MERAKIT ROVER SEBAGAI JEMBATAN BAGI GAP PENCAPAIAN PENJELAJAHAN LUAR ANGKASA DI SEKOLAH DAN DI RUMA

MERAKIT ROVER SEBAGAI JEMBATAN BAGI GAP PENCAPAIAN PENJELAJAHAN LUAR ANGKASA DI SEKOLAH DAN DI RUMA

Serial Pembelajaran Sains: Alberto J. Rodriguez

ROVER KAMI YANG PERTAMA

Sudah dua jam berlalu, rover kami belum juga selesai dirakit. Selum pernah saya lihat anak-anak kami, seorang perempuan dan seorang laki-Iaki, begitu asyik dalam mengerjakan sesuatu. Rover kami memiliki lengan-Iengan untuk memegang barang dan motor kecil yang kelihatan seperti unit pendingin ruangan kecil mungil sebagai penggerak. Dua motor lain menghasilkan daya untuk roda-roda belakang. Bagian dasarnya berisi kapsul dengan astronot mainan. Walaupun geraknya pelan, senyum anak-anak merekah lebar ketika melihat produk laboratorium mereka menjadi hidup-bersuara, bergerak, dan mengambil benda-benda. Tentu secara bergantian anak-anak mengamati kalau-kalau lengan-Iengan rover bisa dimanipulasi agar jari-jemarinya saling mencubit. Jelas itu bukan misi NASA yang paling utama, tetapi sudah tentu anak-anak menjadi tertawa karenanya dan menikmati kreasi mereka. Saya menjadi tahu, berkat mainan itu, akan ada lebih banyak waktu untuk bersenang-senang bersama sekaligus lebih banyak kesempatan bagi imajinasi dan kreativitas anak-anak saya untuk bisa terbang.

 

Sudah dua belas tahun berselang ketika saya membelikan anak-anak perangkat Robotix untuk pertama kalinya. Perangkat Robotix adalah perangkat perakitan robot berisi banyak bagian dan engsel yang harus dihubungkan, seperangkat roda, motor, kabel, dan unit kontrol yang bertenaga baterai (Robotics and Things, tanpa tanggal: silakan kunjungi www. roboticsandthings. com)! Kini anak laki-laki saya sudah hampir lulus dari Universitas Vanderbilt dengan gelar di bidang kimia, dan anak perempuan saya sedang menyelesaikan tahun pertamanya di program studi biologi pada San Diego State University. Saya sendiri mulai lagi merakit robot-robotan. Namun, kali ini, saya merakitnya bersama anak-anak sekolah dari kelas 4-6 sebagai bagian dan proyek penelitian kami. Sebagai seorang dosen pada pendidikan sains, saya berkomitmen menyelidiki cara menjadikan pendidikan lebih berpusat kepada siswa, lebih setara, dan lebih relevan secara sosial, dan budaya dengan semua anak.

Oleh karena itu, bab ini saya mulai dengan membahas pentingnya menjadikan sains lebih setara dan mudah dimengerti oleh semua anak, lalu diikuti dengan deskripsi terperinci mengenai skenario penyelesaian masalah berpusat kepada siswa yang telah kami kembangkan agar belajar robotika dan sains di sekolah menjadi lebih relevan secara sosial dan budaya, serta lebih menarik bagi semua siswa.

GENERASI ILMUWAN, INSINYUR DAN INOVATOR YANG AKAN DATANG: SIAPAKAH MEREKA, DAN APA YANG ANDA LAKUKAN SEKARANG UNTUK MENDUKUNG MEREKA?

Kita semua harus prihatin dengan meluasnya gap pencapaian dan partisipasi siswa dalam sains dan matematika di antara siswa Anglo-Eropa dan siswa dari latar  belakang budaya beraneka (misalnya, Latino/Latina, Amerika keturunan Afrika, dan Penduduk Asli Amerika). Lebih dari lima puluh tahun upaya pembaruan sekolah dan penelitian berjalan sejak keputusan desegregasi Brown v. Board ofEducation (1950) oleh Mahkamah Agung AS, namun gap pencapaian dan partisipasi itu terus berlanjut, yang juga teramati pada jalur sosioekonomi dan gender (Rodriguez, 2004). Salah satu faktor yang menyumbang ketidaksetaraan kesempatan dalam hal pendidikan ialah akses ke teknologi-teknologi pengajaran. Banyak peneliti dengan jelas menunjukkan bahwa ada gap pada pencapaian siswa; di antara siswa-siswa yang sama juga terdapat jurang digital dalam hal akses ke teknologi-teknologi belajar (CEO Forum on Education and Technology, 2001).

Meskipun demikian, sebagaimana telah dibuktikan studi-studi mutakhir, ada harapan prestasi akademis dan partisipasi siswa-siswa dari latar belakang beragamjdanjatau dari status sosioekonomi rendah dapat membaik secara signifikan jika setidaknya satu dari pendekatan-pendekatan berikut ini diterapkan di dalam kelas: guru yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap semua siswa; siswa sering melakukan aktivitas yang berpusat kepada siswa, aktivitas handson, dan aktivitas minds-on; dan siswa-siswa yang memiliki akses ke penggunaan efektif teknologi-teknologi belajar.

Peneliti Dick Corbett, Bruce Wilson, dan Belinda Williams (200S) menemukan bahwa prestasi akademis siswa dari sekolah urban yang beraneka secara budaya dan kurang beruntung secara ekonomi, berhasil meningkat jika guru menyuruh mereka bertanggung jawab atas ekspektasi-ekspektasi yang tinggi. Dalam wawancara dengan para siswa itu, para peneliti juga menemukan bahwa siswa sendiri menghargai upaya guru mereka dan menganggap guru “menaruh perhatian” kepada mereka. Dalam studi lain, Fred Newman dan rekan-rekannya (Newman, Byrk, dan Nagaoka, 2001) menemukan bahwa siswa yang diberikan tugas yang menantang secara intelektual oleh guru, menunjukkan perbaikan dalam Iowa Test of Basic Skills, yaitu 20 persen Iebih besar daripada rata-rata nasional. Newman dan rekan-rekannya melakukan studi tersebut terhadap lebih dari 400 kelas di Chicago dan menganalisis lebih dari 2.000 tugas menulis dan matematika.

Kebutuhan untuk memaparkan siswa dengan kesempatan-kesempatan yang lebih autentik dalam mengerjakan sains hands-on dan minds-on, berhubungan dengan tugas-tugas menantang secara intelektual yang membutuhkan penerapan pengetahuan dan tidak hanya mengingat hafalan. Contoh, Weng Linsky (2001) menyebutkan bahwa “siswa yang gurunya memberlakukan aktivitas belajar hands-on, melampaui prestasi teman-teman sebayanya lebih 70% dari tingkat kelas pelajaran matematika dan 40% dari tingkat kelas pelajaran sains”. Ringkasan penelitian yang disusun American Educational Research Association (2004) juga mendukung semua temuan penelitian yang disebutkan di atas dan menambahkan, “Prestasi [siswa] meningkat ketika semua siswa memperoleh kesempatan belajar kurikulum menantang yang sama, ditandakan oleh standar dan ekspektasi yang tinggi”.

Dalam ringkasan penelitian Iainnya yang dikeluarkan Apple Computers (2002), temuan dari aneka studi dirangkum terkait penggunaan teknologi-teknologi belajar secara efektif. Studi-studi itu menunjukkan bahwa ketika guru sering dan secara efektif menggunakan teknologi belajar di dalam kelas, siswa -termasuk siswa-siswa dari latar belakang beraneka dan kurang beruntung secara ekonomi- Iebih termotivasi dan terlibat. Hasilnya, mereka bersedia menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar di dalam kelas dan menerapkan hal-hal yang sudah mereka pelajari di dalam dan di luar sekolah.

Aktivitas rover yang diuraikan di bawah ini menggabungkan semua saran bagi peningkatan pencapaian dan partisipasi siswa yang tadi disebutkan. Aktivitas dengan rover bisa menyediakan banyak kesempatan untuk menilai secara langsung reaksi siswa dari latar belakang budaya beraneka ragam terhadap pendekatan-pendekatan pengajaran dan proses belajar dalam proyek penelitian kami sendiri.

MERAKIT ROVER PENJELAJAHAN PLANETMU SENDIRI DI RUMAH ATAU DI SEKQLAH

Dalam tulisan ini mula-mula akan saya siapkan salah satu versi skenario penyelesaian masalah yang pernah kami terapkan dalam pekerjaan kami di sekolah urban dan sekolah dengan budaya beraneka. Skenario tersebut menyediakan “umpan” bagi siswa untuk lebih terlibat dalam aktivitas rover, menerapkan pengetahuan yang sudah dimiliki, bekerja secara kolaboratif dan mengadakan hubungan yang relevan secara sosial di antara isi sains dan penelapannya dalam situasi kehidupan nyata (atau mungkin nyata). Skenario yang sama tentu dapat diterapkan di rumah untuk memulai petualangan jelajah angkasa Iuar Anda sendiri. Skenario itu diikuti dengan saran-saran tentang perakitan sebuah rover. Setelah merakit begitu banyak versi rover bersama siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah umum, rancangan-rancangan kami selalu lebih baik dan lebih canggih, maka, dedikasi, imajinasi, dan rasa petualangan menjadi modal utama bagi berjam-jam belajar kalaboratif. Terakhir, beberapa saran khusus diberikan untuk menjadikan pelaksanaan aktivitas belajar kolaboratif lebih inklusif secara tujuan dan budaya, inklusif gender, dan relevan secara sosial.

SKENARIO PENYELESAIAN MASALAH: TERSESAT DI ANGKASA LUAR

Perhatikan bahwa skenario bulan atau planet harus dirakit dahulu sebelum aktivitas rover disajikan kepada para siswa. Kami sudah tahu bahwa kertas butcher (kertas tebal dan keras dari bubur kayu yang diolah secara kimiawi, semula dijual kepada tukang daging –butcher– sebagai pembungkus daging dan ikan, kini digunakan untuk berbagai tujuan lain, misalnya, membuat tas kertas dan bungkus kertas) warna merah paling cocok untuk membangun benteng alam (termasuk gunung-gunung, perbukitan, dan lembah-Iembah). Batu vulkanik (mudah ditemukan di toka-toko perlengkapan taman) sangat cocok untuk menciptakan ilusi sebaran bebatuan besar dan kecil. Sebuah tirai terbuat dari kertas yang sama sebagai skenario atau bahan lain yang berwarna sesuai, boleh digunakan untuk menyembunyikan skenario dari pandangan. Bila ruang yang Anda miliki terbatas, skenario tidak harus besar. Skenario terakhir yang kami buat berukuran lima kaki kali 10 kaki, dan siswa menganggapnya menantang karena diperbolehkan melihat skenario hanya dari “mata” rover (kamera nirkabel). Aktivitas bisa dilakukan dengan lebih berpusat kepada siswa dengan jalan menyuruh dua kelas saling membuatkan skenario. Kuncinya ialah merahasiakan identitas bulan atau planet yang digambarkan oleh skenario itu. Tujuannya untuk mendorong siswa menggunakan ciri-ciri planet atau bulan, laiu mengidentifikasinya dengan benar. Berikut ini hal yang dibacakan guru kepada siswa:

Oh tidak! Pesawat luar angkasa lepas kontrol!!! Tak lama setelah mengudara, lidah api raksasa matahari menghantam Bumi, menghancurkan semua jenis komunikasi. Pesawatmu berputar-putar di angkasa luar dengan kecepatan tinggi. Mana atas mana bawah tidak tahu lagi. Asap keluar dari panel kontrol, kilatan-kilatan cahaya membuatmu tak bisa melihat.

 

Setelah pingsan beberapa jam, kamu dan anggota tim tersadar. Kamu tidak tahu di mana kalian berada. Semua alat sensor terbakar, kalian tidak bisa menghubungi NASA untuk minta bantuan. Salah seorang anggota tim melihat ke luar melalui jendela kokpit dan memberi tahu pesawat terperangkap tarikan gravitasi sebuah objek yang digerakkan matahari. Tidak ada yang tahu apakah benda itu planet, bulan, atau objek matahari lain yang terletak jauh dari bumi. Mungkin Venus, mungkin Mars, atau benda lain. Apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana caramu menghubungi NASA untuk meminta bantuan bila semua komunikasi tidak bekerja?

 

Tim kalian memutuskan untuk langsung mulai memperbaiki alat-alat kendali dan radio pesawat, tetapi kamu tahu perbaikan akan makan waktu yang tidak sebentar dan kalian butuh menghubungi NASA. Oleh karena kamu memutuskan mengirim rover yang dikendalikan dari jarak jauh untuk menjelajahi permukaan objek matahari itu dengan harapan itu, kamu akan bisa mengidentifikasinya. Kamu juga tahu misi-misi sebelumnya telah meninggalkan antena komunikasi dan persediaan lainnya di planet dan bulan di dekat kakian. Jika nasib sedang mujur, mungkin justru objek matahari itulah yang sangat kamu butuhkan untuk memperbaiki pesawatmu dan menghubungi markas. Kamu hanya perlu memikirkan tempat terbaik untuk mendaratkan rover-mu. Jika planet atau bulan itu sebelumnya pernah dijelajahi NASA, apa lagi tempat pendaratan terbaik?

 

Begitu rover tiba di permukaan objek, kamu bisa menggerakkannya dari pesawatmu menggunakan alat kendali jarak jauh. Untung saja, rovermu dan alat kendalinya dirakit terpisah dari pengendali utama pesawat; kalau tidak, mungkin kamu akan menemui jalan buntu. Begitu rovermu mendarat, kamu akan bisa melihat apa yang “dilihat” olehnya berkat kamera video yang ada di atasnya. Kamu harus benar-benar waspada, awas, dan tanggap. Kamu masih belum tahu apa yang akan kamu temukan atau berapa lama rover-mu akan mampu bertahan dalam lingkungan itu.

 

Petunjuk bagi Tim: Gunakan apa yang sudah kalian pelajari tentang planet dan bulan untuk mengidentifikasi objek matahari yang sedang dijelajahi rover kalian. Tuliskan sebanyak mungkin ciri-ciri kunci tentang objek matahari itu. Contoh, adakah pegunungan, kawah, gunung berapi aktif, puncak bertutup es, dan seterusnya? Apa warna tanahnya, dan berapa suhunya? Diskusikan pendapatmu bersama anggota tim, lalu tuliskan nama objek matahari itu dan alasan-alasanmu sebagai pendukungnya. Jika ada perbedaan pendapat di antara sesama anggota timmu, tidak apa-apa. Tuliskan jawaban kedua-duanya dan alasan kamu tidak setuju dengan pilihan anggota timmu.

MERAKIT ROVER-MU SENDIRI

Kami lebih suka menggunakan perangkat Robotix untuk membuat rover kami sendiri sebab menurut kami, komponen-komponen rakitnya jauh lebih mudah ditangani daripada perangkat-perangkat keluaran perusahaan lain (misalnya, Lego). Komponen rakit plastik perangkat Robotix dirancang secara kreatif. Ratusan keping dalam setiap perangkatnya selalu disertai sendi-sendi penghubung seperangkat roda motor penggerak (berkecepatan tinggi dan randah, kabel, serta unit-unit kendali. Ada perangkat yang disertai dengan suara-suara luncuran, cahaya dan pengendali jarak jauh. Saya sarankan membli perangkat yang disertai penegendali jarak jauh memungkinkan operasi yang dapat dilakukan rover anda menjadi lebih beragam.

Rover yang menggunakan motor dan roda yang ada dalam paket perangkat ternyata geraknya lebih lambat. Jika Anda merakit rover untuk digunakan di rumah saja, hal itu tidak menjadi masalah, tetapi jika Anda ingin menggunakan rover bersama murid-murid di dalam kelas, gerak rover mungkin terlalu lambat bagi kebanyakan siswa. Oleh karena itu, saya usulkan membeli mobil-mobilan berukuran sedang yang dapat dikendalikan dengan radio, lalu lepas bagian atasnya (biasanya cukup dengan melepaskan empat sekrupnya). Bagian bawahnya bisa Anda manfaatkan dan sangat cocok sebagai tempat merakit rover. Gunakan lem tembak dan beberapa keping perakit gepeng dari perangkat Robotix, maka kita sudah bisa merakit dasar serbaguna untuk segala jenis tujuan yang mungkin dapat dilakukan rover menurut imajinasi Anda. Perhatikan bahwa untuk membuat dasar rover tadi, Anda hanya perlu merekatkan keping-keping gepeng itu ke atas mobil-mobilan. Lebih baik semua komponen lain disambungkan dengan menggunakan engsel penyambung biasa supaya Anda bisa merakit, memperbesar, dan memisah-misahkan kreasi sesering yang Anda butuhkan. Penting juga untuk dipastikan bahwa frekuensi unit kendali jarak jauh robotix tidak sama dengan frekuensi unit kendali jarak jauh mobil-mobilan.

Tergantung anggaran dan/atau tujuan, rover dapat dirakit dengan satelit penyelidik (probe) atau tanpa satelit penyelidik untuk mengumpulkan data ilmiah dari sekitarnya. Pada sebuah rover Aracas IV: rover terbaru rakitan kami. Dari kiri ke kanan, rover tersebut memiliki satu lengan-genggam (satu paket di dalam perangkat); magnetometer keluarga Pasco (1996-2005) di tengahnya; kamera warna mini jarak jauh nirkabel (X10 1997-2006); dan satelit suhu keluaran Vernier (tanpa tanggal). Satelit magnetometer dihubungkan langsung dengan komputer jinjing MacIntosh Apple melalui kabel USB panjang. Satelit suhu mula-mula disambungkan ke DataPro, unit pengumpul data Vernier yang menyertai satelit-satelit tersebut (DataPro ditempatkan pada bagian teratas rover dengan menggunakan Velcro). Unit tersebut bisa menampung empat satelit yang disambungkan sekaligusdan memungkinkan pengguna mengirimkan data secara bersamaan untuk dianalisis di komputer jinjing dengan menggunakan satu kabel saja. Untuk skenario penyelesaian masalah, kami hanya mengukur perubahan-perubahan medan magnet dan suhu. Untuk itu, kami menyembunyikan magnet-magnet kuat dan membuat titik-titik panas di berbagai area pada skenario planet yang sudah kami bangun sehingga ketika siswa menggerakkan rover mendekati area-area tersebut. Mereka akan melihat data pada layar komputer naik tajam. Tentu saja, hal itu membangkitkan gairah dan semangat para siswa. Mereka mulai menerapkan pengetahuan muatan sains yang mereka miliki untuk memikirkan berbagai kemungkinan yang menjadi penyebab timbulnya fenomena yang teramati. Berkat kamera warna nirkabel itu, siswa juga dapat bergerak dengan hati-hati mengelilingi titik-titik panas “berbahaya” dan wilayah yang tidak dikenai. Sepanjang berlangsungnya aktivitas, siswa diwajibkan menggunakan pengetahuan ilmiahnya untuk menjelaskan fenomena yang teramati dan menjelaskan ciri-ciri geologis objek matahari yang tidak dikenal itu. Selain satu masalah yang kami temukan setelah menggunakan bagian dasar mobil-mobilan kendali jarak jauh untuk merakit rover ialah kini rover mampu bergerak dengan sangat cepat. Untuk menyemangati siswa agar terbiasa mengemudikan rover dengan kecepatan yang wajar untuk penjelajahan, kami menciptakan “zona-zona berbahaya”. Artinya, jika siswa mengemudikan rover terlalu cepat, ada beberapa area skenario yang memiliki zona batu-batuan yang curam (batu-batu besar terbuat dari kertas butcher, sama dengan yang digunakan untuk membangun skenario kami). Aturan dasarnya ialah jika rover “tabrakan”, kelompok yang menjalankan akan kehilangan gilirannya (misi gagal). dan tim lain memperoleh kesempatan menjelajah.

Ketika skenario dibangun pada ruang terpisah, lalu “dua sampai tiga tim sekaligus berada pada ruang skenario, ternyata rasa keikutsertaan menjadi lebih dalam dan lebih bermakna. Sementara satu tim menjalankan misi, tim lain mengamati dan membuat rencana, dan tim ketiga mempraktikkan cara mengendalikan rover dengan menggunakan replika lain yang sudah kami sediakan. Penting untuk diperhatikan bahwa skenario tadi diselubungi tirai. Walaupun skenarionya kecil (lima kaki kali 10 kaki), siswa berpendapat aktivitas itu menarik karena mereka hanya dapat”melihat” rover melalui kamera jarak jauh. Karena gambar diteruskan ke sebuah layar televisi, dan para siswalah yang mengendalikan rover dari jarak jauh, mereka berkesempatan menghargai kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan penjelajahan angkasa Iuar dan kebutuhan akan rancangan teknologi yang praktis dan cerdas. Kami sangat terkesan dengan aneka ragam saran teknik yang diusulkan para siswa guna memperbaiki teknologi dan rancangan rover untuk meningkatkan kemampuan kendali dan kemampuan gerak di kemudian han, juga meningkatkan peluang untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Kami juga terkagum-kagum oleh kreativitas siswa untuk menjelaskan fenomena yang teramati serta argumen-argumen yang mereka gunakan untuk mempertahankan pendapat mereka tentang planet itu Mars, Venus, ataukah objek matahari lainnya. Contoh, seorang siswa menyatakan bahwa alasan kami mengamati puncak-puncak yang hanya terjadi pada tempat-tempat khusus di medan magnet mungkin disebabkan oleh residu-residu yang ditinggalkan oleh dampak meteorit di area tersebut.

STRATEGI-STRATEGI LAIN PEMBUATAN AKTIVITAS YANG RELEVAN SECARA SOSIAL DAN BUDAYA

Setiap guru yang berupaya menjalankan skenario penyelesaian masalah dengan menggunakan kelompok-kelompok kolaboratif seperti yang dijelaskan di atas sudah menjadikan kelasnya inklusif secara budaya dan relevan secara sosial. Dalam situs-situs web proyek penelitian kami, kami menjelaskan beberapa strategi untuk menjadikan sains lebih gender menurut tujuannya, menurut bahasanya, dan inklusif secara budaya (untuk informasi lebih lanjut, lihat Maxima, 2004; Rodriguez, Zozakiewicx, dan Yerrick, 2005). Kini akan saya sebutkan secara pendek saja beberapa pendekatan yang sejauh ini kami anggap paling efektif.

Salah satu cara untuk memaksimalkan sumber daya dan perlengkapan terbatas serta memaksimumkan belajar ialah dengan mendirikan pusat-pusat belajar. Siswa di tiap-tiap pusat belajar dapat menerima tugas khusus atau skenario penyelesaian masalah seperti yang telah disebutkan di atas. Contoh, salah satu pusat belajar kami berfokus kepada kontribusi perempuan bagi penjelajahan luar angkasa. Siswa di pusat belajar itu diwajibkan membaca dokumen-dokumen yang menjelaskan sejarah perempuan di luar angkasa kemudian berdiskusi dengan guru dan teman-teman. Siswa diminta memikir dan mendiskusikan pertanyaan, misalnya, mengapa begitu lama bagi seorang perempuan dari Amerika Serikat untuk bisa ikut dalam misi jelajah angkasa (1983) padahal waktu itu Uni Soviet sudah mengirim angkasawati pertamannya dua puluh tahun sebelumnya. Pertanyaan lain ialah apakah siswa pernah mendengar tentang adanya angkasawan Amerika Serikat Latina pertama dan/atau keturunan Amerika keturunan Afrika pertama. Jika belum pernah apakah sebabnya? Komentar-komentar yang diberikan siswa kerap sangat dalam. Mereka berkata, tidak ada foto angkasawati dalam buku mereka atau ilmuwan lain yang memiliki ciri-ciri serupa itu, dan mereka heran apa sebabnya. Siswa didorong untuk mendiskusikan apa yang sudah mereka pelajari di dalam kelas bersama orang tua dan terus merenungkan isu-isu berkait gender di masyarakat sekarang, serta peran yang mungkin dapat dimainkan siswa agar masyarakat menjadi lebih setara bagi semua.

PENGELOMPOKAN SEGENDER

Kami menemukan bahwa anak-anak perempuan yang duduk di kelas-kelas akhir sekolah dasar (terutama di kelas enam), lebih suka bekerja dalam kelompok segender. Menurut mereka, bekerja sama dengan sesama anak perempuan lebih produktif dan lebih terarah. Menariknya, penelitian kami menunjukkan bahwa seringkali anak-anak lelaki lebih suka bekerja dalam kelompok campuran sebab anak perempuan akan membantu mereka “menyelesaikan tugas” dan “lebih bertanggung jawab” (Rodriguez dan Zozakiewicz, 200S). Hal itu menunjukkan bahwa pembagian tugas siswa secara berkelompok tidak boleh diterima begitu saja. Guru harus memantau dari dekat produktivitas dan tingkat kolaborasi siswa di dalam kelompok untuk memastikan dinamika gender tradisional tidak menghalangi proses belajar. Hal itu mencakup pemberian perhatian kepada semua siswa, terutama untuk mengamati ada atau tidaknya kecenderungan yang mengesankan bahwa keterlibatan anak perempuan atau pencapaian anak perempuan tidak sebesar keterlibatan atau pencapaian temannya yang laki-laki. Tentu saja, faktor lain seperti ras dan sumber daya bahasa juga berpeluang menjadi batas-batas yang dapat mengakibatkan ketidaksetaraan.

PENGGUNAAN TEKNOLOGI TIDAK HANYA MENCAKUP PENGGUNAAN KOMPUTER

Sayang sekali, teknologi pembelajaran (instructional technology) biasanya dipahami hanya meliputi penggunaan komputer di dalam kelas. Lebih parah lagi, persepsi bahwa komputer hanya cocok untuk melakukan pencarian di internet atau untuk mengetik laporan. Siswa perlu dibantu menyadari bahwa ada bentuk teknologi lain (misalnya, kamera video digital, peranti lunak pendidikan dan permainan, program-program pendidikan berbasis web, dan penyelidikan kumpulan data) yang bisa digunakan bersama-sama dengan komputer untuk menambahkan dimensi-dimensi baru bagi proses belajar yang lebih bermakna. Contoh, kunjungan ke kebun binatang bisa menjadi lebih bermakna dan relevan secara sosial dengan menugaskan siswa membuat foto tidak hanya binatang tetapi juga susunan habitatnya, perlindungan masyarakat dari hewan-hewan tersebut dan sebaliknya, reaksi teman-teman sekelas terhadap binatang-binatangnya, dan seterusnya. Lalu, siswa dapat mengunduh foto-foto itu ke komputer dan membuat cerita tentang foto atau laporan yang bisa memotivasi dan memfasilitasi pelajaran bagi semua (termasuk para pembelajar bahasa kedua).

MEMOTIVASI SEMUA ANAK AGAR MAU BELAJAR MENGGUNAKAN ROBOTIKA

Dengan tidak menerima begitu saja pemberian tugas kepada siswa dalam kelompok-kelompok kolaboratif, dengan menyediakan banyak kesempatan untuk belajar secara hands-on dan minds-on, dengan memasang ekspektasi tinggi terhadap semua siswa, serta dengan sering-sering menyediakan akses yang berharga ke teknologi-teknologi belajar untuk siswa, kita dapat menjadikan pendidikan sains lebih setara, relevan secara budaya dan secara sosial, dan bahkan lebih menyenangkan bagi semua siswa. Gap yang kini lazim dijumpai pada pencapaian dan partisipasi siswa selama lima puluh tahun terakhir jelas-jelas menunjukkan bahwa dibutuhkan lebih dari niat baik dan kebijakan tanpa makna, baru bisa menghasilkan pengaruh yang berlangsung lama. Barangkali salah satu cara untuk memulai menjadikan pendidikan lebih setara di sekolah (atau bahkan di rumah) ialah dengan menjalankan skenario penyelesaian masalah sebagaimana yang telah diuraikan di sini. Jenis-jenis aktivitas tersebut akan memberikan ruang yang sama yang mampu mempersatukan robotika dan jenis-jenis teknologi lainnya, pengetahuan muatan sains, imajinasi, dan semangat kolaboratif menuju tercapainya satu tujuan bersama. Bagaimanapun, persoalan ini melulu-berhubungan dengan pengerjaan sains yang sesungguhnya, bukan? Lalu, mengapa kita tidak mengambil tindakan guna menyediakan lebih banyak kesempatan bagi semua siswa untuk terlibat pembelajaran yang lebih bermakna dan kolaboratif?

Tinggalkan Balasan

Close Menu