MANUSIA MEMILIKI KALBU

MANUSIA MEMILIKI KALBU

Tubuh manusia tersusun atas sejumlah sistem yang tiap-tiapnya memainkan fungsi tertentu. Setiap sistem selalu dalam kondisi terkoordinasi satu sama lain melalui syaraf. Di sana ada sistem rangka yang menunjang tubuh dan melindungi organ-organ bagian dalam; sistem otot yang menunjang pergerakan baik yang disadari maupun yang spontan; sistem syaraf yang mengirim sinyal dari dan ke otak; sistem pencernaan, pernapasan, dan banyak Iagi. Dalam format pertanyaan, Allah mengungkapkan sesuatu yang sangat menggugah hati dan pikiran manusia. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ۝ الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ۝ فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاءَ رَكَّبَكَ۝

Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (Alquran, Surah al-Infiṭār/82: 6-8)

Organ-organ tubuh manusia yang demikian hebat ini mungkin saja dimiliki pula oleh hewan. Namun, manusia memiliki keistimewaannya sendiri, yaitu dengan keberadaan roh, akal, dan jiwa, yang itu tidak dimiliki makhluk hidup lainnya.

Manusia sudah seharusnya memiliki qalb, perasaan. Kata ini kadang diartikan juga sebagai jantung, yang dalam Bahasa Indonesia biasa disandingkan dengan “hati.” Dalam Bahasa Indonesia kita sering mendengar kosakata “jantung hati” yang berarti pusat perasaan, pusat kepekaan. Apabila seseorang hilang pusat kepekaannya maka dia tidak akan canggung melakukan segala macam keburukan. Orang  yang tidak lagi punya kepekaan pasti Ienyap pula kasih sayangnya terhadap kaum yang lemah, karena kasih adalah kepekaan hati melihat ketidakberdayaan. Kepekaan inilah yang memunculkan budi pekerti yang luhur, gabungan antara daya pikir dan kesadaran moral. Ia adalah akal sehat dan kepekaan hati. Mengenai hal ini Allah berfirman,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ۝

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar?  Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Alquran, Surah al-ajj/22: 46)

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu