MADRASAH MU’ALLIMIN MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA: MENCETAK PEMIMPIN BERKEMAJUAN

MADRASAH MU’ALLIMIN MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA: MENCETAK PEMIMPIN BERKEMAJUAN

Pondok Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta mula-mula didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1920 dengan nama “Qismul Arqa” atau sering disebut “Hogere School” yang berarti sekolah menengah tinggi. Sebuah nama yang cukup mentereng untuk ukuran zaman itu. Pada waktu itu, tempat belajarnya cukuplah menempati ruang makan yang sekaligus menjadi dapur keluarga K.H. Ahmad Dahlan. Tahun 1923 nama tersebut diganti menjadi “Kweekschool Islam”, lalu berubah lagi menjadi “Kweekschool Muhammadiyah”. Pelajarnya masih campuran, putra-putri. Pada tahun 1927 diadakan pemisahan, dengan mendirikan “Kweekschool Istri”. Akhirnya pada Kongres Muhammadiyah tahun 1930 di Yogyakarta kedua sekolah guru ini diganti lagi namanya menjadi “Madrasah Mu’allimin Mu’allimat”. Sebelum itu, yaitu pada tahun 1928, Kongres/Muktamar di Medan mengamanatkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mengelola secara resmi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta ini sebagai tempat pendidikan calon kader pemimpin, guru agama dan mubaligh Muhammadiyah.

Sejak tahun 1921, Persyarikatan Muhammadiyah mulai berkembang ke luar wilayah Yogyakarta dan tahun 1930 telah merata hampir di seluruh pelosok Indonesia. Kweekschool Muhammadiyah Putra dan Putri yang telah diganti namanya dengan Madrasah Mu’allimin dan Madrasah Mu’allimat juga mulai menampung pelajar dari luar Yogyakarta, bahkan dari luar Jawa. Pada umumnya mereka dikirim ke Yogyakarta resminya oleh cabang-cabang Muhammadiyah. Rupanya cabang-cabang  telah memiliki kesadaran untuk menempa calon pemimpin, guru dan mubaligh Muhammadiyah serta ‘Aisyiyah.

Pada tahun 1980 di bawah kepemimpinan Ustadz HMS. Ibnu Juraimi, terjadilah perubahan sistem pendidikan Mu’allimin yang sangat mendasar. Jikalau pada masa sebelumnya asrama belum menjadi satu kesatuan sistem dengan madrasah, maka sejak tahun 1980 itulah Mu’allimin mulai menganut sistem “long life education”. Pada sistem ini madrasah hanyalah merupakan sub sistem dari pondok pesantren. Langkah perubahan ini didasari pemikiran bahwa tujuan pendidikan Mu’allimin yang sesuai dengan idealisme hanya bisa dicapai dengan memadukan sistem madrasah dan asrama.

Perpaduan antara kebutuhan persyarikatan (yakni : pencetakan kader-kader) dan kebutuhan umat saat itu (yakni : keinginan untuk memperoleh ijazah formal yang diakui oleh negara, sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi umum maupun agama) merupakan tuntutan yang tidak bisa dielakkan. Adapun langkah pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut. Pertama, memasukan kurikulum Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah sesuai Kurikulum 1975 (SKB 3 Menteri pada masa Menteri Agama Prof. Dr. A. Mukti Ali) ke dalam kurikulum Mu’allimin . Dengan cara ini para siswa Mu’allimin diharapkan  dapat mengikuti ujian Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Negeri. Kedua, para siswa diwajibkan tinggal di dalam Asrama/Pondok. Ketiga, pengajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris lebih diintensifkan lagi dengan tujuan mencetak siswa Mu’allimin yang handal dalam berbahasa asing, baik secara aktif maupun pasif.

Kemudian pada tahun 1987, di bawah kepemimpinan  Drs. H. Sri Satoto, dilakukanlah  resistematisasi kurikulum. Tujuannya agar proses pendidikan dan pengajaran dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna. Sehubungan dengan itu, pengembangan Mu’allimin dilajutkan lagi dengan kebijakan untuk merekayasa suatu paket terpadu yang menyangkut materi bidang studi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan teknik kurikulum silang (crossing curriculum), yakni memadukan materi GBPP Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Departemen Agama RI dengan materi Mu’allimin  yang merujuk kepada referensi “kitab kuning”. Proses terakhir inilah yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Tentu saja, dalam rangka memperoleh hasil yang sempurna, evaluasi dan revisi (perbaikan) terus menerus dilakukan terhadap materi bidang studi  Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Sampai saat ini Madrasah Mu’allimin telah sukses dalam menerapkan Pendidikan terpadu dengan Teknik kurikulum silang, ini dibuktikan dengan banyaknya peminat yang ingin menimba ilmu di Mu’allimin., tercatat ada 9 rombongan belajar untuk setiap tahun angkatannya, dan satu kelas berkisar antara 38-41 siswa. Total siswa Mu’allimin adalah 1393 orang. Mu’allimin sendiri menerapkan sistem integrasi Pendidikan antara Tsanawiyah dan ‘Aliyah sehingga siswa akan belajar di Mu’allimin selama 6 tahun, 3 tahun Tsanawiyah dan 3 tahun ‘Aliyah. Semua siswa Mu’allimin wajib tinggal di asrama, terdapat total 11 asrama yang ada di sekitar lingkungan Madrasah Mu’allimin.

Deretan Piala Prestasi Siswa Nampak Berjerer di Loby Madrasah Mu’allimin

Fasilitas yang ada di Mu’allimin juga terbilang sangat baik, Laboratorium IPA untuk tsanawiyah didesain dengan standar yang baik sehingga memudahkan siswa untuk belajar dan memahami percobaan yang dikerjakan. Mu’allimin juga memiliki banyak kegiatan ekstra kurikuler, diantaranya: Tapak Suci, Mu’allimin Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hizbul Wathan, Lembaga Pers Sinar, Mu’allimin Scientific Community (KIR), Student of Mu’allimin Medical Team (SUMMIT), dan Sobat Perpus Mu’allimin. Kegiatan ekstra kurikuler tersebut dapat diikuti siswa setelah jam pelajaran. Setelah mengikuti ekstra kurikuler, siswa akan mengikuti program asrama yang lebi menitikberatkan pada materi-materi keagamaan.

Mu’allimin memiliki fasilitas-fasilitas yang memudahkan para siswa untuk memenuhi kebutuhan hariannya, seperti swalayan, koperasi dan kantin yang berada dalam satu kompleks. Pada beberapa sudut di kompleks kampus mu’allimin terlihat ada papan baca, dimana disitu akan ditempel koran setiap harinya. Siswa Mu’allimin tidak diperkenankan membawa HP baik di sekolah maupun di asrama, dan akses internet dan televisi di madrasah sangatlah terbatas, sehingga koran merupakan sumber informasi utama para siswa, tak jarang sudut baca tersebut dipenuhi oleh siswa pada jam istirahat.

Lapangan tempat kegiatan ekstra kurikuler
Laboratorium IPA

 

Mu’allimin sebagai sekolah kader Muhammadiyah tentunya berharap mampu mencetak generasi-generasi penerus gerakan Muhammadiyah dan generasi penerus yang memajukan bangsa. Harapan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, bertumpu pada Pendidikan tingkat menengah di Mu’allimin. Sejak semula Mu’allimin adalah sekolah kader Muhammadiyah. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, lama pendidikan hanya 5 (lima) tahun. Mulai tahun 1957/1958, lama pendidikan di Mu’allimin menjadi 6 (enam) tahun — waktu itu setara dengan PGAA/PGAN — dan bertahan sampai sekarang.  Pada masa penjajahan dan dua dekade pasca kemerdekaan, Mu’allimin menjadi model pembibitan kader-kader Muhammadiyah yang militan. Istilah “Anak Panah Muhammadiyah” menjadi kebanggaan bagi para alumninya yang dikirim mengabdi ke berbagai pelosok wilayah Indonesia. Di sana mereka melakukan aktualisasi diri sebagai kader Muhammadiyah, dan hasilnya antara lain terbentuknya Ranting-ranting Muhammadiyah yang baru, atau lahirnya Madrasah-madrasah Mu’allimin yang meniru model Mu’allimin Yogyakakarta.

Setelah Persyarikatan Muhammadiyah menjadi organisasi yang besar dengan bidang garap yang semakin luas, maka Mu’allimin pun mengalami perubahan sebagai pusat pembibitan kader Muhammadiyah. Karena prototip kader Muhammadiyah mengalami perubahan dan penyesuaian diri, maka lulusan Mu’allimin pun dianggap belum mencukupi  tuntutan masyarakat yang semakin maju. Akhirnya,  Mu’allimin pun memposisikan dirinya  hanya sebagai pusat pembibitan kader Muhammadiyah tingkat menengah. Meskipun demikian, tetap terbuka bagi para alumninya untuk mengikuti proses pengkaderan tingkat lanjut, baik di Perguruan Tinggi Muhammadiyah maupun di dalam Ortom-ortom Muhammadiyah, seperti IRM, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan Pemuda Muhammadiyah tingkat Daerah, Wilayah maupun Pusat.*Thoriq Teja Samudra 

Tinggalkan Balasan

Close Menu