MANUSIA DAN KEBEBASANNYA

MANUSIA DAN KEBEBASANNYA

Manusia adalah satu dari begitu banyak makhluk Tuhan. Kecuali manusia pertama dan pasangannya—Adam dan Hawa—serta Nabi Isa, semua tercipta melalui pertemuan sperma dan ovum.

Tubuh manusia tersusun atas sejumlah sistem yang masing-masing menjalankan fungsi tertentu. Semua sistem ini terus menerus terkoordinasi satu sama lain melalui jaringan syaraf. Ada sistem rangka yang menunjang tubuh dan melindungi organ-organ dalam. Di sana ada sistem otot yang menunjang pergerakan secara disadari maupun tidak. Ada pula sistem syaraf yang mengirim sinyal dari dan menuju otak. Begitupun, banyak sistem lain seperti pencernaan, pernafasan, dan seterusnya.

Sistem tubuh terdiri atas organ-organ yang mengandung berbagai jaringan. Suatu jaringan terdiri atas kumpulan sel yang sama, dan hanya melakukan fungsi tertentu. Tubuh orang dewasa mengandung lebih dari 50 triliun sel. Sekitar tiga miliar sel mati setiap menit, dan kebanyakannya langsung diganti dengan tumbuhnya sel baru.

Manusia memiliki sendi dan otot yang memungkinkannya untuk bergerak dengan kisaran yang luas. Mekanisme sendi sedemikian sempurna dan kompleks sehingga tidak satu pun mesin ciptaan manusia mampu menandinginya. Telinga, mata, dan organ-organ tubuh lainnya memiliki fungsi yang amat menakjubkan. Allah, dalam bentuk pertanyaan, mengungkapkan hal yang sangat menggugah hati dan pikiran makhluk unik ini.

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ۝ الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ۝ فِي أَيِّ صُورَةٍ مَّا شَاءَ رَكَّبَكَ۝

Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu? (Alquran, Surah al-lnfitār/82: 6-8)

Organ tubuh manusia yang demikian hebat ini mungkin dimiliki pula oleh hewan. Namun, manusia memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu akal dan jiwa, yang semuanya tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Manusia mempunyai qalb, perasaan. Kata qalb sering pula diartikan jantung. Dalam bahasa Indonesia, kita sering mengatakan “jantung hati” dalam arti pusat perasaan, pusat kepekaan. Bila seseorang kehilangan pusat kepekaannya maka dia tidak akan segan melakukan keburukan. Ia juga akan kehilangan belas kasihnya terhadap kaum lemah, karena rasa kasih adalah kepekaan hati melihat ketidakberdayaan. Kepekaan inilah yang kemudian menimbulkan budi pekerti luhur, gabungan antara daya pikir dan kesadaran moral; ia pun adalah akal sehat dan kepekaan hati. Kemampuan berpikir jernih dan mengasah kepekaan untuk menemukan kebenaran dijelaskan dalam ayat di bawah ini.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ۝

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Alquran, Surah al-Ḥajj/22: 46)

Hal lain yang meninggikan derajat manusia atas makhluk lain adalah kebebasan. Kebebasan manusia dan konsekuensi yang muncul dari hak istimewa ini dapat dilihat pada ayat berikut.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا۝ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا۝

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (Alquran, Surah asy-Syams/91: 7-10)

Dengan demikian, posisi manusia berada di atas malaikat karena dibekali rahasia ilmu pengetahuan dan kebebasan memilih. Kebebasan memilih dan tuntutan untuk bertanggung jawab menjadikan semua ciptaan Allah berada dalam posisi sulit bila manusia tidak melaksanakan tanggung jawabnya. Dalam sejarah peradaban manusia, tampak jelas bekas-bekas musibah, baik yang melalui alam  maupun dari Allah langsung, bagi perilaku manusia yang meyimpang dari hukum Tuhan. Musibah-musibah itu bisa berupa  ujian, cobaan, azab, atau sekadar fenomena alam yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan ketiga hal ini.

Allah menjelaskan bahwa manusia, malaikat, dan iblis berasal dari unsur-unsur yang berbeda. Kendati begitu, semuanya sama-sama dituntut untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Nilai ibadah dan ketakwaan inilah, bukannya asal-usul, yang kemudian menjadi barometer ketinggian derajat seorang makhuk. Di dalam unsur kejadian manusia ada pula roh ciptaan Allah yang tidak ditemukan pada iblis atau jin. Unsur rohaniyah ini menjadikan manusia Iebih mampu mengenal Allah, beriman, berbudi Iuhur, serta memiliki kepekaan.

Sperma menjijikkan yang ditumpahkan ke dalam rahim adalah benar asal kejadian manusia. Namun manusia yang aktif menjalankan amal kebajikan yang direstui Allah menjadi makhluk yang sangat mulia di sisi-Nya. Oleh Allah, manusia dibekali dengan potensi yang besar untuk meraih kebajikan, yaitu melalui proses pengilhaman kebajikan. Potensi ini mengantar manusia kepada kebahagiaan, sedangkan kedurhakaan adalah murni karena ulah manusia itu sendiri. Manusia telah diberi potensi untuk mengetahui baik dan buruk, diberi kecenderungan untuk melakukan yang baik dengan potensi positif, tetapi manusia juga memendam potensi negatif yang terkadang menjerumuskannya dalam kedurhakaan.

Penunjukan manusia sebagai khalifah membuatnya mendapat hak untuk menggunakan apa saja yang ada di bumi. Kendatipun, mereka juga harus memikul tanggung jawab berat untuk mengelolanya. Dari sini tampak jelas bagaimana Islam memperuntukkan bumi dan apa saja yang ada di atasnya sepenuhnya untuk kepentingan manusia. Namun manusia tidak boleh memperlakukan bumi semaunya. Hal ini misalnya ditunjukkan oleh kata bumi yang disebut sebanyak 453 kali dalam Alquran, Iebih banyak ketimbang kata langit atau surga yang hanya disebut sebanyak 320 kali. Hal ini menyiratkan kebaikan dan kesucian bumi.

Debu dapat menggantikan air dalam bersuci, seperti sabda Rasulullah, “Bumi diciptakan untukku sebagai masjid dan sebagai alat untuk bersuci”. Demikianlah, ada kesakralan dan kesucian dalam bumi sehingga ia menjadi pusat pemujaan kepada Tuhan dalam upacara formal maupun dalam kehidupan sehari-hari.

 

Leave a Reply

Close Menu