MENGKAJI ISU RAS, KEKUASAAN, DAN KEPEDULIAN DALAM KONTEKS SAINS RURAL BERLAJU BELAJAR RENDAH

MENGKAJI ISU RAS, KEKUASAAN, DAN KEPEDULIAN DALAM KONTEKS SAINS RURAL BERLAJU BELAJAR RENDAH

Pembelajaran Sains: Randg K. Yerrick

Antwann adalah nama seorang pemuda kulit hitam dengan berat badan berlebih. Setiap hari dia duduk di belakang kelas milik seorang kulit putih berusia separuh baya. Antwann meminimumkan konflik dengan para guru dengan merasa puas apa adanya dan tidak melibatkan diri. Antwann tidak pernah meminta apa pun dari saya, kecuali sesekali minta izin untuk pergi ke kamar mandi. Saya pernah meminta siswa memikirkan sebuah pertanyaan yang tujuan sebenarnya hanya untuk membujuk siswa agar berpikir, “Menurut kalian, dari mana datangnya awan?”

Guru : Siapa yang ingin urun pikiran berikutnya? Bagaimana denganmu, Antwan? Maaf saya belum sempat ke belakang, dan saya ingin memastikan semua orang ikut urun suara sebelum kita mulai mencoba menemukan bersama-sama jawabannya. . . . Antwann?
Antwann : Ya?
Guru : Menurutmu, dari mana datangnya awan?
Antwann : Hah?
Guru : Saya ingin tahu, menurutmu, dari mana datangnya awan.
Antwann : Oh, saya tak tahu.
Guru : Apa yang baru saja kau ceritakan kepada David tadi?
Antwann : Tak ada.
Guru : Kok tak ada?
Antwann : Kami tadi tidak berbicara alias tak ada apa-apa.
Guru : Baiklah. . . mm . . . apa yang baru saja kau tuliskan?
Antwann : Tak ada.
Guru : Masa? Tak ada sama sekali? (Jeda panjang karena soya kebingungan) Kok bisa?
Antwann : Entahlah

 

Semakin lama Antwann semakin tidak merasa nyaman menjadi pusat perhatian. Hal itu terlihat jelas dari sikap tubuh dan ekspresi wajahnya, maka saya beralih ke siswa lain dan menunda diskusi tentang partisipasi Antwann. Saya ingin tahu seperti apa sekolah Antwann dahulu dan mengapa keengganan melibatkan diri serupa itu patut baginya. Bagaimana mungkin kejadian seperti ini dianggap pengalaman biasa dan normal di sekolah?

Karena isu-isu seperti pembelajar berlaju belajar rendah (lower-track learners) tidak dapat diperiksa, apalagi diubah, dari perspektif orang luar saya mengajukan diri sukarela-mengajar di sekolah Antwann yang letaknya tidak terlalu jauh bila ditempuh dengan mobil dari universitas saya, selama tahun itu. Meskipun saya tidak berharap akan bertemu Antwann, kasusnya menjadi penting untuk menemukan hubungan bagi calon-calon guru yang tengah menyiapkan diri bekerja di dunia nyata. Pencirian saya tentang konteks belajar seperti itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Nel Noddings (1992) tentang “kepedulian” terhadap siswa-siswa sebagaimana saya berusaha mencari intervensi bagi Antwann di sekolahnya. Melalui bukunya, The Challenge to Care in Schools, Noddings menyatakan bahwa struktur sekolah, praktik rutin, dan ganjaran menimbulkan hambatan bagi pendidik yang ingin menjadikan kepercayaan, kasih sayang, dan kepedulian sebagai prinsip-prinsip utama dalam definisi keberhasilan mereka bersama siswa. Tidak banyak penulis yang dengan serius mencatat tantangan-tantangan dalam mendampingi siswa yang bekerja di dalam batas-batas ruang kelas sains, tetapi mereka yang hanya segelintir itu sangat mengerti sejauh mana struktur dan praktik rutin sekolah-sekolah harus dipikirkan kembali demi menghasilkan visi-visi ruang kelas sains yang inklusif, setara, dan demokratis yang terus-menerus dijejalkan para pembaru kepada praktisi.

Awal tahun saja, sudah jelas beberapa siswa mengalami kesulitan jauh lebih besar daripada siswa lainnya. Antwann termasuk di antara siswa-siswa tersebut. Saya tahu para kepala sekolah mengecap Antwann sebagai masalah di hari pertama mereka membuntutinya sepanjang jalan menuju kelas saya untuk mengonfrontasinya perihal kebijakan-kebijakan sekolah dan “dew rag“penutup kepala yang kerap dipakai para rapper -yang dikenakannya di dalam kelas saya. Sebagai orang baru, segala implikasi tersebut tidak saya pahami, tetapi saya berjanji kepada kepala sekolah bahwa Antwann dan saya bersama-sama akan mematuhi kebijakan sekolah. Tanggapan administratif datang dengan cepat dan pasti, barangkali memang ada hari-hari ketika Antwann bermaksud melawan aturan-aturan sekolah. Saya terus-terusan berpikir apakah gaya hidup yang dianut Antwann memang benar-benar berbahaya seperti yang digambarkan oleh artis-artis rap favoritnya ataukah hal itu hanya siasat untuk memperoleh pusat-identitas. Dalam konteks sekolah rural, didominasi kulit putih, dan rural itu, sebuah upaya untuk menjadi nonkulit putih sudah tentu menjadi respons yang khas (Gilbert dan Yerrick, 2001).

Saya memutuskan harus lebih memahami Antwann dengan harapan akan dapat mengajaknya lebih terlibat dalam aktivitas inquiry sains. Dengan semakin bertambahnya pengetahuan saya, saya menyadari bahwa pemahaman saya ‘tentang sekolah sekolah itu dan budaya-budaya lain juga menjadi semakin kaya, tetapi Sering ada rasa ketidakberdayaan yang luar biasa menguasai hubungan saya dengan Antwann. Sering saya merasa menyesal setelah menanyakan sesuatu atau karena saya tidak mengetahui keadaan-keadaan tragis yang telah menimpa anak muda itu. Saya terjebak di antara harus tahu dan ingin melupakan hal-hal yang telah saya ketahui.

Perhentian pertama saya ialah kantor konselor untuk mencari riwayat singkat akademis Antwann. Isinya cukup mudah ditebak -keterampilan berbahasa Inggris-nya buruk dan dia belum lulus ujian membaca kelas delapan atau ujian kompetensi matematika. Lebih dari dua pertiga siswa yang terdaftar pada kelas ilmu bumi saya belum lulus tes membaca kelas delapan dan tes kompetensi matematika-tes-tes yang menggambarkan uraian faktual, objektif, dan paling dasar pengetahuan yang sudah diterima. Antwann telah dilabeli selama bertahun-tahun dan pernah menerima bantuan pribadi dari para guru, tetapi saya mendapat informasi bahwa Antwann tidak sepenuhnya memenuhi syarat untuk mendapatkan “pelayanan”. Masalah-masalah Antwann belum “cukup besar”, begitu kata seorang konselor kepada saya. Maka, selanjutnya Antwann menjadi salah seorang yang “dipandang” dengan sebelah mata”.

Guru dan pengelola sekolah lain menyampaikan (kadang-kadang tanpa diminta) perspektif-perspektif bernada sangsi perihal siswa dalam rapor disiplin dengan menggunakan frasa seperti tindakan-tindakan membangkang, latar belakang keluarga miskin, dan tidak punya struktur keluarga yang sebenarnya. Ada sebagian yang menuliskan deskripsi mencela yang lebih umum seperti “kemalasan” yang lebih sering digunakan sebagai atribut pribadi faktual alih-alih observasi subjektif. Salah satu deskripsi seorang konselor bahkan benar-benar merendahkan.

Yerrick : Bisa ceritakan tentang Antwann? Bagaimana dia sampai masuk kelas ilmu bumi?
Konselor : Antwann…F…Bowden. Nah, itu baru namanya kasus! Saya tidak yakin Anda punya cukup waktu untuk mendengar ceritanya… Antwann hanya bekerja di tingkat dasar saja, hanya berusaha memperoleh cukup kredit untuk lulus. Coba lihat… (meneliti layar komputer)… sembilan belas tahun… sudah lima tahun di sini… belum pernah lulus kompetensi membaca dasar kelas delapan atau matematika. Saya rekomendasikan dia mengambil perbaikan di kolese komunitas setempat sebagai pelajaran pilihan yang akan membantunya mengembangkan keterampilan yang berguna. Dia hanya butuh sesuatu yang dapat membuatnya bertahan sampai lulus dari sini. Ya, saya tidak iri dengan Anda. Suasana kerja Anda sekarang benar-benar negatif. Entah harus bicara apa lagi Tentang Antwann.

 

Akan tetapi, Antwann berumur sembilan belas dan ingin keluar dari sekolah. Antwann dan banyak teman sebayanya merupakan gambaran kelompok siswa yang secara khusus memilih untuk tidak terlibat dalam kelas sebagai mana yang diharapkan guru-guru atau institusi dari mereka. Frederick New-mann (1992) menerangkan alienasi (alienation) dan pelibatan (engagement) sebagai antonym -mencirikan alienasi dengan istilah seperti acuh tak acuh (detachment), pengucilan (isolation), pemisahan (fragmentation), tidak memiliki hubungan (disconnectedness), memusuhi (estrangement), dan ketidakberdayaan (powerlessness). Jadi, akibatnya, kurangnya pelibatan siswa-siswa tersebut di dalam tugas sehari-hari merupakan bukti alienasi mereka. Siswa-siswa saya sudah belajar bagaimana cara tidak melibatkan diri di sekolah. Hal itu menjadikan mereka semakin sulit diraih oleh para guru yang berhasrat menjawab tantangan Noddings (1992) untuk bersikap peduli.

Meskipun dengan banyaknya peringatan yang diberikan para konselor dan nasihat bahwa tidak banyak yang dapat saya lakukan, saya berterima kasih kepada mereka (sebagaimana yang diharapkan dari suatu daerah rural di Selatan walaupun interaksi tidak menyenangkan) dan memutuskan berusaha lebih lanjut tanpa menghiraukan prognosis mereka yang menyedihkan. Saya menerima nasihat mereka berdasarkan deskripsi Ladson-Billings tentang pemikiran yang menyangsikan seperti itu melalui tulisannya,

Mungkin kita ingin percaya bahwa kelompok siswa yang berbeda ini butuh jenis pengajaran yang luar biasa sebab jika tidak percaya, hal itu sama saja dengan menyangsikan semua pengajaran yang sudah kita dukung sampai sekarang. (Ladson-Billings, 1999, 242)

Saya perhatikan Antwann tidak merespons ajakan-ajakan saya untuk ikut serta tetapi saya tidak tahu apakah dia memang terus menarik diri dalam kelas-kelas lain. Bagaimana pengaruh teman-teman sebaya dengan kepercayaan dan perilaku mereka yang antisosial dan antisekolah terhadap Antwann di luar kelas saya? Saya putuskan untuk membuntuti Antwann dan mencari tahu bagaimana kehidupannya di luar sekolah. Membayangi siswa untuk mengumpulkan informasi seizin mereka dan bekerja sama guna membangun kembali pengalaman mereka di sekolah sebagai seorang pribadi merupakan praktik yang biasanya saya tugaskan kepada calon-calon guru yang secara teratur memantau kelas yang saya ajar saya memiliki kecepatan belajar lambat (Yerrick, 2004). Tugas saya itu adalah Antwann.

Perhentian pertama saya adalah kelas yang dilangsungkan tepat setelah mengikuti jam kedua Antwann sebelum bel berbunyi, tetapi seperti biasa, saya terlambat mengemasi barang-barang saya, mengumpulkan kertas-kertas, dan menghapus papan tulis yang telah dengan begitu dermawan dipinjamkan guru kepada saya selama satu jam pertama. Begitu meninggalkan kelas, saya teringat betapa berbedanya siswa-siswa saya ketika seorang siswa kulit hitam dan dua orang siswa kulit putih berbaris diam-diam melewati saya, duduk di depan ruang kelas, dan dengan bersemangat membuka buku catatan biologi AP untuk pelajaran mereka. Ketika terlambat memasuki jam kedua Antwann, saya mendapati Antwann sedang duduk bersama kelompok teman yang diikutinya sepanjang hari itu, yang dengan jelas menunjukkan kecenderungan-kecenderungan perilaku yang serupa di sekolah. Ada yang selalu menundukkan kepala, ada yang menatap kosong ke luar jendela. Saya jelaskan kepada gurunya bahwa sayalah yang mengajar pada jam pertama tadi dan saya sedang mengamati untuk mencari tahu cara membantu Antwann dalam sisa masa studinya. Guru wanita itu dengan patuh membiarkan saya mengawasi sepanjang kelas berlangsung. Temuan saya kemudian langsung dibarengi dengan perasaan lelucon yang tidak lucu ketika saya melalui kerelevanan aktivitas tersebut dengan Antwann. Selama satu jam pertama, pembicara yang telah diundang untuk hari itu, seorang wanita kulit putih berusia akhir enam puluhan, membahas proyek membuat selimut kain perca dan apa saja yang telah dibuatnya sebagai hadiah Natal. Wanita itu terus saja berbicara tanpa interupsi, tanpa memperhatikan bahwa lima dari para siswa sudah membalikkan kursi membelakanginya dan separuh kelas sudah memejamkan mata. Saya berusaha melakukan koneksi dengan Antwann, seperti baju yang sedang dia kenakan, tetapi kata-kata relevan dan minat membuat saya tercekik karena keluar dengan tidak keruan. Selama paruh kedua jam pelajaran di kelas itu, wanita tadi menyuruh siswa berlatih menjahit jalur-jalur lurus dengan sebuah mesin jahit. Antwann yang bertubuh tinggi besar membuat mesin itu terlihat kerdil, hampir-hampir membungkus mesin tersebut ketika jari-jarinya yang gemuk berusaha memaksakan berkas-berkas kertas melewati mesin. Setelah beberapa kali upaya dan memasang kembali benang ke mesin, akhirnya Antwann tampil dengan jalur garis yang cukup lurus pada berkas kertasnya yang kemudian diserahkan untuk diberi nilai. Saya terkejut oleh metafora belajar yang digambarkan oleh berkas kertas itu. Siswa bahkan tidak diminta belajar menjahit demi memperoleh hasil atau produk tertentu, kecuali hanya seberkas kertas yang jelas akan dibuang begitu saja oleh guru setelah diberi nilai. Apa lagi yang lebih gampang diabaikan dan dilupakan daripada gambaran pelajaran seperti itu ditambah dengan tujuan belajar yang demikian dangkal dan mudah dihancurkan?

Kertas runyuk di keranjang sampah sepertinya sangat cocok sebagai contoh untuk deskripsi McNeil (1986) tentang muatan yang begitu berbeda dan asing bagi kehidupan siswa dan tidak dapat dikenal sebagai bagian dari kumpulan pengetahuan yang saling terhubung McNell menyatakan pendapatnya :

Ironisnya, upaya mereka (guru-guru) untuk meminimumkan sinisme siswa dengan menyederhanakan muatan dan menghindari diskusi kelas hanya akan menambah ketidakpercayaan siswa terhadap pengetahuan di sekolah dan siswa agar semakin menarik diri dari proses belajar (1986, 160)

Artinya, keterlibatan siswa dengan sekolah paling tepat dijelaskan dengan skeptisisme dan kekecewaan berkelanjutan atas perlakuan sekolah terhadap mereka dan persoalan-persoalan tentang legitimasi peran sekolah dalam mereka. Meskipun sekolah menafsirkan anak-anak muda bermasalah sebagai masalah kontrol, McNeil berpendapat bahwa skeptisisme dan kekecewaan merupakan alasan yang lebih mendasar mengapa siswa bersikap membangkang.

Jam pelajaran ketiga dan keempat Antwann adalah strategi belajar (study skills). Tidak ada kredit yang diasosiasikan untuk pelajaran-pelajaran tersebut kecuali progres tertunda untuk dua pelajaran bahasa Inggris yang menjadi syarat bagi kelulusannya -yang diambil pada siang hari. Bagi saya, hal itu merupakan satu lagi pengalaman bersekolah yang lembek yang menunjukkan mengapa Antwann merasa begitu gampang bersikap pasif di dalam kelas saya. Begitu masuk, saya hanya menemukan meja-meja di bagian depan kelas dan nyanyian-nyanyian religius di dinding belakang. Ruangan kelas penuh sesak, tanpa jendela, dan hanya diterangi lampu-lampu fluoresen yang menyala terang membutakan diiringi bunyi mendengung pelan dari atas. Ruangan itu berbau badan yang kurang terawat, perawatan rambut Afro yang menyengat, dan keringat. Hampir semua siswa adalah laki-Iaki kulit hitam dan bersekolah di tempat itu selama sedikitnya dua tahn. Antwann adalah seorang dari beberapa siswa pertama yang mengikuti kelas tersebut. Ketika mengikutinya masuk kelas, saya melihat Antwann seperti tidak mengenali guru di seberang ruangan. Kepalanya terus menunduk, hanya mengangguk kepada seorang siswa seraya berjalan gontai ke belakang kelas.

Saya permisi bicara dengan guru untuk menjelaskan kedatangan saya. Guru wanita itu kulit putih, bertubuh pendek, berusia separuh baya dengan suara yang menunjukkan dominasi. Ketika saya katakan keberadaan saya di situ dalam rangka membantu Antwann, mula-mula dia tertawa -tanpa tedeng aling-aling dan keras pula. Mungkin karena dia tidak ingat saya lah rekan guru yang benar-benar menaruh minat kepada pelajaran Antwann? Waktu itu saya memang tidak banyak bersuara. Kehadiran saya di sekolah merupakan hal baru bagi sebagian besar staf pengajar. Hanya beberapa guru yang mau berteman baik dengan saya. . Sebagai seorang profesor yang merupakan orang luar dan baru beberapa minggu berada di sekolah itu, sulit bagi saya untuk mencari teman baru. Barangkali guru itu menganggap saya pekerja sosial sementara yang tidak begitu paham situasi dan setidaknya memiliki kepentingan khusus dalam membantu kesulitan-kesulitan Antwann di bidang akademis. Namun, tanggapan guru itu berikutnya membuat saya mengerti bahwa siapa diri saya sesungguhnya tidaklah penting. Ruang kelas itu terhubung dengan kelas seorang guru lain melalui sebuah ruang kantor. Guru Antwann berteriak.kepada rekannya dikantor, “Orang ini ke sini untuk membantu Antwann!” Rekannya pasti juga sudah tidak asing dengan riwayat akademis Antwann, sebab wanita itu membalas dengan memutar bola matanya dan ikut tertawa cekikikan.

Saya tidak yakin apanya yang lucu. Hati saya sakit melihat ketidaksopanan kecaman yang diarahkan kepada saya dan Antwann, secara blak-blakan dirasakan oleh seisi kelas. Saya kembali ke belakang kelas, di situ saya menemukan Antwann tengah mengobrol dengan sesama siswa -tanpa peduli dengan kejadian barusan. Bel berbunyi. banyak siswa menghabiskan waktu di koiridor, dengan urakan saling dorong dan jerit, serta pamer nyali pada umumnya dari baik siswa laki-Iaki maupun perempuan.

Kegiatan saya hari itu terus berlanjut, dari kelas ke kelas, guru ke guru, masing-masing selalu dihadapkan pada tantangan yang sama. “Bagaimana caranya saya menunjukkan kepedulian kepada siswa yang lebih tua ini, yang sudah memberi tahu saya banyak hal melalui caranya berpakaian, berkata-kata, dan setiap tindakannya, bahwa dia tidak ingin belajar?” Antwann bukan penonton yang pasif. Sering dia mengambil prakarsa aktif dalam banyak sikapnya yang enggan melibatkan diri. Sebagaimana murid-murid Willis (1977), tindak-tanduk siswa-siswa saya bukan tindak-tanduk subjek yang menurut kepada proses, tetapi seringkali tindak-tanduk orang yang berani mengambil prakarsa dalam alienasinya sendiri dari sekolah. Sebagaimana dalam kasus murid-murid Willis, ruang kelas menunjukkan dengan jelas kesulitan-kesulitan kelas dengan guru dan siswa sebagai tokoh utamanya. Sebagaimana telah diterangkan penulis-penulis lain (misalnya, LeCompte dan Dworkin, 1991), ruang kelas merupakan suatu dinamika dengan guru dan siswa pada pihak yang saling bertentangan secara langsung.

Jadi, tantangan untuk bersikap peduli bagi guru dan tantangan untuk percaya bahwa ada alasan yang baik bagi Antwann untuk ikut terlibat aktivitas kelas, telah mencuatkan pertanyaan-pertanyaan signifikan tentang bagaimana caranya membantu siswa belajar cara baru untuk berbicara, berpikir, dan bersikap di dalam kelas sains. Bagaimana mungkin kita dapat sekaligus mengubah cara pikir siswa dengan laju belajar rendah terkait investasinya dalam konsep-konsep ilmiah yang disajikan seorang guru, sementara siswa itu mempertanyakan keagenan dan tujuan si pembawa pesan itu sendiri? Apakah sekolah, budaya, dan pengajaran sains begitu erat saling terkait sehingga tidak ada yang mampu bertransformasi tanpa mengurai seluruh jalinan di sekolah selebihnya? Jelas sudah, transisi dari wacana yang terbatas pada fakta saja ke pembangunan argumen-argumen berdasarkan bukti ilmiah yang menghasil kan lebih dari satu jawaban, mengharuskan siswa berganti kode yang signifikan di antara wacana berbasis rumah, wacana ruang kelas untuk siswa berlanjut belajar rendah, dan wacana baru komunitas belajar kita yang terus berkembang luas.

Antwann dan saya terus bertransisi menuju peran, aturan, dan hubungan berbeda-beda yang tersirat pada tiap-tiap komunitas wacana yang ditemuinya hari itu, tetapi berganti wacana ruang kelas bukan sekadar persoalan mengganti sesuatu yang tidak berhasil dengan sesuatu yang berhasil. Kami harus belajar kembali dan merundingkan lagi aturan-aturan partisipasi di dalam ruang kelas saya. Saya harus belajar mendengarkan dengan cermat bagaimana cara berbicara siswa-siswa saya serta asal-usul ketidakpercayaan yang mereka rasakan dalam konteks yang selama itu memperlakukan mereka sebagai orang luar. Bersama-sama kami berusaha menemukan cara-cara berpartisipasi yang tepat sebagai anggota sebuah komunitas baru, tetapi tidak bisa tidak, dengan nyali besar juga harus menjawab tantangan Noddings(1992) untuk bersikap peduli.

Tujuan utama tulisan ini ialah mengaburkan kemungkinan prasangka pembaca terhadap Antwann atau orang-orang yang ditemuinya sehari-hari. Masalah itu bukan masalah sepihak. Pelibatan Antwann di sekolah tidak mudah diselesaikan tetapi lebih mungkin dibingkai jika kita pertimbangkan tantangan yang telah diberikan Noddings untuk “bersikap peduli di sekolah”. Antwann telah menyulitkan orang yang ingin bersikap peduli kepadanya, guru-gurunya membuat Antwann sulit untuk menaruh kepercayaan. Sistem itu sudah rusak bagi kedua belah pihak, tetapi sesungguhnya ada beberapa solusi yang mudah. Namun, solusi-solusi itu mungkin baru timbul bila ada penelaahan yang lebih teliti tentang hal-hal apa saja yang diketahui dan dapat dilakukan siswa, cara siswa berpartisipasi dalam banyak lingkungan, serta bagaimana mengompromikan kembali norma-norma didalam kelas. Gagasan-gagasan itu masih mentah, terletak di luar norma atau bahasa umum untuk memahami pengajaran atau belajar sains tetapi jelas membuahkan hasil dalam studi-studi di masa datang yang dilakukan para peneliti guru. Saya menganggap pengalaman saya dengan Antwann sebagai pengalaman yang sangat penting untuk pelajaran saya sebagai seorang guru dan peneliti yang telah membantu saya melihat sekolah dengan cara-cara baru. Delpit menasihatkan bahwa ketika orang-orang yang memiliki kuasa berupaya memahami perspektif pihak yang tidak berdaya, “sekonyong-konyong ada banyak cara yang ‘masuk akal’ untuk mengerjakan hal-halyang kelihatannya tidak bisa lagi diterima” (Delpit, 1995, 73, penekanan sesuai aslinya). Saya percaya bahwa untuk belajar mengatasi tantangan-tantangan untuk bersikap peduli di sekolah, kami para guru sains harus sering-sering melihat dan menyemangati, siswa-siswa kami sebagaimana dihasilkan oleh Delpit -saling melihat dengan cara berbeda-beda sebagai salah satu cara mengatasi hambatan-hambatan kritis berhubungan dengan identitas, alienasi, ketidakacuhan, dan skeptisisme para siswa. Perubahan yang nyata memang dibutuhkan. Tanpa mempertimbangkan masak-masak segenap interaksi tersebut, upaya untuk mengubah masalah-masalah tadi melalui revisi kurikulum, kebijakan-kebijakan administratif, penelitian di masa datang, akan sia-sia saja seperti halnya tugas menjahit Antwann -tidak patut dan segera terlupakan.

Leave a Reply

Close Menu