MEMBACA DAN SAINS

MEMBACA DAN SAINS

Pembelajaran Sains: William G. Holliday

Membaca dan pengajaran sains jarang sekali dibahas di tingkat nasional oleh para pendidik sains tetapi tetap menjadi perhatian yang besar bagi praktisi di tingkat daerah dan negara bagian. Bab ini akan membahas bacaan dan pemahaman siswa akan informasi sains dalam bentuk media cetak, serta memberikan beberapa pendekatan untuk membangun dan mungkin meningkatkan integrasi yang efektif di antara membaca dan sains. yang dilekatkan pada sekolah dasar. Seiring denganbertambahnya umur siswa, masalah-masalah siswa dalam membaca tampaknya memburuk ketika memasuki ruang kelas sains di SMP dan SMU. Walaupun peneliti telah menawarkan nasihat yang menjanjikan terkait pengurangan masalah-masalah yang dihadapi para siswa SMP dan SMU, sayangnya, guru-guru sains rupanya jarang sekali dilengkapi dengan dukungan pengajaran dan administrasi yang dibutuhkan.

MEMBACA DI SEKOLAH DASAR

Belajar Cara Membaca Sains

Secara logis siswa-siswa yang belajar sains di sekolah pasti harus belajar cara membaca tentang gagasan-gagasan ilmiah dan cara efektif dalam menangani masalah-masalah berbasis sains. Dengan bertambahnya usia siswa, kemampuan untuk membaca tentang sains dan membaca teks-teks informasi jenis lainnya akan menjadi keuntungan besar dalam mengatasi tantangan-tantangan kehidupan. Siswa di sekolah dasar harus belajar membaca dengan menafsirkan pesan secara mudah, mengenali, dan memahami kata-kata yang kerap dijumpai, serta dengan belajar cara memahami dan mengingat hal-hal yang pernah dibaca. Siswa juga harus mampu membaca dengan fasih (fluent readers), mengenali kata-kata secara otomatis, mengembangkan pengetahuan latar yang, beralasan mengenai dunianya, dan dengan mudah memahami teks-tek sulit.

Akhirnya, siswa harns belajar dan menerapkan dengan mudah strategi memahami bacaan agar mereka punya bekal untuk menyelidiki dunia sains. Terutama, guru-guru sains perlu membantu siswa belajar tentang strategi-strategi seperti bagaimana mengenali gagasan utama, merangkum pilihan bacaan, membangun citra mental konsep, menjelaskan gagasan-gagasan yang kabur, mengajukan pertanyaan atau menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang informasi yang terdapat di dalam teks, menjelaskan dengan panjang lebar secara tertulis tentang sebuah frasa kunci yang terdapat pada teks, menghubungkan informasi ilmiah yang masih asing dengan hal yang sudah diketahui, bekerja sama dengan teman-teman sebaya untuk menangani masalah-masalah dalam membaca, dan memantau pemahaman siswa saat membaca teks sains.

Faktanya, siswa yang tidak mampu menyandikan kata-kata tidak akan mampu memahami teks dan tidak mampu membaca dengan fasih. Siswa-siswa yang tidak mampu memahami teks secara otomatis itu tidak mungkin bertahan menghadapi dunia dewasa yang akan datang, yang sarat dengan tantangan kemelekan baca-tulis. Dalam satu pengertian, fakta-fakta membaca tentang kehidupan modern memang sesederhana itu. Dunia penuh dengan teks informasi yang harus dimengerti dan diingat.

Tidak ada yang tahu pasti cara terbaik untuk mengajarkan membaca, termasuk strategi-strategi membaca komprehensif. Meskipun demikian, kita tahu hal-hal yang harus dilakukan guna memperbaiki kemampuan siswa dalam membaca teks secara komprehensif (bisa dicari pada buku teks, buku-buku edisi standar, artikel, dan dokumen yang dapat dilihat di internet) seperti yang digunakan dalam sains di sekolah. Walaupun begitu, tampaknya kita belum mampu mendorong para pemimpin dalam pendidikan sains di tingkat nasional dan guru-guru di tingkat daerah untuk mengambil langkah tegas guna melaksanakan hal-hal yang kita ketahui sekarang tentang cara mengajarkan strategi-strategi membaca komprehensif di ruang kelas sains.

