MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

Kebutuhan manusia untuk memenuhi hajat hidupnya memaksa setiap orang untuk meminta bantuan kepada pihak lain. Tak dapat dipungkiri, kebutuhan setiap orang lebih banyak daripada potensi dan waktu yang ada pada dirinya. Dengan demikian, suka atau tidak, manusia tidak akan bisa mengelak dari saling bekerjasama. Makin banyak kebutuhan dan makin sedikit kemampuan seorang manusia, makin besar kadar ketergantungannya terhadap orang lain. Demikian pula seharusnya manusia bersikap kepada Allah, karena manusia berada di bawah kendali dan kuasa-Nya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ۝

Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Dan Allah, Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji. (Alquran, Surah Fāṭir/35: 15)

Allah juga menyeru manusia sebagai makhluk sosial untuk saling berkenalan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۝

Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Alquran, Surah al-ujurāt/49: 13)

Ayat ini menekankan perlunya saling mengenal antarmanusia untuk saling mengambil pelajaran dan pengalaman dari pihak lain. Demikian halnya dengan pengenalan terhadap alam semesta. Makin seseorang mengenal alam semesta, makin banyak pula rahasia-rahasia alam yang ia ungkap. Pada gilirannya nanti, akan lahir kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Takut dan harapan, itulah dua hal yang mutlak harus ada dalam diri manusia. Dengan munculnya perasaan ini, keberlangsungan umat manusia menjadi nyata. Tanpa keduanya, seseorang tidak akan mau berusaha untuk mencapai cita masa depannya. Para sosiolog menyatakan bahwa takut dan harapan merupakan kebutuhan setiap manusia dalam hidupnya. Patut pula disadari bahwa keduanya berada di luar capaian indera manusia, dan sama-sama berkaitan dengan kehadiran Tuhan.

Sebagai makhluk sosial, manusia sudah selayaknya sadar akan kedudukannya di antara makhluk Tuhan yang lain. Mereka harus tahu ketersusunannya dari dua unsur, yaitu unsur duniawi dan unsur ilahiyah. Bila unsur yang disebut terakhir ini hilang, jadilah mereka binatang. Sebaliknya, jika unsur duniawi itu hilang, jadilah mereka sebagai malaikat. Unsur ilahiyah yang ada pada manusia dan membedakannya dari makhluk lain adalah roh. Allah berfirman:

 

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ۝

Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Alquran, Surah al-ijr/15: 29)

 

Roh memang belum dapat diketahui hakikatnya dengan benar. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا ۝

Dan mereka bertanya kepadamu (Muḥammad) tentang roh. Katakanlah, ”Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (al-lsrā‘/17: 85)

 

Dalam bersosialisasi, seringkali ditemukan banyak penyimpangan yang membahayakan kehidupan manusia itu sendiri. Penyakit sosial yang banyak diperbincangkan salah satunya adalah praktik homoseksual. Homoseksual, juga lesbian, sangat dilarang oleh Islam. Larangan dan ancaman yang ditujukan kepada para pelaku homoseksual ditegaskan dalam banyak ayat Alquran, di antaranya:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّنَ الْعَالَمِينَ۝  إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ۝

Dan (Kami juga telah mengutus) Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 80-81)

أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ۝  وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ۝

Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks), dan kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istri kamu? Kamu (memang) orang-orang yang melampaui batas. (Alquran, Surah asy-Syuarā‘/26: 165-166)

Praktik homoseksual yang sangat dilaknat Tuhan diekspresikan dalam banyak ayat merujuk pada perilaku kaum Nabi Luth. Islam dengan tegas melarang hubungan seksual di luar ikatan pernikahan antara pria dan wanita. Banyak pria dan wanita beralasan bahwa praktik homoseks yang mereka lakukan didorong oleh kelainan seksual yang mereka idap semenjak lahir, dan mereka tidak punya pilihan lain. Meski alasan ini dilihat dari sisi psikologis bisa diterima, namun agama tidak memberi celah sedikit pun untuk melegalkan praktik ini.

Islam menegaskan bahwa hidup adalah cobaan. Kepada orang yang terlahir miskin, buta, kerdil, cacat, dan seterusnya, Islam tetap memberinya hak yang sama dalam koridor hukum Tuhan. Islam tidak sama sekali memberi pengecualian dalam hal ini. Demikian juga kepada mereka yang dilahirkan dengan kelainan perilaku seksual; tidak ada alasan apa pun yang membenarkannya melakukan praktik homoseksual.

Beberapa negara memang telah melegalkan perkawinan sejenis. Namun pada hakikatnya, mereka tidak menikah dalam pengertian yang sebenarnya, karena setiap pasangan dalam arti sebenarnya seharusnya menghasilkan keturunan. Inilah hal yang dengan tegas dinyatakan dalam Alquran.

 

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ۝

Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah? (Alquran, Surah an-Nal/16: 72)

Perilaku seperti ini sangat tidak sehat dan cenderung memunculkan banyak varian penyakit baru. AIDS dan herpes adalah dua penyakit yang disinyalisasi muncul dari perilaku ini. Keduanya belum diketemukan pada generasi sebelumnya. Namun saat ini, keduanya sudah menyebar sedemikian rupa hampir di seluruh negara. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa ketika manusia mulai melakukan praktik seksual yang abnormal, saat itu pula muncul penyakit baru yang belum pernah dikenal sebelumnya, dan menyebar di antara umat manusia. Saat ini, banyak orang baru memahami apa yang Rasulullah maksud dalam sabda yang beliau ucapkan lebih dari 14 abad yang lalu itu.

AIDS—Acquired Immunodeficiency Syndrome—adalah penyakit yang ditimbulkan oleh virus yang melemahkan daya tahan tubuh, HIV. Daya tahan tubuh manusia terhadap berbagai penyakit diserang dan dilumpuhkan oleh virus HIV. Penderita AIDS pada umumnya tidak dapat bertahan hidup lama karena ketidakmampuan tubuhnya untuk menolak agen penyakit lain yang menyerang. Virus HIV ditularkan melalui cairan tubuh, seperti darah, cairan organ seksual, dan sejenisnya. Penularan penyakit ini melalui hubungan seksual mencapai 90%, di samping penularan dengan cara lain, seperti tranfusi darah dan pemakaian jarum suntik yang tidak steril. Sedangkan penularan dari ibu ke janin tidak terlalu besar, yaitu di bawah 10%

Allah menciptakan semuanya dalam kondisi saling berpasangan. Karenanya, perbedaan jenis kelamin tidak bisa tidak mesti mempunyai alasan. Tapi, manusia kemudian melanggarnya dengan berperilaku seksual yang abnormal. Islam berusaha keras menanggulangi praktik homoseksual, antara lain dengan:

  1. Menganjurkan pria dan wanita mengontrol nafsu seksual, salah satunya dengan menjaga diri dari pandangan yang menimbulkan syahwat dan meningkatkan nafsu seksual di luar koridor hukum Islam.

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ۝

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (Alquran, Surah an-Nūr/24: 30)

2. Menganjurkan kaum wanita untuk berpakaian wajar dan tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya di hadapan umum.

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ۝

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 31)

Itulah sebabnya mengapa wanita muslim di himbau untuk berpakaian longgar dan berbahan yang tidak transparan. Menganjurkan setiap orang tua agar mencegah putra putrinya yang menginjak dewasa untuk memasuki kawasan pribadi ayah-ibunya tanpa permisi.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ۝

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu, sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat. (Alquran, Surah an-Nūr/24: 27)

Melarang semua aktifitas provokatif, seperti pornografi, tarian, musik, serta hal lain yang membangkitkan gairah seksual. 

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ۝

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan percakapan kosong untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu  dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (Alquran, Surah Luqmān/31: 6)

Demikianlah cara Islam mencegah pornografi dan penyimpangan perilaku seksual. Bila manusia sedikit saja mau menyimak dan meresapi ayat-ayat ini, pastilah mereka akan waspada dan mengikuti jalan Allah yang lurus.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu