MEMAHAMI KEAGENAN DALAM PENDIDIKAN SAINS

MEMAHAMI KEAGENAN DALAM PENDIDIKAN SAINS

Serial Pembelajaran Sains: Angela Calabrese Barton dan Purvi Vora

PENGANTAR: KISAH KOBE

Tujuh tahun lampau, saya mulai mengenal Kobe, laki-laki 16 tahun, warga Amerika keturunan Afrika, melalui sebuah program usai sekolah tempat anak-anak muda belajar sains dengan mengubah sebuah kota yang ditinggalkan orang menjadi taman urban.

Kobe sudah lama hidup di penampungan tunawisma bersama ibu dan adik-adik kandungnya di New York City. Kisah Kobe menarik karena tergantung pada aspek mana yang Anda telaah dari kehidupan Kobe, Anda akan melihat orang yang berbeda. Jika Anda lihat Kobe dari bahasa standar sekolah, Anda akan melihat seorang pemuda yang gagal dalam sains (dan pelajaran-pelajaran lain), lebih berminat kepada olahraga dan geng daripada urusan akademis) dan pada akhirnya putus sekolah. Meski mengungkapkan hasrat yang sungguh-sungguh akan suatu hari kelak menjadi “kaya” dan berhasil masuk NBA atau NFL, Kobe tidak bisa berpartisipasi dalam tim olahraga sekolah karena nilai-nilainya yang rendah. Jika Anda lihat Kobe dari kacamata saat kami mengenalnya, Anda akan bertemu anak muda yang tengah berjuang membantu keluarganya untuk bertahan hidup, bersikap kritis terhadap upaya-upaya luar untuk “membantu” komunitasnya dengan cara-cara yang tidak memperhatikan realitas komunitasnya, dan ikut serta dalam sains yang mau menghargai identitas dan konteksnya. Selama ibunya tidak ada, Kobe menjadi pengasuh utama adik-adiknya. Tanggung jawab itulah yang membuatnya kerap mangkir dari sekolah. Kobe menjunjung tinggi afiliasi dengan gengnya karena geng itu menawarkan dukungan finansial dan kebersamaan, dua hal yang tidak diperolehnya di sekolah.

Ketika proyek transformasi bedeng dimulai, Kobe menolak terlibat. Kepada teman-temannya yang sudah terlibat, dia beralasan, upaya mereka akan sia-sia karena perubahan apapun yang mereka lakukan petak bedeng itu akan dihapus lagi oleh aktivitas geng dan vandalisme. Kobe terutama khawatir bahwa kalaupun bisa mencegah vandalisasi, mereka tidak punya kepakaran yang dibutuhkan untuk menjadikan bedeng itu taman bermain yang aman bagi anak-anak kecil.

Namun, akhirnya Kobe benar-benar terlibat dalam proyek bedeng tersebut. Keterlibatannya luar biasa. Mula-mula keterlibatan Kobe karena dia berpartisipasi dalam dokumentasi video proyek. Kobe memang tertarik kepada teknologi, ingin bisa menggunakan perlengkapan canggih, dan mendapat keluwesan proyek dokumentasi lebih cocok dengan jadwal kesibukannya yang tidak tentu. Lalu, Kobe ikut terlibat “hari kerja bakti” (komunitas diajak bekerja bakti menggarap proyek tersebut pada setiap hari Sabtu), yang menawarkan bantuan baginya berupa hidangan makan siang dan penitipan anak gratis. Melalui aktivitas-aktivitas kecil itu, Kobe menjadi bagian dari kelompok remaja yang mengerjakan proyek, dan akhirnya memegang peranan yang lebih penting dalam semua aktivitas proyek tersebut.

Partisipasi dalam proyek menggambarkan perubahan besar bagi Kobe. Meski semula didasari hasrat untuk memperoleh akses ke teknologi, penitipan anak, dan makanan, partisipasi itu juga bermula pada hasrat Kobe untuk melihat terjadinya perubahan yang nyata di lingkungan dekatnya yang telah diabaikan oleh kota. Namun, agar berhasil dengan baik, Kobe harus mengatasi hasrat-hasratnya itu demi belajar gagasan dan keterampilan sains yang baru. Setiap langkah baru dalam proyek mengharuskan anak-anak mudanya belajar sesuatu yang baru dalam sains. Kobe pun harus belajar cara mengenali pertanyaan-pertanyaan dan konsep-konsep bersifat penelitian yang memungkinkan mereka mengubah kritik menjadi rencana tindakan yang nyata. Kobe harus belajar cara merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah, misalnya, dokumentasi keadaan bedeng dan penentuan aktivitas pembersihan lahan yang tepat jika ingin taman tumbuh dengan subur. Kobe harus belajar teknologi dan matematika untuk memperbaiki penyelidikan (misalnya, masalah skala, pengukuran, dan pembuatan model). Kobe butuh merumuskan dan merevisi penjelasan-penjelasan ilmiah serta belajar menimbang bobot bukti untuk mengambil keputusan yang masuk akal. Terakhir, Kobe harus belajar cara mengomunikasikan secara efektif urusan-urusan kelompok beserta temuan-temuannya kepada komunitas yang lebih besar untuk memperoleh dukungan finansial dan meningkatkan partisipasi komunitas.

Partisipasi Kobe telah mengubah kepercayaannya tentang kiprah hidupnya: Kobe mulai percaya bahwa dirinya mampu memiliki karier pendukung di bidang sains seandainya cita-cita bertanding di NBA tidak tercapai. Kobe memilih kembali bersekolah untuk belajar lebih banyak sains dah meraih ijazah SMU untuk mewujudkan pilihan kariernya itu. Perubahan itulah yang paling besar sebab menunjukkan bahwa visi Kobe tentang siapa dirinya dan apa yang bisa dicapainya sudah berkembang melalui pengalamannya tadi dengan cara yang cukup memberinya keyakinan diri untuk kembali kesekolah -tempat yang semula menurutnya terkesan menjaga jarak dan enggan memberikan dukungan.

BELAJAR DARI KOBE TENTANG PENTINGNYA KEAGENAN

Dari kisah Kobe, kami tertarik pada kinerja anak muda untuk membawa perubahan dalam hidupnya -atau, bagaimana anak muda menciptakan rasa keagenan. Selama dasawarsa yang lampau, kami sudah bekerja dengan anak muda urban guna lebih memahami awal keterlibatan mereka dalam sains baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Fokus utama kami adalah “bagaimana dan mengapa” anak muda terlibat dalam sains, tetapi seiring waktu kami mulai menyadari bahwa banyak peranan dalam keterlibatan sengaja pemuda ternyata berhubungan dengan keagenan mereka.

Namun, apa itu keagenan (agency)? Banyak dari kita -guru, peneliti, orang tua, dan siswa- sering bicara tentang betapa pentingnya bagi siswa untuk merasa berdaya di sekolah dan di dalam sains. Kita juga berbicara tentang pentingnya siswa memiliki kesempatan untuk mengontrol hidup dan belajar sains.

Mungkin kita semua sepakat bahwa keagenan itu penting, tetapi pernahaman yang jelas tentang cara siswa belajar mengembangkan rasa keagenan atau mengembangkan keagenan yang sudah dimiliki, belum kita kuasai. Selain itu, mungkin kita juga tidak mampu melihat atau memahami kapan siswa tengah berusaha mengungkapkan keagenan, mencampuradukkan upaya mereka untuk meningkatkan kontrol atas kehidupan sainsnya.

Secara umum, keagenan manusia (human agency) paling tepat diterangkan sebagai individu atau kelompok yang menindaklanjuti, memodifikasi, dan/ atau memberikan makna penting bagi dunia dengan cara-cara yang terarah, dengan maksud membentuk, memberikan dampak, dan/atau mengubah diri mereka sendirii dan/atau kondisi-kondisi kehidupan mereka. Dan untuk mewujudkannya, individu secara kreatif menyesuaikan sumber-sumber daya yang dapat digunakan untuk menghasilkan tindakan dan keberadaan yang baru di dalam konteks apa pun yang akan dihadapinya.

Akan tetapi, apa sesungguhnya arti pandangan keagenan itu? Bagaimanakah caranya anak muda menggunakan konteks-konteks belajar sains untuk menindaklanjuti atau memberikan makna penting bagi dunianya dengan cara yang memungkinkannya mengubah dunia-dunia itu? Dan ketika berbicara tentang keagenan dalam pendidikan sains, kita juga bertanya, bagaimanakah pentingnya sains itu?

Kisah kobe menunjukkan kepada kita bahwa proyek bedeng itu tercetus sebagai respons terhadap kritik anak muda tentang lingkungan sekitarnya serta kurangnya perhatian atau kepedulian kota terhadap lingkungan mereka. Proyek itu sangat berhasil sebab secara strategis dan kreatif anak-anak muda itu memanfaatkan ragam luas sumber daya yang melibatkan komunitas untuk mengerjakan sains yang menjadikan komunitas tersebut sebagai tempat yang indah dan aman untuk bermain. Contoh, sejumlah tempat telah ditetapkan Kobe dan teman-teman seumurnya sebagai tempat berlangsungnya proyek perbaikan bedeng tersebut: rapat-rapat usai jam sekolah untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan sains; hari kerja bakti di akhir pekan yang bertujuan untuk bersih-bersih menyeluruh, penanaman, dan melibatkan komunitas; dokumenter/video yang merekam segala tindakan, penyelidikan, dan data yang terkumpul. Dalam proses itu, Kobe dan teman-temannya jelas menjadi pemangku kepentingan (stakeholders), yang bertindak baik sebagai agen maupun subjek dalam proses itu.

Namun, kasus Kobe bisa saja tanpa batas sebab skalanya sangat besar dan terjadi pada konteks Iuar sekolah. Salah satu pertanyaan yang kami ajukan kepada diri kami sendiri ialah dengan cara bagaimana para siswa mengembangkan rasa keagenan di dalam konteks sains sekolah, barangkali untuk topik yang lebih bersifat keseharian alih-alih berganti lingkungan?

QUACEY DAN PROYEK PAMERAN SAINS

Quacey adalah siswa kelas enam pada sebuah SMP dengan kemiskinan tinggi di Harlem yang berfokus kepada matematika dan sains. Sekolah Quacey. haru dibuka dalam rangka upaya distrik untuk mengganti sebuah sekolah yang sudah empat tahun masuk daftar sekolah gagal. Quacey disukai guru-guru dan teman-temannya, meskipun kadang-kadang para siswa mengolok-olok “bibirnya yang tebal”.

Quacey sangat menghormati guru sainsnya. Anak itu percaya, Ibu Guru cerdas dan penuh perhatian. Quacey memperhatikan gurunya bekerja keras agar pelajarannya terasa menyenangkan dan disimak siswa. Beliau berusaha keras membantu siswa-siswanya belajar sains sebanyak-banyaknya. Sebagaimana banyak anak seumurnya, Quacey percaya guru sainsnya “tidak pernah salah”. Ketika didesak pun dia tidak ingat gurunya tidak tahu jawaban untuk pertanyaan sains seorang siswa walau hanya sekali. Quacey percaya dia tidak boleh membantah gurunya, terutama jika sudah berhubungan dengan gagasan-gagasan sains. Hal itu adalah bagian dari menghormati beliau tetapi juga bagian dari kepercayaan Quacey bahwa beliau “mengerti sains”. Quacey bekerja keras dalam pelajaran sains demi memenuhi ekspektasi ibu gurunya dan menyenangkan beliau, yang tidak selalu mudah, mengingat tekanan dari teman sebayanya.

Quacey juga suka merakit. Ayah dan abangnya adalah pekerja kontruksi, dalam waktu luangnya, Quacey bermain dengan obeng dan motor pengerak, juga menarik mobil. Quacey juga fasih berbicara tentang sians di balik benda-benda rakitannya, dengan menggunakan pengetahuan eksperiensialnya untuk menjelaskan cara kerja benda “motor (mobile), eh di dalamnya ada magnet. . . [Di] sekitarnya di kelilingi logam dan punya magnet dan ada benda ini di dalamnya”.

Sebagai bagian dari syarat-syarat distrik, guru sains Quacey harus mengupayakan murid-muridnya menyelesaikan proyek yang mendemonstrasikan metode ilmiah dan menyajikan temuan-temuan mereka pada sebuah papan poster. Aturan di distrik mereka ialah siswa diwajibkan melaporkan temuan-temuan mereka secara tertulis ke sebuah laboratorium yang dirancang sebagai bagian dari pelajaran regular di ruang kelas. Jadi, kendati penyelidikannya dikerjakan sendiri, tidak banyak otonomi yang dimiliki siswa dalam perancangan proyek. Selain itu, meskipun diwajibkan menyelesaikan proyek demonstrasi, siswa di distrik tersebut tidak diharuskan memamerkan proyek mereka di tingkat sekolah atau di tingkat distrik.

Dalam kolaborasi dengan dua guru sains lain di sekolah itu, guru Quacey, Bu R., memutuskan para siswa akan menyiapkan proyek pameran sains untuk memerluhi kebutuhan-kebutuhan Proyek Eksposisi Distrik dan mengumumkan hasil karya mereka kepada sekolah dan komunitas sekitarnya. Selanjutnya, Bu R. memutuskan bahwa inti proyek pameran sains itu adalah sebuah percobaan: tiap-tiap siswa akan melakukan penyelidikan sendiri dan menyajikannya sesuai format demonstrasi standar untuk disaksikan seluruh sekolah. Bu R. ingin siswa-siswanya memiliki proyek autentik, tetapi beliau juga ingin proyek-proyek itu memiliki struktur karena mereka belum pernah berpartisipasi dalam acara serupa itu di sekolah.

Bu R. menawarkan tiga struktur organisasi untuk mendukung siswa dalam mengembangkan proyek:

  • Daftar percobaan yang bisa dipilih sesuai penelitian siswa sendiri menjadi perobaan yang “tidak mahal”dan “sederhana”, dapat diukur, dinilai, atau d
  • Pedoman penyusunan makalah dan poster penelitian.
  • Rangkaian lembar kerja yang bertujuan membantu siswa menyelesaikan setiap tahap utama dalam penyelidikannya (misalnya, mengembangkan hipotesis, merancang percobaan, dsb. )

 

Minggu pertama diisi dengan kerja instruksi intensif/aktivitas tentang proyek-proyek siswa, lalu Bu R. menyediakan satu jam pelajaran setiap minggu selama beberapa minggu agarsetiap kelompok mendapat kesempatan untuk mengerjakan proyek masing-masing secara mandiri tetapi masih bisa memanfaatkan sumber-sumber daya milik sekolah.

Dalam minggu pertama pengerjaan di dalam kelas, Bu R. Membagikan senarai percobaan yang harus dipilih dan menyediakan waktu bagi kelompok-kelompok siswa untuk mempelajari isi senarai dan memantapkan gagasan. Bu R. juga menyediakan lembar kerja yang akan membantu siswa mengubah penelitian menjadi sebuah percobaan. Meskipun berminat dengan pameran sains itu, Quacey tidak puas dengan senarainya. Minatnya kepada penjelajahan luar angkasa sangat besar dan dia ingin merakit sesuatu. Oleh karena itu, sangat menarik bagi kami bahwa Quacey, yang sangat menyayangi gurunya dan berpendapat gurunya itu selalu benar, menolak senarai itu dan mengusulkan untuk merakit roket angkasa luar, sebuah gagasan ditambah perbaikan yang akhirnya disetujui oleh gurunya.

Bagaimana Quacey bisa memilih sesuatu di luar senarai yang sudah disetujui, dan mengapa hal itu penting? Ketika kami meneliti lebih jauh apa yang telah terjadi selama persiapan proyek pameran sains, kami menyadari bahwa Quacey secara strategis telah menyesuaikan sumber-sumber daya yang bisa digunakannya untuk meyakinkan gurunya agar membolehkan Quacey memilih topik lain di luar senarai.

Sangat menarik bagi kami, bukan hanya sumbel-sumber daya “apa” yang digunakan Quacey tetapi juga “bagaimana” kelompoknya secara strategis menyatukan sumber-sumber daya itu menjadi sesuatu yang sudah dimengerti atau dipikirkan Quacey. Terutama, kami perhatikan ada dua strategi penting: menggunakan tugas-tugas untuk mendefinisikan kembali ruang kerja mereka, serta merundingkan dan memprioritaskan sumber-sumber daya yang bisa mereka gunakan. Kedua nilai tambah itu kami diskusikan bersama-sama sebab keduanya saling terkait.

Pertama-tama Quacey mengusahakan persetujuan untuk topik mereka dengan menyesuaikan tugas dengan minatnya dan menggunakan ekspektasi tentang dunia yang digambarkan kelasnya untuk mendukung gagasan dan minat mereka. Contoh, dalam menyajikan topik merakit Roket Angkasa Luar Mars Rover sebagai proyeknya, baikdalam format tertulis maupun lisan, Quacey secara strategis menggunakan sumber-sumber daya yang disetujui sekolah untuk itu. Quacey mendemonstrasikan hubungan dengan sebuah topik yang sebelumnya pernah dipelajaridi dalam kelas untuk mendukung persetujuan bagi topiknya dan membuktikan topiknya itu memang layak dan ilmiah. Dalam diskusi-diskusi bersama guru, Quacey merujuk Rover Mars yang sebelumnya menjadi bahan pelajaran di kelasnya. Topik itu sempat dipelajari sebentar beberapa bulan sebelumnya dalam perjumpaan Rover -kendaraan kecil yang digunakan untuk menjelajahi permukaan bulan atau planet- NASA dengan Mars. Quacey juga menyajikan bukti tertulis sumber-sumber informasi ilmiah yang bisa digunakannya (artinya, situs web milik NASA dan buku-buku sains), serta memperlihatkan pengetahuan akan gagasan-gagasan utama sains yang terlibat (misalnya, tekanan dan dorongan awal yang mengangkat roket dari permukaan tanah, H2 sebagai bahan bakar, dan kelistrikan). Quacey juga membingkai proyek perakitannya sebagai sebuah percobaan membuat rancangan, dengan menyertakan hipotesis, “Hipotesis saya ialah percobaan saya, bahwa roket angkasa luar saya akan mampu bervibrasi dan menyemburkan api dan baling-balingnya bisa berputar. ”

Meskipun menerima gagasan Quacey dengan bersyarat, guru bersikap tegas dalam keputusannya bahwa proyek Quacey harus “lebih eksperimental” bahwa Quacey harus bisa membuktikan roketnya adalah suatu keberhasilan atau kegagalan. Sebagai akibatnya, Quacey dan timnya harus terus-menerus merundingkan aspek-aspek proyek mereka agar dukungan dari guru mereka tetap terjaga (artinya, bagaimana cara membingkai proyek itu sebagai sebuah percobaan) sambil tetap berpegang kepada dimensi-dimensi proyek: yang paling penting bagi mereka {artinya, merakit sesuatu}. Quacey menyesuaikan dua saran utama gurunya: merujuk kepada roketnya sebagai sebuah “model”, dan memodifikasi protokol agar mencakup banyak tes untuk menyediakan data yang dapat dihitung. Quacey dan timnya juga mengerjakan rancangan dua model lain untuk membandingkan data.

Hasil dari perundingan-perundingan strategis itu, Quacey mampu mempertahankan merakit sebagai penekanan proyeknya sekaligus belajar melihat merakit sebagai proses merancang dan bereksperimen. Quacey mampu mempertahankan kedua identitasnya sekaligus -identitas sebagai perakit dan identitas sebagai seorang pelajar sains yang baik. Melalui aktivitas merakit, Quacey bisa memperoleh pembenaran untuk upaya-upayanya mempergunakan sumber-sumber daya berbasis non sekolah untuk menyelesaikan proyek-kepakaran orang tuanya dalam membuat rakitan dan menggunakan internet, pandangan-pandangan orang tua terhadap aspek-aspek sains yang penting, pengalaman-pengalaman pribadi dalam membuat rakitan, serta aliansi-aliansi sosial untuk melibatkan aneka bentuk kepakaran individual (artinya, kelompok itu berkembang menjadi empat orang siswa: salah seorang dari mereka adalah seniman yang akan mengkreasikan sketsa-sketsa model terakhir, Quacey ada lah perakit utama, sedangkan dua siswa lainnya menjadi peneliti dan penulis)”

PENUTUP: APA YANG KITA PELAJARI TENTANG KEAGENAN DARI QUACEY DAN KOBE?

Kedua cerita tadi merupakan contoh bagus keagenan sebab menunjukkan penggunaan sumber-sumber daya yang bisa diperoleh anak muda untuk membawa perubahan -entah perubahan itu besar, seperti mengubah bedeng menjadi taman komunitas, atau kecil saja, misalnya, mengganti topik seseorang untuk proyek pameran sains. Kedua cerita tersebut juga menyoroti empat kualitas atau dimensi utama keagenan.

Pertama, keduanya menunjukkan keagenan bukan sesuatu yang bisa dirunut asalnya pada orang per orang melainkan merupakan ekspresi dan proses yang berubah dari waktu ke waktu. Artinya, baik Kobe maupun Quacey tidak memiliki juga. tidak kehilangan keagenan. Contoh, Kobe mulai belajar cara mengekspresikan keagenannya dalam proyek bedeng setelah belajar lebih banyak tentang cara mengubah bedeng menjadi taman dan cara mendapatkan sumber-sumber daya yang penting untuk itu. Akan tetapi, meskipun pemahaman Kobe tentang keagenan berhasil meningkat berkat proyek bedeng tersebut, keagenan itu belum berhasil dipindahkan ke dalam lingkungan sains di sekolahnya, tempat Kobe masih berjuang untuk meraih keberhasilan.

Kedua, kedua cerita tadi menunjukkan bahwa keagenan didasarkan pada aktivitas sengaja (intentional activity). Artinya, pemanfaatan strategis sumber-sumber daya oleh para siswa itu didasari oleh kesadaran yang sangat penting akan situasi mereka (yaitu kebutuhan akan tempat yang aman untuk bermain, serta keinginan membuat rakitan yang dihormati di dalam pelajaran sains), keinginan untuk menegaskan tujuan mereka menjadi tindakan terhadap kesadaran itu, serta keharusan untuk mematahkan ekspektasi dan stereotip yang mendominasi pengalaman mereka.

Ketiga, dalam menjalankan aktivitas-aktivitas yang sengaja tersebut, siswa secara aktif memosisikan diri sebagai pencipta, pihak yang mengetahui dan cakap (capable knowers), dan individu yang berhak memperoleh posisi memegang kuasa. Sebagai pencipta konteks mereka sendiri, siswa dengan kreatif menggunakan sumber-sumber daya untuk mematahkan pola-pola normatif. Quacey berusaha menjaga identitasnya sebagai perakit sekaligus sebagai pelajar sains yang baik. Begitu pula, Kobe yang menjadi anggota geng dan gagal di sekolah, menjadi pemimpin pada proyek pengubahan bedeng. Sebagai pihak yang mengetahui dan cakap serta aktif mengerjakan sains, mereka menjalani kembali pengalaman untuk melegitimasi pengetahuan dan posisi mereka. Pengalaman Kobe sebagai pengasuh utama di rumah turut memegang peranan dalam mengembangkan kriteria yang penting bagi pengembangan bedeng. Begitu pula, pengetahuan Quacey di rumah tentang rakitan menjadi inti yang penting bagi rancangan proyeknya. Sebagai individu yang memiliki kuasa, mereka menjadi baik agen maupun subjek perubahan: artinya, Kobe dan Quacey menjadi pemangku kepentingan utama (primary stakeholders) alih-alih partisipan pasif yang memberikan makna penting bagi aktivitas itu.

Keempat, kedua cerita tadi menunjukkan bahwa sains memegang peranan penting dalam melayani baik sebagai alat maupun konteks untuk membawakan perubahan. Baik Kobe maupun Quacey menggunakan sains sebagai alat perubahan untuk menyelidiki isu-isu personal dan kepentingan sosial, menjelajahi isu-isu persamaan dan keadilan, mendukung kritik, serta membuktikan dan mengargumenkan sudut pandang mereka. Sebagai konteks, Sains tidak hanya menjadi komunitas pengetahuan tempat dilegitimasikannya pengalaman Kobe dan Quacey tetapi sains itu juga sendiri juga dibolehkan untuk diubah oleh pengalaman-pengalaman itu. Artinya, “apa itu sains dahulu” sudah bergeser maknanya bagi Kobe dan Quacey sebab pengalaman mereka sudah mendapatkan makna yang baru di dalam konteks sains.

Jadi, keagenan dalam pendidikan sains adalah bagian penting dari menjadi melek secara ilmiah. Hal yang “diketahui dan bisa dikerjakan” oleh siswa dengan sains dalam hidupnya sama pentingnya dengan kemampuan siswa menggunakan pengetahuan itu untuk mengubah kondisi-kondisi kehidupannya.

Tinggalkan Balasan

Close Menu