MAKANAN DAN MINUMAN YANG BAIK

MAKANAN DAN MINUMAN YANG BAIK

Serial Quran dan Sains

Makanan dan minuman merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan manusia. Kajian keduanya dari perspektif Alquran dan sains dalam bab-bab sebelumnya, meskipun masih amat terbatas, memberikan pokok-pokok kesimpulan sebagai berikut.

  1. Begitu penting makanan dan minuman bagi manusia, sehingga Allah dengan kasih sayangnya memerintahkan manusia untuk mengonsumsi hanya makanan dan minuman (ṭa‘am) yang halal dan baik (ṭayyib), seperti firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ۝

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagimu. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 168)

Perintah tersebut pada hakikatnya ditujukan untuk kebaikan dan kemanfaatan bagi manusia sendiri. Kendati begitu, untuk melaksanakan perintah itu dengan baik, diperlukan pemahaman tentang halal dan ṭayyib. Kriteria halal dan haram ditentukan atau dibatasi oleh Allah dalam Alquran dan hadis Rasulullah, sebab pada hakikatnya semua makanan adalah halal kecuali yang dilarang. Adapun pengertian ṭayyib atau baik mengandung ilmu pengetahuan yang luas serta terus berkembang sesuai dengan penemuan dan perkembangan ilmu.

  1. Makanan dan minuman mempunyai peranan penting bagi manusia, di antaranya sebagai sumber energi untuk bergerak, bekerja, dan beribadah, serta sebagai sarana pertumbuhan terutama bagi janin dalam kandungan, bayi, anak-anak, dan remaja. Makanan dan minuman penting pula untuk mengganti sel-sel yang mati sehingga dapat menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh serta melawan penyakit. Selain manfaat di atas, makanan dan minuman dapat pula mempengaruhi jiwa, terutama karena faktor halal dan haramnya, baik karena zat maupun karena perolehannya. Juga perlu disadari bahwa kualitas makanan yang dikonsumsi seseorang dapat berpengaruh pada keturunannya.
  2. Sumber makanan yang beraneka ragam disediakan oleh Allah di bumi. Itu semua wajib disyukuri dan dimanfaatkan sesuai perintah-Nya. Sumber makanan dapat berupa sumber nabati maupun hewani. Sumber nabati dapat berupa biji-bijian, sayur-sayuran, dan buah-buahan, adapun sumber hewani berupa hewan ternak maupun buruan kecuali yang dilarang (diharamkan), unggas, dan berbagai jenis ikan dan hewan laut (termasuk dari air tawar). Untuk dapat memilih makanan yang mencukupi kebutuhan gizi, seseorang perlu memahami komposisi makanan dan manfaatnya. Umumya makanan mengandung komponen gizi utama, yakni karbohidrat, lemak, dan protein. Karbohidrat terutama berfungsi sebagai sumber energi, lemak atau minyak bermanfaat dalam sintesis berbagai senyawa penting dalam tubuh selain juga dapat menjadi cadangan sumber energi, dan protein amat penting untuk pertumbuhan, pembentukan organ-organ tubuh, serta mengganti sel-sel yang mati atau usang. Selain komponen utama di atas, sumber makanan juga mengandung komponen mikro, seperti vitamin, mineral, antioksidan, dan serat. Masing-masing mempunyai peranan penting dalam menjaga kesehatan tubuh manusia. Di atas itu semua, manusia memerlukan air baik dari makanan maupun minuman, karena air amat diperlukan dalam semua metabolisme tubuh.
  3. Dilihat dari gizi makanan, sumber nabati dan hewani masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, tetapi sumber hewani cenderung mempunyai kualitas lebih baik daripada sumber nabati, terutama dalam hal kandungan protein. Daging dan ikan mempunyai kadar protein yang tinggi, juga asam amino esensial yang lebih lengkap dibanding protein dalam beras, jagung, dan kedelai. Ikan, selain berprotein tinggi, juga mengandung lemak atau minyak dengan asam lemak tak jenuh yang amat baik untuk kesehatan. Di lain pihak, sumber nabati seperti beras, jagung, sagu, dan ketela penting sebagai sumber karbohidrat. Sementara itu, sayur-sayuran serta buah-buahan adalah sumber vitamin, mineral, antioksidan, dan serat yang juga amat diperlukan oleh tubuh manusia.
  4. Selain nilai gizi makanan, seseorang perlu pula memahami bagaimana nilai gizi dapat menurun akibat kerusakan, karena memang umumnya makanan mudah rusak (perishable). Kerusakan utama disebabkan oleh proses pemasakan (pemanasan). Di satu sisi, pemasakan bermanfaat untuk membuat makanan mudah dicerna dan melepaskan unsur-unsur gizi di dalamnya. Pemasakan juga dapat memberikan rasa dan aroma yang lebih enak serta dapat membunuh bakteri patogen penyebab penyakit. Di sisi yang lain, pemanasan berlebihan justru akan merusak senyawa gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, dan utamanya vitamin. Sebaliknya, kerusakan makanan dapat dihambat dengan proses pendinginan atau pembekuan (freezing). Kemanfaatan makanan bagi tubuh bergantung pula pada metabolisme. Metabolisme terutama dalam pencernaan dan pembakaran makanan oleh oksigen pernafasan amat rumit dan mengagumkan. Oleh karena itu, organ-organ dalam sistem metabolisme, seperti usus, paru-paru, liver (hati), dan lain-lain perlu dijaga kesehatannya.
  5. Dengan memahami komposisi dan nilai gizi makanan serta efek pemanasan dalam pemasakan, dapatlah dipilih kombinasi makanan atau diet yang sesuai dan mencukupi kebutuhan individu. Diet tersebut lebih dikenal sebagai diet seimbang. Seimbang dalam hal ini tidak berarti harus seimbang antara sumber nabati dan hewani, tetapi lebih menekankan kecukupan gizi sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, diet bersifat individual dan tidak hanya berlaku sesaat, melainkan untuk kurun waktu tertentu atau bahkan seterusnya. Diet dapat berbeda-beda, misalnya untuk orang yang kegemukan, diabetes, tekanan darah tinggi, atau penderita penyakit jantung. Diet yang tepat dan pelaksanaan yang disiplin dapat mencegah dan mengendalikan atau bahkan menyembuhkan penyakit. Diet yang mencukupi dapat berarti pula tidak berlebihan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah al-A‘rāf/7: 31,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ۝

Wahai anak cucu Adam pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang beriebih-Iebihan. (Alquran, Surah al-A‘rāf/7: 31)

 

Dari ilmu kesehatan, terbukti bahwa kelebihan makanan cenderung mengganggu kesehatan. Kelebihan karbohidrat atau gula dapat menyebabkan penyakit diabetes, lemak berlebih menimbulkan penyakit jantung dan pembuluh darah, dan protein berlebih dapat menimbulkan gangguan sendi dan ginjal akibat tingginya kadar asam urat dalam tubuh.

  1. Untuk memenuhi kriteria ṭayyib, makanan bergizi harus tidak berpotensi menimbulkan penyakit, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Makanan yang mengandung bakteri terutama patogen dan pestisida, atau makanan yang pedas dapat mengganggu proses pencernaan atau penyerapan gizi makanan. Gangguan dapat berupa perut kembung, mual, muntah-muntah, dan diare (mencret). Muntah dan diare dapat menyebabkan dehidrasi yang kalau tidak segera ditolong dengan konsumsi elektrolit atau diinfus dapat membahayakan jiwa. Makanan dapat pula terkontaminasi logam-Iogam berat dan racun kimia dari lingkungan atau bahan tambahan makanan yang tidak sesuai. Kontaminan demikian dapat menimbulkan efek jangka panjang seperti gangguan liver, ginjal, usus, dan kanker.
  2. Setelah kriteria ṭayyib, kriteria selanjutnya yang mesti diperhatikan adalah kehalalan. Halal berarti diizinkan oleh Allah, tidak haram. Makanan haram tercantum jelas dalam Alquran, di antaranya bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih untuk berhala (disembelih tidak atas nama Allah). Masing-masing pengharaman ini mempunyai kebaikan bagi manusia. Hadis-hadis Rasulullah juga menyebut beberapa makanan yang diharamkan, misalnya hewan bertaring dan burung yang bercakar. Tentu saja pengharaman tersebut meliputi unsur atau komponen, baik sendiri maupun dalam bentuk campuran. Minuman yang diharamkan juga amat jelas tersebut dalam ayat-ayat Alquran, yakni alkohol (etanol) atau khamar. Hadis Rasulullah menyebutkan bahwa keharaman alkohol tidak hanya dalam kadar yang memabukkan, tetapi juga dalam kadar sedikit. Keharaman alkohol tidak pula bergantung pada bahan dan cara pembuatannya. Mengingat keharaman alkohol terkait potensi memabukkan dan adiktif (menimbulkan sifat ketagihan) di dalamnya, maka hukum haram juga berlaku untuk narkotika dan obat adiktif (narkoba). Baik alkohol maupun narkoba dapat merusak kesehatan dan mental (rohani) seseorang yang itu harus dicegah untuk kebaikan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
  3. Meski makanan dan minuman yang diharamkan cukup jelas tersebut dalam Alquran dan hadis, tetapi umat Islam dapat saja menghadapi kesulitan dalam menentukan kehalalan produk makanan halal yang tercampur makanan haram atau penggunaan food additive yang terbuat dari unsur haram. Dalam kondisi semacam ini, sertifikat halal yang dikeluakan oleh LPPOM MUI (Majelis Ulama Indonesia) dapat menjadi acuan utama. LPPOM-MUI adalah lembaga pemerintah yang saat ini mempunyai otoritas penuh dalam masalah halal dan haram, serta didukung oleh ulama yang mumpuni dan laboratorium yang modern.
  4. Makanan dan minuman yang halal dan ṭayyib haruslah diusahakan atau dibeli dengan cara yang halal pula (halal dari aspek perolehan). Kriteria haram dalam cara perolehan diatur baik dalam Alquran maupun hadis Rasulullah. Cara perolehan yang haram meliputi perolehan dengan merampas hak orang lain, seperti menipu, mencuri, merampok, korupsi, riba, dan kecurangan dalam menimbang. Keharaman dari aspek perolehan inilah yang dapat berpengaruh pada kondisi kejiwaan (rohani) seseorang dan keimanannya, selain harus dipertanggungjawabkan kepada Allah di hari Akhir. Makanan halal yang diperoleh dengan cara halal akan lebih bersih dan berkah apabila dibarengi dengan zakat, infak, dan sedekah. Kewajiban menunaikan zakat banyak disebut dalam Alquran, di antaranya dalam Surah al-Baqarah/2: 110,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ۝

Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu dapat pahalanya disisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 110)

 

Sepuluh poin kesimpulan (the ten golden rules) di atas merupakan rangkuman pengetahuan yang dapat dijadikan bekal untuk memilih makanan yang bergizi dan sehat (ṭayyib), serta halal dari aspek zat maupun cara perolehannya. Setelah memenuhi kriteria-kriteria itu, makanan dan minuman akan makin sempurna berkahnya apabila dalam konsumsinya selalu diawali dengan doa, mengikuti adab yang diajarkan Rasulullah dalam hadis berikut.

Sewaktu kecil aku (‘Umar bin Abī Salamah) berada di bawah asuhan Rasulullah. Suatu hari (pada waktu makan) tanganku aku ulurkan kesana kemari di atas nampan (untuk mengambil makanan yang jauh dari jangkauanku), lalu Rasulullah bersabda, “Nak, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat darimu.” (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari ‘Umar bin Abī Salamah)   

Dikutip dari Tafsir al-‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu