MENJADIKAN MUATAN SAINS DAPAT DIPAHAMI BAGI PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS

MENJADIKAN MUATAN SAINS DAPAT DIPAHAMI BAGI PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS

Pembelajaran Sains: Beth Wassell

Bayangkanlah berjalan memasuki ruang kelas kimia sebuah SMU-di Meksiko. Anda sudah terintimidasi oleh mata pelajaran tersebut, sebab Anda menganggap diri Anda sendiri hanya seorang siswa sains yang berkemampuan sedang. Meskipun paham sedikit bercakap-cakap dalam bahasa Spanyol, baru pertama kalinya Anda masuk kelas yang gurunya tidak berbicara bahasa Inggris sedikit pun. Untunglah, ada beberapa teman di kelas yang mampu berbahasa Inggris dengan fasih. Namun, mayoritas siswa hanya berbicara bahasa Spanyol dan terlihat tersinggung saat Anda dan teman-teman saling menyapa dengan bahasa ibu Anda. Guru memulai ceramah dan dalam lima menit Anda benar-benar kewalahan. Walaupun mengenali beberapa kognat seperti ciencias, laboratorio, experimentos, observaciόn, dan resultados, Anda benar-benar mengalami kesulitan mengikuti sang pengajar dan mengartikan gagasan-gagasan utama dalam bahasanya. Setelah beberapa menit frustrasi setengah mati, akhirnya Anda mulai kehilangan arah.

SIAPAKAH PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS?

Mungkin Anda tidak pernah merasakan pengalaman serupa dengan situasi di atas, tetapi banyak siswa haru di Amerika Serikat pernah mengalaminya. Semakin beragamnya negeri kita secara etnik dan bahasa membuat para pendidik harus mampu mengatasi kebutuhan para pembelajar bahasa Inggris (English language learners, ELLs)-siswa-siswa yang bahasa utamanya bukan bahasa Inggris. Menurut National Center for Education Statistics (U. S. Department of Education, 2003), mulai tahun ajaran 2001-2002, sekitar lima siswa sekolah negeri di Amerika serikat terindentifikasi Limited English Proficient (LEP)-memiliki kemahiran berbahasa Inggris terbatas. Mayoritas siswa-siswa tersebut terkonsentrasi pada daerah-daerah urban, negara-negara bagian Barat, dan sekolah-sekolah lebih besar yang memiliki populasi lebih dari 750 siswa. Seperempat sampai sepertiga siswa di California memiliki kemahiran berbahasa Inggris terbatas. Sekitar 42% di Serikat melaporkan sedikitnya seorang ELL di kelas mereka (U.S. Departement of Education, 2003).

Dengan semakin meningkatnya kesadaran kita akan isu-isu yang memperbesar gap pencapaian di antara siswa kulit putih dan siswa kulit berwarna di sekolah-sekolah negeri, ketertinggalan ELL, terutama di mata pelajaran akademis seperti sains, sangat penting untuk dipertimbangkan. Melalui ini saya akan uraikan beberapa isu yang dihadapi para pembelajar bahasa Inggris dalam konteks pelajaran-pelajaran yang bermuatan sains. Lalu, akan saya gambarkan bagaimana sheltered instruction dapat membantu guru-guru sains menjadikan sains lebih mudah dimengerti dan dipahami ELL, yang akan membantu ELL menjadi lebih melek secara ilmiah. Dalam tulisan ini juga dimasukkan gagasan-gagasan praktis yang bisa digunakan untuk memodifikasi rencana pelajaran berbasis inquiry dan penilaian-penilaian bagi ELL. Terakhir, saya berpendapat bahwa pendidik-pendidik sains wajib meningkatkan kesadaran akan kebutuhan-kebutuhan ELL demi memajukan kemelekan ilmiah mereka.

ISU-ISU YANG MENGHADANG ELL DALAM SAINS

Kebanyakan ELL menerima pelayanan khusus, misalnya, kelas ESL (English as a Second Language -bahasa Inggris sebagai bahasa kedua) atau program-program pendidikan dwibahasa. Menurut Sonia Nieto dalam bukunya, Affirming Diversity (2004), kebijakan dan praktik yang berhubungan dengan ELL di sekolah negeri bermacam-macam, mulai dari program-program dwibahasa meyakinkan sampai pendekatan-pendekatan “timbul-tenggelam” yang memaksa ELL seharian berada di dalam kelas berbahasa Inggris. Banyak sekolah memiliki program-program ESL dengan para siswa menghabiskan satu periode atau lebih per harinya untuk belajar bersama seorang guru ESL bersertifikat dengan tujuan meningkatkan kemahiran berbahasa Inggris. Selain periode itu, biasanya selama sisa hari selebihnya siswa terdaftar pada mata-mata pelajaran bidang studi yang hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Meskipun demikian, siswa kerap mengalami kesulitan dalam kelas-kelas tersebut, khususnya jika pengajar menggunakan metode tradisional yang berpusat kepada guru.

Dalam pelajaran-pelajaran sains regular yang hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, ELL menghadapi banyak tantangan. Pertama, tantangan bahasa akademis yang sangat sulit bila mereka belum mampu menggunakan bahasa Inggris dalam situasi yang fungsional atau lebih bersifat bahasa Inggris fungsional dengan nyaman dan menurut guru tampak fasih, misalnya, karena mampu berinteraksi dengan mahir dalam tugas-tugas dasar, interpersonal, dan mudah secara kognitif, seperti mengikuti arahan atau melakukan percakapan tatap-muka tentang suatu tugas pekerjaan rumah. Situasi demikian dapat dianggap kaya konteks (context-rich) artinya bahasa yang digunakan sangat terlekat pada konteks atau terjadi pada situasi-situasi komunikasi khusus. Namun, mungkin ada ELL yang tidak mampu memahami dalam situasi ketika bahasa menjadi sulit secara kognitif dan lepas dari konteks, misalnya, bahasa dalam suatu penjelasan konsep fisika abstrak (tanpa diagram) atau ujian-ujian standar, yang jarang sekali memasukkan petunjuk-petunjuk konteks (Cummins, 2000). Jadi, guru sering dibingungkan oleh siswa-siswa yang tampak fasih berbahasa Inggris tetapi memperoleh hasil yang buruk dalam penilaian.

Isu-isu lain muncul ketika ELL dihadapkan dengan kurikulum dan muatan sains yang lebih ringan. ELL mungkin akan ditempatkan di mata pelajaran sains tingkat dasar dan kehilangan kesempatan mengikuti mata pelajaran tingkat lanjutan yang lebih berpeluang mempersiapkan mereka untuk masuk perguruan tinggi. Dalam kasus-kasus lain, guru mengurangi beban muatan bagi para pembelajar bahasa Inggris tersebut, walaupun mungkin siswa-siswa itu sudah meneriIna mata pelajaran sains lanjutan di negeri asalnya. Dalam setiap kasus tersebut, ELL tidak diberi kesempatan untuk merasakan mata pelajaran sains yang sulit di tingkat lanjutan dan tidak mendapatkan pendidikan yang setara.

Isu-isu di atas semakin parah oleh keterbatasan pengetahuan yang dimiliki guru-guru bidang studi tentang strategi-strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan bagi ELL; kebanyakan program pendidikan guru tidak mencakup pelatihan di bidang itu. Saya akan memberikan gambaran tentang beberapa alat yang dapat dimanfaatkan para pendidik sains untuk membantu pencapaian ELL dalam pelajaran sains: sheltered instruction, sumber-sumber daya bahasa, dialog kogeneratif, dan penelitian.

MENJADIKAN MUATAN SAINS BISA DIPAHAMI

Sheltered Instruction

Sheltered instruction adalah pendekatan untuk mengajarkan muatan bidang studi dengan cara yang bisa dipahami sekaligus mendorong perkembangan bahasa Inggris siswa. Penggunaan teknik-teknik sheltering oleh guru dapat meningkatkan keberhasilan siswa dalam sains dan meningkatkan kemelekan ilmiah. Dalam Making Content Comprehensiblefor English Learners: The SlOP Model, Jana Echevarria, Mary Ellen Vogt, dan Deborah Short (2004) mengusulkan sebuah model sheltered instruction guna membantu guru-guru agar muatan lebih bisa dipahami sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan berbahasa. Model tersebut mencakup delapan komponen perencanaan, pengajaran, dan penilaian, tetapi saya hanya akan membahas dua unsur utamanya saja: persiapan pelajaran (lesson preparation) dan pemeriksaan kembali penilaian (review/assessment).

Dalam persiapan pelajaran, guru tidak hanya mengembangkan tujuan-tujuan muatan tetapi juga tujuan-tujuan bahasa yang digabungkan ke dalam pelajaran. Tujuan bahasa berfokus kepada keterampilan-keterampilan berbahasa yang akan dibutuhkan siswa untuk memahami suatu konsep atau melakukan suatu aktivitas. Contoh, dalam sebuah pelajaran tentang pengapungan, mungkin tujuan muatan dan tujuan bahasa sebagai berikut:

Tujuan muatan : Siswa akan mampu memprediksi dan mengkalkulasikan suatu benda memiliki sifat kecenderungan mengapung atau tidak. Siswa akan mampu menggambarkan temuan-temuannya dalam bentuk grafik.

Tujuan bahasa  : Siswa akan menulis predlksi-prediksi tentang sebab-sebab suatu benda akan mengapung atau tenggelam. Siswa akan mendiskusikan prediksinya itu secara berkelompok. Siswa akan menggunakan kata-kata float, sink, calculate, predict, dan buoyant dengan benar sesuai konteks.

Selama fase perencanaan, cara-cara memanfaatkan latar belakang dan budaya siswa harus diperhitungkan. Untuk pelajaran pengapungan, guru dapat bertanya, pernahkah siswa mencoba mengapung di sebuah kolam atau pada air setinggi badan, atau apakah benda-benda pada umumnya mengapung di bak mandi. Lalu, dengan menggunakan objek yang sebenarnya (misalnya, jeruk, kapal-kapalan, atau beban kecil) dan pengalaman pribadinya masing-masing, siswa bisa menuliskan prediksi-prediksi tentang pandangan -mereka tentang benda-benda tersebut akan mengapung atau tenggelam. Senarai kosakata penting harus tetap ada di dalam ruangan sehingga bisa dilihat dan dirujuk siswa selama beraktivitas (bisa memakai kertas grafik ukuran besar atau papan pesan). Untuk pelajaran pengapungan, kosa kata kunci meliputi kata-kata yang harus disebutkan dalam tujuan-tujuan bahasa.

Komponen kedua dalam model sheltered instruction di atas ialah pemeriksaan kembali/penilalan, yang berfokus kepada pemeriksaan kembali (review) dan penilaian (assessment) baik tujuan muatan maupun tujuan bahasa. Guru akan menilai kefasihan siswa dengan kosakata kunci sekaligus konsep-konsep muatan utama yang diberikan. Selain itu, guru harus memberikan umpan balik kepada siswa terkait hasil pekerjaan atau jawaban lisan dan tulisannya. Menyatakan kembali atau memparafrasakan jawaban siswa dengan benar, terutama bila jawaban siswa mencakup kekeliruan-kekeliruan tata bahasa yang mencolok, dapat menjadi cara yang tidak menggentarkan hati dalam memberikan umpan balik kepada siswa tentang hasil pekerjaannya. ELL harus senantiasa merasa didukung dan dibenarkan setiap kali menerima umpan balik; umpan balik negatif dapat meningkatkan kecemasan siswa dan mengurungkan niat untuk berpartisipasi secara lisan di kelas.

Dalam memikirkan penilaian formal didalam kelas sains, penting bahwa ELL dihadapkan pada aneka jenis evaluasi. Untuk ELL pemula, penilaian yang sangat (highly contextualized assessments) sangat penting. Tes dan kuis dapat dibuat lebih terkonteks dengan memasukkan diagram, alat-alat bantu visual (visuals), dan petunjuk konteks lainnya. Bentuk penilaian alternatif dan bisa diandalkan, misalnya, portofolio dan proyek, sebaiknya juga digunakan di samping ujian-ujian biasa. Contoh, penilaian siswa dilakukan dengan membuat prediksi atau hipotesis yang mendemonstrasikan prosedur suatu percobaan, dan mendiskusikan hasil-hasilnya. Partisipasi juga harus dimasukkan pada nilai siswa.

DIALOG KOGENERATIF

Cara lain yang dapat ditempuh guru untuk membantu siswa-siswa ELL dalam sains ialah dengan memberikan kesempatan mendiskusikan belajar mereka di luar ruang kelas melalui dialog kogeneratif. Dialog kogeneratif yang dibahas secara terperinci dalam tulisan Sarah-Kate LaVan adalah diskusi di antara para pemangku kepentingan (misalnya, guru, siswa, dan pengelola sekolah) yang berfokus untuk mengumpulkan hasil secara kolektif yang dapat memperbaiki mutu pengajaran dan belajar di dalam kelas yang bersangkutan. Dalam sesi-sesi kecil yang dapat diselenggarakan seusai jam sekolah, jam istirahat makan siang, atau bahkan selama jam pelajaran di kelas, guru dan siswa dapat mendiskusikan persepsi mereka terhadap pelajaran tersebut. Dialog-dialog kogeneratif bisa berfokus kepada cara mengajarkan bahan, bahan pelajaran itu sendiri, atau cara-cara untuk membangkitkan interaksi dalam bahasa Inggris. Contoh, dialog kogeneratif bisa berfokus kepada suatu pelajaran yang baru diajarkan; guru dan siswa bersama-sama membicarakan metode-metode yang telah digunakan guru untuk menyajikan bahan ajar dan cara-cara lain yang bisa digunakan sebagai pengganti. Siswa harus merasa seakan-akan suara mereka dihargai, yang berarti guru harus berusaha keras melaksanakan gagasan-gagasan yang dihasilkan dalam dialog kogeneratif tersebut. Akan tetapi, siswa dan guru harus ingat bahwa beban terhadap perubahan itu tidak hanya jatuh ke pundak guru saja; siswa pun harus memiliki rasa tanggung jawab untuk melaksanakan perubahan. Dialog kogeneratif yang berfokus kepada pedagogi mungkin sekali berpeluang memperbaiki pemahaman siswa dalam pelajaran-pelajaran berikutnya.

Tidak hanya mendorong umpan balik tentang pelajaran di kelas, dialog kogeneratif juga dapat digunakan untuk menilai pemahaman siswa akan konsep-konsep sains. Dialog kogeneratif dapat berbentuk forum santai untuk mendiskusikan konsep-konsep khusus yang telah dibicarakan di dalam kelas. Guru dapat menilai pemahaman dengan melibatkan siswa dalam percakapan-percakapan tentang konsep-konsep tersebut dan siswa memutuskan konsep mana yang perlu dikuatkan kembali kelas datang dan cara efisien dalam melakukannya. Dengan demikian, guru bisa secara langsung memengaruhi perencanaan kurikulum dan memasukkan bentuk-bentuk penilaian alternatif melalui dialog kogeneratif

Produk yang penting dari dialog kogeneratif ialah bertambahnya waktu siswa untuk berbicara bahasa Inggris di luar kelas. Melibatkan ELL dalam interaksi lewat dialog kogeneratif bisa berdampak positif terhadap kemahiran berbahasa mereka. Interaksi yang mendorong penjelasan konsep-konsep pelajaran secara panjang lebar akan terjadi di antara guru dan siswa serta di antara siswa-siswa itu sendiri. Interaksi seperti itu dapat dibangun dengan memberikan waktu tunggu yang cukup bagi siswa untuk berpikir dan memberikan respons-interaksi itu terutama penting bagi ELL sebab ELL sering membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengolah dan merumuskan gagasan-gagasan ke dalam bahasa Inggris.

 MENGGUNAKAN BAHASA SEBAGAI SALAH SATU SUMBER DAYA

Cara lain yang dapat ditempuh guru untuk membantu siswa lebih memahami muatan sains ialah dengan mengizinkan siswa menggunakan bahasa ibu sebagai salah satu sumber daya guna menjelaskan konsep-konsep yang sulit. Guru dapat membantu meningkatkan kesempatan-kesempatan untuk itu dengan memasang-masangkan atau mengelompokkan siswa bila mungkin ke dalam kelompok-kelompok “berbahasa sama”. Penyediaan kamus dwibahasa di dalam kelas saja bisa amat sangat berguna saat siswa menemui kata dan frasa tak dikenal. Selain itu guru pun dapat menemukan sumber daya khusus -subjek dalam bahasa-bahasa lain- sudah banyak peneibit buku teks di Amerika Serikat yang menawarkan bahan bacaan dalam bahasa Spanyol untuk tugas-tugas menulis, ELL pemula dapat diminta merumuskan dahulu jawaban-jawabannya ke dalam bahasa ibunya kemudian menerjemahkan jawaban-jawaban itu ke dalam bahasa Inggris.

Pengelompokan (grouping) merupakan aspek penting lainnya yang dapat mendukung interaksi di dalam kelas sains. Bila di dalam kelas terdapat aneka ragam bahasa, interaksi dalam bahasa Inggris kelompok-kelompok yang terdiri dari siswa-siswa dengan bahasa pertama berbeda-beda bisa lebih meningkat. Sheltered instruction di dalam kelas sains patut mempertimbangkan penggunaan bermacam-macam teknik pengelompokan agar siswa berkesempatan bekerja sama dengan ELL lain dan penutur jati bahasa Inggris. Sebaiknya ELL tidak dikelompokkan bersama secara teratur hanya karena kemudahan dan kenyamanan saja; ELL harus memiliki kesempatan yang luas dan banyak untuk bekerja secara kooperatif bersama semua siswa di mang kelas.

Guru juga dapat menggunakan bahasa sebagai salah satu sumber daya bagi ELL untuk memastikan siswa memahami bahasa pengajaran dan arahan-arahan untuk aktivitas belajar. Untuk itu, guru harus menggunakan masukan yang bisa dipahami, atau wicara yang jelas, tegas, dan sering diulang. Contoh, langkah-Iangkah yang dilakukan pada kegiatan pengapungan di atas dapat disajikan secara lisan kepada siswa, dituliskan pada papan tulis atau menggunakan overhead projector, serta didemonstrasikan. Sepanjang berlangsungnya pelajaran, guru harus berbicara perlahan dan melafalkan kata-kata dengan jelas. Penggunaan isyarat gerak tubuh (gestures) juga penting -dalam pelajaran pengapungan tadi, guru dapat menggunakan isyarat gerak yang sederhana untuk menunjukkan kosakata kunci seperti float– mengapung dan sink tenggelam- atau mendemonstrasikan prosedur-prosedur yang dikerjakan di laboratorium atau aktivitas praktik. Masukan dapat dijelaskan lebih lanjut bagi siswa melalui penggunaan alat-alat bantu visual (visual aids). Selain senarai kosakata penting untuk pelajaran atau topik pelajaran, guru dapat membuatkan flashcard berukuran besar dan bergambar berikut maknanya dalam bahasa Inggris. Kartu-kartu tersebut dapat digantungkan di sekitar ruangan agar siswa bisa menggunakannya sebagai salah satu sumber daya.

PENELITIAN DI KELAS SAINS

Dengan berlangsungnya upaya keras guru-guru sains menerapkan cara-cara baru di dalam kelas, mereka pun butuh kesempatan untuk mempelajari pengajarannya sendiri dan keefektifannya dalam membantu ELL meningkatkan kemelekan ilmiah. Hal tersebut bisa dicapai melalui penelitian yang dilakukan guru atas cara yang mereka cobakan di dalam kelas. Melalui penelitian aksi, yang menurut Andrew P. Johnson, merupakan “inquiry sistematis terhadap praktik orang itu sendiri”, pendidik dapat mengambil keputusan-keputusan yang dilandasi pengetahuan di kelas, mengevaluasi metode-metode pengajaran, dan menilai hasil-hasil belajar (Johnson, 2004, xi). Contoh, guru-guru yang berminat membantu ELL mungkin akan mempertimbangkan satu dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  • Seberapa besar tingkat keterpahaman masukan (atau wicara pengajaran) saya bagi ELL?
  • Jenis aktivitas apa yang bisa saya gunakan yang memungkinkan ELL menangkap muatan dan melatih keterampilan berbahasa?
  • Bagaimana pengaruh penggunaan senarai kosakata kunci/alat bantu visual/aktivitas langsung yang secara konsisten saya terapkan terhadap peningkatan pencapaian siswa-siswa di kelas saya?

 

Setelah menentukan pertanyaan-pertanyaan penelitian, guru mengumpulkan data di kelas, menganalisisnya, kemudian merumuskan temuan-temuan yang akan secara langsung berdampak kepada praktik. Guru yang berminat meneliti pertanyaan pertama di atas (mengenai masukan yang bisa dipahami) bisa menggunakan kamera video untuk merekam beberapa pelajaran dan menganalisis kecepatan dan kejelasan wicaranya. Wawancara, survei, atau dialog kogeneratif dengan siswa juga dapat digunakan untuk memperoleh perspektif-perspektif lain tentang penelitian guru yang berkualitas.

PENUTUP

Penggunaan sheltered instruction, dialog kogeneratif, sumber-sumber daya bahasa, dan penelitian guru di kelas sains tidak pemah menjamin keberhasilan semua ELL. Meskipun demikian, gagasan-gagasan tadi menawarkan cara-cara ketika guru bisa bertindak proaktif saat membuat rencana pengajaran, memberikan pelajaran, menilai siswa, dan memikirkan kembali praktiknya. Demi penanganan secara tepat isu-isu yang dihadapi ELL, pendidik wajib mempertimbangkan kepentingan ideologis dan kebijakan khusus. Saya mendukung adanya tiga perubahan penting dalam pendidikan sains: kesadaran akan kebutuhan-kebutuhan ELL, pengembangan profesi yang bertambah dan lebih efektif, serta pengembangan peran-peran bagi guru sains.

Pertama, pendidik guru, pengambil kebijakan, dan pengelola pendidikan harus belajar lagi soal populasi siswa imigran dan mendukung kebutuhan-kebutuhan mereka yang khusus. Karena jumlah ELL di Amerika Serikat terus bertambah dengan pesat, sebagai langkah awal, para kepala sekolah harus meningkatkan kesadaran mengenai hal-hal yang dapat menyebabkan ELL terpinggirkan dan diposisikan sebagai “yang lain”. Menurut Sonia Nieto (2004), banyak pendidik masih kurang memperhatikan ELL dan mengklaim siswa-siswa tersebut “tidak memiliki bahasa” atau “kurang memiliki keterampilan-keterampilan berbahasa”. Meskipun mungkin baru pada tahap awal belajar bahasa Inggris, siswa-siswa tersebut tidak sepenuhnya tidak memiliki bahasa banyak ELL secara fungsional mahir dalam bahasa ibunya. Selain itu, guru harus menganggap bahasa ibu siswa sebagai salah satu bagian penting dari jati diri siswa tersebut-aspek yang tidak boleh dilewatkan. Karena bahasa sangat terlekat pada jati diri atau identitas, bahasa-bahasa ibu siswa wajib dihormati dan dalam kasus-kasus yang optimal harus dikembangkan lebih lanjut sembari belajar bahasa lnggris-siswa tidak seharusnya diminta menanggalkan bahasa ibunya di ambang pintu ruang kelas.

Guru juga harus menjadi penasihat bagi keberhasilan ELL. Orang tua ELL mungkin harus bekerja dengan jam-jam kerja yang panjang, tidak punya banyak waktu untuk terlibat aktivitas atau rapat sekolah, dan tidak sadar akan praktik-praktik yang dapat dilakukan orang tua dari kelas menengah untuk membantu siswa berhasil di ajang akademis. Peran orang tua di negeri-negeri lain tidak niscaya sama dan sebangun dengan hal-hal yang sering diharapkan guru-guru di Amerika serikat. Jadi, tidak selayaknya siswa menjadi pihak yang dirugikan akibat ketidakselarasan ini.

Kedua, baik guru yang sudah berdinas maupun masih pradinas butuh kesempatan untuk belajar metode-metode yang dapat membantu ELL meningkatkan pemahaman akan sains dan konsep-konsep bidang studi lain sambil mengembangkan keterampilan-keterampilan berbahasa Inggris. Guru-guru ELL di beberapa sekolah bahkan memegang tanggung jawab tunggal membantu ELL saja; guru-guru bidang studi mengandalkan guru-guru ELL itu untuk mengubah hasil penilaian dan mengajarkan ulang pelajaran-pelajaran bidang studi yang tidak dimengerti siswa didalam kelas. Beberapa guru bidang studi juga mengklaim mereka hanyalah guru sains, matematika, IPS, atau bahkan guru bahasa Inggris saja dan tidak tahu banyak soal mengajarkan keterampilan-keterampilan bahasa kedua. Agar ELL mampu berhasil dalam kelas-kelas inklusif, guru-guru bidang studi harus sadar akan kebutuhan ELL dan belajar mengolah pengajaran agar sesuai untuk kepentingan mereka. Hal itu baru bisa diwujudkan melalui mata kuliah-mata kuliah yang bermakna dalam program-program pendidikan guru dan kesempatan-kesempatan pengembangan profesi yang intensif.

Terakhir, ketika lapangan pendidikan sains tengah berjuang keras membingkai kembali pengajaran sains dengan tujuan meningkatkan kemelekan ilmiah siswa, harus kita akui bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk meluaskan peran-peran guru sains. Memang tidak mungkin kita harapkan semua orang bisa menjadi seorang guru ESL yang bersertifikat, tetapi kita berharap para pendidik sains akan bersedia menggunakan strategi-strategi sheltered instruction yang tidak hanya akan membantu ELL untuk lebih memahami konsep-konsep sains abstrak tetapi juga membantu meningkatkan kemelekan ilmiah semua siswa. Dengan bertambahnya jumlah siswa ELL di sekolah-sekolah di negeri kita dan meningkatnya langkah-Iangkah akuntabilitas yang dipicu oleh No Child Left Behind, kita tidak bisa lagi mengabaikan hal-hal yang harus disikapi dengan proaktif oleh lapangan pendidikan sains.

Tinggalkan Balasan

Close Menu