LAUT SEBAGAI SUMBER PENGHIDUPAN MANUSIA

LAUT SEBAGAI SUMBER PENGHIDUPAN MANUSIA

Kota-kota penting dunia pada umumnya tumbuh dan berkembang tidak jauh dari laut. Tumbuh dan berkembangnya pun relatif lebih cepat dibandingkan kota-kota yang letaknya jauh dari laut. Hal ini disebabkan oleh dekatnya kota-kota tersebut dengan laut sebagai sumber penghidupan, juga sebagai sarana tranportasi yang mendukung kegiatan perdagangan antardaerah.

Di Indonesia saja diperkirakan ada sekitar 140 juta atau hampir 60% penduduk yang bertempat tinggal di daerah pesisir. Tercatat pada tahun 2002 sebanyak 219 kabupaten/kota di Indonesia (atau 68%) di antaranya memiliki wilayah pesisir.

Wilayah pesisir pantai dan laut memiliki peran yang strategis dan penting. la tidak sekadar menjadi hunian yang nyaman, tetapi juga mendukung berbagai macam kegiatan usaha. Wilayah pesisir dan laut merupakan tempat yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah. Bagi masyarakat di wilayah seperti ini laut memang menjadi sumber mata pencaharian yang utama dan telah berlangsung berabad-abad lamanya.

Sejak dahulu laut telah menjadi sumber penghidupan manusia. Di dalamnya terdapat aneka macam biota laut yang terus-menerus berkembang sebagai bagian dari ekosistem dan persediaan konsumsi bagi manusia. Allah menakdirkan reproduksi makhluk-makhluk itu cepat dan berlimpah. Ikan memiliki telur berjuta-juta setiap kali masa reproduksi. Setelah menetas sebagian menjadi suplai makanan untuk ikan-ikan yang lebih besar sebagai bagian dari mata rantai kehidupan (ekosistem), dan sebagiannya lagi untuk menjadi santapan manusia sebagai sumbergizi hewani yang sangat diperlukan.

Laut menjadi tempat para nelayan mencari ikan dan hasil laut lainnya untuk konsumsi dan komoditas. Berbagai cara dan metode digunakan unuk memperoleh hasil laut, dari yang tradisional hingga modern. Laut sebagai sumber penghidupan dengan indah digambarkan Allah dalam firman-Nya,

 

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. (Alquran, Surah an-Naḥl/16: 14)

 

Dengan rahmat-Nya Allah telah mengaruniai manusia lautan yang di dalamnya tersimpan kekayaan alam yang melimpah. Semuanya diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia. Dengan menggunakan perahu manusia dapat berlayar mengelilingi bumi menuju tempat-tempat jauh yang dia sukai, untuk menjemput rezeki masing-masing yang sudah ditetapkan-Nya. Allah berfirman,

 

رَّبُّكُمُ الَّذِي يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Tuhanmulah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari karunia-Nya. Sungguh, Dia Maha Penyayang terhadapmu. (Alquran, Surah al-Isrā’/17: 66)

Ayat ini mengandung makna yang dalam, berkaitan dengan cara-cara manusia mendapatkan rezeki berupa kekayaan alam ataupun rahasia di balik kekayaan yang tersimpan di lautan. Dalam hal ini Allah memerintahkan manusia untuk berupaya mengembangkan ilmu pengetahuannya agar dapat mengambil manfaat laut. Tidak terbatas hanya pada daging (ikan) segar, tetapi juga mineral, tambang, obat-obatan, dan sebagainya. Sampai saat ini laut masih belum banyak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hanya dengan ilmu pengetahuan yang didasari rasa syukur kepada Allah yang akan membawa manusia kepada kehidupan yang sejahtera, penuh keberkahan, baik dunia maupun akhirat.

Selain itu, ayat di atas menyebutkan dua hasil laut, yaitu daging (ikan) yang segar dan perhiasan. Menurut az-Zamakhsyari, penyebutan daging ikan yang segar hakikatnya merupakan sebutan yang mewakili semua jenis bahan pangan yang dihasilkan oleh laut dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Sejak dahulu sampai sekarang laut telah menyediakan berbagai bahan pangan untuk manusia dengan berlimpah. Tidak hanya berbagai jenis ikan, tetapi masih ada kerang, tiram, udang, cumi, dan makanan laut lainnya, termasuk garam disediakan oleh laut sebagai bahan makanan yang mudah dijangkau dengan gizi bermutu tinggi.

Allah telah menjamin pula kehalalan ikan-ikan yang hidup di laut sebagaimana dapat dipahami dari Surah al-Mā‘idah/5: 96 berikut.

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram, dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Alquran, Surah al-Mā‘idah/5: 96)

 

Ikan laut kaya akan kandungan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Selera makan dapat dibangkitkan dengan memakan telur ikan. Vitamin A dan D terdapat dalam organ-organ ikan, terutama hati. Kalsium, zat besi, dan fosfor terdapat dalam tulang ikan yang bermanfaat untuk tulang dan pertumbuhan gigi anak. Mengonsumsi ikan laut sejak dini dapat meningkatkan perkembangan dan kecerdasan otak anak serta dapat mencegah datangnya beberapa penyakit degeneratif.

Salah satu kandungan gizi yang sangat penting pada ikan laut adalah omega-3 (EPA dan DHA). Beberapa jenis ikan laut dengan kandungan omega-3 yang banyak dijual di pasaran Indonesia adalah tuna,tongkol, tengiri, ikan layang, kembung, dan lemuru. Dari penelitian para ilmuwan diperoleh gambaran hasil bahwa rata-rata orang yang mengonsumsi ikan akan relatif lebih sehat dan terhindar dari serangan jantung dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi ikan. Ikan merupakan sumber nutrisi penting yang memiliki unsur-unsur yang berguna bagi tubuh. Kandungan asam omega-3 dalam ikan jika dikonsumsi secara teratur akan mengurangi risiko serangan jantung dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Yang dimaksud dengan buruan laut ialah binatang yang diperoleh dengan jalan mengail, memukat, dan sebagainya. Termasuk dalam pengertian laut di sini adalah sungai, danau, kolam, dan sebagainya.

  1. Pengertian ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah dikarenakan ketika ditemukan dalam keadaan telah mati, terapung, atau terdampar di pantai dan sebagainya.
  2. Para nelayan atau siapa pun dapat menangkap ikan di laut dengan berbagai cara yang mudah sepanjang tidak merusak lingkungan habitat tempat makhluk-makhluk itu berkembang biak secara alami. Demikian pula memungut ikan-ikan yang telah mati mengapung untuk dikonsumsi sepanjang tidak berbahaya bagi kesehatan, misalnya karena tercemar oleh berbagai logam berat (mercury) maupun zat berbahaya lainnya. Mengonsumsi sesuatu yang berbahaya adalah hal yang dilarang oleh Allah, sebagaimana dapat dibaca dalam surah al-Baqarah/2: 195.

 

Penelitian yang dilakukan pada bangsa Eskimo menunjukan bahwa penduduk setempat jarang dijumpai menderita penyakit jantung. Mereka banyak mengonsumsi ikan, antara 300-400 gram per hari. Begitu juga bangsa Jepang, khususnya masyarakat Okinawa; jumlah pengidap penyakit jantung di antara mereka jauh lebih rendah daripada penduduk daerah lainnya, karena penduduk Okinawa banyak mengkonsumsi ikan.

Indonesia sangat kaya akan hasil laut, khususnya ikan. Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan potensi sumber daya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,408 juta ton per tahun, yang terdiri dari pelagis besar sekitar 1,165 juta ton per tahun, pelagis kecil sekitar 3,605 juta ton per tahun, demersal sekitar 0,145 juta ton per tahun, dan udang, termasuk cumi-cumi, sekitar 0,128 juta ton pertahun.

Dilihat dari konteks Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) ini potensi sumber daya perikanan terbesar terdapat di WPP 1 (Samudra Hindia), di mana tercatat memiliki potensi sumber daya perikanan sebesar 1.076.890 ton per tahun, diikuti oleh WPP 2 (Laut Cina Selatan) sebesar 1.057.050 ton per tahun, sedangkan potensi sumber daya perikanan terkecil terdapat di WPP 1 (Selat Malaka), yaitu hanya sebesar 276.030 ton per tahun. Sayangnya, pola konsumsi ikan masyarakat kita masih sangat rendah. Pola makan ikan harus terus disosialisasikan agar menjadi menu harian, mengingat ikan sangat baik untuk kesehatan.Dalam ayat lainnya Allah berfirman,

 

وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ ۖ وَمِن كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا ۖ وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 

Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu.Lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (Alquran, Surah Fāṭir/35: 12)

 

Kata perhiasan (ilyah) pada ayat di atas berkaitan dengan mutiara (lu’lu’) dan marjan. Ayat di atas pun merupakan penjelasan tentang hasil laut yang dapat menjadi komoditas ekonomis yang bernilai tinggi. Kerang ataupun tiram mutiara adalah hewan laut penghasil mutiara yang paling umum dibudidayakan untuk diambil mutiaranya. Mutiara alami berkualitas terbaik sangat dihargai sebagai batu permata dan telah menjadi objek keindahan selama berabad-abad. Karenanya, kata “mutiara” telah menjadi metafora untuk sesuatu yang sangat langka, baik, mengagumkan, dan berharga.

Hampir semua moluska bercangkang bisa menghasilkan mutiara melalui proses alami. Ketika suatu objek mikroskopis, pasir atau benda padat lainnya, terperangkap di dalam mantel Iipatan moluska, secara bertahap objek tadi terbungkus semacam lendir atau nacre sehingga jadilah mutiara. Di alam, mutiara terbentuk akibat adanya irritant yang masuk ke dalam mantel kerang mutiara.

Mutiara yang terbentuk tanpa intervensi manusia sama sekali sangat jarang terjadi. Karenanya, hanya untuk menemukan satu mutiara liar manusia harus memilih satu persatu dari sekian banyak kerang yang diperoleh dari laut. Itulah satu-satunya cara untuk memperoleh mutiara. Mungkin hal ini pula yang menjadi alasan utama mengapa mutiara menjadi barang yang sangat berharga pada masa lalu. Adapun mutiara budi daya merupakan salah satu jenis mutiara yang dibentuk dengan campur tangan manusia yang dilakukan di sebuah peternakan mutiara.

Barang-barang berharga yang dieksplorasi dari laut telah dikenal lama. Nabi Sulaiman telah mempekerjakan akhluk-makhluk gaib sebangsa jin untuk menyelam ke dasar lautan guna mengambil batuan permata yang bernilai sangat tinggi untuk memperindah istana (haikal) Sulaiman. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah, misalnya Surah al-Anbiyā’/21: 82,

 

وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ

Dan (Kami tundukkan pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mereka mengerjakan pekerjaan selain itu; dan Kami yang memelihara mereka itu. (Alquran, Surah al-Anbiyā’/21: 82)

 

Dalam menafsirkan ayat ini Sayyid Quṭb mengemukakan bahwa salah satu pengkhidmatan jin kepada Nabi Sulaiman yang diberikan Allah adalah kemampuannya menyelam sampai kedasar samudra dan masuk ke lapisan-lapisan bumi untuk mengeluarkan isi kandungannya yang sangat berharga (Quṭb, tt: 5/167). Hal ini menunjukkan bahwa di dasar laut terkandung banyak barang-barang yang dapat dieksplorasi dan dieksploitasi bagi kepentingan umat manusia. Allah mudahkan manusia untuk memperoleh sumber daya laut yang amat sangat dibutuhkan, seperti berbagai biota laut dan sejenisnya. Sementara barang-barang yang lebih mahal harganya untuk keperluan semisal perhiasan diletakkan Allah agak ke dalam sehingga memerlukan lebih banyak usaha untuk memperolehnya, karena kebutuhan terhadap benda-benda itu tidak bersifat arūriyyāt (emergency, mendesak), tapi hanya sekadar tasīniyyāt (aksesori).

