk yang lebih kecil atau halus, komponen-komponen gizi akan keluar dari matriks makanan. Mulut diperlengkap pula dengan kelenjar penghasil air ludah (enzim) yang ikut menghaneurkan dan mendegradasi makanan menjadi komponen-komponen yang lebih kecil. Enzim tersebut dikeluarkan dari tiga tempat, yakni dari bawah lidah, dasar mulut, dan bawah depan telinga. Pengunyahan makanan dibantu oleh lidah yang juga berfungsi sebagai perasa makanan. Lidah membantu melipat atau mendorong makanan ke kanan atau ke kiri, menuju gigi yang kita kehendaki, untuk dikunyah. Selain itu, lidah dapat merasakan rasa makanan seperti manis, asin, asam, dan pahit. Lidah juga merasakan adanya barang yang keras seperti tulang atau pasir yang terikut dalam makanan.

Enzim dari rongga mulut disebut amylase mengubah pati menjadi karbohidrat lebih sederhana seperti glukosa yang berasa manis. makanan yang telah lumat dari mulut didorong lewat kerongkongan dengan gerakan peristaltik yang rumit. Ajaibnya, pada saat makanan ditelan lewat tenggorokan, katup tenggorokan untuk pernafasan tertutup secara otomatik sehingga tidak ada makanan atau minuman yang masuk ke dalam paru-paru.

 

  • Lambung

Lambung berfungsi menyimpan dan memproses makanan yang telah ditelan dari kerongkongan. Lambung yang bersambung dengan usus dua belas jari dilengkapi dengan lapisan (mukosa) yang berisi kelenjar-kelenjar yang mengeluarkan lendir, asam klorida (HCl encer), dan enzim pepsin dari pankreas. Pepsin merubah protein menjadi molekul sederhana. Dengan gerakan atau kontraksi tertentu dari lambung dan pencampuran dengan enzim dan hormon, maka makanan menjadi halus, menjadi cair, dan sangat asam.

Keberadaan asam dalam lambung amat penting terutama untuk membunuh kuman-kuman atau bakteri penyakit. Entah dari mana asalnya asam klorida dalam lambung, tetapi keberadaannya dapat dirasakan ketika kita hendak muntah. Apabila dianalisis, kadar HCl adalah sekitar 0,01% atau pH sekitar nilai 3 atau bisa lebih asam (pH=1). Anehnya pula kondisi asam makanan tidak “memakan dinding” lambung karena dilapisi oleh lendir penghalang (mucos barrier). Akan tetapi, apabila pasokan asam berlebih atau lendir pelindung mengalami kekurangan sebagai akibat obat kimia seperti aspirin atau karena stres, maka lapisan pelindung juga dapat rusak. Gejala demikian dapat dirasakan sebagai gangguan pencernaan seperti mag bahkan dapat menimbulkan radang lambung atau borok pada lambung dan usus dua belas jari. Oleh karena itu, obat-obatan yang bersifat asam sebaiknya dikonsumsi sehabis makan, bukan saat perut masih kosong. Makanan basi atau makanan yang amat pedas dan kontaminasi bakteri berpatogen atau pestisida dalam makanan akan menganggu lambung. Gangguan demikian akan menyebabkan proses pencernaan dan penyerapan gizi menjadi tidak efisien. Perlu juga dipahami bahwa stres atau beban pikiran yang berat dapat menyebabkan gangguan lambung atau pencernaan karena stres akan memicu hormon melepas asam lambung berlebih.

  • Usus Halus

Makanan yang telah berupa cair didorong menuju duodenum bagian pertama usus halus. Usus halus, selain usus dua belas jari, panjangnya 5-10 m, bergelung-gelung (coil), sedangkan usus dua belas jari sekitar 25 cm. Dinding usus halus yang berotot memutar makanan dengan gerakan maju-mundur (peristaltik) sambil mencampurnya dengan enzim. Dinding usus halus amat menakjubkan, berupa villi seperti jari-jari yang bila diperbesar menunjukkan adanya pembuluh darah kapiler dan limfa. Pada lapisan permukaan yang amat luas dengan jutaan villi inilah proses penyerapan gizi makanan ke dalam darah berlangsung.

 

  • Usus Besar

Usus besar adalah kelanjutan dari usus halus, panjangnya sekitar 1,5 m. Bentuknya menyerupai tapal kuda, suatu posisi yang efisien dalam perut yang volumenya terbatas.

Berbeda dari usus halus, dinding usus besar tidak mengeluarkan enzim, melainkan mengeluarkan banyak lendir. la berfungsi melumasi dinding usus serta membentuk massa dari sisa makanan. Kontraksi dan gerakan peristaltik secara pelan-pelan mencampur sisa makanan dan mendorong ke ujung usus besar. Dalam usus besar juga hidup berbagai bakteri penghancur serat dan membuat vitamin dari sisa cairan makanan. Tugas usus besar berikutnya adalah menyimpan sisa makanan yang setelah airnya diserap akan menjadi padat dan dikeluarkan sebagai tinja melewati dubur. Penelitian menunjukkan mekanisme mendorong tinja keluar pun berdasarkan proses otomatis yang melibatkan gerakan peristaltik dan saraf yang mengaturnya. Dari uraian langkah-Iangkah proses pencernaan dalam tubuh, jelaslah bahwa proses yang berjalan selama 14-20 jam atau lebih itu sangatlah rumit. Proses tersebut melibatkan gerakan fisik atau mekanik, proses kimia, hormonal, dan persarafan yang terintegrasi dengan sempurna. Semuanya bertujuan memecah bahan makanan menjadi komponen-komponen gizi yang dapat diserap dan diedarkan oleh darah.

 

  • Hati, Kantong Empedu, dan Pankreas

Peranan hati, empedu dan pankreas tak dapat dipisahkan dari sistem pencernaan makanan. Hati adalah organ dalam yang paling besar volumenya, sekitar 1,4 kg. Hati berperan sebagai “pabrik kimia” dalam tubuh yang mekanismenya belum banyak diungkap.

Ada banyak fungsi hati yang sangat mengagumkan, di antaranya yang paling penting adalah:

  1. Mengatur konsentrasi gula dalam tubuh, menyimpannya dalam bentuk glikogen dan mengeluarkannya bila diperlukan.
  2. Memproses lemak dan mengubah karbohidrat dan protein menjadi lemak, mensintesis kolesterol dan lipo protein.
  3. Menghasilkan air empedu kira-kira 1 liter per hari.
  4. Membentuk protein plasma darah dan globin protein yang penting dalam pembuatan hemoglobin, merubah protein berlebih menjadi urea untuk dibuang melalui ginjal.
  5. Menyimpan vitamin A, D, dan B-12.
  6. Menyimpan zat besi dan melepaskan bila diperlukan.
  7. Memproduksi beberapa zat yang diperlukan untuk pembekuan darah.
  8. Mengubah zat-zat kimia atau beracun yang masuk ke dalam tubuh menjadi tidak berbahaya, termasuk obat-obatan berlebih dan alkohol.

Peranan hati, yang hanya seberat 1,4 kg, sangat krusial sebagai pabrik kimia raksasa yang tidak mungkin ditiru oleh manusia. Karena itulah kita harus menjaga kesehatannya. Amat penting dipahami bahwa hati merupakan organ tubuh yang berfungsi menghancurkan zat-zat racun (poin 8) atau detoksifikasi. Berbagai bahan kimia, termasuk alkohol, bila terlalu banyak dikonsumsi dapat merusak sel-sel hati sebagaimana ia rusak akibat virus hepatitis. Kerusakan sel-sel hati akan menyebabkan fungsinya terganggu. Alkohol dapat pula menimbulkan hati berlemak (fatty lever). Lemak sebagai zat organik dapat pula menyimpan kontaminan organik. Kalau kontaminan adalah zat karsinogen maka ia dapat menimbulkan kanker hati yang sukar disembuhkan, apalagi kalau sudah terjadi sirosis. (Lihat Subbab tentang Alkohol)

Dekat dengan hati (liver), Allah menciptakan empedu. Empedu berfungsi memproduksi air empedu yang membantu mencerna lemak dan minyak agar dapat diserap usus. Air empedu yang dihasilkan oleh hati sebanyak ± 1 liter/hari, tetapi kemampuan kantung empedu untuk menampung air empedu hanya sebesar 60 ml. Terjadi proses yang menakjubkan karena air empedu dikentalkan dengan proses yang aneh menjadi 5-15 kali lebih sedikit volumenya untuk dapat disimpan dalam kantung empedu. Cairan empedu berfungsi melarutkan lemak guna membantu pencernaan lemak dan kolesterol agar mudah diserap dalam darah. Batu empedu, baik dalam kantong empedu maupun dalam saluran empedu, amat mengganggu pencernaan lemak dan minyak. Selanjutnya, terdapat kelenjar pankreas berdekatan dengan hati. Organ tersebut adalah penghasil cairan pencernaan (enzim) yang dialirkan keusus dua belas jari untuk mencerna karbohidrat, lemak, dan protein. Selain itu, pankreas juga membuat natrium bikarbonat (NaHCO3) untuk menetralkan asam lambung yang datang dari lambung. Pankreas juga membuat insulin, yakni hormon yang membantu mengatur gula darah.

Dari uraian tentang proses pencernaan makanan di atas jelaslah bahwa proses tersebut amat rumit dan kompleks. Tidak heran apabila, meski ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, para ilmuwan baru amat sedikit mengungkap rahasia ilmu di balik pencernaan ini. Ini merupakan ayat (tanda-tanda) yang menunjukkan kebesaran Allah dalam menciptakan sistem yang sempurna, efektif, dan efisien. Suatu sistem yang berjalan otomatis, terus-menerus, dan hanya berhenti apabila kematian tiba atas izin-Nya. Karena itu, pantaslah bila seorang muslim ketika makan tidak hanya mensyukuri nikmat Allah, tetapi sekaligus mengagumi kebesaran Allah yang telah menciptakan sumber makanan dan sistem pencernaan yang penuh ilmu dan hikmah.

  • Ginjal

Ginjal adalah organ tubuh manusia yang tidak kalah penting. Ginjal berfungsi “menyaring” darah dan membuang zat-zat tak berguna dalam bentuk urine. Ginjal juga berfungsi menjaga kesetimbangan elektrolit dalam cairan tubuh. Layaknya kinerja hati, mekanisme penyaringan darah dalam ginjal juga amat rumit. Alat penyaring di dalamnya tidak serupa dengan saringan biasa, melainkan berupa pipa-pipa halus yang berfungsi sebagai ultrafiltrasi.

Mekanisme penyaringan banyak melibatkan proses fisika, kimia, biologi, dan elektrokimia yang belum dapat diketahui secara sempurna oleh manusia. Dalam proses tersebut, zat-zat bermanfaat seperti vitamin dan mineral serta zat gizi lainnya tetap dalam darah, sedangkan sisa metabolisme seperti amonia dan metabolit lain dibuang dalam bentuk urine. Anehnya, apabila orang meninggal, sistem saringan ginjal dengan pipa-pipa penyaring tetap utuh, tetapi sudah tidak lagi berfungsi untuk proses penyaringan. Kerusakan ginjal dapat terjadi akibat infeksi atau iritasi yang merusak pipa penyaring. Kerusakan sistem penyaringan dapat ditandai dari adanya protein atau partikel-partikel lain dalam urine. Ini dapat diketahui dari analisis urine dalam pemeriksaan kesehatan. Ginjal dapat pula rusak akibat adanya endapan atau batu ginjal. Batu ginjal berupa endapan garam oksalat terutama kalsium oksalat (CaC2O4). Batu tersebut dapat pecah atau keluar lewat saluran urine, tetapi rasanya sangat menyakitkan. Operasi harus dilakukan apabila batu telah mengganggu fungsi ginjal. Bila salah satu ginjal rusak maka tugasnya bisa diambil alih oleh ginjal kedua. Bila keduanya rusak maka ginjal tidak akan lagi mampu menyaring darah. Akibatnya, darah kotor yang tak tersaring akan membuat badan lemah dan karenanya harus dilakukan cuci darah. Cuci darah dilakukan dengan teknologi elektrodialisis. Peralatan untuk cuci darah ini cukup besar, jauh lebih besar daripada ginjal, alat saring darah ciptaan Allah. Alat dialisis harus diganti membran penyaringnya setiap saat, sedangkan ginjal tidak perlu penggantian membran sepanjang masa apabila kita dapat menjaganya dari berbagai infeksi, pengaruh pelarut organik, dan logam-Iogam berat seperti kadmium (Cd) dan timah hitam (Pb). Kini kerusakan ginjal permanen dapat diatasi dengan pencangkokan ginjal apabila ada donor atau penjual yang cocok. Pengalaman menunjukkan bahwa peluang untuk sukses dalam cangkok ginjal adalah 50:50, dengan biaya yang sangat mahal pula. Ini berarti menjaga kesehatan ginjal serta berdoa untuk kesehatannya adalah cara paling baik dan murah.

Pembakaran Makanan

  • Sistem Pernafasan Paru-paru

Unsur-unsur makanan yang telah masuk dalam darah yang diserap oleh usus akan dibakar oleh oksigen yang dimasukkan ke dalam tubuh lewat proses pernafasan. Kira-kira sebanyak 1 m3 udara diserap setiap orang yang bekerja selama 1 jam.

Udara yang mengandung 20% oksigen (O) masuk ke dalam darah melewati sistem pernafasan yang juga amat unik. Sistem pernafasan dimulai dari hidung di mana udara disedot. Udara yang melewati hidung dihangatkan, kemudian melewati kerongkongan, dan masuk ke paru-paru. Paru-paru terdiri dari dua bagian, kanan dan kiri. Tiap bagian mempunyai sambungan ke arah batang tenggorokan. Saluran dan batang tenggorokan masuk dalam paru-paru lewat trachea yang terus mengecil sampai ujung trachea yang disebut alveoli.

Saluran pernafasan dan paru-paru dapat terganggu fungsinya oleh bermacam bahan kontaminan dalam udara seperti debu, asbes, dan bahan kimia seperti amonia, gas belerang, dan klor. Gas ini dapat menyebabkan iritasi. Alveoli, yakni ujung paru-paru, memiliki bentuk yang amat unik, berbentuk gelembung-gelembung amat tipis, amat kecil (3-5 ɥm), dan jumlahnya jutaan.

Pada selaput yang amat tipis tesebut terdapat dua jenis pembuluh darah, yakni pembuluh yang membawa darah kotor dan pembuluh darah yang membawa darah bersih. Pada lapisan tipis tersebut terjadi proses pertukaran gas yang mengagumkan, yakni antara gas oksigen (O) dan gas karbondioksida (CO). Pembuluh darah pembawa darah kotor (Vena cava superio) atau pembawa gas CO2 melepaskan gas CO2 pada gelembung alveoli dan dibuang keluar pada saat paru-paru mengempis. Sebaliknya, O2 yang dimasukkan ke dalam paru-paru ketika kita menarik napas diserap ke dalam darah yang kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Sudah dapat dipastikan kesetimbangan gas dalam alveoli amat kompleks, melibatkan hukum fisika gas, kimia, dan biologi serta kesetimbangan yang ada dalam darah sendiri. Kesetimbangan dalam darah seperti diutarakan sebelumnya amat dipengaruhi oleh pH, elektrolit, protein, dan gas CO2 (ion karbonat). Secara sederhana, pertukaran gas di atas digambarkan sebagai berikut.

Kesetimbangan antarfasa, yakni gas (CO2 dan O2) dengan cairan (darah) menunjukkan dalam penciptaan mikrokosmos seperti alveoli terdapat kesetimbangan seperti dalam penciptaan makrokosmos, yakni jagat raya, sebagaimana firman Allah,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ۝ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ۝

Yang menciptakan tujuh langit berlapis-Iapis. Tidak akan kamu Iihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka Iihatlah sekali lagi, adakah kamu Iihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih. (Alquran, Surah al-Mulk/67: 3-4)

Akhir ayat 4 dari Surah al-Mulk/67 di atas menegaskan keterbatasan ilmu manusia. Hingga sekarang ilmu kimia fisika belum mampu menjelaskan kesetimbangan antarfasa dalam alveoli. Oleh karena itu, cukuplah manusia menjaga paru-paru karena ia akan menjaga kesehatannya.

 

  • Kerusakan Paru-paru akibat Merokok

Seperti dijelaskan sebelumnya, penghisapan udara dalam proses pernafasan yang tiada henti yang dilakukan oleh paru-paru pada hakikatnya adalah proses mengambil O2 yang kemudian dibawa oleh darah menuju sel-sel tubuh. Dalam sel-sel tubuh tersebut gizi makanan yang telah diserap oleh darah dari dinding usus dibakar oleh oksigen. Misalnya dalam pembakaran karbohidrat:

C₆H₁₂O₆ + 6 O₂ → 6 CO₂ + 6 H₂O + kalori

Gas CO₂ yang terbentuk dibuang juga lewat paru-paru saat mengembuskan nafas, sedangkan kalori atau panas dimanfaatkan kerja oleh tubuh. Dengan demikian, peranan paru-paru amat penting karena sebaik apa pun asupan gizi, kalau paru-paru dan juga alveoli mengalami kerusakan, maka pembakaran dan metabolisme yang lain akan terganggu. Dari situ dapat dipastikan bahwa menjaga kesehatan paru-paru tidak kalah pentingnya dibanding menjaga asupan gizi makanan.

Seperti dijelaskan sebelumnya, paru-paru dapat mengalami gangguan oleh debu-debu dan gas-gas kimia korosif. Gangguan oleh debu asbes disebut asbestosis, oleh debu silika disebut silikosis, sedangkan gangguan oleh gas-gas kimia korosif (amonia, klor, dan gas belerang) dapat merusak saluran pernafasan, termasuk bronkhus dan alveoli tempat terjadinya pertukaran gas CO₂ dan O₂. Dalam masyarakat, kebanyakan kerusakan paru-paru disebabkan oleh kebiasaan merokok. Kendati begitu, larangan merokok adalah persoalan yang amat kontroversial. Industri rokok menyangkut hajat hidup orang banyak seperti petani tembakau, pengusaha rokok, dan buruh pabrik rokok yang amat banyak. Pabrik rokok juga mendatangkan cukai rokok dan devisa bagi pemerintah yang sangat besar. Namun di balik keuntungan itu, terdapat banyak kerugian yang diderita masyarakat akibat dampak buruk merokok bagi kesehatan fungsi paru-paru. Terlepas dari kontroversi ini, berikut akan dijelaskan capaian ilmu pengetahuan yang dapat menerangkan efek buruk tersebut.

Rokok, seperti diketahui, ketika dibakar akan menghasilkan asap yang banyak mengandung bahan kimia seperti nikotin dan tar. Asap rokok yang bersuhu sekitar 70 DC, dapat merusak bulu silia yang terdapat dalam saluran paru-paru. Bulu silia dan lendir berfungsi menangkap partikel dan bakteri agar tidak masuk paru-paru. Oleh panas di atas, lama-lama bulu silia akan mati sebagaimana rumput akan mati oleh panas.

Tiadanya bulu silia menyebabkan partikel debu dan asap, termasuk bakteri, tidak dapat ditangkap sehingga masuk begitu saja ke paru-paru. Khusus bakteri, terutama bakteri TBC (tuberkulosis), akan bersarang dalam paru-paru dan ini amat mengganggu. Itu bisa menjelaskan mengapa sebagian besar penderita TBC adalah perokok berat. Badan penderita TBC cenderung kurus dan tidak berenergi karena asupan O2 ke dalam paru-parunya terganggu.

Asap rokok yang mengandung tar dan nikotin juga tidak kalah berbahaya. Endapan tar dan nikotin ini dapat dilihat dalam percobaan dengan “smoking-machine“, di mana tar dan nikotin yang berwarna hitam coklat menempel pada kertas penyerap. Asap yang mengandung tar dan nikotin dapat pula menuju paru-paru dan masuk ke dalam alveoli. Alveoli yang terdiri dari gelembung amat halus dan amat tipis akan rusak oleh endapan tar dan nikotin. Kerusakan alveoli dalam jumlah besar akan menimbulkan flek pada paru-paru, bahkan menyebabkan paru-paru tampak seperti serat (fibrosis).

Paru-paru yang cedera akibat TBC dapat menyebabkan pembungkus paru-paru berlubang, dan ini akan mengakibatkan udara pernafasan bocor dan menekan paru-paru. Keduanya akan mengganggu pernafasan atau sesak nafas, bahkan paru-paru berair. Apabila air yang masuk ke paru-paru terlalu banyak maka air tersebut harus dikeluarkan. Paru-paru yang rusak sudah tidak efektif lagi dalam proses pernafasan. Kondisi ini susah disembuhkan, kecuali dengan cangkok paru-paru (plantasi). Itu pun kalau ada orang yang menjual paru-paru.

Paru-paru yang telah fibrosis dapat memicu datangnya penyakit lain, yakni:

  1. Tekanan darah tinggi. Ini disebabkan paru-paru fibrosis memerlukan tekanan darah yang tinggi dari jantung untuk memasukkan darah ke dalamnya. Ini berarti tekanan darah yang bersangkutan menjadi naik dan dapat menimbulkan stroke.
  2. Gangguan jantung. Jantung yang harus bekerja keras memompa darah ke paru-paru akan menjadi lelah. Kelelahan yang terus-menerus akan menjadikannya lemah dan dapat berhenti berdetak memompa darah. Ini berarti kematian.

Selain menimbulkan endapan atau fibrosis, tar dan nikotin dapat menimbulkan kanker paru-paru. Hal ini karena dalam tar tembakau terdapat ratusan jenis bahan kimia organik yang tidak mustahil salah satu atau lebih bersifat karsinogen (penyebab sel liar, tumor, atau kanker). Meski rokok bukan satu-satunya penyebab, kanker paru-paru yang telah lanjut sukar disembuhkan dan sering berakhir pula dengan kematian bagi penderitanya.

Uraian di atas menunjukkan bahwa merokok mengandung banyak mudarat bagi kesehatan seseorang, tetapi merokok sukar dicegah karena korbannya adalah diri sendiri. Berbekal pengetahuan di atas, seseorang tentu dapat memilih jalan yang tidak membinasakan diri sendiri, sebagaimana firman Allah,

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ۝

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 195)

Larangan membinasakan diri dapat juga berarti larangan membinasakan orang lain, karena umat adalah suatu kesatuan. Demikian juga dalam hal merokok, ia tidak hanya merugikan perokok sebagai personal, tetapi juga merugikan orang lain yang turut mengisap asap rokok, atau biasa disebut perokok pasif. Kondisi akan semakin parah apabila perokok pasif itu (biasanya istri atau anak si perokok) secara biomolekuler tidak tahan terhadap debu asap rokok. Ia akan menjadi korban lebih dahulu dibanding si perokok aktif.

Bahaya lain dari merokok adalah kandungan gas CO (karbonmonoksida) dalam asap. Meskipun dalam kadar kecil, gas CO dapat bereaksi dengan kolesterol dalam darah membentuk endapan. Endapan dapat menutup pembuluh darah ke jantung yang dapat menimbulkan infark (serangan) jantung. Kalau endapan terjadi pada pembuluh darah otak maka timbullah stroke. Hasil penelitian mutakhir tersebut menjelaskan mengapa banyak di antara para perokok memiliki kadar kolesterol tinggi dalam darahnya, meski masih berusia muda, dan mengalami serangan stroke atau infark jantung. Meski begitu, dapat pula dijumpai perokok yang mencapai usia lebih dari 80 tahun. Bisa jadi itu karena ia berkadar kolesterol rendah atau secara biomolekuler tahan terhadap asap rokok.

  • Peranan Paru-paru dan Ginjal dalam Kesetimbangan

Seperti diutarakan sebelumnya, protein yang bersifat amfoter (dapat bersifat asam atau basa) dapat berfungsi sebagai penyangga pH (keasaman atau kebasaan). pH dalam darah (plasma), termasuk dalam cairan di antara sel (interstial fluid), terjaga amat ketat, yakni pH antara 7,35-745. Kondisi dengan range (jarak pH) hanya 0,1 satuan pH berarti amat kritis. Bahkan, nilai pH di bawah 6,8 atau di atas 8 bisa berarti kematian.

Kesetimbangan dalam tubuh, dalam nilai pH yang amat kritis tersebut, mengingatkan kita akan kekuasaan Allah dalam menciptakan alam raya dalam keseimbangan, tanpa cacat. Allah berfirman,

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ۝

Yang menciptakan tujuh tangit berlapis-tapis. Tidak akan kamu Iihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka Iihatlah sekali lagi, adakah kamu Iihat sesuatu yang cacat? (Alquran, Surah al-Mulk/67: 3)

Kesetimbangan di atas amat unik, dan ilmu pengetahuan baru sedikit saja dapat menjelaskan, terutama peranan paru-paru dan ginjal. Gas karbondioksida yang ada dalam darah memegang peranan penting sebagai buffer dalam kesetimbangan:

H₂O + CO₂                       H₂CO

H₂CO₃                              H⁺+HCO₃

Pengendalian gas CO₂ di atas dilakukan oleh paru-paru dan ginjal. Paru-paru berfungsi mengeluarkan gas CO₂ dari dalam darah (H₂CO₃), dan ginjal mengeluarkan ion karbonat (HCO₃) dalam bentuk cairan atau air seni.

Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa apabila pH dalam darah naik (Iebih basa) maka ginjal akan menahan H⁺ (asam), dan apabila pH turun maka ginjal akan melepas H⁺. Paru-paru juga berperan, bila pH turun maka paru-paru akan mengeluarkan CO2 lebih banyak dengan bernafas lebih sering. Sebaliknya, bila pH naik maka paru-paru akan mengurangi respirasi. Dengan demikian, paru-paru mengatur gas CO₂, sedangkan ginjal mengatur H+ dan HCO₃ – agar pH tetap antara 7,35-745.

Dipastikan bahwa kesetimbangan sesungguhnya tidaklah sesederhana penjelasan di atas. Namun, ini semua menunjukkan bahwa sistem kesetimbangan yang Allah ciptakan dalam darah yang begitu rumit juga mengikuti hukum-hukum kesetimbangan kimia yang Dia ciptakan dan dikenal sebagai hukum Le Chartelier.

 

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Tinggalkan Balasan

Close Menu