Tidak banyak peneliti dalam pengajaran sains yang mempelajari cara mengajarkan membaca komprehensif kepada siswa, seperti terbukti dari sebuah ulasan jurnal-jurnal penelitian yang bertujuan memperbaiki pengajaran sains. Selain itu, hanya segelintir guru yang tampaknya rela menghabiskan waktu belajar di kelas untuk mengajarkan siswa cara mempelajari kata-kata kosakata baru yang ada pada bahan-bahan bacaan sains, serta cara menentukan strategi membaca logis yang mungkin dapat diterapkan untuk meningkatkan pemahaman akan bacaan.

Guru-guru di tingkat-tingkat sekolah dasar menghabiskan banyak waktu untuk mengajarkan bunyi huruf, huruf kata, dan keterampilan-keterampilan pengenalan kata serta beberapa strategi komprehensi yang mungkin sangat berguna untuk membaca narasi seperti cerita. Namun, kebanyakan guru tidak banyak meluangkan waktu atau tidak meluangkan waktu untuk mengajarkan siswa cara memahami teks informasi yang digunakan dalam mata pelajaran sosial dan sains.

Anak-anak kecil pada sekolah dasar yang bagus memperoleh pelajaran membaca yang sistematis: mereka menghabiskan waktu untuk belajar tentang alfabet, belajar tentang hubungan-hubungan di antara huruf simbolis dan bunyi, belajar bagaimana kelompok-kelompok huruf bercampur membentuk kata-kata yang memiliki makna, dan memahami bahwa kata-kata yang bercampur bersama akan membentuk kalimat dengan makna yang bahkan semakin kompleks. Guru-guru sekolah dasar mengajarkannya sebagian dengan menggunakan gabungan beberapa strategi-mengajarkan penyandian dengan menggunakan analogi dan pendekatan-pendekatan fonika untuk belajar kata-. kata baru, dan menggunakan beberapa strategi bahasa seutuhnya (whole languagei) yang berhubungan dengan menulis, misalnya.

Guru yang baik akan menganalisis kata-kata baru dan menyatukan bunyi-bunyi individual dalam upayanya belajar cara melafalkan kata-kata yang belum dikenal, terutama dalam sains. Pembaca juga menggunakan bagian-bagian kata-prefiks, sufiks, akar kata, dan bentuk-bentuk kombinasi-yang sangat berguna dalam menyandikan kata-kata yang belum dikenal. Banyaknya penerbit buku teks sains dengan edisi-edisi akan datangnya, sudah tentu akan meningkatkan pelajaran tentang penggunaan chucks kata (misalnya, prefiks, sufiks, akar kata, dan bentuk-bentuk gabungan) sehingga siswa dapat dengan lebih mudah belajar kata-kata dari kosakata baru. Siswa-siswa yang lebih belia seringkali diajar dengan menggunakan pendekatan program fonika sintetis atau pendekatan menyandikan dengan analogi, mengandalkan pendekatan-pendekatan penyandian yang secara teori akan memungkinkan mereka membaca aneka teks, termasuk teks sains, dengan lebih mudah, akurat, dan efisien.

Pengajaran fonika yang baik di sekolah dasar akan membantu siswa memahami huruf-huruf yang menggambarkan bunyi, bahwa bunyi-bunyi itu dapat melebur bersama membentuk kata. Dengan semakin akrabnya siswa dengan fonika dan sering bertemu kata-kata, pembelajaran terarah yang diikuti dengan praktik akan menghasilkan pengenalan kata secara otomatis. Artinya, kelak siswa tidak perlu lagi menyuarakan banyak kata yang baru dijumpai terus-menerus menyuarakan kata-kata yang belum dikenal. Semakin sedikit upaya yang ditujukan untuk mengetahui bagaimana bunyi kata dan apa artinya, semakin banyak upaya yang dapat dicurahkan siswa untuk memahami dan mengingat pesan yang dilekatkan pada teks. Jadi, siswa perlu menjadi lebih akrab dengan kata dalam jumlah yang cukup banyak sehingga tidak harus mencurahkan waktu, energi, dan pikiran yang berharga untuk menyandikan kata-kata asing, sebuah proses yang akan menghabiskan kapasitas kognitif siswa-daya otak, maksudnya- yang bisa digunakan untuk tugas yang lebih mendesak, yaitu memahami pesan-pesan tercetak dari para penulis.

Siapa yang mengajarkan siswa cara memahami teks informasi seperti bahan-bahan cetak yang digunakan untuk belajar sains? Salah satu masalah dalam membaca ialah guru-guru sekolah dasar terutama memusatkan perhatian siswa untuk: memahami narasi seperti cerita tentang topik-topik yang sudah dikenal, termasuk pilihan-pilihan dari kesusastraan Amerika dan Inggris.

Sayangnya, anak muda zaman sekarang lebih terbiasa belajar cara memahami teks infonnasi dengan menggunakan metode-metode uji coba tidak sistematis (Nokes dan Dole, 2004) sebagai bekal ketika mulai mempelajari cara memahami jenis teks cetak yang paling sering ditemui selama belajar di sekolah (schooling) dan kerja praktik (on-the-job training), dan sebagai orang dewasa berusaha mengikuti kemajuan-kemajuan penting dalam sains dan ranah lain yang sarat informasi. Tiga kelompok berbeda, terdiri dari guru dan peneliti yang bekerja sama dengan siswa kelas empat dan kelas lima, telah meneliti sebuah pendekatan untuk mengatasi masalah pengajaran sains dan membaca. Kesamaan faktor-faktor yang tendentifikasi dalam program-program yang telah berhasil dengan baik tersebut akan dijelaskan dalam bagian berikutnya.

 

MENGEMBANGKAN PROGRAM MEMBACA DAN SAINS TERPADU

Guru-guru sains yang bekerja sama dengan guru-guru sekolah dasar tingkat atas lainnya mungkin sudah mempertimbangkan untuk mengembangkan program sains-membaca sendiri- kerja sama di antara guru sains dan guru membaca. Pendekatan itu dilaporkan terbukti sangat bermanfaat bagi guru dalam mengembangkan program-programnya sendiri-prograrn-program terpadu yang dikembangkan oleh guru dan didokumentasikan oleh peneliti.

Pemaduan membaca dengan sains itu memang masuk akal berdasarkan politik dan penelitian, terutama dalam masa-masa ketika membaca dan matematika sedang merajai begitu banyak kurikulum sekolah dasar dewasa ini. Pemaduan membaca dengan sains juga menyediakan lebih banyak kesempatan bagi guru untuk mengejar tujuan profesinya, yaitu mengantarkan program sains yang terbaik bagi para siswa. Mari kita kaji beberapa ciri dari ketiga program sains-membaca yang telah berhasil itu.

Pertama, tampaknya butuh waktu beberapa tahun usaha, kebulatan tekad, dan kesabaran dari para guru, pengelola sekolah dan orang tua yang kooperatif, dan sedikit stimulus dari luar bagi program-program itu untuk bisa menyulut dan membangkitkan semangat para guru agar mau bekerja sama secara produktif. Semangat para guru juga sering terbangkitkan ketika pilihan-pilihan mengajar diserahkan kepada diskresi mereka alih-alih didiktekan oleh pengelola sekolah atau peneliti. Kompromi politis tentu saja diperlukan dalam memulai proyek baru semacam itu.

Guru-guru yang mengembangkan program-program itu berfokus kepada membangkitkan motivasi siswa-berusaha mengarahkan agar timbul keinginan siswa untuk belajar, menyelesaikan masalah, menangani isu-isu sulit yang menantang, dan bekerja dengan kooperatif. Secara teoretis, gabungan semua itu merupakan rumus untuk meningkatkan keberhasilan akademis dan kemandirian pembelajar.

Kedua, bukti yang diperoleh dari penelitian pilihan yang dilangsungkan selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa masuknya kegiatan menulis ke tiap-tiap program terpadu itu membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan belajar cara menyelidiki dunia fisik. Siswa perlu mengekspresikan diri secara verbal melalui menulis, yang tampaknya semakin memperjelas pemahaman mereka akan bacaan, salah satu unsur yang umum dalam pendekatan-pendekatan bahasa seutuhnya (whole-language approaches) untuk pendidikan pemberantasan buta aksara. Meskipun demikian, guru masih perlu menyediakan pelajaran yang eksplisit tentang cara melakukan inquiry dan cara membaca, mencontohkan cara mereka sebagai guru dalam menangani masalah dan mendukung siswa, seiring berjalannya waktu mengurangi dukungan yang disediakan bagi siswa, dan mengarahkan siswa agar lambat-laun semakin mandiri dalam bekerja.

Ketiga, dalam program-program yang berjalan dengan baik, siswa seringkali membentuk proyek kelompok kooperatif. Mereka diberikan pilihan-pilihan belajar, penting, dan autentik. Proyek-proyek tersebut bisa menjadi sangat bermanfaat sebab memotivasi siswa untuk bertukar pikiran, menerapkan strategi-strategi pencarian bacaan, merencanakan tujuan-tujuan belajar yang mudah dicapai, merasakan pengalaman dalam menyelesaikan masalah, dan menghubungkan pengetahuan latar belakang yang dimiliki dengan pengetahuan sains yang baru didapatkan. Tentu saja, kehidupan ilmiah bagi siswa sekolah dasar pun membutuhkan usaha, bukan hanya mengerjakan proyek-proyek menarik saja. Siswa harus mengerti bahwa proses belajar tidak selalu menyenangkan, dan siswa perlu tahu bagaimana caranya bekerja dengan giat, belajar secara mandiri, dan mencapai kemajuan dalam sains dan membaca.

Keempat, siswa-siswa yang berprestasi sering melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan praktik (hands-on activities), menghubungkan hasil penelitian dalam arti konkret dengan proses belajar mereka yang lebih abstrak melalui membaca buku-buku edisi standar (trade books) dan bahan lainnya. Tampaknya, kunci keberhasilannya bukan dengan meluangkan banyak waktu hanya untuk melakukan kegiatan-kegiatan praktik saja. Alih-alih, kegiatan-kegiatan tambahan dengan bimbingan gurulah -yang melibatkan proses-proses inquiry sains seperti mengamati, melakukan percobaan, dan menarik kesimpulan yang akan menyediakan dasar untuk mengangkat informasi yang masih asing bagi siswa mengenai masalah-masalah dan isu-isu berbasis sains. Kegiatan-kegiatan tersebut tampaknya mampu memotivasi siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jarang dijumpai pada program sains dan membaca tradisional. Pelajaran-pelajaran yang membangkitkan motivasi menunjukkan bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar mampu mengatasi hambatan-hambatan akademisnya dan mulai memperlihatkan perilaku yang menyerupai siswa-siswa yang tampak cerdas, tahu banyak hal, datang dari keluarga-keluarga “hebat”, dan bergaul dengan orang-orang berpengetahuan luas.

Kelima, siswa-siswa tersebut belajar tentang membaca komprehensif, memantau progres belajarnya, menetapkan tujuan, menentukan pilihan-pilihan yang produktif, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mendiskusikan pengamatan, serta membaca dan menulis tentang topik-topik bersama teman sebaya. Mereka juga butuh pelajaran membaca yang eksplisit dan sistematis, terutama kesadaran fonemik dan pelajaran komprehensi yang berhubungan dengan teks-teks informasi seperti yang biasa ditemukan pada pelajaran ilmu-ilmu sosial, matematika, dan sains. Guru-guru mata pelajaran tersebut bekerja sama dengan para peneliti dan menemukan bahwa pengembangan strategi-strategi belajar pada diri anak-anak butuh upaya yang sangat tekun selama bertahun-tahun untuk bisa tertanam dan berkembang, seringkali dengan memasukkan beberapa strategi membaca sekaligus.

MEMBACA DI SEKOLAH MENENGAH

Mengatasi Masalah Membaca Komprehensif

Siswa pada semua jenjang pendidikan sekolah yang tidak mampu memahami teks cetak ketika dihadapkan dengan gagasan-gagasan menantang tentang sains akan mengalami masalah besar -secara akademis, pekerjaan, dan sosial.

Masalah

Tidak banyak guru sains di tingkat kelas sekolah menengah yang dengan keliru mengasumsikan siswa mampu mengatasi ragam luas kata-kata dan memahami teks-teks informasi yang disajikan dalam buku-buku teks sekolah dan bahan lainnya. Kebanyakan guru lain bersikap realistis dan skeptis akan kemampuan siswa membaca komprehensif.

Bukti menunjukkan bahwa sekitar 60 persen siswa SMP pada dasarnya bisa membaca tetapi kebanyakan mengalami kesulitan memahami dan mengingat apa yang telah dibaca, menurut data yang dilaporkan Nation’s Report Card National Assessment of Education Progress (NAEP, 2003) serta analisis Alliance for Excellent Education (2004). Mereka menyimpulkan bahwa kebanyakan siswa bukan pembaca yang ‘mahir’ (“proficient” readers), mahir dalam arti “‘prestasi akademis yang tetap’ sesuai tingkat kelas yang dinilai (‘solid academic performance for the assessed grade)” (Alliance for Excellent Education, 2004: 7). Berita baiknya ialah banyak siswa tersebut yang mampu mengenali banyak kata dan membaca pada tingkat yang disebut sebagai tingkat kemampuan dasar -“penguasaan parsial pengetahuan dan keterampilan prasyarat”. Artinya, selama bertahun-tahun di sekolah dasar siswa-siswa itu belajar cara membaca prosa sederhana, tetapi dari sudut pandang yang optimistis pun, hanya sepertiga dari siswa-siswa kelas delapan yang mampu membaca dan memahami teks informasi dengan mahir. Siswa-siswa dengan tingkat kemampuan dasar tidak mampu menghubungkan informasi cetak di depannya dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya -pengetahuan latar belakang yang penting- yang dibutuhkan untuk memahami topik yang sedang dibaca. Selain itu, siswa-siswa yang mengalami kesulitan itu tidak mampu memindahkan bacaannya ke situasi atau konteks yang sedikit baru dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan bergaya aplikasi sederhana -pertanyaan-pertanyaan di luar kepala, pertanyaan-pertanyaan bergaya hafalan. Bahkan, banyak mahasiswa yang membaca buku teks merasa sangat kesulitan dalam memahami bahan bacaannya.

Berita buruk selanjutnya ialah guru-guru sains di sekolah menengah tidak menyediakan jam belajar di kelas untuk mengajarkan siswa cara memahami informasi dari buku teks dan bahan bacaan lainnya. Guru-guru ilmu bahasa, terrnasuk guru membaca, butuh bantuan guru sains, karena siswa harus belajar cara memahami buku teks sains di bawah pengawasan seorang guru yang benar-benar memahami sains yang sedang diajarkan dan atribut-atribut penting lainnya dalam pengajaran sains yang baik. Biasanya siswa dibiarkan saja sendiri dan dipaksa memikirkan sendiri cara memahami sains yang disajikan pada buku. Siswa perlu pelajaran strategi membaca yang berhasil, praktik melaksanakan strategi-strategi yang efektif, serta pengetahuan tentang kapan, mengapa, dan bagaimana menerapkan strategi-strategi membaca sambil belajar dari bahan-bahan sains cetak. Contoh, siswa yang tidak tahu alasan-alasan pentingnya strategi membaca, sering gagal menerapkannya dalam belajar.

Mengatasi Masalah

Baik pengajaran strategi di ruang kelas maupun infrastruktur pendukung di sekolah, harus kita perbaiki. Artinya, penelitian pendidikan membaca yang berfokus kepada masalah-masalah kemelekan sekolah menengah di bidang-bidang seperti pengajaran sains, merekomendasikan penguatan pelajaran membaca komprehensif yang terlekat pada lingkungan sekolah yang mendukung, sesuai dengan laporan penting yang baru yang dikeluarkan sekelompok sarjana (Alliance for Excellent Education, 2004). Salah satu temuan utama studi mereka ialah bahwa kebanyakan siswa belum cukup siap untuk memahami bacaan berbasis bidang studi (content-based reading) diranah-ranah seperti sains. Komite dengan kedudukan tertinggi itu menyimpulkan bahwa mewajibkan guru-guru yang berniat agar mau melaksanakan sejumlah strategi pembelajaran mungkin sekali tidak akan membuahkan hasil apabila infrastruktur sekolah tidak diubah untuk mendukung pelaksanaan tersebut. Kesimpulan itu dibingkai dalam dua kelompok rekomendasi yang terpisah tetapi saling tergantung.

Pertama, perbaikan-perbaikan pembelajaran harus:

  • menggunakan pengajaran strategi komprehensi eksplisit dengan guru menjelaskan dan mencontohkan cara yang baik untuk membaca sebuah teks sulit alih-alih hanya mengandalkan siswa untuk mempelajari sendiri strategi-strategi itu dan berharap siswa mampu mempelajari strategi-strategi tersebut melalui metode pengajaran tidak langsung atau yang disebut metode pengajaran alami;
  • melaksanakan penanaman pelajaran ke mata pelajaran bidang studi yang ada, dengan guru sains, misalnya, benar-benar mengajarkan siswa cara memahami;
  • memanfaatkan penelitian motivasi-pencapaian dengan menegaskan bahwa siswa yang normal, misalnya, harus mau bekerja keras, gigih, dan menolak menerima alasan-alasan cacat biologis “bawaan” untuk ketidakmampuan mereka memahami teks-teks sulit;
  • menciptakan dan mempertahankan pembelajaran kelompok-kelompok kecil kooperatif yang praktis untuk memudahkan perbaikan membaca, sebab kerja sama di antara teman-teman sebaya untuk saling mendukung, ditambah dukungan dari guru; telah terbukti sangat berhasil untuk mengajarkan strategi-strategi membaca;
  • mengadakan program pembelajaran remedial bagi siswa-siswa yang mengalami kesulitan untuk menyandikan dan kekurangan pengetahuan pendahuluan yang cukup besar, atribut-atribut motivasi, fasilitas pengenalan kata, dan kefasihan komprehensi dasar, alih-alih meminta guru bidang studi membantu siswa-siswa tersebut atau berharap bahwa seiring dengan berjalannya waktu mereka akan membaik dengan “sendirinya”;
  • menyiapkan praktik bagi siswa yang terdiri dari membaca teks informasi dalam ragam yang luas di luar sekadar narasi, cerita, dan bahan cetak yang mudah;
  • menghubungkan kesempatan-kesempatan menulis dengan bacaan siswa sehingga siswa belajar pentingnya membuat rencana, membuat draf, dan merevisi produk-produk tulisan panjang ‘yang’ berdasarkan teks bukan narasi; dan
  • mengumpulkan data secara teratur tentang progres siswa dan mengidentifikasi masalah-masalah khusus sehingga dapat disusun langkah-Iangkah korektif untuk upaya pembelajaran di masa datang demi memudahkan siswa membaca komprehensif.

Kedua, komite sarjana berkedudukan tinggi tadi menyimpulkan, intervensi-intervensi pembelajaran tersebut tidak banyak berguna apabila infrastruktur sekolah-sekolah tidak dimodifikasi secara memadai, yang mencakup hal-hal berikut ini:

  • menambah jam pelajaran sains yang disediakan untuk pelajaran membaca,
  • mengumpulkan data untuk menilai progres siswa, yang sangat berguna dalam memahami masalah-masalah siswa individual;
  • mengoordinasikan pelajaran dengan mengadakan kerja sama secara teratur di antara tim-tim guru setiap hari;
  • mendukung para kepala sekolah yang berkomitmen dan pengelola sekolah lainnya yang bersedia menyediakan pendanaan dan dukungan terkoordinasi yang dibutuhkan para guru untuk menjalankan tugasnya, dan
  • menyusun program pembelajaran strategi komprehensi di antara mata-mata pelajaran bidang studi seperti sains dan personel sekolah lainnya.

Panel sarjana tersebut menegaskan bahwa program-program yang gagal menjalankan walaupun hanya sebagian dari rekomendasi-rekomendasi tersebut dan lainnya, tidak banyak menjanjikan keberhasilan. Dua subbab terakhir akan membahas dua masalah lain. Pertama, kita harus menemukan cara untuk meyakinkan guru-guru sains agar mau berkomitmen pada pelajaran membaca yang dilekatkan pada pelajaran mereka. Terakhir, saya akan menyajikan beberapa pikiran penutup.

FOKUS KEPADA GURU SAINS

Salah satu masalah terbesar yang kita hadapi -kata banyak pendidik membaca -ialah meyakinkan guru-guru sains SMP dan SMU agar menyediakan sedikit waktu untuk mengajarkan strategi-strategi membaca komprehensif kepada siswa yang mengalami kesulitan dengan teks sains. Mereka yang “pandai” membaca pun bisa memetik manfaat dari bantuan para guru sains. Guru sains di sekolah menengah tentu tidak dapat mengajarkan siswa cara membaca tingkat dasar sebab dibutuhkan pelatihan ekstensif untuk mengajarkan siswa di SMP dan SMU cara menyandikan kata-kata, cara mengartikan huruf-huruf simbolis, dan menyediakan bentuk-bentuk pengajaran perbaikan (remedial instruction) lainnya bagi bukan pembaca (non-readers). Selain itu, pengajaran-pengajaran seperti itu membutuhkan bimbingan selama bertahun-tahun dari ahli profesi terlatih yang memiliki spesialisasi di bidang penanganan masalah-masalah kemelekan aksara yang berat.

Meskipun demikian, mengapa biasanya guru-guru tidak menyediakan waktu, walaupun sedikit, untuk mengajarkan pelajaran strategi komprehensi di kelas sains masing-masing? Hal itu masih menjadi masalah besar yang jarang sekali disebutkan dan tidak cukup diperhatikan dengan serius. Namun, jika kita analisis masalahnya, barangkali kita bisa memulai dengan membuat beberapa hipotesis yang mengarah ke cara-cara yang berarti untuk memasukkan pelajaran strategi membaca komprehensif. Maka, inilah beberapa hal yang mungkin menjadi alasan untuk tidak mengajarkan strategi-strategi komprehensi yang pernah saya dengar dari peberapa orang praktisi guru sains; Dalam satu pengertian, masing-masing alasan memang rasional, bisa dimengerti, dan mencerminkan tantangan-tantangan dalam mengajarkan sains di sekolah dewasa ini.

  1. Jumlah muatan sains yang harus diajarkan di kelas dewasa ini tidak memungkinkan jam pelajaran tambahan dialihkan untuk mengajarkan strategi-strategi membaca.
  2. Bukti berbasis penelitian yang ada belum memadai untuk mendukung bahwa di antara program-program pelajaran strategi membaca berbasis penelitian yang ditawarkan, ada yang berhasil dalam kondisi-kondisi kelas khusus. Kami hanya memiliki bukti subjektif yang tidak meyakinkan dan beberapa hipotesis tanpa bukti berbasis data tambahan yang dikumpulkan dalam kondisi-kondisi pengajaran sains yang realistis.
  3. Guru perlu meluangkan waktu yang berharga untuk melibatkan siswa dalam aktivitas hands-on berorientasi inquiry, termasuk upaya-upaya berbasis proyek yang harus menggantikan pertimbangan-pertimbangan pelajaran membaca yang serius.
  4. Guru sangat didorong agar menyiapkan siswa untuk menghadapi penilaian ujian berbasis standar, berisiko tinggi, di akhir tahun, sehingga tidak banyak waktu tersisa untuk mengikutsertakan siswa dalam pelajaran strategi membaca.
  5. National Science Education Standards (National Research Council, 1996) hampir tidak menyebutkan apa pun tentang guru-guru yang menyediakan waktu khusus untuk mengajarkan siswa cara membaca dan memahami (secara khusus) informasi yang tersaji di dalam buku teks siswa atau bahan bacaan lainnya.
  6. Tampaknya guru lebih menyukai kesempatan untuk menerangkan dan menjelaskan makna-makna konsep sains melalui ceramah dan diskusi bersama siswa daripada berasumsi dengan alasan yang bagus bahwa sesungguhnya siswa mampu belajar banyak dari bahan dalam buku teks (Bukti yang ada meuunjukkan bahwa kebanyakan guru cukup baik dalam menjelaskan konsep-konsep sains kepada siswa mereka.
  7. Biasanya siswalah yang mendorong guru agar menjelaskan muatan sains di kelas, berlawanan dengan mendorong guru agar memberikan bagian-bagian dari buku teks yang sulit atau bacaan lainnya sebagai tugas
  8. Pengajaran strategi-strategi membaca komprehensif mungkin tidak akan mendapat sambutan baik dari para siswa, barangkali karena menyebabkan penambahan waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalah manajemen yang tidak disukai di dalam ruang kelas.

PENUTUP

Sebagai rujukan yang barangkali paling sering dikutip di tingkat nasional dalam pendidikan sains selama dasawarsa terakhir, National Science Education Standards (National Research Council, 1996) hampir tidak pernah secara langsung menyebutkan pentingnya membaca dalam pendidikan sains. Barangkali komentar paling langsung, yang diambil dari halaman 22, menyatakan, “Scientific literacy entails being able to read with understanding articles about science in the popular press” (Kemelekan ilmiah mengharuskan adanya kemampuan membaca disertai memahami artikel-artikel tentang sains di media cetak populer)”. Meskipun demikian, tampaknya banyak pengetahuan ilmiah ilmuwan profesional dan orang awam yang melek secara ilmiah diperoleh dari membaca. Orang-orang berpengetahuan itu sangat tergantung pada kemampuan membaca dan melaksanakan strategi-strategi membaca komprehensif yang dibutuhkan untuk memahami aneka teks informasi yang menjelaskan banyak topik; termasuk konsep ilmiah dan strategi penyelesaian masalah. Akan tetapi, hal itu tidak dapat disimpulkan hanya dengan membaca buku Standards di atas dan mendengarkan para pendidik sains.

Para peneliti pendidikan sains dan praktisi guru di semua tingkat pendidikan sekolah menghadapi pekerjaan yang amat sulit bila ingin mengatasi masalah-masalah membaca yang terbukti telah diderita oleh lebih dari sepertiga siswa kelas delapan. Kita harus buktikan kepada para ahli profesi yang penuh pengabdian itu bahwa memang ada masalah yang relevan dan mendesak. Namun, bagaimana caranya?

Bagaimana kita bisa mendapatkan komitmen serius dari para pendidik sains dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan pelajaran strategi-strategi membaca?

Saya mendorong orang-orang yang berminat mencari tahu (lebih banyak tentang temuan-temuan berbasis penelitian terkait praktik agar membaca tiga buku berikut ini sesuai urutan yang disajikan:

Buku populer karya Michael Pressley terbitan tahun 2002, Reading Instruction That Works, yang berfokus pada masalah-masalah membaca dasar dan motivasi terkait yang teridentifikasi pada sekolah sistem pendidikan 12 tahun (K-12) dan masalah-masalah membaca komprehensif.

Bab-bab yang banyak mendapat sambutan dalam Adolescent Literacy Research and Practice suntingan Jetton dan Dale (2004) yang terutama berfokus kepada masalah-masalah membaca yang ditemukan di kalangan siswa-siswa yang terdaftar di sekolah menengah.

Bab-bab yang banyak mendapat sambutan keluaran National Science Teachers Association (NSTA) dan International Reading Association (IRA) dalam Crossing Borders in Literacy and Science Instruction suntingan Wendy Saul (2004) yang berfokus kepada sudut-sudut pandang secara ilmiah tentang kemelekan aksara dan pengajaran sains.

 

Leave a Reply

Close Menu