MENEMUKAN MAKNA DALAM SAINS

MENEMUKAN MAKNA DALAM SAINS

Serial Pembelajaran Sains: Richard H. Kozoll dan Margery D. Osborne

Apa yang akan kita jelaskan ketika berbicara tentang menemukan makna dalam sains, bukan sekadar mengetahui fakta dan definisi, untuk mengetahui apa yang digambarkan atau dikesankan oleh sesuatu, merasakannya mewarnai dan membentuk persepsi dan pemahaman kita? Bagaimana kita akan berbicara tentang kemajuan selangkah dalam pendidikan, untuk membicarakan pengaruh hal-hal yang kita pelajari dalam suatu disiplin ilmu terhadap pikiran dan perbuatan kita, keinginan kita untuk bertindak dan berpikir? Selain itu, bagaimana caranya agar sains dapat memenuhi tujuan untuk bisa maju selangkah itu, agar sains bisa bermakna–menambah arti penting atau tujuan dalam hidup seseorang? ltulah pertanyaan-pertanyaan mendasar pendidikan secara umum, sebab dalam hal apa sajakah belajar dan menambah pengetehuan (learning and knowing) dapat memengaruhi dan mengubah suatu kehidupan?

Pemahaman akan makna seperti itu menunjukkan anggapan terhadap sains sebagai cara mengetahui yang memungkinkan individu memasuki kehidupan sosial dan intelektual komu

 

nitasnya dengan cara yang baru dan berbeda, mengandung pemahaman tentang pembangunan kembali diri melalui keterlibatan baru dengan dunia dan masyarakat. Menemukan makna di dalam sains merupakan peralihan dari mengetahui prosedural (procedural knowing) ke mengetahui dengan disertai hubungan sosial (connected knowing) melalui keterlibatan dengan disiplin ilmunya. Menemukan makna di dalam sains menyiratkan baik pemahaman reflektif dan dalam maupun keterlibatan dalam suatu pencarian, karena menemukan makna adalah suatu pencarian dalam arti pencarian itu tidak pernah benar-benar selesai.

Dalam pendidikan sains, pertanyaan tentang bagaimana pembelajar menemukan makna atau arti nilai dalam sains sehingga memutuskan untuk terlibat studi-studi sains, tampaknya akan dijawab oleh konsep-konsep “praktik terbaik” sekarang di bidang itu. Contoh, teori belajar konstruktivis dan teori belajar sesuai konteks (situated learning) meyakini bahwa pengadaan hubungan di antara konsep sains dan kehidupan siswa akan meningkatkan pemahaman-pemahaman yang berguna dan secara personal penuh makna. Argumen-argumen seputar pentingnya kemelekan ilmiah (scientific literacy) dan belajar sungguh

 

-sunguh berbasis proyek, menunjukkan kegunaan pengetahuan ilmiah dalam pengambilan keputusan pribadi dan sosial. Mengingat praktik-praktik pendidikan sains sekarang, lalu mengapa meningkatkan sumbangan siswa kepada sains agar mereka menjadi akrab dengan keyakinan kita akan pentingnya pemahaman sains, terasa begitu berat? Dengan menggunakan pengertian hermeneutik fenomenologis lifeworld sebagai our “being in the world (keberadaan kita di dunia)” (Heidegger, 1962), kita akan memeriksa pertanyaan-pertanyaan tentang makna dalam pengajaran dan proses belajar sains. Ketika pengalaman Iifeworld seperti itu direnungkan di tengah-tengah peran yang kita laksanakan diberikan secara sosial, terpikir oleh kami bahwa dengan memasukkan gagasan identitas dalam sains untuk mengikutsertakan identitas para siswa di dalam kolektif mereka, termasuk orientasi kepada baik siapa siswa sekarang dan maupun ingin menjadi siapa siswa itu kelak, proses edukatif yang lebih luas ini bisa kita mungkinkan terjadi.

Setelah memikirkan pengalaman siswa sehari-hari dan kemungkinan hubungan yang dapat dibangun siswa dengan sains, kita harus mengingat bahwa anak-anak menjadi diposisikan di dalam sebuah sistem nilai-nilai dan pengalaman yang menentukan cara-cara untuk bertindak. Artinya, lifeworld mengarahkan interpretasi untuk baik dunia sosial individu maupun dunia sosial bersama sehingga pengalaman dan nilai tersebut saling terhubung, memungkinkan mewujudnya identitas, kepribadian, dan peran sosial kita dari pengetahuan lifeworld (Habermas, 1984, 1987). Dalam praktik, identitas merupakan salah satu cara mengada (a way of being) di dunia, kejadian dan interpretasi yang berlapis-Iapis saling memengarnhi dan lahir dari partisipasi kita dalam praktik-praktik komunal pengalaman kehidupan nyata (Wenger, 1998). Oleh karena itu, dalam memikirkan isu-isu makna dalam pendidikan sains, kita perlu membahas sains, proses belajar dan pengajarannya, sebagai sekelumit dari lifeworld yang terlihat nyata melalui ungkapan-ungkapan identitas yang mengejawantahkan pemahaman seorang siswa tentang dirinya dalam hubungannya dengan orang lain.

Jadi, konteks-konteks yang disebabkan seorang siswa pada segala peristiwa penangkapan makna yang melibatkan sains tidak hanya akan mencakup wawasan-wawasan kognitif siswa itu, tetapi juga tendensi afektif dan daya responsif (responsiveness) yang membentuk kesan siswa tersebut tentang suatu identitas personal (Hogan, 1998). Identitas anak-anak yang terus berkembang dalam hubungannya dengan sains disusun dari pandangan terhadap diri yang terus berubah-ubah dan normatif secara budaya, meliputi nilai-nilai inheren dan wawasan-wawasan tentang apa artinya menjadi seorang pribadi (a person) bagi mereka. Bila kita telaah identitas anak-anak sebagai siswa relatif terhadap subjek masalah. Ada pengembangan pemahaman lebih luas yang tidak hanya meliputi topik sains, tetapi juga sejenis pemahaman tentang diri yang mencakup keterlibatan praktis. Dalam hal itu, penemuan makna dalam sains menjadi tertaut dengan pemahaman seorang anak tentang dirinya sendiri. Agar dapat bertindak sebagai perantara seperti itu, sains harus menjadi bagian dari hubungan di antara siswa, orang lain, dan dunia alam. Keseluruhannya itu akan meluaskan perhatian kita yang diasosiasikan dengan identitas, sehingga mencakup pula unsur sosial, humanistis, aestetika, dan spiritual yang membentuk hubungan personal secara subjektif di antara diri yang antusias, membutuhkan orang lain, dan intuitif, dengan orang-orang lain yang merupakan worldview seseorang (Cobern, 1993). Hal itulah yang memungkinkan pelibatan dengan sains bertindak sebagai salah satu medium pengembangan pribadi lebih dalam yang menentukan pelibatan yang sungguh-sungguh, dengan meresapkan makna ke dalam pemahaman.

Mula-mula, di manakah kita harus menempatkan sains dalam hubungannya dengan diri? Untuk itu, kita harus mulai dengan diskusi yang Iebih Iuas tentang apa sebenarnya yang membentuk diri. Kita akan mengandalkan perumusan Fay (1996) tentang dua cara membedakan keadaan-keadaan diri. Pertama, dengan berbicara tentang atomisme dan diri sebagai entitas tunggal dan terpisah. Sebagai subjek kesadaran, diri itu tetap ada seiring waktu dan menjadi sumber segala aktivitas kita. Individu memiliki ciri khasnya masing-masing dan hanya dari Iuarnya saja tarnpak berhubungan dengan individu lain, yang disadari dan dihadapi saat pertemuan, sedangkan diri adalah entitas dasar, dalam pertemuan-pertemuan itu. Segenap perubahan keadaan terdiri dari perubahan-perubahan’yang terjadi pada substansi dasar tersebut. Diri terletak di dalam kesatuan substansial entitas yang terpadu, tertutup, dan kaku itu. Meskipun demikian, jenis kesatuan substansial tersebut tidak menjelaskan bagaimana individu bisa tersusun dari banyak identitas serta fakta bahwa kita bisa menjadi berbeda dalam lingkungan, keadaan, dan dialog yang berbeda. Lalu, bagaimana caranya kita beralih dari identitas ke diri dalam sains?

Pertanyaan itu baru terjawab ketika kita berpindah ke cara kedua dalam melihat diri. Menurut cara pandang tersebut, diri mudah dimasuki (porous), berinteraksi dengan orang lain secara dialektis, dan menyatu secara relasional alih-alih secara substansial. Diri tercipta melalui proses berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan itu sendiri. Karena posisi individu diperhitungkan dalam hubungannya dengan beberapa orang tertentu, maka untuk kesatuan tidak dibutuhkan hal dasar, diri yang sejati. Alih-alih, diri terdiri dari beberapa keadaan relasi yang dapat dibeda-bedakan. Pandangan alternatif yang diusulkan tersebut mampu menjelaskan, baik kesatuan diri maupun keadaan diri kita yang terdiri dari beberapa bagian dan mudah sekali berubah. Akhirnya, dari perspektif tersebut, diri dapat dibayangkan sebagai aktivitas yang terus-menerus dapat diperuntukkan bagi penciptaan diri (self-creation) dengan tidak memisahkan dari orang-orang lain melainkan mereka pun menjadi salah satu bagian penting dari kita. Jadi, cukup jelas, orang lain memiliki peranan yang tidak terpisahkan dalam proses tersebut. Tanpa hubungan dekat di antara diri sendiri dan orang lain, tidak mungkin ada pengalaman autentik. Jadi, di situlah kita dapat berpindah dari identitas ke diri, sehingga berpindah ke makna dalam mempraktikkan sains. Bukan sekadar memahami diri sendiri (self-understanding) dan kepentingan diri sendiri (self-interest) saja, dalam hal-hal khusus, sebagian identitas terkait dengan orang lain dan memahami diri kita sebagai yang terkait. Dengan pemahaman itu, kita menyadari diri kita sebagai objek terhadap orang lain sehingga menjadi sadar akan diri kita sendiri sebagai diri, dan mengakui keberadaan diri dan keberadaan orang lain saling berkaitan sampai dapat mempengaruhi dan memberi makna kepada segala sesuatu tentang kita, termasuk pandangan aestetis dan pandangan emosional kita.

Bila kita tidak lagi memandang diri sebagai fenomenon kesatuan atau sebagai entitas struktural yang tersusun dari banyak faktor dan ciri bawaan yang menghasilkan pribadi seutuhnya, makna pun terdiri dati beberapa bagian (fractured). Makna tercipta sebagai penafsiran sosial (social construction) melalui interaksi dan transaksi di antara dan di kalangan makhluk-makhluk sosial. Kepentingan diri sendiri yang lebih otonom saling melebur di dalam hubungan-hubungan tersebut untuk mencapai kompromi di antara individu dan orang lain. Dalam hal ini, makna didasarkan pada pemahaman dialektis terhadap objek melalui penafsiran diri di dalam ranah sosial. Pandangan tentang makna di-dalam-hubungan menekankan hubungan esensial kita dengan orang lain, menyadari kesalingtergantungan dalam bentuk hubungan, dan mengakui adanya kesinambungan dan perbedaan yang terlekat pada hubungan-hubungan yang terkait konteks (Plumwood, 1998).

Contoh seorang siswa pekerja migran Amerika keturunan Meksiko, Andrea, yang pernah kami sebutkan dalam tulisan Karoi (Kozoll dan Osborne, 2004), berbicara kepada kami bahwa kehidupan migran membuatnya merasa sangat kesepian. Andrea menginginkan pelajaran, sekolah, dan pendidikan yang diterimanya tidak hanya mengajarkan fakta-fakta, teon, dan prosedur, tetapi juga ingin diberi ruang tempat dia dan teman-temannya bisa saling belajar bersama, menjadi mitra kerja, dan dalam prosesnya bisa saling mengenal di tengah-tengah hubungan yang berdasarkan siapa Andrea sebenarnya dan diri Andrea yang dicita-citakannya kelak. Dan dalam kelas sainslah, Andrea menemukan tempat yang mampu memenuhi keinginannya itu.

 

Oh ya! Saya suka sekali sains, apa pun yang berhubungan dengan alam: Sains selalu membutuhkan banyak kerja kelompok, banyak berkumpul, dan menerima hasil dari orang lain. “Sudah lihat apa saja? Ini hasil pengamatanku tadi. Kau mengamati apa?” Saya senang karena ada banyak interaksi. Berkat sains, kenalan saya bertambah.

 

Di sinilah kita bisa temukan makna, kekuatan, arti penting, kerelevanan, dan autentisitas sains bagi seorang siswa. Makna sains terletak pada kemampuan sains untuk menjadi bagian dan “proyek terus-menerus pembentukan dan pembentukan ulang diri yang lebih maju, lebih bergaul, lebih etis dan manusiawi, lebih leluasa dan santai, lebih peka dan awas, lebih bebas, lebih kreatif, dan lebih selaras dengan alam dan manusia-manusia lain” (Allen, 1997: 22). Kita dapat merasakannya melalui sentimen-sentimen Andrea. Hubungannya dengan sains jelas tidak terletak pada disiplin ilmu tertentu atau topik-topiknya. Hal-hal tersebut tidak ada dalam pernyataan Andrea. “Cinta”nya kepada sains mula-mula terletak pada hubungan yang telah ditemukannya di antara sains dan alam, sesuatu yang memang dicintainya. Kedua, kesenangan Andrea kepada sains juga terletak pada kemampuan sains untuk menghubungkannya dengan orang-orang lain. Melalui sains, Andrea dapat berkumpul dengan orang lain, bercakap-cakap untuk bertukar pikiran, berinteraksi sedemikian rupa sehingga Andrea mampu mengatasi rasa kesepian dan keterisoasiannya. Dalam proses interaksi, bertukar pikiran, dan mengenal orang lain dan dirinya sendiri itu, Andrea telah menemukan makna dalam sains melalui hubungan-hubungan tersebut.

Seperti contoh lain penemuan makna dalam sains di dalam diri sendiri dan orang lain, kami ingin menceritakan keterlibatan Keith. Keith seorang imigran Amerika keturunan Jamaika yang mengambil jurusan sains di perguruan tinggi kemudian meneruskan menjadi dosen pradinas untuk mata kuliah kami. Kisah Keith mencontohkan bahwa pelibatan dengan sains dapat terus berlanjut ke dalam lifeworld sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari artikulasi diri Keith.

Melalui percakapan-percakapannya dengan kami, Keith berbicara panjang lebar tentang pengalaman-pengalamannya dengan alam dan dunia alam di Jamaika, bagaimana pengalaman-pengalaman itu meresapi dan memperkaya sains yang sedang dipelajarinya dalam kuliah dan membuat Keith menikmati kuliahnya.

 

Saya senang bisa menjelaskan hal-hal umum. Saya senang ketika kuliah terasa relevan. Maksudnya, yang sedang saya bicarakan ini bukan kejadian yang berlangsung di dalam sebuah sel, hanya penjelasan tentang penyebab kejadian-kejadian seperti itu. Saya benar-benar menikmatinya, dengan cara yang amat sangat sederhana.

 

Sains yang dirasakan sangat menarik oleh Keith di dalam kuliah sainsnya ternyata terhubung dengan “sains” yang pernah dipraktikkannya di tempat lain. Sains seperti itu meliputi semut-semut yang diamatinya bersama sepupu-sepupunya di Jamaika dan kemudian menjadi lambang hubungan Keith dengan banyak orang lain.

 

Ada bangku yang biasa kami duduki. Tepat di sebelahnya ada sebatang pahon yang kayunya dimakan semut. Tempat persembunyian semutsemut itu di dalam … entahlah, sebuah terowongan mungkin. Benar, sebuah terowongan. Semut-semut itu telah membangun terowongan dan terlihat panjangnya sepanjang pohon. Tembus sampai atas atau menurun ke sebuah cabang. Terowongan itu dibuat dari … Mungkin semut-semut itu memakan sebagian kayu dan mengolahnya menjadi kertas kecil seperti material dan digunakan untuk membangun seluruh terowongan. Kami mendatangi pohon itu dan mengganggu merekatindakan bodoh sebenarnya, sebab semut-semut itu pasti akan menggigit, tetapi tetap saja kami pergi ke sana dan mengganggu hewan-hewan itu.

 

Kuliah sains Keith berhubungan dengan pengalaman-pengalaman itu dan memperdalamnya, menjelaskan kejadian-kejadian yang pernah dilihatnya dan memperdalam pemahamannya.

 

Lucunya, saya juga baru menemukan penjelasannya dalam kuliah entomologi yang saya ambil. Saya baru tahu bahwa begitu rumah [semut] dimasuki orang, semut-semut itu akan mengeluarkan feromon dan memanggil semut tentara, semut prajurit, apalah namanya. Mendengar keterangan itu, saya teringat, apa yang terjadi waktu itu … [kami] baru merusak Iubang dan segerombolan semut besar-besar langsung berhamburan keluar darinya, dan kami malah berusaha melihat makhluk apa yang ada di dalam lubang. Habislah saya digigiti mereka!

 

Keith menyebutnya “keyakinan” dan mengklaim kuliah yang diambilnya memberinya keyakinan akan pengetahuan tentang hal-hal yang pemah diamatinya dengan memberinya cara-cara pandang yang baru untuk memahami semua itu.

 

Kini setelah saya pikirkan secara keseluruhan, saya bisa mengerti dengan pasti bagaimana [teori-teori dari kuliah] mengubah persepsi-persepsi saya tentang alam. Itulah yang terpikirkan oleh saya ketika bicara tentang keyakinan … Karena saya baru mulai lebih banyak memperhatikan dan baru mulai lebih banyak berpikir. Saya baru menemukan hubunganhubungan logis yang dahulu belum pernah terpikirkan oleh saya.

 

Keith akhirnya memperoleh perspektif-perspektif berbeda untuk menteorisasikan hubungannya sendiri dengan alam. Semua itu akhirnya kembali menjadi pengetahuan belaka. Kita melihat segala sesuatu, hal-hal yang berbeda, dari sudut pandang yang berbeda-beda … Jadi, kita melihat segala sesuatu dari perspektif yang sama sekali berbeda tetapi tetap dapat mengembalikannya menjadi sebuah peristiwa alam saja. Keith mempergunakan cara pandangnya yang baru terhadap dunia itu untuk mengamati dan menjelaskan hal-hal yang tampaknya tidak diperhatikan orang lain, misalnya, bagaimana rumput di pekarangan orang lain bisa tumbuh, dinamika populasi pepohonan di pinggir jalan raya, dan apa yang terjadi pada potongan-potongan rambut. Keith menunjukkan kepuasan pribadi yang besar atas kemampuannya itu dan bertukar pikiran dengan orang lain. Keith telah berhasil menemukan makna dalam sains yang terlekat di dalam hubungan yang ada di antara dirinya sendiri, sains, dan dunia di sekitarnya, juga keluarga, kawan-kawan, dan orang-orang tidak dikenal, baik yang memiliki pandangan ilmiah serupa maupun tidak. Kami bertanya kepada Keith tentang persepsi seperti itu.

 

Kekuatan pendorong, itulah pendapat saya. Ibarat kita punya gambar yang barangkali tidak akan selesai digambar dan kita tidak tahu itu gambar apa, tetapi mungkin jika kita mengamati keseluruhan gambarnya, kita akan mengerti gambar itu tentang apa. Itulah yang selama ini saya rasakan sebagai pendorong saya.

 

Melalui penghubungan seperti itu, pemahaman sains Keith meresapi makna menjadi pikiran dan pengalaman-pengalamannya. Bagian dari identitas Keith-cara pandang yang diciptakannya sendiri untuk memandang dunia. Kemampuan Keith menggunakan sains untuk menyatukan konteks-konteks yang sangat berlainan agar dapat memaknai pengalaman-pengalamannya, lalu menghubungkan pengalaman-pengalaman itu dengan aspek-aspek lain dalam hidupnya, melengkapi sains dengan makna dan sebuah tempat di dalam lifeworld Keith. Dalam hal itu, Keith telah mempergunakan kuliah entomologi untuk memahami semut-semut yang pernah diamatinya di Jamaika, dan kuliah ekologinya untuk memahami pertumbuhan rumput di pekarangan orang. Selain itu, ketika membicarakan penghubungan-penghubungan tersebut, Keith juga menyinggung keyakinan dan kepeduliannya sendiri. Ketika berbicara tentang sains yang pernah dipraktikkannya di rumah dan di sekolah, perasaan-perasaan tersebut menjadi masuk akal dan mudah dipahami dengan sains sebagai latar belakang dan mengubah sains menjadi bagian dari, baik pribadi Keith sekarang maupun pribadi yang dicita-citakannya (Taylor, 1994). Sebagai bagian dari identitas Keith, sains menjadi salah satu cara Keith menyampaikan eksistensi yang lebih dalam dan lebih selaras dengan orang dan tepat yang merupakan dunia di sekitarnya. Keith mampu melihat dunia dari sudut pandang dan perspektif yang berbeda-beda, menjadikannya lebih dekat dengan keseluruhan gambar yang Keith sendiri merasa begitu terdorong untuk menyelesaikannya. Kisah Keith dan Andrea telah menempatkan sains di tengah-tengah pandangan holistis, yang lebih jauh mencerminkan pemahaman yang tajam tentang keadaan sosiaI mereka. Makna yang ditemukan Keith dan Andrea di dalam sains lebih Iuas, melebihi jangkauan pengetahuan mereka akan fakta-fakta, teori-teori, dan. gagasan-gagasan ilmiah. Dengan memperhitungkan proses terbentuknya hubungan di antara siswa dan sains tersebut, perhatian kita akan terarah kepada perspektif dan kerangka kerja lebih luas yang dan dalamnya membentuk makna dan nilai di dalam sains. Agar dapat menjadi bermakna, sains harus menjadi cara untuk memahami hubungan diri kita dengan orang lain.

This Post Has 2 Comments

  1. Artikel ini sangat menarik. Terimakasih sudah berbagi hasil riset

    1. terimakasih

Leave a Reply

Close Menu