MATA RANTAI YANG TERPUTUS (MISSING LINKS)

MATA RANTAI YANG TERPUTUS (MISSING LINKS)

Sejak awal kemunculannya, salah satu argumen utama yang menentang teori evolusi adalah bahwa perubahan apa pun yang dibayangkan oleh evolusi pada akhirnya akan menghasilkan bentuk-bentuk peralihan (transitional forms). Meskipun sedikit, jika pun ada, bentuk-bentuk peralihan itu dapat dijumpai dalam rekam fosil. Darwin menyadari bahwa rekam fosil, karena kecelakaan sejarah (kesalahan geologi, bukan biologi), sudah tentu naik turun, sehingga jarang sekali ditemukan spesies-spesies yang tak lazim (tidak lazim dalam arti keberadaannya selama beberapa waktu tertentu selama tersedia lingkungan yang sesuai) yang menurut perkiraan Darwin akan ditemukan, cepat atau lambat. Para kritikus evolusi tetap bersikukuh bahwa mata rantai itu masih tetap saja terputus. Para pendukung evolusi, di sisi lain, juga bersikeras bahwa telah ditemukan bentuk peralihan dalam jumlah yang semakin banyak, termasuk bentuk peralihan dari ikan ke (kuasi) reptil, dari reptil ke burung, dan dari kera ke manusia. Francisco Ayala, seorang evolusionis Kristen yang taat, mengungkapkan dengan jelas seperti berikut: “Jurang yang menganga dalam penyusunan kembali sejarah evolusi seluruh makhluk hidup dan merunutnya hingga nenek moyangnya kini sudah terjembatani”.

Sementara itu, ihwal evolusi manusia, ia menambahkan: “Mata rantai terputus itu kini sudah tersambung. Ribuan sisa fosil-antara (dikenal dengan sebutan hominid) sudah ditemukan sejak era Darwin, dan temuan itu semakin bertambah banyak hingga saat ini.”

Berikut adalah beberapa contoh ‘mata rantai yang terputus’, atau apa yang oleh ahli biologi lebih sering disebut bentukbentuk peralihan:

  • Arkaeopteriks (archaeopteryx) mula-mula ditemukan dalam bentuk fosil pada 1861 (dua tahun sesudah terbitnya buku Darwin, On the Origins of Species). Kontroversi atas penemuan ini lebih besar dibandingkan bukti yang diajukan, karena tidak semua orang meyakini kebenarannya sebagai bentuk peralihan antara reptil dan burung. Sejak saat itu, sedikitnya tujuh tengkorak ditemukan, dan-yang lebih penting -ditemukan pula fosil-fosil burung di Spanyol dan Cina yang ternyata berusia 30-40 juta lebih muda dari Arkaeopteriks dengan evolusi yang di luar dugaan karena lebih tinggi dibandingkan pendahulunya, misalnya, fosil-fosil tersebut memiliki tulang ekor dan cakar tangan yang pendek. Di sebelah adalah gambar fosil spesies itu dan perkiraan rupanya.
  • Tiktaalik (Tiktaalik) adalah nama yang diberikan untuk spesies yang fosilnya ditemukan di wilayah Arktik bagian selatan Kanada pada 2004. Penemuan ini dianggap sangat penting karena bentuk fosil yang ditemukan sangat mirip ikan dan juga amfibi.
  • Aetioketus (Aetiocetus) adalah bentuk peralihan antara paus darat tertua (sebelum mamalia mulai memasuki air) dan paus air saat ini. Perbedaan utamanya pada perubahan lubang hidung yang berangsur-angsur dari bagian depan hingga atas tengkorak

Dalam beberapa hal, perlu ditegaskan bahwa rekam fosil sejumlah spesies sudah cukup sempurna sebagai bekal menelusuri keseluruhan sejarahnya. Contohnya adalah spesies kuda. Rekam fosil kuda, yang berusia 50 juta tahun dan sangat banyak ditemukan di sepanjang wilayah Amerika Utara, menjadi potongan bukti observasi yang sangat penting dalam mendukung evolusi.

Banyaknya rekam fosil yang ditemukan ini menunjukkan bahwa kehidupan (dengan bentuk yang sangat sederhana) di lautan sudah dimulai lebih dari 3 miliar tahun silam. Selain itu, selama lebih dari miliaran tahun, hanya organisme sel yang terkait dengan bakterialah yang ada. Dari sudut pandang evolusi, kehidupan semacam ini cukup masuk akal, khususnya jika dikaitkan dengan informasi yang kita peroleh dari bidang-bidang lainnya (geologi dan astronomi). Menurut informasi dari bidang lain tersebut, pada awal mula sejarah terbentuknya bumi, oksigen di atmosfer jumlahnya terlalu sedikit, sehingga ozon (O3) tidak mampu menahan laju radiasi ultraviolet. Akibatnya, kehidupan tidak bisa muncul dan berkembang di daratan. Akan tetapi, bakteria dan ganggang melepaskan banyak sekali oksigen (melalui fotosintesis), sehingga situasi ini membuat lingkungan di luar lautan siap menerima kehadiran dan perkembangan kehidupan, yakni di daratan.

 

Leave a Reply

Close Menu