MANUSIA DAN ASAL KEJADIAN

MANUSIA DAN ASAL KEJADIAN

Serial Quran dan Sains

Penciptaan manusia di muka bumi ini mempunyai misi yang jelas dan pasti. Ada tiga misi yang bersifat given yang diemban manusia, yaitu misi utama untuk beribadah (aż-Żāriyāt/51: 56), misi fungsional sebagai khalifah (al-Baqarah/2: 30), dan misi operasional untuk memakmurkan bumi (Hūd/11: 61). Allah subḥanahū wa ta‘ālā menyatakan akan menjadikan khalifah di muka bumi (al-Baqarah/2: 30). Secara harfiah, kata khalifah berarti wakil/pengganti, dengan demikian misi utama manusia di muka bumi ini adalah sebagai wakil Allah. Jika Allah adalah Sang Pencipta seluruh jagat raya ini maka manusia sebagai khaIifah-Nya berkewajiban untuk memakmurkan jagat raya itu, utamanya bumi dan seluruh isinya, serta menjaganya dari kerusakan. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ۝

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Alquran, Surah ażŻāriyāt/51: 56)

 وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ۝

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 30)

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ۝

Dan kepada kaum Samūd (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah; tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) da menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Alquran, Surah Hūd/11: 61)

 

Amanah sebagai khalifah pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya menolak karena khawatir akan mengkhianati amanat itu. Hanya manusia yang bersedia memikul amanat itu. Hal ini disebutkan dalam firman Allah:

 إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا۝

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat). Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh. (Alquran, Surah al-Ahzāb/33: 72)

 

Selain mengemban tugas dan fungsi yang jelas, manusia juga mendapatkan posisi paling istimewa, yaitu sebagai satu-satunya makhluk yang pada saat dilahirkan telah sadar akan adanya Tuhan.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ۝ أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِّن بَعْدِهِمْ ۖ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ۝

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami); kami bersaksi. ” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini. ” Atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang (dahulu) yang sesat?” (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 172-173)

 

Dengan demikian, jelaslah bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Tuhan, suatu bentuk perilaku yang tulus untuk menghormati ketuhanan.

Dalam memuja Tuhan, manusia harus berusaha untuk hidup dalam harmoni dan keselarasan dengan semua ciptaan Tuhan, yang secara alami juga melakukan penyembahan kepada-Nya. Fenomena penyembahan alam kepada Tuhan dapat ditemukan dalam banyak ayat Alquran, misalnya dilakukan oleh guntur (ar-Ra‘d/13: 13), malaikat (al-Anbiyā’/21: 20), dan gunung (Ṣād/38: 18).

 وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَن يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ۝

Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia

Mahakeras siksaan-Nya. (Alquran, Surah ar-Ra‘d/13: 13)

 يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ۝

Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 20)

 إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ۝

Sungguh, Kamilah yang menundukkan gununggunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi. (Alquran, Surah Ṣād/38: 18)

 

Semua bentuk pemujaan kepada Allah dan hukum-hukum-Nya diadakan untuk membantu manusia dalam mengingat Tuhan. Adalah wajar bila manusia kadangkala lupa, bahkan untuk hal yang paling penting sekalipun. Manusia seringkali sangat sibuk mengumpulkan kebutuhan materialnya sehingga melupakan sama sekali atau sebagian tugas spiritualnya. Karenanya, Allah mewajibkan salat. Dengan salat yang teratur, manusia diharapkan dapat mengelola dan menggabungkan keperluan material dan spiritualnya secara sejalan dan serasi. Allah berfirman:

 إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي۝

Sungguh, Aku ini Allah; tidak ada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku. (Alquran, Surah Tāhā/20: 14)

 

Demikian halnya dengan puasa:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ۝

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 183)

 

Bahkan Allah memerintahkan manusia untuk mengingat-Nya sebanyak mungkin.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا۝

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama-Nya) sebanyakbanyaknya. (Alquran, Surah al-Ahzāb/33: 41)

 

Dalam Islam, setiap gerak manusia dapat dimaknai sebagai bentuk penyembah-an dan pengabdian kepada Tuhan. Nyatanya, Tuhan menghendaki agar manusia mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk Dia.

 قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ۝

Katakanlah (Muḥammad ), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 162)

Mengapresiasi penciptaan manusia sangat baik bila dimulai dengan sedikit pemaparan tentang asal-muasal kehidupan yang ada di bumi. Dari sini, akan dapat dilihat apa yang diketahui manusia mengenai penciptaan dirinya sendiri, tentang konsekuensi dan tujuan penciptaannya.

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu