LABU

LABU

Yaqṭīn (Lagenaria siceraria) termasuk kelompok labu-labuan (Cucurbitaceae). Kata ini disebutkan satu kali dalam Alquran terkait kisah Nabi Yūnus‎, yakni dalam firman Allah,

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ۝ إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ۝ فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ۝ فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ۝ فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ۝ لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ۝ فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ۝ وَأَنبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ۝

Dan sungguh, Yūnus benar-benar termasuk salah seorang rasul, (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan. Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu. (Alquran, Surah aṢāffāt/37: 139-146)

 

Dalam Bahasa Arab, kata Yaqṭīn mencakup semua tumbuhan tak bercabang (dalam artian seperti tumbuhan merambat), termasuk di dalamnya semangka dan mentimun. Labu yang disebutkan dalam Alquran tampaknya mengacu pada labu (Inggris: pumpkin), yang juga disebut dubbā’ atau Qar. Kata yang pertama termaktub dalam salah satu hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Mālik,

 

Seorang lelaki mengundang Rasulullah, dan aku pun mendampinginya. Kemudian dihidangkanlah oleh lelaki itu sup yang di dalamnya terdapat dubbā’ . Lalu Rasulullah pun mencicipi dan mengagumi rasa dubbā’ itu. Melihat hal itu aku pun memberikan dubbā’ ku kepada beliau tanpa kumakan sedikit pun. Sejak saat itu aku sangat menyukai dubbā’ (Riwayat al-Bukhāri  dan Muslim dari Anas)

 

Labu yang dikenal dengan berbagai nama, seperti calabash, bottle gourd, opo squash, atau long melon, ditanam untuk dimanfaatkan buahnya, baik yang masih muda maupun yang sudah masak. Buah muda biasa dimanfaatkan sebagai sayuran, sedangkan kulit buah masak yang telah dikeringkan dapat digunakan sebagai botol, alat keperluan sehari-hari, hingga pipa. Labu sudah dibudidayakan sejak lama. Hanya saja saat itu buahnya tidak untuk dimakan, namun dibiarkan sampai masak untuk dijadikan wadah. Kata calabash itu sendiri berakar pada kata berbahasa Spanyol, calabaza, yang kemungkinan berasal dari kata berbahasa Arab, qar‘ yābis (labu kering), dari bahasa Persia kharabuz yang menunjuk berbagai jenis melon, atau dari bahasa pre-Roman Iberian calapaccia.

Daerah asal labu hingga saat ini masih diperdebatkan. Menurut satu sumber, labu berasal dari Afrika, sedangkan yang lainnya menyatakan bahwa labu berasal dari Asia. Di alam liar, labu umumnya berkulit tipis. Labu hasil budidaya yang berkulit tebal dan tidak tembus air merupakan hasil seleksi manusia. Labu dibawa dan dibudidayakan di Eropa jauh sebelum Columbus berlayar ke Amerika. Namun, tampaknya benua Amerika mengenal labu dari imigran Paleo-lndian pada akhir zaman es, ketika masih ada daratan yang menghubungkan Amerika dan Asia. Hipotesis lain menyatakan bahwa labu sampai di Amerika akibat terbawa arus laut melintasi Selat Bering antara Asia dan Amerika. Hal yang terakhir ini bisa saja terjadi karena menurut catatan labu telah dibudidayakan manusia sejak 8.000 tahun lalu.

Buah labu muda biasa dimanfaatkan sebagai sayuran di berbagai bagian dunia, mulai dari Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika. Seperti mentimun, Iabu mengandung cucurbitacins, unsur yang berpotensi racun. Unsur kimia ini dikenal memberi rasa pahit apabila berada dalam konsentrasi tinggi, dan diketahui dapat mengakibatkan kerusakan lambung. Bahkan pada beberapa kasus yang ekstrem seseorang bisa saja meninggal setelah minum jus labu.

Dikutip dari Tafsir ‘Ilmi

Leave a Reply

Close Menu