MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI PEKERJAAN RUMAH

MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI PEKERJAAN RUMAH

Pembelajaran Sains: Jennifer Beers

Bagi banyak guru, kegagalan siswa menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan rumah merupakan masalah umum yang dapat menimbulkan hambatan dalam belajar dan mencapai prestasi. Salah satu solusi untuk masalah itu ialah dengan tidak memberikan tugas pekerjaan rumah setiap hari, atau dalam keadaan yang paling ekstrem, menghapuskan sepenuhnya jenis tugas itu. Akan tetapi, dalam keadaan pendidikan sekolah kita sekarang yang berkonsekuensi tinggi, kurikulum ditentukan oleh standar, dan akuntabilitas guru, saya tidak yakin ada pendidik yang mau mengabaikan bahwa pekerjaan rumah, bila dibingkai dalam konteks yang tepat, dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. Pekerjaan rumah sangat berguna untuk melatih keterampilan dan konsep yang dibutuhkan untuk menguasai muatan pelajaran. Selain itu, dalam sains, pekerjaan rumah juga dapat menjadi cara menautkan konsep dan gagasan abstrak yang dipelajari di kelas dengan kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas siswa.

Mengingat dilema ini, ada beberapa pertanyaan yang dapat diangkat. Apa yang dapat dilakukan pendidik untuk meningkatkan peluang siswa akan menyelesaikan pekerjaan rumah? Bagaimana cara menstrukturkan pekerjaan rumah sedemikian rupa sehingga siswa mampu menyelesaikannya? Apa yang harus dipertimbangkan ketika merencanakan formulir-formulir penilaian yang wajib diisi siswa? Melalui esai ini, saya akan menelaah hal-hal yang saya tempuh dalam upaya meningkatkan kepatuhan siswa atas tugas-tugas pekerjaan rumah. Pertama, akan saya jelaskan bagaimana inquiry tentang latihan yang saya lakukan sendiri telah membingkai cara saya menyusun banyak tugas “di luar sekolah”. Kedua, saya berpendapat bahwa inquiry terhadap life world siswa dan struktur yang berdampak kepada kemampuan siswa menyelesaikan tugas sangat penting untuk memahami “dilema pekerjaan rumah”. Sepanjang diskusi ini saya akan menyoroti beberapa struktur yang lebih “makro” (kebijakan sekolah atau kebijakan departemen, standar-standar negara bagian, dll) yang berdampak kepada kemampuan seorang guru untuk memberikan pelayanan terbaik bagi siswa-siswanya dalam hal penyelesaian pekerjaan rumah.

 

ALASAN SAYA MEMBERIKAN TUGAS PEKERJAAN RUMAH?

Guru menghadapi banyak tekanan terkait kurikulum dan pendekatan pedagogisnya di dalam kelas. Tekanan mungkin datang dari dalam penyelenggaraan sekolah atau dari pengaruh luar seperti distrik sekolah atau standar negara bagian dan standar nasional. Selain itu, guru harus menyelaraskan pengalamannya sendiri dari mengajar dan pembelajaran di sekolah lain atau konteks lain. Semua faktor dari luar dan struktur “makro” itu dapat berdampak terhadap pendekatan guru dalam memberikan tugas pekerjaan rumah sekaligus pandangannya tentang arti penting pekerjaan rumah.

Empat tahun lamanya bekerja pada sebuah sekolah charter urban, saya bergulat dengan masalah-masalah itu dan mencoba menerapkan sebuah pendekatan untuk pekerjaan rumah yang mungkin dapat memenuhi kebutuhan baik siswa saya maupun memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh sekolah. Sekolah saya berusaha keras menciptakan budaya ekspektasi tinggi sehingga siswa kami bisa memiliki daya saing dengan siswa dari sekolah lain. Dalam hal itu, selalu ada pesan yang sangat jelas dari pihak penyelenggaraan sekolah bahwa agar memiliki daya saing tersebut siswa wajib diberi dua-tiga jam pekerjaan rumah sehari untuk mata pelajaran inti. Demi mendukung penyelenggaraan sekolah, setiap sore saya berjuang mencari tugas-tugas pekerjaan rumah untuk diselesaikan siswa saya. Seringkali saya mendapati diri saya membuat tugas-tugas hanya demi agar siswa saya memiliki sesuatu untuk dikerjakan begitu mereka meninggalkan bangunan sekolah. Akibatnya, beberapa tugas itu kurang memiliki tujuan, visi, dan hubungan dengan sains yang sedang diajarkan di kelas. Siswa sering gagal menyelesaikan pekerjaan karena saya tidak menjelaskan tujuannya. Selain itu, kegagalan siswa dalam menyerahkan pekerjaan rumah sering saya kaitkan dengan kemampuan mereka atau pemahaman mereka akan muatan bidang studi, alih-alih dengan motivasi dan keinginan mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Tingkat kegagalan dan keberhasilan dalam rapor nilai tengah semester di sekolah ini sering menjadi pendorong dilakukannya tinjauan terhadap praktik kelas dan struktur di seluruh sekolah. Beberapa sesi pengembangan profesional disiapkan khusus untuk topik pekerjaan rumah dan penyelesaiannya. Sesi-sesi itu sangat berguna dalam hal belajar dari guru-guru , yang lebih berpengalaman serta berbagi gagasan dan strategi yang berhasil. Melalui sesi-sesi tersebut, saya merenungkan perjuangan filsafati di antara hal-hal yang saya tabu paling diminati siswa-siswa saya dan hal yang menurut saya penting untuk membuat saya tampil baik di mata kolega dan penyelia saya. Jika ada keadaan-keadaan ketika pekerjaan rumah diberikan semata-mata demi memberikan pekerjaan kepada siswa untuk diselesaikan di luar sekolah, sudah jelas filsafat tentang tugas serupa itu harus dipikirkan kembali.

Selain tekanan-tekanan di seluruh sekolah, lingkup dan keluasan muatan yang diwajibkan oleh, standar-standar negara bagian terutama sangat menggentarkan (Pennsylvania Department of Education, 2004). Walaupun ada tekanan untuk membantu siswa agar berhasil dalam ujian-ujian terstandarisasi, penting untuk dicatat bahwa hampir mustahil mengajarkan segala hal yang harus diketahui siswa untuk menghadapi ujian-ujian itu dalam kunmrwaktu setahun. Tekanan besar untuk maju melalui kurikulum menciptakan kontradiksi di antara tingginya ekspektasi terhadap pencapaian siswa dan secara realistis membantu siswa memahami potongan-potongan terpenting (dalam muatan bidang studi). Meninjau secara pribadi kualitas dan kuantitas tugas-tugas pekerjaan rumah bersama, baik siswa-siswa saya maupun guru-guru lain telah membantu saya menghadapi konsepsi-konsepsi naif saya tentang hal yang mutlak diperlukan bagi siswa untuk diketahui. Dalam mata pelajaran yang saya ajarkan, kebanyakan dari kita memang membuat praktik pengajaran kita sendiri dengan meniru pengalaman sebelumnya dengan sains, tetapi lingkup dan keluasan standar-standar sains negara bagian tidak mengharuskan kita mencakup setiap detail hingga sekecil-kecilnya; alih-alih, kita diharuskan membantu siswa memahami tema-tema yang mencakup segala-galanya. Contoh, seorang guru mungkin bertanya, “Penting sekalikah bagi siswa saya untuk tahu nama tahap-tahap mitosis atau lebih pentingkah mereka tahu konsekuensi dan hasil proses tersebut?” Dengan mengajukan jenis-jenis pertanyaan seperti itu” secara berangsur saya dapat merampingkan kurikulum saya sehingga siswa bisa mendapatkan pengalaman komprehensif dan beragam dengan sains yang meliputi keterampilan membaca dan menulis yang dibutuhkan untuk berhasil dalam ujian-ujian terstandardisasi. Selain itu, perampingan kurikulum telah mengangkat sebagian tekanan untuk memberikan tugas pekerjaan rumah tanpa makna dan menciptakan peluang-peluang bagi siswa untuk mempertontonkan pemahaman mereka akan tema-tema luas dan mempraktikan keterampilan-keterampilan umum yang diwajibkan untuk ujian-ujian negara bagian.

Solusi bagi “momok pekerjaan rumah” pernah dituliskan secara panjang lebar (National Educational Association, 2005); akan tetapi, semua pendidik yang sukses memiliki struktur sendiri alih-alih meningkan kualitas dan kuantitas tugas pekerjaan rumah yang harus diserahkan oleh siswa. Pada akhir tiap semester, saya meminta siswa-siswa saya menyelesaikan sebuah survei sebagai pekerjaan rumah. Kecuali itu, inquiry dan renungan saya pribadi tentang asal-usul filsafat pekerjaan rumah dan praktik saya sendiri dalam memberikan tugas pekerjaan  rumah telah membantu saya menelurkan kesimpulan gagasan berikut ini:

  1. Kemungkinan siswa untuk menyelesaikan tugas pekerjaan rumah akan lebih besar bila ia merasa diberi angka atau kredit untuk hasil pekerjaannya.
  2. Kemungkinan siswa untuk menyelesaikan tugas pekerjaan rumah akan lebih besar bila ia memahami tujuan tugas tersebut dan mampu dengan pasti menemukan hubungan di antara tugas yang diberikan dan pelajaran mereka setiap harinya.
  3. Pendidik guru dan guru pembimbing harus membantu guru-guru baru bekerja dengan menggunakan konsepsi-konsepsi naif tentang hal-hal yang mutlak dibutuhkan siswa untuk memperoleh pengetahuan dan apa yang disebut dengan “pekerjaan rumah”.
  4. Sekolah harus menciptakan peluang bagi guru untuk secara formal berbagi filsafat dan gagasan mereka sendiri tentang pekerjaan rumah, termasuk contoh-contoh strategi dan pemberian tugas yang berhasil.

 

PEKERJAAN RUMAH HARUS DIKERJAKAN Di RUMAH, ATAU HARUSKAH DEMIKIAN?

Selain tekanan-tekanan yang diuraikan di atas, dilema seputar pekerjaan rumah bisa diperparah oleh kegagalan guru untuk mempertimbangkan dampak dari banyak isu ekonomi, sosial, dan budaya yang memengaruhi kemampuan siswa menyelesaikan pekerjaan di rumah. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa dalam kebanyakan kasus, pengabaian terhadap faktor-faktor itu hampir tidak sengaja dilakukan, sebab banyak dari kita datang dari latar belakang sangat berbeda dibandingkan dengan siswa-siswa kita. Cara kita dibesarkan, dukungan yang kita terima di rumah, dan kewajiban-kewajiban kita usai sekolah mungkin sangat lain dari yang dimiliki anak-anak muda di kelas kita. Oleh karena itu, pemikiran bahwa “pekerjaan rumah harus dikerjakan di rumah” perlu diperiksa kembali dan dipikirkan lagi.

Sebelumnya, saya sudah berjuang dengan gagasan bahwa pekerjaan rumah harus dirampungkan di Iuar sekolah, tanpa benar-benar memahami life world siswa-siswa saya. Pengalaman saya sendiri di rumah dan di sekolah saya gunakan sebagai titik awal praktik tanpa menyadari bahwa tekanan dan kewajiban yang dihadapi siswa-siswa saya berbeda. Setelah saya mulai melakukan dialog-dialog kogeneratif regular dengan para siswa, barulah saya menyadari banyak hambatan yang dihadapi siswa-siswa saya. Dalam percakapan dari hati ke hati, mereka menyebutkan harus bekerja setelah jam sekolah, mengasuh adik, menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga, jam-jam sekolah kami yang diperpanjang, dan lamanya waktu yang dihabiskan di perjalanan sebagai alasan kadang-kadang mereka tidak-mampu menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan rumah. Beberapa siswa saya juga menyatakan merasa lebih aman di sekolah sehingga ingin tinggal sesuai sekolah untuk bersosialisasi dengan teman-teman dan menyelesaikan pekerjaan. Selain itu, sering mereka menjelaskan tentang kondisi tempat tinggal mereka yang sempit dan berisik, semakin menghalangi mereka untuk bisa berkonsentrasi.

Sebagai hasil dialog-dialog tersebut, salah satu tindakan yang kami wujudkan bersama-sama mengharuskan saya memikirkan kembali kapan dan di mana siswa menyelesaikan pekerjaan rumah. Jadi, saya mulai mengajak siswa untuk tinggal seusai jam sekolah selama masih dalam jam kantor. Saya berpikir, jika saya ingin siswa-siswa saya menyelesaikan tugas, maka saya harus ciptakan ruang bagi mereka untuk menyelesaikan pekerjaan dan berhasil di kelas. Saya pun berupaya lebih memahami kehidupan siswa-siswa saya sehingga mungkin mereka bisa merundingkan tanggal jatuh tempo untuk menyerahkan pekerjaan rumah. Selain itu, saya pun mulai memikirkan kembali tugas-tugas itu sendiri. Contoh, tugas-tugas “baru” meminta siswa mewawancarai orang tentang asma, menulis rap/sajak tentang gerakan molekul, atau melakukan percobaan sederhana di rumah.

 

CONTOH TUGAS PEKERJAAN RUMAH

Memikirkan kembali pekerjaan rumah menjadi pendorong bagi saya untuk mengambil pendekatan yang lebih holistis terhadap alat pengajaran tersebut. Dalam hal itu, saya menemukan saran-saran berikut ini yang akan melibatkan orang tua, guru, siswa, dan sekolah dalam memperbaiki pencapaian siswa dengan pekerjaan rumah:

  1. Guru dapat menyelenggarakan dialog kogeneratif sehingga bisa melihat dampak tekanan/kewajiban dari luar terhadap prestasi siswa.
  2. Sekolah mendirikan klub pekerjaan rumah yang anggota pengurusnya adalah sukarelawan orang tua, mahasiswa yang sedang magang, atau siswa senior.
  3. Guru dan orang tua dapat menyusun cara-cara yang memungkinkan mereka saling berkomunikasi tentang pekerjaan rumah dan penyelesaiannya (misalnya, sistem pembuat rencana atau surat elektronik).
  4. Guru membuat penyesuaian pada tugas pekerjaan rumah yang diberikan sehingga lebih banyak melibatkan orang dewasa.
  5. Siswa berusaha berkomunikasi dengan guru tentang masalah-masalah yang dihadapi dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.

 

PANDANGAN TERAKHIR

“Pertarungan” tentang menyelesaikan pekerjaan rumah tentu bukan hal baru atau terlarang bagi kelompok khusus yang saya ajar. Selain itu, fungsinya dalam pendidikan anak-anak tidak pernah lekang oleh waktu. Menyelesaikan pekerjaan rumah dapat menjadi mekanisme untuk mempraktikkan keterampilan, meninjau kembali bahan, dan merenungkan proses belajar. Penyelesaian pekerjaan rumah dapat membantu guru-guru memahami kekurangan-kekurangan dalam pemahaman siswa dan menjadi alat penilaian yang sangat berguna. Meskipun demikian, jika pekerjaan rumah hanya digunakan untuk memberi siswa pekerjaan yang harus dikerjakan di rumah atau karena guru merasakan tekanan-tekanan (nyata atau hanya dirasakan saja) untuk memberikannya, kemanfaatan tugas itu bisa lenyap.

Dalam hal itu, saya desak guru-guru agar merenungkan asal-mula praktik mereka yang berhubungan dengan pekerjaan rumah sebab hal itu mungkin akan membukakan peluang-peluang baru untuk menyusun dan memberikan tugas-tugas serupa. Saya menantang para siswa agar terbuka kepada guru bila memiliki tekanan atau masalah khusus yang menghalangi penyelesaian pekerjaan rumah. Selain itu, saya pun meminta orang tua untuk membuka komunikasi dengan para pengajar anak mereka dan terus terlibat dalam pekerjaan yang dibawa pulang. Jika ingin mencapai budaya ekspektasi tinggi di sekolah, kita harus bekerja bersama-sama sebagai komunitas sebuah untuk mewujudkannya. Memikirkan kembali pekerjaan rumah dan menjadikannya sebagai sebuah upaya komunitas merupakan langkah-Iangkah yang diperlukan ke arah yang benar dan membukakan kesempatan bagi anak-anak untuk berhasil di sekolah.

Leave a Reply

Close Menu