MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERPIKIR
Moroccan female students studying islamic theology read 22 December 2005 in the library of Dar el-Hadith el-Hasania theological faculty in Rabat. AFP PHOTO ABDELHAK SENNA (Photo credit should read ABDELHAK SENNA/AFP/Getty Images)

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BERPIKIR

Manusia adalah makhluk berpikir. Seringkali orang menunjuk kepala sebagai ungkapan berpikir. Selama ini, orang mempercayai otak sebagai pusat aktivitas belajar. Dengan demikian, hubungan antara Otak dan ilmu sangatlah dekat. Ada banyak ayat yang, langsung maupun tidak, menjelaskan keterkaitan antara fungsi otak dan belajar, di antaranya:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ۝

Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Alquran, Surah Fāṭir/35: 28)

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ۝

Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. (Alquran, Surah az-Zumar/39: 9)

 

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ۝  وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ۝

Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Alquran, Surah aż-Żāriyāt/51: 20-21)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ۝

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Alquran, Surah al-Mujādalah/58: 11)

Otak terletak di dalam tengkorak kepala, terapung dalam cairan seresbosbinal. Cairan ini berfungsi memberikan perlindungan ekstra terhadap otak dengan menyerap goncangan dan getaran. Otak kanan berfungsi menghasilkan pikiran-pikiran kreatif, imajinatif, dan intuitif. Sedangkan otak kiri berfungsi mengendalikan logika, kemampuan bahasa, dan berhitung.

Kinerja otak sangat terkait dengan  syaraf. Sistem syaraf memiliki sel-sel neuron yang bertugas memindahkan pesan-pesan dari otak ke pusat syaraf. Satu sel otak dapat berhubungan sekaligus dengan 25.000 sel otak lainnya. Tiap satu detik, terjadi jutaan koneksi yang melewati satu neuron ke neuron lainnya dalam otak.

Selama ini diasumsikan bahwa adalah syaraf yang berfungsi menjalankan fungsi komunikasi. Namun, belum juga diketahui bagaimana otak dapat menyimpan semua informasi. Bila informasi yang terekam oleh otak seseorang sepanjang hidupnya ditransfer ke dalam pita kaset, maka diperkirakan perlu jutaan kilometer pita kaset untuk dapat merekam semua informasi itu. Informasi yang disimpan dalam otak juga sangat beragam, mulai dari kumpulan gambar, kalimat, makna, perasaan, dan seterusnya.

Neuron berfungsi untuk menyimpan dan mengolah informasi. Hal ini dilakukan bersama-sama dengan sekian banyak neuron lain—jumlahnya sekitar 10-15 milyar sel, berukuran sekitar 1-120 mikron, ukuran yang setara dengan satu helai rambut yang dibelah membujur sebanyak jutaan potong—yang ada dalam otak. Inilah yang memungkinkan manusia berpikir, menganalisis, mengingat, dan merekam. Salah satu ayat yang patut dibahas dalam kaitannya dengan otak adalah firman Allah:

كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ۝  نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ۝

Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka), (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka. (Alquran, Surah al-‘Alaq/96: 15-16)

Di dalam tengkorak di bagian ubun-ubun (cerebrum) terdapat wilayah prefontal. Otak bagian ini diketahui berperan memberikan motivasi dan visi. Keduanya diperlukan untuk merencanakan dan mengawali aktivitas. Namun, bagian ini juga diketahui mempunyai fungsi negatif, yaitu sebagai pusat fungsional yang mendorong seseorang bertindak agresif. Dengan demikian, cerebrum bertanggung jawab atas perencanaan, memotivasi, dan memulai tingkah laku, baik maupun buruk. Ia bertanggung jawab apabila seseorang berbohong atau jujur. Jadi, adalah tepat bila Alquran mengilustrasikan ubun-ubun manusia untuk mengekspresikan kebohongan dan kedurhakaan. Jauh setelah itu, yakni kurang lebih 60 tahun terakhir, ilmuwan baru mencatatkan temuan tentang fenomena ini.

Terkait Surah al-Mujādalah/58: 11 tersebut, para ulama mengatakan adanya dua kelompok orang beriman, yaitu (1) orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan, dan (2) mereka yang beriman dan beramal saleh belaka. Kelompok yang disebut pertama ini dipastikan memiliki derajat yang lebih tinggi ketimbang kelompok yang disebut belakangan.

Banyak bukti yang memperlihatkan relasi antara maksimalisasi penggunaan akal dan kalbu untuk mencapai suatu cita-cita, dan keberhasilan mencapainya. Hal ini disebabkan pengetahuan yang dicapai seseorang akan menjadikannya mampu mengetahui hakekat sesuatu. Dengan demikian, ia akan menyesuaikan diri dan amalannya dengan pengetahuannya itu. Karenanya, orang yang berpengetahuan tidak sama dengan yang tidak berpengetahuan. Krisis yang melanda dunia dewasa ini disebabkan kedurhakaan manusia yang meletakkan hawa nafsu sebagai panutan. Manusia selalu dalam kecemasan, resah, dan gelisah. Dan kembali kepada petunjuk Tuhan adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan.

