LAUT SEBAGAI SARANA TRANSPORTASI

LAUT SEBAGAI SARANA TRANSPORTASI

Laut adalah ciptaan Allah yang sungguh menakjubkan. la terbentang luas seakan tidak bertepi, menghubungkan daratan benua yang satu dengan benua lainnya. Pulau-pulau kecil yang letaknya jauh terpencil pun dapat ditambahnya. Air laut yang merupakan cairan-fluida dengan sifatnya yang khas Dia ciptakan untuk berbagai tujuan dan kepentingan manusia. Dengannya kapal, perahu, dan bahtera dapat melaju dengan mudah, bergerak meluneur di permukaannya.

  1. Air Laut Bersifat Kohesif

Sifat air laut yang lunak mudah terurai atau dipisahkan oleh benda padat, seperti kapal dan perahu yang terbuat dari kayu atau besi, adalah sifat istimewa yang dimiliki oleh zat cair pada umumnya. Sifat ini menjadi sunatullah atau hukum Allah, yang menjadi ketetapan bagi-Nya.

Dalam kaidah ilmu fisika dan kimia, seperti halnya benda-benda di alam, semua terbentuk dari bangunan atom atau molekul. Begitu pula dengan molekul air laut dibangun oleh atom hidrogen dan oksigen yang bentuk murni keduanya berupa gas yang mudah terbakar atau meledak. Bentuk ikatan yang terdiri 2 atom hydrogen barang. Antara prasarana (laut atau sungai) dan kapal, keduanya bersinergi memudahkan manusia bermobilitas melalui laut. Karena itulah Alquran menggunakan ungkapan taskhīr al-bar (an-Naḥl/16: 14, al-Jāṡiyah/45: 12), taskhīr al-anhār (lbrāhīm/14: 32), dan taskhīr al-fulk (lbrāhīm/14: 32, al-Ḥajj/22: 65). Istilah ‘menundukkan’ atau memudahkan bahtera dalam berlayar sebagai sarana transportasi di lautan atau di sungai sebagai prasarana pelayaran dapat dipahami dari berbagai ayat, antara lain Surah Ibrāhīm‎/14: 32 sebagai berikut.

 

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ

 

Allah-Iah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. ( Alquran, Surah lbrāhīm/14: 32)

 

Kemudahan lain yang diperoleh dengan menggunakan prasarana laut sebagai tempat berlayarnya kapal-kapal adalah jasa bintang. Di malam gelap para nakhoda dapat mengetahui posisi dan arah perjalanan melalui rasi bintang, sebelum peralatan navigasi elektronik ditemukan. Para nelayan maupun kapal-kapal yang belum dilengkapi instrumen navigasi modern tentu masih tetap mengandalkan posisi bintang-bintang di langit yang menjadi petunjuk posisi dan waktu di tengah lautan yang gelap. Bintang-bintang di langit berfungsi sebagai petunjuk arah bagi pelayaran kapal-kapal di laut diisyaratkan oleh Alquran dengan sangat jelas, seperti tertera pada Surah al-An‘ām/6: 97 berikut.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ۝

Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Kami telah menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orangorang yang mengetahui. (Alquran, Surah al-An‘ām/6: 97)

 

Bintang-bintang di tengah lautan begitu diperlukan ketika pada permukaan laut tidak ada yang dapat menjadi petunjuk arah. Dalam kegelapan malam, ketika tidak ada lagi daratan yang tampak, yang terlihat hanyalah bintang-bintang yang menghiasi langit yang dapat memberi petunjuk arah. Benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang menjadi sangat penting di lautan karena benda-benda angkasa itulah yang secara alamiah diciptakan Allah untuk setia muncul dan tampak dalam pelayaran di tengah samudra nan luas.

Pada awalnya manusia menggunakan alat angkutan air untuk mengarungi sungai atau lautan. Pada masa lampau manusia biasa menggunakan kano, rakit, ataupun perahu. Seiring makin besarnya kebutuhan akan daya muat, dibuatlah kebutuhan atau rakit yang berukuran lebih besar. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kapal pada masa lampau adalah kayu, bambu, atau batang batang kayu. Sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi digunakanlah bahan-bahan logam seperti besi/baja, sehingga kapal menjadi lebih kokoh dan kuat ide awal manusia untuk membuat kapal berupa perahu yang besar mungkin saja berhubungan erat dengan turunnya wahyu Ilahi melalui perintah-Nya kepada Nabi Nuh. Allah berfirman,

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ ۙ فَاسْلُكْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ ۖ وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۖ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ ۝

 

Lalu Kami wahyukan kepadanya, “Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, maka masukkanlah kedalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksaan) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (Alquran, Surah al-Mu’minūn/23: 27)

 

Dari perspektif ilmu pengetahuan, sampai saat ini lokasi terdamparnya bahtera Nabi Nuh masih merupakan kesimpulan sementara, yaitu Gunung Judi, tetapi di dalam Alquran sangat jelas disebutkan demikian sebagaimana tercantum Surah Hūd/11: 44. Jika dicermati, secara geografis Gunung Judi masih termasuk bagian dari Pegunungan Ararat, nama tempat kandasnya bahtera Nabi Nuh sebagaimana tertulis dalam Bibel. Pegunungan Ararat atau dalam bahasa Turki lebih dikenal dengan sebutan Agri Dagh, terletak dekat perbatasan Turki-Iran-Armenia.

 

  1. Indonesia Negara Maritim

Sebagai negara maritim Indonesia membutuhkan kapal dari berbagai jenis yang diperlukan sebagai sarana/alat transportasi dan sebagai sarana/alat kerja pertambangan, perikanan, pariwisata, maupun sebagai alat utama sistem pertahanan (alutsista). Kapal merupakan komoditas yang penting sehingga ia merupakan bagian dari infrastruktur pembangunan nasional dan industri perkapalan.

Galangan kapal pun juga merupakan salah satu industri strategis yang harus ditumbuhkembangkan sebagai penyedia sarana transportasi dan sarana kerja pertambangan, perikanan, pariwisata, serta penyedia alutsista.

Dalam catatan sejarah bangsa diceritakan bahwa sebelum Candi Borobudur dibuat, nenek moyang kita sudah berinteraksi dan berdagang dengan dunia luar. Alat transportasi laut yang mereka gunakan terpahat sangat bagus di relief Candi Borobudur.

Diceritakan bahwa kerajaan Sriwijaya bercirikan kerajaan maritim. Sriwijaya betul-betul mengandalkan hegemoninya pada kekuatan armada lautnya dalam menguasai alur pelayaran, jalur perdagangan, menguasai dan membangun beberapa kawasan strategis sebagai pangkalan armadanya dalam mengawasi, melindungi kapal-kapal dagang, memungut cukai, serta untuk menjaga wilayah kedaulatan dan kekuasaannya. Sebagai kerajaan bahari, pengaruh Sriwijaya jarang masuk hingga jauh ke wilayah pedalaman. Sriwijaya kebanyakan menerapkan kedaulatannya di kawasan pesisir pantai dan kawasan sungai besar yang dapat di jangkau armada perahu angkatan lautnya diwilayah Nusantara,termasuk pulau Madagaskar di Afrika.

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi diketahui bahwa pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya-Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Filipina. Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali jalur perdagangan rempah dan perdagangan lokal. Dalam catatan itu digambarkan betapa Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar yang menguasai jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara sepanjang abad ke-10, walaupun sempat ada saingan dari Kerajaan Medang dari Jawa Timur yang tumbuh menjadi kekuatan bahari baru.

Dari kisah di atas dapat diambil gambaran bahwa sudah sejak dulu kala laut dijadikan sarana transportasi oleh manusia Indonesia untuk mendukung kegiatan perdagangan kerajaan ketika itu. Sungguh benar janji Allah dalam firman-firman-Nya yang telah menundukkan lautan untuk kepentingan hamba-Nya; berlayar dan membawa mereka dengan tiupan angin yang baik untuk mencari sebagian dari karunianya. Allah berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ۝

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati(kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tandatanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. (Alquran, Surah al-Baqarah/2: 164)

 

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tu/us ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dar; (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur. (YOnus!1o: 22)

 

  1. Perkembangan Teknologi Transportasi di Abad Kemajuan Iptek

 

Dewasa ini kapal lazim dikenal sebagai alat angkutan untuk penumpang

dan barang di laut ataupun di sungai dan danau, seperti halnya sampan

atau perahu. Berabad-abad kapal digunakan untuk mengangkut penum

pang dan barang sampai akhirnya ditemukan pesawat terbang yang mampu

mengangkut barang dan penumpang dengan waktu tempuh yang lebih singkat. Kendati demikian, untuk urusan tonase muatan yang lebih besar kapal tetap lebih unggul.

Perbedaan tempat oleh perairan, yang memiliki sifat dan kedalaman yang berbeda-beda, menuntut diciptakannya kapal yang mampu melintasi perairan yang luas. Sejak abad pertengahan para ilmuwan Eropa bahkan sudah mulai memikirkan bagaimana membuat kapal yang dapat menyelam dan bermanuver di dalam air.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penggunaan kapal pun ikut berkembang yang disesuaikan dengan kebutuhanya. Bagaimana sebuah kapal dapat mengapung di atas air dapat dijelaskan melalui kaidah ilmu fisika, yakni karena berlakunya hukum Archimedes ambar 5.13). Dari eksperimennya ia berkesimpulan bahwa “sebuah benda” yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya.”

Ketika kapal mengapung, hanya sebagian volume kapal yang tercelup di dalam air sehingga besarnya volume air yang berpindah akan lebih kecil dari pada jumlah volume total kapal yang mengapung. Karenanya, kapalan mengapung jika gaya apung lebih besar daripada berat kapal dan massa jenis kapal harus lebih kecil daripada massa jenis air. Khusus kapal selam, ia dapat berada dalam tiga keadaan, yaitu mengapung, melayang, dan tenggelam (Gambar 5.14). Ketiga keadaan ini dapat dicapai dengan mengatur banyaknya air dan udara dalam badan kapal selam. Pada badan kapal selam terdapat bagian yang dapat diisi udara dan air. Ketika kapal selam ingin terapung maka bagian tersebut harus berisi udara. Peristiwa kapal mengapung sudah dijelaskan tersebut di atas. Ketika akan melayang, udara pada kapal dikeluarkan dan diisi dengan air sehingga mencapai keadaan melayang. Pada peristiwa melayang, volume air yang dipindahkan (volume kapal yang tercelup) sama besarnya dengan volume total kapal yang melayang. Dengan kata lain, kapal melayang jika gaya apung sama dengan berat kapal, dan massa jenis kapal harus sama dengan massa jenis air. Jika ingin tenggelam maka air dalam kapal selam harus di perbanyak

Sekarang ini kapal tidak sebatas difungsikan sebagai pengangkut penumpang dan barang, tetapi digunakan juga untuk berbagai kepentingan lainnya yang lebih khusus, seperti eksplorasi mencari minyak, mineral, dan bahan tambang atau untuk penelitian lainnya. Untuk mengangkut minyak manusia menggunakan kapal jenis tanker dengan berbagai ukurannya.

Dalam perkembangannya kapal modern telah menggunakan bahan bakar fosil, yaitu solar dan bensin, bukan lagi dayung atau layar. Namun, dengan perkiraan bahwa bahan bakar fosil akan segera habis maka industri kapal dunia sudah mulai membuat kapal berbahan bakar nuklir. Nuklir sudah dipakai sebagai bahan pada kapal-kapal perang untuk operasi militer. Negara-negara besar seperti Amerika dan Rusia sudah mempunyai kapal bertenaga nuklir, seperti kapal induk milik Amerika, USS Enterprise, dan apal pemecah es milik Rusia, Lenin.

Leave a Reply

Close Menu