MENGGUNAKAN DIALOG KOGENERATIF UNTUK MEMPERBAIKI MUTU ‎PENDIDIKAN SAINS

MENGGUNAKAN DIALOG KOGENERATIF UNTUK MEMPERBAIKI MUTU ‎PENDIDIKAN SAINS

Serial Pembelajaran Sains: Sarah-Kate LaVan

KESULITAN-KESULITAN DALAM MENGAJARKAN SAINS DI SEKOLAH URBAN

Sebagai anggota komunitas sekolah urban, kita tidak harus membayangkan tantangan-tantangan yang dihadapi sekolah-sekolah kita dalam mendidik anak muda dewasa ini. Kita semua pernah merasakan secara langsung kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah-sekolah itu dalam menarik dan mempertahankan guru sains yang berkualitas serta konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung populasi sebagai akibatnya; contoh, populasi yang sering berubah-ubah, ruang kelas yang terlalu padat, kurikulum sains yang kurang bermutu dan tidak logis, serta aktivitas di dalam kelas yang berpusat kepada guru dan dikendalikan oleh guru saja.

Sementara studi-studi pendidikan sains menyerukan adanya bermacam-macam perbaikan, saya mengambil sikap bahwa demi mendukung pendidikan sekolah siswa-siswa urban dan mempertahankan guru-guru sains yang bermutu tinggi, baik guru maupun siswa harus belajar cara berpartisipasi dan berkomunikasi yang positif dan produktif. Selama lima tahun terakhir, para peneliti telah mempelajari penggunaan dialog kogeneratif pada beraneka sekolah urban sebagai sarana perbaikan bagi banyak kesulitan yang diasosiasikan dengan pengajaran sains di sekolah urban. Tulisan ini akan menjelaskan dialog kogeneratif dan penggunaannya yang telah dipraktikkan oleh para guru, siswa, dan peneliti guna mengembangkan interaksi-interaksi guru-siswa, mengubah lingkungan kelas dan sekolah, serta memperbaiki kualitas kehidupan para pesertanya.

APA ITU DIALOG KOGENERATIF?

Dialog kogeneratif adalah percakapan yang di dalamnya para pemangku kepentingan (stakeholders) menelaah dengan kritis dan merenungkan kejadian dan aktivitas yang dialami bersama. Meski dialog kogeneratif bisa berbentuk bermacam-macam dan memiliki bermacam-macam sasaran, tujuan percakapan itu selalu sama -untuk mencapai secara kolektif suatu pemahaman tentang suatu kejadian dan untuk mencapai suatu hasil di masa datang. Mula-mula, dialog kogeneratif merupakan sesi pelaporan informal yang diadakan di antara seorang siswa dengan satu-dua orang guru usai suatu jam pelajaran guna mengidentifikasi, mendiskusikan, dan menyelesaikan masalah-masalah di dalam kelas sebelumnya (Roth dan Tobin, 2002). Percakapan-percakapan tersebut memberi kesempatan bagi para pesertanya untuk merenungkan pelajaran dan aktivitas pada hari itu dan mengubah lingkungan kelas secara positif berdasarkan saran-saran siswa. Contoh, dalam kelas-kelas yang diteliti Tobin, guru dan siswa sering menggunakan dialog kogeneratif untuk mendiskusikan kesulitan-kesulitan mereka seputar isu-isu saling menghormati dan tidak menghormati serta partisipasi siswa. Selama berlangsungnya percakapan-percakapan tersebut, peserta menelaah tindakan-tindakan guru dan bersama-sama mengajukan usul-usul tentang bagaimana guru dapat menunjukkan sikap hormat yang lebih baik kepada siswa sebagai cara untuk mendapatkan sikap hormat yang lebih besar dan menghasilkan peluang-peluang mengajar yang lebih produktif.

Belakangan ini beberapa guru dan peneliti telah merasakan bahwa dialog kogeneratif sangat bermanfaat untuk bermacam-macam tujuan individu dan kolektif sehingga meluaskan percakapan-percakapan itu untuk memasukkan beberapa anggota, topik, bentuk, dan lingkungan. Komponen utama dialog kogeneratif ialah bahwa peserta berbagi tanggung jawab untuk menelaah dan menciptakan perubahan di dalam kelas. Melalui dialog-dialog itu, peserta mengungkapkan dinamika kekuasaan di sekolah dan kelas, menelaah kepercayaan dan nilai-nilai orang lain, dan mempertimbangkan banyak faktor di sekolah dan pengalaman-pengalaman hidup. Meskipun ada topik-topik yang tampaknya berdampak lebih langsung terhadap pengajaran dan belajar sains, misalnya, memahami interaksi-interaksi khusus di dalam kelas, konsep-konsep sains khusus, dan alasan-alasan siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas, topik-topik lain yang tidak terlalu penting hubungannya ikut didiskusikan, sebab topik-topik itu memiliki pengaruh penting terhadap bagaimana melibatkan peserta dalam sains dan menginterpretasikan aktivitas dan interaksi-interaksi di dalam kelas.

DI MANA BISA TERJADI DIALOG KOGENERATlF?

Terjadi baik di dalam maupun di Iuar lingkungan sekolah, dialog kogeneratif berlangsung sebagai pertemuan formal dan terencana juga interaksi spontan yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan langsung di situasi-situasi khusus. Selama itu dialog kogeneratif formal pada lingkungan sekolah berlangsung baik selama jam belajar didalam kelas maupun di luar jam tersebut. Contoh, dialog kogeneratif formal mungkin terjadi di antara seorang guru dan seluruh kelas berisi siswa selama jam-jam mengajar, di antara seorang guru dan seorang siswa di koridor, atau beraneka ragam pemangku kepentingan (stakeholders) pada pertemuan guru-siswa-pengasuh yang lebih formal. Namun, kebanyakan dialog-dialog itu sering-seringnya terjadi pada lingkungan kelompok kecil di antara seorang guru dan sekelompok siswa di luar jam mengajar, misalnya, segera sebelum jam mengajar atau sesudahnya, saat jam istirahat makan siang, atau sepulang sekolah.

Mengingat dialog-dialog informal kadang-kadang dilakukan secara spontan dan berlangsung saat timbul isu, percakapannya tidak terbatas pada lingkungan sekolah atau format kelompok kecil saja. Karena alasan-alasan itulah, jumlah dan jenis individu yang berpartisipasi dalam suatu dialog sangat tergantung pada isu-isu yang tengah ditangani dan lokasi diskusinya. Contoh, sebuah dialog kogeneratif informal, yaitu sesi perencanaan bersama di antara dua orang guru, mungkin saja terjadi di dalam sekolah atau di Iuar sekolah. Namun, apabila sesi perencanaan bersama itu mencakup para siswa, dialog kemungkinan besar akan terjadi di dalam sekolah ketika guru dan para siswa saling berhubungan, misalnya, langsung sebelum suatu jam pelajaran atau sesudahnya, di koridor, atau di dalam ruang kelas. Ada dialog informal seperti obrolan singkat yang mungkin terjadi di tengah-tengah kegiatan belajar dan mengajar. Obrolan singkat (huddles) semula digambarkan sebagai interaksi-interaksi di antara guru-guru yang mengajar bersama saat para guru tersebut “saling mengomunikasikan” dan “saling menyesuaikan” pelajaran sambil mencapai kesepakatan-kesepakatan tentang rencana mengajar mereka di masa datang, mempertemukan tujuan belajar dan mengajar, serta mengidentifikasi sumber-sumber daya dan mendapatkannya (Tobin et al. , 2001).

Leave a Reply

Close Menu