Kepandaian yang dicapai manusia seringkali digunakan dengan tidak wajar. Salah satunya adalah praktik kloning yang belakangan ini ramai dibicarakan. Kloning adalah satu kosa kata yang dalam waktu singkat menjadi sangat populer. Proses kloning yang menghasilkan seekor domba bernama Dolly telah membuka cakrawala baru ilmu pengetahuan. Dari sini kemudian muncul wacana untuk melakukan hal yang sama pada makhluk Iain, manusia. Wacana ini memicu pro-kontra di berbagai kalangan, baik peneliti, agamawan, maupun masyarakat umum.

Ilmu pengetahuan tidak berseberangan dengan Islam selama ilmu pengetahuan itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai keimanan. Malah, Islam sangat memotivasi manusia untuk mendalami ilmu pengetahuan, seperti firman Allah dalam Surah az-Zumar/39: 9. Ayat ini memberi manusia kebebasan untuk belajar dan menuntut ilmu. Akan tetapi, hasil penelitian tersebut tidak dapat secara langsung diterapkan sebelum disejalankan dengan hukum Islam. Sepanjang tidak bertentangan dengan hukum Islam, hasil penelitian itu dapat diterapkan di masyarakat. Ilmu genetika, begitupun, oleh Islam dianggap sebagai ilmu yang patut didalami. Namun bila hasil penelitian itu terindikasi bertentangan atau bersinggungan dengan hukum Islam, seperti kloning pada manusia, maka penerapannya harus dibatalkan.

Persepsi tentang kloning tidak selalu sama. Kloning bukanlah penciptaan. Proses kloning, bila dicermati, sebetulnya hanya berkisar pada penghancuran inti indung telur dan penggantiannya dengan inti dari individu pendonor, sehingga dihasilkan anakan yang identik dengan individu pendonor inti sel. Semua ini dilakukan pada jenis yang sama. Bila kloning dipersepsikan sebagai gambaran dari kepercayaan Islam tentang kelahiran kembali, maka hal itu tidak benar. Dalam Surah ar-Rūm/30: 27 dijelaskan bahwa kelahiran kembali manusia dikendalikan oleh Tuhan, tidak seperti persepsi sebagian orang tentang kloning.

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ ۚ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ۝

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 27)

Pandangan Islam tentang ilmu genetika dapat dilihat dalam Surah Fuṣṣilat‎/41 ayat 53:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ۝

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada  diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Alquran, Surah Fuṣṣilat/41: 53)

Ayat ini menginspirasi manusia untuk mempelajari gennya demi mengenali dirinya sendiri dan bersyukur kepada Tuhan. Dengan mempelajari peta genetika, manusia akan mengetahui, di antaranya, ada-tidaknya penyakit turunan. Karenanya, ilmu ini memberi kontribusi besar pada dunia kesehatan terkait dengan usaha manusia untuk mencegah timbulnya penyakit tertentu berikut menemukan metode penanggulangannya. Namun bila dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan itu ditemukan adanya indikasi penyimpangan ke arah yang cenderung merugikan manusia, maka hal itu tentu sangat ditentang oleh Islam. Kloning, di antaranya, ditolak dengan tegas oleh Islam. Penolakan Islam ini terkait beberapa alasan: Manusia diciptakan Tuhan dalam bentuknya yang paling sempurna, lebih tinggi daripada makhluk lain (Surah al-lsrā’/17: 70). Dengan melakukan kloning pada jenisnya sendiri, manusia sudah merendahkan dirinya di hadapan makhluk Tuhan yang lain. Dengan demikian, keputusan ada di tangan manusia sendiri.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا۝

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (Alquran, Surah al-lsrā’/17: 70)

Kloning bertentangan dengan keanekaragaman ciptaan yang mendasari desain penciptaan oleh Tuhan. Kloning manusia didasarkan pada keseragaman dengan cara menduplikasi semua karakter yang ada pada pendonor. Keseragaman, seperti rupa dan fisik, akan sangat mengganggu kegiatan hidup sehari-hari. Bayangkan saja bila yang ada dalam satu kelas di sebuah sekolah adalah murid-murid hasil kloning dari individu yang sama. Bila salah satu murid melakukan kesalahan, sangat sulit bagi guru untuk menemukan anak tersebut karena rupa dan fisik semua murid sama persis.

Apabila kloning manusia dilegalkan maka akan menjadi sangat sulit untuk menentukan status hubungan kekeluargaan antara individu hasil kloning dengan individu pendonor; apakah sebagai adik-kakak, anak-ayah, ataukah keduanya adalah dirinya sendiri. Situasi ini tentu akan sangat membingungkan. Lebih-lebih, situasi ini bukan tidak mungkin akan menghancurkan tatanan sosial yang ada.

Kloning bertentangan dengan pola hukum alam yang menyatakan bahwa setiap ciptaan terdiri atas pasangan-pasangan, seperti diuraikan pada firman Allah:

وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ۝

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah). (Alquran, Surah aż-Żāriyāt/51: 49)

Kloning mengingkari ayat ini, karena bayi tidak dihasilkan dari pertemuan sperma dan indung telur. Yang diperlukan dalam kloning hanyalah satu orang, laki-laki maupun perempuan, sebagai donor.

Hubungan emosional antara orang tua dan anak tidak akan terjadi, padahal hubungan ini sangat penting dalam membentuk karakter anak.

Dari poin-poin ini tampak bahwa terlalu banyak hukum alam yang akan dilanggar bila praktik kloning dilegalkan pada manusia. Masih banyak ilmu pengetahuan lain yang perlu diungkapkan guna mengantar manusia menuju kesejahteraan hidup.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu