MANNA

MANNA

Beberapa minggu setelah Bangsa Israel di bawah pimpinan Musa lolos dari Mesir, tibalah mereka di Gurun Sinai. Karena kelaparan mereka mulai menggerutu, dan Allah pun mengirimkan dua macam makanan kepada mereka. Petang hari datanglah sekelompok burung puyuh yang menjadi santapan malam mereka. Pada pagi hari ketika lapisan kabut mulai menipis tampaklah hamparan putih di permukaan tanah, berupa lapisan biji-biji kecil dan halus. Saat bangsa Israel melihatnya, mereka bertanya satu sama lain, “Benda apakah itu?”—dalam bahasa Yahudi kuno dilafalkan “man-hu.” Kata ini kemudian menjadi cikal bakal nama makanan baru itu, Manna. Dalam Perjanjian Lama, Manna dideskripsikan sebagai semacam biji Coliander, tanaman semak yang dimanfaatkan sebagai bumbu atau bahan obat; berwarna putih dan memiliki rasa mirip roti kering yang dilapisi madu.

Kata manna disebutkan tiga kali dalam Alquran; semuanya berkaitan dengan kisah pengembaraan Bangsa Israel.

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ۝

Dan Kami menaungi kamu dengan awan, dan Kami menurunkan kepadamu mann dan salwā. Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 57)

وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۚ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ۝

Dan Kami membagi mereka menjadi dua belas suku yang masing-masing berjumlah besar, dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah dari (batu) itu dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Dan Kami naungi mereka dengan awan dan Kami turunkan kepada mereka mann dan salwā. (Kami berfirman), “Makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.” Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi merekalah yang selalu menzalimi dirinya sendiri. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 160)

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ قَدْ أَنجَيْنَاكُم مِّنْ عَدُوِّكُمْ وَوَاعَدْنَاكُمْ جَانِبَ الطُّورِ الْأَيْمَنَ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ۝

Wahai Bani Israil! Sungguh, Kami telah menyelamatkan kamu dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan kamu (untuk bermunajat) di sebelah kanan gunung itu (gunung Sinai) dan Kami telah menurunkan kepada kamu mann dan salwā. (Alquran, Surah Ṭāhā/20: 80)

 

Kata manna dalam tiga ayat di atas selalu diikuti oleh kata salwā— sejenis burung puyuh. Keduanya disebutkan sebagai berkah dari AIIah kepada Bangsa Israel sepanjang 40 tahun pengembaraannya di Gurun Sinai. Kedua makanan ini juga dapat ditemui dalam banyak pustaka kuno, yang menyebutnya sebagai pasangan diet yang baik. Manna dipercaya sebagai makanan surgawi yang Allah turunkan kepada Bangsa Israel saat itu. Beberapa ayat dalam Perjanjian Lama mendeskripsikan makanan ini sebagai “makanan yang jatuh pada malam hari dalam bentuk butiran seperti salju berwarna putih yang menutupi permukaan tanah.” Rasanya diterangkan mirip “tepung yang diberi madu” atau “roti yang dilapisi minyak.”

Dari pengamatan banyak pihak mulai muncul beberapa dugaan mengenai hakikat makanan yang disebut manna. Dugaan pertama menyatakan bahwa manna adalah getah beku tumbuhan yang awalnya meleleh keluar dari lubang yang dibuat serangga pengisap cairan tumbuhan, atau berupa cairan manis yang keluar bersama ekskresi alias kotoran serangga pemakan cairan atau getah tumbuhan tadi. Kekurangsesuaian deskripsi ini dengan apa yang ada dalam Perjanjian Lama—di sana ada kalimat yang berarti “tidak perlu dihaluskan dengan ditumbuk untuk dijadikan tepung sebagai bahan pembuat roti”—membuat sebagian pengamat mulai beralih ke dugaan berikutnya, yakni lumut kerak. Baik getah beku tumbuhan maupun lumut kerak memang sah-sah saja dijadikan kandidat makna dari manna, mengingat keduanya masih bisa ditemukan hingga saat ini dan sama-sama dapat dimakan. Kendatipun, dua dugaan ini sama-sama menyisakan satu tanda tanya besar yang harus dijawab: bila manna adalah benar getah beku tumbuhan atau lumut kerak, bagaimana mungkin manna dikonsumsi oleh Bani Israel yang jumlahnya sangat banyak dalam kurun waktu 40 tahun.

Bila manna berasal dari getah pohon yang mengering, atau produk dari serangga kecil pengisap cairan pohon, rasanya agak sulit membayangkan bagaimana manna datang seperti “salju yang turun.” Apabila diasumsikan bahwa jumlah pohon penghasil manna saat itu sangat banyak maka masih disangsikan bagaimana pohon-pohon itu dapat menghasilkan manna dalam jumlah banyak setiap hari untuk dikonsumsi Bani Israel. Terlebih, penelitian dewasa ini menemukan bahwa produksi getah oleh tumbuhan penghasilnya terjadi pada musim tertentu saja. Itu jelas tidak sesuai dengan apa yang tercatat dalam Perjanjian Lama, bahwa ketersediaan manna terjamin sepanjang tahun. Jika demikian, jelas ada campur tangan Allah dalam hal ini yang membuatnya mungkin terjadi.

Berikutnya, banyak peneliti mengidentifikasi manna yang disebutkan dalam Perjanjian Lama sebagai semacam cairan manis yang keluar bersama kotoran serangga dari kelompok kutu daun (aphid) yang menusuk dan mengisap cairan dari pohon tamarix dan beberapa jenis lainnya. Bahan ini dikenal dengan nama mann as-samā’ (Bahasa Arab: pemberian dari surga alias manna surgawi).

Serangga dari kelompok kutu daun (Aphids) yang berukuran kecil adalah subjek yang berperan dalam produksi mann as-samā’. Gambar di bawah memperlihatkan aktivitas pada pohon Tamarix nilotica (Tamaricaceae). Pohon ini berupa semak, berdaun ramping, dan hidup menyebar dari kawasan Afrika Utara, Mediterania Timur, Sinai, hingga Jazirah Arab.

Jenis tumbuhan lain penghasil mann as-samā’ di kawasan Sinai di antaranya Haloxylon salicornicum (hamadda atau rimth dalam Bahasa Badui), Anabasis setifera, beberapa jenis Acacia, dan Alhagi graecorum. Di Kurdistan dikenal satu lagi jenis pohon yang juga dapat menghasilkan manna, yakni Quercus brantii. Di Irak, beberapa jenis tumbuhan Cupressus juga diketahui dapat menghasilkan manna.

Seperti disebutkan sebelumnya, tampaknya manna dapat saja dihasilkan oleh organisme lain sepanjang memenuhi dua syarat, yaitu memiliki rasa manis dan tidak sebagai hasil tanaman. Dari pengamatan dewasa ini diketahui ada berbagai sumber produksi manna. Sebagian besar manna adalah berupa getah tumbuhan yang keluar dari lubang bekas tusukan serangga yang mengisap cairan tumbuhan itu, atau berupa kotoran serangga pengisap berbentuk cairan manis.

Ada juga manna yang berasal dari sumber Iain, meski sangat jarang, seperti manna Trehala yang berupa kepompong kumbang Larinus maculates yang hidup di kawasan Turki; atau manna yang berasal dari lumut kerak (dikenal dari jenis Lecanora esculenta atau Spharotallia esculenta) yang kering dan tertiup angin. Butiran halus lumut kerak ini akan membentuk awan yang mempunyai rasa manis. Pada musim-musim tertentu awan itu dapat tertiup angin dari Yunani ke kawasan padang rumput di Asia Tengah. Salah satu jenis lumut kerak endemik—hanya ditemukan di Iran— yang dikenal sebagai manna. Dalam masa paceklik, jamur kayu ini seringkali dilembutkan dan dicampur bahan Iain untuk membuat roti. Akan tetapi, jamur kayu ini bersifat kering dan hanya mengandung sedikit nutrisi.

Kemungkinan untuk memperoleh manna dari lumut kerak didukung oleh penelitian ahli kimia bahan alam dari Belgia, Dr. Errera (1893). Lumut kerak yang dimaksud adalah lumut kerak yang masuk kelompok unattached lichens, yang tidak menempel atau mudah lepas dari tempat menempelnya. la menduga bahwa lumut kerak ini dari jenis Aspicilia esculenta yang mudah terbawa badai sehingga seolah-olah diturunkan (anzalnā: diturunkan) dari langit. Lumut kerak ini memiliki kandungan karbohidrat dan gizi yang tinggi serta zat antibiotik sehingga patut disebut sebagai makanan yang baik (ayyib). Zat antibiotik yang dihasilkan lumut kerak jenis ini di antaranya asam usnat.

Manna dari getah pohon terbentuk dengan baik pada kawasan beriklim kering, seperti Timur Tengah. Di sini, getah akan keluar dari torehan serangga dalam bentuk cairan pada malam hari, dan mengering pada pagi hari. Hipotesis pertama mengemukakan bahwa manna muncul secara alami dari getah pohon Tamarix. Kemudian ditemukan, juga secara alami, di banyak jenis tumbuhan Iain. Ada beberapa proses domestikasi yang manusia lakukan guna memperoleh produk yang sama, misalnya di kawasan Sicilia dan Calibria. Penduduk setempat memperoleh manna dengan mengiris batang pohon Fraxinus omus dan menggunakannya sebagai bahan pembuat obat.

Hingga saat ini manna masih digunakan untuk berbagai maksud. Bahkan beberapa suku di kawasan Sinai masih menggantungkan diri terhadap pemanis alami ini.  Manna juga jamak digunakan sebagai bumbu makanan. Ada dua macam manna dari Iran yang tersohor, yaitu manna hedysarum dan manna shir-khest. Keduanya dikenal di Amerika sebagai campuran beberapa jenis makanan. Kedua manna ini mempunyai bentuk fisik yang mirip, yakni getah pohon bercampur bermacam kotoran seperti ranting, potongan daun, dan banyak lagi.

Manna digunakan untuk mendapat rasa manis dan asin yang seimbang, dengan tetap mempertahankan bentuk renyahnya. Manna hedysarum berasal dari pohon Hedysarum alhagi (dikenal juga dengan nama Alhagi maurorum) dengan rasa yang mirip perpaduan sirup maple, gula merah, madu, dan kacang. Manna shir-khesht yang berasal dari tumbuhan kelompok mawar, Cotoneaster nummilaria, memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi. Manna ini memiliki bentuk menyerupai potongan karang, dengan warna yang cenderung lebih putih ketimbang manna hedysarum. Manna shir-khesht juga memiliki rasa alkohol yang lebih kuat dan memberi efek dingin di mulut, serupa rasa mentol. Selain itu, ada sedikit rasa madu dan kulit jeruk di dalamnya.

Di Sicilia, Italia, sampai saat ini manna dihasilkan dari penyadapan pohon Fraxinus dari suku Oleaceae, dengan teknik yang sama dengan penyadapan pohon karet. Teknik ini sudah mereka terapkan sejak abad 16. Pada abad 18, kawasan di pulau ini menjadi pemasok utama manna untuk kawasan Mediterania. Pada 1920-an, volume ekspor manna dari kawasan ini ke Amerika Serikat tercatat mencapai ratusan ton.

Leave a Reply

Close Menu