MANUSIA DAN SUMBER DAYA ALAM

MANUSIA DAN SUMBER DAYA ALAM

Patut diperhatikan oleh manusia bagaimana ia harus menempatkan diri dalam relasinya dengan alam. Manusia seringkali menyalahartikan posisinya terhadap alam. Posisi ini dimanipulasinya sedemikian rupa sehingga manusia seolah sahih melakukan apa saja dan cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingannya. Beberapa ayat yang menyatakan bahwa Allah menciptakan bumi dan langit untuk kesejahteraan manusia diinterpretasikan menyimpang bahwa manusia boleh memperlakukan alam semaunya.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ۝ وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ۝

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya; dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia telah menundukkan mattahari dan bulan bagimu yang terus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang bagimu. (Alquran, Surah Ibrāhīm/14: 32-33)

 

Kata ‘menundukkan’ dalam ayat ini seringkali disalahartikan sebagai legalisasi hak manusia untuk menaklukan semua makhluk di atas bumi untuk kepentingannya.

Namun bila manusia mempunyai sedikit saja rasa malu, jelaslah bahwa hanya Tuhan yang berhak menundukkan semua ciptaanNya, sedangkan tugas manusia tidak lebih dari sekadar menyeimbangkan hak dan kewajibannya terhadap ciptaan Tuhan lainnya.

Posisi dan pola interaksi manusia— kebanyakan buruk—terhadap ciptaan lainnya diekspresikan oleh beberapa ayat di bawah ini.

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ۝

Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak , sedang Allah tidak menyukai kerusakan (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 205)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ۝

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar (Alquran, Surah ar-Rūm/30: 41)

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ۝

Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 38)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ۝

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Alquran, Surah aż-Żāriyāt/51: 56)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ۝

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki. (Alquran, Surah al-Ḥajj/22: 18)

 

Manusia, dalam interaksinya dengan sesamanya dan dengan makhluk Iainnya, tidak jarang hanya teringat hak yang Allah berikan dan melupakan kewajibannya. Berlawanan dengan itu, Allah dengan tegas memerintahkan manusia untuk memperlakukan apa saja yang ada di bumi dengan baik, tidak egois dan eksploitatif, misalnya pada Surah ar-Rūm/30: 41 dan al-Baqarah/2: 205.

Untuk mencegah perbuatan manusia yang demikian ini, Allah menyegarkan kembali ingatan manusia akan posisinya di antara makhluk yang Iain, seperti pada Surah Alquran, Surah al-An‘ām‎/6: 38. Ayat ini menempatkan manusia dan ciptaan Allah non-manusia dalam posisi yang sejajar. Dengan demikian, jelaslah bagaimana seharusnya manusia memperlakukan ciptaan non-manusia itu; bagaimana manusia memperlakukan hewan, hutan, sungai, lautan, dan seterusnya.

Ada satu alasan tak terbantahkan yang mengarahkan manusia untuk berlaku adil kepada semua makhluk. Beberapa ayat dengan gamblang menyatakan bahwa semua makhluk diciptakan untuk menyembah Allah (Surah aż-Żāriyāt/51: 56 dan al-Ḥajj‎/22: 18). Dengan demikian, semua makhuk tidak bisa tidak tunduk dan patuh terhadap peraturan Allah. Semua benda, dengan demikian, adalah muslim, dalam artian berserah diri, tunduk, dan patuh kepada aturan Tuhan. Karenanya, manusia sudah semestinya memperlakukan semua makhluk di bumi ini dengan baik dan adil bila mereka merasa patut menyebut diri mereka sebagai muslim.

Leave a Reply

Close Menu