Laut ataupun samudra merupakan sebuah ekosistem besar yang menjadi tempat hidup berbagai macam biota laut, dari yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar, yang hidup di pesisir hingga yang hidup di laut dalam. Perubahan kondisi laut yang terjadi di masa lalu hingga saat ini dengan berbagai interaksi sesama biota laut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap daya adaptasi pada biota laut. Kemampuan adaptasi biota laut yang berlanjut dalam jangka waktu lama yang akhirnya menjadi sebuah evolusi menjadikan keanekaragaman biota laut menjadi semakin berkembang dan tinggi. Selain itu, laut dengan berbagai kondisi fisik, kimia, dan topografi telah menjadikan biota laut yang hidup didalamnya semakin beragam.

 

Di wilayah perairan Indonesia ditemukan keragaman biota laut yang

begitu tinggi. Mulai dari ikan, moluska, krustasea, alga, hingga karang, kesemuanya ditemukan di perairan laut Indonesia dengan jenis yang sangat beragam. Diperkirakan ada lebih dari 500 jenis karang yang hidup di perairan Indonesia, khususnya di perairan laut wilayah timur Indonesia. Kondisi demikian memungkinkan biota taut lain yang hidup pada ekosistem terumbu karang semakin beragam dan bahkan masih belum banyak diketahui.

Begitu besar jumlah sumber daya kekayaan alam yang tersimpan dalam lautan. Cencus of Marine Life (CoML), sebuah organisasi kemitraan ilmiah yang melibatkan lebih dari 500 institusi dan donatur dari lebih dari 80 negara di Afrika, Asia, Australia, Eropa, Amerika Utara dan Selatan, Ocenia, termasuk Indonesia, dan melibatkan sekitar 2.700 ilmuwan (Wagey, 2012), memperkirakan jumlah spesies di lautan dunia saat ini mencapai 950 ribu spesies. Daftar spesies tersebut termasuk biota laut yang potensial untuk dikembangkan sebagai alternatif bahan atau sumber makanan. Bahkan dari jumlah itu, 200 ribu spesies telah dideskripsikan. Selebihnya potensial dideskripsikan yang memungkinkan untuk diteliti dan dianalisis apakah berpotensi menjadi spesies baru. Namun, dari jumlah spesies tersebut yang telah dimanfaatkan sampai saat ini hanya sekitar 1%.

Saat ini dunia sedang menghadapi masalah serius dengan meningkatnya konsumsi pangan. Hal ini diakibatkan bertambahnya jumlah populasi dan peningkatan konsumsi masyarakat di negara-negara berkembang. Produk pangan yang dihasilkan di daratan diperkirakan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia untuk beberapa tahun ke depan, sementara banyak sumber pangan laut yang belum dimaksimalkan pemanfaatannya. Lautan yang menjadi sumber penghidupan manusia masa depan baru dieksplorasi sekitar 8 persennya saja. Adalah tantangan bagi kita untuk mengeksplorasi laut melalui pemanfaatan sains dan teknologi yang memadai agar dapat diperoleh data yang akurat dan terukur, sehingga biota laut sebagai sumber pangan alternatif pilihan yang tepat dapat dilakukan.

Hasil penelitian sementara diketahui bahwa biota laut juga potensial untuk menjadi pengganti sumber protein dan karbohidrat yang dibutuhkan tubuh. Misalnya dari rumput laut dan teripang dapat menjadi sumber pangan alternatif, karena kandungan proteinnya.

Di samping sebagai bahan pangan alternatif ternyata ada juga beberapa jenis biota laut yang dapat menjadi bahan obat-obatan dan kosmetik yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Telah banyak usaha dilakukan oleh peneliti-peneliti untuk menemukan sesuatu yang baru dari biota-biota laut. Awal dari penelitian yang tak kenal lelah ini adalah ketika ditemukannya senyawa bioaktif baru dari biota laut dan tidak pernah ditemukan dari biota darat.

Seiring dengan perkembangan zaman, upaya penelitian terus dilakukan untuk mengungkap kandungan bahan obat apa saja yang ada pada berbagai jenis biota laut. Hal ini sejalan dengan penelitian-penelitian tentang obat-obatan yang terus dilakukan, mengingat semakin banyaknya jenis-jenis penyakit yang bermunculan akhir-akhir ini. Dari penelitian diperoleh lebih dari 10.000 senyawa bioaktif yang telah berhasil diisolasi dari biota laut, dan sekitar 300 paten dari senyawa tersebut telah berhasil dipublikasikan. Penemuan senyawa-senyawa bioaktif baru dari laut ini memiliki potensi sebagai bahan baku obat yang memberi harapan baru bagi penanganan berbagai jenis penyakit yang masih belum ditemukan obatnya.

Meski demikian, masih banyak potensi biota laut yang belum terungkap, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Rokhmin Dahuri, mantan Guru Besar IPB. Berikut jenis-jenis biota laut yang sangat berpotensi untuk digarap. Sponges dan karang lunak (soft corals) mengandung berbagai jenis senyawa bioaktif yang bermanfaat sebagai obat antikanker, antibakteri, antiasma, anti fouling. Senyawa bioaktif lainnya dari sponges yang juga digunakan untuk industri farmasi adalah bastadin, okadaic acid, dan monoalide. Senyawa bioaktif monoalide yang diperoleh dari sponge Luffariella variabilis merupakan senyawa yang memiliki nilai jual tinggi, mencapai harga US$ 20,000/miligram.

Beberapa jenis mikroalga juga memiliki potensi menghasilkan bahan bioaktif, misalnya Spirulina. Bahan tersebut telah diproduksi secara komersial. Spirulina juga memiliki kandungan lengkap vitamin dan mineral. Spirulina memiliki tiga pigmen yang kaya akan protein, yaitu phycosianin, klorofil, dan zeasantin. Phycosianin yang merupakan antioksidan larut air berkhasiat menunjang kesehatan hati dan ginjal; zeasantin berkhasiat untuk kesehatan mata; dan klorofil adalah antioksidan yang bersifat antikanker dan antiracun. Spirulina (nama lain: Artrosphira) adalah tumbuhan dengan struktur sel yang sederhana. Dia adalah organisme nabati renik (tumbuhan air mikroalga) yang hidup pada medium air tawar hingga air laut; memiliki dimensi tebal 0,1 µm dan panjang 10-200 µm; berbentuk spiral dengan jumlah sinusoid 10 hingga puluhan kali; secara alamiah hidup di laut maupun danau alkali; dan berwarna hijau kebiruan (kandungan pycocyanin). Alga ini termasuk golongan Cyanobacteria dan merupakan anggota famili osciliatoriaceae, juga termasuk salah satu organisme fotosintesis pertama di dunia dan telah hidup sejak 3,5 miliar tahun yang lalu.Terdapat lebih dari 50 spesies Spirulina. Dua spesies yang populer di antaranya dikembangbiakkan, yakni Spirulina platensis dan Spirulina maxima.

Selain mikroalga, masih banyak biota laut di Indonesia yang mengandung bahan-bahan bioaktif yang bermanfaat bagi industri kosmetik, kesehatan, makanan, dan berbagai industri lainnya. Jenis invertebrata laut seperti tunicate (Tridemnum sp) misalnya mengandung bahan aktif untuk penyembuhan penyakit leukimia, B-16 melanoma, dan M5076 sarcoma. Tempurung kura-kura dan penyu diekstrak untuk obat luka dan tetanus; ekstrak kuda laut untuk penenang atau obat tidur dan sebagai obat kuat semacam viagra. Empedu ikan buntal, yang dulu berbahaya/beracun dan dapat membuat pengonsumsinya meninggal karena substansi bioaktif tetrodotoksin, kini sudah dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk memperbaiki saraf otak yang rusak dan sebagai zat anestesi bagi pasien yang akan dioperasi.

Sementara itu, pemanfaaatan limbah krustasea seperti udang, kepiting, rajungan, dan lobster menjadi khitin dan khitosan telah banyak digunakan dalam industri kertas, tekstil, bahan perekat, bahan pengelat, dan obat penyembuh luka. Salah satu terobosan bioteknologi dalam pemanfaatan Iimbah udang yang menjadi isu nasional pada awal tahun 2006 yaitu ditemukannya pengganti formalin oleh khitosan dari limbah kulit udang. Tidak seperti formalin, khitosan dari Iimbah kulit udang aman bagi tubuh karena bersifat nontoksik dan mampu membentuk tekstur makanan menjadi lebih baik. Dengan demikian, selain dapat mengawetkan makanan,khitosan juga mampu menjaga mutu produk yang dinginkan.

Omega-3 juga dikenal sebagai produk bioteknologi yang berasal dari minyak ikan. Omega-3 mempunyai fungsi vital dalam meningkatkan tingkat kecerdasan serta menjaga kesehatan jantung dan persendian. Kandungan EPA (Eicosa Pentanoic Acid) dan DHA(Dokosa Hexanoic Acid) dalam Omega-3 merupakan rantai karbon tak jenuh yang berkhasiat juga untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Filum Ecinodermata laut yang sedang menjadi primadona saat ini di Indonesia dan Malaysia adalah timun laut atau teripang (gamat). Biota bergenus Holoturia sp. ini selain memiliki rasa yang lezat juga memiliki khasiat mujarab untuk obat karena kandungan asam amino esensialnya yang lengkap. Secara tradisional teripang telah digunakan dalam pengobatan Cina sejak ribuan tahun silam. Teripang sebagai obat berkhasiat mengatasi penyakit sirosisi hati, mioma, dan penyakit-penyakit yang menyebabkan pengerasan dan pembengkakan organ tubuh. Selain itu, teripang berkhasiat membantu proses penyembuhan stroke, asma, diabetes melitus, jantung koroner, hepatitis, psoriasis, asam urat, dan radang sendi/osteoarthritis. Kandungan kolagen, MPS (mucopolisacarida), EPA, dan DHA menjadi rahasia di balik khasiat teripang dalam menyembuhkan penyakit-penyakit itu. Sayangnya, meski Indonesia memiliki keragaman spesies yang tinggi (dari 1.200 spesies teripang, 200 di antaranya hidup di Indonesia), namun masih belum ada industri pengolahan teripang yang tangguh dengan produk hulu-hilirnya.

Mengingat potensi biota laut sebagai sumber pangan alternatif (termasuk bahan obat-obatan), dan maraknya isu ancaman terhadap ekosistem laut yang disebabkan oleh perubahan iklim, overfishing, dan illegal fishing, sudah sepatutnya langkah antisipatif disiagakan untuk mengatasinya.Pengelolaan ekosistem yang baik, bijak, dan terpadu kiranya menjadi bagian yang dipentingkan agar kehidupan biota laut dapat berlangsung dengan sehat untuk mencegah kepunahan atau terjadinya degradasi ekosistem laut. Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan megabiodiversity, sudah sepatutnya berkepentingan untuk memastikan kelestarian sumber daya laut yang berkontribusi sebagai sumber penghidupan, mengingat hampir 140 juta jiwa penduduknya hidup di wilayah pesisir.

Semoga suatu harapan akan terwujud dengan izin-Nya,senafas dengan pesan firman-Nya, sebagaimana telah disebutkan dalam Surah al-Baqarah/2: 164 di atas, bahwa kapal yang berlayar di laut kelak akan membawa muatan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, antara lain berupa hasil “panen laut” yang ditangani secara bijak. Pewujudan harapan adalah suatu perjuangan. Perjuangan yang relevan  untuk saat ini adalah bagaimana kita mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan agar kemurahan yang telah dilimpahkan Allah dapat dimanfaatkan manusia dengan sebaik-baiknya guna membangun kesejahteraan yang pernuh keberkahan.

 

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Tinggalkan Balasan

Close Menu